Persentase Mortalitas Larva O. rhinoceros (%)
Data pengamatan persentase mortalitas larva O. rhinoceros akibat aplikasi jamur entomopatogen C. militaris dari hasil analisis sidik ragam, dapat dilihat bahwa perlakuan aplikasi jamur pada pengamatan 3 – 7 hari setelah aplikasi berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva O. rhinoceros. Untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Beda uji rataan pengaruh aplikasi jamur terhadap mortalitas larva
O. rhinoceros (%) pada pengamatan 3 – 7 Hari Setelah Aplikasi.
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan 3 hari setelah aplikasi mortalitas larva O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 30 gr media jagung) yaitu sebesar 13,33%. Pada pengamatan 7 hari setelah aplikasi, mortalitas larva O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (diaplikasikan jamur C. militaris pada 30 gr media
jagung) sebesar 60% dan terendah pada perlakuan A1 (diaplikasikan jamur
C. militaris pada 20 gr media jagung) sebesar 23,33%. Hal ini menunjukkan bahwa jamur C. militaris kurang efektif digunakan untuk mengendalikan larva
Perlakuan Hari Setelah Aplikasi
III IV V VI VII
A0 0,00b 0,00b 0,00b 0,00d 0,00d
A1 0,00b 3,33b 16,67b 23,33c 23,33c
A2 0,00b 6,67b 20,00b 33,33b 33,33b
O. rhinoceros. Biasanya jamur entomopatogen bersifat spesifik inang, maksudnya jamur tersebut akan lebih efektif dalam mematikan hama jika hama itu adalah inang sasarannya. Diketahui bahwa jamur C. militaris spesifik inang terhadap hama ulat api. Hal ini sesuai dengan literatur Prayogo (2006) yang menyatakan bahwa jenis hama yang menyerang tanaman akan menentukan keefektifan cendawan entomopatogen karena setiap jenis cendawan entomopatogen mempunyai inang yang spesifik, walaupun ada pula yang mempunyai kisaran inang cukup luas.
Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan 3-7 hari setelah aplikasi mortalitas larva O. rhinoceros pada perlakuan A1 (diaplikasikan jamur C. militaris
pada 20 gr media jagung) menunjukkan bahwa mortalitas larva O. rhinoceros
kurang efektif . Hal ini disebabkan karena umumnya jamur C. militaris paling efektif untuk membunuh ulat api (Setothosea asigna ). Hal ini sesuai dengan pernyataan Diyasti (2012) yang menyatakan bahwa Cordyceps dengan spesifik spesies Cordyceps aff. militaris dapat digunakan sebagai agens pengendalian hayati terhadap ulat api (Setothosea asigna) pada tanaman kelapa sawit. Penggunaan Jamur C. militaris Pada Ulat Api Setothosea asigna (Lepidoptera : Limacodidae) Pada Tanaman Kelapa Sawit menunjukkan persentase mortalitas hama ulat api sebesar 100% terdapat pada perlakuan C. militaris dari lapangan dengan dosis 20 g/100 ml air/m2 pH 6,5 dan perlakuan C. militaris media jagung giling dengan dosis 20 g/100 ml air/m2 pada pH 6,5.
Dari tabel dapat dilihat bahwa jamur C. militaris kurang efektif untuk pengendalian O. rhinoceros dengan dosis yang rendah tetapi dapat digunakan untuk pengendalian O. rhinoceros karena mortalitas pada perlakuan A3
(diaplikasikan jamur C. militaris pada 30 gr media jagung) adalah sebesar 60%. Pada pengamatan ini tubuh larva yang telah terinfeksi jamur C. militaris
dipenuhi oleh masa miselium dari jamur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anonimous (2012) yang menyatakan bahwa Pada awalny melekat pada kutikula, selanjutnya spora berkecambah melakukan penetrasi terhadap kutikula dan masuk ke hemosoel. Cendawan akan bereproduksi di dalamnya dan membentSerangga akan mati, sedangkan cendawan akan melanjutkan siklus hidupnya dalam fase saprob. Setelah tubuh serangga inang dipenuhi oleh massa seper
Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa jamur C. militaris kurang efektif. Hal ini dikarenakan jamur memiliki inang yang lebih spesifik yaitu hama dari ordo lepidoptera. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hosang (1990), semua patogen serangga mempunyai spesifik sebaran inang yang mana mereka bisa survive dan berproduksi. Beberapa patogen dapat mempunyai inang yang sangat spesifik dan ada juga mempunyai sebaran inang yang luas. Sebaran inang ini penting dalam introduksi patogen tertentu ke habitat baru. Dalam Direktorat Perlindungan Perkebunan (2011) juga menyatakan bahwa Cordyceps dapat menginfeksi serangga dari ordo Orthoptera, Isoptera, Hemiptera, Coleoptera, dan Diptera, serta lebih spesifik pada larva dan pupa ordo Lepidoptera.
Pada penelitian yang dilakukan larva serangga uji (larva O. rhinoceros) yang digunakan adalah larva instar akhir (larva instar 3), karena jamur C. militaris hanya dapat menginfeksi hama dalam stadia kepompong ataupun stadia larva instar akhir. Larva instar akhir yang terinfeksi juga akan mengalami mumifikasi
dan setelah beberapa hari akan tumbuh koloni jamur bewarna putih disekitar tubuh larva tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Purba dkk (1986) yang menyatakan bahwa jamur C. militaris dapat menyerang larva instar akhir maupun pupa yang ditandai dengan munculnya miselium berwarna putih dan mengalami mumifikasi.
Rataan mortalitas larva O. rhinoceros akibat aplikasi jamur entomopatogen C. militaris pada setiap waktu pengamatan dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 8: Grafik garis pengaruh aplikasi jamur entomopatogen terhadap mortalitas larva O. rhinoceros (%)pada setiap waktu pengamatan.
Jumlah Larva Menjadi Pupa(Ekor)
Data pengamatan jumlah larva menjadi pupa O. rhinoceros akibat aplikasi jamur entomopatogen C. militaris dari hasil analisis sidik ragam, dapat dilihat bahwa perlakuan aplikasi jamur pada pengamatan 3 – 7 hari setelah aplikasi berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva O. rhinoceros. Untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata dapat dilihat pada Tabel 1.
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 M o rt a lit a s O . r hi noc er os Pengamatan A3 A2 A1 A0 III IV V VI VII : 25 grC. militaris : Kontrol : 15 gr C. militaris : 20 gr C. militaris
Tabel 1. Beda uji rataan pengaruh aplikasi jamur terhadap jumlah larva menjadi pupa O. rhinoceros (%) pada pengamatan 3 – 7 Hari Setelah Aplikasi.
Perlakuan Jumlah Pupa (ekor)
A0 30
A1 18
A2 20
A3 12
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan 3 hari setelah larva menjadi pupa O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A0 (kontrol) yaitu sebesar 30 ekor dan terendah terdapat pada perlakuan A3 sebanyak 12 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan A0 (kontrol) larva O. rhinoceros tidak diaplikasikan C. militaris tidak menunjukkan adanya gejala serangan jamur sehingga larva dapat berkembang dengan baik sampai menjadi pupa. Pada perlakuan A3, larva menjadi pupa sebanyak 12 ekor menunjukkan bahwa C. militaris mampu menghambat pertumbuhan larva menjadi pupa yang memang sesuai dengan mekanisme dari jamur C. militaris. Pada larva instar 3 yang terserang, terdapat kumpulan hifa dari C. militaris yang berwarna putih menutupi seluruh larva O. rhinoceros sehingga larva megalami mumifikasi. Hal ini sesuai dengan literatur (Direktorat Perlindungan Perkebunan, 2011) yang menyatakan bahwa Cordyceps menempel pada tubuh larva/pupa. Askospora cendawan yang berada pada integument larva/pupa melakukan penetrasi melalui pembuluh dan
badan hifa keluar dan menyebar pada tubuh serangga. Kepompong yang terinfeksi menjadi keras (mumifikasi), warnanya krem sampai cokelat muda. Selanjutnya miselium yang kompak dan berwarna putih membalut tubuh kepompong di dalam kokon. Infeksi pertama terjadi pada saat larva tua akan berkepompong, tetapi lebih banyak pada fase kepompong.
Rataan mortalitas larva O. rhinoceros akibat aplikasi jamur entomopatogen C. militaris pada setiap waktu pengamatan dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 9: Grafik garis pengaruh aplikasi jamur entomopatogen terhadap jumlah larva menjadi pupa O. rhinoceros (%) pada setiap waktu
pengamatan. 0 5 10 15 20 25 30 35 A0 A1 A2 A3 Ju ml a h P u p a Perlakuan