Hasil
Jumlah Tunas
Data pengamatan jumlah tunas bibit jeruk nipis umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 7 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam berpengaruh nyata, sedangkan konsentrasi IBA dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Jumlah tunas bibit jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan jumlah tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbanyak diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 1 juga menunjukkan jumlah tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbanyak diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 200 ppm (I2) yang
berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 1. Jumlah tunas (unit) bibit jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST
Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 2.89 4.11 4.33 4.67 4.00 a B2 (batang dengan daun) 2.78 3.11 3.67 3.89 3.36 ab B3 (batang tanpa daun) 2.78 1.67 3.22 2.11 2.44 b
Rataan 2.81 2.96 3.74 3.56
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Panjang Tunas
Data pengamatan panjang tunas bibit jeruk nipis umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 8 dan 10 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam dan konsentrasi IBA berpengaruh nyata, sedangkan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Panjang tunas bibit jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan panjang tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terpanjang diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2) dan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 2 juga menunjukkan panjang tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terpanjang diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 300 ppm (I3) yang
berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi IBA 200 ppm (I2), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi IBA 0 ppm (I0) dan 100 ppm (I1). Tabel 2. Panjang tunas (cm) bibit jeruk nipis umur pada berbagai bahan tanam dan
konsentrasi IBA umur 14 MST Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 3,61 4,34 4,77 4,56 4,32 a B2 (batang dengan daun) 1,46 2,34 2,83 5,01 2,91 b B3 (batang tanpa daun) 1,13 1,21 2,59 1,53 1,62 c
Rataan 2,07 c 2,63 bc 3,39 ab 3,70 a
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom dan baris menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Hubungan panjang tunas (cm) bibit tanaman jeruk nipis umur 14 MST terhadap berbagai konsentrasi IBA dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Hubungan panjang tunas (cm) bibit tanaman jeruk nipis terhadap berbagai konsentrasi IBA umur 14 MST
Gambar 2 menunjukkan bahwa hubungan panjang tunas bibit jeruk nipis dengan konsentrasi IBA berbentuk linear dimana pemberian IBA hingga 300 ppm (I3) masih meningkatkan panjang tunas.
Persentase Setek Hidup
Data pengamatan persentase setek hidup jeruk nipis tahap pengakaran (umur 4 MST) serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 11 dan 12 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam dan konsentrasi IBA serta interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata, sedangkan persentase setek hidup jeruk nipis tahap pembibitan (umur 14 MST) serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 13 dan 14 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam berpengaruh nyata, sedangkan konsentrasi IBA serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Persentase setek hidup jeruk nipis pada tahap pengakaran (umur 4 MST) dan tahap pembibitan (umur 14 MST) pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA dapat dilihat pada Tabel 3.
ŷ = 0,005x + 2,1 R² = 0,977 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 0 50 100 150 200 250 300 350 P anj ang t una s (c m ) Konsentrasi IBA (ppm)
Tabel 3 menunjukkan persentase setek hidup jeruk nipis pada tahap pengakaran (umur 4 MST) tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2) dan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 3 menunjukkan persentase setek hidup jeruk nipis pada tahap pembibitan (umur 14 MST) tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2) dan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 3 juga menunjukkan persentase setek hidup pada perlakuan konsentrasi IBA pada umur 4 MST tertinggi diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 0 ppm (I0) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada umur 14 MST tertinggi perlakuan konsentrasi IBA 300 ppm (I3) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 3. Persentase setek hidup (%) jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 4 MST dan 14 MST
Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300) 4 MST
B1 (pucuk tanpa daun) 66,67 73,33 36,67 60,00 59,17 B2 (batang dengan daun) 50,00 43,33 50,00 46,67 47,50 B3 (batang tanpa daun) 73,33 53,33 53,33 53,33 58,33
Rataan 63,33 56,67 46,67 53,33 14 MST
B1 (pucuk tanpa daun) 93,33 100,00 73,33 100,00 91,67 a B2 (batang dengan daun) 66,67 60,00 60,00 73,33 65,00 b B3 (batang tanpa daun) 66,67 73,33 73,33 66,67 70,00 b
Rataan 75,56 77,78 68,89 80,00
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Persentase Setek Berakar per sampel
Data pengamatan persentase setek berakar per sampel jeruk nipis pada umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 15 dan 17 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam berpengaruh nyata, sedangkan konsentrasi IBA dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Persentase setek berakar per sampel jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 menunjukkan persentase setek berakar per sampel jeruk nipis pada umur 14 MST tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2) dan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 4 juga menunjukkan persentase setek berakar per sampel jeruk nipis pada umur 14 MST tertinggi diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 200 ppm (I2) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 4. Persentase setek berakar per sampel (%) jeruk nipis umur pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST
Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 77,78 88,89 77,78 77,78 80,56 a B2 (batang dengan daun) 55,56 55,56 66,67 66,67 61,11 b B3 (batang tanpa daun) 33,33 22,22 66,67 33,33 38,89 b
Rataan 55,56 55,56 70,37 59,26
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Volume Akar
Data pengamatan volume akar bibit jeruk nipis umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 18 dan 20 yang menunjukkan perlakuan
bahan tanam berpengaruh nyata, sedangkan konsentrasi IBA dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Volume akar bibit jeruk nipis 14 MST pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 menunjukkan volume akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbesar diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan setek batang tanpa daun (B3).
Tabel 5 juga menunjukkan volume akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbesar diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 200 ppm (I2) yang
berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 5. Volume akar (ml) bibit jeruk nipis umur pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST
Bahan Tanam (Setek)
Konsentrasi IBA (ppm) Rataan I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 0.71 0.93 0.71 0.68 0.76 a B2 (batang dengan daun) 0.46 0.39 0.74 0.81 0.60 ab B3 (batang tanpa daun) 0.18 0.12 0.50 0.33 0.28 b
Rataan 0.45 0.48 0.65 0.61
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Bobot Kering Tajuk
Data pengamatan bobot kering tajuk bibit jeruk nipis umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 21 dan 22 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam, konsentrasi IBA dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Bobot kering tajuk bibit jeruk nipis 14 MST pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan bobot kering tajuk bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terberat diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek batang dengan daun (B2) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 6 juga menunjukkan bobot kering tajuk bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terberat diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 300 ppm (I3) yang
berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 6. Bobot kering tajuk (g) bibit jeruk nipis umur pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST
Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 1.57 1.98 1.58 2.08 1.80 B2 (batang dengan daun) 1.57 1.77 2.21 2.66 2.05 B3 (batang tanpa daun) 1.54 1.93 1.60 1.54 1.66
Rataan 1.56 1.89 1.80 2.09
Bobot Kering Akar
Data pengamatan bobot kering akar bibit jeruk nipis umur 14 MST serta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 23 dan 25 yang menunjukkan perlakuan bahan tanam berpengaruh nyata, sedangkan konsentrasi IBA dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Bobot kering akar bibit jeruk nipis 14 MST pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 menunjukkan bobot kering akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terberat diperoleh pada bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan setek batang dengan daun (B2), tetapi
Tabel 7 juga menunjukkan bobot kering akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terberat diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 300 ppm (I3) yang
berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 7. Bobot kering akar (g) jeruk nipis pada berbagai bahan tanam dan konsentrasi IBA umur 14 MST
Bahan Tanam
(Setek) Konsentrasi IBA (ppm) Rataan
I0 (0) I1 (100) I2 (200) I3 (300)
B1 (pucuk tanpa daun) 0.21 0.23 0.21 0.29 0.24 a B2 (batang dengan daun) 0.17 0.13 0.24 0.31 0.21 ab B3 (batang tanpa daun) 0.09 0.07 0.13 0.11 0.10 b
Rataan 0.16 0.14 0.20 0.24
Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan berbeda tidak nyata dengan uji DMRT 5%.
Pembahasan
Respons pertumbuhan setek jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) pada berbagai bahan tanam
Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa penggunaan bahan tanam setek berpengaruh nyata pada parameter jumlah dan panjang tunas, persentase setek hidup pada umur 14 MST, persentase setek berakar per sampel, volume dan bobot kering akar, sedangkan pada parameter persentase setek hidup umur 4 MST dan bobot kering tajuk berpengaruh tidak nyata pada penggunaan bahan tanam setek.
Tabel 1 menunjukkan jumlah tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbanyak adalah 4,00 unit diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1), sedangkan jumlah tunas tersedikit adalah 2,44 unit diperoleh pada perlakuan setek batang tanpa daun (B3), dengan perbedaan jumlah tunas antara B1 dan B3 mencapai 39 %. Tabel 2 juga menunjukkan panjang tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terpanjang adalah 4,32 cm diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B ), sedangkan panjang tunas
terpendek adalah 1,62 diperoleh pada perlakuan setek batang tanpa daun (B3).Hal ini menunjukkan bahwa pada bagian pucuk tanaman merupakan tempat terjadinya sintesis auksin yang akan merangsang pembentukan akar pada setek. Dimana auksin yang ada pada bagian pucuk akan dialirkan ke bagian-bagian bawah dari pucuk tanaman termasuk pada bagian node-node batang, sehingga dapat merangsang pembentukan sejumlah tunas. Tunas yang baru muncul akan mengalami perkembangan dan pemanjangan dari tunas tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Fanesa (2011) yang menyatakan bahwa bagian ujung cabang atau pucuk tanaman merupakan tempat sintesis auksin yang akan membantu terbentuknya akar pada setek. Auksin yang ada pada bagian pucuk kemudian diedarkan ke bagian-bagian yang ada dibawahnya termasuk tempat kedudukan tunas-tunas cabang.
Tabel 3 menunjukkan persentase setek hidup pada umur 14 MST tertinggi adalah 91,67 % diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1), sedangkan persentase setek hidup terendah adalah 65,00 % diperoleh pada perlakuan setek batang tanpa daun (B2). Tabel 4 juga menunjukkan persentase setek berakar per sampel pada umur 14 MST tertinggi adalah 80,56 % diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1), sedangkan persentase setek berakar per sampel terendah adalah 38,89 % diperoleh pada perlakuan setek batang tanpa daun (B3). Tingginya persentase setek hidup dan setek berakar per sampel pada penggunaan bahan tanam setek pucuk tanpa daun menunjukkan bahwa pada bagian pucuk tanaman merupakan tempat terjadinya sintesis auksin, dimana auksin merupakan hormon yang merangsang pembentukan akar pada tanaman. Auksin pada ujung/pucuk tanaman dialirkan ke bagian bawah batang,
sehingga akan memicu terbentuknya akar yang menandakan tanaman tersebut terjadinya perkembangan. Hal ini sesuai dengan literatur literatur Fanesa (2011) yang menyatakan bahwa bagian ujung cabang atau pucuk tanaman merupakan tempat sintesis auksin yang akan membantu terbentuknya akar pada setek.
Tabel 5 juga menunjukkan volume akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terbesar adalah 0,76 ml diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk tanpa daun (B1), sedangkan rataan volume akar terendah adalah 0,28 ml yaitu pada perlakuan setek batang tanpa daun (B3). Rendahnya volume akar pada perlakuan bahan tanam setek batang tanpa daun disebabkan karena pada setek tersebut sudah memiliki cadangan makanan (karbohidrat) yang cukup, namun pada bahan setek tersebut tidak terkandung hormon auksin endogen untuk mampu mengeluarkan akar dan tunas. Dan pada bahan setek yang digunakan juga harus melekat dua atau tiga daun, dimana peranan daun juga dapat mempercepat pembentukan dan perkembangan akar melalui proses asimilasi yang dilakukan. Hal ini sesuai dengan literatur Irwanto (2001) yang menyatakan bahwa peranan daun pada setek juga cukup besar, karena daun akan melakukan proses asimilasi dan hasil asimilasi tentu dapat mempercepat pertumbuhan akar. Tetapi jumlah daun yang terlalu banyak, mempunyai proses transpirasi yang besar.
Tabel 7 menunjukkan bobot kering akar bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terberat adalah 0,24 g diperoleh pada perlakuan bahan tanam setek pucuk
tanpa daun (B1), sedangkan bobot kering akar teringan adalah 0,10 g diperoleh pada perlakuan setek batang tanpa daun (B3). Hal ini menunjukkan bahwa pada bagian pucuk tanaman terjadi sintesis auksin, dimana auksin pada bagian pucuk dialirkan pada bagian pangkal setek yang akan merangsang pembentukan akar.
Pembentukan akar tersebut diawali dengan berdediferensiasinya sel-sel tanaman yang luka, kemudian sel-sel yang bersifat meristematis yang disebut kalus terbentuk dan berinisiasi membentuk primordia akar dan akhirnya membentuk akar baru. Hal ini sesuai dengan literatur Purdyaningsih (2012) yang menyatakan bahwa proses pembentukan akar pada setek meliputi tiga tahap, yaitu inisiasi akar, pembentukan primordial akar dan terbentuknya akar baru.
Respons pertumbuhan setek jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) pada berbagai konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)
Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa pemberian zat pengatur tumbuh IBA berpengaruh nyata pada parameter panjang tunas, sedangkan pada parameter persentase setek hidup, persentase setek berakar per sampel, jumlah tunas, volume akar, bobot kering akar dan bobot kering tajuk tidak berpengaruh nyata pada pemberian zat pengatur tumbuhan IBA.
Tabel 2 menunjukkan panjang tunas bibit jeruk nipis pada umur 14 MST terpanjang adalah 3,70 cm diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 300 ppm (I3), sedangkan rataan tunas terpendek adalah 2,07 cm diperoleh pada perlakuan konsentrasi IBA 0 ppm (I0). Pemberian zat pengatur tumbuh IBA yang mengandung auksin menstimulir pertumbuhan akar, dimana pembentukan akar seiring dengan pembentukan dan perkembangan tunas. IBA dengan konsentrasi 300 ppm mampu merangsang pemanjangan tunas pada setek, bahkan apabila ditingkatkan konsentrasi IBA akan memicu pertambahan panjang tunas. Hal ini dikarena IBA memiliki kandungan kimia yang lebih stabil dan bersifat aktif dibandingkan auksin eksogen lainnya, sehingga pada konsentrasi yang tinggi tidak menyebabkan keracunan pada tanaman yang dapat menghambat perkembangan tunas, meskipun pembentukan akar telah cukup. Hal ini sesuai dengan literatur
Ashari (1995) yang menyatakan bahwa IBA kemungkinan merupakan bahan yang terbaik, karena tidak menimbulkan keracunan sampai pada konsentrasi tinggi, serta dapat mendorong perakaran pada kebanyakan setek tanaman.
Pemberian IBA pada setek jeruk nipis dengan konsentrasi 0 ppm hingga 300 ppm menunjukkan peningkatan panjang tunas yang linear. Dimana pada konsentrasi 300 ppm masih meningkatkan panjang tunas. Oleh sebab itu tunas bibit jeruk nipis masih mampu mengalami pemanjangan yang lebih tinggi, apabila dilakukan peningkatan konsentrasi IBA yang diberikan pada bahan tanam setek. Hal tersebut dikarenakan IBA merupakan salah satu auksin yang bersifat aktif, sifat kimianya lebih stabil dan tetap berada di dekat tempat yang diberikan dan tidak menyebar ke bagian setek lain sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan bagian lain. IBA juga tidak beracun, apabila diberikan pada konsentrasi tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Sulastri (2004) yang menyatakan bahwa IBA lebih stabil sifat kimia dan mobilitasnya di dalam tanaman selain dari pada itu pengaruhnya lama. Sifat-sifat IBA inilah yang menyebabkan pemakaiannya lebih berhasil.