Hasil
Dari hasil penelitian diperoleh hasil, konsentrasi auksin mampu memberikan pengaruh nyata terhadap panjang tunas, lama perendaman auksin memberikan pengaruh nyata pada panjang tunas dan jumlah daun, namun interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada seluruh parameter.
Persentase Stek Hidup
Dari pengamatan dan sidik ragam pada Lampiran 4 dan 5, menunjukkan bahwa konsentrasi dan lama perendaman auksin serta interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap persentase stek hidup tanaman tin.
Persentase stek hidup tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persentase Stek Hidup Tanaman Tin Pada Perlakuan Konsentrasi Dan Lama Perendaman Auksin
Konsentrasi Auksin Lama Perendaman (jam)
Rataan
Walaupun berpengaruh tidak nyata, dari Tabel 1 menunjukkan perlakuan konsentrasi auksin 200 mg/L (K2) dan 300 mg/L (K3) menghasilkan persentase stek hidup tertinggi yaitu 61% dan persentase terendah pada 100 mg/L (K1) yaitu 50%. Sedangkan pada lama perendaman auksin dihasilkan jumlah tunas tertinggi
pada perlakuan 3 jam (P2) sebesar 67% yang berbeda tidak nyata dengan taraf 1 jam (P1) serta 5 jam (P3).
Umur Mulai Bertunas
Dari pengamatan dan sidik ragam pada Lampiran 6 dan 7, menunjukan bahwa konsentrasi dan lama perendaman auksin serta interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap umur mulai bertunas tanaman tin.
Umur mulai bertunas tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan laam perendaman auksin dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Umur Muncul Tunas Tanaman Tin Pada Perlakuan Konsentrasi Dan Lama Perendaman Auksin
Konsentrasi Auksin Lama Perendaman (jam)
Rataan
Walaupun berpengaruh tidak nyata, dari Tabel 2 menunjukkan umur mulai bertunas terbaik yaitu 34,35 hari pada konsentrasi 200 mg/L (K2) dengan umur muncul tunas terendah pada 0 gm/L (K0) yaitu 37,93 hari. Sedangkan pada lama perendaman auksin dihasilkan umur muncul tunas terbaik pada taraf perlakuan 1 jam (P1) sebesar 32,12 hari yang berbeda tidak nyata dengan taraf 3 jam (P2) serta 5 jam (P3).
Jumlah Tunas
Dari pengamatan dan sidik ragam pada Lampiran 8 dan 9, menunjukan bahwa konsentrasi dan lama perendaman auksin serta interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tunas tanaman tin.
Jumlah tunas tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Jumlah Tunas Tanaman Tin Pada Perlakuan Konsentrasi Dan Lama Perendaman Auksin
Konsentrasi Auksin Lama Perendaman (jam)
Rataan
Walaupun berpengaruh tidak nyata, dari Tabel 3 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi auksin 200 mg/L (K2) menghasilkan jumlah tunas tertinggi sebesar 1,39 dibandingkan dengan 0 mg/L (K0), 100 mg/L (K1) dan 300 mg/L (K3). Sedangkan pada lama perendaman auksin dihasilkan jumlah tunas tertinggi pada taraf perlakuan 5 jam (P3) sebesar 1,40 yang berbeda tidak nyata dengan taraf 1 jam (P1) serta 3 jam (P2).
Panjang Tunas
Data pengamatan dan sidik ragam pada panjang tunas tanaman tin umur 6 – 10 MST terdapat pada Lampiran 10 – 17, menunjukkan bahwa konsentrasi dan lama perendaman auksin berpengaruh nyata terhadap panjang tunas tanaman tin umur 10 MST namun interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas tanaman tin umur 10 MST.
Panjang tunas tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin umur 6 – 10 MST dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Panjang Tunas Tanaman Tin pada Perlakuan Konsentrasi dan Lama Perendaman Auksin Umur 6 – 10 MST
MST
Pada Tabel 4 menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan panjang tunas berdasarkan konsentrasi auksin disetiap pengamatan yaitu 6 MST, 8 MST pada lama perendaman 1 jam (P1).
Hubungan antara konsentrasi auksin dan panjang tunas umur 10 MST disajikan pada Gambar 1. Dan hubungan antara lama perendaman dan panjang tunas disajikan pada Gambar 2.
Gambar 1. Kurva Respons Panjang Tunas Tanaman Tin Pada Perlakuan Konsentrasi Auksin Pada Umur 10 MST
Gambar 2. Kurva Respons Panjang Tunas Tanaman Tin Pada Perlakuan Lama Perendaman Auksin Pada Umur 10 MST
Pada Gambar 1 didapatkan hasil yang menunjukan bentuk linier positif, dengan adanya peningkatan panjang tunas terhadap peningkatan konsentrasi auksin yang diberikan. Perlakuan hingga konsentrasi auksin 300 mg/L (K3)
didapatkan hasil yang menunjukan bentuk kuadratik, dimana panjang maksimum (0,85 cm) terdapat pada perendaman selama 2,29 jam.
Jumlah Daun
Dari pengamatan dan sidik ragam pada Lampiran 18 – 25 , jumlah daun tanaman tin pada umur 6 – 10 MST yang menunjukkan bahwa konsentrasi auksin berpengaruh tidak nyata, dan lama perendaman berpengaruh nyata, namun berpengaruh tidak nyata pada interaksi kedua perlakuan.
Jumlah daun tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin umur 6 – 10 MST dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Daun Tanaman Tin Pada Perlakuan Konsentrasi dan Lama Perendaman Auksin Umur 6 – 10 MST
MST Konsentrasi Auksin Lama Perendaman (jam)
Rataan
dibandingkan dengan 0 mg/L (K0), 100 mg/L (K1) dan 300 mg/L (K3).
Sedangkan pada lama perendaman auksin dihasilkan angka tertinggi pada perlakuan 1 jam (P1) dan 3 jam (P2) sebesar 0,99 cm yang berbeda nyata dengan lama perendaman 5 jam (P3).
Hubungan antara lama perendaman auksin dan jumlah daun umur 10 MST disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Kurva Respons Jumlah Daun Tanaman Tin Pada Perlakuan Lama Perendaman Auksin Umur 10 MST
Pada Gambar 3 didapatkan hasil yang menunjukan bentuk linier negatife.
Dimana hingga perendaman 5 jam, jumlah daun pada tanaman tin semakin berkurang.
Pembahasan
Respon pertumbuhan stek tin pada perlakuan konsentrasi auksin
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan konsentrasi auksin berpengaruh terhadap panjang tunas tanaman tin yaitu mencapai rataan tertinggi (0,84 cm) terdapat pada pemberian konsentrasi auksin sebanyak 300 mg/L. Hal ini
y = -0,06x + 1,09
meninggatnya pembentukan sel pembentuk akar yang baik untuk menyerap nutrisi dan unsur hara pada awal pertumbuhan vegetatif tanaman. Hal ini sesuai dengan Fanesa (2011) yang menyatakan Pengaruh ZPT terhadap kemudahan berakar berdasarkan jenis tanaman dibagi menjadi tiga kelompok, salah satunya adalah tanaman yang aktivitas salah satu unsur endogennya terbatas sehingga sulit berakar walaupun sudah diberi auksin.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian konsentrasi auksin berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun, umur muncul tunas dan jumlah tunas. Hal ini diduga karena adanya pengaruh yang tidak nyata yang disebabkan oleh faktor biologis tanaman itu sendiri. Kegagalan stek batang untuk hidup didiga disebabkan oleh faktor usia bahan dan difensiasi karbohidrat yang disebabkan tidak berjalannya proses fotosintesis karena kekurangan daun.
Daun berperan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat, sedangkan tunas berperan sebagai pusat penghasil auksin endogen yang berperan untuk menstimulir pembentukan akar (Rochiman dan Harjadi, 1973). Tidak adanya daun pada batang diduga menjadi faktor utama pada kematian stek, hal tersebut menyebabkan tidak tersediannya karbohidrat yang cukup selama inisiasi tunas baru dan akar primordial. Starr (2003) menyatakan penurunan kemampuan berakar pada jaringan tanaman tua memungkinkan karna berkurangnya kandungan senyawa fenol yang berfungsi sebagai kofaktor auksin. Selain itu, pada jaringan tanaman tua secara anatomi telah terbentuk sel schlerenchym yang sering menghambat inisiasi akar adventif karena sel-selnya sudah tidak hidup lagi.
Pengaruh yang tidak nyata yang ditunjukan tanaman akibat pemberian auksin bukan berarti auksin tidak aktif, akan tetapi ini disebabkan oleh auksin
yang bekerja secara spesifik tanpa adanya faktor lingkungan atau sifat biologis yang mendorong pertumbuhan tanaman (Fauza, 2011).
Respon pertumbuhan stek tin pada perlakuan lama perendaman auksin Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan lama perendaman berpengaruh terhadap panjang tunas dan jumlah daun yaitu dengan rataan (0,84 cm dan 0,99) pada lama perendaman 3 jam. Hal ini diduga karena lama perendaman 3 jam cukup optimal untuk membantu stek menyerap ZPT secara teratur sehingga dapat pembantu pertumbuhan vegetative tanaman khususnya pembentukan tunas. Hal ini sesuai dengan Kusuma (2003) yang menyatakan bahwa lama perendaman harus disesuaikan dengan konsentrasi larutan yang digunakan. Lamanya stek dalam larutan zat pengatur tumbuh bertujuan agar penyerapan ZPT berjalan dengan baik. Perendaman juga harus dilakukan ditempat yang teduh dan lembab agar penyerapan ZPT yang diberikan berjalan teratur, tidak fluktuatif karena pengaruh lingkungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Santoso (2011) yang menyatakan semakin rendah konsentrasi hormon yang diberikan maka lama perendamannya akan semakin lama pula. Sedangkan semakin banyak konsentrasi hormon yang diberikan maka lam perendaman hormon semakin cepat.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan lama perendaman auksin berpangaruh tidak nyata pada umur mulai bertunas dan jumlah tunas. Hal ini diduga karena pengaruh penyiraman bibit tanaman tin setiap hari, pohon tin termasuk pohon-pohonan yang mudah membusuk batang dan akarnya nila media tanam becek atau terlalu lembab (Mederes, 2008). Hal ini desesuaikan dengan BMKG Wilayah I Medan (2018) yang menyatakan bahwa data pantauan curah
hujan, suhu udara, kelembaban udara dan penyinaran matahari mulai bulan maret sampai dengan juli pada Lampiran 3 adalah 296,24 mm, 27,68 0C, 81,2 % dan 48,42 %.
Respon pertumbuhan stek tanaman tin pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin
Hasil analisis data secara statistik menunjukkan tidak adanya interaksi yang nyata pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman auksin pada semua parameter.
Pada hasil juga diperoleh bahwa pada seluruh parameter konsentrasi dan lama perendaman auksin berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan pada akhir pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua faktor perlakuan memberikan pengaruh masing masing sebagai faktor tunggal tanpa adanya interaksi yang artinya bahwa faktor faktor ini bertindak bebas satu sama lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Tenaya (2015) yang menyatakan bahwa terdapat perubahan yang tidak berarti antar perlakuan kombinasi atau tidak signifikan dikatakan interaksi yang tidak nyata. Jadi kerjasama antar faktor yang dikombinasikan dikatakan bebas satu sama lainnya.