• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di dua SMA Negeri Kabupaten Bogor yaitu SMA X dan SMA Y keduanya memiliki akreditasi A oleh BAN-PT selain itu kedua sekolah ini juga memiliki siswa yang sudah terbagi berdasarkan bidang studi yaitu IPA dan IPS mulai dari kelas X. SMA X merupakan lokasi penelitian pertama, letak sekolah berdekatan dengan kantor kepala desa sedangkan SMA Y merupakan lokasi penelitian kedua dengan lokasi yang berada di jalan utama yang dilalui angkutan umum. SMA X berdiri sejak tahun 1984 dan memiliki 1019

14

siswa. Terdapat 51 guru yang termasuk guru tetap dan tidak tetap. SMA Y berdiri pada tahun 2002 memiliki 1009 siswa. SMA Y memiliki 49 guru yang termasuk diantaranya adalah kepala sekolah, staff, dan tata usaha.

Peraturan menteri pendidikan nasional republik indonesia nomor 24 tahun (2007) telah mengatur standar sarana dan prasarana untuk sekolah menengah terdapat empat hal yang diatur yaitu satuan pendidikan, lahan, bangunan, prasarana dan sarana. Penelitian ini hanya akan membahas dua hal yang terkait langsung dengan proses belajar mengajar yaitu satuan pendidikan dan sarana prasarana.

Satuan pendidikan yang diatur untuk sekolah menengah atas adalah (1) Satu SMA/MA memiliki sarana dan prasarana yang dapat melayani minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan belajar (2) Minimum satu SMA/MA disediakan untuk satu kecamatan. SMA X memiliki 27 rombongan belajar sedangkan SMA Y memiliki 24 rombongan belajar keduanya merupakan SMA yang mewakili satu kecamatan. Dengan demikian SMA X dan SMA Y telah memenuhi standar satuan pendidikan yang telah diatur oleh pemerintah.

Prasarana dan sarana minimum yang harus dimiliki oleh sebuah SMA/MA adalah ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium biologi, ruang laboratorium fisika, ruang laboratorium kimia, ruang laboratorium komputer, ruang laboratorium bahasa, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tata usaha, tempat beribadah, ruang konseling, ruang UKS, ruang organisasi kesiswaan, jamban, gudang, ruang sirkulasi, tempat bermain/berolahraga. Berdasarkan data yang didapatkan dari sekolah SMA X hanya tidak memiliki ruang laboratorium kimia, ruang laboratorium bahasa, dan ruang sirkulasi sedangkan SMA Y telah memenuhi seluruh sarana dan prasarana minimum tersebut. Dapat dikatakan SMA Y telah menyediakan prasarana dan sarana sesuai dengan peraturan yang ada sedangkan SMA X menyediakan prasarana dan sarana yang hampir sesuai dengan prasarana dan sarana minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Karakteristik Remaja

Penelitian ini melibatkan 132 remaja dengan proporsi jenis kelamin 62.1 persen perempuan dan 37.9 persen laki-laki. Usia remaja berkisar dari 15 tahun hingga 18 tahun dengan rata-rata 16.71 tahun dan lebih dari separuh remaja (51.5%) berusia 17 tahun. Seluruh remaja termasuk dalam kategori remaja menengah (15-18 tahun) (Monks et al. 1992).

Karakteristik Keluarga

Berdasarkan kelompok usia menurut Santrock (2007), proporsi terbesar remaja memiliki ayah (78.8%) dan ibu (53.0%) yang berusia pada dewasa madya (Tabel 3). Besar keluarga remaja dikategorikan menurut BKKBN. Lebih dari separuh remaja (60.6%) memiliki keluarga yang tergolong dalam keluarga menengah. Sebagian besar remaja memiliki orang tua dengan pendidikan berada di tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan rata-rata sebesar 9.1 tahun (ayah) dan 8.5 tahun (ibu). Kurang dari sepertiga remaja (31.1%) memiliki ayah yang berprofesi sebagai wiraswasta sedangkan sisanya menyebar pada pekerjaan buruh, pedagang, serta pegawai negeri dan lebih dari tiga perempat remaja (78.0%) memiliki ibu yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga. Pengategorian untuk

15

pendapatan per kapita mengacu pada garis kemiskinan Jawa Barat 2014 yaitu sebesar Rp285 076, lebih dari separuh remaja (62.9%) memiliki keluarga yang tergolong keluarga tidak miskin dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp546 501.

Tabel 3 Sebaran remaja berdasarkan usia ayah dan ibu

Usia orang tua (tahun) Ayah Ibu

n % n % Dewasa Muda (18-<40) 22 16.6 61 46.2 Dewasa Madya (40-60) 104 78.8 70 53.0 Dewasa Akhir (>61) 3 2.3 0 0.0 Almarhum 3 2.3 1 0.8 Total 132 100.0 132 100.0 Min – Max 32 – 69 29 – 59 Rata – rata ± Std 47.6 ± 6.8 42.7 ± 6.9 Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah dalam penelitian ini merupakan persepsi remaja mengenai proses pembelajaran, komunikasi dan partisipasi orang tua dengan sekolah serta peraturan dan sanksi yang berlaku di sekolah. Tabel 4 menunjukkan proporsi terbesar persepsi remaja mengenai lingkungan sekolah berada pada kategori cukup (71.2%). Artinya, remaja sudah merasa cukup terdukung dengan lingkungan di sekolahnya.

Pada dimensi komunikasi dan partisipasi orang tua sebagian besar remaja memiliki persentase terbesar pada kategori kurang (60.6%) sehingga menurut remaja komunikasi dan partisipasi orang tua masih kurang mendukung di lingkungan sekolahnya. Hal tersebut dijelaskan dengan bukti, remaja memiliki persentase jawaban tertinggi pada skala jawaban tidak sesuai yaitu butir pernyataan guru sering melakukan komunikasi dan menyempatkan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan orang tua saya baik secara formal maupun informal salah satunya untuk melaporkan permasalahan yang saya hadapi dengan rincian masing-masing berturut-turut 55.3 persen, 41.7 persen, dan 39.4 persen. Data tersebut menggambarkan bahwa menurut remaja komunikasi antara guru dengan orang tua terkait diri remaja masih kurang sehingga lingkungan sekolah perlu pengoptimalan dalam hal komunikasi antara guru dengan orang tua siswa.

Tabel 4 menunjukkan bahwa persepsi remaja pada dimensi proses pembelajaran (79.5%) dan peraturan dan sanksi yang berlaku (55.3%) memiliki persentase terbesar pada kategori cukup. Sebaran jawaban remaja pada dimensi proses pembelajaran menunjukkan persentase jawaban tertinggi pada skala jawaban sangat sesuai yaitu butir pernyataan guru mencontohkan etika dan perilaku yang baik kepada saya, dari kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah saya dapat memahami manfaat dan kegunaan dari ilmu yang dipelajari untuk masa depan saya, saya dan siswa lain mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil karya kami di depan kelas dengan rincian masing-masing berturut-turut 50.8 persen, 49.2 persen, dan 56.8 persen. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan persepsi remaja mengenai proses pembelajaran di lingkungan sekolah sudah cukup optimal.

16

Sebaran jawaban remaja pada dimensi peraturan dan sanksi yang berlaku menunjukkan sebagian besar remaja memilih skala jawaban sesuai. Tiga butir pernyataan yang dipilih remaja dengan persentase terbesar adalah guru merespon dengan cepat setiap siswa yang melanggar aturan seperti menyuruhnya keluar saat mengganggu ketertiban di kelas dan guru melakukan pendekatan interpersonal dengan siswa yang bermasalah dengan rincian masing-masing berturut-turut 63.6 persen, 56.8 persen, dan 57.6 persen. Data tersebut menggambarkan bahwa peraturan dan sanksi yang berlaku di lingkungan sekolah menurut remaja sudah cukup optimal.

Tabel 4 Sebaran remaja berdasarkan lingkungan sekolah

Kategori Proses Pembelajaran Komunikasi dan Partisipasi Orangtua Peraturan dan Sanksi yang Berlaku Total n % n % n % n % Kurang (<60) 16 12.1 80 60.6 56 42.4 33 25.0 Cukup (60-80) 105 79.5 48 36.4 73 55.3 94 71.2 Baik (>80) 11 8.4 4 3.0 3 2.3 5 3.8 Total 132 100.0 132 100.0 132 100.0 132 100.0 Min-Maks 42.28-91.06 26.67-93.33 30.77-87.18 39.06-87.50 Rata-rata ±Std 68.17±8.25 58.13±12.64 62.10±8.60 65.37±7.50

Status Identitas Diri

Status identitas diri adalah perkembangan ego yang ditentukan berdasarkan kehadiran atau ketidakhadiran dari krisis dan komitmen (Marcia 1980). Krisis seringkali disebut eksplorasi yaitu periode saat individu memilih dari berbagai alternatif sedangkan komitmen adalah ketika individu sudah membuat keputusan dari berbagai alternatif (Marcia 1966). Tabel 5 menunjukkan lebih dari separuh remaja berstatus identitas moratorium (65.2%). Artinya, kebanyakan remaja berada pada krisis yang menuju pada komitmen. Dengan kata lain remaja di perdesaan telah melakukan eksplorasi dan memiliki pengalaman terhadap pekerjaan, gaya hidup, pertemanan, kencan, peran gender, dan rekreasi namun belum membuat komitmen tentang pilihan mereka. Hasil ini mendukung teori perkembangan psikososial Erikson (1950, 1968) dalam Santrock 2007) yaitu pada saat remaja akan terjadi kebingungan identitas. Artinya, remaja akan bereksplorasi dengan mencari informasi dan mencoba hal baru untuk mendapatkan pengalaman yang kemudian akan dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan komitmen. Marcia (1980) menjelaskan bahwa moratorium adalah individu yang berada dalam masa krisis dan atau mereka yang sedang berjuang terhadap isu terkait ideologi dan pekerjaan. Lebih lanjut Santrock (2012) menyatakan bahwa moratorium merupakan fase individu yang berada pada pertengahan krisis tetapi belum memiliki komitmen.

Berdasarkan sebaran jawaban remaja pada identitas diffusion memiliiki persentase terbesar pada skala jawaban sesuai, terbukti pada butir pernyataan dimensi peran gender yaitu “saya tidak pernah benar-benar serius mempertimbangkan peran laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Tampaknya itu juga tidak menjadi perhatian saya” sebesar 71.2

17

persen dan “pendapat tentang peran laki-laki dan perempuan tampak begitu beragam jadi saya tidak berpikir banyak tentang hal itu” sebesar 60.6 persen, pada

dimensi rekreasi yaitu “saya kadang-kadang bergabung dalam kegiatan rekreasi ketika diajak, tapi jarang mencoba melakukannya sendiri” sebanyak 62.1 persen. Hal ini menunjukkan bahwa remaja dengan identitas diri diffusion belum memikirkan hal terkait dengan dimensi peran gender dan rekreasi.

Pilihan jawaban remaja pada butir pernyataan pengukuran identitas foreclosure yang memiliki persentase terbesar dengan jawaban sesuai hanya

terdapat pada “pemikiran saya tentang peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan orang tua dan keluarga saya. Saya belum melihat adanya kebutuhan untuk melihat lebih lanjut” sebesar 68.2 persen remaja. Artinya, dapat dikatakan lebih dari separuh remaja yang berada pada identitas diri foreclosure masih mengikuti pandangan orang tuanya sehingga remaja belum memiliki identitas diri yang ia temukan sendiri.

Pada identitas moratorium, persentase terbesar skala jawaban remaja adalah sesuai. Jawaban sesuai tersebut berada pada dimensi gaya hidup, pertemanan, kencan, dan peran gender. Rincian butir pernyataan dan persentase jawaban remaja pada skala jawaban sesuai berturut-turut yaitu, “saya sedang mencari pandangan yang dapat diterima sebagai gaya hidup saya, tapi belum saya temukan”

sebesar 66.7 persen, “saya masih mencoba untuk mencari tahu apa arti

persahabatan untuk saya” sebesar 76.5 persen, “saya mencoba berbagai jenis hubungan kencan. Saya hanya belum memutuskan apa yang terbaik bagi saya”

sebesar 63.6 persen dan “ada begitu banyak cara untuk membagi peran dalam pernikahan, saya mencoba untuk memutuskan peran yang sesuai untuk saya”

sebesar 65.2 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa remaja masih berada dalam krisis dengan mengeksplorasi gaya hidup dan pertemanan untuk kemudian dijadikan pandangan bagi dirinya sendiri. Lebih lanjut, remaja sudah memiliki pengalaman terhadap kencan dan mengetahui bahwa terdapat banyak peran gender hanya saja remaja masih belum menentukan apa yang paling sesuai dengan dirinya sendiri.

Pada identitas diri achievement, remaja dalam penelitian ini memiliki persentase terbesar pada skala jawaban sesuai di seluruh dimensi kecuali dimensi pertemanan. Remaja perdesaan dalam penelitian ini memiliki persentase terbesar pada jawaban sesuai dalam dimensi pekerjaan yaitu “masalah karir sudah cukup lama saya pikirkan dan sekarang saya tahu pasti kemana arah karir saya” sebesar

63.6 persen. Butir pernyataan dalam dimensi gaya hidup yang dipilih remaja dengan jawaban sesuai adalah “setelah berpikir, saya telah mengembangkan sudut pandang saya sendiri tentang sebuah gaya hidup yang ideal dan tidak percaya siapa pun yang ingin mengubah sudut pandang saya” sebesar 65.2 persen remaja menjawab sesuai. Dimensi kencan yang dipilih dengan jawaban sesuai oleh 62.9 persen remaja adalah “berdasarkan pengalaman masa lalu, saya telah memilih jenis hubungan kencan yang saya inginkan sekarang”. Pada dimensi peran gender, remaja memiliki persentase terbesar pada butir pernyataan “saya telah memilih jenis kegiatan rekreasi yang sesuai dengan diri saya dan saya puas dengan pilihan

saya” sebesar 67.4 persen. Butir pernyataan “setelah mencoba banyak kegiatan rekreasi yang berbeda saya telah menemukan satu atau lebih saya benar-benar menikmati melakukan sendiri atau dengan teman-teman” dalam dimensi rekreasi

18

achievement telah memiliki pandangan dan menentukan komitmen pada lima dari enam dimensi.

Tabel 5 Sebaran remaja berdasarkan status identitas diri

Status Identitas Diri n %

Diffusion 11 8.3 Foreclosure 20 15.1 Moratorium 86 65.2 Achievement 15 11.4 Total 132 100.0 Prestasi Akademik

Prestasi akademik adalah pencapaian kemampuan belajar remaja di sekolah yang didasarkan pada nilai rata-rata rapor. Tabel 6 menunjukkan hampir seluruh remaja memiliki prestasi akademik yang baik (92.4%). Artinya, remaja di wilayah perdesaan berpotensi untuk memiliki kemampuan yang baik di bidang pendidikan.

Tabel 6 Sebaran remaja berdasarkan prestasi akademik

Kategori Prestasi Akademik

n % Kurang (≤2.49) 0 0.0 Cukup (2.50-2.99) 10 7.6 Baik (3.00-3.49) 122 92.4 Sangat Baik (3.50-4.00) 0 0.0 Total 132 100.0 Min-Max 2.82-3.49 Rata-rata ± Std 3.20 ± 0.15

Hubungan Karakteristik Remaja, Karakteristik Keluarga, Lingkungan Sekolah, Status Identitas Diri, dan Prestasi Akademik

Tabel 7 menunjukkan bahwa jenis kelamin berhubungan negatif signifikan (r=-0.193, p-value 0.05) dengan status identitas diri. Dapat dimaknai bahwa remaja laki-laki lebih memiliki identitas diri achievement dibandingkan remaja perempuan. Terdapat hubungan positif signifikan (r=0.293, p-value 0.01) antara jenis kelamin dengan prestasi akademik. Data menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan remaja laki-laki. Berdasarkan temuan tersebut dapat dikatakan bahwa remaja perempuan memiliki pencapaian identitas yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki namun memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan remaja laki-laki. Pendapatan per kapita berhubungan negatif signifikan (r=-0.236, p-value 0.01) dengan prestasi akademik (Tabel 7). Semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga remaja maka prestasi akademik remaja akan semakin kurang optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang memiliki perekonomian lebih baik justru memiliki prestasi akademik yang kurang optimal.

19

Tabel 7 Koefisien korelasi antara karakteristik remaja, karakteristik keluarga dengan lingkungan sekolah, status identitas diri, dan prestasi akademik

Hubungan

antar variabel Lingkungan Sekolah Status Identitas Diri

Prestasi akademik Usia remaja -0.025 -0.133 0.146 Jenis kelamin 0.116 -0.193* 0.293** Usia ibu -0.130 -0.033 0.019 Pendidikan ibu 0.025 0.025 -0.080 Besar keluarga -0.032 -0.122 0.163 Pendapatan per kapita 0.109 0.138 -0.236**

Keterangan: *signifikan pada p<0.05; **signifikan pada p<0.01

Tabel 8 memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan (r=0.214, p-value 0.05) antara lingkungan sekolah dengan prestasi akademik. Artinya, semakin positif persepsi remaja terhadap lingkungan sekolah maka prestasi akademik akan semakin optimal. Data tersebut mengindikasikan bahwa lingkungan sekolah berhubungan positif dengan prestasi akademik yaitu persepsi positif remaja terhadap lingkungan sekolah akan meningkatkan prestasi akademik remaja di wilayah perdesaan menjadi lebih optimal.

Status identitas diri berhubungan negatif signifikan (r=-0.316, p-value 0.01) dengan prestasi akademik (Tabel 8). Semakin remaja memiliki capaian status identitas diri yang tinggi maka prestasi akademiknya semakin kurang optimal. Dapat dikatakan remaja yang telah mengalami krisis dan atau komitmen justru akan membuat prestasi akademiknya semakin menjadi kurang optimal. Tabel 8 Koefisien korelasi antara lingkungan sekolah, status identitas diri, dan

prestasi akademik

Hubungan antar variabel Status Identitas Diri Prestasi akademik

Lingkungan Sekolah -0.006 0.214*

Status Identitas Diri 1 -0.316**

Keterangan: *signifikan pada p<0.05; **signifikan pada p<0.01

Pengaruh Karakteristik Remaja, Karakteristik Keluarga, Lingkungan sekolah, dan Status Identitas Diri terhadap Prestasi Akademik

Tabel 9 menunjukkan bahwa prestasi akademik dipengaruhi sebesar 21.0 persen oleh variabel yang diteliti yaitu karakteristik remaja, karakteristik keluarga, lingkungan sekolah, dan status identitas diri, sisanya sebesar 79.0 persen dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Jenis kelamin berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi akademik sebesar 0.079. Artinya, perempuan lebih memiliki pengaruh positif terhadap prestasi akademik. Prestasi akademik remaja perempuan lebih baik daripada prestasi akademik remaja laki-laki. Pendapatan per kapita beruhubungan negatif signifikan terhadap prestasi akademik sebesar -6.725E-8. Artinya, setiap kenaikan satu satuan pendapatan per kapita keluarga remaja akan menurunkan prestasi akademik remaja di wilayah perdesaan sebesar 6.725E-8. Remaja yang memiliki keluarga dengan

20

perekonomian yang lebih baik justru memiliki prestasi akademik yang belum optimal.

Lingkungan sekolah berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi akademik. Artinya, setiap kenaikan satu satuan persepsi remaja mengenai lingkungan sekolah akan meningkatkan prestasi akademik sebesar 0.004. dapat dikatakan bahwa lingkungan sekolah yang baik akan membuat remaja mampu memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Status identitas diri berpengaruh negatif signifikan terhadap prestasi akademik. Dapat dimaknai bahwa setiap kenaikan satu satuan pencapaian status identitas diri akan menurunkan prestasi akademik sebesar -0.044. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja yang telah membuat melewati krisis identitas diri dan membuat komitmen sesuai dengan pandangannya sendiri justru memiliki prestasi akademik menjadi kurang optimal. Tabel 9 Koefisien uji regresi karakteristik remaja, karakteristik keluarga,

lingkungan sekolah, dan status identitas diri terhadap prestasi akademik

Variabel Prestasi Akademik

Sig.

β Unstandardized β Standardized

Lingkungan sekolah 0.004 0.206 0.011**

Status identitas diri -0.044 -0.218 0.008**

Usia (tahun) 0.019 0.087 0.302

Jenis kelamin (0=Laki-laki; 1=Perempuan) 0.079 0.225 0.002**

Usia ibu (tahun) 0.000 -0.035 0.678

Pendidikan ibu (tahun) 0.002 0.053 0.557

Besar Keluarga (orang) 0.004 0.054 0.589

Pendapatan per kapita (rupiah) -6.725E-8 -0.230 0.020**

0.258

R² Adjusted 0.210

F 5.359

Sig. 0.000**

Keterangan: *signifikan pada p<0.05; **signifikan pada p<0.01

Pembahasan

Remaja atau adolescence berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti tumbuh dewasa dengan pertumbuhan antara lain kematangan struktur, karakteristik fisik, kematangan mental, dan perkembangan karakteristik organ seks sekunder (Pathan 2010). Remaja adalah masa transisi yang dimulai sekitar usia 10-12 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Santrock 2007). Monks et al. (1992) mengelompokkan usia remaja ke dalam 3 kelompok yakni remaja awal (12-15 tahun), remaja menengah (15-18 tahun), remaja akhir (18-21 tahun). Remaja yang terlibat dalam penelitian ini berusia 15 hingga 18 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja dalam penelitian ini termasuk dalam kategori remaja menengah. Proporsi terbesar usia ayah dan ibu remaja termasuk dewasa madya dengan lama pendidikan di tingkat sekolah dasar.

Sebagian besar keluarga remaja (60.6%) termasuk dalam kategori keluarga sedang dengan rata-rata pendapatan per kapita di atas garis kemiskinan (62.9%) yaitu sebesar Rp548 206. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara (Dengah et al. 2014). Dalam penelitian ini yang

21

digunakan adalah pendapatan per kapita keluarga yaitu jumlah pendapatan keluarga dibagi jumlah anggota keluarga. Berdasarkan garis kemiskinan Jawa Barat 2014 pendapatan per kapita dikategorikan ke dalam kategori miskin (<Rp285 076) dan kategori tidak miskin (>Rp285 076). Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan lebih dari separuh remaja berada dalam keluarga yang termasuk dalam kategori tidak miskin. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun remaja tinggal di wilayah perdesaan tetapi sebagian besar remaja berada dalam lingkungan perekonomian yang baik.

Lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat bagi remaja menggunakan banyak waktunya untuk belajar, berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, dan berkreativitas (Utami 2014). Lingkungan sekolah berdasarkan persepsi remaja dalam penelitian memiliki proporsi terbesar yang termasuk dalam kategori cukup (71.2%). Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja mempersepsikan lingkungan sekolah sudah cukup mendukung. Sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa kondisi lingkungan sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Bogor yang menjadi lokasi penelitian Utami (2014) juga berada pada kondisi sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa sekolah menengah menurut persepsi sebagian besar remaja perdesaan di wilayah penelitian sudah cukup optimal.

Marcia (1980) membagi status identitas diri menjadi 4 tahapan yaitu diffusion, foreclosure, moratorium, dan achievement. Diffusion, individu yang belum mengatur arah hidupnya biasanya belum memiliki pengalaman dan belum membuat keputusan. Foreclosure, individu yang sudah membuat keputusan tetapi keputusan ditentukan oleh orang tuanya. Moratorium, merupakan masa krisis dimana individu masih berjuang dengan beberapa pengalaman dan pilihan yang ada. Achievement, adalah pencapaian identitas dimana individu sudah memiliki pengalaman dan sudah membuat keputusan. Santrock (2007) menyatakan bahwa jika memaknai teori Marcia (1987, 1996) diperlukan tiga hal agar remaja mampu mencapai identitas diri achievement yaitu remaja harus percaya bahwa ia memiliki dukungan orang tua, memiliki rasa industry yang baik, dan harus bisa mengambil refleksi diri terhadap masa depan.

Hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan lebih dari separuh remaja (65.2%) berstatus identitas moratorium. Artinya, kebanyakan remaja berada pada krisis yang menuju pada komitmen. Hal ini mendukung teori perkembangan psikososial Erikson (Santrock 2007) yaitu pada saat remaja akan terjadi kebingungan identitas. Mengacu pada Erikson, usia remaja akan mengalami psychological moratorium yaitu kesenjangan antara rasa aman pada masa anak-anak dan otonomi pada masa dewasa dalam mengeksplorasi identitas (Santrock 2003). Saat remaja seorang individu diberikan kebebasan oleh masyarakat untuk mencoba berbagai identitas, remaja kemudian akan melakukan beberapa percobaan peran dalam hidupnya ini dilakukan agar mereka mengatahui apa yang cocok untuk mereka (Santrock 2007). Santrock (2007) menyatakan bahwa remaja yang belum sukses dalam menghadapi krisis saat tahap psychological moratorium akan mengalami identity confusion. Kebingungan identitas (identity confusion) atau disebut juga krisis identitas (identity crisis) merupakan sebuah bentuk kegagalan penyelesaian krisis ego hal ini akan menyebabkan individu memiliki ketidakpastian mengenai kemampuan, asosiasi, dan tujuan masa depan individu (Friedman dan Schustack 2008). Berbeda dengan penelitian Rahma dan Reza (2013) yang menunjukkan bahwa dari 123 remaja di Surabaya 79 remaja

22

(64.23%) memiliki capaian identitas diri achievement. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja perdesaan di wilayah penelitian masih belum optimal dalam memenuhi tugas perkembangan pencarian identitas.

Meskipun persentase terbesar remaja dalam penelitian ini memiliki status identitas diri moratorium tetapi terdapat 11.4 persen remaja yang memiliki identitas diri achievement (Tabel 5). Hal tersebut menunjukkan bahwa beberapa remaja dalam penelitian ini telah berhasil melewati krisis dan memiliki komitmen terhadap identitas diri mereka. Makna dari identitas sebenarnya adalah ketika perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosioemosional remaja sampai pada titik pengambilan keputusan yang kemudian membentuk inti dari arti seorang individu (Santrock 2007). Individu dengan identitas diri achievement akan memiliki jiwa yang kuat, diri yang terarah, dan kemampuan adaptasi yang tinggi (Marcia 1966). Erikson (1950, 1968) dalam Santrock (2007) menjelaskan bahwa ciri-ciri remaja yang sukses melewati krisis identitas akan memiliki diri yang baru (fresh), dapat diterima oleh masyarakat, dan mampu untuk jujur pada diri sendiri. Lebih lanjut, seseorang yang telah memiliki identitas akan lebih fleksibel dan adaptif serta terbuka terhadap berbagai perubahan baik dalam masyarakat, hubungan interpersonal, maupun dalam karir (Adam, Gullota dan Montemayor 1992 dalam Santrock 2007).

Prestasi akademik remaja menunjukkan data yang cukup homogen hanya terdapat 7.6 persen remaja yang berada pada kategori cukup dan sisanya berada

Dokumen terkait