Penelitian II Pengelolaan Hara Parameter yang diamati adalah : 1.Total Luas Daun (cm2)
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
HASIL
Penelitian Tahap 1
Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Kondisi Kesuburan Tanah di Tiga Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang Lokasi (Kecamatan)
Karakter
Percut Batang Kuis Pagar Merbau P K pH Kapur C-organik Sedang Sedikit sedang Agak asam (5-6) > 8 tetes < 3 cm (rendah) Sedang Sedikit sedang Agak asam 4 – 8 tetes < 3 cm (rendah) Sedang Tinggi Agak asam 4 – 8 tetes > 3 cm Keterangan : Hasil Analisis Tanah dengan Menggunakan PUTK
Dari hasil pengujian status kesuburan tanah dengan menggunakan PUTK diperoleh data bahwa Kecamatan Percut memiliki P sedang, K sedikit sedang, pH agak masam (5-6), kebutuhan kapur > 8 tetes(1-2 ton), dan C-organik rendah; Desa Tumpatan Nibung memiliki P sedang, K sedikit sedang, pH agak masam (5-6), kebutuhayan kapur 4- 8 tetes (750 kg), dan C-organik rendah; Desa Pasar Miring memiliki P sedang, K sedikit sedang, pH agak masam (5-6), kebutuhan kapur 4- 8 tetes (750 kg), dan C-organik tinggi.
Dari ketiga daerah yang dievaluasi menunjukkan bahwa daerah Medan Estate memiliki kesuburan yang terendah, memiliki kandungan hara K sedikit, pH agak
masam, sehingga kebutuhan kapur lebih tinggi, dan juga membutuhkan bahan organik yang banyak. Hal ini menjadi dasar penentuan lokasi penelitian. Lokasi tersebut perlu penambahan amandemen dan pengelolaan hara yang baik untuk meningkatkan produksi jagung. Dalam penelitian ini diuji varietas dengan perlakuan amandemen dan pemberian hara untuk meningkatkan produktifitas jagung.
Penelitian Tahap 2 Total Luas Daun (cm2)
Data pengamatan total luas daun jagung pada pengamatan 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam (MST) dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 7 sampai 10. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap total luas daun pada umur 2, 4 dan 6 MST. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap total luas daun pada umur 2, 4 dan 6 MST. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap total luas daun pada umur 2, 4 dan 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh nyata terhadap total luas daun pada umur 2 dan 6 MST, tetapi tidak nyata terhadap total luas daun pada umur 4 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh nyata terhadap total luas daun pada umur 2 dan 6 MST, tetapi tidak nyata terhadap total luas daun pada umur 4 MST. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap total luas daun pada umur 2, 4 dan 6 MST. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap total luas daun pada umur 2, 4 dan 6 MST.
Total luas daun pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara pada pengamatan 2, 4 dan 6 MST terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Total Luas Daun Jagung (cm2) pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara pada Umur 2, 4 dan 6 MST
Perlakuan Total Luas Daun (cm2) 2 mst4 mst 6 mst Varietas V1 (Pioneer 12) 1801,68 b 3653,85 b 6053,80 b V2 (Pioneer 23) 1986,32 a 4130,78 a 6752,37 a V3 (NK 22) 1632,71 c 3084,07 c 5647,83 c V4 (Arjuna) 1325,24 d 2484,44 d 5218,74 d Amandemen A0 (tanpa amandemen) 1567,94 d 3106,76 d 5695,14 d A1(pupuk organik) 1725,32 b 3429,66 b 5977,98 b A2 (kapur) 1654,02 c 3244,95 c 5823,53 c A3 (pupuk organik dan kapur) 1798,66 a 3571,77 a 6176,10 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 1683,27 b 3330,79 b 5913,52 b
P2(dosis PUTK) 1712,49 a 3386,88 a 5985,67 a P3 (dosis yang digunakan petani) 1663,69 c 3297,19 c 5855,36 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 2, 4 dan 6 MST varietas yang terbaik untuk parameter total luas daun adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Total luas daun jagung pada kombinasi varietas dan amandemen pada umur 2 MST disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Varietas dan Amandemen terhadap Total Luas Daun (cm2) Jagung Pengamatan 2 MST
Perlakuan Total Luas Daun (cm2)
A0 A1 A2 A3
V1 1750,99 f 1823,33 c 1780,17 f 1852,22 e V2 1898,13 d 1993,87 b 1935,45 c 2117,82 a V3 1569,52 j 1649,22 h 1608,61 I 1703,49 g V4 1053,13 n 1434,84 i 1291,84 m 1521,12 h Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 2 mst, total luas daun terluas diperoleh pada kombinasi V2A3 (Pioneer 23 dan pupuk organik dan kapur) yaitu 2117,82 cm2, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4A0 (Arjuna dan tanpa amandemen) yaitu 1053,13 cm2.
Total luas daun jagung pada kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara pada umur 2 MST disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Varietas dan Metode Pengelolaan Hara terhadap Total Luas Daun (cm2) Jagung Pengamatan 2 MST
Perlakuan Total Luas Daun (cm2)
P1 P2 P3
V1 1800,72 c 1811,41 c 1792,90 c V2 1984,12 ab 2008,44 a 1966,40 b
V3 1631,03 de 1649,57 d 1617,53 e V4 1317,22 f 1380,56 f 1277,93 g Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
Pada pengamatan 2 mst, total luas daun terluas diperoleh pada kombinasi V2P2 (Pioneer 23 dan dosis PUTK) yaitu 2008,44 cm2, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4P3 (Arjuna dan dosis yang digunakan petani) yaitu 1277,93 cm2.
Total luas daun jagung pada kombinasi varietas dan amandemen pada umur 6 MST disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Varietas dan Amandemen terhadap Total Luas Daun (cm2) Jagung Pengamatan 6 MST
Perlakuan Total Luas Daun (cm2)
A0 A1 A2 A3
V1 5902,40 g 6120,89 e 6007,54 f 6184,38 e V2 6305,03 d 6832,11 b 6518,10 c 7354,24 a V3 5487,82 i 5690,76 i 5592,51 j 5820,23 h V4 5085,30 o 5268,17 m 5175,96 n 5345,54 l Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 6 mst, total luas daun terluas diperoleh pada kombinasi V2A3 (Pioneer 23 dan pupuk organik dan kapur) yaitu 7354,24 cm2, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4A0 (Arjuna dan tanpa amandemen) yaitu 5085,30 cm2.
Total luas daun jagung pada kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara pada umur 6 MST disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Varietas dan Metode Pengelolaan Hara terhadap Total Luas Daun (cm2) Jagung Pengamatan 6 MST
Perlakuan Total Luas Daun (cm2)
P1 P2 P3
V1 6050,84 d 6082,27 d 6028,30 d V2 6746,80 b 6906,69 a 6603,62 c
V3 5637,80 f 5698,18 e 5607,51 f V4 5218,64 gh 5255,56 g 5182,03 h Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 2 mst, total luas daun terluas diperoleh pada kombinasi V2P2 (Pioneer 23 dan dosis PUTK) yaitu 6906,69 cm2, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4P3 (Arjuna dan dosis yang digunakan petani) yaitu 5182,03 cm2.
Rasio Tajuk/ Akar
Data pengamatan rasio tajuk/ akar jagung pada pengamatan 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam (MST) dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 11 sampai 14. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan
varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk/ akar pada umur 2, 4 dan 6 MST.
Rasio tajuk/ akar pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara pada pengamatan 2, 4 dan 6 MST terdapat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rasio Tajuk/ Akar Jagung pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara pada Umur 2, 4 dan 6 MST
Perlakuan Rasio Tajuk/ Akar 2 mst4 mst 6 mst Varietas V1 (Pioneer 12) 1,30 3,21 2,40 V2 (Pioneer 23) 1,69 4,30 3,44 V3 (NK 22) 1,04 2,65 2,12 V4(Arjuna) 0,84 2,15 1,72 Amandemen A0 (tanpa amandemen) 1,09 b 2,76 b 2,21 b A1(pupuk organik) 1,31 a 3,22 a 2,50 ab A2 (kapur) 1,15 b 2,94 b 2,27 b
A3 (pupuk organik dan kapur) 1,34 a 3,39 a 2,71 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 1,23 b 1,25 b 1,17 b
P2(dosis PUTK) 3,11 a 3,16 a 2,97 a P3 (dosis yang digunakan petani) 2,42 ab 2,50 ab 2,35 ab Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak
Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 2, 4 dan 6 MST varietas yang terbaik untuk parameter rasio tajuk/ akar adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2hari-1)
Data pengamatan laju asimilasi bersih (LAB) pada pengamatan 2 – 4 dan 4 – 6 minggu setelah tanam (MST) dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 15, 16 dan 17. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 MST, tetapi pada umur 4 – 6 MST berpengaruh nyata. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan pengelolaan
hara (V x A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST.
Laju asimilasi bersih pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara pada pengamatan 2 - 4 MST dan 4 - 6 MST terdapat pada Tabel 8. Tabel 8. Laju Asimilasi Bersih Jagung (g.cm-2 hari-1) pada Perlakuan Varietas,
Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara pada Umur 2 - 4MST dan 4 - 6 MST
Perlakuan Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) 2 – 4 mst 4 – 6 mst Varietas V1 (Pioneer 12) 0,00029 b 0,00021 b V2 (Pioneer 23) 0,00048 a 0,00044 a V3 (NK 22) 0,00018 bc 0,00016 c V4(Arjuna) 0,00012 c 0,00009 d Amandemen A0 (tanpa amandemen) 0,00022 c 0,00018 d A1(pupuk organik) 0,00029 b 0,00024 b A2 (kapur) 0,00024 c 0,00021 c
A3 (pupuk organik dan kapur) 0,00032 a 0,00028 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 0,00027 b 0,00022 b
P2(dosis PUTK) 0,00028 a 0,00024 a
P3 (dosis yang digunakan petani) 0,00025 c 0,00021 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 2 - 4 dan 4 - 6 MST varietas yang terbaik untuk parameter laju asimilasi bersih adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari
perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Laju asimilasi bersih jagung pada kombinasi varietas dan amandemen pada umur 2 - 4 MST disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Varietas dan Amandemen terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) Jagung Pengamatan 2 – 4 MST
Perlakuan Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) A0 A1 A2 A3
V1 0,00023 h 0,00032 f 0,00026 g 0,00034 e V2 0,00038 d 0,00051 b 0,00043 c 0,00061 a V3 0,00016 j 0,00018 ij 0,00018 ij 0,00020 i V4 0,00009 m 0,00013 k 0,00011 l 0,00014 k Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 2 – 4 mst, laju asimilasi bersih tertinggi diperoleh pada kombinasi V2A3 (Pioneer 23 dan pupuk organik + kapur) yaitu 0,00061 g.cm-2 hari-1, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4A0 (Arjuna dan tanpa amandemen) yaitu 0,00009 g.cm-2 hari-1.
Laju asimilasi bersih jagung pada kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara pada umur 2 – 4 MST disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Varietas dan Metode Pengelolaan Hara terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) Jagung Pengamatan 2 – 4 MST
Perlakuan Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) P1 P2 P3 V1 0,00029 de 0,00030 d 0,00028 e V2 0,00049 b 0,00051 a 0,00046 c V3 0,00018 f 0,00019 f 0,00018 f V4 0,00012 g 0,00013 g 0,00011 h Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 2 – 4 mst, laju asimilasi bersih tertinggi diperoleh pada kombinasi V2P2 (Pioneer 23 dan dosis PUTK) yaitu 0,00051 g.cm-2 hari-1, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4P3 (Arjuna dan dosis yang digunakan petani) yaitu 0,00011 g.cm-2 hari-1.
Laju asimilasi bersih jagung pada kombinasi varietas dan amandemen pada umur 4 – 6 MST disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Varietas dan Amandemen terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) Jagung Pengamatan 4 – 6 MST
Perlakuan Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) A0 A1 A2 A3
V1 0,00016 g 0,00024 f 0,00019 g 0,00025 e V2 0,00035 d 0,00046 b 0,00039 c 0,00055 a V3 0,00014 i 0,00016 h 0,00016 h 0,00018 h V4 0,00006 l 0,00011 j 0,00009 k 0,00012 j Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 4 – 6 mst, laju asimilasi bersih tertinggi diperoleh pada kombinasi V2A3 (Pioneer 23, pupuk organik dan kapur) yaitu 0,00055 g.cm-2har-1,
sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4A0 (Arjuna dan tanpa amandemen) yaitu 0,00006 g.cm-2 hari-1.
Laju asimilasi bersih jagung pada kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara pada umur 2 – 4 MST disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Varietas dan Metode Pengelolaan Hara terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) Jagung Pengamatan 4 – 6 MST
Perlakuan Laju Asimilasi Bersih (g.cm-2 hari-1) P1 P2 P3
V1 0,00021 de 0,00022 d 0,00020 e V2 0,00044 b 0,00046 a 0,00042 c
V3 0,00016 f 0,00017 f 0,00016 f V4 0,00010 g 0,00010 g 0,00008 g Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji Duncan 5%.
Pada pengamatan 4 – 6 mst, laju asimilasi bersih tertinggi diperoleh pada kombinasi V2P2 (Pioneer 23 dan dosis PUTK) yaitu 0,00046 g.cm-2 hari-1, sedangkan yang terendah diperoleh pada kombinasi V4P3 (Arjuna dan dosis yang digunakan petani) yaitu 0,00008 g.cm-2 hari-1.
Laju Tumbuh Relatif (ghari-1)
Data pengamatan laju tumbuh relatif (LTR) pada pengamatan 2 – 4 dan 4 – 6 minggu setelah tanam (MST) dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 15, 18 dan 19. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedang kombinasi
perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh tidak nyata terhadap LAB pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap LTR pada umur 2 – 4 dan 4 – 6 MST.
Laju tumbuh relatif pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara pada pengamatan 2 - 4 MST dan 4 - 6 MST terdapat pada Tabel 13. Tabel 13. Laju Tumbuh Relatif Jagung (g hari-1) pada Perlakuan Varietas,
Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara pada Umur 2 - 4MST dan4 - 6 MST
Perlakuan Laju Tumbuh Relatif (g hari-1) 2 – 4 mst 4 – 6 mst Varietas V1 (Pioneer 12) 0,2586 0,0686 V2 (Pioneer 23) 0,2586 0,0686 V3 (NK 22) 0,2586 0,0685 V4(Arjuna) 0,2585 0,0517 Amandemen A0 (tanpa amandemen) 0,2585 0,0641 A1(pupuk organik) 0,2586 0,0644 A2 (kapur) 0,2586 0,0642
A3 (pupuk organik dan kapur) 0,2586 0,0647 Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 0,2586 0,0644
P2(dosis PUTK) 0,2586 0,0645
P3 (dosis yang digunakan petani) 0,2585 0,0641
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 2 - 4 dan 4 - 6 MST varietas yang terbaik untuk parameter laju tumbuh relatif adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Serapan N (mg/tanaman)
Data pengamatan serapan N pada pengamatan 6 MST dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 20 dan 21. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh nyata terhadap serapan N. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh nyata terhadap serapan N.
Serapan N pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara terdapat pada Tabel 14.
Tabel 14. Serapan N pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Perlakuan Serapan N (mg/tanaman) Varietas V1 (Pioneer 12) 2,67 b V2(Pioneer 23) 2,68 a V3 (NK 22) 2,66 c V4(Arjuna) 2,64 d Amandemen A0 (tanpa amandemen) 2,62 d A1(pupuk organik) 2,68 b A2 (kapur) 2,65 c
A3 (pupuk organik dan kapur) 2,70 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 2,67 b
P2(dosis PUTK) 2,70 a
P3 (dosis yang digunakan petani) 2,62 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa pada varietas yang terbaik untuk parameter serapan N adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Rata-rata hasil uji jarak Duncan untuk serapan N akibat interaksi varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Data Rata-rata Serapan N (mg/tanaman) Jagung Akibat Interaksi Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Tanpa Amandemen (A0) Perlakuan Dosis anjuran
pemerintah (P1) Dosis PUTK (P2) Dosis Petani (P3) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 2,61n-p 2,66i-l 2,65j-m 2,61n-p 2,65j-m 2,68f-i 2,64k-n 2,65j-m 2,58pqr 2,60opq 2,57qr 2,56r Perlakuan Pupuk Organik (A1)
Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 2,72b-e 2,68f-i 2,68f-i 2,64k-n 2,74abc 2,73bcd 2,70d-g 2,71c-f 2,65j-m 2,65j-m 2,63l-o 2,63l-o Perlakuan Kapur (A2) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 2,67h-k 2,66i-l 2,65j-m 2,63l-o 2,69e-h 2,70d-g 2,69e-h 2,68f-i 2,62m-o 2,62m-o 2,60opq 2,56r Perlakuan Pupuk Organik dan Kapur (A3) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 2,70d-g 2,73bcd 2,70d-g 2,66i-l 2,75ab 2,77a 2,75ab 2,75ab 2,68f-i 2,68f-i 2,65j-m 2,63l-o
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5 %
Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa serapan N tertinggi dijumpai pada kombinasi V2A3P2 (varietas Pioneer 23, pupuk organik dan kapur dan dosis PUTK) yaitu 2,77 mg/tanaman, sedangkan yang terendah dijumpai pada kombinasi V4A2P3 (varietas arjuna, kapur dan dosis yang digunakan petani) yaitu 2,56 mg/tanaman.
Serapan P (mg/tanaman)
Data pengamatan serapan P pada pengamatan 6 MST dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 20 dan 22. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap serapan P. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap serapan P. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap serapan P. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh nyata terhadap serapan P. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh tidak nyata terhadap serapan P. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh nyata terhadap serapan P. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh nyata terhadap serapan P.
Serapan P pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara terdapat pada Tabel 16.
Tabel 16. Serapan P pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Perlakuan Serapan P (mg/tanaman) Varietas V1 (Pioneer 12) 0,34 a V2(Pioneer 23) 0,35 a V3 (NK 22) 0,32 b V4(Arjuna) 0,32 b Amandemen A0 (tanpa amandemen) 0,30 d A1(pupuk organik) 0,35 b A2 (kapur) 0,32 c
A3 (pupuk organik dan kapur) 0,36 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 0,34 b
P2(dosis PUTK) 0,37 a
P3 (dosis yang digunakan petani) 0,29 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa pada varietas yang terbaik untuk parameter serapan P adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Rata-rata hasil uji jarak Duncan untuk serapan P akibat interaksi varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Data Rata-rata Serapan P (mg/tanaman) Jagung Akibat Interaksi Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Tanpa Amandemen (A0) Perlakuan Dosis anjuran
pemerintah (P1) Dosis PUTK (P2) Dosis Petani (P3) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK22 (V3) Arjuna (V4) 0,31hi 0,33fg 0,28m 0,77m 0,38cd 0,39bc 0,32gh 0,32gh 0,27m 0,28lm 0,25n 0,24n Perlakuan Pupuk Organik (A1)
Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK22 (V3) Arjuna (V4) 0,38cd 0,39bc 0,34ef 0,34ef 0,37d 0,39bc 0,37d 0,37d 0,30ij 0,32gh 0,29kl 0,29k-m Perlakuan Kapur (A2) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK22 (V3) Arjuna (V4) 0,30ij 0,33fg 0,30ij 0,31hi 0,35e 0,35e 0,38cd 0,35ef 0,28lm 0,30ij 0,27m 0,27m Perlakuan Pupuk Organik dan Kapur (A3) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK22 (V3) Arjuna (V4) 0,37d 0,38cd 0,35ef 0,38cd 0,40b 0,42a 0,38cd 0,38cd 0,32gh 0,32gh 0,31hi 0,31hi
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5 %
Dari Tabel 17 dapat dilihat bahwa serapan P tertinggi dijumpai pada kombinasi V2A3P2 (varietas pioneer 23, pupuk organik dan kapur dan dosis PUTK) yaitu 0,42 mg/tanaman, sedangkan yang terendah dijumpai pada kombinasi V4A0P3 (varietas arjuna, tanpa amandemen dan dosis yang digunakan petani) yaitu 0,24 mg/tanaman.
Serapan K (mg/tanaman)
Data pengamatan serapan K pada pengamatan 6 MST dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 20 dan 23. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap serapan K. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap serapan K. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh nyata terhadap serapan K. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh nyata terhadap serapan K. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh nyata terhadap serapan K. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap serapan K. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh nyata terhadap serapan K.
Serapan K pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara terdapat pada Tabel 18.
Tabel 18. Serapan K pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Perlakuan Serapan K (mg/tanaman) Varietas V1 (Pioneer 12) 1,58 b V2(Pioneer 23) 1,71 a V3 (NK 22) 1,55 c V4(Arjuna) 1,53 d Amandemen A0 (tanpa amandemen) 1,48 d A1(pupuk organik) 1,62 b A2 (kapur) 1,56 c
A3 (pupuk organik dan kapur) 1,72 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 1,60 b
P2(dosis PUTK) 1,66 a
P3 (dosis yang digunakan petani) 1,51 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa pada varietas yang terbaik untuk parameter serapan K adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Rata-rata hasil uji jarak Duncan untuk serapan K akibat interaksi varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Data Rata-rata Serapan K (mg/tanaman) Jagung Akibat Interaksi Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Tanpa Amandemen (A0) Perlakuan Dosis anjuran
pemerintah (P1) Dosis PUTK (P2) Dosis Petani (P3) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK22 (V3) Arjuna (V4) 1,43tuv 1,59lmn 1,45stu 1,44stu 1,51pqr 1,64jkl 1,53opq 1,56m-p 1,38vwx 1,47rst 1,36wx 1,35x Perlakuan Pupuk Organik (A1)
Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 1,60klm 1,79cd 1,59lmn 1,56m-p 1,67f-I 1,85b 1,66ghi 1,57mno 1,54n-q 1,66ghi 1,49qrs 1,46r-u Perlakuan Kapur (A2) Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 1,51pqr 1,71efg 1,51pqr 1,57mno 1,58mno 1,80bcd 1,59lmn 1,51pqr 1,45stu 1,62j-m 1,45stu 1,41uvw Perlakuan Pupuk Organik dan Kapur (A3)
Pioner 12 (V1) Pioner 23 (V2) NK 22 (V3) Arjuna (V4) 1,76de 1,81bcd 1,71efg 1,65ijk 1,83bc 1,91a 1,72ef 1,70fgh 1,66ghi 1,70fgh 1,56m-p 1,62j-m
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5 %
Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa serapan K tertinggi dijumpai pada kombinasi V2A3P2 (varietas pioneer 23, pupuk organik dan kapur dan dosis PUTK) yaitu 1,91 mg/tanaman, sedangkan yang terendah dijumpai pada kombinasi V4A0P3 (varietas arjuna, tanpa amandemen dan dosis yang digunakan petani) yaitu 1,35 mg/tanaman.
Jumlah Tongkol per Plot (buah)
Data pengamatan jumlah tongkol per plot jagung pada pengamatan 6 MST dan hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 24 dan 25. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Pada perlakuan amandemen (A) berpengaruh nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Perlakuan metode pengelolaan hara (P) berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan amandemen (V x A) berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Sedang kombinasi perlakuan varietas dengan metode pengelolaan hara (V x P) berpengaruh nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Untuk kombinasi perlakuan amandemen dengan metode pengelolaan hara (A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tongkol per plot. Sedangkan kombinasi perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara (V x A x P) berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tongkol per plot.
Jumlah tongkol per plot pada perlakuan varietas, amandemen dan metode pengelolaan hara terdapat pada Tabel 20.
Tabel 20. Jumlah Tongkol per Plot Jagung (buah) pada Perlakuan Varietas, Amandemen dan Metode Pengelolaan Hara
Perlakuan Jumlah Tongkol per Plot (buah) Varietas V1 (Pioneer 12) 32,81 V2(Pioneer 23) 33,06 V3 (NK 22) 32,78 V4(Arjuna) 32,50 Amandemen A0 (tanpa amandemen) 32,25 b A1(pupuk organik) 32,92 a A2 (kapur) 32,81 a
A3 (pupuk organik dan kapur) 33,17 a Metode Pengelolaan Hara
P1 (dosis anjuran pemerintah) 32,69
P2(dosis PUTK) 33,02
P3 (dosis yang digunakan petani) 32,65
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa pada varietas yang terbaik untuk parameter jumlah tongkol per plot adalah perlakuan V2 (Pioneer 23), yang diikuti perlakuan V1 (Pioneer 12), V3 (NK 22) dan V4 (Arjuna). Dari perlakuan amandemen diperoleh pada A3 (pupuk organik dan kapur), yang diikuti denganperlakuan A1 (pupuk organik), A2 (kapur) dan A0 (tanpa amandemen). Dari perlakuan metode pengelolaan haradiperoleh pada P2 (dosis PUTK), yang diikuti dengan perlakuan P1 (dosis anjuran pemerintah)dan P3 (dosis yang digunakan petani).
Jumlah tongkol per plot jagung pada kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21. Varietas dan Metode Pengelolaan Hara terhadap Jumlah Tongkol per Plot (buah) Jagung
Perlakuan Jumlah Tongkol per Plot (buah)
P1 P2 P3
V1 32,67 b 33,08 ab 32,67 b
V2 32,42 b 33,83 a 32,92 b
V3 32,83 b 33,00 ab 32,50 b V4 32,83 b 32,17 b 32,50 b Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dengan kolom
yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.
Kombinasi varietas dan metode pengelolaan hara (V x P), rataan terbanyak