• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Contoh

Berdasarkan hasil penelitian, usia siswi yang menjadi contoh dalam penelitian yaitu berkisar antara 14 hingga 18 tahun. Contoh sebagian besar tergolong dalam remaja pertengahan sebesar 93,4% pada siswi anemia dan 92,0% pada siswi non anemia. Menurut Mandleco (2004), masa remaja terbagi kedalam tiga aspek yaitu masa remaja awal (12-14 tahun), masa remaja pertengahan (15-17 tahun) dan masa remaja akhir (18-21 tahun). Rata-rata usia siswi anemia yaitu 15,7 ± 0,8 tahun dan 15,7 ± 0,9 tahun pada siswi non anemia. Tidak terdapat perbedaan yang nyata (p=0,919) antara usia siswi anemia dan siswi non anemia.

Uang saku contoh dibagi dalam tiga kategori, yaitu : <Rp 6.000, Rp 6.000-Rp 17.000 dan >Rp 17.000. Tabel 8 menjelaskan bahwa sebagian besar contoh memiliki uang saku antara Rp6.000-Rp17.000 yaitu pada siswi yang mengalami anemia sebesar 80,0%, dan pada siswi non anemia sebesar 80,0%. Rata-rata uang saku siswi anemia yaitu sebesar Rp 11866,7 ± 4819,0 nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata uang saku siswi non anemia yaitu sebesar Rp 10730,0 ± 6843,1. Tidak terdapat perbedaan (p=0,206) uang saku siswi anemia dan non anemia. Napitu (1994) menyatakan bahwa, uang saku merupakan bagian dari pengalokasian pendapatan keluarga yang diberikan pada anak untuk jangka waktu tertentu seperti keperluan harian, mingguan atau bulanan. Perolehan uang saku sering menjadi suatu kebiasaan, sehingga anak diharapkan untuk belajar mengelola dan bertanggung jawab atas uang saku yang dimiliki.

Tabel 8 menjelaskan bahwa kisaran contoh mendapatkan menstruasi pertama kali adalah saat usia 11 hingga 15 tahun. Usia menarche adalah usia pertama kali contoh mendapat menstruasi. Biasanya wanita mendapatkan menstruasi pertamakali yaitu pada usia 10-14 tahun. Menstruasi merupakan indikator perkembangan/kematangan fisik anak perempuan (Arisman 2004). Berdasarkan penjelasan tersebut, pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar siswi anemia yang menjadi contoh mengalami menarce saat usia 12 tahun yaitu sebesar 33,3%. Contoh yang tidak mengalami anemia sebagian besar mengalami menarche pada usia 13 tahun yaitu 42,0%. Rata-rata usia menarche siswi anemia yang menjadi contoh sebesar 12,7 ± 1,1 tahun lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata siswi non anemia 12,9 ± 0,8 tahun. Tidak

terdapat perbedaan (p=0,266) usia menarche siswi anemia dan non anemia. Karakteristik contoh seperti usia, jumlah uang saku, dan usia menarche disajikan dalam Tabel 8 sebagai berikut.

Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik siswi anemia dan non anemia Karakteristik

contoh Kategori

Anemia (n=30) Non anemia

(n=50) Total n % N % n % Usia (tahun) 12-14 tahun 1 3,3 3 6,0 4 5,0 15-17 tahun 28 93,4 46 92,0 74 92,5 18-21 tahun 1 3,3 1 2,0 2 2,5 Total 30 100,0 50 100,0 80 100,0 Jumlah uang saku (Rp/hari) <Rp 6.000 1 3,3 7 14,0 8 10,0 Rp 6.000-17.000 24 80,0 40 80,0 64 80,0 >Rp 17.000 5 16,7 3 6,0 8 10,0 Total 30 100,0 50 100,0 80 100,0 Usia Menarche 11 tahun 4 13,3 2 4,0 6 7,5 12 tahun 10 33,3 14 28,0 24 30,0 13 tahun 9 30,0 21 42,0 30 37,5 14 tahun 6 20,0 13 26,0 19 23,7 15 tahun 1 3,3 0 0,0 1 1,3 Total 30 100,0 50 100,0 80 100,0

Contoh dalam penelitian ini berasal dari kelas 1,2 dan 3. Sebagian besar siswi yang menjadi contoh dalam penelitian ini berasal dari kelas dua yaitu pada siswi yang mengalami anemia sebesar 63,3% dan pada siswi non anemia sebesar 50,0%. Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan (p=0,197) kelas antara siswi anemia dan siswi non anemia.

Status Gizi

Tabel 9 menjelaskan bahwa siswi yang menjadi contoh, memiliki status gizi kurus, normal, overweight dan obes. Siswi yang mengalami anemia sebagian besar memiliki status gizi normal yaitu sebesar 90,0%. Siswi non anemia yang menjadi contoh sebagian besar memiliki status gizi normal yaitu sebesar 90,0%. Nilai rata-rata status gizi siswi anemia sebesar -0,9 ± 1,2 nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata siswi non anemia yaitu -0,3 ± 0,7. Berdasarkan hasil uji beda t-test, terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,004) status gizi siswi anemia dan non anemia. Status gizi contoh dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan kategori status gizi pada siswi anemia dan non anemia

Status gizi (IMT/U) Anemia (n=30) Non anemia (n=50) Total

n % N % N % Kurus (-3 ≤ z ≤-2) 2 6,7 3 6,0 5 6,3 Normal (-2 ≤ z ≤ +1) 27 90,0 45 90,0 72 90,0 Overweight (+1 ≤ z ≤ +2) 1 3,3 2 4,0 3 3,7 Obes (z > +2) 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Total 30 100,0 50 100,0 80 100,0

Mahan dan Escott-Stump (2004) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat dan jelas perubahannya dari anak-anak menjadi tubuh orang dewasa. Status gizi remaja merupakan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat keseimbangan gizi remaja tergantung pada asupan zat gizi, serta relatif dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh untuk menggunakannya.

Status anemia

Status anemia pada siswi SMAN 1 Cibungbulang yaitu, sebesar 37,5 % mengalami anemia dan siswi yang tidak anemia 62,5%. Allen (1991) menetapkan bahwa, batas nilai kadar hemoglobin dalam darah yaitu dikatakan normal jika >12-15 g/dL, anemia ringan jika 10.0-11.9 g/dL, anemia sedang jika 7-10 g/dL dan anemia berat jika nilai hemoglobin dalam darah <7 g/dL. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa pada Tabel 10 status anemia siswi yang menjadi contoh dalam penelitian ini dibagi kedalam empat kategori yaitu normal, anemia ringan, anemia sedang dan anemia berat. Siswi yang menderita anemia ringan sebesar 36,3%, siswi yang mengalami anemia sedang 1,2% dan tidak ada siswi yang mengalami anemia berat, sedangkan sebesar 62,5% tidak mengalami anemia. Nilai rata-rata hemoglobin siswi anemia yaitu (11,3 ± 0,6 g/dL) dan pada siswi non anemia sebesar (13,3 ± 1,0 g/dL). Penjelasan mengenai status anemia siswi dapat dilihat pada Tabel 10 dibawah ini.

Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan kategori status anemia

Kategori anemia Batas nilai kadar Hb (g/dL) N %

Normal >12-15 g/dL 50 62,5

Ringan 10,0-11,9 g/dL 29 36,3

Sedang 7-10 g/dL 1 1,2

Berat <7 g/dL 0 0,0

Total 80 100,0

Menurut WHO (2001) prevalensi anemia > 20% menunjukkan masalah kesehatan masyarakat. Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa prevalensi anemia di SMAN 1 Cibungbulang cukup tinggi yaitu 30 siswi menderita anemia

(37,5%) ini berarti anemia masih menjadi masalah kesehatan dikalangan usia sekolah atau remaja.

Pangan potensial pendorong penyerapan Fe

Almatsier (2004) menyatakan bahwa protein terutama protein hewani dan vitamin C membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Pangan yang mengandung zat besi dalam jumlah yang cukup tinggi adalah hati, daging, makanan laut, buah kering dan sayuran hijau. Berdasarkan hasil recall 1x24 jam, dapat dilihat bahwa pangan pendorong penyerapan Fe paling banyak dikonsumsi oleh siswi anemia dan non anemia yaitu daging ayam, telur ayam dan sayuran. Daging ayam yang dikonsumsi terdiri dari daging ayam yang diolah dengan berbagai cara pengolahan, telur ayam yang dikonsumsi terdiri dari telur yang dikonsumsi dalam berbagai cara pengolahan, sayuran yang dikonsumsi terdiri dari berbagai jenis sayuran yang kemudian dikategorikan kedalam satu kelompok pangan sayuran. Jenis–jenis pangan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1. Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswi dan tergolong dalam pangan pendorong penyerapan Fe dapat dilihat pada Tabel 11 sebagai berikut. Tabel 11 Jumlah contoh dan rata-rata (g) bahan pangan pendorong penyerapan Fe yang dikonsumsi siswi anemia dan non anemia

no Jenis Pangan Anemia (n=30) Non anemia (n=50)

N % Rata-rata (g) N % Rata-rata (g) 1 Hati ayam 1 3,3 0,8 - - - 2 Ampela ayam - - - 1 2,0 0,5 3 Daging ayam 15 50,0 25,4 23 46,0 22,9 4 Daging sapi 2 6,7 5,0 5 10,0 6,0 5 Daging kerbau - - - 1 2,0 1,0 6 Telur ayam 14 46,7 53,9 23 46,0 52,3 7 Cumi 1 3,3 1,7 1 2,0 2,0 8 Usus ayam 1 3,3 0,7 - - -

9 Ikan air laut 3 10,0 3,6 5 10,0 6,4

10 Ikan air tawar 5 16,7 8,1 9 18,0 10,5

11 Sayuran 12 40,0 30,9 26 52,0 43,7

12 Buah-buahan 5 16,7 22,0 10 20,0 85,0

Total 152,1 230,3

Tabel 11 diatas menunjukkan bahwa sebesar 50,0% siswi anemia mengkonsumsi daging ayam dengan rata-rata berat konsumsi pangan sebesar 25,4 ± 22,2 g. Sebesar 40% contoh mengkonsumisi sayuran dengan rata-rata pangan yang dikonsumsi sebesar 30,9 ± 49,5 g. Siswi non anemia sebagian besar mengonsumsi sayuran 52,0% dengan rata-rata konsumsi pangan sebesar 43,7 g dan 46,0% mengkonsumsi telur ayam dengan rata-rata konsumsi sebesar 52,3 g. Berdasarkan uji beda t-test tidak terdapat perbedaan (p=0,964) antara

siswi anemia dan siswi non anemia yang mengkonsumsi pangan yang berpotensial sebagai pendorong penyerapan Fe.

Pangan potensial penghambat penyerapan Fe

Karyadi dan Muhilal (1995) menyatakan bahwa zat yang menghambat penyerapan zat besi antara lain tanin dan kalsium yang terdapat dalam teh, kopi, coklat, oregano dan susu. Tingkat keasaman lambung, faktor intrinsik dan kebutuhan tubuh dapat menjadi faktor penghambat penyerapan Fe dalam tubuh. Tabel 12 menunjukkan bahwa pangan potensial penghambat penyerapan zat besi yang dikonsumsi oleh contoh antara lain : kopi, teh manis, susu dan cokelat. Jenis kopi yang dikonsumsi berupa kopi serbuk yang telah di larutkan dalam air, teh manis yang dikonsumsi contoh terdiri dari berbagai macam jenis dan ukuran, teh tersebut dikonsumsi dalam bentuk cairan. Susu yang dikonsumsi terdiri dari jenis serbuk, susu kental manis, dan susu segar cair yang telah dikonversikan kedalam ukuran gram bahan pangan. Cokelat yang dikonsumsi contoh terdiri dari cokelat pasta, wafer dan batangan. Lebih jelasnya berbagai pangan potensial penghambat penyerapan zat besi yang dikonsumsi oleh contoh dapat dilihat pada Lampiran 2.

Cokelat merupakan pangan penghambat yang paling banyak dikonsumsi oleh siswi anemia sebesar 26,7% dengan rata-rata konsumsi sebesar 6,6 g dan pada siswi non anemia, pangan penghambat yang paling banyak dikonsumsi yaitu teh manis sebesar 28,0% dengan rata-rata konsumsi 47,8 g.

Kalsium dalam susu dapat menjadi salah satu penyebab terhambatnya penyerapan zat besi, sebesar 20,0% siswi anemia mengkonsumsi susu dengan rata-rata konsumsi 37,6 g. Sebesar 14,0% siswi non anemia mengkonsumsi susu dengan rata-rata konsumsi 28,2 g. Rata-rata Ca susu yang dikonsumsi pada siswi anemia yaitu sebesar 593,8 ± 89,4 mg nilai ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai rata-rata Ca susu yang dikonsumsi pada remaja non anemia yaitu sebesar 300,6 ± 2870,6 mg. Berdasarkan hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata (p=0,345) antara siswi anemia dan siswi non anemia yang mengkonsumsi pangan yang berpotensial sebagai penghambat penyerapan Fe. Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswi dan tergolong dalam pangan yang menjadi penghambat penyerapan Fe dapat dilihat pada Tabel 12 sebagai berikut.

Tabel 12 Jumlah contoh dan rata-rata (g) bahan pangan penghambat penyerapan Fe yang dikonsumsi siswi anemia dan non anemia Bahan

Makanan

Anemia (n=30) Non anemia (n=50)

n % Rata-rata (g) N % Rata-rata (g) Kopi 0 0,0 0,0 1 2,0 0,6 Teh manis 7 23,3 56,8 14 28,0 47,8 Susu 6 20,0 37,6 7 14,0 28,2 Cokelat 8 26,7 6,6 13 26,0 9,1 Total 101,0 85,7

Kopi dapat menurunkan penyerapan besi bila dikonsumsi setelah makan sebesar 39 persen karena kopi mengandung zat polifenol yang dapat mengikat besi (Morck et al 1983). Tanin yang terdapat dalam teh dan kopi juga menghambat absorbsi besi. Diet yang banyak mengandung makanan tinggi tanin, akan menurun kan absorpsi zat besi sekitar 1-2 persen (UNICEF 1998).

Konsumsi Pangan Sumber Fe

Berdasarkan Tabel 13 dapat dilihat bahwa daging ayam merupakan pangan sumber heme yang paling banyak dikonsumsi siswi anemia yaitu sebesar 50,0% dengan rata-rata Fe sebesar 0,6 mg dan pangan sumber non heme paling banyak dikonsumsi adalah serealia seperti nasi, bubur ayam, bihun dan mie sebesar 100% dengan rata-rata Fe 5,2 mg. Pada siswi non anemia serealia seperti nasi, mie, binun dan bubur merupakan pangan sumber non heme yang paling banyak dikonsumsi yaitu sebesar 100% dengan rata-rata Fe 5,6 mg dan pangan sumber heme yang paling banyak dikonsumsi yaitu telur ayam ayam sebesar 46,0% dengan rata-rata Fe sebesar 2,6 mg.

Achadi (2007) menyatakan bahwa sumber utama Fe adalah pangan hewani terutama berwarna merah, yaitu hati dan daging, sedangkan sumber lain adalah sayuran berdaun hijau. Pangan hewani relatif lebih tinggi tingkat absorpsinya yaitu 20-30 persen dibandingkan pangan nabati hanya 1-7 persen. Hal tersebut karena Fe dalam ferri ketika akan diabsorpsi harus direduksi dahulu menjadi bentuk ferro.

Hasil analisis konsumsi pangan hewani dari data Susenas (1995) menunjukkan bahwa lebih dari 50% rumah tangga Indonesia sangat jarang mengkonsumsi daging. Rendahnya frekuensi daging dan buah segar pada rumah tangga Indonesia menyebabkan risiko kekurangan zat besi lebih tinggi karena penyerapan besi dari sayuran tanpa heme dari daging dan tanpa vitamin C akan sangat rendah (Prihatini dkk 2009).

Konsumsi pangan sumber Fe contoh terdiri dari jenis pangan heme dan pangan non heme. Pangan heme terdiri dari pangan hewani beserta olahannya, sementara pangan non heme terdiri dari kelompok pangan sayuran, buah- buahan, serealia dan olahan nya serta kacang-kacangan. Adapun jenis-jenis bahan pangan yang termasuk dalam kelompok jenis non heme seperti sayuran, buah-buahan, serealia dan kacang-kacangan yang dikonsumsi contoh dapat dilihat pada Lampiran 3. Pangan sumber heme dan non heme yang dikonsumsi contoh disajikan pada Tabel 13 dibawah ini.

Tabel 13 Rata-rata Fe yang dikonsumsi siswi anemia dan non anemia Bahan

Pangan

Anemia (n=30) Non anemia (n=50)

N % Rata- rata (g) Rata-rata Fe (mg) n % Rata- rata (g) Rata-rata Fe (mg) Heme Hati ayam 1 3,3 0,8 0,8 - - - - Ampela ayam - - - - 1 2,0 0,5 0,0 Daging ayam 15 50,0 25,4 0,6 23 46,0 22,9 0,5 Daging sapi 2 6,7 5,0 0,1 5 10,0 6,0 0,1 Daging kerbau - - - - 1 2,0 1,0 0,0 Telur ayam 14 46,7 53,9 2,6 23 46,0 52,3 2,6 Cumi 1 3,3 1,7 0,0 1 2,0 2,0 0,1 Usus ayam 1 3,3 0,7 0,0 - - - -

Ikan air laut 3 10,0 3,6 0,1 5 10,0 6,4 0,3

Ikan air tawar 5 16,7 8,1 0,6 9 18,0 10,5 0,5

Susu 6 20,0 37,6 0,7 7 14,0 28,2 0,3 Rata-rata ± SD 5,9±7,5 6,0±7,9 Non heme Sayuran 12 40,0 30,9 1,8 26 52,0 43,7 2,3 Buah-buahan 5 16,7 22,0 0,1 10 20,0 85,0 0,4 Serealia 30 100,0 343,3 5,2 50 100,0 347,2 5,6 Kacang- kacangan 17 56,7 10,7 0,8 22 44,0 22,8 1,4 Rata-rata ± SD 9,8±10,4 7,9±9,0

Pertumbuhan badan yang cepat selama remaja membutuhkan ketersediaan makanan sumber zat besi yang berlimpah (Spear 2004). Pangan sumber zat besi terutama zat besi heme, yang bioavailabilitasnya tinggi sangat jarang dikonsumsi oleh masyarakat di negara berkembang karena sebagian besar penduduknya memenuhi asupan zat besi dari produk nabati (Backstrand et al 2002). Tabel 13 diatas menunjukkan bahwa rata-rata dari total asupan zat besi yang berasal dari pangan sumber heme siswi anemia dan siswi non anemia sebesar 5,9 ± 7,7 mg. Pangan sumber non heme memiliki rata-rata dari total asupan zat besi siswi anemia dan siswi non anemia sebesar 8,6 ± 9,5 mg.

Achadi (2007) mengatakan bahwa bahan pangan kelompok lauk pauk sering digunakan sebagai sumber protein utama yang berfungsi sebagai zat pembangun. Sayuran dan buah-buahan termasuk dalam bahan pangan nabati.

Buah dan sayuran bermanfaat sebagai sumber vitamin dan mineral, selain itu vitamin dan mineral pada buah dan sayuran memiliki fungsi sebagai zat pengatur dan membantu preoses metabolisme tubuh. Recall 1x24 jam digunakan untuk melihat asupan energi dan zat gizi contoh dalam satu hari, adapun contoh hasil recall 1x24 jam yang terdiri dari bahan pangan yang dikonsumsi contoh beserta gram bahan pangan yang dikonsumsi pada siswi anemia dan non anemia disajikan pada Tabel 14 sebagai berikut.

Tabel 14 Contoh konsumsi pangan pada siswi anemia Anemia (n=30) Waktu Bahan makanan Komposisi Banyaknya Fe (mg) Besi tersedia (mg) Jumlah URT Berat

(g) Malam Mie

goreng

Indomie

goreng 1 bks 85 4,5 0,14

Pagi Nasi Nasi putih 1 ctg 86 0,4 0,01

Sayur

sup Wortel 2 sdk syr 80 0,0 0,00

Selingan Cokelat Choki-choki 3 bks 24 0,1 0,00

Teh

manis Teh botol 1 btl 250 16,0 0,48

Siang Siomay Siomay 1 biji 111 0,0 0,0

TOTAL 21,0 0,63

Tabel diatas menunjukkan bahwa contoh anemia memiliki frekuensi makan dalam satu hari sebanyak empat kali yang terdiri dari tiga kali makan utama dan satu kali selingan. Jenis pangan yang dikonsumsi berupa makanan pokok (nasi dan mie), sayuran wortel, makanan jajanan seperti siomay dan makanan berpotensi sebagai penghambat penyerapan zat besi (cokelat dan teh manis). Contoh tidak mengkonsumsi pangan hewani. Nilai besi terserap salah satu contoh anemia yang diperoleh berdasarkan pangan yang dikonsumsi dalam satu hari adalah sebesar 0,63 mg dengan pembulatan satu angka dibelakang koma sehingga menjadi 0,7 mg dan total asupan zat besi sebesar 21,0 mg. Asupan zat besi sebesar 21,0 mg menunjukkan bahwa contoh sudah cukup memenuhi asupan zat besi berdasarkan angka kecukupan zat gizi yang dianjurkan untuk zat besi yaitu sebesar 19-25 mg per hari. Nilai zat besi yang terserap sebesar 0,6 mg menunjukkan bahwa tidak semua asupan zat besi mampu diserap oleh tubuh sehingga bila dibandingkan dengan anjuran jumlah besi yang harus dikonsumsi berdasarkan kehilangan besi dari dalam tubuh yaitu 1,5 mg, nilai ini masih kurang akan asupan zat besi yang sesuai.

Tabel 15 Contoh konsumsi pangan pada siswi non anemia Non anemia (n=50) Waktu Bahan makanan Komposisi Banyaknya Fe (mg) Besi tersedia (mg) Jumlah URT Berat (g)

Malam Nasi

campur Nasi putih 1 ctg 86 0,4 0,01

Telur dadar 0,5 btr 30 0,8 0,09 Tahu goreng 2 ptg 50 0,3 0,01 Tempe goreng 3 ptg 75 7,9 0,24 Pagi Nasi campur Kerupuk 10 bh 80 0,0 0,00 Nasi putih 1 ctg 86 0,4 0,01 Telur dadar 1 btr 60 1,5 0,17 Tempe goreng 3 bh 75 7,9 0,24

Selingan Cokelat Chocolatos 2 bks 30 0,0 0,00

Siang Teh

manis Teh manis 1 gls 216 0,0 0,00

Mie ayam Mie ayam 1 mangkok 262 19,7 0,59

TOTAL 38,9 1,36

Tabel 15 diatas menunjukkan bahwa siswi non anemia memiliki frekuensi makan dalam satu hari sebanyak empat kali yang terdiri dari tiga kali makan utama dan satu kali selingan. Jenis pangan yang dikonsumsi berupa makanan pokok nasi putih, pangan nabati (tahu dan tempe goreng), pangan hewani telur ayam, makanan jajanan seperti mie ayam, kerupuk dan makanan berpotensi sebagai penghambat penyerapan zat besi (cokelat dan teh manis). Contoh tidak mengkonsumsi sayuran. Nilai besi terserap salah satu siswi non anemia yang diperoleh berdasarkan pangan yang dikonsumsi dalam satu hari adalah sebesar 1,36 mg dengan pembulatan satu angka dibelakang koma sehingga menjadi 1,4 mg dengan total asupan zat besi sebesar 38,9 mg. Asupan zat besi sebesar 38,9 mg menunjukkan bahwa contoh sudah memenuhi asupan zat besi sesuai dengan angka kecukupan zat gizi khususnya zat besi yang dianjurkan yaitu sebesar 19-25 mg per hari. Nilai zat besi yang terserap sebesar 1,4 mg menunjukkan bahwa contoh sudah cukup akan konsumsi zat besi yang dilihat berdasarkan kehilangan zat besi dalam tubuh per hari yaitu 1,5 mg.

Food frequncy questionare merupakan metode lain yang digunakan dalam penelitian ini selain recall 1x24 jam. Metode ini bertujuan untuk melihat gambaran secara umum mengenai bahan pangan apa saja yang dikonsumsi contoh dalam satu bulan, hasil tersebut kemudian di sajikan secara deskriptif,

adapun hasil dari rata-rata frekuensi konsumsi pangan berdasarkan metode food frequncy questionare disajikan dalam Tabel 16 berikut.

Tabel 16 Rata-rata frekunsi konsumsi pangan selama satu minggu pada siswi anemia dan non anemia

Nama makanan/minuman

(Anemia n=30) Non anemia (n=50) Rata-rata frekuensi (x/minggu) Rata-rata frekuensi (x/minggu) Serealia : Nasi 15,8 16,1 Roti 2,1 0,8 Mie 4,1 3,2 Bihun 0,0 0,0 Kacang-kacangan : Tahu 2,7 3,5 Tempe 3,4 3,5 Oncom 0,2 0,5 Tauco 0,0 0,0 Kedelai 0,0 0,1 Kacang tanah 0,5 0,1 Kacang hijau 0,1 0,2 Daging : Kambing 0,1 0,1 Ayam 2,5 3,0 Sapi 0,6 0,6 Ikan 1,7 1,8 Telur 3,6 2,3 Kerbau 0,0 0,0 Susu : Bubuk 1,6 0,8 SKM 0,4 0,5 Segar 3,5 1,1 Yoghurt 0,3 0,5 Es krim 1,6 1,0 Minuman : Teh 3,3 2,8 Kopi 0,3 0,6 Soft Drink 0,1 0,4 Minuman sereal 0,2 0,2 Minuman isotonik 0,5 0,2 Juice 0,5 0,7 Sari buah 1,0 1,2 Es campur 0,2 0,6 Minuman jelly 1,1 1,0 Es buah 0,1 0,0 Pop ice 0,0 0,3

Tabel 16. Lanjutan Nama makanan/minuman

Anemia (n=30) Non anemia (n=50) Frekuensi (x/minggu) Frekuensi (x/minggu) Suplemen/Herbal : Multivitamin 0,1 0,2 Vitamin C hisap 0,7 0,2 Energi drink 0,1 0,1 Vegeta 0,1 0,1 Jamu 0,0 0,1 Minuman penyegar 0,4 0,1 Buah : Pisang 0,9 1,1` Pepaya 0,1 0,2 Jeruk 4,2 2,9 Nanas 0,0 0,0 Jambu 1,8 1,5 Mangga 2,8 2,2 Sayur : Bayam 1,5 1,8 Kangkung 2,0 1,3 Sawi 0,6 1,0 Caisin 0,3 0,4 Wortel 2,2 1,1 Daun singkong 0,1 0,6 Makanan jajanan: Gorengan 4,3 2,3 Chiki 1,1 1,3 Biskuit 2,0 1,4 Cokelat 3,0 2,6

Tabel diatas menjelaskan rata-rata frekuensi pangan yang paling sering dikonsumsi oleh siswi anemia dalam satu minggu. Kelompok pangan yang dikonsumsi terdiri dari kelompok serealia, kacang-kacangan, daging, susu, minuman, suplemen/herbal, buah, sayur dan makanan jajanan. Adapun jenis pangannya yaitu nasi sebanyak 15,8 kali, tempe sebanyak 3,4 kali, telur ayam sebanyak 3,6 kali. Susu segar sebanyak 3,5 kali, teh sebanyak 3,3 kali, vitamin C hisap sebanyak 0,7 kali. Jeruk sebanyak 4,2 kali, wortel sebanyak 2,2 kali dan gorengan sebanyak 4,3 kali.

Rata-rata frekuensi pangan yang paling sering dikonsumsi oleh siswi non anemia dalam satu minggu antara lain nasi sebanyak16,1 kali, tempe sebanyak 3,5 kali, daging ayam sebanyak 3,0 kali. Susu segar sebanyak 1,1 kali, teh sebanyak 2,8 kali, vitamin C hisap sebanyak 0,2 kali. Jeruk sebanyak 2,9 kali, bayam sebanyak 1,8 kali dan cokelat sebanyak 2,6 kali. Rata-rata frekuensi konsumsi pangan selama satu bulan dapat dilihat pada Lampiran 4.

Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi

Rata-rata kecukupan energi pada siswi anemia sebesar 1848 ± 265 kkal/hari dan pada siswi non anemia sebesar 1934 ± 229 kkal/hari. Kecukupan protein pada siswi anemia rata-rata sebesar 50,8 ± 9,2 g/hari dan pada siswi non anemia sebesar 53,0 ± 9,0 g/hari. Kecukupan vitamin A pada siswi anemia sebesar 451 ± 62 RE/hari lebih rendah dibandingkan dengan kecukupan vitamin A pada siswi non anemia sebesar 473 ± 51 RE/hari. Kecukupan vitamin C siswi anemia lebih rendah dibandingkan dengan siswi non anemia, pada siswi anemia rata-rata kecukupan vitamin C sebesar 54,2 ± 7,5 mg/hari dan pada siswi non anemia sebesar 56,8 ± 6,1 mg/hari. Pada siswi anemia kecukupan Fe lebih rendah yaitu 20,0 ± 3,6 mg/hari dibandingkan dengan siswi non anemia yaitu 21,1 ± 3,0 mg/hari.

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat-zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam jangka waktu lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan energi dan zat-zat gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti umur, gender, berat badan, iklim dan aktifitas fisik. Oleh karena itu, perlu disusun angka kecukupan gizi yang dianjurkan sesuai untuk rata-rata penduduk yang hidup di daerah tertentu. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan digunakan sebagai standar guna mencapai status gizi optimal bagi penduduk (Almatsier 2004). Tingkat kecukupan energi dan zat gizi remaja anemia dan non anemia dapat dilihat pada Tabel 17 berikut.

Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan asupan dan tingkat kecukupan energi dan zat gizi siswi anemia dan non anemia

Energi dan Zat Gizi

Anemia (n=30) Non anemia (n=50) Total (n=80) Asupan Tk kec (%) Asupan Tk kec (%) Asupan Tk kec (%) Energi Rata-rata 1657 89,9 1671 87,8 1665 88,6 SD 561 27,4 701 39,1 649 35,0 Protein Rata-rata 89,3 182,5 85,9 169,0 87,2 174,0 SD 41,8 92,7 55,0 114,2 50,2 106,2 Vitamin A Rata-rata 188 41,8 275 60,4 242 53,4 SD 173 36,7 354 82,4 300 69,2 Vitamin C Rata-rata 8,1 15,1 15,0 26,6 12,4 22,3 SD 12,6 24,7 31,3 54,0 26,0 45,4 Zat Besi Rata-rata 22,7 114,9 21,5 104,8 22,0 108,6 SD 10,9 59,7 12,9 66,6 12,1 63,9

Kekurangan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan kurang dari energi yang dikeluarkan. Tubuh akan mengalami keseimbangan energi negatif, akibatnya adalah berat badan kurang dari berat badan yang ideal. Kekurangan energi pada bayi dan anak-anak akan menghambat pertumbuhan dan pada orang dewasa akan terjadi penurunan berat badan dan kerusakan jaringan tubuh. Kelebihan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi akan dirubah menjadi lemak tubuh, akibatnya adalah berat badan lebih atau kegemukan (Almatsier 2004).

Dokumen terkait