Berdasarkan pengumpulan data usia, tempat tinggal, hobi, Body Mass Index, lingkar pingggang, tekanan darah, pulse, dan gula darah sewaktu yang telah dilakukan pada 605 responden mahasiswa perguruan tinggi di Daerah
7
Istimewa Yogyakarta menurut kriteria inklusi dan didapatkan profil responden sebagai berikut:
Tabel I. Jumlah Responden Hubungan Hobi Terhadap Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta Secara Umum.
Frekuensi (n) Persentase (%) Usia 15-19 tahun 20-29 tahun 186 419 30,7 69,3 Tempat Tinggal: Rumah Indekos 187 418 30,9 69,1 Kategori hobi: Baik Buruk 202 403 33,4 66,6 BMI Underweight Normal Overweight Obesity 77 387 63 78 12,7 64,0 10,4 12,9 LP Sehat Tidak sehat 469 136 77,5 22,5 TDS (mmHg) ≤120/80 mmHg 131/80 - 139/89 mmHg 121/80 - 130/80 mmHg ≥140/90 mmHg 326 145 67 67 53,9 24 11,1 11,1 Pulse: <100 kali/menit ≥100 kali/ menit 538 67 88,9 11,1 GDS: <140mg/dL ≥140mg/dL 593 72 98 12
BMI = Body Mass Index, LP = Lingkar Pinggang, TDS = Tekanan Darah Sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik, GDS = Gula Darah Sewaktu.
Persentase responden berusia 15-19 tahun adalah 186 orang (30,7%), sedangkan 419 orang (69,7%) responden berusia 20-29 tahun. Sebanyak 187 responden (30,9%) responden tinggal di rumah sedangkan 418 responden (69,1 %) tinggal di indekos. Jumlah variabel bebas hobi baik dan buruk memiliki perbedaan nilai yang cukup besar dengan persentase hobi baik 33,4% dan persentase hobi buruk
8
66,6%. BMI responden dibagi menjadi 4 kategori dengan persentase underweight 12,7%, normal 64%, overweight 10,4% dan obesitas 12,9%. Lingkar pinggang responden dibagi menjadi 2 kategori dengan persentase sehat 77,5% dan tidak sehat 22,5%. Profil TD dibagi menjadi 4 kategori dengan persentase < 120/80 mmHg 53,9%; <130/80 mmHg 11,1%; >130/89 mmHg 24%; ≥140/90 mmHg 11,1%. Persentase responden dengan pulse <100 kali/menit lebih banyak dibanding ≥100 kali/ menit yaitu 88,9%. Pada profil GDS terdapat 2% subjek yang memiliki GDS ≥140mmHg.
Pada usia mahasiswa umumnya kadar gula darah dan tekanan darah berada dalam nilai normal. Kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) dapat terjadi karena konsumsi makanan berlebih, kurang olahraga, mengalami sakit seperti pilek atau flu, memiliki stress, mengkonsumsi obat tertentu seperti steroid (NHS, 2018). Sedangkan hipertensi meningkat pada usia muda karena obesitas, diabetes mellitus, penyakit ginjal dan faktor psikososial seperti depresi, kecemasan, competitiveness, permusuhan juga dianggap berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (De Venecia, Lu and Figueredo, 2016).
Jumlah responden yang bertempat tinggal di rumah dengan usia 15-19 tahun dan berusia 20-29 tahun berturut-turut sebanyak 50 (26,7%) dan 137 (72,3%), sedangkan yang tinggal di indekos berturut-turut sebanyak 136 (32,8%) dan 282 (67,5%). Responden dengan hobi buruk yang bertempat tinggal di rumah sebanyak 106 (56,7%) sedangkan yang memiliki hobi baik 81 (43,3%). Responden dengan hobi buruk yang bertempat tinggal di indekos sebanyak 297 (71,1%) sedangkan yang memiliki hobi baik 121 (28,9%). Penggolongan hobi baik dan buruk didasarkan pada durasi dan intensitas hobi dengan aktivitas fisik dari respoden. Hobi dikategorikan baik jika memenuhi frekuensi dan durasi tertentu berdasarkan kategori aktivitas fisik berat, sedang dan ringan. Jika aktivitas fisik yang dilakukan responden hanya memenuhi salah satu ketentuan durasi atau frekuensi maka dilakukan perhitungan METs untuk menggolongkan kategori hobi (Lampiran 5). Hobi responden terbagi menjadi dua yaitu hobi yang melibatkan aktivitas fisik dan hobi yang tidak melibatkan aktivitas fisik. Aktivitas
9
fisik secara rutin dapat meningkatkan kapasitas olahraga dan berperan dalam pencegahan primer dan sekunder penyakit kardiovaskular. Selain itu, aktivitas fisik juga dianggap sebagai faktor risiko paling penting yang dapat dimodifikasi dari penyakit kardiovaskular (Gharaibeh, 2012).
Tabel II. Jumlah Responden Hubungan Hobi Terhadap Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah
Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Perbedaan Tempat Tinggal. Frekuensi n(%) Frekuensi n(%) Rumah (n= 187) Rumah (n= 187) Usia 15-19 tahun 20-29 tahun 50 (26,7) 137 (72,3) 136 (32,8) 282 (67,5) Kategori Hobi Buruk Baik 106 (56,7) 81 (43,3) 297 (71,1) 121(28,9) Kategori BMI Underweight Normal Overweight Obesity 27 (14,4) 112 (59,9) 20 (10,7) 28 (15) 50 (12) 275 (65,8) 43 (10,2) 50 (12) Lingkar Pinggang Sehat Tidak Sehat 137 (73,3) 50 (26,7) 332 (79,4) 86 (20,6) Kategori TD (mmHg) ≥140/90 131/80 - 139/89 121/80 - 130/80 <120/80 17 (9,1) 49 (26,2) 21(11,2) 100 (53,5) 50 (12) 96 (23) 46 (11) 226 (54) Pulse >100x/menit ≤100x/menit 18 (9,6) 169 (90,4) 50 (12) 368 (88) GDS (mg/dL) <140 mg/dL 140-200 mg/dL 182 (97,3) 5 (2,7) 411 (98,3) 7 (1,7) R= Rumah, I= Indekos
Jumlah responden dengan BMI underweight dan normal yang bertempat tinggal di rumah adalah 27 (14,4%) dan 112 (59,9), sedangkan responden dengan kategori overweigth dan obesity adalah 20 (10,7%) dan 28 (15%). Jumlah
10
responden dengan BMI underweight, normal, overweigth dan obesity yang bertempat tinggal di indekos berturut-turut adalah 50 (12%), 275 (65,8%), 43(10,2%), 275 (12%). Mahasiswa yang tinggal di indekos memiliki lingkungan dan kebiasaan baru termasuk juga pola makan. Pada umumnya mahasiswa lebih memilih membeli makanan dibandingkan memasak sendiri karena lebih praktis juga menghemat waktu dan tenaga (Anawati, 2013). Kelebihan berat badan atau memiliki BMI di atas normal dapat menaikkan risiko penyakit kardiovaskular (Ali et al., 2015). BMI untuk populasi Indonesia dibagi menjadi beberapa kategori yaitu kekurangan berat badan tingkat berat <17,0; kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0-18,5; normal 18,5-25,0; kelebihan berat badan tingkat ringan 25,0-27,0 dan kelebihan berat badan tingkat berat >25,0-27,0 (Kementerian Kesehatan RI,2014).
Responden yang bertempat tinggal di rumah dengan lingkar pinggang sehat sejumlah 137 (73,3%) sedangkan yang memiliki lingkar pinggang tidak sehat 50 (26,7%). Responden yang bertempat tinggal di indekos dengan lingkar pinggang sehat sejumlah 332 (79,4%) sedangkan yang memiliki lingkar pinggang tidak sehat 86 (20,6%). Pada ras Asia lingkar pinggang normal pada wanita < 80 cm (31,5 inchi) dan pada pria < 90 cm ( 35,5 inchi) (Pujilestari et al., 2019).
Berdasarkan hasil pengumpulan data diperoleh sebanyak 9,1% responden yang bertempat tinggal di rumah memiliki tekanan darah ≥140/90 mmHg, 26,2% memiliki tekanan darah 131/80 - 139/89 mmHg, 11,2% memiliki tekanan darah 121/80-130/80 mmHg, dan 53,5% memiliki tekanan darah <120/80 mmHg. Sedangkan pada responden yang bertempat tinggal di indekos diperoleh sebanyak 12% responden memiliki tekanan darah ≥140/90 mmHg, 23% memiliki tekanan darah 131/80 - 139/89 mmHg, 11% memiliki tekanan darah 121/80-130/80 mmHg, dan 54% memiliki tekanan darah <120/80 mmHg. Pola hidup adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan darah. Menurut penelitian di Iran, beberapa faktor yang mempengaruhi pola hidup mahasiswa yang tinggal di asrama adalah status nutrisi, manajemen stres, aktivitas fisik, health responsibility, pertumbuhan spiritual dan dukungan sosial. Aktivitas fisik
11
mahasiswa yang tinggal di asrama cukup rendah karena aktivitas sedentari yang sering dilakukan (F. et al., 2017).
Persentase responden yang bertempat tinggal di rumah dengan pulse >100x /menit adalah 9,6% dan responden dengan dengan pulse ≤100x /menit adalah 90,4%. Responden yang bertempat tinggal di indekos dengan pulse >100x /menit persentasenya adalah 1,7% dan responden dengan dengan pulse ≤100x /menit adalah 98,3%. Pulse normal memiliki kisaran 60-100x/menit, namun obesitas dapat meningkatkan detak jantung namun biasanya tidak lebih dari 100 detak/menit (American Heart Association, 2019). Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, mahasiswa yang tinggal di indekos memiliki pola makan dan aktivitas fisik yang buruk (Small et al., 2012). Sedangkan aktivitas fisik secara teratur dapat menurunkan pulse (Reimers, Knapp and Reimers, 2018). Sejumlah 182 (97,3%) responden yang tinggal di rumah memiliki kadar GDS <140 mg/dL dan sebanyak 5 (2,7%) responden memiliki kadar GDS >140 mg/dL. Sejumlah 411 (98,3%) responden yang tinggal di indekos memiliki kadar GDS <140 mg/dL dan sebanyak 7 (1,7%) responden memiliki kadar GDS >140 mg/dL. Berdasarkan ADA 2019, kadar gula darah prediabetes adalah TGT (Toleransi Glukosa Tergangu) atau IGT (Impaired Glucose Tolerance) 140-199 mg/dL Pada penelitian ini digunakan nilai IGT sebagai parameter gula darah tidak normal. Faktor risiko tinggi penyakit diabetes mellitus tipe 2 adalah berusia diatas 40-45 tahun, mengalami obesitas, peningkatan lingkar pinggang, hipertensi dan memiliki riwayat keluarga menderita diabetes (Aschner et al., 2016).
Menurut penelitian yang dilakukan di Yordania, mahasiswa menunjukkan prevalensi tingi pada beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular yang dapat dimodifikasi. Setidaknya 49% mahasiswa memilki setidaknya 1 faktor risiko (Gharaibeh, 2012). Awal masa studi di universitas biasanya menyebabkan perubahan gaya hidup yang dapat mempengaruhi perkembangan faktor risiko kardiovaskular. Sebagian besar mahasiswa yang datang dari berbagai provinsi harus memikul tangung jawab baru seperti membeli makanan mereka. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu untuk belajar dan memilki sedikit waktu untuk
12
melakukan aktivitas fisik sehingga kelebihan berat badan dan obesitas (Giménez et al., 2019). Mahasiswa yang bertempat tinggal di indekos terutama dari luar Jawa mengalami banyak penyesuaian secara kebiasaan, pola hidup, dan bagaimana mengisi waktu luang (Ratnasari, 2012).
Tabel III. Hasil Statistik Mann Whitney Hobi terhadap Parameter Lingkar Pinggang, Tekanan Darah Sistolik, Tekanan Darah Diastolik, Pulse, dan Gula Darah Sewaktu Berdasarkan Tempat Tinggal Rumah dan Indekos.
Mean ± SD Median p value
Hobi Buruk Hobi Baik Hobi Buruk Hobi Baik Lingkar Pinggang 77,3±10,3 78,8±10,9 76 77 0,368 Tekanan Darah Sistolik 113,6±14,1 117,6±14,1 112 117 0,791 Tekanan Darah Diastolik 75,7±9,6 75,9±10,3 74,5 76 0,646 Pulse 86,0±12,2 83,5±13,0 86 83 0,167 Gula Darah Sewaktu 91,5±20,0 92,3±19,2 92 91 0,032
Uji distribusi normalitas data diuji menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Setelah dilakukan uji tersebut didapatkan hasil hanya data denyut jantung yang terdistribusi normal (p<0,05), sedangkan data lingkar pinggang, TDS,TDD dan GDS tidak terdistribusi normal (p>0,05). Data yang didapatkan tidak terdistribusi normal sehingga diuji statistik dengan uji Mann Whitney (Dahlan, 2014). Berdasarkan uji statistik terhadap keseluruhan responden di dapatkan hasil bahwa hobi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap BMI, lingkar pinggang, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, dan pulse dengan nilai p value berturut-turut 0,368; 0,791; 0,646; dan 0,167.
Hobi memiliki hubungan terhadap gula darah sewaktu pada mahasiswa yang bertempat tinggal di rumah dan indekos dengan rerata 91,5 dan median 92 pada responden dengan hobi buruk, sedangkan pada hobi responden dengan hobi baik memiliki rerata 92,3 dan median 91 dengan nilai p 0,032. Hasil ini sesuai dengan pernyataan dari American Diabetes Association bahwa aktivitas fisik yang
13
baik dapat menurunkan kadar gula darah dengan meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga sel otot lebih mampu menggunakan insulin yang tersedia untuk mengambil glukosa selama dan setelah aktivitas fisk. Selain itu ketika otot berkontraksi selama aktivitas, sel-sel akan mengambil glukosa dan menggunakannya untuk diubah menjadi energi saat insulin tersedia mau pun tersedia (American Diabtes Association, 2019).
Tabel IV. Hasil Statistik Mann Whitney Hobi terhadapParameter Lingkar Pinggang, Tekanan Darah Sistolik, Tekanan Darah Diastolik, Pulse, dan Gula Darah Sewaktu Berdasarkan Tempat Tinggal Rumah.
Mean ± SD Median p value
Hobi Buruk Hobi Baik Hobi Buruk Hobi Baik Lingkar Pinggang 78,5±11,5 79,1±12,3 76 77 0,257 Tekanan Darah Sistolik 112,9±13,5 116,6±13,9 112,3 117 0,493 Tekanan Darah Diastolik 76,0±9,3 75,3±11,0 75,5 76 0,493 Pulse 85,4±12,7 81,9±13,9 86 82 0,898 Gula Darah Sewaktu 91,7±19,8 91,1±20,3 90 90 0,121
Hobi tidak berpengaruh terhadap lingkar pinggang pada mahasiswa yang bertempat tingal di rumah. Nilai rata-rata lingkar pinggang dengan hobi buruk adalah 78,5 cm sedangkan responden dengan hobi baik memiliki rerata lingkar pinggang 79,1 cm dengan median 76 cm dan 77cm. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan p value 0,257 (>0,05). Hasil ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan lingkar pinggang (Asztalos et al., 2014).
Hobi tidak berpengaruh terhadap TDS pada mahasiswa yang bertempat tingal di rumah. Rerata TDS dengan hobi buruk adalah 112,9mmHg sedangkan
14
responden dengan hobi baik memiliki rerata TDS 116,6 mmHg dengan median 112,3mmHg dan 117 mmHg. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan p value 0,493 (>0,05). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Brazil bahwa aktivitas fisik berpengaruh pada penurunan tekanan darah sistol maupun diastol. Teori bagaimana aktivitas fisik mengurangi tekanan sistol dan diastol masih spekulatif, namun American University of Sports Medicine mengemukakan bahwa aktivitas fisik menyebabkan vasodilatasi perifer sebagai immediate response (Pitanga and Lessa, 2010).
Hobi tidak berpengaruh terhadap TDD pada mahasiswa yang bertempat tingal di rumah. Secara umum rata-rata TDD dengan hobi buruk adalah 76,0 mmHg dengan median 75,5 mmHg sedangkan responden dengan hobi baik memiliki rerata TDD 75,3 mmHg dengan median 76 mmHg. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,493 (>0,05). Menurut penelitian sebelumnya, aktivitas fisik yang baik akan menurunkan tekanan darah dan mencegah terjadinya hipertensi sebesar 5-13%. Penurunan tekanan darah terjadi pada individu dengan aktivitas fisik yang aktif (Borjesson et al., 2016).
Hobi tidak berpengaruh terhadap pulse pada mahasiswa yang bertempat tingal di rumah. Rata-rata pulse dengan hobi buruk yaitu 85,4 x/menit dengan median 82x/menit dengan median 86x/menit lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi baik yaitu 81,9 x/menit dengan median 82 x/menit. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,898 (>0,05). Berdasarkan penelitian pada mahasiswa di Amerika, aktivitas fisik teratur sangat berpengaruh dalam menurunkan pulse dan memiliki manfaat kardiovaskular (Nealen, 2016).
Hobi tidak berpengaruh terhadap GDS pada mahasiswa yang bertempat tinggal di rumah dengan rata-rata pada adalah 91,7 mg/dL dengan median 90 mg/dL lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi baik yaitu 91,1 mg/dL dengan median 90 mg/dL. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,232 (>0,05). Hal ini tidak sesuai
15
dengan penelitian sebelumnya bahwa orang yang memiliki aktivitas fisik baik memiliki gula darah yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang memiliki aktivitas fisik rendah (Teh et al., 2015). Makanan dan pola makan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi gula darah seseorang. Kebiasaan makan orang tua adalah penentu paling dominan dalam pilihan dan kebiasaan makan anaknya. Pilihan makanan yang baik serta contoh pola makan sehat yang dilakukan orang tua adalah panutan yang baik bagi anak (Scaglioni et al., 2018). Dengan demikian, pola makan dari mahasiswa yang bertempat tinggal di rumah tak lepas dari peran orangtua sehingga seharusnya memiliki pola makan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa indekos.
Tabel V. Hasil Statistik Mann Whitney Hobi terhadapParameter Lingkar Pinggang, Tekanan Darah Sistolik, Tekanan Darah Diastolik, Pulse, dan Gula Darah Sewaktu Berdasarkan Tempat Tinggal Indekos.
Mean ± SD Median p value
Hobi Buruk Hobi Baik Hobi Buruk Hobi Baik Lingkar Pinggang 76,9±9,8 78,9±10,0 76 77 0,655 Tekanan Darah Sistolik 113,9±14,3 118,2±14,2 111 117 0,767 Tekanan Darah Diastolik 75,60±9,6 76,3±9,9 74 75 0,767 Pulse 86,1±12,1 84,6±12,1 86,1 84 0,119 Gula Darah Sewaktu 95,3±20,0 93,1±18,5 93 91 0,232
Hobi tidak berpengaruh terhadap lingkar pinggang pada mahasiswa yang bertempat tingal di indekos. Nilai rata-rata lingkar pinggang dengan hobi baik adalah 78,9 cm dengan median 77 lebih tinggi dibandingkan dengan rerata hobi
16
buruk yaitu 76,9 cm dengan median 76 cm. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan p value 0,655 (>0,05).
Hobi tidak berpengaruh terhadap TDS pada mahasiswa yang bertempat tingal di indekos. Rata-rata TDS dengan hobi baik yaitu 118,2 mmHg dengan median 117 mmHg lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi buruk yaitu 113,9 mmHg dengan median 111 mmHg. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,767 (>0,05). Penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa aktivitas fisik memiliki kemampuan untuk mengontrol tekanan darah dan meningkatkan kesehatan kardiovaskular (Colberg et al., 2016). Terdapat beberapa penghalang yang menyebabkan kurangnya aktivitas fisik pada mahasiswa seperti pengaruh sosial, kurangnya waktu, energi, kemauan, dan adanya cidera yang dialami (Jajat et al., 2017).
Hobi tidak berpengaruh terhadap TDD pada mahasiswa yang bertempat tingal di indekos. Rata-rata TDD pada hobi baik yaitu 76,3 mmHg dengan median 75 mmHg lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi buruk yaitu 75,6 mmHg menit dengan median 74 mmHg. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,767 (>0,05). Aktivitas fisik adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan darah. Aktivitas fisik teratur dapat menurunkan tekanan darah saat istirahat (resting heart rate) tetapi juga menurunkan tekanan darah selama aktivitas fisik dan stress mental (Borjesson, Kjeldsen and Dahlof, 2010). Tekanan darah dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti faktor keturunan, usia, jenis kelamin, stres fisik dan psikis, kegemukan (obesitas), pola makan tidak sehat, konsumsi garam yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol, konsumsi kafein, penyakit lain, dan merokok (Sasmalinda, 2013). Oleh sebab itu, hasil ini tidak dapat digunakan sebagai kesimpulan bahwa responden dengan hobi buruk karena aktivitas fisik yang rendah memiliki tekanan darah yang lebih baik.
Hobi tidak berpengaruh terhadap pulse pada mahasiswa yang bertempat tingal di indekos. Rata-rata pulse pada hobi buruk yaitu 86,1 x/menit dengan
17
median 86,1 x/menit lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi baik yaitu 84,6 x/menit menit dengan median 84x/menit. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,119 (>0,05). Hal ini tidak sesuai dengan yang dikemukakakn oleh Kementerian Kesehatan dan Pelayanan Publik Amerika aktivitas fisik membuat seorang individu memiliki pulse yang ideal dan sehat dengan melakukannya secara teratur dan dengan porsi yang tepat untuk mencapai target yang baik yaitu 50-75% dari pulse maksimum berdasarkan usia (NHLBI, 2006).
Hobi tidak berpengaruh terhadap GDS pada mahasiswa yang bertempat tinggal di indekos. Rata-rata GDS pada hobi buruk yaitu 95,3 mg/dL dengan median 93 mg/dL lebih tinggi dibanding dengan responden dengan hobi baik yaitu 93,1 mg/dL dengan median 91mg/dL. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dengan signifikan dengan p value 0,232 (>0,05). Hal ini tidak sesuai dengan yang dikemukakan oleh WHO di mana aktivtas fisik teratur dapat menurunkan nilai gula darah (World Health Organization, 2017).
Tabel VI. Profil BMI Responden Hubungan Hobi Terhadap Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Tempat Tinggal Rumah.
Kategori
BMI Hobi Buruk n (%) Hobi Baik n(%) p value
Underweight 17 (9,1) 10 (5,3)
0,545 Normal 60 (32,1) 52 (27,8)
Overweight 14 (7,5) 6 (3,2)
Obesity 15 (8) 13(7)
Jumlah responden yang bertempat tinggal di rumah dengan hobi buruk dengan BMI underweight, normal, overweigh, dan obesitas berturut-turut adalah 17(9,1%), 60 (32,1%), 14 (7,5%), 15 (8%). Responden yang bertempat tinggal di rumah dengan hobi baik dengan BMI underweight, normal, overweigh, dan
18
obesitas berturut-turut yaitu 10 (5,3%), 52 (27,8%), 6 (3,2%), 13 (7%). Hobi tidak mempengaruhi BMI pada mahasiswa yang tinggal di rumah dengan p value 0,545 (p>0,05). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap nilai BMI (Candrawati, 2011). Makanan adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada BMI. Orang tua berperan dalam menyusun lingkungan makanan anak seperti kapan, apa dan bagaimana makanan disediakan sementara anak harus diizinkan untuk mengatur berapa banyak porsi makan mereka (Larsen et al., 2015). Peran ini tentunya dirasakan oleh mahasiswa yang tinggal di rumah bersama orang tua sehingga seharusnya mahasiswa yang tinggal di rumah memiliki BMI lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tinggal di indekos.
Tabel VII. Profil BMI Responden Hubungan Hobi Terhadap Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Tempat Tinggal di Indekos. Kategori
BMI Hobi Buruk n (%) Hobi Baik n(%) p value
Underweight 43 (10,3) 7(1,7)
0,201 Normal 190(45,5) 85 (20,3)
Overweight 28 (6,7) 15 (3,6) Obesity 36 (8,6) 14 (3,3)
Jumlah responden yang bertempat tinggal di indekos dengan hobi buruk dengan BMI underweight, normal, overweigh, dan obesitas berturut-turut adalah 43(10,3%), 190 (45,5%), 28 (6,7%), 36 (8,6%). Hobi tidak mempengaruhi BMI pada mahasiswa yang tinggal di rumah dengan p value 0,201 (p>0,05). Responden yang bertempat tinggal di indekos dengan hobi baik dengan BMI underweight, normal, overweigh, dan obesitas berturut-turut yaitu 7 (1,7%), 85 (20,3%), 15 (3,6%), 14 (3,3%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Norwegia, mayoritas mahasiswa tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik yang ditentukan secara
19
internasional sehingga mengalami peningkatan kelebihan berat badan (Grasdalsmoen et al., 2019). Berbanding terbalik dengan penelitian di Ghana, mayoritas mahasiswa yang mengalami obesitas memiliki aktivitas fisik lebih tinggi dibandingkan dengan kategori lainnya. Hal ini disebabkan siswa yang obesitas mungkin termotivasi melakukan aktivitas fisik tinggi untuk menurunkan berat badan(Ofori and Angmorterh, 2019). Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika, mahasiswa yang memiliki BMI >25 kg/m2 memiliki risiko 1,5-2 kali lebih tinggi mengalami perkembangan penyakit jantung koroner (Tran et al, 2016).
Hobi baik dan buruk tidak dapat dipastikan secara mutlak mempengaruhi atau tidak mempengaruhi risiko kardiovaskular pada setiap orang. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan secara akurat pengaruh hobi terhadap risiko penyakit kardiovaskular. Kelemahan penelitian ini yaitu peneliti kurang menggali lebih mendalam tentang hobi yang dilakukan responden pengukuran hanya dilakukan pada satu waktu (cross sectional), pengambilan data tidak berdasarkan hasil lab hanya berdasarkan pengukuran yang dilakukan peneliti.
20 KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang hubungan hobi terhadap risiko penyakit kardiovaskular yaitu BMI, lingkar pinggang, pada mahasiswa perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan perbedaan tempat tinggal menunjukkan bahwa terdapat hubungan hobi terhadap parameter kardiovaskular yaitu gula darah sewaktu (p 0,032) pada keseluruhan responden. Sedangkan hobi tidak memiliki hubungan terhadap parameter kardiovaskular gula darah sewaktu pada mahasiswa yang bertempat tinggal di rumah (p 0,121) dan hobi tidak memiliki hubungan terhadap gula darah sewaktu pada mahasiswa indekos (p 0, 232).
SARAN
Setelah melakukan pengumpulan analisis pada data yang diperoleh, maka terdapat beberapa saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya:
1. Pengambilan data dilakukan oleh tenaga kesehatan yang profesional dan berdasarkan tes laboratorium.
2. Penyamaan instruksi cara pengisian kuesioner dan Standard Operating Procedure (SOP) pengukuran paramater kardiovaskular.
21 DAFTAR PUSTAKA
Ainsworth, B. E. et al., 2011. 2011 Compendium of Physical Activities. Medicine & Science in Sports & Exercise, 43(8), pp. 1575–1581. doi: 10.1249/mss.0b013e31821ece12.
American Diabetes Association, 2018. Standard medical care in diabetes 2018. The journal of clinical and applied research and education, 41(1), pp. 1– 150. doi: 10.2337/dc18-Sint01.
American Diabetes Association, 2019. Blood Sugar and Exercise. https://www.diabetes.org/fitness/get-and-stay-fit/getting-started-safely/blood-glucose-and-exercise diakses pada 14 Januari 2020
Anawati, A., 2013. Preferensi Mahasiswa Kos Trehadap Makanan Yang Dijual Pada Warung Makan di Dusun Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Aschner, P. et al., 2016. IDF Clinical Practice Recommendations for managing Type 2 Diabetes in Primary Care Chair: Core Contributors. Available at: www.idf.org/managing-type2-diabetes.
Asztalos, M. et al., 2014. Association of physical activity, waist circumference and body mass index with subjective health among Belgian adults. European Journal of Public Health, 24(2), pp. 205–209. doi: 10.1093/eurpub/ckt069.
Borjesson, M. et al., 2016. Physical activity and exercise lower blood pressure in individuals with hypertension: Narrative review of 27 RCTs. British Journal of Sports Medicine, 50(6), pp. 356–361. doi: 10.1136/bjsports-2015-095786. Borjesson, M., Kjeldsen, S. and Dahlof, B., 2010. FYSS Physical Activity in the
prevention and treatment of disease. Hypertension, pp. 411–425. BPPK, 2018. Hasil utama riskesdas 2018.
Candrawati, S., 2011. Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) Dan Lingkar Pinggang Mahasiswa. Jurnal Keperawatan
Soedirman, 2(1), 17–23.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.20884/1.jks.2013.8.2.470
Chow, C. et all., 2017. Reducing the burden of Cardiovascular Disease in Indonesia The George Institute for Global Health.