Hasil
Danau Lido merupakan danau yang terletak pada ketinggian 502.2 m dpl. Danau Lido memiliki bentuk tidak beraturan, dan disekitar danau ditumbuhi oleh belukar dan pohon. Danau Lido merupakan danau yang relatif kecil dengan luas 21 Ha dan termasuk kategori danau buatan yang dibuat pada abad ke-18 yaitu ketika dibendungnya Sungai Ciletuh untuk pembangunan jalan raya Bogor-Sukabumi (Nancy 2007). Danau Lido mempunyai satu inlet dan dua outlet. Sumber utama air Danau Lido berasal dari aliran Sungai Ciletuh dan sumber air lainnya berasal dari air permukaan dan air aliran tanah (ground water).
Danau Lido pada awalnya dimanfaatkan untuk mengairi areal persawahan, kini Danau Lidotelah dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan, seperti KJA, wisata perahu, dan rumah makan apung. Kegiatan tersebut diduga telah mengubah kualitas dari Danau Lido. Salah satu parameter kualitas air yang dapat mengalami perubahan yaitu kandungan logam berat. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kandungan logam berat merkuri (Hg) dan timbal (Pb) pada air Danau Lido. Pengambilan sampel air dilakukan pada dua titik, yaitu area KJA dan area sawah yang berdekatan dengan area wisata perahu. Hasil analisis kandungan logam Hg dan Pb pada Danau Lido terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3 menunjukkan bahwa kandungan Pb di Danau Lido telah melewati baku mutu. Baku mutu tersebut mengacu pada PP No. 82 tahun 2001 mengenai pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air untuk kelas 3 yaitu untuk kegiatan perikanan. Kandungan Hg pada Danau Lido tidak terdeteksi
13 dalam hasil analisis sehingga kandungan Hg pada Danau Lido masih di bawah baku mutu.
Tabel 3 Kandungan logam berat pada air Danau Lido
Logam Satuan Area
Sawah Area KJA Baku Mutu* Timbal (Pb) mg/L 0.190 0.083 0.03 Raksa (Hg) mg/L <0.002 <0.002 0.002
* PP No. 82 tahun 2001 peruntukan kelas III
Massa telur (eggmass) yang berasal dari Danau Lido merupakan telur larva chironomid dari genus Kiefferulus sp. Ciri khusus Kiefferulus sp. yang dipelihara dalam laboratorium yaitu memiliki sepasang insang, terdapat 5 ruas antena, memiliki gigi mentum, gigi premandible berjumlah lebih dari 2, dan memiliki mandible bergigi banyak, serta tidak memiliki striae. Klasifikasi genus
Kiefferulus sp. menurut Eppler (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Diptera Famili : Chironomidae Subfamili : Chironominae Genus : Kiefferulus sp.
Kandungan logam berat pada perairan telah diketahui dapat menyebabkan perubahan atau abnormalitas pada morfologi biota akuatik. Untuk mendeskripsikan abnormalitas pada morfologi larva chironomid diambil sejumlah contoh larva yang telah dipelihara di laboratorium. Jumlah total larva Kiefferulus
sp. yang dianalisis secara morfologi sebanyak 1083 individu. Hasil pengamatan dari setiap individu menunjukkan bahwa hampir seluruh individu mengalami deformitas, hal tersebut dapat dibuktikan dengan nilai persentase abnormalitas dari setiap perlakuan menunjukkan nilai yang tinggi (Tabel 4).
Tabel 4 Persentase abnormalitas pada larva Kiefferulus sp. yang dipaparkan logam berat Hg Hg (µg/L) ∑Rata-rata individu % Deformitas 0 53 100.00 0.2 66 98.97 0.6 62 99.44 1.4 60 99.44 1.8 57 100.00
14
Persentase abnormalitas pada perlakuan Hg 0.2 µg/L, 0.6 µg/L, dan 1.4 µg/L menunjukkan bahwa terdapat individu yang tidak mengalami deformitas. Individu yang tidak mengalami abnormalitas yaitu masing-masing 1 individu dari rata-rata jumlah individu pada setiap perlakuan. Nilai persentase abnormalitas juga menunjukkan nilai yang tidak berbeda secara signifikan antar tiap perlakuan. Abnormalitas yang dianalisis pada penelitian ini yaitu abnormalitas gigi pada mentum larva Kiefferulus sp. Abnormalitas gigi pada mentum larva
Kiefferulus sp. dilihat berdasarkan bagian-bagian gigi pada mentum, yaitu gigi median merupakan gigi yang diapit oleh gigi yang lebih kecil, median lateral merupakan dua gigi yang lebih besar, dan lateral merupakan empat gigi luar yang lebih kecil di kedua sisi (Gambar 4). Besarnya persentase abnormalitas pada setiap bagian gigi dari seluruh perlakuan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Persentase abnormalitas pada setiap bagian gigi larva Kiefferulus sp. yang dipaparkan logam Hg
Gambar 6 menunjukkan bahwa abnormalitas lebih banyak terjadi pada gigi bagian lateral. Abnormalitas banyak terjadi pada gigi lateral berupa tumpang tindih gigi, modifikasi gigi, serta terjadinya gigi rusak/massive lebih besar dibandingkan bagian gigi yang lainnya. Kejadian abnormalitas paling sedikit terjadi pada gigi median lateral. Abnormalitas pada gigi median lateral didominasi oleh modifikasi gigi yang kecil (chipped), serta adanya sedikit
0 20 40 60 80 100 0 0.2 0.6 1.4 1.8 P er se n ta se De fo rm it as ( % ) Hg (µg/L)
15 kerusakan. Abnormalitas yang terjadi pada gigi median pada umumnya berupa modifikasi 2 gigi kecil yang menyatu dengan gigi besar ditengah.
Larva chironomid merupakan larva yang dapat mengakumulasi logam berat dalam jaringan tubuhnya. Hasil analisis kandungan logam berat Pb dan Hg pada larva Kiefferulus sp. menunjukkan bahwa larva tersebut dapat mengakumulasi logam Pb dan Hg dalam jaringan tubuhnya. Besarnya kandungan logam Pb dan Hg pada Kiefferulus sp. dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Kandungan logam Hg dan Pb pada chironomid
Logam Satuan Hg (µg/L)
0 0.2 0.6 1.4 1.8
Raksa (Hg) mg/kg 0.10 1.75 0.90 0.99 1.54
Timbal (Pb) mg/kg 90.44 427.78 220.00 414.77 218.31
Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan Pb pada Kiefferulus sp. lebih tinggi dibandingkan kandungan Hg. Kandungan Hg dan Pb tertinggi terdapat pada perlakuan Hg 0.2 µg/L, yaitu 1.75 mg/kg Hg dan 427.78 mg/kg Pb.
Peningkatan konsentrasi Hg di air dapat meningkatkan kandungan Hg pada biota. Hubungan peningkatan konsentrasi Hg di air dan biota dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Hubungan peningkatan konsentrasi Hg di air dengan peningkatan konsentrasi Hg di biota y = 0.0788x + 0.1299 R² = 0.8774 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 3 6 9 P en in gk at an ko n se n tr as i Hg b io ta ( m g/ kg )
16
Gambar 7 menunjukkan bahwa hubungan antara peningkatan konsentrasi Hg di air dengan biota berbanding lurus, yaitu peningkatan konsentrasi Hg di air dapat meningkatkan konsentrasi Hg di biota ( <α 0.1). Nilai korelasi dari hubungan antara peningkatan konsentrasi Hg di air dengan biota yaitu 0.93, hal tersebut berarti hubungan keduanya sangat erat.
Peningkatan konsentrasi Hg di air dapat meningkatkan atau menurunkan kandungan Pb di air. Hubungan peningkatan konsentrasi Hg di air dan Pb di biota dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8 Hubungan peningkatan Hg di air dengan Pb di biota
Gambar 8 menunjukkan hubungan antara peningkatan Hg di air dengan peningkatan Pb pada biota. Kurva pada Gambar 8 merupakan kurva dengan bentuk polynomial, sehingga persamaan pada hubungan Hg di air dengan Pb pada biota membentuk persamaan kuadratik. Terbentuknya persamaan kuadratik mengindikasikan bahwa kandungan Hg di air dapat mempengaruhi kandungan Pb di biota ( <α . ). Berdasarkan hubungan tersebut, didapatkan nilai korelasi 0.87. Hal tersebut berarti hubungan keduanya sangat erat.
Evaluasi abnormalitas pada larva chironomid dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Mentum Deformity Index/indeks abnormalitas mentum (MDI). Asumsi yang digunakan yaitu semakin besar konsentrasi logam, maka nilai indeks abnormalitas mentum akan semakin besar. Nilai MDI dari larva Kiefferulus sp. yang dipaparkan Hg dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 menunjukkan bahwa nilai MDI tertinggi terdapat pada perlakuan Hg 1.8 µg/L yaitu sebesar 25.00. Secara umum Gambar 9 telah menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi logam berat, maka nilai MDI akan semakin tinggi. Nilai korelasi dari hubungan nilai konsentrasi dengan MDI sebesar 0.82 yang berarti hubungan keduanya sangat erat. Hal tersebut dapat
y = -0.0196x2 + 0.227x + 0.1559 R² = 0.7653 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 3 6 9 P en in gk at an ko n sen tr as i P b b io ta (m g/ kg )
17 dijadikan dasar bahwa MDI dapat digunakan sebagai evaluasi abnormalitas mentum pada larva Kiefferulus sp. ( <α . ).
Gambar 9 Nilai indeks abnormalitas mentum pada Kiefferulus sp.
Sebagai perbandingan hasil penelitian di laboratorium dilakukan analisis abnormalitas pada larva chironomid yang terdapat di Danau Lido. Larva chironomid yang diperoleh dari Danau Lido merupakan jenis dari sub famili Tanypodinae. Eppler (2001) mengklasifikasikan Tanypodinae sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Diptera Famili : Chironomidae Subfamili : Tanypodinae
Analisis besarnya abnormalitas pada larva Tanypodinae menggunakan analisis ISLD. Hasil analisis abnormalitas pada larva Tanypodinae (Lampiran 5) terdapat pada Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan bahwa larva chironomid Tanypodinae pada Danau Lido yang telah mengalami pencemaran Pb mengalami deformitas. Nilai ISLD larva Tanypodinae yang diperoleh yaitu 4.4. Nilai tersebut merupakan nilai yang menunjukkan bahwa telah terjadinya respon morfologi terhadap lingkungan yang tercemar. y = 0.6919x + 21.476 R² = 0.673 19 20 21 22 23 24 25 26 0 0.2 0.6 1.4 1.8 In d eks d ef o rmi ta s men tu m Hg (µg/L)
18
Tabel 6 Pendugaan Indeks Respon Morfologi dari larva Tanypodinae yang mengalami abnormalitas ligula di perairan Danau Lido
Gambar * Langkah-Langkah IMR Jumlah gigi Modifikasi gigi over-lapping Kehadiran gigi aksesori atau tambahan Keberadaan gigi garfu Gabungan antara Ligula dan Paraligula Massive disorganization Tidak simetris a 0 b 1 2 64 67 c 1 2 3 d 1 2 3 e 1 2 3 f 2 64 66 g 16 4 20 h 1 4 5 i 2 2 4 j 4 2 64 70 k 1 2 3 IMR 244 ISLD (n=55) 4.4 *Lampiran 5 Pembahasan
Chironomid merupakan salah satu larva serangga air dari ordo Diptera, Famili Chironomidae. Lebih dari 50% spesies serangga air yang telah diketahui merupakan ordo diptera, dan chironomid merupakan famili terbesar dari serangga air tawar (Ward 1992). Frouz et al. (2003) menyatakan chironomid merupakan hewan yang tersebar hampir di seluruh dunia dengan menempati habitat yang berbeda pada setiap ekosistem perairan. Chironomid biasanya menjadi kelompok makroinvertebrata paling melimpah, baik dalam jumlah spesies maupun jumlah individu yang dapat ditemukan pada hampir seluruh habitat air tawar (Eppler 2001). Hewan ini berperan penting pada ekosistem perairan karena termasuk dalam salah satu rantai makanan pada suatu ekosistem. Biasanya hewan ini merupakan makanan bagi makroavertebrata yang lebih besar, ikan, serta burung air (Frouz et al. 2003, Ciborowski & Corkum 2003). Sebagian besar spesies anggota Chironomid ini memiliki kebiasaan hidup meliang pada sedimen yang lunak ketika fase larva. Siklus hidup chironomid yaitu dimulai dari telur, kemudian menjadi larva dengan empat fase instar. Larva akan berkembang menjadi pupa. Pupa selanjutnya akan berkembang menjadi chironomid dewasa (Gambar 10). Setelah melakukan pemijahan, chironomid dewasa akan meletakkan telurnya di permukaan air dalam bentuk gelatin yang kompleks (Bay 2003). Chironomid biasanya disebut non-biting midges (agas yang tidak menggigit) ketika dewasa dan bloodworms (cacing darah) ketika masih dalam fase larva.
19
Gambar 10 Siklus hidup larva chironomid modifikasi Charles et al. (2004) in
Krisanti (2012)
Kiefferulus sp. memiliki ciri khusus pada bagian mulutnya yaitu berupa gigi mentum, sedangkan Tanypodinae berupa gigi ligula. Gigi pada larva chironomid dapat mengalami kecacatan atau abnormalitas apabila habitat perairan mengalami pencemaran logam berat (Al-Shami et al. 2011, Bhattacharya et al.
2006, Janssens de Bisthoven et al. 1992, Warwick 1991).
Hasil pengamatan larva Kiefferulus sp. pada setiap individu menunjukkan bahwa hampir seluruh individu mengalami abnormalitas pada gigi mentum. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan nilai persentase abnormalitas dari setiap perlakuan menunjukkan nilai yang tinggi (Tabel 4). Abnormalitas yang terjadi pada gigi mentum tersebut disebabkan terpaparnya larva Kiefferulus sp. oleh logam berat Hg dengan berbagai konsentrasi.
Abnormalitas pada morfologi yang terjadi disebabkan oleh rusaknya jaringan-jaringan dalam tubuh biota. Rusaknya jaringan pada biota diakibatkan oleh adanya reaksi-reaksi logam berat pada tubuh, dimana dengan konsentrasi rendah ion-ion logam berat mampu menghambat kerja enzim yang dapat menyebabkan terganggunya metabolisme pada biota, sehingga pada tingkat toksisitas kronis dapat menyebabkan kelainan berkelanjutan yang menjadikan biota tersebut cacat.
Abnormalitas yang terjadi pada perlakuan Hg 0 µg/L yaitu 100%. Warwick (1985) menyatakan bahwa abnormalitas dapat ditemukan pada larva chironomid di lingkungan yang tidak tercemar, walaupun sangat sedikit dan dengan frekuensi yang sangat kecil dibandingkan pada lingkungan yang tercemar. Terjadinya abnormalitas pada perlakuan Hg 0 µg/L dapat disebabkan oleh media air yang digunakan dalam pemeliharaan larva telah mengandung logam Pb. Bagian mulut larva chironomid mengalami kelainan bentuk setelah dipaparkan timbal dan merkuri Vermeulen et al. (2000). Luoma & Carter (1991) menyatakan bahwa konsentrasi logam berat tidak selalu mencerminkan toksisitas logam yang sebenarnya. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya kontaminan lain yang juga
20
memberikan pengaruh terhadap kejadian toksisitas, misalnya polutan organik (PCB). Brezonik et al. (1991) menyatakan faktor lain yang turut berpengaruh pada spesiasi logam dalam mengontrol bioavailability antara lain kondisi fisik dan kimia perairan, misalnya: kekuatan ion, alkalinitas, kompleksitas ikatan/ ligan, pH, potensial redoks, dan sebagainya. Selain karena pengaruh pemaparan logam berat selama penelitian, abnormalitas yang terjadi juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, karena perairan Danau Lido telah mengalami pencemaran, sehingga massa telur yang diambil dapat berasal dari induk yang telah mengalami perubahan secara genetik. Clarke (1993) menyatakan bahwa perbedaan secara morfologi dapat terjadi karena dua hal, yaitu genetik dan tekanan lingkungan.
Abnormalitas mentum yang terjadi pada perlakuan Hg 0.2 µg/L, 0.6 µg/L, dan 1.4 µg/L tidak 100%, yaitu terdapat satu individu yang tidak mengalami abnormalitas pada gigi mentum. Abnormalitas pada mentum tidak terjadi pada individu tersebut karena pada satu individu tersebut diduga telah terjadi abnormalitas pada bagian morfologi lainnya yang tidak diamati atau dianalisis. Abnormalitas pada individu chironomid dapat beragam, mulai dari abnormalitas gigi, antenna, dan mandible (Al Shami et al. 2010, Wise et al. 2001, Warwick 1991, Warwick & Tisdale 1988, Zhang 2008). Wise et al. (2001) menyatakan bahwa abnormalitas pada Chironomus sp. lebih dominan terjadi pada satu bagian tubuh. Pengamatan pada mentum dan mandible larva chironomid yang mengalami cacat pada kedua bagian hanya 3-5 individu dari rata-rata 50 individu yang dianalisis (1-10%).
Berdasarkan pengamatan bentuk ligula pada Tanypodinae yang diperoleh dari Danau Lido diketahui bahwa larva tersebut telah mengalami kecacatan (deformitas) sebesar 18.18 %. Larva yang mengalami abnormalitas ligula sebanyak 10 individu dari 55 individu yang dikumpulkan (Lampiran 5). Hal ini berarti masih terdapat individu yang tidak mengalami abnormalitas gigi pada danau yang tercemar logam Pb. Power & Chapman (1992) menyatakan bahwa tingginya konsentrasi logam belum tentu menyebabkan gejala toksisitas yang tinggi, hal tersebut bergantung pada jumlah ion yang bersifat bioavailable, yaitu bentuk fraksi kontaminan total pada air atau sedimen yang dapat menyebabkan toksisitas.
Abnormalitas gigi pada mentum larva Kiefferulus sp. dapat dilihat berdasarkan bagian-bagian gigi pada mentum yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu gigi median, median lateral, dan lateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abnormalitas pada Kiefferulus sp. lebih banyak terjadi pada gigi bagian lateral (Gambar 6). Gigi merupakan bagian tubuh yang sebagian besar tersusun oleh zat kitin. Kelesoglu (2007) menyatakan bahwa logam berat dapat merusak ikatan biopolimer dari kitin. Oleh karena itu, adanya pemaparan logam berat dapat menyebabkan kerusakan pada gigi Kiefferulus sp.
Larva chironomid merupakan larva yang dapat mengakumulasi logam berat dalam jaringan tubuhnya. Seidman et al. (1986) menyatakan bahwa dalam waktu 4 hari pemaparan logam kadmium, larva Chironomus thummi dapat mengakumulasi logam kadmium tersebut sebanyak 63.5–81.4 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa chironomid pada setiap perlakuan mengandung logam Hg dan Pb. Besarnya kandungan logam pada biota tergantung dari kemampuan biokonsentrasi dari setiap biota. Pada perlakuan 0 µg/L Hg terdapat sedikit kandungan Hg dalam biota yaitu 0.10 mg/kg. Hal tersebut dapat terjadi karena
21 adanya kandungan Hg pada air Lido, namun tidak terdeteksi pada hasil analisis air karena keterbatasan deteksi limit alat. Keckes & Mienttinen (1972) menyatakan bahwa pada dasarnya merkuri terdapat di seluruh alam. Kandungan merkuri dalam air tanah berkisar 0.01–0.07 ppb, sungai dan danau 0.08–0.12 ppb, tanah 30–500 ppb, dan dalam batuan vulkanik antara 10-100 ppb. Mwamburi (2003) menyatakan bahwa kontaminasi logam Hg sebagian besar berasal dari buangan limbah industri, emisi atmosfer, dan pelindihan bahan kimia dari lahan pertanian. Logam merkuri termasuk dalam jenis logam yang memiliki kemampuan untuk akumulasi pada makhluk hidup dan biomagnifikasi pada rantai makanan. Hal tersebut dapat dijadikan dasar bahwa kandungan merkuri pada biota dengan perlakuan 0 µg/L Hg berasal dari kandungan merkuri yang terdapat di alam. Kandungan Pb pada Kiefferulus sp. disebabkan karena adanya kandungan Pb yang tinggi pada air Danau Lido yang digunakan sebagai media pemeliharaan larva Kiefferulus sp. Terserapnya logam ke dalam biota dapat melalui beberapa cara, yaitu : 1) tercerna bersama partikel makanan, logam berat di air cenderung berikatan dengan partikel organik, sehingga berpotensi terbawa saat biota memanfaatkan bahan organik. 2) teradsorbsi, senyawa logam dalam bentuk terlarut dapat dengan mudah teradsorbsi pada jaringan eksoskeleton di beberapa jenis serangga atau hewan bentik lainnya yang sering mengadakan kontak langsung dengan sedimen (Timmermans et al. 1992).
Hubungan antara peningkatan konsentrasi Hg di air dengan biota berbanding lurus (Gambar 7), yaitu peningkatan konsentrasi Hg di air dapat meningkatkan konsentrasi Hg di biota. Hubungan antara peningkatan konsentrasi Hg di air dengan biota adalah linier. Berbeda dengan hubungan peningkatan konsentrasi Hg di air dengan biota, hubungan antara peningkatan Hg di air dengan kandungan Pb pada biota membentuk kurva polynomial (Gambar 8), dimana kandungan Pb terus meningkat diawal seiring dengan pertambahan Hg, akan tetapi pada titik tertentu kandungan Hg di air yang lebih banyak akan menurunkan kandungan Pb pada biota, sehingga dapat diketahui bahwa hubungan antara peningkatan Hg di air dengan kandungan Pb pada biota merupakan hubungan kuadratik. Dengan demikian, dapat diduga bahwa antara Hg dan Pb terdapat hubungan sinergi, akan tetapi hubungan sinergi tersebut dapat berbeda pada perbandingan tingkat konsentrasi tertentu.
Evaluasi abnormalitas pada larva chironomid pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Mentum Deformity Index/indeks abnormalitas mentum. MDI dikembangkan dengan memodifikasi TSI dan ISLD. Mentum deformity index (MDI) dikembangkan dengan alasan TSI yang merupakan indeks pencemaran untuk menduga terjadinya kontaminasi atau pencemaran di suatu perairan hingga seberapa besar tingkat pencemaran tersebut, sedangkan MDI dikembangkan untuk menduga adanya kontaminasi dengan menggunakan biota (larva chironomid) sehingga dapat terlihat apabila ada perubahan pada morfologi larva chironomid. Hal tersebut menunjukkan bahwa telah terjadinya kontaminasi logam berat pada perairan tersebut. Hasil analisis telah menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi logam berat, maka nilai MDI akan semakin tinggi (Gambar 9). Hal tersebut dapat dijadikan dasar bahwa MDI atau indeks abnormalitas mentum dapat digunakan sebagai evaluasi abnormalitas mentum pada larva Kiefferulus sp. Nilai indeks digunakan untuk menggambarkan bahwa telah terjadinya respon morfologi pada biota karena adanya stress lingkungan.
22
Oleh karena itu, semakin tingginya nilai indeks abnormalitas, maka dapat disimpulkan semakin tingginya kontaminasi atau pencemaran yang terjadi.
Hasil pengamatan abnormalitas gigi pada larva chironomid yang berasal dari Danau Lido digunakan sebagai pembanding hasil penelitian di laboratorium. Nilai ISLD larva Tanypodinae yang diperoleh dari Danau Lido yaitu 4.4 (Tabel 6). Nilai ISLD juga merupakan nilai yang menunjukkan bahwa telah terjadinya respon morfologi terhadap lingkungan yang tercemar (Warwick 1991). Hasil penelitian Warwick (1991) menunjukkan bahwa nilai ISLD dari larva chironomid lebih tinggi pada stasiun pengamatan yang memiliki kandungan bahan pencemar lebih tinggi. Seiring waktu, kandungan bahan pencemar yang meningkat juga meningkatkan nilai ISLD dari larva chironomid. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 mengenai pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, kandungan Pb di Danau Lido (Tabel 3) telah melewati baku mutu untuk kelas 3, yaitu untuk kegiatan perikanan. Oleh karena itu, abnormalitas pada larva chironomid dapat terjadi, karena kandungan Pb di Danau Lido sudah cukup tinggi. Bhattacharya (2005) menyatakan bahwa kandungan Pb yang dapat menyebabkan kecacatan pada chironomid yaitu 2.40-5.02 µg/L. Tingginya kandungan Pb di Danau Lido dapat disebabkan oleh adanya kegiatan pariwisata air yang menggunakan rakit dengan bahan bakar solar/premium, dan berasal dari sungai yang masuk melalui inlet danau. Timbal secara alami berasal dari pelapukan batuan dan erosi tanah yang mengandung timbal sulfida (PbS). Lebih dari 200000 ton Pb dipergunakan dalam industri kimia yang berbentuk tetra-etil-Pb, yang biasanya dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM) dengan tujuan meningkatkan daya tahan mesin. Timbal (Pb) juga telah banyak digunakan pada bahan bangunan, solder, cat, dan pembuatan alat dengan bahan-bahan logam (Moore & Ramamoorthy 1984). Odum (1971) menyatakan bahwa konsentrasi logam Pb yang berasal dari debu jalanan dapat mencapai 100-67800 ppm, dan dari aliran permukaan mencapai 100-12000 ppb.
Logam berat Pb dan Hg telah menjadi penyebab abnormalitas pada gigi chironomid, baik Kiefferulus sp. maupun anggota dari Tanypodinae. Kopp & Troelstrup (2009) menyatakan bahwa larva dari Chironominae dan Tanypodinae dapat mengalami abnormalitas karena stress lingkungan minimal oleh kontaminasi bahan toksik. Michailova & Petrova (2005) menyatakan bahwa logam berat bersifat toksik bagi sel. Pengaruh logam berat dapat terjadi dalam jangka waktu yang pendek dengan konsentrasi tinggi, yaitu dapat menyebabkan keracunan akut untuk organisme air, atau logam berat tersebut dapat mempengaruhi organisme dengan konsentrasi rendah tetapi untuk jangka waktu yang panjang. Hal tersebut dapat menyebabkan keracunan kronis dan gangguan dalam fungsi vital, seperti perubahan morfologi, pertumbuhan, reproduksi, penetasan, terjadinya cacat, namun tidak menunjukkan sebagai penyebab kematian. Arimoro et al. (2007) menyatakan bahwa perbedaan parameter kualitas air seperti kekeruhan, oksigen terlarut, BOD5, COD, nitrat-nitrogen, dan fosfat-fosfor berpengaruh terhadap kelimpahan dan struktur komunitas chironomid. Wardiatno & Krisanti (2013) menyatakan bahwa kandungan oksigen dan bahan organik dapat mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan dari larva chironomid. Jeyasingham & Ling (1997) menyatakan bahwa tidak ada pola yang