Kelompok Tani Ngudi Makmur merupakan kelompok tani yang berada di Dusun Jombor, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kelompok tani ini beranggotakan 62 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mayoritas dari anggota kelompok tani Ngudi Makmur adalah petani berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 92% dan sisanya sebesar 8% adalah berjenis kelamin perempuan.
Para anggota yang berjenis kelamin perempuan adalah mereka yang sudah tidak memiliki suami dan masih aktif dalam usaha tani, sehingga mereka bisa terdaftar dalam anggota kelompok. Jenis kelamin tersebut merupakan yang terdaftar dalam
9
kelompok tani. Namun dalam praktiknya, banyak juga petani wanita yang mengurus pertaniannya.
Anggota kelompok tani Ngudi Makmur didominasi oleh petani yang berusia ≥ 46 tahun yaitu sebesar 71%, kemudian petani yang berusia antara 36-45 tahun yaitu sebesar 23%. Petani yang berusia antara 26-35 tahun adalah sebesar 5%, dan jumlah yang paling kecil adalah petani yang berumur ≤ 25 tahun, yaitu sebesar 1%. Tingkat pendidikan para petani di kelompok tani Ngudi Makmur sebagian besar adalah Sekolah Dasar (55%). Sedangkan petani yang memiliki tingkat pendidikan paling tinggi adalah Sekolah Menengah Keatas (11%).
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku para petani Ngudi Makmur dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan pelaksanaan usahanya. Namun didalam kelompok tani ini, tingkat pendidikan tidak mempengaruhi keterampilan dalam bertani. Sebagian besar petani Ngudi Makmur hanya berlatar belakang pendidikan SD (55%).
Bahkan ada beberapa petani (11%) yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sama sekali (tidak bersekolah). Keterampilan bertani mereka pelajari bukan dari pendidikan formal, namun mereka dapatkan secara turun temurun dari keluarga mereka dan juga dari pengalaman. Mereka menggunakan pengetahuan yang mereka dapatkan, baik dari keluarga, orang tua, lingkungan sekitar maupun pengalaman yang mereka peroleh selama menjadi petani untuk mengelola usaha tani yang mereka jalankan agar memperoleh hasil yang lebih baik. Mosher (1978) dalam rochdiani (2008) berpendapat bahwa pengetahuan petani tidak harus melalui pendidikan tingkat formal yang ditempuh tetapi pengalaman petani dapat dijadikan faktor penentu bahwa mereka memiliki pengetahuan dan lebih terampil dalam berusaha tani.
Sebagian besar para petani Ngudi Makmur menjadikan usaha pertaniannya sebagai usaha pokok (71%), sedangkan sisanya (29%) menjadikan usaha tani sebagai usaha sampingan.Para petani yang menjadikan usaha taninya sebagai usaha sampingan biasanya memiliki usaha pokok yaitu sebagai pedagang, tukang,
10
karyawan, dan buruh. Para petani yang tidak memiliki usaha sampingan pada umumnya akan cenderung lebih fokus dalam menjalankan usaha taninya, sehingga mereka akan memiliki hasil yang lebih maksimal bila dibandingkan dengan petani yang menjadikan usaha taninya sebagai usaha sampingan. Berikut adalah data yang diperoleh dari penelitian:
Tabel 1. Karakteristik Responden
Karakteristik Frekuensi Presentase Jenis Kelamin:
Pencatatan Usaha oleh Petani Ngudi Makmur
Bagi petani Ngudi Makmur pencatatan bukanlah hal yang asing, hampir semua petani Ngudi Makmur sudah mengetahui tentang pencatatan walaupun mereka belum sepenuhnya mengetahui makna dan fungsi dari sebuah pencatatan.Pengetahuan mengenai pencatatan mereka dapatkan dari pengurus kelompok tani Ngudi Makmur. Petani Ngudi Makmur rutin melakukan pertemuan setiap 2-3 bulan sekali untuk membahas masalah-masalah yang mereka hadapi.
11
Mereka juga bisa saling berbagi pengetahuan dan bertukar pikiran mengenai pertanian yang mereka jalankan. Bagi sebagian petani Ngudi Makmur, pencatatan merupakan hal yang cukup penting dalam menjalankan usaha, sehingga mereka lebih memilih untuk menggunakan pendatatan didalam usahanya, namun ada beberapa petani juga yang lebih memilih untuk tidak menggunakan pencatatan.
berikut adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada kelompok Tani Ngudi Makmur Dusun Jombor Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang:
Gambar 1. Data Penggunaan Pencatatan Pada Petani Ngudi Makmur Diagram tersebut menjelaskan bahwa petani yang menggunakan pencatatan dalam menjalankan usaha taninya hanya sebesar 29%. Sedangkan petani yang pernah menggunakan pencatatan yaitu sebesar 23%, dan jumlah petani yang sama sekali tidak menggunakan pencatatan cenderung lebih besar yaitu sebesar 48%.
Anggota kelompok tani Ngudi Makmur yang memutuskan untuk menggunakan pencatatan usaha dalam usahataninya (29%) memiliki alasan dan
Menggunakan
Tidak Menggunakan Pernah
Menggunakan
23% 29%
48%
12
karakteristik yang berbeda-beda. Berikut ini merupakan hasil penelitian mengenai daftar petani yang menggunakan pencatatan:
Tabel 2.Karakteristik Petani yang Menggunkan Pencatatan
Karakteristik Frekuensi Presentase
Usia menggunakan pencatatan yaitu berjumlah 18 petani, sebagian besar adalah petani yang berusia ≥ 46 tahun yaitu sebanyak 10 petani (56%). Dari tingkat pendidkan, sebagian besar petani yang menggunakan pencatatan adalah petani yang memiliki latar belakang pendidikan (SD) yaitu sebanyak 10 petani (56%), Dan apabila dilihat dari kriteria usaha, maka usaha pokoklah yang memiliki jumlah paling banyak yaitu berjumlah 14 petani (78%).
Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada para petani Ngudi Makmur, terdapat beberapa alasan mengapa para petani yang menggunakan pencatatan dalam usahanya, alasan yang pertama, untuk mengingat hal-hal pokok seperti jumlah pupuk, jumlah bibit yang dibutuhkan, dll. Seperti beberapa petani Ngudi Makmur yang menggunakan pencatatan untuk mencatat jumlah pupuk yang mereka beli per karung dan mereka titipkan di warung yang sudah ditunjuk oleh
13
pengurus kelompok tani untuk menyediakan pupuk. Warung tersebut memiliki sebuah gudang yang berisi persediaan pupuk untuk para petani Ngudi Makmur.
Para petani yang membeli pupuk perkarung, biasanya akan membayar dimuka.
Untuk itu penting bagi mereka melakukan pencatatan agar tidak lupa berapa jumlah pupuk yang masih tersedia atau berapa jumlah pupuk yang sudah diambil.
Pencatatan yang mereka gunakan masih tergolong pencatatan sederhana, mereka melakukan pencatatan hanya untuk kepentingan pribadi. Seperti hasil wawancara yang dilakukan kepada Bapak Sutiyono berikut:
“Ya kan saya beli pupuknya perkarung mbak, jadi ya harus nyatet, biar ga kisruh sama pemilik warung apa petani lainnya, nyatetnya ya terserah saya aja, tidak harus yang gimana-gimana, yang penting saya paham dan tidak lupa sudah ambil pupuk berapa kilo di warung”
Pencatatan mengenai pupuk dan bibit hanya berfokus pada kuantitasnya dan tidak mencatat biayanya. Sedangkan untuk pencatatan mengenai hasil panen, biasanya mereka mencatat hasil penjualan panen yang di dapat, tanpa melihat jumlah panen (kuantitasnya).
Alasan petani Ngudi Makmur yang kedua dalam menggunakan pencatatan adalah untuk mengingat hutang dan piutang terkait dengan hasil panen dan keuangan mereka. Biasanya para petani saling pinjam meminjam hasil panen maupun dalam bentuk uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Para petani melakukan pencatatan hanya berfokus pada hutang piutang mereka saja dengan tujuan untuk membantu mereka agar tidak lupa dengan kewajiban mereka pada pihak lain. Selain itu, para petani juga beranggapan bahwa jika mereka tidak melakukan pencatatan, maka mereka akan sering lupa dengan hutang piutang mereka. Para petani yang melakukan pencatatan namun tidak mencatat jumlah pupuk adalah petani yang membeli pupuk secara eceran, mereka membeli pupuk hanya saat membutuhkan saja. Jadi bagi petani tersebut, mencatat jumlah pupuk adalah tidak terlalu penting.
14
Alasan para petani Ngudi Makmur yang ketiga dalam menggunakan pencatatan adalah untuk mengetahui apakah mereka mengalami keuntungan atau kerugian. Alasan ini dimiliki oleh beberapa petani yang bisa disebut sebagai petani pemborong. Dari seluruh anggota kelompok tani Ngudi Makmur, terdapat tiga petani pemborong. Dalam menjalankan usahanya, para petani ini biasanya membeli atau membayar dimuka tanaman yang ada di ladang milik petani lainnya.Jadi pada saat panen, hasil panen adalah seluruhnya milik pembeli. Dalam menentukan harga, biasanya petani ini hanya mengandalkan perkiraan saja. Para petani ini, biasanya melakukan pencatatan untuk mencatat jumlah biaya yang mereka keluarkan untuk memborong tanaman milik petani lain dan untuk mencatat hasil penjualan panen. Dengan demikian mereka akan mengetahui apakah mereka mengalami keuntungan atau kerugian. Pencatatan juga dimaksudkan untuk mengingat kapan dan kepada siapa saja mereka melakukan pemborongan.Pencatatan juga mereka gunakan sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan dalam usaha mereka selanjutnya. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Muhsinin berikut ini:
“Kalau sudah punya catatan kan enak, kemarin disini dapet segini, disana dapet berapa gitu, jadi kita bisa ngira-ngira kalau tanah seperti ini, luasnya segini, tanamannya seperti ini, kira-kira kalau saya panen 3-4 bulan lagi lakunya berapa, itu kaitu kalau buat saya sudah bisa dikira-kira mbak, walaupun kadang ya ada melesetnya”
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa dengan melakukan pencatatan, maka bapak Muhsinin menggunakan pencatatannya untuk mempertimbangkan keputusannya ketika ingin melakukan pemborongan pada petani lain. Beliau akan melihat catatannya kembali ketika akan melakukan pemborongan ditempat yang sama, dan ketika akan melakukan pemborongan di tempat lain, beliau sudah bisa memperkirakannya, walaupun terkadang perkiraannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
15
Dari ketiga alasan tersebut, dapat dilihat bahwa petani Ngudi Makmur memiliki alasan yang berbeda-beda dalam penggunaan pencatatan usaha.Mereka memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda, sehingga pencatatan usaha yang ada di kelompok tersebut masih beragam.Apabila dikaitkan dengan jenis pembukuan menurut Rodjak (2006), jenis pembukuan yang dilakukan oleh beberapa petani Ngudi Makmur tergolong dalam jenis pembukuan tunggal.
Pembukuan tunggal terdiri dari dua jenis, yaitu pembukuan yang hanya mencatat hasil-hasil yang dijual dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam waktu tertentu, dan beberapa petani lainnya khususnya petani pemborong menggunakan pembukuan yang tergolong dalam pembukuan tunggal yang mencakup inventarisasi, sarana serta prasarana, hasil-hasil yang dijual dan biaya-biaya yang dikeluarkan yang dicatat dalam satu buku tertentu.
Pada kelompok tani Ngudi Makmur, sebagian besar anggotanya adalah petani yang tidak menggunakan pencatatan (48%). Para petani ini hanya akan menggunakan perkiraan dan ingatan mereka untuk hal-hal penting seperti hutang, piutang, biaya pengeluaran, hasil panen, dan lain-lain. mereka meyakini bahwa mereka tidak akan lupa dengan hutang piutang dan hal penting lainnya. Berikut merupkan data mengenai petani yang tidak menggunakan pencatatan:
16
Tabel 3. Karakteristik Petani yang Tidak Menggunakan Pencatatan
Karakteristik Frekuensi Presentase
Usia menggunakan pencatatan yaitu sebanyak 30 petani, sebagian besar petani ini berusia ≥46 tahun yaitu sebanyak 26 petani(87%). Jumlah petani yang memiliki latar belakang pendidikan SD juga merupakan yang paling paling besar yaitusebanyak 19 petani (64%). Sebagian besar petani yang menggunakan pencatatan juga merupakan petani yang menjadikan usaha pertaniannya sebagai usaha pokok yaitu sebanyak 24 petani (80%).
Dari hasil wawancara yang dilakukan, terdapat beberapa alasan mengapa para petani tidak menggunakan pencatatan dalam usahanya, yang pertama adalah petani beranggapan bahwa melakukan pencatatan hanya akan merepotkan dan mereka juga tidak ada waktu untuk melakukannya. Untuk itu mereka memilih untuk tidak menggunakan pencatatan seperti yang diungkapkan oleh Bapak Mugi tambar sebagai berikut:
“halah, buat apa mbak, malah ngrepotin kalau pakai pencatatan. Lagian saya juga banyak kerjaan lain mbak, repot mbak”
17
Alasan yang kedua adalah pencatatan bukanlah hal yang penting atau tidak bermanfaat dalam usahatani. Mereka beranggapan bahwa melakukan pencatatan ataupun tidak, tidak akan merubah hasil panen ataupun hasil penjualan. Menurut Bapak Diyono, ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan dalam menjalankan usaha tani, yaitu seperti berikut:
“ya soalnya gak penting mbak, wong kalau pake pencatatan apa enggak ya sama aja hasilnya mbak, gak bikin panennya jadi banyak. Yang penting tu kalau menurut saya kok ini to mbak, kita harus tlaten, sabar dan ngerti sama tanduran kita.”
Menurut Bapak Diyono, yang terpenting dalam menjalankan usaha tani adalah sabar dan teliti. Selain itu, menjadi seorang petani juga harus mengerti tentang kondisi lingkungan dan apa yang mereka tanam. Alasan yang ketiga adalah latar belakang pendidikan.Latar belakang pendidikan merupakan salah satu alasan mengapa para petani tidak menggunakan pencatatan.Beberapa petani Ngudi Makmur mengalami buta huruf karena mereka memiliki latar belakang yang paling rendah (tidak bersekolah). Oleh karena itu, sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk membuat sebuah pencatatan dalam usaha mereka. Para petani yang seperti ini tidak pernah memperhitungkan apakah mereka mengalami keuntungan atau kerugian, karena bagi mereka yang terpenting adalah hasil panennya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Mugiyono berikut ini:
“ya gak tau mbak untung apa rugi, yang penting jualan panennya laku dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari”
Selain petani yang menggunakan dan tidak menggunakan pencatatan dalam usaha tani, terdapat juga beberapa petani Ngudi Makmur yang sudah pernah menggunakan pencatatan (23%), tetapi hanya untuk beberapa saat saja dan selanjutnya mereka tidak menggunakan pencatatan lagi dalam usahanya. berikut ini adalah data petani yang pernah menggunakan pencatatan :
18
Tabel 4. Karakteristik Petani yang Pernah Menggunakan Pencatatan
Karakteristik Frekuensi Presentase
Usia
Dari tabel tersebut menunjukan bahwa sebagian petani yang pernah menggunakan pencatatan adalah berusia ≥ 46 tahun yaitu sebanyak 8 petani (57%). Sedangkan latar belakang pendidikan untuk petani yang pernah mengunakan pencatatan didominasi oleh petani yang bersekolah sampai dengan jenjang SMP yaitu sebanyak 6 petani (43%). Dan para petani ini sebagian besar merupakan petani yang memiliki pekerjaan lain selain di bidang pertanian atau menjadikan usaha pertanian sebagai usaha sampingan yang berjumlah 8 petani (57%).
Dalam hal ini, beberapa petani memiliki alasan yang hampir sama dengan petani yang tidak menggunakan pencatatan, yaitu tidak terlalu bermanfaat bagi usaha tani. Pada awal bergabung dengan kelompok tani, Para petani ini masih rutin melakukan pencatatan sederhana untuk usahanya. Namun semakin lama mereka merasa bahwa melakukan pencatatan tidak membuat usaha mereka menjadi lebih baikseperti yang diungkapkan oleh Bapak Ngatimin:
19
“yo pernah nyatet dulu, tapi lama-lama kok malas, soalnya kok gak ada manfaatnya menurut saya. Wong semuanya kan bisa di kira-kira kalau masalah pupuk-pupuk gitu mbak. Nek jatahe panen banyak yo panen banyak kabeh mbak, kan manut cuacane, ora manut catetane”
Menurut Bapak Ngatimin, menggunakan pencatatan di dalam menjalankan usaha tidak terlalu bermanfaat, karena semua hal di dalam usaha masih bisa untuk diingat saja, dan menggunakan pencatatan tidak membantu membuat hasil panen menjadi lebih banyak, karena hal tersebut hanya tergangung pada cuaca atau kondisi alam, bukan pada pencatatan.
Alasan lain yang menjadikan para petani berhenti melakukan pencatatan adalah karena mereka sering lupa dengan kegiatan pencatatannya. Selain itu malas juga menjadi alasan mengapa para petani tidak menggunakan pencatatan.Seperti yang dialami oleh Bapak Sukamto. Pada awal bergabung dengan kelompok tani, beliau selalu melakukan pencatatan sederhana untuk usaha pertaniannya, namun dengan berjalannya waktu Bapak Sukamto sering lupa untuk melakukan pencatatan dan lama kelamaan beliau memilih untuk tidak melakukan pencatatan karena malas. Dari hasil wawancara yang didapat, Bapak Sukamto menjadikan faktor usia sebagai alasan mengapa beliau sering lupa untuk melakukan pencatatan. Berikut adalah penjelasan dari Bapak Sukamto:
“Iya pernah mbak, waktu dulu awal2 masuk kelompok tani semua anggota dikasih kertas buat catat pupuk dan bibit yang digunakan, tapi lama kelamaan saya malas dan lupa jadi gak nyatet lagi soalnya kan repot mbak”
Keseluruh petani yang saat ini sudah tidak mengunakan pencatatan, hampir semuanya tidak memiliki ketertarikan lagi untuk menggunakan pencatatan dalam usahanya dengan alasan yang sama yaitu malas, hanya merepotkan, tidak ada waktu, dan kurang bermanfaat. Hal ini disebabkan karena sebagian besar para petani Ngudi Makmur beranggapan sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk mereka andalkan dalam menjalankan usaha mereka.
20
Dari uraian hasil pembahasan dan analisis diatas, maka dapat dilihat bahwa sebagian besar petani (48%) tidak menggunakan pencatatan dengan alasan merepotkan, tidak ada waktu untuk melakukan pencatatan, tidak bermanfaat bagi kegiatan usaha, dan beberapa petani juga mengalami buta huruf sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan pencatatan. Lalu terdapat juga beberapa petani yang sudah pernah menggunakan pencatatan namun kemudian tidak menggunakannya lagi (23%) dengan alasan yang hampir sama dengan petani yang dari awal sudah tidak menggunakan pencatatan yaitu pencatatan yaitu, merepotkan dan tidak ada waktu, selain itu lupa dan malas untuk melanjutkan kegiatan pencatatan. Namun dikelompok tani ini terdapat juga petani yang sampai saat ini masih rutin melakukan pencatatan untuk kegiatan usahanya (29%). Para petani ini memiliki alasan diantaranya adalah untuk mengingat hal-hal pokok (jumlah pupuk, bibit, obat, hasil panen, dll) dalam pertanian, untuk mengingat hutang piutang, untuk mengetahui laba/rugi dalam usaha taninya dan untuk mengingat waktu dan jumlah pengeluuaran yang mereka lakukan. Berikut adalah media pencatatan yang digunakan oleh petani Ngudi Makmur:
Tabel 5. Media Pencatatan yang Digunakan oleh Petani Ngudi Makmur
No Media Pencatatan Keterangan
1 Kertas Pencatatan Untuk mencatat persediaan pupuk yang disediakan di warung
2 Buku tulis Untuk mencatat biaya pengeluaran, penghasilan panen dan hutang piutang.
3 Kalender Untuk menandai waktu-waktu penting dalam pertanian, seperti tanggal penanaman tanggal panen dll.
Dari data diatas, dijelaskan bahwa media pencatatan yang digunakan oleh petani Ngudi makmur berupa kertas kerja, buku tulis, dan kalender.Masing-masing petani menggunakan media pencatatan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
21
Tabel 6. Data Pencatatan yang Digunakan oleh Petani Ngudi Makmur Latar
Belakang Pendidikan
Media Pencatatan Perhitungan Laba/Rugi Catatan Hutang PiutangSD SD 1. Buku tulis
2. Kalender 3. Kertas
pencatatan
Perhitungan laba rugi hanya dilakukan oleh beberapa petani yang menggunakan media pencatatan Buku tulis, mereka menghitung laba rugi kotor yang diperoleh
Perhitungan laba rugi hanya dilakukan oleh beberapa petani yang menggunakan media pencatatan Buku tulis, mereka menghitung laba rugi kotor yang diperoleh
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa para petani dengan latar belakang pendidikan SD justru memiliki pencatatan yang lebih beragam bila dibandingkan dengan petani yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi.Hal ini menunjukan bahwa penggunaan pencatatan pada petani Ngudi Makmur, tidak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan ataupun karakteristik lainnya, namun lebih dipengaruhi oleh kebutuhan dari masing-masing petani. Para petani akan menggunakan pencatatan ketika mereka merasa membutuhkannya.
Seperti yang dilakukan oleh para petani pemborong, mereka akan cenderung menggunakan pencatatan usaha yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan petani lain, karena mereka merasa pencatatan merupakan hal yang penting bagi mereka meskipun mereka memiliki pendidikan yang lebih rendah. Hal ini berbanding terbalik dengan para petani yang cenderung memiliki latar belakang
22
pendidikan lebih tinggi, mereka hanya menggunakan pencatatan untuk hal-hal tertentu saja karena mereka merasa tidak membutuhkan pencatatan yang lebih.