BAHAN DAN METODE
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Hasil analisis tanah awal memperlihatkan tanah memiliki tingkat kesuburan yang relatif baik dengan kandungan bahan organik dan N yang sedang dengan nilai berturut-turut 2.40 dan 0.22%, dan memiliki kandungan P2O5 yang tinggi yaitu 13.3 ppm. Unsur makro yang lainnya, K dan Mg memiliki kandungan yang tinggi yaitu berturut-turut sebesar 0.74 dan 2.88 me/100g, kandungan unsur Ca tergolong sedang dengan nilai 5.94 me/100g, dan kandungan unsur Na tergolong sangat tinggi yaitu sebesar 1.04 me/10g. Kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa tergolong sedang dengan nilai berturut-turut 19.76 me/100 g dan 53.64%. Tanah memiliki tingkat kemasaman yang agak masam dengan pH sebesar 5.90 dan tekstur tanah liat dengan komposisi pasir 6.48%, debu 32.37% dan liat 61.15%. Tanah juga mengandung Fe yang tinggi. Unsur logam berat Cu dan Zn tergolong sangat rendah yaitu 1.68 dan 3.48 ppm.
Setelah dilakukan pemberian kapur dan pupuk organik, terjadi peningkatan pH tanah, bahan organik, status hara makro dan kejenuhan basa. Kandungan hara mikro Fe dan Mn serta logam berat Cu dan Zn mengalami penurunan. Setelah panen kedelai terjadi penurunan kembali kandungan bahan organik, status unsur makro dan kejenuhan basa. Hara mikro Fe mengalami sedikit peningkatan, Mn serta logam berat Cu dan Zn mengalami penurunan. Peningkatan dan penurunan dari semua unsur dapat disebabkan karena adanya kebutuhan dan reaksi tanaman kedelai terhadap unsur-unsur tersebut dalam pertumbuhannya. Hasil analisis tanah mulai dari sebelum dan setelah panen percobaan musim tanam satu dan dua disajikan berturut-turut pada Lampiran 5 dan 6.
Berdasarkan hasil analisis pupuk organik yang digunakan pada musim tanam pertama (Tabel 1), masing – masing pupuk memiliki keunggulan dalam unsur hara tertentu. Pupuk hijau C. pubescens memiliki kandungan N tertinggi yaitu sebesar 3.49%, pupuk kandang ayam memiliki kandungan P tertinggi yaitu sebesar 0.68%, dan pupuk hijau T. diversifolia memiliki kandungan K yang tertinggi yaitu sebesar 5.75%. Pupuk hijau C. pubescens dapat menyumbangkan
terutama unsur N, sedangkan pupuk kandang ayam dapat menyumbangkan terutama unsur P dalam proses pertumbuhan tanaman (Asiah 2006). Pupuk T. diversifolia selama proses pertumbuhan tanaman dapat menyumbangkan terutama unsur hara K (Malama 2001).
Hasil analisis pupuk pada musim tanam ke-dua (Tabel 2) menunjukkan bahwa ketiga jenis pupuk memiliki jumlah kandungan pupuk yang berbeda dengan musim tanam pertama, yaitu kandungan N dan P tertinggi terdapat pada pupuk hijau T. diversifolia dan kandungan K tertinggi terdapat pada pupuk kandang ayam walaupun selisih nilai antara ketiga pupuk tidak berbeda jauh. Tabel 1. Kandungan Hara Makro dan Mikro Pupuk Kandang Ayam, C. pubescens
dan T. diversifolia pada Musim Tanam I
Pupuk Kandungan Hara
N P K Ca Mg Fe Cu Zn Mn …..…..…….(%)…………..… ……….….(ppm)…..……… Pupuk kandang ayam 1.14 0.68 1.65 2.21 0.38 26600 214 360 920 C. pubescens* 3.49 0.36 1.05 T. diversifolia 3.06 0.25 5.75 1.69 0.16 297.7 32.4 157.8 235.9 *berdasarkan analisis pupuk yang dilakukan oleh Melati et al. (2008)
Tabel 2. Kandungan Hara Makro dan Mikro Pupuk Kandang Ayam, C. pubescens
dan T. diversifolia pada Musim Tanam II
Pupuk Kandungan Hara
C N P K Ca Mg Fe Cu Zn Mn …..……..…..(%)…………..…… ……….….(ppm)…..……… Pupuk kandang ayam 22.53 0.42 0.21 0.64 0.87 0.21 5119.10 365.12 2.90 52.70 C. pubescens 54.19 2.97 0.33 0.52 0.64 0.28 1729.15 42.02 32.95 135.70 T. diversifolia 54.88 3.64 0.34 0.56 0.70 0.32 1622.15 33.26 47.75 141.05
Sumbangan hara N, P, K setiap pupuk organik dapat diketahui dari perkalian antara jumlah pupuk organik yang digunakan (ton atau kg) dan kadar unsur dalam pupuk (%). Hasil tersebut hanya berupa dugaan karena tidak mempertimbangkan kemungkinan kehilangan hara, kecepatan dekomposisi setiap jenis pupuk, dan perbedaan waktu ketersediaan hara ke dalam tanah. Nilai tersebut dapat digunakan sebagai perkiraan sumbangan hara potensial dari masing-masing pupuk organik. Jumlah nilai sumbangan unsur hara pupuk organik pada musim tanam pertama dan ke-dua (dosis 50 dan 100%) masing-masing berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Sumbangan Unsur Hara Pupuk Organik pada Musim Tanam I dan II (100 dan 50% dosis musim tanam I)
Pupuk organik dan K pupuk organik (kg/ha) Sumbangan unsur hara N, P
N P K
………..Musim Tanam I……….
20 ton pupuk kandang ayam 98.0 58.5 141.9
10 ton pupuk kandang ayam + 4.2 ton C. pubescens 109.1 21.7 63.2 10 ton pupuk kandang ayam + 4.2 ton T. diversifolia 97.6 19.4 136.4
………..Musim Tanam II 100%……….
20 ton pupuk kandang ayam 36.1 18.1 55.0 10 ton pupuk kandang ayam + 4.2 ton C. pubescens 69.2 19.9 53.7 10 ton pupuk kandang ayam + 4.2 ton T. diversifolia 75.8 19.6 53.6
………..Musim Tanam II 50%……….
10 ton pupuk kandang ayam 18.1 9.0 27.5 5 ton pupuk kandang ayam + 2.1 ton C. pubescens 34.6 9.9 26.8 5 ton pupuk kandang ayam + 2.1 ton T. diversifolia 37.9 9.8 26.8 Asumsi: kadar air pupuk kandang, C. pubescens dan T. diversifolia berturut-turut adalah
57, 62.2 dan 59%
Pupuk hijau C. pubescens pada musim tanam pertama diperoleh dari penanaman pada petakan penelitian sebanyak 25 kg benih/ha yang menghasilkan biomassa rata-rata sebanyak 7.5 kg bobot basah/18 m2 atau sekitar 4.17 ton bobot basah/ha (Gambar 2). Bobot hasil dari C. pubescens pada musim tanam pertama digunakan sebagai dosis untuk aplikasi C. pubescens pada musim tanam kedua, tetapi pada musim tanam kedua, C. pubescens yang digunakan diperoleh dari luar petakan areal penelitian yang sudah ditanam sebelumnya. Pupuk hijau T. diversifolia yang digunakan berasal dari tanaman yang terdapat di sekitar areal penelitian.
Setelah dekomposisi semua pupuk yang digunakan dengan waktu yang berbeda-beda, yaitu C. pubescens dan T. diversifolia dengan waktu dekomposisi selama 30 hari serta pupuk kandang dengan waktu dekomposisi selama 15 hari terlihat bahwa pupuk hijau T. diversifolia lebih cepat terdekomposisi jika dibandingkan dengan pupuk hijau C. pubescens. Perbedaan hasil dekomposisi tersebut dapat terjadi karena setelah dilakukan analisis kadar air pupuk hijau, diperoleh bahwa kadar air C. pubescens (59.0%) lebih rendah daripada T. diversifolia (62.2%), sehingga diduga dengan semakin tingginya kadar air T. diversifolia akan terdekomposisi lebih cepat daripada C. pubescens. Hasil dekomposisi dapat dilihat dari residu masing-masing pupuk yang masih tersisa dan sudah tercampur dengan tanah, dan di antara ketiga pupuk, biomass C. pubescens masih ada yang terlihat utuh sampai waktu dekomposisi selesai (Gambar 3). Kurniasih (2006) menyatakan proses dekomposisi dipengaruhi oleh kandungan air bahan yang dikomposkan karena mikroorganisme hanya dapat menyerap makanan dalam bentuk larutan, dengan kandungan air paling sedikit 25-30% bobot kering bahan. Proses dekomposisi juga dapat disebabkan karena rasio C/N yang terdapat pada pupuk hijau C. pubescens yaitu sebesar 18.24 lebih tinggi dari C/N pupuk hijau T. diversifolia yaitu 15.07 (Tabel 2). Pupuk hijau yang memiliki rasio C/N yang lebih tinggi akan memiliki waktu proses dekomposisi yang lebih lambat.
Gambar 3. Penampakan Tanah Hasil Dekomposisi Ketiga Jenis Pupuk
Penanaman kedelai Musim Tanam I dilakukan pada pada bulan April 2010 dengan rata-rata temperatur pada 1 MST sebesar 26.86 °C dan curah hujan pada 1 MST sebesar 5.4 mm/7 hari. Penanaman Musim Tanam II dilakukan pada akhir bulan Oktober 2010 dengan rata-rata temperatur pada 1 MST sebesar 26.48 °C dan curah hujan pada 1 MST sebesar 8.7 mm/7 hari (Gambar 4).
a. Curah Hujan b. Intensitas Cahaya
b. Temperatur
Gambar 4. Data Iklim Musim Tanam I dan II; (a) Curah Hujan, (b) Intensitas Cahaya dan (c) Temperatur
Pemberian mulsa jerami padi juga dilakukan pada saat tanam dengan menutup lahan yang sudah ditanam kedelai yang bertujuan untuk mencegah terjadinya serangan lalat bibit (Agromyza phaseoli). Perlakuan BJA diberikan pada 4 MST dengan memasukkan air ke dalam areal yang dialirkan pada parit-parit sehingga seperti irigasi. Kedelai dipanen pada 14 MST pada musim tanam I dan 15 MST pada musim tanam II (Gambar 5 ).
A.Musim Tanam I
Anjasmoro Wilis
C. pubescens
B.Musim Tanam II
Anjasmoro 100% Wilis 100%
Anjasmoro 50% Wilis 50%
Gambar 5. Keragaan Varietas Kedelai Terhadap Berbagai Jenis Pupuk Organik dengan BJA pada Dua Musim Tanam pada saat panen
Jenis hama yang menyerang tanaman kedelai bervariasi sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai dan jenis hama serta jumlahnya juga tergantung dari waktu musim tanam. Selama melakukan pengamatan, hama yang terdapat pada musim tanam I lebih banyak daripada hama pada musim tanam II, hal ini dapat disebabkan karena pada musim tanam I merupakan musim kering karena jarang terjadi hujan, meskipun demikian, intensitas hama masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan. Hama pada musim tanam II lebih sedikit dibandingkan musim tanam I mungkin juga
C. pubescens
Pupuk kandang T. diversifolia
C. pubescens
Pupuk kandang T. diversifolia
C. pubescens
disebabkan karena penelitian ini merupakan pertanian organik sehingga terdapat predator yang lebih banyak jika dibandingkan dengan musim tanam I, seperti laba-laba, capung, dan jangkrik.
Jenis penyakit yang menyerang tanaman kedelai selama penelitian pada musim tanam I dan II adalah penyakit karat dan Virus Mozaik Kedelai (VMK), namun intensitas kejadian penyakit ini masih sangat sedikit yaitu sebesar 0.06% dan dapat dikendalikan hanya dengan mencabut dan membuang jauh-jauh tanaman yang terserang. Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produktivitas kedelai, seperti yang dikemukakan oleh Marwoto dan Hardaningsih (2007), yang menyatakan bahwa salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kedelai adalah gangguan hama yang dapat mengakibatkan penurunan hasil sampai 80%, bahkan puso jika tidak ada tindakan pengendalian.
Hasil
Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai pada musim tanam I dan II berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5. Secara umum terlihat bahwa jenis pupuk tidak berpengaruh nyata pada peubah yang diamati baik pada musim tanam I maupun musim tanam II, dan perbedaan nilai lebih dipengaruhi oleh varietas kedelai. Pengaruh dosis pada musim tanam II berpengaruh pada beberapa peubah pertumbuhan dan produksi pertanaman tetapi tidak nyata pada produktivitas per hektar. Hanya sedikit peubah yang dipengaruhi oleh interaksi antar faktor perlakuan.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Komponen Pertumbuhan dan Produksi Kedelai pada Perlakuan Pupuk dan Varietas Musim Tanam I
Peubah Umur (MST) Pupuk (P) Varietas (V) P*V KK (%) Komponen Pertumbuhan Tinggi tanaman (cm) 4 tn ** tn 11.30 5 tn ** tn 9.43 6 tn ** tn 10.30 13 tn ** tn 7.23 Jumlah daun 4 tn tn tn 16.22 5 tn ** tn 20.56 6 tn ** tn 20.69
Bobot basah tajuk/tanaman (g) 7 tn * tn 16.61 Bobot basah daun/tanaman (g) 7 tn ** tn 27.64
Bobot basah akar/tanaman (g) 7 tn * tn 29.25
Bobot basah bintil akar/tanaman (g) 7 tn tn tn 15.28 Bobot kering tajuk/tanaman (g) 7 tn tn tn 22.93 Bobot kering daun/tanaman (g) 7 tn * tn 31.40 Bobot kering akar/tanaman (g) 7 tn tn tn 15.55 Bobot kering bintil akar/tanaman (g) 7 tn tn tn 10.52 Kadar hara daun (%)
N 7 tn tn tn 10.28
P 7 tn tn tn 3.66
K 7 ** tn tn 11.81
Serapan hara tajuk (mg/tanaman)
N 7 tn * tn 16.45
P 7 tn * tn 19.65
K 7 tn * tn 24.96
Produksi
Jumlah cabang produktif/tanaman 13 tn * tn 20.19
Tabel 4. Lanjutan…… Peubah Umur (MST) Pupuk (P) Varietas (V) P*V KK (%) Jumlah polong bernas/tanaman 13 tn ** tn 18.53 Jumlah polong hampa/tanaman 13 tn tn tn 14.90 Bobot kering tajuk/tanaman (g) 13 tn tn tn 16.01 Bobot kering biji/tanaman (g) 13 tn tn tn 17.32 Bobot kering akar/tanaman (g) 13 tn tn tn 16.47 Bobot kering kulit polong/tanaman (g)
Bobot 100 butir biji (g)
13 13 tn tn * ** tn * 15.94 7.30
Kadar air biji (%) 13 tn tn tn 16.00
Bobot kering biji/4.56 m2 13 tn * tn 12.81
Produktivitas (ton/ha) 13 tn * tn 12.39
Umur berbunga (HST) 5 tn tn ** 1.55
Umur panen (HST) 13 tn tn tn 0.59
Kadar hara biji (%)
N 13 * tn tn 4.50
P 13 tn tn tn 3.78
K 13 tn tn * 8.46
Ca 13 tn tn tn 20.15
Mg 13 tn tn tn 16.00
Serapan hara biji (mg/tanaman)
N 13 * tn tn 9.56
P 13 tn tn tn 9.71
K 13 tn tn tn 14.29
Ca 13 tn tn tn 16.69
Mg 13 tn tn tn 20.69
Keterangan: (tn) Tidak berbeda nyata; (*) Berbeda nyata pada taraf 5%; (**) Berbeda nyata pada taraf 1%
Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Komponen Pertumbuhan dan Produksi Kedelai pada Perlakuan Pupuk dan Varietas Musim Tanam II Peubah Umur (MST) Dosis (D) Pupuk (P) Varietas (V) D*P D*V P*V D*P*V KK Komponen Pertumbuhan Tinggi tanaman (cm) 3 tn ** ** tn tn tn tn 5.19 4 ** tn ** tn tn tn tn 5.05 5 ** tn ** tn tn tn tn 4.80 6 tn tn ** tn tn tn tn 4.22 7 tn tn ** tn tn tn tn 4.16 14 ** tn tn tn tn tn tn 4.41
Jumlah daun (helai) 3 tn ** tn tn tn ** ** 2.20
4 ** * ** tn tn ** tn 2.74
5 tn * ** tn tn tn tn 7.49
6 ** * ** tn tn tn * 7.87
7 * tn ** tn tn tn tn 7.97
Bobot basah tajuk/tanaman (g) 7 tn tn * tn tn tn tn 30.27
Bobot basah daun/tanaman (g) 7 ** tn ** tn tn tn tn 23.90
Bobot basah akar/tanaman (g) 7 ** tn ** tn tn tn tn 31.12
Bobot basah bintil akar/tanaman (g) 7 ** tn tn tn tn tn tn 16.73
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 7 * tn tn tn tn tn tn 32.28
Bobot kering daun/tanaman (g) 7 tn tn tn tn tn tn tn 18.96
Bobot kering akar/tanaman (g) 7 ** tn ** tn tn tn tn 31.13
Bobot kering bintil akar/tanaman (g) 7 ** tn tn tn tn tn tn 9.37
Kadar hara daun
Tabel 5. Lanjutan….. Peubah Umur (MST) Dosis (D) Pupuk (P) Varietas (V) D*P D*V P*V D*P*V KK P (%) 7 ** tn tn tn tn tn tn 3.90 K (%) 7 ** tn ** * * ** ** 5.17 Ca (%) 7 tn tn * tn tn tn tn 16.94 Mg (%) 7 tn tn tn tn tn tn tn 10.13 Fe (ppm) 7 tn tn ** tn tn * tn 13.26 Cu (ppm) 7 tn tn tn tn tn tn tn 40.71 Zn (ppm) 7 tn tn tn tn tn tn tn 20.81 Mn (ppm) 7 ** tn tn tn tn tn tn 23.22
Serapan hara tajuk (mg/tanaman)
N 7 tn tn * tn tn tn tn 31.41 P 7 tn tn * tn tn tn tn 28.57 K 7 tn tn * tn tn tn tn 34.29 Ca 7 tn tn tn tn tn tn tn 43.60 Mg 7 tn tn * tn tn tn tn 29.02 Fe 7 * tn ** tn tn tn tn 27.31 Cu 7 tn tn tn tn tn tn tn 123.79 Zn 7 tn tn tn tn tn tn tn 178.73 Mn 7 tn tn * tn tn tn tn 27.16 Komponen Produksi
Jumlah cabang produktif/tanaman 14 ** tn ** tn tn tn tn 14.35
Jumlah tanaman panen 14 ** * ** tn tn tn tn 7.83
Jumlah polong bernas/tanaman 14 tn ** ** tn tn tn tn 9.54
Tabel 5. Lanjutan….. Peubah Umur (MST) Dosis (D) Pupuk (P) Varietas (V) D*P D*V P*V D*P*V KK
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 14 tn * tn tn tn tn tn 15.13
Bobot kering akar/tanaman (g) 14 tn ** tn ** * tn tn 16.01
Bobot kering biji/tanaman (g) 14 * ** ** tn tn tn tn 10.84
Bobot 100 butir biji (g) 14 * tn ** tn tn tn tn 6.20
Kadar air biji (%) 14 * tn ** tn tn tn tn 9.28
Bobot kering biji/4.56 m2 (g) 14 tn tn tn tn tn tn tn 11.64
Produktivitas (ton/ha) 14 tn tn tn tn tn tn tn 11.64
Umur berbunga (HST) 6 ** * ** * ** tn tn 1.29
Umur panen (HST) 14 * tn ** tn tn tn tn 0.71
Kadar hara biji
N (%) 14 tn tn tn tn * tn tn 4.41
P (%) 14 tn ** tn tn tn tn tn 4.18
K (%) 14 ** tn tn tn * tn tn 7.20
Fe (ppm) 14 tn * tn ** tn tn tn 22.16
Zn (ppm) 14 tn tn tn * tn tn tn 5.41
Serapan hara biji (mg/tanaman)
N 14 * ** ** tn * tn tn 11.52
P 14 * ** ** tn tn tn tn 12.13
K 14 ** ** * tn ** tn tn 12.82
Fe 14 tn ** tn ** * tn tn 26.07
Zn 14 * ** tn tn tn tn tn 14.78
I. Komponen Pertumbuhan Kedelai
A. Pengaruh Jenis Pupuk Organik terhadap Komponen Pertumbuhan Kedelai pada Musim Tanam I dan II
Perlakuan jenis pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan pada musim tanam I kecuali terhadap kandungan K tanaman. Jenis pupuk memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kedelai pada musim tanam II pada peubah tinggi tanaman 3 MST lebih tinggi pada penambahan pupuk T. diversifolia, dan jumlah daun lebih banyak dengan penambahan pupuk kandang ayam. Kadar hara N dan P daun pada musim tanam I lebih tinggi pada penggunaan pupuk T. diversifolia walaupun secara statistik berbeda tidak nyata. Kadar hara K yang menggunakan pupuk T. diversifolia merupakan yang tertinggi akan tetapi tidak berbeda nyata dengan penggunaan pupuk C. pubescens, dan yang paling rendah dengan menggunakan pupuk kandang ayam. Serapan hara N dan P pada tanaman yang diamati lebih tinggi pada penggunaan pupuk kandang ayam dan serapan hara K lebih tinggi pada penggunaan pupuk T. diversifolia, meskipun secara statistik besar serapan hara N, P dan K pada semua pupuk berbeda tidak nyata.
Kadar hara N daun pada musim tanam II berbeda nyata dan lebih tinggi pada yang mendapat penambahan pupuk kandang ayam. Kadar hara P lebih tinggi dengan penambahan pupuk kandang ayam dan C. pubescens walaupun pengaruh jenis pupuk tidak memberikan pengaruh nyata. Serapan hara tajuk pada musim tanam II tidak berbeda nyata antara jenis pemupukan. Serapan hara K dalam tajuk lebih tinggi pada penambahan pupuk C. pubescens (Tabel 6).
Tabel 6. Komponen Pertumbuhan Kedelai dengan Tiga Jenis Pupuk Organik pada Musim Tanam I dan II
Peubah Umur Musim Tanam I Umur Musim Tanam II
PK CP TD PK CP TD Tinggi tanaman (cm) 4 26.83 26.50 26.65 3 16.66b 17.72a 18.24a 5 49.01 47.66 51.98 4 30.39 31.77 32.02 6 65.59 62.45 67.20 5 49.16 50.65 50.70 13 75.34 71.71 76.84 6 74.35 75.43 76.03 7 86.03 87.29 88.21 14 93.67 93.50 95.41 Jumlah daun (helai) 4 5.2 5.2 5.2 3 3.7a 3.7a 3.6b 5 11.1 11.5 10.5 4 7.2a 7.1ab 7.0b 6 18.1 17.8 17.2 5 10.1a 9.4b 9.6b 7 18.8 17.9 17.5
Tabel 6. Lanjutan…..
Peubah Umur Musim Tanam I Umur Musim Tanam II
PK CP TD PK CP TD
Bobot basah tajuk/tanaman (g) 7 58.89 59.29 59.04 7 44.79 52.79 41.60 Bobot basah daun/tanaman (g) 7 24.35 25.25 25.42 7 15.87 18.83 15.00 Bobot basah akar/tanaman (g) 7 5.21 4.58 4.21 7 3.06 3.33 3.08 Bobot basah bintil
akar/tanaman (g)
7 1.77 1.51 1.47 7 1.17 1.21 1.22 Bobot kering tajuk/tanaman (g) 7 15.83 14.54 13.91 7 11.77 12.29 9.50 Bobot kering daun/tanaman (g) 7 9.92 9.33 8.59 7 6.65 6.08 4.73 Bobot kering akar/tanaman (g) 7 1.83 1.85 1.49 7 1.08 1.12 0.98 Bobot kering bintil
akar/tanaman (g)
7 0.57 0.47 0.46 7 0.39 0.39 0.42 Kadar hara daun
N (%) 7 3.82 4.02 4.05 7 3.51a 3.36b 3.45ab P (%) 7 0.47 0.47 0.49 7 0.54 0.53 0.55 K (%) 7 1.20b 1.56a 1.78a 7 3.09 3.09 3.03 Ca (%) 7 1.87 2.02 1.90 Mg (%) 7 1.00 0.97 0.99 Fe (ppm) 7 557.11 522.95 518.88 Cu (ppm) 7 23.48 41.28 60.56 Zn (ppm) 7 92.58 159.42 90.86 Mn (ppm) 7 3505.7 3333.3 3737.5
Serapan hara tajuk (mg/tanaman) N 7 597.96 582.16 553.62 7 411.16 412.26 325.36 P 7 73.06 67.87 67.04 7 62.77 65.64 52.41 K 7 192.01 230.27 246.00 7 361.89 376.40 284.40 Ca 7 215.39 249.47 182.10 Mg 7 118.32 119.23 94.93 Fe 7 6.51 6.29 4.93 Cu 7 0.27 0.51 0.59 Zn 7 1.10 2.62 0.84 Mn 7 41.02 38.65 33.93
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT pada α = 5 dan 1%
PK : Pupuk Kandang Ayam CP : Centrosema pubescens TD : Tithonia diversifolia
B. Pengaruh Varietas terhadap Komponen Pertumbuhan Kedelai pada Musim Tanam I dan II
Varietas Anjasmoro dan Wilis memberikan respon yang berbeda pada hampir semua komponen pertumbuhan pada musim tanam I dan II. Varietas Anjasmoro memiliki nilai yang lebih tinggi pada hampir semua komponen pertumbuhan pada musim tanam I, yaitu pada komponen tinggi tanaman, bobot basah daun/tanaman, bobot basah akar/tanaman dan bobot kering daun/tanaman masing-masing sebesar 9.25, 35.34, 25.36, dan 29.01% daripada varietas Wilis. Varietas Wilis memiliki nilai yang lebih tinggi pada komponen jumlah daun sebesar 40.82% daripada varietas Anjasmoro. Varietas kedelai yang digunakan pada musim tanam I tidak berbeda nyata pada kadar hara N, P dan K, tetapi pada
serapan hara tanaman N, P dan K, kedua varietas memberikan respon yang berbeda nyata. Serapan hara N, P dan K pada varietas Anjasmoro pada musim tanam I nyata lebih tinggi dibandingkan varietas Wilis.
Varietas Anjasmoro pada musim tanam II memiliki nilai yang lebih besar pada komponen pertumbuhan tinggi tanaman, bobot basah daun/tanaman, bobot basah akar/tanaman dan bobot kering akar/tanaman masing-masing sebesar 9.23, 44.94, 51.39 dan 46.51% daripada varietas Wilis. Varietas Wilis mempunyai nilai yang lebih besar untuk jumlah daun yaitu sebesar 13.61% dibandingkan varietas Anjasmoro. Penggunaan varietas pada musim tanam II memberikan perbedaan pada kadar hara K, Ca dan Fe dengan kadar K dan Fe yang lebih tinggi pada varietas Anjasmoro dibandingkan Wilis. Varietas juga berbeda pada serapan hara N, P, K, Mg, Fe dan Mn dengan nilai yang lebih tinggi pada varietas Anjasmoro (Tabel 7).
Tabel 7. Komponen Pertumbuhan Dua Varietas Kedelai pada Musim Tanam I dan II
Peubah Umur Musim Tanam I Umur Musim Tanam II Anjasmoro Wilis Anjasmoro Wilis Tinggi tanaman (cm) 4 29.24a 24.08b 3 19.54a 15.53b 5 54.24a 44.86b 4 34.45a 28.33b 6 70.70a 59.46b 5 54.23a 46.10b 13 77.93a 71.33b 6 80.02a 70.52b 7 91.02a 83.33b 14 94.50 93.90 Jumlah daun (helai) 4 5.3 5.2 3 3.7 3.7
5 9.3b 12.8a 4 6.8b 7.4a 6 14.7b 20.7a 5 8.7b 10.8a
6 12.7b 15.6a 7 16.9b 19.2a Bobot basah tajuk/tanaman (g) 7 64.96a 53.19b 7 52.22a 40.57b Bobot basah daun/tanaman (g) 7 28.76a 21.25b 7 19.61a 13.53b Bobot basah akar/tanaman (g) 7 5.19a 4.14b 7 3.80a 2.51b Bobot basah bintil
akar/tanaman (g)
7 1.71 1.45 7 1.41 0.99
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 7 16.60 12.92 7 12.42 9.96 Bobot kering daun/tanaman (g) 7 10.45a 8.10b 7 6.39 5.25 Bobot kering akar/tanaman (g) 7 1.78 1.66 7 1.26a 0.86b Bobot kering bintil
akar/tanaman (g)
7 0.51 0.49 7 0.46 0.34 Kadar hara daun
N (%) 7 3.91 4.01 7 3.48 3.40 P (%) 7 0.47 0.47 7 0.55 0.54 K (%) 7 1.54 1.49 7 3.22a 2.92b Ca (%) 7 1.77b 2.09a Mg (%) 7 1.02 0.96 Fe (ppm) 7 578.54a 487.41b Cu (ppm) 7 42.66 40.89 Zn (ppm) 7 137.36 91.21
Tabel 7. Lanjutan…..
Peubah Umur Musim Tanam I Umur Musim Tanam II Anjasmoro Wilis Anjasmoro Wilis
Mn (ppm) 7 3674.90 3376.10
Serapan hara tajuk (mg/tanaman) N 7 637.63a 518.19b 7 427.83a 338.02b P 7 77.56a 61.09b 7 67.39a 53.15b K 7 255.11a 190.42b 7 393.91a 287.88b Ca 7 225.53 205.78 Mg 7 126.54a 95.11b Fe 7 6.99a 4.83b Cu 7 0.49 0.43 Zn 7 2.17 0.87 Mn 7 42.69a 33.05b
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Tukey pada α = 5 dan 1%
C. Pengaruh Dosis Pupuk terhadap Komponen Pertumbuhan Kedelai pada Musim Tanam II
Penggunaan dosis pupuk 50 dan 100% berpengaruh nyata terhadap sebagian besar komponen pertumbuhan kedalai pada musim tanam II. Penggunaan dosis pupuk 50% memberikan hasil yang lebih tinggi pada beberapa komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman 4 MST, jumlah daun 7 MST, bobot basah daun/tanaman, bobot basah akar/tanaman, bobot basah bintil akar/tanaman, bobot kering batang/tanaman, bobot kering akar/tanaman dan bobot kering bintil akar/tanaman dengan nilai masing-masing berturut sebesar 7.71, 6.28, 28.32, 38.49, 92.68, 37.08, 55.42 dan 107.69% daripada dosis pupuk 100%. Penggunaan dosis pupuk 100% memberikan hasil yang lebih tinggi pada komponen pertumbuhan kedelai tinggi tanaman 14 MST dan jumlah daun 4 MST dengan nilai masing-masing sebesar 4.57, 14.49 daripada dosis pupuk 50% (Tabel 8). Tabel 8. Komponen Pertumbuhan Kedelai pada Perlakuan Dua Dosis Pupuk pada
Musim Tanam II Peubah Umur (MST) Dosis 50 % 100 % Tinggi tanaman (cm) 3 17.49 17.59 4 32.56a 30.23b 5 46.65b 53.68a 6 74.57 75.97 7 86.32 88.03 14 91.99b 96.40a Jumlah daun (helai) 3 3.7 3.7
4 6.9b 7.3a 5 9.7 9.8 6 15.00a 13.3b 7 18.6a 17.5b
Tabel 8. Lanjutan…..
Peubah Umur
(MST)
Dosis
50 % 100 % Bobot basah tajuk/tanaman (g) 7 50.54 42.25 Bobot basah daun/tanaman (g) 7 18.62a 14.51b Bobot basah akar/tanaman (g) 7 3.67a 2.65b Bobot basah bintil akar/tanaman (g) 7 1.58a 0.82b Bobot kering tajuk/tanaman (g) 7 12.60a 9.78b Bobot kering daun/tanaman (g) 7 6.39 5.25 Bobot kering akar/tanaman (g) 7 1.29a 0.83b Bobot kering bintil akar/tanaman (g) 7 0.54a 0.26b Kadar hara daun
N (%) 7 3.24b 3.64a P (%) 7 0.51b 0.57a K (%) 7 2.85b 3.29a Ca (%) 7 1.91 1.95 Mg (%) 7 0.96 1.02 Fe (ppm) 7 533.82 532.13 Cu (ppm) 7 37.61 45.94 Zn (ppm) 7 132.66 95.91 Mn (ppm) 7 3041.80b 4009.30a
Serapan hara tajuk (mg/tanaman)
N 7 408.47 357.38 P 7 64.89 55.65 K 7 366.03 315.77 Ca 7 244.95 186.35 Mg 7 121.24 100.41 Fe 7 6.60a 5.22b Cu 7 0.45 0.46 Zn 7 2.12 0.92 Mn 7 38.05 37.68
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Tukey pada α = 5 dan 1%
II. Komponen Produksi Kedelai
A. Pengaruh Jenis Pupuk Organik terhadap Komponen Produksi Kedelai pada Musim Tanam I dan II
Perlakuan tiga jenis pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap semua komponen produksi pada musim tanam I dan berpengaruh nyata pada sebagian besar komponen produksi pada musim tanam II.
Jumlah polong bernas, bobot kering biji/tanaman pada musim tanam II lebih tinggi pada penambahan pupuk kandang ayam. Umur berbunga lebih lama dengan penambahan pupuk C. pubescens. Produktivitas lebih tinggi dengan penambahan pupuk C. pubescens dibandingkan yang mendapat pupuk lainnya