Perkembangan Penyuluhan Pertanian di Daerah Penelitian
Perkembangan penyuluhan pertanian yang ingin diteliti di daerah penelitian adalah perkembangan populasi jumlah penyuluh yang ada, jumlah Kelompok Tani, jumlah anggota Kelompok Tani, dan Program Penyuluhan Pertanian yang disampaikan selama 5 tahun terakhir di daerah penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 8 sampai dengan Tabel 11.
Penyuluh pertanian bertugas dalam satu wilayah kerja penyuluhan pertanian yang bertanggung jawab terhadap beberapa Kelompok Tani. Penyuluh berperan sebagai fasilitator dalam menyampaikan Program Penyuluhan Pertanian kepada petani dan membantu petani untuk belajar dari proses-proses di lapangan. Penyuluh hanya dapat menganjurkan dan tidak dapat memaksa petani untuk mengikuti setiap Program Penyuluhan Pertanian yang disampaikan penyuluh. Penyuluh dapat membantu petani untuk mengambil keputusan yang bermanfaat yang mungkin diambil oleh penyuluh seandainya penyuluh tersebut berada pada posisi yang sama dengan petani, tetapi setiap keputusan yang diambil oleh petani harus berdasarkan pilihan petani itu sendiri. Seorang penyuluh pertanian harus membina hubungan yang baik dengan petani yang akan berguna bagi perkembangan penyuluhan pertanian. Berikut adalah data perkembangan populasi jumlah penyuluh yang ada di daerah penelitian tahun 2005-2009.
Tabel 8. Perkembangan Jumlah Penyuluh Pertanian di Daerah Penelitian Tahun 2005-2009.
Tahun Jumlah Penyuluh Pertanian % Perkembangan 2005 1 - 2006 1 0 2007 1 0 2008 1 0 2009 1 0 Jumlah 0 Rataan 0
Sumber: PPL Desa Paya Bakung
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa perkembangan jumlah penyuluh pertanian di daerah penelitian tahun 2005-2010 tidak mengalami perkembangan. Jumlah penyuluh yang bertugas di daerah penelitian adalah 1 orang selama lima tahun terakhir, karena tidak ada penambahan tenaga penyuluh di daerah penelitian.
Kelompok tani sebagai wadah anggota kelompok untuk berkembang, berinteraksi dengan para anggotanya dan mengambil keputusan dalam proses musyawarah. Salah satu faktor penting untuk terwujudnya kelompok tani yang efektif adalah berjalannya kepemimpinan dari pengurus kelompok yang berperan dalam mengurusi kerja kelompok. Berikut adalah data jumlah Kelompok Tani di daerah penelitian tahun 2005-2009.
Tabel 9. Perkembangan Jumlah Kelompok Tani di Daerah Penelitian Tahun 2005-2009.
Tahun Jumlah Kelompok Tani % Perkembangan
2005 15 - 2006 15 0 2007 16 +6,67 2008 16 0 2009 16 0 Jumlah +6,67 Rataan +1,67
Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa perkembangan jumlah Kelompok Tani di daerah penelitian selama tahun 2005-2009 hanya bertambah pada tahun 2007 saja. Hal ini disebabkan karena pengembangan Kelompok Tani difokuskan pada pengintensifan kembali Kelompok Tani yang sudah ada.
Tugas dan tanggung jawab anggota Kelompok Tani adalah bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan usaha tani, wajib mengikuti dan melaksanakan petunjuk pengurus Kelompok Tani dan penyuluh serta kesepakatan yang berlaku, wajib bekerja sama dan akrab antar sesama anggota, pengurus maupun dengan penyuluh serta hadir pada pertemuan berkala dan aktif memberikan masukan, saran dan pendapat demi berhasilnya kegiatan usahatani kelompok. Berikut adalah data jumlah petani anggota yang tergabung dalam Kelompok Tani di daerah penelitian.
Tabel 10. Perkembangan Jumlah Anggota Kelompok Tani di Daerah Penelitian Tahun 2005-2009.
Tahun Jumlah Anggota Kelompok Tani % Perkembangan 2005 730 - 2006 745 +2,05 2007 753 +1,07 2008 839 +11,42 2009 1099 +30,99 Jumlah +45,53 Rataan +11,38
Sumber: PPL Desa Paya Bakung
Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa perkembangan jumlah anggota Kelompok Tani di daerah penelitian selama tahun 2005-2009 mengalami kenaikan. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa perkembangan jumlah anggota Kelompok Tani mengalami kenaikan 11,38%. Rata-rata pertambahan jumlah anggota kelompok Tani di Desa tersebut adalah cukup besar. Hal ini disebabkan karena adanya kesadaran petani untuk bergabung dengan kelompok
agar mereka dapat memperoleh kemudahan dan keuntungan dalam menerima bantuan dari pemerintah.
Data perkembangan program penyuluhan pertanian yang di sampaikan di daerah penelitian selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Perkembangan Program Penyuluhan Pertanian di Daerah Penelitian Tahun 2005-2009.
Tahun Program Penyuluhan Pertanian
2005/2006 Revitalisasi Penyuluhan Pertanian 2006/2007 Revitalisasi Penyuluhan Pertanian 2007/2008 Pembentukan Gapoktan, Program SL PTT 2008/2009 SLI (Sekolah Lapang Iklim), Program SL PTT
2009 Program SL PTT
Sumber: PPL Desa Paya Bakung
Revitalisasi penyuluhan pertanian adalah program penataan kelembagaan penyuluhan pertanian , peningkatan kuantitas dan kualitas penyuluh pertanian, peningkatan kelembagaan dan kepemimpinan petani, peningkatan sistem penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan pengembangan kerja sama antara sistem penyuluhan pertanian dan agribisnis. Pembentukan Gapoktan adalah pembentukan gabungan anggota kelompok tani. Sekolah Lapang Iklim (SLI) adalah sarana belajar bersama untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam hal budidaya tanaman pangan dan hortikultura kaitannya dengan keadaan iklim setempat. SL PTT merupakan program dari Departemen Pertanian yang diberikan kepada petani yang bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi padi sawah.
Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat bahwa terdapat perkembangan program penyuluhan pertanian di daerah penelitian selama lima tahun terakhir, karena daerah penelitian mendapat program penyuluhan pertanian yang baru setiap tahun.
Sikap Petani Padi Sawah Terhadap Program Penyuluhan Pertanian SL PTT Sikap merupakan suatu respon dalam wujud setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek. Sikap petani padi sawah terhadap Program Penyuluhan Pertanian SL PTT yang disampaikan Penyuluh Pertanian diketahui dengan melihat jawaban jawaban petani responden terhadap kuesioner yang berisi pernyataan pernyataan yang diberikan.
Sikap dalam hal ini merupakan suatu respon dalam wujud suka atau tidak suka terhadap objek. Sikap petani bisa positif dan negatif. Untuk pernyataan jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2, Ragu ragu (R) diberi nilai 3, Setuju (S) diberi nilai 4, dan Sangat Setuju (SS) diberi nilai 5. Dari setiap jawaban pernyataan akan diperoleh distribusi frekuensi responden bagi setiap kategori kemudian secara kumulatif dilihat deviasinya menurut deviasi normal, sehingga diperoleh skor (nilai skala untuk masing-masing kategori jawaban), kemudian skor terhadap masing-masing masing-masing pernyataan dijumlahkan.
Interpretasi terhadap skor masing masing responden dilakukan dengan mengubah skor tersebut kedalam skor standart, dimana dalam hal ini digunakan model Skala Likert (Skor T) dengan mengubah skor pada skala sikap menjadi skor T menyebabkan skor ini mengikuti distribusi skor yang mempunyai mean sebesar T = 50 dan standart deviasi S = 8,12 di kelompok tani lama dan S = 9,84 di kelompok tani baru, sehingga apabila skor standart > 50 berarti mempunyai sikap yang positif dan jika skor standart ≤ 50 berarti mempunyai sikap negatif. Sikap petani terhadap program penyuluhan pertanian SL PTT di Kelompok Tani lama dan di Kelompok Tani baru dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Sikap Petani Terhadap Program Penyuluhan Pertanian SL PTT.
No.Uraian Kelompok Tani Lama Kelompok Tani Baru Rata-Rata (N=30) (N=30) (N=60)
Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase (%) (%) (%) 1. Positif 16 53,33 15 50 31 51,67 2. Negatif 14 46,67 15 50 29 48,34 Jumlah 30 100 30 100 60 100
Sumber: Data diolah dari lampiran 5 a dan 5 b
Berdasarkan Tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 petani sampel di Kelompok Tani lama terdapat 16 orang (53,33%) petani yang menyatakan sikap positif dan 14 orang (46,67%) petani yang menyatakan sikap negatif. Hal ini menyatakan bahwa sikap petani terhadap program yang dilakukan oleh penyuluh pertanian adalah baik, karena positif menurut petani sampel dan sesuai dengan kebutuhan petani dalam mengelola usahatani.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap petani di Kelompok Tani lama terhadap pelaksanaan program penyuluhan pertanian SL PTT adalah positif di daerah penelitian. Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan sikap petani yang positif terhadap pelaksanaan program penyuluhan pertanian SL PTT di daerah penelitian dapat diterima.
Dengan adanya pelaksanaan program penyuluhan pertanian SL PTT dapat membuat PPL lebih mengetahui masalah-masalah yang dihadapi petani dalam berusahatani serta hubungan antara petani dengan PPL semakin dekat.
Berdasarkan Tabel 12 di atas dapat dilihat bahwa dari 30 petani sampel di Kelompok Tani baru terdapat 15 orang (50%) petani yang menyatakan sikap positif dan 15 orang (50%) petani yang menyatakan sikap negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sikap petani terhadap program yang dilakukan oleh penyuluh
pertanian sebagian berdampak positif dan sebagian lagi berdampak negatif di daerah penelitian.
Hal ini disebabkan sebagian besar petani sudah memiliki pengetahuan yang cukup banyak dalam mengelola usahatani padi sawah mereka, sehingga tidak seluruhnya anjuran dari penyuluh pertanian dilaksanakan oleh petani karena kebanyakan petani lebih memilih menggunakan cara-cara yang lebih mudah dan cepat dalam mengelola usahatani padi sawah. Sebenarnya penyuluh sudah melakukan upaya untuk merubah sikap petani tetapi petani susah untuk mengikuti program yang diberikan oleh penyuluh karena sikap petani juga dipengaruhi oleh kebiasaan petani dan kondisi lingkungan sosial. Seperti dalam mengendalikan hama padi sawah, petani lebih memilih menggunakan pestisida yang lama kelamaan dapat merusak kelestarian alam dan hasil padi daripada pengendalian hama terpadu. Usaha yang dapat dilakukan penyuluh agar petani mau melaksanakan program SL PTT adalah dengan aktif melakukan kunjungan ke lahan-lahan petani sebanyak dua minggu sekali ke setiap Kelompok Tani dan membantu petani apabila petani menghadapi masalah dalam penerapan program SL PTT.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa sikap petani di Kelompok Tani baru terhadap pelaksanaan program penyuluhan pertanian SL PTT adalah negatif di daerah penelitian. Dengan demikian hipotesis 3 yang menyatakan sikap petani negatif terhadap pelaksanaan program penyuluhan pertanian SL PTT di daerah penelitian dapat diterima.
Secara umum total sikap petani sampel dari seluruh anggota Kelompok Tani yang menyatakan sikap positif terhadap program penyuluhan pertanian SL
PTT sebanyak 31 orang (51,67) dan yang menyatakan sikap negatif sebayak 29 orang (48,34).
Pengaruh Karakteristik Petani Anggota Kelompok Tani Terhadap Sikap Petani Pada Program Penyuluhan Pertanian SL PTT
Analisis statistik regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh karakteristik petani (umur, tingkat pendidikan, lama bertani, dan luas lahan) terhadap sikap petani pada program penyuluhan pertanian SL PTT di Kelompok Tani yang telah lama terbentuk dan di Kelompok Tani yang telah baru terbentuk. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 13 dan 14.
Kelompok Tani Lama
Tabel 13: Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Karakteristik Petani Anggota Kelompok Tani Lama Terhadap Sikap Petani. Variabel Koefisien Regresi t-Hitung Signifikansi (Constant) Umur Pendidikan Lama bertani Luas lahan 36.763 -0.035 1.107 0.109 3.162 2.478 -0.139 1.379 0.261 0.883 0.020 0.891 0.180 0.796 0.385 R = 0.328a R. Square = 0.107 F-hitung = 0.751 F-tabel = 2.78 0.567a T-tabel = 2.060
Sumber: Data diolah dari lampiran 7 a
Berdasarkan Tabel 13 hasil analisis regresi linear berganda dapat ditulis persamaan berikut:
Y = 36,763-0,035X1+1,107X2 + 0,109X3+3,162X4
Berdasarkan data pada Tabel 14 dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Nilai R Square (R2) = 0,107 ini berarti bahwa 10,7% variabel dependent (sikap petani) dapat di jelaskan oleh variabel independent (umur, tingkat pendidikan,
lama bertani dan luas lahan) sedangkan sisanya 89,30% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini.
2. Nilai F-hitung = 0,751 < F-tabel = 2,78, ini menunjukkan bahwa secara serempak ke-empat variabel karakteristik petani (umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan) tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani pada program penyuluhan pertanian SL PTT : Hama Terpadu di Kelompok Tani lama (Ho diterima dan Hi ditolak)
3. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda secara parsial diperoleh : a. Variabel X1 yaitu umur memiliki nilai t-hitung = -0,139 < t-tabel = 2,060
ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur petani anggota di Kelompok Tani lama tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Kartasapoetra, 1991) yang menyatakan bahwa petani yang berusia lanjut biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian-pengertian yang dapat mengubah cara berfikir, cara bekerja dan cara hidupnya. Mereka ini bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru. b. Variabel X2 yaitu tingkat pendidikan memiliki nilai hitung = 1,379 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani anggota di Kelompok Tani lama tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Kesuma, 2006) yang menyatakan bahwa tingkat tinggi rendahnya pendidikan petani akan menanamkan sikap menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern. Tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya kurang menyenangi inovasi
sehingga sikap mental untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya ilmu pertanian kurang.
c. Variabel X3 yaitu lama bertani memiliki nilai t-hitung = 0,261 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lama bertani petani anggota di Kelompok Tani lama tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Soekartawi, 1988) yang menyatakan bahwa petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih mudah untuk menerapkan anjuran penyuluh daripada petani pemula. Hal ini dikarenakan pengalaman yang lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.
d. Variabel X4 yaitu luas lahan memiliki nilai t-hitung = 0,883 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa luas lahan petani anggota di Kelompok Tani lama tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Soekartawi, 1993) yang menyatakan bahwa semakin luas lahan yang dimiliki petani akan mengurangi keengganan sikap petani pada resiko atau dengan kata lain petani semakin berani menanggung resiko. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara serempak dan secara parsial semua variabel bebas yaitu umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap petani padi sawah di Kelompok Tani lama, oleh karena itu hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara karakteristik petani (umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan) terhadap sikap petani tidak diterima.
Kelompok Tani Baru
Tabel 14: Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Karakteristik Petani Anggota Kelompok Tani Baru Terhadap Sikap Petani. Variabel Koefisien Regresi t-Hitung Signifikansi
(Constant) 23,528 1,596 0,123 Umur 0,484 2,009 0,055 Pendidikan 1,352 1,310 0,202 Lama bertani -0,361 -1,011 0,321 Luas lahan -4,235 -0,903 0,375 R = 0,501a R. Square = 0,251 F-hitung = 2,090 F-tabel = 2,78 0,112a T-tabel = 2,060
Sumber: Data diolah dari lampiran 7 b
Berdasarkan Tabel 14 hasil analisis regresi linear berganda dapat ditulis persamaan berikut:
Y = 23,528 + 0,484X1 + 1,352X2 - 0,361X3 - 4,235X4
Berdasarkan data pada Tabel 15 dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Nilai R Square (R2) = 0,251 yang berarti bahwa 25,1% variabel dependent (sikap petani) dapat di jelaskan oleh variabel independent (umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan) sedangkan sisanya 74,9% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini.
2. Nilai F-hitung = 2,090 < F-tabel = 2,78, ini menunjukkan bahwa secara serempak ke-empat variabel karakteristik petani (umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan) tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani pada program penyuluhan pertanian SL PTT : Hama Terpadu di Kelompok Tani baru (Ho diterima dan Hi ditolak).
a. Variabel X1 yaitu umur memiliki nilai t-hitung = 2,009 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur petani anggota di kelompok tani baru tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Kartasapoetra, 1991) yang menyatakan bahwa petani yang berusia lanjut biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian-pengertian yang dapat mengubah cara berfikir, cara bekerja dan cara hidupnya. Mereka ini bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru. b. Variabel X2 yaitu tingkat pendidikan memiliki nilai hitung = 1,310 <
t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani anggota di kelompok tani baru tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Kesuma, 2006) yang menyatakan bahwa tingkat tinggi rendahnya pendidikan petani akan menanamkan sikap menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern. Tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya kurang menyenangi inovasi sehingga sikap mental untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya ilmu pertanian kurang.
c. Variabel X3 yaitu lama bertani memiliki nilai t-hitung = -1,011 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lama bertani petani anggota di kelompok tani baru tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Soekartawi, 1988) yang menyatakan bahwa petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih mudah untuk menerapkan anjuran
penyuluh daripada petani pemula. Hal ini dikarenakan pengalaman yang lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.
d. Variabel X4 yaitu luas lahan memiliki nilai t-hitung = -0,903 < t-tabel = 2,060 ini berarti bahwa Hi ditolak dan Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa luas lahan petani anggota di kelompok tani baru tidak berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Soekartawi, 1993) yang menyatakan bahwa semakin luas lahan yang dimiliki petani akan mengurangi keengganan sikap petani pada resiko atau dengan kata lain petani semakin berani menanggung resiko. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa secara serempak dan secara parsial semua variabel bebas yaitu umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap petani padi sawah di Kelompok Tani baru, oleh karena itu hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara karakteristik petani (umur, tingkat pendidikan, lama bertani dan luas lahan) terhadap sikap petani tidak diterima.
Perbedaan Sikap Anggota Kelompok Tani Terhadap Program Penyuluhan Pertanian SL PTT : Hama Terpadu di Daerah Penelitian
Berdasarkan metode skoring sikap petani di Kelompok Tani lama dan di Kelompok Tani baru berada pada skala yang berbeda namun apabila diuji berdasarkan skor atau bobot nilai yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan uji statistik U Mann Whitney Test maka akan diperoleh hasil yang tidak berbeda antara dua sampel tersebut.
Tabel 15. Hasil Uji U Mann Whitney Test Antara Dua Jawaban Sampel di kelompok tani lama dan kelompok tani baru.
Test Statistic Sikap Petani
Mann-Whitney U 435,000
Z -0,256 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,798
a. Grouping Variabel : Kelompok
Sumber: Data diolah dari lampiran 8
Uji statistic U Mann Whitney digunakan untuk menguji hipotesis mengenai ada tidaknya perbedaan antara sikap petani anggota di Kelompok Tani lama dengan sikap petani anggota di Kelompok Tani baru. Berdasarkan uji statistic U Mann Whitney pada Tabel 15 dihasilkan nilai probabilitas 0,798>0,05 sehingga menerima Ho dan menolak Hi yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara sikap petani terhadap program penyuluhan pertanian SL PTT : Hama Terpadu antara dua sampel kelompok di daerah penelitian.