• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Darah Induk Ikan Nila

Total eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit induk ikan tidak berbeda signifikan (P>0,05) antara semua perlakuan. Namun terdapat perbedaan (P<0,05) pada total leukosit dan aktivitas fagositik. Total eritrosit induk ikan berkisar antara 2,03-2,35×106 sel/mm3. Kadar hemoglobin berkisar antara 7,33-8,33 g/dL. Hematokrit induk berkisar antara 30,76-32,78%. Total leukosit perlakuan induk B (14,27×104 sel/mm3) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Aktivitas fagositik perlakuan induk B (69,02%) juga sinifikan lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan lainnya. Gambaran darah induk ikan nila setelah vaksinasi disajikan pada Tabel 2.

9 Tabel 2 Gambaran darah induk ikan nila setelah vaksinasi pada perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B): total eritrosit, total leukosit, hemoglobin (Hb), hematokrit (Hc), dan aktivitas fagositik (AF) Perlakuan ∑ Eritrosit (×106 sel/mm3) ∑ Leukosit (×104 sel/mm3) Hb (g/dL) Hc (%) AF (%) K 2,03±0,27a 7,97±0,86c 7,33±0,81a 30,76±3,45a 24,51±2,02c A 2,11±0,19a 12,03±0,57b 7,47±0,70a 31,43±1,82a 49,75±3,24b B 2,35±0,08a 14,27±0,55a 8,33±0,40a 32,78±1,26a 69,02±1,53a Standar 1-3 (Svobodova & Vyukusova 1991) 2-15 (Svobodova & Vyukusova 1991) 6-10 (Takashima & Hibiya 1995) 28-40 (Moyle & Cech 1988) -

Keterangan: Huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Uji Tukey’s; P<0,05).

Level Antibodi Induk Ikan Nila

Level antibodi induk ikan nila setelah vaksinasi berbeda signifikan pada semua perlakuan. Level antibodi perlakuan induk B (OD: 0,20) signifikan lebih tinggi dari pada perlakuan lainnya. Level antibodi perlakuan induk A (OD: 0,14) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari pada perlakuan induk K (OD: 0,10). Level antibodi induk ikan nila setelah vaksinasi disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Level antibodi induk ikan nila setelah vaksinasi pada perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). Huruf yang berbeda di setiap bar menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

Level Antibodi Telur Ikan Nila

Level antibodi telur dari perlakuan induk B (OD: 0,23) memiliki nilai yang signifikan lebih tinggi dari pada perlakuan lainnya. Level antibodi telur dari induk A (OD: 0,20) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari pada perlakuan induk K (OD: 0,11). Level antibodi telur dari setiap perlakuan induk disajikan pada Gambar 2. c b a 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 K A B A n ti b o di In duk Ika n A b so rb a n si pa da ƛ = 405 nm Perlakuan

10

Gambar 2 Level antibodi telur ikan nila pada pemijahan kedua dari perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). Huruf yang berbeda di setiap bar menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

Level Antibodi Benih Ikan Nila

Pemberian vaksin pada induk ikan berpengaruh signifikan (P<0,05) terhadap level antibodi dari benih yang dihasilkan. Level antibodi benih dari semua perlakuan induk yang divaksin mengalami penurunan dari hari ke-5 hingga hari ke-20. Level antibodi benih dari perlakuan induk B (OD: 0,117-0,196) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan lainnya hingga hari ke-20. Level antibodi benih dari perlakuan induk A (OD: 0,104-0,148) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan benih dari induk K hingga hari ke-15 namun, tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan benih dari induk K (OD: 0,087) pada hari ke-20. Level antibodi benih dari setiap perlakuan induk disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Level antibodi benih ikan nila umur benih 5, 10, 15, dan 20 hari setelah menetas pada pemijahan kedua dari perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). Huruf yang berbeda di setiap bar pada umur benih yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

c b a 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 K A B A n ti b o di T el ur A b so rb a n si pa da ƛ = 405 nm Perlakuan c c c b b b b b a a a a 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 H5 H10 H15 H20 A n ti b o di B en ih A b so rb a n si pa da ƛ = 405 nm

Umur Benih (Hari)

K A B

11 Aktivitas Lisosim Induk Ikan Nila

Aktivitas lisosim perlakuan induk B (291,11 U/mL) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan induk lainnya. Aktivitas lisosim perlakuan induk A (235,67 U/mL) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan induk K (167,78 U/mL). Aktivitas lisosim induk ikan nila setelah vaksinasi disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Aktivitas lisosim induk ikan nila pada perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). setelah vaksinasi. Huruf yang berbeda di setiap bar menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

Aktivitas Lisosim Telur Ikan Nila

Aktivitas lisosim telur perlakuan induk B (151,56 U/mL) berbeda signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari telur perlakuan induk lainnya. Aktivitas lisosim telur perlakuan induk A (93,78 U/mL) tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan telur perlakuan induk K (63,56 U/mL). Aktivitas lisosim telur dari setiap perlakuan induk disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Aktivitas lisosim telur ikan nila pada pemijahan kedua dari perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). Huruf yang berbeda di setiap bar menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

c b a 0 50 100 150 200 250 300 350 K A B A kt iv it a s L is o si m In du k (U /m L ) Perlakuan b b a 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 K A B A kt iv it as L is o si m T el ur (U /m L ) Perlakuan

12

Aktivitas Lisosim Benih Ikan Nila

Aktivitas lisosim benih dari perlakuan induk B memiliki aktivitas lisosim yang signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya hingga hari ke-20 yaitu 100,44-228,71 U/mL. Aktivitas lisosim benih dari perlakuan induk A dan B menurun dihari ke-10 dan kemudian meningkat hingga hari ke-20. Aktivitas lisosim benih dari induk perlakuan A signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan benih dari induk K pada hari ke-5 namun, tidak berbeda signifikan (P>0,05) mulai hari ke-10 hingga hari ke-20. Aktivitas lisosim benih dari induk K dan A berkisar antara 22,78-150,67 U/mL. Aktivitas lisosim benih dari setiap perlakuan induk disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Aktivitas lisosim benih ikan nila umur benih 5, 10, 15, dan 20 hari setelah menetas pada pemijahan kedua dari perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B). Huruf yang berbeda di setiap bar pada umur benih yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Tukey’s P<0,05)

Fekunditas dan Daya Tetas Telur Ikan Nila

Fekunditas telur dari semua induk perlakuan tidak berbeda signifikan (P>0,05). Fekunditas telur dari setiap perlakuan berkisar antara 1.362,67-1.527,33 butir. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan (P<0,05) terhadap daya tetas telur. Daya tetas telur perlakuan induk B (94,52%) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan induk lainnya. Daya tetas telur perlakuan induk A (84,64%) tidak berbeda signifikan dengan perlakuan induk K (73,72%). Fekunditas dan daya tetas telur dari setiap perlakuan induk disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Fekunditas dan daya tetas telur ikan nila pada pemijahan kedua dari

perlakuan induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B).

Perlakuan Fekunditas Telur (Butir) Daya Tetas Telur (%)

K 1.362,67±123,84a 73,72±6,38b

A 1.372,33±148,50a 82,08±3,92b

B 1.527,33±80,16a 94,07±2,60a

Keterangan: Huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Uji Tukey’s; P<0,05).

c b b b b b b b a a a a 0 50 100 150 200 250 H5 H10 H15 H20 A kt iv it a s L is o si m B en ih (U /m L )

Umur Benih (Hari)

K A B

13 Tingkat Mortalitas dan Relative Percent Survival (RPS) Benih Ikan Nila

Tingkat mortalitas benih perlakuan induk B signifikan lebih rendah (P<0,05) dari perlakuan lainnya hingga hari ke-20. Namun, mortalitas benih perlakuan induk B tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan perlakuan benih dari induk A pada hari ke-5. Nilai RPS benih dari perlakuan induk B tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan perlakuan benih dari induk A pada hari ke-5. Namun, nilai RPS benih dari induk B signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan benih dari induk A mulai hari ke-10 hingga hari ke-20. Nilai RPS benih ikan nila disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Tingkat mortalitas setelah infeksi S. agalactiae dan relative percent

survival benih ikan nila pada pemijahan kedua dari perlakuan induk

diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin dua kali dengan selang waktu satu bulan (B)

Umur Benih (Hari) Mortalitas(%) RPS(%) K A B A B 5 61,11±5,09a 8,89±3,33b 1,11±1,92b 85,60±7,75a 98,33±2,89a 10 70,00±3,33a 22,22±5,09b 6,67±3,33c 68,43±5,88b 90,61±4,32a 15 76,67±3,33a 37,78±6,94b 17,78±5,09c 50,86±7,84b 81,20±1,80a 20 77,78±5,09a 62,22±3,85b 35,56±5,09c 19,93±6,18b 54,17±7,53a Keterangan: Huruf superskrip yang berbeda pada umur benih dan parameter yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (Uji Tukey’s; P<0,05).

Patologi Anatomi Mikroskopis

Hasil histologi organ otak benih ikan setelah uji tantang menunjukkan adanya perubahan patologi anatomi mikroskopis pada semua perlakuan. Otak ikan yang terinfeksi S. agalactiae terlihat mengalami nekrosis, sedangkan tidak terlihat pada jaringan otak ikan normal. Hasil histologi jaringan otak benih ikan nila yang terserang S. agalactiae disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Patologi anatomi mikroskopis pada jaringan otak benih ikan nila setelah infeksi S. agalactiae: A) Jaringan otak normal; B) Jaringan otak terserang S. agalactiae mengalami nekrosis (Ne) dan Degenerasi (De)

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vaksin ulang pada induk ikan nila pada pemijahan kedua memberikan pengaruh yang signifikan lebih baik terhadap transfer imunitas maternal dari induk ke anak ikan nila. Huang et al., (2014) menjelaskan bahwa ikan nila yang divaksin masih memiliki antibodi yang tinggi hingga hari ke-30 dan mulai menurun pada hari ke-42 setelah vaksinasi. Namun penelitian tentang vaksin ulang pada ikan telah terbukti mampu meningkatkan imunitas spesifik dan menurunkan tingkat mortalitas ikan setelah

14

uji tantang (Angelidis, 2006; Ispir & Dorucu, 2010; Zhang et al., 2014; Ito & Maeno, 2015).

Parameter gambaran darah telah digunakan sebagai indikator status kesehatan dibeberapa spesies ikan (Santos et al., 2009; Adedeji, 2010; Akinrotimi

et al., 2012; Sayed & Moneeb, 2015). Penelitian vaksinasi ikan terkait total

eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit pada ikan nila yang divaksin telah dilaporkan tidak berpengaruh nyata terhadap status kesehatan ikan (Sukenda et

al., 2014). Namun, terdapat pengaruh terhadap total leukosit dan aktivitas

fagositik ikan yang divaksin (Hardi et al., 2013; Sukenda et al., 2015a). Hasil gambaran darah induk ikan setelah vaksinasi masih menunjukkan nilai yang normal. Akan tetapi, kesehatan induk ikan perlakuan B memiliki status yang lebih baik dari perlakuan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai total leukosit dan aktivitas fagositik induk pada perlakuan B yang memiliki nilai yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hardi et al., (2013) dan Amrullah et al., (2014) melaporkan terjadi adanya peningkatan total leukosit dan aktivitas fagositik pada ikan nila yang diberi vaksin. Sel leukosit seperti neutrofil dan monosit merupakan sel-sel fagosit yang aktif ketika ada benda asing yang masuk ke dalam tubuh sebagai pertahanan nonspesifik (Katzenback & Belosevic, 2009).

Antibodi ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi pada serum ikan (Magnadottir, 2010). Hasil pengukuran level antibodi perlakuan induk B lebih tinggi dibandingkan induk perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan pemberian vaksin ulang pada induk (B) pada pemijahan kedua dapat meningkatkan level antibodi pada induk, telur, dan benih ikan nila. Antibodi induk A dan B secara signifikan masih lebih tinggi dibandingkan dengan induk tanpa vaksinasi (K). Pemberian vaksin gabungan sel utuh dan ECP pada ikan nila mampu menginduksi tubuh untuk memproduksi antibodi spesifik (Hardi et al., 2013). Hasil fraksinasi protein melalui SDS-PAGE diketahui bahwa ECP bakteri S. agalactiae tipe non-hemolitik memiliki protein dengan bobot molekul protein yaitu 51,8; 55,8 dan 62,3 kDa. Hasil tersebut sama dengan yang dilakukan oleh Hardi et al., (2013) dan bersifat imunogenik. Menurut Pasnik et al., (2005) kandungan protein pada ECP bakteri S. agalactiae yang digunakan sebagai vaksin pada ikan berkisar antara 47-75 kDa. Sukenda et al., (2015a) melaporkan bahwa induk yang divaksin dengan sediaan vaksin gabungan sel utuh dan ECP mampu meningkatkan level antibodi induk dan benih yang dihasilkan. Selain itu menurut Zang et al., (2014) menjelaskan bahwa level antibodi ikan meningkat ketika diberi vaksin ulang.

Mekanisme terbentuknya antibodi dalam tubuh diawali dengan pengikatan antigen (vaksin) oleh makrofag atau antigen presenting cell (APC). Antigen terfraksinasi pada sel makrofag dan diekspresikan ke permukaan sel APC melalui molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas II yang berinteraksi dengan limposit T helper melalui molekul CD4 (cluster of differentiation) dan TCR (cell Receptor) (Mariuzza et al., 2010). Terjadi proliferasi limposit

T-helper menghasilkan sitokinin interleukin-2 (IL-2) yang merupakan mediator

komunikasi limposit T helper dan limposit B. Limposit B menangkap sinyal interleukin 2 dan berproliferasi menjadi sel plasma yang siap menghasilkan antibodi spesifik terhadap epitop antigen yang memaparnya, sedangkan sel memori akan tetap berada dalam sistem humoral dalam jangka waktu tertentu (Hirano et al., 2011). Apabila antigen yang sama masuk untuk kedua kalinya,

15 mengakibatkan terbentuknya antibodi lebih cepat dan lebih banyak (Campbell et

al., 2004).

Pada proses pematangan gonad, sinyal lingkungan diterima oleh sistem syaraf pusat dan diteruskan ke hipotalamus. Hipotalamus akan melepaskan

Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) yang bekerja di kelenjar hipofisis.

Selanjutnya hipofisis melepaskan FSH yang bekerja pada sel teka dan mensintesis testosteron. Di lapisan granulosa, enzim aromatase akan mengubah testosteron menjadi estradiol-17β yang merangsang hati mensintesis vitelogenin (bakal kuning telur). Vitelogenin dibawa oleh aliran darah dan diserap oleh folikel oosit dan oosit membesar sampai ukuran maksimum yang dikenal dengan proses vitelogenesis. Jalur proses vitelogenesis ini memerantarai imunitas spesifik (antibodi) dan non-spesifik (lisosim) untuk masuk ke dalam kuning telur yang akan ditransfer ke anaknya (Swain dan Nayak, 2009; Wang et al., 2011).

Level antibodi telur dari induk perlakuan B memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan telur dari induk perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan induk yang diberi vaksin ulang memiliki level antibodi paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sehingga antibodi dari induk B ditransfer lebih banyak ke telurnya pada proses vitelogenesis. Penelitian pada beberapa spesies ikan juga menunjukkan bahwa antibodi dapat ditransfer dari induk ke anaknya melalui pembentukan kuning telur (Picchietti et al., 2004; Hanif et al., 2004; Dalmo, 2005; Swain et al., 2006).

Nilai level antibodi spesifik terhadap S. agalactiae pada benih secara perlahan mengalami penurunan hingga hingga hari ke-20 diseluruh perlakuan. Antibodi benih dari perlakuan B memiliki nilai yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya hingga hari ke-20. Antibodi benih yang ditransfer dari induk yang tidak divaksin ulang (A) pada hari ke-20 memiliki nilai yang sama dengan perlakuan Induk K (kontrol). Hal tersebut menjelaskan bahwa antibodi yang ditrasfer dari perlakuan induk A lebih cepat habis dibandingkan dengan benih dari induk perlakuan B. Zhang et al., (2013) menjelaskan bahwa antibodi spesifik yang ditransfer melalui induk secara alami ikut termetabolisme bersama dengan kuning telur. Hanif et al., (2004) membuktikan bahwa benih dari induk ikan sea bream

Sparus auratus yang diberi vaksin mengalami penurunan secara perlahan hingga

akhir pengamatan yaitu 14 hari setelah telur menetas.

Induk yang divaksin ulang (B) memiliki aktivitas lisosim lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan induk lainnya. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pemberian vaksin bukan hanya meningkatkan respon imun spesifik tetapi juga meningkatkan respon imun non-spesifik (Hanif et al., 2004; Mulero et al., 2007; Swain dan Nayak, 2009; Wang et al., 2013). Selain itu, telur dan benih hasil pemijahan dari induk yang divaksinasi ulang (B) menunjukkan aktivitas lisosim yang lebih tinggi dibandingkan dengan telur dan benih dari induk perlakuan lainnya. Lisosim muncul di awal pengembangan ikan, sebelum atau segera setelah menetas dan keberadaannya sangat penting terhadap kekebalan benih ikan (Magnadottir, 2006).

Aktivitas lisosim benih dari perlakuan induk A dan B menurun pada hari ke-10 dan kemudian meningkat kembali seiring bertambahnya umur benih ikan. Berbeda dengan aktivitas lisosim benih dari perlakuan induk K meningkat dari hari ke-5 hingga hari ke-20. Aktivitas lisosim benih dari induk K dan B tidak berbeda signifikan mulai hari ke-10 hingga hari ke-20. Aktivitas lisosim benih

16

dari perlakuan induk B memiliki peningkatan yang lebih cepat dibandingkan dengan benih dari induk perlakuan lainnya. Perkembangan lisosim ini terkait dengan perkembangan organ-organ limfoid seperti ginjal, timus, dan limpa (Magnadottir et al., 2005). Lisosim mengandung enzim muramidase yang dapat merusak ikatan antara asam N-asetilglukosamin dengan N-asetilmuramic dalam dinding sel bakteri gram positif (Marsh dan Rice, 2010). Pada tahap awal, lisosim adalah salah satu protein penting yang terlibat dalam pertahanan non-spesifik (Hanif et al., 2005; Huttenhuis et al., 2006; Wang & Zhang, 2010).

Hasil pengukuran fekunditas telur dari semua induk perlakuan memiliki nilai yang sama. Akan tetapi, terjadi perbedaan pada nilai daya tetas telur. Daya tetas telur dari induk perlakuan B lebih tinggi dari perlakuan induk lainnya. Hal ini menunjukkan telur dari induk yang divaksin ulang terjadi peningkatan daya tetas telur, namun terjadi penurunan pada perlakuan induk A yang secara signifikan tidak berbeda dengan perlakuan induk K. Hal ini menunjukkan komponen lisosim dan antibodi yang ditransfer oleh induk telah memberikan pertahanan antibakteri untuk telur dan meningkatkan keberhasilan penetasan dan sintasan (Saino et al., 2002; Hanif et al., 2004; Hanif et al., 2005).

Pemberian vaksin pada induk ikan telah diketahui mampu meningkatkan proteksi benih yang dihasilkan dari serangan patogen (Hanif et al., 2004; Nur et

al., 2004; Wang et al., 2012; Sukenda et al., 2015a). Hasil uji tantang benih

dengan S agalactiae, diketahui benih dari induk perlakuan B memiliki nilai RPS yang lebih tinggi dibandingkan dengan benih dari induk A dari hari ke-10 hingga hari ke-20. Hal ini menunjukkan bahwa benih yang dihasilkan dari induk yang diberi vaksin ulang (B) memiliki tingkat proteksi lebih tinggi dibandingkan benih dari induk yang diberi vaksin satu kali (A). Nilai RPS benih dari setiap perlakuan menurun hingga hari ke-20 setelah menetas. Hal tersebut disebabkan antibodi spesifik yang ditransfer dari induk ke anaknya semakin berkurang seiring dengan bertambahnya umur benih.

Tingginya nilai RPS benih dari perlakuan induk B disebabkan oleh tingginya antibodi dan lisosim yang ditransfer oleh induk ikan nila B. Imunoglobulin seperti IgM dapat mengopsonin bakteri, sehingga dapat didegradasi dan diberantas oleh sel-sel fagosit (Schroeder & Cavacini, 2010; Rauta et al., 2012). Transfer antibodi maternal ke telur dan embrio juga dilaporkan dapat bertindak sebagai opsonin yang dapat memfasilitasi proses fagositosis bakteri oleh sel fagosit serta mengaktifkan komplemen (Magnadottir et

al., 2005). Antibodi maternal dari induk ikan dapat mengurangi resiko kematian

selama masa perkembangan benih ikan (Grindstaff, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa antibodi spesifik memainkan peran penting dalam perlindungan ikan terhadap infeksi patogen.

Hasil pengamatan anatomi mikroskopis jaringan otak benih ikan nila yang terserang S. agalactiae mengalami degenerasi dan nekrosis. Nekrosis adalah hilangnya jaringan setelah terjadinya degenerasi jaringan, degenerasi jaringan biasanya dapat dilihat pada tepian jaringan yang mengalami kerusakan. Filho et

al., (2009) melaporkan bahwa S. agalactiae menyerang organ otak, hati, mata, dan

ginjal ikan nila. Hardi et al., (2011) juga menjelaskan bahwa jaringan otak ikan nila yang terserang S. agalactiae mengalami degenerasi dan nekrosis sehingga menyebabkan ikan mengalami perubahan pola renang (whirling).

17

4 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pemberian vaksin ulang di induk nila pada pemijahan kedua dapat menstimulasi imunitas dan transfer imunitas maternal ke anaknya untuk pencegahan streptococcosis.

Saran

Pemberian vaksin ulang pada induk nila pada pemijahan kedua perlu dilakukan dalam manajemen teknik produksi benih ikan nila. Selain itu perlu dilakukan vaksinasi pada benih nila umur 20 hari untuk meningkatkan imunitas spesifik benih terhadap penyakit streptococcosis.

Dokumen terkait