Prasarana Pengembangbiakan
Perlengkapan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan budidaya jangkrik terdiri dari kotak, tempat persembunyian, tempat bertelur dan pakan. Selama pemeliharaan, peternak menggunakan kotak sebagai kandang jangkrik, dengan cara membuat sendiri atau membeli. Bahan yang diperlukan untuk membuat kotak berupa tripleks, kayu dan paku. Ukuran kotak disesuaikan dengan kebutuhan peternak, modal dan ruang yang tersedia. Menurut Paimin et al.(1999), kotak berukuran 50-100 x 50-100cm dengan tinggi 30cm. Untuk menghindari adanya serangan binatang pengganggu seperti semut, kecoa, laba-laba atau cecak, kotak perlu diberi kaki.
Setiap kaki tersebut dialasi wadah yang berisi oli atau minyak tanah.
Peternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru menggunakan kotak dengan ukuran rata-rata: panjang 90cm, lebar 60cm dan tinggi 30cm. Kotak tersebut dapat menampung jangkrik kurang lebih sebanyak 5000 ekor. Dua orang peternak juga menggunakan kotak yang lebih besar dengan ukuran 240 x 60 x 40cm dengan kapasitas tampung kurang lebih 10.000 ekor jangkrik.
Tempat Sembunyi. Tempat persembunyian untuk jangkrik diperlukan di dalam kotak karena jangkrik merupakan hewan yang beraktivitas pada malam hari sehingga memerlukan tempat persembunyian pada siang hari atau saat ada musuhnya. Tempat persembunyian juga diperlukan ketika musim kawin. Bentuknya berupa dedaunan kering atau bambu, antara lain daun jati, daun tebu, daun pisang, batang kacang panjang atau kulit tongkol yang sudah dikeringkan (Paimin et al., 1999). Peternak di lokasi penelitian memakai daun pisang kering yang digulung dengan koran sebagai tempat persembunyian jangkrik atau yang disebut dengan klaras. Masing-masing kotak diisi dengan tiga sampai dengan enam buah klaras dan ditempatkan sejajar dalam kotak.
Tempat Bertelur. Untuk peletakan telur, digunakan media peneluran yang harus lembab supaya telur jangkrik dapat terjaga kelembabannya dan tidak kering. Ada dua media peneluran yang sering digunakan, yaitu media pasir dan media kain. Pasir
yang digunakan harus halus, tidak ada batu-batuannya dan bersih dari kotoran. Hal tersebut dapat diperoleh melalui pengayakan dengan ayakan tepung. Banyaknya pasir yang diperlukan sesuai dengan ukuran wadah tempat pasir. Penyebaran pasir dalam wadah harus merata dengan ketebalan 3-4cm. Wadah tempat pasir berupa nampan plastik atau papan triplek. Satu kotak indukan dapat ditaruh dua sampai tiga nampan plastik atau papan triplek.
Seluruh peternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru menggunakan media pasir untuk penelurannya. Untuk wadah pasir, sebagian peternak menggunakan wadah yang terbuat dari plastik dan sebagian lagi menggunakan papan tripleks. Ukuran papan tripleks yang digunakan bervariasi dari 12 x 8cm sampai 40 x 30cm.
Pakan Jangkrik. Pemberian makan jangkrik sebanyak tiga kali sehari. Salah satu peternak memberikan pakan setiap dua jam sekali, dengan cara pemberian pakan yang teratur dapat mengurangi kanibalisme yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang tidak sesuai.
Pakan yang diberikan terdiri dari sayuran dan konsentrat. Sayuran diberikan untuk memenuhi kebutuhan akan makan dan minum. Oleh karena itu, jangkrik tidak perlu diberikan minum secara langsung. Kebutuhan minum jangkrik diperoleh dari sayuran segar. Sayuran yang diberikan oleh peternak berupa daun singkong, daun pepaya dan limbah rumah tangga. Banyaknya pemberian sayuran tergantung dari umur jangkrik. Pada awal penetasan telur, anak jangkrik tidak memerlukan makanan.
Anak jangkrik yang baru menetas akan memakan sisa cairan telurnya. Pada umur dua hari, anak jangkrik mulai memakan sayuran, jumlah sayuran yang diberikan mengikuti pertambahan umurnya. Semakin bertambah umur, kebutuhan makannya semakin bertambah. Peternak akan menambah pakannya bila dirasa kurang. Daun pepaya diberikan ketika jangkrik berumur dua hari sampai umur 20 hari. Mulai umur 20 hari sampai dewasa dan atau panen, jangkrik diberi daun singkong.
Selain sayuran, peternak juga memberikan konsentrat pada jangkrik yang dipelihara. Menurut Paimin (1999), konsentrat sangat baik digunakan untuk mempercepat pertumbuhan jangkrik. Konsentrat yang diberikan peternak berupa konsentrat untuk ayam pedaging. Untuk anak jangkrik, konsentrat yang diberikan
22 memudahkan anak jangkrik mengkonsumsi pakannya. Banyaknya konsentrat yang diberikan dari awal menetas sampai umur lima hari ± 1 gram, umur 5-15 hari sebanyak ± 100 gram, umur 15-20 hari ± 300 gram dan umur 20-28 hari sebanyak ± 700 gram per kotak per hari.
Pembersihan Kotak. Setiap pemberian sayuran baru, sisa sayuran yang lama dikeluarkan, untuk mencegah pembusukkan dan jamur pada sisa sayuran yang lama.
Hal tersebut dapat menimbulkan penyakit pada jangkrik yaitu diare. Peternak membersihkan kotoran yang ada di dalam kotak seminggu sekali tanpa mengeluarkan jangkrik yang ada. Ketika terjadi perpindahan kotak pada saat jangkrik berumur 15 hari dilakukan pembersihan kotak dan penggantian klaras. Pembersihan kotak menggunakan kuas dan kp (sendok dempul). Pencucian kotak dilakukan setelah panen, kotak dicuci bersih dengan deterjen lalu dijemur. Salah satu peternak melakukan penyemprotan anti bakteri pada kotaknya setiap tiga kali panen. Peternak yang memiliki bangunan sendiri melakukan penyemprotan anti bakteri pada bangunan kandangnya, kandang didiamkan selama tiga hari untuk membebaskan kandang dari bakteri.
Karakteristik Reproduksi Jangkrik
Seluruh peternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru menternakkan jangkrik kalung (G. bimaculatus) dengan alasan jangkrik kalung lebih cepat bereproduksi dengan siklus hidup 70 hari.
Indukan. Perbandingan antara jantan dan betina yaitu 1:2, sumber induk berasal dari penetasan telur jangkrik yang dibeli dari pembibit atau indukan. Induk yang berasal dari usaha budidaya diganti minimal satu tahun sekali dengan induk jantan baru dari alam. Peternak yang sudah lama membudidayakan jangkrik tidak mengganti induknya dari alam tapi dari ternak yang dipelihara. Beberapa peternak mengganti induk dengan membeli telur baru dari peternak lain, kemudian ditetaskan.
Jumlah ternak yang disiapkan untuk induk bervariasi, dari 1.000 ekor sampai dengan 3.000 ekor. Satu induk betina dapat menghasilkan telur kurang lebih 250 butir. Induk betina jangkrik dapat bertelur berkali-kali. Rata-rata jangkrik para peternak di Kelurahan Rangkapanjaya Baru bertelur empat sampai tujuh kali. Bila lebih dari tujuh kali, kualitas telur yang dihasilkan menjadi rendah sehingga
menurunkan daya tetas. Menurut Panut (2003), semakin bertambah umur jangkrik, produksi telur yang dihasilkan dari tiap ekor induk juga semakin rendah karena aktivitas bereproduksi induk juga semakin berkurang. Jarak antara peneluran pertama dan yang berikutnya berkisar antara dua sampai empat hari. Induk yang tidak produktif lagi dibuang dan dikubur, digunakan sebagai makanan ikan atau dijual untuk pakan kadal dan hewan melata kepada pemelihara kadal dan hewan melata.
Pengembangbiakan Jangkrik. Pada saat jangkrik berumur 55 hari, dilakukan pemisahan antara jantan dan betina, sehingga perkawinan yang tidak terkontrol dapat dicegah (Agroindonesia, 2005). Jangkrik yang dijadikan sebagai indukan yaitu jangkrik yang sudah keluar sayapnya. Lima hari setelah keluar sayap, induk jantan dan betina mulai dijodohkan dan dibiarkan kawin selama dua sampai tiga hari. Di dalam kotak indukan disediakan media peneluran. Induk mengeluarkan telurnya dengan cara menancapkan ovipositornya ke dalam pasir (Paimin et al., 1999). Pasir yang berisi telur diisi dengan air dan disaring untuk mendapatkan telur jangkrik.
Kemudian telur tersebut dibersihkan dan ditaruh di kain atau pasir untuk dilembabkan selama lima hari. Selain kain dan pasir, daun juga dapat digunakan untuk melembabkan telur jangkrik. Untuk menjaga kelembaban telur, peternak melakukan penyemprotan pada media tersebut. Penyemprotan dilakukan sebanyak tiga kali sehari. Setelah lima hari, telur jangkrik akan membengkak dan berwarna kecoklatan di bagian kepalanya. Pada saat itu jangkrik akan disebar di kotak penetasan dengan ukuran 15 x 20cm. Kotak penetasan tersebut akan ditaruh di dalam kotak pembesaran dan dilengkapi dengan klaras. Telur jangkrik akan menetas pada umur 7-8 hari dari pengeluaran telur yang ditandai dengan bergeraknya telur dan operculum mengarah ke atas.
Sejak saat penetasan telur sampai umur 10 hari dilakukan penyemprotan dengan interval dua kali yaitu pada pagi dan sore hari, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kelembaban bayi jangkrik. Jangkrik yang berumur 20 hari keatas tidak memerlukan penyemprotan lagi. Ketika jangkrik berumur 15 hari, jangkrik dari satu kotak pembesaran dibagi menjadi dua kotak pembesaran sampai panen. Hal tersebut dilakukan karena jangkrik sudah mulai besar sehingga kotak menjadi padat dan panas. Jika hal tersebut dibiarkan, maka jangkrik akan banyak yang mati. Kematian
24 cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin, kotak terlalu lembab atau basah, kandang kurang bersih, kutu dari konsentrat dan kanibalisme.
Pemasaran. Jangkrik dipanen pada umur 20-30 hari, dan dijual sebagai pakan burung. Lebih dari 30 hari, jangkrik dipanen untuk pakan ikan. Jangkrik yang tidak laku dijual, dibuang oleh peternak.
Penjualan jangkrik dihitung per satuan ekor, dengan harga jual berkisar antara Rp. 15-Rp. 30 per ekor. Penghitungan jumlah jangkrik masih dilakukan secara manual yaitu menghitung satu per satu jangkrik yang akan dijual. Cara ini memakan waktu yang lama (5-7 jam) sehingga kurang efisien.
Peternak menjual jangkrik kepada pedagang pengecer (70%), sisanya dijual kepada pedagang pengumpul (30%) dan konsumen langsung. Dua orang peternak menjual jangkriknya khusus kepada pedagang pengumpul, tanpa harus mengantarkan ke tempat pedagang pengumpul, dengan demikian mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk transportasi. Kesepakatan transaksi antara peternak dengan pedagang yaitu peternak akan memberikan tambahan jangkrik sebagai pengganti resiko kematian di perjalanan. Penambahan jangkrik yang diberikan peternak antara 50-100 ekor setiap pembelian 1000 ekor jangkrik atau 10 ekor setiap pembelian jangkrik sebanyak 100 ekor. Penjualan jangkriknya kepada pedagang pengecer adalah dengan cara mengantar langsung kepada pedagang pengecer dan pembayaran dilakukan secara tunai.
Wilayah pemasaran ternak jangkrik dari Kelurahan Rangkapanjaya Baru tersebar di daerah Depok, Jakarta Selatan, Cinere, Ciputat, Bogor dan Parung.
Jangkrik dipasarkan dengan menggunakan karung. Satu karung dapat diisi dengan 2000-3000 ekor, di dalam karung juga diberikan klaras untuk tempat sembunyi jangkrik dan konsentrat untuk makanan jangkrik selama perjalanan.
Karakteristik Masyarakat
Karakteristik masyarakat yang diamati terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan. Kisaran umur responden masyarakat antara 29-39 tahun dengan rata-rata 33,77±10,40 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah perempuan sebanyak 66,667% dari 30 orang, sedangkan pria sebanyak 33,333%. Rata-rata responden yang mempunyai pekerjaan sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) sebanyak
53,333%, karyawan swasta (6,667%), guru (6,667%), pelajar (10%) dan wiraswasta (23,333%). Tingkat pendidikan minimal SLTP sebanyak 76,667%, tamat SD sebanyak 20%, sedangkan yang tidak tamat SD sebesar 3,333%.
Karakteristik Peternak
Karakteristik peternak yang diamati pada penelitian ini antara lain umur, pendidikan dan jumlah anggota keluarga. Semua (100%) peternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru adalah laki-laki yang berjumlah enam orang.
Umur peternak jangkrik berkisar antara 23-56 tahun dengan rata-rata umur sebesar 36,17±10,91 tahun, usia yang masih produktif untuk mengelola usaha atau menjalankan usahanya.
Tingkat pendidikan yang pernah diikuti oleh peternak berupa pendidikan formal. Tingkat pendidikan peternak minimal SLTP sebanyak 66,667%, sedangkan peternak yang tamat SD dan tidak tamat SD masing-masing sebanyak 16,667%.
Beberapa alasan yang melatar belakangi peternak untuk beternak jangkrik adalah: 1) kesulitan mencari kerja, 2) beternak jangkrik tidak membutuhkan keahlian khusus selain ketekunan, 3) cocok untuk pensiunan, 4) modal tidak banyak, 5) dapat dikerjakan di rumah, 6) hasilnya lebih cepat diperoleh, 7) prospek usaha ternak jangkrik sebagai sumber pendapatan, 8) pemeliharaan mudah. Pengalaman beternak dan lama usaha jangkrik berkisar antara 1,5 tahun sampai 9 tahun dengan rata-rata 4,58±2,76 tahun.
Karakteristik Usaha
Beberapa peternak mempunyai usaha lain selain beternak jangkrik. Peternak yang menjadikan usaha ternak jangkrik sebagai usaha utama mereka sebesar 83,33%, dari persentase tersebut, 33,333% mengusahakan jangkrik sebagai usaha tunggal.
Peternak yang menjadikan usaha ternak jangkrik sebagai usaha sampingan sebesar 16,667%, karena mempunyai usaha lain yang penghasilannya lebih besar dari usaha ternak jangkrik.
Jumlah pemilikan kotak tidak berhubungan dengan lamanya beternak karena peternak yang telah lama beternak memiliki kotak yang lebih sedikit dari peternak yang baru 1,5 tahun beternak jangkrik. Hal tersebut dikarenakan modal yang terbatas
26 peternak kepemilikan kotak yang banyak tidak menjamin kualitas jangkrik yang dihasilkannya baik.
Banyaknya kotak yang dimiliki oleh peternak bervariasi, mulai dari 32 kotak sampai 300 kotak dengan rata-rata kepemilikan kotak 92,00±102,80 kotak. Skala pemeliharaan jangkrik per periode berkisar antara 32 kotak sampai 100 kotak. Rata-rata skala pemeliharaan jangkrik para peternak yaitu 58,67±24,39 kotak. Salah satu peternak melakukan pemeliharaan dan pembesaran jangkrik dengan cara bertahap, dimana setiap tahapnya berskala 100 kotak. Peternak tersebut mempunyai modal tambahan untuk menambah jumlah kotaknya. Ada beberapa peternak yang mengurangi jumlah kotaknya, karena tenaga yang ada tidak sebanding dengan jumlah jangkrik yang dihasilkan.
Potensi Biologi Jangkrik
Jangkrik umumnya hidup di daerah bersuhu antara 20-32oC. Hal ini sesuai dengan keadaan di Kelurahan Rangkapanjaya Baru yang bersuhu 32oC, dengan demikian kondisi wilayah mendukung pertumbuhan jangkrik.
Jenis jangkrik yang dibudidayakan oleh para peternak di Kelurahan Rangkapanjaya Baru adalah jangkrik kalung. Menurut Widiyaningrum (2001), berdasarkan karakteristik biologi dan potensi jangkrik, jenis jangkrik yang cocok dibudidayakan dan dapat memberikan keuntungan saat ini adalah G. bimaculatus (jangkrik kalung) atau G. mitratus (jangkrik cliring) karena masing-masing mempunyai beberapa keunggulan. G. bimaculatus unggul dalam hal (1) Laju pertumbuhan cepat; (2) Konversi pakan rendah; (3) Bobot badan umur 50 hari tertinggi.
Siklus hidup jangkrik sangat singkat yaitu kurang lebih 70 hari atau dua bulan, sehingga dapat dipanen dengan cepat. Setiap tahunnya peternak melakukan panen sebanyak enam kali. Satu orang peternak melakukan pemeliharaan dan pembesaran dengan cara bertahap. Ketika anak jangkrik dari induk pertama telah berumur 15 hari, peternak membudidayakan induk baru. Peternak tersebut melakukan panen sebanyak 9 kali setiap tahunnya. Panen di lokasi penelitian mulai dilakukan pada saat jangkrik berumur 20 hari.
Lama jangkrik memproduksi telur berkisar antara 14 sampai 21 hari dengan jumlah telur yang dihasilkan berkisar 100-150 hingga 250 butir. Daya tetas telur
untuk jangkrik kalung berdasarkan hasil penelitian Widiyaningrum (2001) adalah sebesar 60,23%. Rata-rata tingkat kematian jangkrik di lokasi penelitian sebesar 20%
per kotak. Rata-rata produksi jangkrik yang dihasilkan oleh peternak sebanyak 231.433 ekor per periode dan 1.526.100 ekor per tahun.
Potensi Sumberdaya dan Lingkungan
Pengembangan suatu usaha perlu didukung dengan sumberdaya dan lingkungan lokasi usaha. Sumberdaya yang memadai dapat dilihat dari ketersediaan bahan baku pada lokasi usaha. Adanya dukungan lingkungan dapat memperlancar kegiatan usaha ternak jangkrik. Dukungan lingkungan berasal dari masyarakat di lokasi usaha ternak yang dapat menerima keberadaan usaha ternak jangkrik di lingkungan mereka.
Ketersediaan Bahan Baku.
Bahan baku utama yang diperlukan dalam beternak jangkrik adalah bibit dan pakan. Bibit jangkrik dapat berupa telur atau induk jangkrik. Kedua jenis bibit tersebut dapat diperoleh dari peternak pembibitan telur jangkrik atau toko pakan yang menjual jangkrik. Induk jangkrik juga dapat diperoleh dari alam, dimana jangkrik alam mempunyai kualitas yang lebih bagus karena memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Peternak di Kelurahan Rangkapanjaya Baru mendapatkan bibit dari sesama peternak yang lebih awal memulai usahanya. Beberapa peternak memperoleh bibit awal berupa telur dari peternak lain di luar Kelurahan Rangkapanjaya Baru. Induk jangkrik yang dihasilkan dari peternakan yang sama perlu dilakukan penggantian induk dari alam. Hal ini untuk mencegah induk manghasilkan keturunan yang abnormal. Penggantian induk biasanya dilakukan peternak setiap setahun sekali tetapi peternak belum melakukan penggantian induk pada tahun ini.
Bahan pakan berupa sayuran (daun singkong dan daun pepaya) dapat diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar rumah. Lingkungan Kelurahan Rangkapanjaya Baru terdapat banyak ladang (± 42 Ha) dan lahan kosong (± 6,375 Ha) yang ditanami singkong dan pepaya. Peternak memanfaatkan sayuran tersebut untuk pakan jangkrik mereka. Beberapa peternak khusus membeli daun pepaya atau daun singkong untuk pakan jangkrik dari petani supaya mendapatkan harga yang
28 murah. Salah satu peternak memberikan pakan jangkrik berupa limbah rumah tangga.
Dukungan Masyarakat terhadap Usaha Ternak Jangkrik
Hasil wawancara dengan masyarakat, keberadaan usaha ternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru dinilai sangat bagus (23,333%). Menurut mereka dengan adanya usaha ternak jangkrik di daerah mereka dapat mengurangi pengangguran yang ada dan penghasilan yang didapat cukup lumayan. Masyarakat yang menyatakan keberadaan usaha ternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru cukup bagus sekitar 76,667%. Alasan mereka tidak berbeda jauh dengan responden yang menyatakan keberadaan usaha ternak jangkrik sangat bagus. Mereka juga berpendapat bahwa usaha ternak jangkrik tersebut dapat berkembang baik dan pemeliharaannya mudah serta permintaan jangkriknya banyak.
Pengetahuan masyarakat mengenai kegunaan jangkrik adalah sebagai makanan burung dan ikan. Selain menjawab jangkrik sebagai makanan burung dan ikan, dua orang (6,667%) juga mengatakan jangkrik dapat digunakan untuk kosmetik tetapi mereka kurang mengetahui lebih lanjut mengenai informasi tersebut.
Dampak lingkungan negatif yang dirasakan dengan adanya usaha ternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya baru hampir tidak ada. Dua orang (6,667%) menyatakan dampak lingkungan yang mereka rasakan, lingkungan menjadi lebih ramai dan berisik tetapi tidak mengganggu. Masyarakat disekitar peternakan jangkrik tidak merasa terganggu dengan adanya usaha ternak jangkrik di daerah mereka karena tidak ada masalah yang ditimbulkan dari usaha ternak jangkrik tersebut.
Sebanyak 96,667% masyarakat merasa tidak terlibat dengan usaha ternak jangkrik tetapi sepuluh orang (34,480%) dari mereka mempunyai anggota keluarga yang ikut bekerja dalam usaha ternak jangkrik tersebut. Sebanyak 30 anggota masyarakat yang diwawancarai, hanya 10% yang sangat tertarik terhadap usaha ternak jangkrik tetapi mereka tidak mempunyai modal yang cukup dan tempat yang memadai untuk beternak jangkrik.
Sebagian besar masyarakat setuju dengan pengembangan usaha ternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru. Hal tersebut dikarenakan ternak jangkrik tidak menimbulkan dampak lingkungan dan tidak mengganggu masyarakat sekitar.
Selain itu, adanya usaha ternak jangkrik membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di daerah tersebut.
Potensi Bisnis
Potensi bisnis dari usaha ternak jangkrik dapat dilihat dari tingkat pendapatan yang diterima oleh peternak dan untuk mengetahuinya diperlukan analisis pendapatan. Selain pendapatan juga perlu diketahui potensi pasar jangkrik yang diperlihatkan oleh besarnya permintaan jangkrik.
Analisis Pendapatan Usaha Ternak Jangkrik
Komponen dari analisis pendapatan terdiri dari penerimaan dan biaya.
Pendapatan peternak jangkrik diperoleh dari selisih penerimaan usaha ternak jangkrik dengan biaya yang dikeluarkan untuk usaha ternak jangkrik.
Penerimaan Penerimaan usaha ternak jangkrik di Kelurahan Rangkapanjaya Baru berasal dari penjualan jangkrik. Rata-rata total penerimaan yang diterima oleh peternak setiap tahunnya sebesar Rp. 33.738.435 dengan rata-rata volume penjualan sebanyak 1.526.100 ekor per peternak per tahunnya. Rata-rata peternak membuang jangkrik yang tidak produktif lagi tetapi ada peternak yang menjual jangkrik afkirnya, padahal jangkrik tersebut masih bisa mendatangkan penerimaan tambahan bagi peternak.
Biaya Usaha Ternak Jangkrik. Pengeluaran merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu komoditi. Biaya total terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap.
Menurut Soekartawi et al. (1986), biaya variabel didefinisikan sebagai pengeluaran yang digunakan untuk tanaman atau ternak tertentu dan jumlahnya berubah kira-kira sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau ternak tersebut.
Biaya variabel usaha ternak jangkrik terdiri dari biaya indukan atau telur, biaya pakan, biaya tenaga kerja, biaya transportasi dan biaya perlengkapan. Perlengkapan yang dibutuhkan terdiri dari karung, pasir, kuas, oli, formalin dan lain-lainnya.
Rincian biaya yang dikeluarkan dalam usaha ternak jangkrik dapat dilihat pada Tabel 2. Besarnya rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan oleh peternak yaitu Rp.
21.615.042. Komponen biaya variabel paling besar berasal dari biaya tenaga kerja
30 dalam satu tahun sebesar Rp.14.600.000 dengan 881,96 HKP. Rata-rata biaya sayuran yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.3.925.000 dengan menggunakan 17.400 Kg sayuran per tahun. Biaya yang dikeluarkan untuk konsentrat rata-rata sebanyak Rp. 2.562.500 per 900 Kg konsentrat setiap tahunnya. Peternak mengeluarkan biaya transportasi rata-rata sebesar Rp. 275.000 dengan menggunakan 140 L bensin dalam satu tahun. Biaya variabel yang tunai dikeluarkan sebesar Rp. 18.522.708 sedangkan biaya variabel yang tidak tunai sebesar Rp. 3.092.333.
Biaya tetap dari usaha ternak jangkrik terdiri dari penyusutan bangunan, penyusutan kotak dan penyusutan peralatan. Peralatan yang digunakan berupa saringan, nampan plastik, semprotan, lakban, lem fox, kaleng bekas dan lain-lainnya.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (Straight Line Method). Nilai penyusutan didapat dari selisih nilai harga barang yang baru dengan nilai sisa dibagi dengan umur ekonomis penggunaan barang tersebut. Setiap tahunnya rata-rata biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh peternak sebesar Rp.
2.285.688 (Tabel 2). Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk bibit adalah sebesar Rp.
30.833 dengan rata-rata jumlah bibit awal yang digunakan 900 ekor jangkrik dan satu ons telur jangkrik.
Bagian terbesar dari biaya tetap yang harus dikeluarkan adalah biaya untuk penyusutan kotak, sedangkan rata-rata biaya penyusutan bangunan tidak terlalu besar. Hal tersebut dikarenakan tidak semua peternak mempunyai bangunan khusus untuk tempat menyimpan kotaknya. Beberapa peternak menyimpan kotaknya didalam rumah mereka. Ruang yang dibutuhkan untuk menyimpan kotak tidak banyak, kotak tersebut dapat disimpan dengan ditumpuk. Sehingga peternak tidak memerlukan bangunan khusus untuk menyimpan kotaknya dan tidak mengeluarkan
Bagian terbesar dari biaya tetap yang harus dikeluarkan adalah biaya untuk penyusutan kotak, sedangkan rata-rata biaya penyusutan bangunan tidak terlalu besar. Hal tersebut dikarenakan tidak semua peternak mempunyai bangunan khusus untuk tempat menyimpan kotaknya. Beberapa peternak menyimpan kotaknya didalam rumah mereka. Ruang yang dibutuhkan untuk menyimpan kotak tidak banyak, kotak tersebut dapat disimpan dengan ditumpuk. Sehingga peternak tidak memerlukan bangunan khusus untuk menyimpan kotaknya dan tidak mengeluarkan