• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan setelah dilakukan pengumpulan data pada tanggal 08 dan 20 April 2015 di Fakultas Keperawatan USU.

1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian akan dijabarkan mulai dari deskripsi karakteristik responden, deskripsi pelaksanaan problem based learning (PBL) yaitu dengan data hasil observasi pelaksanaan tutorial pada blok IKD 1, IKD 2 dan IKD 3, deskripsi kemampuan berpikir kritis mahasiswa di Fakultas Keperawatan USU dan hubungan pelaksanaan problem based learning (PBL) dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa S1 reguler angkatan 2014 di Fakultas Keperawatan USU.

1.1.Karakteristik Responden

Deskripsi karakteristik responden mencakup jenis kelamin, usia dan kelompok tutorial. Dari 137 mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 129 orang dengan persentase 94,2%. Dari 137 mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini mayoritas responden berusia 18 tahun berjumlah 70 orang (51,1%). Rentang usia responden pada penelitian ini termasuk kedalam remaja akhir yaitu berusia antara 15 tahun sampai 21 tahun (Papalia, 2008).

Untuk deskripsi kelompok tutorial dari 137 mahasiswa yang menjadi responden terbagi ke dalam 10 kelompok yaitu : kelompok 1 terdiri dari 11 orang dengan persentase 8,0%, kelompok 2 terdiri dari 11 orang dengan persentase persentase 8,0%, kelompok 3 terdiri dari 12 orang dengan persentase 8,8%, kelompok 4 terdiri dari 14 orang dengan persentase 10,2%, kelompok 5 terdiri dari 16 orang dengan persentase 11,7%, kelompok 6 terdiri dari 15 orang dengan persentase 10,9%, kelompok 7 terdiri dari 13 orang dengan persentase 9,5%, kelompok 8 terdiri dari 15 orang dengan persentase 10,9%, kelompok 9 terdiri dari 15 orang dengan persentase 10,9%, dan kelompok 10 yang terdiri dari 15 orang dengan persentase 10,9%. Adanya ketidakseimbangan jumlah mahasiswa dalam setiap kelompok disebabkan karena sebelum penelitian ini dilakukan peneliti memperoleh data jika sebanyak 5 mahasiswa telah dinyatakan tidak aktif lagi di Fakultas Keperawatan USU, sehingga seharusnya jumlah mahasiswa S1 reguler angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU berjumlah 142 orang (Direktori Mahasiswa USU, 2014).

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU (n=137)

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Jenis Kelamin - Laki-laki - Perempuan 8 127 5,8 94,2 Usia - 17 tahun - 18 tahun - 19 tahun - 20 tahun 5 70 53 9 3,6 51,1 38,7 6,6

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Kelompok tutorial - Kelompok 1 - Kelompok 2 - Kelompok 3 - Kelompok 4 - Kelompok 5 - Kelompok 6 - Kelompok 7 - Kelompok 8 - Kelompok 9 - Kelompok 10 11 11 12 14 16 15 13 15 15 15 8,1 8,1 8,8 10,2 11,7 10,9 9,5 10,9 10,9 10,9

1.2. Hasil Pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) pada Blok IKD 1, IKD 2, IKD 3 dan IKD 4 Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Berdasarkan hasil penelitian pada lembar hasil observasi pelaksanaan problem based learning(PBL) mahasiswa S1 Reguler stambuk 2014 pada blok IKD 1, IKD 2, IKD 3 dan IKD 4 serta nilai total pada keempat blok tersebut diperoleh distribusi frekuensi dan presentase sebagai berikut : pada blok IKD 1 mayoritas responden melaksanakan PBL dengan baik sebanyak 77 responden (56,2%). Pada blok IKD 2 mayoritas responden yang melaksanakan PBL dengan baik sebanyak 135 responden (98,5%). Pada blok IKD 3 mayoritas responden melaksanakan PBL dengan baik sebanyak 107 responden (78,1%). Sedangkan pada blok IKD 4 mayoritas responden yang melaksanakan PBL dengan baik sebanyak 133 responden (97,1%). Nilai total pada IKD 1, IKD 2,IKD 3 dan IKD 4 diperoleh sebanyak 95 responden (69,3%) yang melaksanakan PBL dengan baik. Berdasarkan penjabaran mengenai deskripsi pelaksanaan PBL dari

keempat blok yang dilaksanakan oleh 137 responden mayoritas responden melaksanakan PBL dengan baik.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil PelaksanaanProblem Based Learning (PBL) pada Blok IKD 1, IKD 2, IKD 3, IKD 4 dan Nilai total IKD 1,2,3 dan 4 Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU (n= 137)

Hasil Pelaksanaan PBL Frekuensi (n) Persentase (%)

Blok IKD 1 : - Kurang - Cukup - Baik 15 45 77 10,9 32,8 56,3 Blok IKD 2 : - Kurang - Cukup - Baik 2 0 135 1,5 0 98,5 Blok IKD 3 : - Kurang - Cukup - Baik Blok IKD 4 : - Kurang - Cukup - Baik

Nilai Total IKD 1,2,3 dan 4 :

- Kurang - Cukup - Baik 5 25 107 2 2 133 4 38 95 3,6 18,2 78,1 1,5 1,5 97,0 2,9 27,7 69,4

1.3. Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak 82 responden (59,9%) cenderung berpikir kritis.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU (n=137) Kemampuan Berpikir Kritis Frekuensi (n) Persentase (%) - Cenderung tidak berpikir kritis 55 40,1 - Cenderung berpikir kritis 82 59,9

1.4. Hubungan Pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Hasil uji statistik pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman (rho) karena data pada kedua variabel tidak berdistribusi normal. Pada uji korelasiSpearmandiperoleh hasil nilai ρ pada kolom sig. 2 tailedsebesar 0,032. Angka ini lebih kecil dari level of significance (a) yaitu 0,05. Hal ini diinterpretasikan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang artinya ada hubungan bermakna antara pelaksanaan problem based learning (PBL) dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 Fakultas Keperawatan USU. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh r = 0,184 yang artinya hubungan kedua variabel dalam penelitian ini memiliki arah yang positif dengan interpretasi kekuatan hubungan sangat lemah.

Tabel 5.4 Hubungan Pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU (n=137)

Variabel 1 Variabel 2 ρ r Keterangan

Pelaksanaanproblem based learning(PBL) mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 Fakultas Keperawatan USU Kemampuan berpikir kritis mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 Fakultas Keperawatan USU 0,032 0,184 Hubungan dengan arah yang positif dengan interpretasi kekuatan hubungan sangat lemah

1.5. Tabulasi Silang Antara Pelaksaaan Problem Based Learning dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa responden yang melaksanakan PBL dengan kurang terdapat 100% responden cenderung tidak berpikir kritis. Sedangkan pada responden yang melaksanakan PBL dengan cukup terdapat 47,4 responden cenderung tidak berpikir kritis dan 52,6% responden yang cenderung berpikir kritis. Pada responden yang melaksanakan PBL dengan baik terdapat 34,7% responden yang cenderung tidak berpikir kritis dan 65,3% responden cenderung berpikir kritis. Bervariasinya data di atas disebabkan oleh adanya faktor penghambat mahasiswa dalam berpikir kritis yaitu baik dari segi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Tabel 5.5 Tabulasi Silang Antara Pelaksaaan Problem Based Learning dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU (n=137)

Pelaksanaan PBL

Kemampuan Berpikir Kritis Cenderung Tidak Berpikir Kritis Cenderung Berpikir Kritis Total n % n % n % Kurang 4 100 0 0,0 4 100 Cukup 18 47,4 20 52,6 38 100 Baik 33 34,7 62 65,3 95 100 2. Pembahasan

Dari data hasil penelitian yang telah diperoleh, pembahasan diuraikan untuk menjelaskan hasil penelitian tentang hubungan pelaksanaan problem based learning(PBL) mahasiswa S1 reguler angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU. 2.1. Pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) Mahasiswa S1 Reguler

Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Dalam pelaksanaan PBL pada penelitian ini mahasiswa dibagi kedalam 10 kelompok kecil. Mayoritas responden berada pada kelompok 5 terdiri dari 16 orang (11,7%).

Hasil penelitian pada pelaksanaan problem based learning (PBL) mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 Fakultas Keperawatan USU pada blok IKD 1, IKD 2, IKD 3 dan IKD 4 serta nilai total pada keempat blok tersebut diperoleh data hasil penelitian sebagai berikut : pada blok IKD 1 sebanyak 77 responden (56,2%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan baik, pada blok IKD 2 sebanyak 135 responden (98,5%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan baik, pada blok IKD 3

sebanyak 107 responden (78,1%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan baik dan pada blok IKD 4 sebanyak 133 responden (97,1%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan baik. Nilai total pada IKD 1, IKD 2, IKD 3 dan IKD 4 diperoleh sebanyak 95 responden (69,3%) pelaksanaan PBL dinyatakan baik. Berdasarkan penjabaran mengenai deskripsi pelaksanaan PBL dari keempat blok yang dilaksanakan oleh 137 responden mayoritas responden melaksanakan PBL dengan baik.

Hal ini sesuai dengan penelitian Wahyuningsih & Santoso (2013) yang menyatakan bahwa dengan belajar berdasarkan masalah mahasiswa menjadi lebih aktif terlibat dalam proses belajar. Berdasarkan penelitian Wahyuningsih & Santoso (2013) dijelaskan adanya PBL menghasilkan salah satu keterampilan yang diharapkan oleh pendidik yang dapat melatih mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan berpikir secara sistematis. Masalah yang sering dihadapi berupa kasus nyata ataupun telaah kasus yang digunakan sebagai stimulus dalam pembelajaran tersebut menuntut mahasiswa untuk aktif berbagi mengenai informasi yang diberikan. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Manggarsari (2012) jika sebagian besar mahasiswa (53,3%) sepakat bahwa PBL merupakan metode pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi sebagai seorang perawat. Dalam penerapan PBL sebanyak 64,5% mahasiswa dapat terampil dalam menyelesaikan kasus yang berhubungan dengan konteks Keperawatan, sebanyak 85,1% mahasiswa mampu berpikir kritis, sebanyak 82,2% mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan lisan dan keterampilan tulisan sebanyak 76,6% mahasiswa.

Menurut pendapat Sahin (2010) bahwa mahasiswa yang menggunakan metode PBL memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap materi kuliah dan berdampak pada prestasi belajarnya. Hal ini dikarenakan mahasiswa memperoleh kesempatan yang luas untuk belajar secara mandiri sehingga memperoleh prestasi yang lebih baik. Berdasarkan penelitian Yuzhi (2003) dijelaskan bahwa metode PBL mendorong mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis membuat mereka sering menggunakan sumber-sumber belajar dalam mencari solusi masalah sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritisnya. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Mok, Lee & Wong (2002 dalam Saguni, 2013) menemukan bahwa metode PBL lebih efektif dapat meningkatkan kemampuan intelektual mahasiswa untuk menghasilkan prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik.

Blumhof (2001 dalam Wulandari, Sjarkawi, & M., 2011) menyatakan bahwa melalui PBL dapat meningkatkan kinerja positif dalam proses pembelajaran antara lain : 1) mengatur pembelajaran mereka sendiri, 2) menjadi pebelajar yang aktif, reflektif dan kritis, 3) berpikir secara mendalam dan menyeluruh dan 4) memungkinkan pembelajaran melalui situasi masalah yang terjadi. Menurut Hmelo-Silver & Barrows (2006 dalam Fakhriyah, 2014) menyatakan dalam pelaksanaan PBL mahasiswa dibebaskan untuk memperoleh isu-isu kunci dari masalah yang mereka hadapi, mendefinisikan kesenjangan pengetahuan mereka dan mengejar pengetahuan yang hilang. Sehingga PBL dipandang sebagai model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau memiliki kemampuan berpikir kritis.

Berdasarkan hasil dari penelitian ini pelaksanaan PBL yang belum dikategorikan ke dalam pelaksanaan yang baik diperoleh hasil sebagai berikut : pada blok IKD 1 diperoleh hasil penelitian sebanyak 15 responden (10,9%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan kurang dan 45 responden (32,8%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan cukup. Pada blok IKD 2 diperoleh sebanyak 2 responden (1,5%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan kurang. Pada blok IKD 3 diperoleh sebanyak 5 responden (3,6%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan kurang dan 25 responden (18,2%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan cukup. Pada blok IKD 4 diperoleh sebanyak 2 responden (1,5%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan kurang dan 2 responden (1,5%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan cukup. Untuk nilai total IKD 1, 2, 3, dan 4 sebanyak 4 responden (2,9%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan kurang dan 38 responden (27,7%) hasil pelaksanaan PBL dinyatakan cukup.

Menurut Nursalam & Efendi (2008) dalam pelaksanaan PBL memiliki beberapa kekurangan yang menyebabkan kurang optimalnya pelaksanaan PBL antara lain fasilitator merasa nyaman dengan metode tradisional, banyaknya staf yang dibutuhkan dalam proses PBL, kemungkinan mahasiswa mengalami kekurangan akses pada dosen yang berkualitas dan mahasiswa tidak yakin dengan seberapa banyak belajar mandiri yang diperlukan serta informasi yang relevan terhadap pembelajaran. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih & Santoso (2013) yang menyatakan jika pengaturan waktu yang kurang optimal merupakan salah satu kekurangan sekaligus faktor penghambat dalam pelaksanaan metode PBL. Mahasiswa terkadang membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan sesuai kasus pemicu

yang telah diberikan, karena waktu yang terlalu panjang dan pembahasan yang meluas menyebabkan mahasiswa menjadi bingung atas informasi yang mereka ketahui secara berlebihan.

Nursalam & Effendi (2008) PBL dapat memotivasi pembelajaran aktif, meningkatkan pemahaman dan menstimulus seseorang untuk terus belajar selama hidupnya. PBL dapat meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam pengetahuan dan membangun kerangka konseptual dari pengetahuan tersebut.

2.2. Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Berpikir kritis adalah mengaplikasikan pemikiran yang rasional dalam kegiatan berpikir yang tinggi meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahan masalahnya, menyimpulkan dan mengevaluasi (Anggelo dalam Achmad, 2007). Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa reponden yang cenderung tidak berpikir kritis berjumlah 55 orang (40,1%) sedangkan responden yang cenderung berpikir kritis berjumlah 82 orang (59,9%).

Hasil dari penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Setyorini, et al., (2011) mengemukakan hasil kemampuan berpikir kritis mahasiswa mengalami peningkatan secara signifikan dengan menggunakan model PBL. Meningkatnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa disebabkan karena perubahan model pembelajaran yang mencakup kegiatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Menurut Sudarman (2007 dalam Setyorini, et al., 2011) bahwa suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah

dunia nyata sebagai konteks bagi mahasiswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari materi kuliah atau materi pelajaran.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (2014) menyatakan ada beberapa faktor latar belakang dalam berpikir kritis seperti usia dan jenis kelamin, hal ini menandakan jika usia dan jenis kelamin menjadi faktor yang penting atau mungkin sangat berpengaruh terhadap proses berpikir kritis. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (2014) juga menyebutkan bahwa dalam profesi Keperawatan mayoritas berjenis kelamin perempuan dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki. Hal ini sejalan dengan hasil dari data yang dihasilkan dari penelitian ini, jika mayoritas responden berusia 18 tahun (51,1%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 127 orang (94,2%).

Berdasarkan hasil penelitian ini juga diperoleh hasil jika sebesar 40,1% responden cenderung tidak berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat dipengaruhi oleh dorongan intrinsik dan ekstrinsik. Pada faktor intrinsik berkaitan dengan kepribadian dan kebudayaan seseorang yang dapat mempengaruhi kondisi emosinya (Wade & Tavris, 2007). Hal ini sesuai dengan pendapat Hassoubah (2008) berpikir kritis juga dipengaruhi oleh kondisi emosi, dimana hal ini dapat menciptakan sudut pandang positif dan negatif yang berbeda. Dari sudut pandang yang negatif hal ini dapat menyebabkan kecemasan dan kebimbangan, takut, ketidakpastian, dan terancam sedangkan dari sudut pandang positifnya dapat menciptakan suasana kebebasan, kemudahan, dan kegembiraan. Menurut Damanik & Bukit (2013) pada faktor ekstrinsik terdapat dua faktor penyebab

tidak berkembangnya kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa yaitu umumnya kurikulum dirancang dengan target materi yang luas sehingga pengajar lebih terfokus pada penyelesaian materi dan kurangnya pemahaman mengajar tentang metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Sedangkan menurut Hassoubah (2007 dalam Fakhriyah, 2014) menyatakan bahwa latar belakang kepribadian dan kebudayaan seseorang dapat mempengaruhi usaha seseorang untuk dapat berpikir kritis terhadap suatu masalah dalam kehidupan.

Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Wulandari, Sjarkawi & M. (2011) bahwa strategi pembelajaran PBL lebih sesuai bagi mahasiswa yang mempunyai kemampuan berpikir kritis tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa perlu adanya persiapan dalam melaksanakan PBL yaitu lebih baik mahasiswa dipersiapkan terlebih dahulu, misalnya melatih latihan berpikir, dialog bersifat inkuiri, menumbuhkan rasa keingintahuan (curiosity) dan lain sebagainya agar proses pembelajaran berjalan efektif dan mencapai tujuan belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Langrehr (2006) bahwa untuk melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa harus didorong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut : 1) menentukan konsekuensi dari suatu keputusan atau suatu kejadian, 2) mengidentifikasi asumsi yang digunakan dalam suatu pernyataan, 3) merumuskan pokok-pokok permasalahan, 4) menemukan adanya bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda, 5) mengungkapkan penyebab suatu kejadian, 6) memilih faktor-faktor yang mendukung terhadap suatu keputusan.

2.3. Hubungan Pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU

Hasil analisa statistik dalam penelitian ini bahwa pelaksanaan Problem Based Learning (PBL) dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 Fakultas Keperawatan USU memiliki hubungan yang signifikan dilihat dari nilai ρ = 0,032 yang berada dibawah level of significant a = 0,05 dengan arah hubungan yang positif dengan interpretasi kekuatan hubungan sangat lemah (r = 0,184), yang artinya semakin baik pelaksanaanproblem based learning (PBL) maka semakin meningkat kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran.

Hasil dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Afifah & Syahreni (2005) yang mengemukakan jika metode PBL dapat menjadi pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir kritis. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Billings & Halstead (1998 dalam Afifah dan Syahreni, 2005) yang menyatakan dimana metode PBL dapat lebih melibatkan proses menstimulasi level kognitif tinggi dan membiasakan mahasiswa untuk berpikir kritis dan memotivasi diri untuk belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliastutik (2010) menjelaskan jika penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, sehingga mahasiswa menjadi lebih berani dan percaya diri dalam menyampaikan curah pendapatnya. Dalam penelitian Yuliastutik (2010) juga dijelaskan jika penggunaan metode PBL

dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam menganalisa setiap pelajaran yang diberikan oleh dosen.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yoswita, Pramudiyanti & Marpaung (2013) disimpulkan bahwa penggunaan model PBL berpengaruh signifikansi dan meningkatkan indikator berpikir kritis. PBL dapat melatih mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan berpikir kritis yang baik juga berimbas dengan peningkatan aktivitas belajar mahasiswa yang mendukung, sehingga mahasiswa memberikan tanggapan yang positif terhadap model pembelajaran PBL.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Morales-Mann & Kaitell (dalam Yuan, 2008 dalam Setyorini, et al., 2011) bahwa manfaat penggunaan PBL dapat meningkatkan pembelajaran otonomi, berpikir kritis, pemecahan masalah dan keahlian dalam berkomunikasi. Sehingga metode PBL merupakan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. PBL merupakan salah satu pendekatan yang menantang mahasiswa untuk mencari solusi suatu masalah dari dunia nyata yang dapat diselesaikan secara berkelompok. Selain itu menurut Curry (dalam Semra, 2006) mengatakan bahwa model PBL dapat menimbulkan kemampuan berpikir kritis dan pengetahuan baru yang berguna untuk jangka panjang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cooke & Moyle (2002, dalam Amarullah, 2013) dari analisa atas respon peserta didik terhadap penerapan metode PBL, ditemukan bahwa peserta didik menilai pendekatan PBL akan meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Ditinjau dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan yang positif dengan kekuatan hubungan sangat lemah antara pelaksanaan problem based learning (PBL) dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa S1 reguler angkatan 2014 Fakultas Keperawatan USU, peneliti berpendapat bahwa hubungan yang sangat lemah pada penelitian ini disebabkan adanya faktor lain yang yang lebih berhubungan dengan pelaksanaan problem based learning (PBL) daripada kemampuan berpikir kritis, seperti kemampuan mahasiswa dalam memecahkan suatu masalah, aktif dalam kegiatan pembelajaran, kemampuan untuk belajar mandiri serta mampu menciptakan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Pelaksanaan PBL dalam penelitian ini tergolong baik karena sebanyak 95 responden (69,3%) telah melakukan metode PBL dengan baik dan sebanyak 82 responden (59,9%) cenderung berpikir kritis. Metode PBL lebih efektif dapat meningkatkan kemampuan intelektual mahasiswa untuk menghasilkan prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik (Mok, Lee & Wong, 2002 dalam Saguni, 2013).

3. Keterbatasan penelitian

Peneliti menyadari masih terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, antara lain :

3.1. Pengambilan data

Proses pengambilan data terbagi dua, yaitu : 1. Pengambilan data pelaksanaan PBL

Akibat bentroknya jadwal kuliah peneliti dengan jadwal pelaksanaan tutorial mahasiswa S1 reguler stambuk 2014 sehingga menyebabkan peneliti tidak dapat mengobservasi pelaksanaan tutorial secara langsung untuk melakukan penilaian yang sesuai terhadap keaktifan responden dalam pelaksanaan tutorial. Sehingga data yang diperoleh untuk pelaksanaan PBL dalam penelitian ini hanya berupa data primer yang diperoleh dari bagian UPK (untuk IKD 1, IKD 2, dan IKD 3) dan penanggungjawab blok IKD 4 (untuk data IKD 4).

2. Pengambilan data kemampuan berpikir kritis (kuesioner)

Saat pengambilan data peneliti mengalami kesulitan untuk menyesuaikan jadwal untuk membagikan kuesioner kepada responden dikarenakan jadwal kuliah yang selalu bentrok serta situasi dan kondisi yang sangat menyulitkan peneliti untuk menjumpai responden. Sehingga pengumpulan data tidak dapat diselesaikan dalam satu hari serta peneliti harus mengecek terlebih dahulu data responden yang telah mengisi kuisioner sehingga mencegah terjadinya penggandaan data bagi responden yang telah mengisi kuisioner. Sehingga pengambilan data secara sekunder ini dirasa kurang efektif karena tidak dapat diselesaikan dalam satu kali pertemuan dengan responden.

Dokumen terkait