Perkembangan Kebijakan (Dinamika Kelembagaan) Tenaga Teknis PHPL-PKB-R dalam PUHH
Dinamika kelembagaan dalam pengelolaan hutan tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang diterapkan. Kebijakan dapat diturunkan dalam bentuk peraturan (Djogo et al. 2003) yang mencakup aturan main untuk pemecahan masalah bersama dengan lembaga administratur publik menjadi domain utamanya (Nugroho 2008b). Perkembangan kebijakan akan turut mempengaruhi kelembagaan. Kebijakan yang bagus namun dilandasi kelembagaan yang jelek tidak akan mencapai tujuan atau hasil secara maksimal, begitupun sebaliknya (Djogo et al. 2003). Tahun 1990 dijadikan landasan awal dalam penelitian ini mengingat pada tahun tersebut tata usaha kayu dijadikan sebagai aturan terhadap pengendalian dan pemasaran hasil hutan.
Narasi perubahan kebijakan
Narasi kebijakan merupakan kisah tentang perubahan kebijakan yang mempunyai awal, tengah, dan akhir yang menggambarkan peristiwa bagaimana keputusan kebijakan tersebut terbentuk dan biasanya tertanam dalam struktur lembaga tertentu, birokrasi, atau kelompok jaringan aktor (IDS 2006). Sebelum tahun 2008 peraturan kompetensi tenaga teknis PHPL belum diatur secara tersendiri. Khusus untuk tenaga teknis penguji kayu bulat terintegrasi dalam peraturan PUHH. Perubahan peraturan PUHH dan tenaga teknis PHPL disajikan pada Gambar 6. Sementara perbandingan perubahan kebijakan terhadap keberadaan tenaga teknis dalam PUHH disajikan pada Tabel 4.
20
Gambar 6 Perubahan peraturan PUHH dan tenaga teknis PHPL
Selama periode 1990 sampai dengan 2015, peraturan tentang PUHH telah mengalami perubahan sebanyak 5 kali dengan jeda waktu bervariatif. Periode paling lama adalah 1990 sampai dengan 1998 (delapan tahun) dan paling cepat periode 2014 sampai dengan 2015 (satu tahun). Pada periode tahun 2006 sampai dengan 2013 muncul peraturan tersendiri mengenai tenaga teknis PHPL.
Kepmenhut nomor 402/Kpts-IV/90 jo. nomor 525/Kpts-II/1991 tentang Tata Usaha Kayu
Kepmenhutbun nomor 316/Kpts-II/1999 tentang Tata Usaha Hasil Hutan
Kepmenhut nomor 126/Kpts-II/2003 jo. 334/Kpts-II/2003 jo. 279/Menhut-II/2004 jo. 18/Menhut-II/2005 tentang
Penatausahaan Hasil Hutan
Permenhut nomor P.55/Menhut-II/2006 jo. P.63/Menhut-II/2006 jo. P.8/Menhut- II/2009 jo. P.45/Menhut-II/2009 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang Berasal dari Hutan Negara
Permenhut nomor P.41/Menhut-II/2014 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang Berasal dari Hutan Alam
Permenhut nomor P.58/Menhut- II/2008 jo. P.20/Menhut-II/2010 tentang Kompetensi dan Sertifikasi Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari
Permenhut nomor P.54/Menhut- II/2014 tentang Kompetensi dan Sertifikasi Tenaga Teknis dan Pengawas Tenaga Teknis
Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Permenlhk nomor P.43/Menlhk-Setjen/2015
tentang Penatausahaan Hasil Hutan Kayu yang Berasal dari Hutan Alam
21 Tabel 4 Perbandingan perubahan kebijakan terhadap keberadaan tenaga teknis
dalam PUHH Periode Independensi Wasganis terhadap Ganis Informasi yang ditransaksikan Penguasaan informasi produksi KB yang sebenarnya oleh Wasganis Pengendalian terhadap kerja Ganis dan Wasganis Implikasi terhadap biaya transaksi
1990–1998 Rendah Kayu berdasarkan LRP
Rendah Pengawasan berjenjang
Tinggi 1999–2002 Rendah Kayu berdasarkan
LHP
Rendah Pengawasan berjenjang
Tinggi 2003–2005 Rendah Kayu berdasarkan
LHC
Rendah - Tinggi 2006–2013 Rendah Kayu berdasarkan
LHP
Rendah Penilaian kinerja
Tinggi 2014–2015 Sedang Kayu berdasarkan
LHP Sedang Penilaian kinerja Tidak diketahui 2016– sekarang Belum teridentifikasi Kayu berdasarkan LHP Belum teridentifikasi Penilaian kinerja Belum teridentifikasi Periode 1990–1998
Periode ini masih merupakan masa Orde Baru. Kebijakan pemanfaatan hasil hutan diarahkan untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui pungutan usaha kayu. Pemanfaatan tersebut dilakukan secara maksimal untuk mempercepat peningkatan perekonomian. Oleh karena itu kemudian diterbitkan Keppres nomor 29 tahun 1990 tentang Dana Reboisasi dan nomor 30 tahun 1990 tentang Pengenaan, Pemungutan, dan Pembagian Iuran Hasil Hutan. Untuk melaksanakan lebih lanjut Keppres tersebut, Menteri Kehutanan menerbitkan peraturan nomor 402/Kpts-IV/1990 jo nomor 402/Kpts-II/1991 tentang Tata Usaha Kayu (TUK). Pelaksanaan pengukuran dan pengujian kayu diwajibkan bagi pemegang izin untuk memperoleh informasi secara benar dan akurat terkait produksi kayu yang dihasilkan. Pemerintah (principal) memberikan kepercayaan kepada pemegang izin (agent) untuk menerbitkan dokumen pengangkutan kayu bulat berupa SAKB dan perhitungan IHH–DR 5 secara self assessment. Perhitungan IHH–DR didasarkan pada LRP dengan menjumlahkan hasil penjualan atau pemakaian sendiri dan tarif IHH–DR yang berlaku pada saat itu. Pembuat LHP dan Penerbit SAKB langsung ditunjuk oleh pemegang izin. Hal ini diberlakukan dengan asumsi bahwa pelayanan birokrasi dan administrasi pengusahaan hutan akan lebih mudah dan cepat jika dilakukan sendiri oleh pemegang izin.
Meskipun demikian narasi kebijakan diarahkan kepada pentingnya keberadaan pengawas tenaga teknis untuk memastikan bahwa hasil pengukuran yang dilakukan oleh tenaga teknis perusahaan telah sesuai atau minimal tidak melebihi batas toleransi yang diperkenankan dan benar-benar berasal dari izin yang sah. Pengawas ini ditempatkan pada simpul hulu yaitu di TPn (P2LHP) dan simpul hilir yaitu di tempat tujuan pengangkutan (P3KB). Keberadaan P2LHP
5
IHH digantikan PSDH dengan dimasukkannya PSDH sebagai PNBP melalui PP nomor 51 tahun 1998.
22
pada masa ini tidak berkaitan langsung dengan pemungutan IHH–DR namun bertugas mengesahkan LHP sebagai syarat penerbitan dokumen SAKB yang diterbitkan oleh karyawan perusahaan yang ditunjuk sendiri. Pemberlakuan self assessment dan pemanfaatan hasil hutan secara maksimal memungkinkan pemegang izin untuk melakukan produksi sebanyak mungkin (Brown 1999). Namun hal ini banyak dilakukan dengan cara memanipulasi dokumen angkutan dan data kayu bulat baik dari jumlah, volume, maupun jenis kayu (ICW dan Greenomics 2004). SAKB yang seharusnya hanya digunakan pada kayu legal banyak diperjualbelikan untuk mengangkut kayu illegal sehingga sulit membedakan keduanya (Prahasto dan Irawanti 2000). Dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa pada periode ini sangat mudah untuk meloloskan kayu. Diduga satu dari dua unit pengangkutan dalam satu kali trip tidak memiliki dokumen resmi. Kondisi ini didukung oleh oknum yang ikut memperoleh keuntungan. Akibatnya kondisi sumber daya hutan menurun namun pemasukan negara tidak ikut meningkat (Tacconi et al. 2004; Sari et al. 2009). Laporan FAO (2010) menyebutkan laju deforestasi di Indonesia dalam kurun 1990–2000 mencapai 1.9 juta ha/tahun. Dari luasan 118.5 juta ha pada tahun 1990 menjadi 99.4 juta ha pada tahun 2000. Sementara produk domestik bruto (PDB) nasional tahun 1993–1999 terus mengalami penurunan sebesar 0.13% per tahun.
Periode 1999–2002
Pergantian kepemimpinan pada tahun 1998 ikut mempengaruhi kebijakan di sektor kehutanan. Kepercayaan pemerintah terhadap pemegang izin melalui mekanisme self assessment ternyata tidak mampu mengungkap informasi pendapatan produksi yang sebenarnya. Sebaliknya, hal ini dijadikan peluang bagi pemegang izin untuk memperoleh pendapatan yang lebih banyak. Kewajiban- kewajiban pungutan atas hak negara banyak yang hilang disertai dengan peredaran hasil hutan yang tidak tertib. Ada dua hal yang dianggap menjadi kelemahan utama. Pertama, tidak adanya pemeriksaan fisik terhadap kayu yang diedarkan (SAKB self assessment). Kedua, koordinasi antara Dishut asal dan tujuan kayu tidak memadai–jika tidak ingin mengatakan tidak ada (Puspitojati 2001).
Melihat kondisi pelaksanaan TUK secara self assessment yang tidak terkendali pemerintah kemudian menerbitkan Kepmenhutbun nomor 316/Kpts–II/1999 tentang Tata Usaha Hasil Hutan (TUHH) sebagai pengganti peraturan TUK sebelumnya. Mekanisme TUHH dibalik menjadi official assessment. Berangkat dari asumsi bahwa agent tidak bisa diberikan kepercayaan untuk melakukan assessment
sendiri maka pengawas tenaga teknis harus berada di garis depan untuk mengamankan hak-hak negara. Tenaga teknis perusahaan hanya berwenang sebagai Pembuat LHP. LHP yang telah disahkan oleh P2LHP menjadi dasar perhitungan PSDH–DR. PSDH–DR harus sudah dilunasi sebelum kayu bulat diangkut keluar dari TPK hutan menuju logpond antara, IPKH, atau tujuan lainnya. Dokumen SAKB yang sebelumnya diterbitkan oleh petugas pemegang izin dialihkan kepada petugas kehutanan yang ditunjuk.
Perubahan kepemimpinan juga ikut merubah sistim pemerintahan daerah melalui UU 22 tahun 1999. Kewenangan pusat hanya menyusun pedoman standar kegiatan pemantauan. Sementara pelaksanaannya secara teknis diserahkan kepada daerah. Pemda diuntungkan dengan sistim ini karena DR dimasukkan dalam dana
23 perimbangan6. Diharapkan dengan adanya otonomi daerah, pengawasan dapat dilakukan secara intensif sehingga pemungutan PSDH–DR lebih mudah dilakukan. Posisi PPHH yang berada di Dinas Kabupaten dan provinsi dianggap cukup efektif karena rentang kendalinya tidak terlalu jauh.
Meskipun sistim TUHH telah dilakukan secara official assessment namun ternyata belum mampu mengubah perilaku agent untuk membayar PSDH–DR tepat waktu. Banyak pemegang izin tetap melakukan penebangan tanpa memperhatikan kemampuan pembayaran PSDH–DR yang tertunggak, termasuk HPH besar. Sementara kayu tidak diperkenankan keluar sebelum PSDH–DR dibayarkan. Hal ini dikeluhkan oleh pemegang izin karena melambatkan penjualan kayu. Kualitas kayu jadi berkurang dan berdampak pada menurunnya harga jual. Akibatnya kayu menumpuk karena PSDH–DR belum dibayarkan. Tercatat sekitar Rp1.28 triliun tunggakan PSDH–DR sampai dengan akhir 2003 (Subarudi dan Dwiprabowo 2007).
Periode 2003–2005
Pada tahun 2003 peraturan TUHH diganti dengan Kepmenhut nomor 126/Kpts-II/2003 jo 334/Kpts-II/2003 jo 279/Menhut-II/2004 jo 18/Menhut-II/2005 tentang Penatausahaan Hasil Hutan (PUHH). Pada periode ini mekanisme PUHH secara keseluruhan bersifat official assessment 7. Pemerintah merubah cara penetapan dan pemungutan PSDH–DR. Hal ini disebabkan menumpuknya kayu yang sudah ditebang namun tidak dibayarkan PSDH–DRnya. Pembayaran PSDH– DR tidak lagi berdasarkan LHP namun dari hasil LHC. Peranan tenaga teknis juga diatur lebih rinci. Pada setiap blok kerja tebangan wajib ditempatkan minimal satu orang Pembuat LHP. Dokumen angkutan hasil hutan diganti dengan SKSHH8 dan hanya diterbitkan oleh P2SKSHH. Proses penunjukan dan pengangkatan petugas PUHH menjadi lebih rumit. Pengangkatan petugas PUHH semuanya harus melalui Dishut Provinsi. Pemegang izin mengusulkan nama-nama Pembuat LHP kepada Dishut Provinsi dan selanjutnya Kepala Dishut Provinsi mengangkat Pembuat LHP disertai dengan pemberian nomor register. Untuk pengangkatan P2LHP, P2SKSHH, dan P3KB, sebelumnya ditetapkan oleh Kepala BSPHH berupa daftar nama PHH/PPHH yang memenuhi kualifikasi dan kelayakan kerja. Berdasarkan daftar tersebut Kepala Dishut Provinsi mengangkat personil P2LHP, P2SKSHH, dan P3KB setelah melakukan koordinasi dengan Dishut Kabupatan/Kota. Masa tugas sebagai petugas PUHH berlaku untuk satu tahun RKT.
Perubahan mekanisme ini mendapat protes dari pemegang izin yang merasa dirugikan karena tidak hanya membayar PSDH–DR atas kayu yang dipungut tetapi juga termasuk batang atau pohon yang tertinggal di tempat penebangan (Dafriandi dan Jaaman 2012). Hal ini didukung oleh BPKP (2005) yang
6
Pemerintah pusat memperoleh DR 60% dan PSDH 20%. Sementara pemerintah daerah memperoleh DR 40% dan PSDH 80% (provinsi 16%, kabupaten penghsil 32%, dan kabupaten lainnya 32%). Sebelumnya pemerintah pusat memperoleh DR 100% dan PSDH 80%, pemerintah daerah hanya mendapat bagian PSDH sebesar 20%.
7
Sebelumnya SAKO dan SAHHBK diterbitkan oleh pemegang izin. 8
Terhitung sejak tanggal 12 Juni 2000 seluruh petugas kehutanan dan petugas pemegang izin dilarang menerbitkan dokumen SAKB, SAKO dan SAHHBK. Sebagai gantinya digunakan dokumen SKSHH yang dilakukan secara official assessment oleh pejabat kehutanan yang ditunjuk. Pejabat ini ditetapkan oleh Kepala Kanwil Departemen Kehutanan dan Perkebunan Provinsi atas usul Kepala Dinas Kehutanan Provinsi setempat. SKSHH merupakan alat bukti atas legalitas hasil hutan.
24
mengemukakan bahwa tata cara pemungutan PSDH–DR berdasarkan LHC sulit diterapkan karena datanya tidak akurat dan tidak diuji oleh pejabat yang berwenang. Disamping itu besarnya peranan pemerintah berimplikasi pada tingginya biaya transaksi dan waktu yang cukup lama (Dafriandi dan Jaaman 2012).
Periode 2006–2013
Terbitnya Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2005 tentang pemberantasan penebangan kayu secara ilegal di kawasan hutan dan peredarannya menuntut Dephut–pada waktu itu–untuk lebih memperketat pengawasannya. Sistem PUHH yang berlaku selama ini dianggap masih mencampuradukkan antara hasil hutan yang menjadi aset negara dan aset private (pemegang izin) sehingga tidak memberikan kepastian hukum. Pemerintah kemudian membuat mekanisme PUHH dengan memadukan antara official assessment dan self assessment. Pengesahan LHP, penerbitan SKSKB dan penerimaan kayu bulat dilakukan secara official assessment. Sementara untuk dokumen angkutan lanjutan menggunakan Faktur Angkutan Kayu Bulat (FA–KB) yang diterbitkan secara self assessment. Kebijakan ini dituangkan melalui Permenhut nomor P.55/Menhut-II/2006 jo P.63/Menhut-II/2006 jo P.8/Menhut-II/2009 jo P.45/Menhut-II/2009 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang Berasal dari Hutan Negara. Tujuan utamanya masih sama yaitu mengamankan hak-hak negara atas hasil hutan dan terciptanya kelestarian hutan. Tahun 2008 pemerintah mulai memanfaatkan teknologi informasi melalui penerapan SI–PUHH online. Dengan pelibatan teknologi informasi ini diharapkan akan memperpendek rantai birokrasi sehingga dapat menekan biaya transaksi. Bagi pemegang izin yang menerapkan SI–PUHH online
diberikan insentif menerbitkan SKSKB secara self assessment (SKSKB–OL). Pengangkatan petugas PUHH melalui proses birokrasi yang cukup rumit. Tenaga teknis yang akan diberdayakan harus memperoleh rekomendasi BP2HP, kecuali Penerbit FA–KB9. Untuk Pembuat LHP dan Penerbit SKSKB–OL, pemegang izin harus mengajukan usulan kepada Dishut Provinsi dengan tembusan BP2HP. Selanjutnya BP2HP membuat rekomendasi teknis. Dari usulan dan rekomendasi teknis tersebut, Kepala Dishut Provinsi kemudian menetapkan Pembuat LHP dan Penerbit SKSKB–OL. Sementara P2LHP, P2SKSKB, dan P3KB personilnya diusulkan dari Dishut Kabupatan/Kota ke Dishut Provinsi. Dishut Provinsi selanjutnya meminta pertimbangan teknis kepada BP2HP. Dari hasil pertimbangan teknis tersebut Dishut Provinsi kemudian mengangkat personil P2LHP, P2SKSKB, dan P3KB. Pertimbangan teknis dari BP2HP menjadi salah satu syarat mengingat selama periode sebelumnya banyak terjadi perangkapan jabatan oleh PPHH, misalnya sebagai P2SKSHH sekaligus sebagai P3KB. Namun mekanisme yang panjang ini mengakibatkan banyak waktu terbuang sehingga ikut mempengaruhi lambatnya kegiatan produksi. Keseluruhan proses pengangkatan bisa memakan waktu dua sampai tiga bulan.
Ditengah maraknya pemberantasan illegal logging, posisi tenaga teknis dianggap lemah karena belum ada payung hukum tersendiri yang mengatur legalitas kompetensinya. Profesionalisme tenaga teknis menjadi suatu keharusan di dalam pengusahaan hutan karena keberadaannya merupakan salah satu indikator PHPL dan bagian dari amanah PP 6 tahun 2007. Oleh karena itu kemudian dibuat suatu peraturan tersendiri menyangkut tenaga teknis PHPL
9
25 (Gambar 6). Peraturan ini menjadi pedoman bagi tenaga teknis untuk memahami perannya, aturan main yang perlu ditaati, dan sanksi yang dikenakan jika melanggar ketentuan. Pemegang izin juga diwajibkan mempekerjakan tenaga teknis dengan jumlah memadai berdasarkan luas areal konsesinya melalui Perdirjen BPK nomor P.8/VI-SET/2009.
Sebenarnya pemberlakuan kebijakan ini juga demi kepentingan IUPHHK–HA sendiri. Masih banyak pemegang izin yang tidak menyadari keberadaan GANISPHPL–PKB–R sebagai tenaga terampil. Dengan diwajibkannya memiliki tenaga teknis sendiri tidak ada lagi biaya untuk peminjaman atau transfer tenaga teknis. Hal ini akan berdampak pada kinerja IUPHHK–HA karena posisi GANISPHPL–PKB–R sudah berada di tempat. Dengan demikian pemungutan hak-hak negara pun akan lebih cepat dilakukan. Bercermin dari hal tersebut sepatutnya IUPHHK–HA memasukkan GANISPHPL–PKB–R sebagai bagian dari investasi perusahaan.
Periode 2014–2015
Berkurangnya sumber daya hutan di Indonesia akibat illegal logging
mendapat sorotan dari berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri. Menurut Smith et al. (2003) korupsi menjadi salah satu penyebab utama illegal logging tersebut. Masih adanya pemahaman bahwa dokumen lebih penting daripada hasil hutannya mengakibatkan penyalahgunaan PUHH selalu berulang. Pada periode ini KPK mulai masuk sebagai tindakan pencegahan korupsi. KPK memberikan rekomendasi perbaikan tata kelola kehutanan diantaranya melalui pengaturan kembali PUHH. Pengaturan PUHH dibuat berdasarkan asal hasil hutan, yaitu PUHH kayu dari hutan alam, PUHH kayu dari hutan tanaman, dan PUHH bukan kayu yang berasal dari hutan negara. Dalam penelitian ini dibatasi pada lingkup PUHH kayu dari hutan alam yaitu Permenhut nomor P.41/Menhut-II/2014. Pokok-pokok perubahan yang terdapat dalam peraturan ini yaitu:
a) peningkatan profesionalitas birokrasi dan kepastian hukum pelaku usaha hal ini dilakukan melalui pembatasan waktu terhadap pengesahan LHP, penerbitan SKSKB dan penerimaan kayu oleh instansi kehutanan. Sebelumnya, meskipun sudah ada batas waktu yang ditetapkan tetapi implementasinya tidak mengikuti tata waktu tersebut. Seringkali pengawas tidak berada ditempat atau terkesan menghindar ketika diperlukan untuk mengesahkan/menerbitkan dokumen. Atau sebaliknya pihak pemegang izin yang lambat dalam melaporkan atau mengusulkan pengesahan/penerbitan dokumen. Akibatnya pungutan PSDH–DR dan pemiliran kayu menjadi lambat.
b) minimalisasi birokrasi
Pembuat LHP, Penerbit SKSKB, Penerbit FA–KB, Penerima KB ditetapkan oleh pemegang izin secara self assessment tanpa melalui Dishut Provinsi dan rekomendasi BP2HP. Sedangkan P2LHP, P2SKSKB, dan P3KB diangkat oleh Kepala Dishut Provinsi tanpa rekomendasi teknis dari BP2HP. Masa berlaku pengangkatan sebagai petugas PUHH dan nomor register menyesuaikan kartu GANISPHPL–PKB–R atau WAS-GANISPHPL–PKB–R. Sebelumnya, pengangkatan petugas PUHH cukup memakan waktu yang lama karena rantai birokrasi yang panjang. Penggunaan nomor register yang berbeda 10
10
Nomor register sebagai petugas PUHH tidak sama dengan nomor register kualifikasi GANISPHPL–PKB–R/WAS–GANISPHPL–PKB–R
26
menyebabkan petugas PUHH mempunyai nomor register ganda dan masa waktu sebagai petugas PUHH hanya berlaku selama satu tahun. Dengan mengikuti masa berlaku kartu maka dimungkinkan menjadi tiga tahun.
c) penegasan sanksi PUHH
bagi pemegang izin akan dikenakan sanksi administratif jika melakukan pelanggaran PUHH. Untuk P2LHP/P2SKSKB/P3KB yang tidak melaksanakan tugas sesuai tata waktu secara akumulatif sebanyak tiga kali akan diberhentikan sebagai petugas PUHH. Pembuat LHP/P2LHP yang mengesahkan LHP sebelum lunas PSDH–DR periode sebelumnya akan dicabut kartu GANISPHPL–PKB–R/WAS-GANISPHPL–PKB–Rnya. Sebelumnya, kriteria pelanggaran PUHH belum diatur secara tegas.
d) optimalisasi penerimaan negara
kayu yang sudah diukur dan dicatat di buku ukur wajib di LHP–kan pada periode yang sama. Sebelumnya, kayu yang sudah diukur tidak langsung dimasukkan ke dalam LHP pada periode atau bulan yang sama namun pada periode selanjutnya atau ketika akan dimilirkan saja. Akibatnya pungutan PSDH–DR menjadi tidak optimal karena ada beberapa kondisi kayu yang sudah rusak atau lapuk sehingga tidak jadi dimasukkan ke dalam LHP. e) pemanfaatan teknologi informasi
pemberlakuan SI–PUHH online wajib bagi seluruh IUPHHK–HA dan input data dilakukan oleh petugas PUHH. Sebelumnya, SI–PUHH online hanya diwajibkan bagi pemegang izin dengan AAC minimal 60 000 m3/tahun dan dapat dilakukan oleh operator yang tidak berkualifikasi.
Perombakan kebijakan PUHH dan fungsi GANISPHPL–PKB–R dan WAS– GANISPHPL–PKB–R mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan, bahkan dari pejabat tinggi kalangan Kemenhut sendiri11. Menurut mereka hal ini akan melemahkan bahkan menghilangkan fungsi kontrol pemerintah. Seharusnya yang dipertegas adalah pemberian sanksi terhadap GANISPHPL–PKB–R dan WAS– GANISPHPL–PKB–R tersebut. Sementara APHI dan IUPHHK–HA menyambut baik perubahan ini. Dengan adanya fungsi WAS–GANISPHPL–PKB–R yang bisa digantikan oleh GANISPHPL–PKB–R akan berdampak pada efisiensi sumber daya yang harus dikeluarkan oleh IUPHHK–HA. Namun mereka merasa harus lebih berhati-hati karena kebenaran hasil pengukuran menjadi tanggungjawab GANISPHPL–PKB–R dan perusahaannya.
Periode 2016–sekarang
Hanya berselang satu tahun Permenhut nomor P.41/Menhut-II/2014 kembali dirubah dengan Permenlhk nomor P.43/Menlhk-Setjen/2015. Pemberian peran yang lebih besar kepada pelaku usaha melalui self assessment merupakan implikasi dari kewajiban SI–PUHH online. Dengan terbitnya peraturan ini maka peran WAS–GANISPHPL–PKB–R dihapuskan. Seluruh rangkaian kegiatan PUHH dilakukan dengan menggunakan sistim elektronik. Belum banyak informasi yang dapat diperoleh pada periode ini mengingat masa berlaku efektif baru dimulai pada 1 Januari 2016.
11
27 Paparan tersebut di atas memperlihatkan bahwa perubahan kebijakan disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung pada saat itu. Namun secara substantif dapat dikatakan hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan. Penyediaan informasi perolehan kayu bulat tetap diserahkan kepada agent
sehingga pada dasarnya principal tetap tidak mengetahui secara pasti perolehan kayu bulat yang sebenarnya. Perubahan tersebut juga turut dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu narasi, aktor/jaringan, dan kepentingan yang menentukan seberapa besar ruang yang tersedia untuk memungkinkan terjadinya perubahan kebijakan (IDS 2006). Secara ringkas narasi, aktor, dan kepentingan dalam setiap perubahan kebijakan tenaga teknis dalam kegiatan PUHH disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Narasi, aktor, dan kepentingan dalam setiap perubahan kebijakan tenaga teknis dalam kegiatan PUHH
Periode Narasi Aktor Kepentingan 1990–1998 Pemungutan terhadap hak-hak
negara akan maksimal jika pengukuran dilakukan oleh tenaga teknis yang berkualifikasi. Agar pemungutan menjadi lebih mudah dan cepat maka tata usaha kayu dilakukan oleh pemegang izin (self assessment)
Pemerintah pusat Terpungutnya IHH–DR dengan cepat untuk pembangunan nasional
Peningkatan perekonomian nasional akan cepat dicapai jika pemanfaatan hasil hutan dilakukan secara maksimal
Pemegang izin Memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat
1999–2002 Pungutan terhadap kewajiban PSDH–DR akan terpenuhi jika peran pemerintah dalam kegiatan TUK lebih besar (official assessment)
Dephut, Pemda Pembagian dana perimbangan dan kewenangan
Harga jual akan menururn (kualitas kayu berkurang akibat ditumpuk terlalu lama) jika kayu tidak segera dipasarkan.
Pemegang IUPHHK–HA
Pemberian porsi kewenangan yang lebih besar kepada
official mengurangi kemudahan pengangkutan kayu untuk dijual 2003–2005 Hak-hak negara akan terlindungi
jika pemerintah memegang kendali terhadap PUHH
Kemenhut, Pemda Kepastian hasil hutan dari izin yang sah dan kelestarian