• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

a. Sejarah Terbentuknya Fakultas Kedokteran USU

Universitas Sumatera Utara (USU) adalah sebuah universitas negeri yang terletak di Kota Medan, Indonesia. Universitas Sumatera Utara adalah salah satu universitas terbaik di pulau Sumatra dan merupakan universitas negeri tertua di luar Jawa. USU juga adalah universitas pertama di pulau Sumatra yang mempunyai Fakultas Kedokteran.

USU didirikan sebagai Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Fakultas pertama adalah Fakultas Kedokteran yang didirikan pada 20 Agustus 1952, yang kini diperingati sebagai hari jadi USU. Presiden Indonesia, Soekarno kemudian meresmikan USU sebagai universitas negeri ketujuh di Indonesia pada tanggal 20 November 1957.

Maksud untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Medan ini telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat di Medan khususnya, di Sumatera Utara umumnya, sebelum Proklamasi Kemerdekaan R.I, demikian Dr. Achmad Sofian pernah menulis. Untuk itu Dr. Pirngadi, Dr. Tengku Mansoer, Dr. M. Amir dan beberapa orang lainnya telah bekerja ke arah ini, tetapi maksud dan hasrat itu tidak disetujui oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, dianggap bahwa satu Perguruan Tinggi Kedokteran yang telah didirikan oleh Pemerintah Belanda di Jakarta telah cukup buat Indonesia.

telah mengungsi ke Inggeris, ada juga maksud Pemerintah Belanda untuk mengubah NIAS (Nederlansch Indische Aartsen School) di Surabaya menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran yang kedua di Indonesia, namun maksud tersebut tidak dapat diwujudkan, karena pada waktu itu Indonesia telah diduduki oleh Jepang. Di zaman pendudukan Jepang beberapa orang terkemuka di kota Medan, seperti Dr. Pirngadi, Dr. Tengku Mansoer dan lain-lain telah membuat rancangan Perguruan Tinggi Kedokteran sekali lagi, namun maksud ini juga tidak dapat dilanjutkan.

Pada tahun 1946, masih dalam masa pergolakan sesudah kemerdekaan diproklamirkan, maksud ini muncul lagi ke permukaan. Ketika Mr. Teuku Mohd. Hasan menjadi Gubernur Propinsi Sumatera telah pula diangkat Dr. Mohd. Jamil yang berkedudukan di Bukit Tinggi sebagai ketua dari sebuah panitia yang ditugaskan untuk mempelajari kemungkinan didirikannya sebuah perguruan tinggi di Sumatera. Panitia ini antara lain ditugaskan untuk menentukan jenis serta tempat fakultas yang akan didirikan.

Panitia tersebut telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kedokteran. Untuk menentukan tempat Fakultas Kedokteran yang akan didirikan, dikirimlah Dr. Mohd. Jamil ke Pematang Siantar guna berembuk dengan beberapa pemuka masyarakat dan dokter-dokter yang ada di daerah Sumatera Utara. Pada waktu itu amat besar kemungkinan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Kota Medan, tetapi malang, hal ini tidak dapat dilaksanakan berhubung dengan terjadinya clash pertama tahun 1947.

Kedokteran di kalangan masyarakat di Sumatera Utara tidak pernah hilang. Pada awal 1950, Dr. T. Mansoer, wali Negara Sumatera Timur (Negara Bagian dalam RIS) meminta kepada Inspektur Kesehatan Sumatera Timur untuk mulai melengkapii Rumah Sakit Kota Medan dan kalau perlu menjadikan sebuah Rumah Sakit Umum, guna mendukung rencana tersebut. Setelah itu dibentuklah panitia pembentukan Fakultas Kedokteran.

Yayasan itu didirikan pada tanggal 4 Juni 1952 di hadapan Notaris Soetan Pane Paroehoem di Medan diberi nama Yayasan Universitas Sumatera Utara, yang berkedudukan di Medan. Yayasan tersebut diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai oleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara. Telah diambil keputusan untuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan yayasan telah mengutus Dr. Ahmad Sofian ke Kementerian PP dan K untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Menteri pada waktu itu yaitu Prof. Bahder Djohan. Kementerian PP dan K menaruh simpati yang sangat besar akan maksud yayasan dan minat Gubernur Propinsi Sumatera Utara itu dan menjanjikan bantuan yang dapat dan mungkin diberikan oleh Pemerintah. Pemerintah menganggap maksud yayasan itu sebagai suatu eksperimen yang besar namun terlalu banyak kesulitan dan resikonya. Sungguhpun demikian Pemerintah berjanji akan menyokong usaha tersebut.

Pada tanggal 30 Juni 1952 Dewan Pimpinan Yayasan USU telah mengangkat Dr. Ahmad Sofian sebagai Presiden Kurator yang diberi tugas mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran. Juga telah diputuskan untuk membuka Fakultas Kedokteran tersebut pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1952.

A. Sofian sebagai Dekan, Dr. Maas sebagai Wakil Dekan dan Dr. M. Ildrem. sebagai sekretaris. Beberapa tahun berikutnya (1956) WHO memberikan bantuan alat-alat Fisiologi dan berapa tenaga pengajar dari WHO untuk Fakultas Kedokteran USU.

b. Visi, Misi, Tujuan serta Kompetensi Lulusan Fakutas Kedokteran

Visi:

Mewujudkan Fakultas Kedokteran USU pada tahun 2010, sebagai lembaga pendidikan kedokteran terdepan di Indonesia dalam bidang pendidikan dan pelayanan ilmu serta informasi kesehatan primer dengan pendekatan keluarga terutama untuk penyakit-penyakit tropis

Misi:

1. Meningkatkan kualitas dosen dalam bidang pendidikan kesehatan keluarga dan penyakit-penyakit tropis

2. Mengembangkan kurikulum pendidikan yang berbasis pada pendekatan sistem kedokteran keluarga

3. Memusatkan pendalaman pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang penyakit tropis

4. Meningkatkan kemampuan semua sumber daya sehingga mudah digunakan sebagai pusat informasi kesehatan keluarga

Tujuan:

* Menghasilkan lulusan dokter yang mempunyai kompetensi sesuai standar kompetensi dokter Indonesia yang menjunjung tinggi etika dan profesi kedokteran * Menjadikan lulusan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan berdasarkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga terutama penyakit tropis

* Menghasilkan berbagai informasi ilmiah mengenai kesehatan khususnya kesehatan keluarga terutama penyakit tropis yang dapat diakses oleh masyarakat

Kompetensi Lulusan:

Dalam KIPDI III (Kurikulim Inti Pendidikan Dokter Indonesia) dituntut terpenuhinya kompetensi tertentu bagi lulusan. Proses pembelajaran diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi dokter Indonesia yang telah disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia (P3DI).

c. Stuktur Dekan Fakultas Kedokteran

Pimpinan Fakultas Kedokteran

Dekan: Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD.KGEH

Pembantu Dekan I: Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) Pembantu Dekan II: dr. Murniati Manik, MSc. Sp.KK Pembantu Dekan III: dr. Dedi Ardinata,

IV.2 Hasil dan Pengamatan Wawancara

Peneliti menentukan dua puluh empat orang responden/ subjek penelitian. Namun pada akhirnya hanya ada dua puluh tiga orang subjek yang berhasil diwawancarai karena beberapa orang menolak menjadi subjek penelitian untuk memenuhi dua puluh empat responden. Pelaksaan dan pengumpulan data (pendekatan dengan subjek) dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Penelitian ini berlangsung dari bulan April hingga Mei 2010.

Setelah mendapat persetujuan judul skripsi ini, maka peneliti terlebih dahulu mengurus surat izin ke Fakultas Kedokteran sekaligus sebagai permohonan pra-penelitian untuk kebutuhan mendapatkan data awal, seperti jumlah mahasiswa asing di Fakultas Kedokteran pada stambuk 2007, 2008, dan 2009. Setelah melewati proses seminar proposal skripsi, barulah kemudian peneliti memulai rangkaian pelaksanaan skripsi.

Sebelum melakukan proses wawancara, peneliti melakukan observasi ke Fakultas Kedokteran. Pada saat peneliti melihat di ruangan kelas, terlihat ada beberapa kumpulan mahasiswa Melayu Malaysia yang berkelompok dan ada beberapa yang berbaur dengan mahasiswa lain.

Peneliti juga beberapa kali melakukan observasi dan menemukan banyak mahasiswa Melayu Malaysia yang lebih sering berkelompok bahkan sampai di luar kelas (kantin). Pada akhirnya peneliti mengetahui bahwa ada tiga jalur penerimaan mahasiswa yaitu untuk kelas Reguler, Mandiri dan Internasional. Sedangkan untuk mahasiswa Malaysia semuanya masuk melalui jalur Mandiri dan Internasional.

Pada kelas Mandiri lebih banyak Mahasiswa Malaysia beretnis Cina dan India sedangkan yang beretnis Melayu tidak begitu banyak. Mahasiswa Malaysia yang beretnis Melayu, dominan masuk melalui jalur Internasional.

Jalur Internasional ini dominan bahkan bisa dikatakan seluruhnya anak Melayu. Mereka yang masuk melalui jalur ini adalah anak-anak pintar yang dipilih dan diberikan beasiswa oleh Pemerintah Malaysia. Pemerintah Malaysia menunjuk Acims sebagai penyelengara atau pengurus mahasiswa terpilih selama kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Acims yang akan menyediakan asrama dan mencarikan rumah kontrakan, mengurus transportasi, biaya hidup, buku dan lainya. Jadi mahasiswa yang masuk melalui jalur Internasional lebih akrab dipanggil ‘anak Acims’.

Berikut adalah hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap dua puluh tiga subjek penelitian yang terbagi dalam empat kategori yang terbagi dalam dua kelompok.

a. Kelompok Perempuan

Kategori I: KELOMPOK PEREMPUAN DENGAN LAMA TINGGAL LEBIH DARI SATU TAHUNDAN TINGGAL DI RUMAH KONTRAKAN.

1. NAMA : MADINAH

JENIS KELAMIN : P

ASAL : JOHOR

SEMESTER : VI (Enam)

ALAMAT TEMPAT TINGGAL : JLN. DR.SOFYAN NO 34.

Subjek penelitian ini yang pertama kali peneliti wawancarai. Saat ditemui pertama kali di kelas, responden ini terlihat berbaur dengan mahasiswa Indonesia,

temannya yang bukan Melayu. Menurut pengamatan peneliti, Dina termasuk orang yang bisa dinilai dari bahasa nonverbalnya. Sebab saat ditemui pertama kali hingga saat diwawancarai beberapa hari kemudian, Dina seolah menunjukkan keheranannya. Mimik muka yang Dina tampilkan seolah orang yang merasa tak nyaman. Menyadari hal tersebut, peneliti berusaha menjelaskan dan mengurangi sedikit perasaan ketidaknyamanan Dina tersebut. Dina, peneliti wawancarai di rumah kontraknya.

Berhubung Dina adalah responden pertama yang diwawancarai, maka peneliti berusaha mengumpulkan sebuah gambaran awal tentang mahasiswa Malaysia. Dari penuturan Dina diketahui bahwa dia tinggal bersama sepuluh temannya yang pasti juga beretnis Melayu. Dina menjelaskan bersama sepuluh temannya, juga turut tinggal keluarga yang menjaga mereka. Yang mana, Bapak penjaga rumah tersebut adalah supir bus Acims yang akan mengantar dan menjemput mereka sedangkan ibu penjaga rumah tersebut yang akan memasak ataupun membantu membersihkan rumah.

Dari pengamatan peneliti, bisa terlihat Dina termasuk Muslimah taat, hal itu terlihat dari upayanya dalam menutup aurat. Di rumah tersebut, rumah untuk para mahasiswi agak terpisah dengan ruangan keluarga penjaga rumah, jadi ketika Dina keluar dari area aman atau area di mana hanya ada dia dan teman-temannya, Dina berusaha memakai jilbab dan menutup auratnya agar tidak terlihat Bapak penjaga rumah maupun tamu laki-laki yang datang.

Saat ditanyai mengenai nilai Melayu, Dina tidak mengerti apa arti nilai. Namun, setelah dijelaskan mengenai pengertian nilai, Dina menuturkan sebagai

salah seorang yang bertenis Melayu Malaysia, nilai-nilai yang dipegangnya adalah menjunjung tinggi nilai sopan santun, seperti jika berjalan di depan orang yang lebih tua, menunduk atau membungkkan badan, lalu jika bertemu teman, bersalaman dan jika ada teman dalam kesusahan, saling tolong-menolong. Menyangkut wujud konkret yang akan dilakukannya untuk menunjukkan identitasnya sebagai Melayu Malaysia, Dina menjawab bahwa inti nilai etnis Melayu Malaysia, adalah adab timur, jadi Dina akan bertutur lembut serta menghormati orang lain , dan menggunakan baju kurung sebagai identitas utama sebagai perempuan Melayu Malaysia.

Sedangkan bayangan Dina mengenai masa depan etnis Melayu Malaysia, dia hanya menjawab singkat dan optimis, bahwa etnis Melayu Malaysia akan terus berkembang. Makna atau arti identitas etnis sendiri dipahami Dina sebagai pegangan atau nilai dan identitas tersebut tentu amat penting dibawanya di negeri orang.

Penilaian Dina mengenai etnis lain, hanya ditujukan pada etnis Batak, menurutnya Batak itu kasar, bukan hanya karena penilaiannya tapi juga karena pengakuan temannya yang beretnis Batak. Selama masa tinggal di Medan, Dina mengaku pengetahuannya tentang etnis tidak bertambah, artinya tidak ada upaya untuk mengukuhkan komitmen atau peningkatan wawasan mengenai etnis. Dina mengaku hanya menjelaskan apa yang ia tahu mengenai etnisnya kepada temannya yang lain dan mendalaminya tanpa ada upaya untuk menambah wawasan etnisnya.

Pergaulan Dina cukup terbuka, dia berinteraksi dengan siapa saja, dan merasa nyaman dengan temannya yang di luar etnis Melayu.

‘’Ya berinteraksi dengan siapa saja..dengan semua, jadi nyaman dengan semua la, sebab teman dekat pun dari beda etnis pun ada.’’

Dina mengakui memiliki teman dekat di luar etnis Melayu Malaysia khususnya temannya yang beretnis asli Indonesia seperti Batak atau pun Minang. Secara umum, Dina menilai temannya di luar etnis Melayu khususunya temannya yang dinilainya sebagai anak Indonesia akan dianggapnya semua beretnis Batak. Dina sendiri tak memilih teman berdasarkan etnis, namun dari segi intensitas dan frekuensi, Dina tetap lebih banyak berinteraksi dengan temannya yang seetnis, karena temannya satu kos semua beretnis Melayu.

Dina merasa masih ada perbedaan budaya namun dia menyadari bahwa penerimaan ataupun toleransi amat diperlukan, jadi perbedaan tak menjadi masalah. Dina bahkan bisa menceritakan masalah pribadinya dengan teman dekatnya yang berbeda etnis.

Mengenai out-group dan in-group, Dina mengakui bahwa hal tersebut pasti ada, karena secara sederhana hal tersebut bisa dilihat dari penampilan. Dari penampilan, mahasiswa Melayu Malaysia cukup berbeda, jadi dari penampilan luar tersebut bisa digunakan sebagai penilaian out-group dan in-group. Namun menurut Dina sendiri, identifikasi tersebut tidak menghambat komunikasinya. Selama ada kecocokan maka Dina berusaha untuk berkomunikasi dengan yang lain (other culture).

Selama Dina berinteraksi dengan yang teman yang berbeda etnis, Dina tetap mempertahankan adab Melayu. Artinya dia tetap berusaha menunjukkan

identitasnya sebagai seorang beretnis Melayu Malaysia dengan tetap bertutur lembut dan menutup aurat serta nilai-nilai kesopanan lainnya. Penerimaan Dina pada perbedaan yang ada dengan temannya yang berbeda etnis sebatas pada yang sejalan dengan nilai yang Dina anut. Artinya apabila masih bisa diterima, maka Dina akan menghargai hal tersebut. Secara tersirat hal ini dimaknai bahwa Dina hanya bisa menerima nilai-nilai umum yang tidak melanggar nilai agama dan adatnya. Sejauh pengamatan peneliti, kebanyakan mahasiswi Melayu Malaysia membatasi pergaulan dengan laki-laki dalam artian bersentuhan atau sekadar bersalaman pun mereka jaga. Jadi, selama temannya yang berbeda etnis memiliki nilai-nilai baik maka akan Dina terima dan Dina pun akan tetap menjaga nilai- nilai yang dibawanya.

Secara umum, Dina merasa tidak mempunyai masalah saat berinteraksi dengan teman yang berbeda etnis. Bahkan Dina merasa selama ini komunikasinya cukup lancar tanpa ada kesalahpahaman karena perbedaan budaya. Bahkan Dina sudah merasa nyaman dan tidak merasakan Culture Shock karena menurutnya Indonesia dan Malaysia satu rumpun sehingga nilai-nilai yang ada pun tidak jauh berbeda.

Sebagai seorang yang beretnis Melayu, Dina tidak terlalu bermasalah dengan keadaan di Medan, walaupun sedikit banyak perbedaan pasti ada. Upaya untuk mencari kesamaan dilakukan responden dengan ikut dalam persatuan Malaysia di Fakultas Kedokteran dan ia cukup berminat dalam kelompok tersebut.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia sempat terganggu dengan beberapa kali kasus yang menyebabkan hubungan tersebut merenggang

bahkan memanas. Yang paling hangat tentunya kasus klaim Malaysia terhadap beberapa hasil budaya Indonesia. Dan Dina sendiri menangggpinya tentu menggunakan pandangannya sebagai warga Malaysia. Pandangannya tentu cukup berpihak, menurutnya Batik adalah hasil budaya bersama, antara Indonesia dan Malaysia. Namun Batik Malaysia memiliki corak yang lebih berwarna. Berdasarkan pandangan tersebut, Dina menilai tak perlu memperebutkan hak Batik, dan ia lebih menyalahkan media, dan yang pastinya media Indonesia karena telah membesar-besarkan masalah tersebut, masalah yang sebenarnya bukan masalah karena dinilainya pemerintah kedua Negara pun tak menanggapi ini sebagai masalah.

‘’ Kita kan satu rumpun, kalau kita bilang batik ini punya ini, batik tu punya itu, Batik tu kepunyaan bersama, kalau Batik Indonesia warnanya beda, batik Malaysia coraknya warna-warni, jadi tak perlu la digadoh-gadoh. Itu kan media yang membesar-besarkan, kita lihat pun penguasa Negara pun tak ada masalah.’’

Dan kasus tersebut tak memberikan dampak apa pun khusunya interaksi Dina dengan teman-teman Medan karena menurut Dina teman-teman Indonesia tidak menunjukkan reaksi negatif disebabkan kasus tersebut.

Motivasi sebagai komponen dasar dalam kompetensi komunikasi, disadari oleh responden penting untuk mendorongnya bergaul dengan teman yang berbeda budaya. Walaupun Dina tidak memiliki kesadaran yang cukup mengenai apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara efektif dengan yang berbeda budaya, namun responden tetap merasa perlu untuk memahami etnis yang ada di Medan. Dan Dina menutup wawancara dengan menuturkan bahwa ia mampu berkomunikasi efektif dengan teman beda etnis.

2. NAMA : SITI NABILAH BORHAN JENIS KELAMIN : P

ASAL :MELAKA

SEMESTER : IV (EMPAT)

ALAMAT TEMPAT TINGGAL : PINTU 4 USU

Responden ini, peneliti temui saat dirinya usai mengikuti pengajian kelompok kecil di Mushola Fakultas Kedokteran. Nabilah sendiri dengan ramah menerima peneliti dan dari pengamatan peneliti, Nabilah aktif dalam dakwah kampus. Pakaian yang digunakan responden saat ditemui peneliti, tidak menggunakan baju kurung tapi baju gamis yang secara umum, hampir mirip dengan baju kurung. Yang dikatakan baju kurung sendiri adalah baju dengan panjang selutut dan rok hingga menutupi mata kaki. Satu hal lagi yang ciri umum baju kurung adalah berwana terang dan bermotif bunga atau lainnya.

Dari pengamatan peneliti, Nabilah merupakan perempuan Melayu Malaysia yang masih menjaga salah satu nilai Melayu yaitu menutup aurat. Jika dibanding dengan kebanyakan mahasiswi Melayu Malaysia lainnya, Nabilah bisa dikatakan lebih syar’i dalam berbusana, dengan menggunakan baju yang longgar dan jilbab yang besar hingga menutupi dada dan panjangnya hingga di atas pinggang. Karena selama peneliti melakukan pengamatan, lebih banyak mahasiswi Melayu Malaysia yang menggunakan jilbab dengan panjang yang standar¸ artinya tidak terlalu besar.

Nabilah menyatakan bahwa nilai utama yang dipegangnya lebih banyak nilai Islam dan Nabilah hanya menjelaskan nilai-nilai umum adab Timur sebagai nilai Melayu Malaysia, seperti berbudi bahasa. Berbudi bahasa dapat dipahami

sebagai perbuatan yang lemah lembut, bertutur lembut, dan berbudi sopan serta bertoleransi. Dalam upaya untuk menunjukkan identitas Melayu Malaysia, yang pasti baju kurung adalah hal utama dalam penanda identitas serta logat bicara. Nabilah juga menjelaskan bahwa tepat di depan Fakultas kedokteran ada tempat makan yang menyediakan makanan Malaysia, jadi dapat dipastikan bahwa semua yang makan di tempat tersebut adalah mahasiswa asal Malaysia.

Melayu sendiri seolah hilang manisnya, atau hilang budinya, karena perubahan zaman sekarang, membuat nilai-nilai Melayu sudah mulai terkikis dan dilupakan, itulah yang dituturkan Nabilah. Membayangkan masa depan etnis, sebenarnya Nabilah sendiri berharap petuah P. Ramlee benar bahwa tak akan hilang Melayu di dunia, tapi menurut pendapat seorang profesor, Melayu akan hilang 60 tahun lagi dimakan zaman, jadi sedikit banyaknya Nabilah sendiri cukup merasa prihatin. Berdasarkan peribahasa Melayu, bahwa biar mati anak, jangan mati adat, yang artinya bagaimanapun adat harus dijunjung tinggi, namun kenyataannya generasi sekarang seolah mengikut zaman.

‘’ Kalau kami sering bicarakan Melayu karena orang Melayu hilang manisnya, hilang budinya...kalau seperti kata P.Ramlee, tak akan hilang Melayu di dunia, atau seperti peribahasa, biar mati anak, jangan mati adat, sebab kalau mati adat macam... sebab orang tua lebih menekankan adat daripada hukumnya sendiri kan, terus orang muda ni sekarang di Malaysia terperosok dalam zaman. Menurut falasafah professor, Melayu kan hilang 60 tahun lagi ditenggelami zaman, tak tahu la tu.’’

Jadi arti identitas Melayu Malaysia bagi Nabilah adalah pegangan. Nabilah menyadari bahwa Melayu berdasarkan sejarah banyak dipengaruhi oleh adat Orang Arab yang notabene adalah orang Islam, jadi menurutnya tak heran kalau nilai Melayu banyak berasal dari nilai Islam.

Nabilah sendiri mengakui bahwa selama tinggal di Medan, alur komunikasinya cukup berubah, jika di Malaysia dia jarang berkomunikasi dengan etnis lain karena ada gap, namun setelah kuliah di Medan, dia merasa tak perlu lagi ada gap dan mempermasalahkan etnis. Hal ini khususnya ditujukan pada interaksinya dengan etnis India dan Cina. Mengingat di Malaysia, etnis Melayu adalah etnis Mayoritas dan etnis India serta Cina termasuk sering berkelompok namun selama kuliah di Medan, mereka jadi bisa berbaur.

Hampir dua tahun tinggal di Medan membuat Nabilah cukup terbiasa dan bahkan beradaptasi dengan nilai di Medan. Hal itu memang bisa dilihat dari pakaian Nabilah yang cenderung mengikut pada busana perempuan tarbiyah, yang sering dipakai oleh perempuan Indonesia yang aktif dalam gerakan dakwah Islam. Sebagai seorang yang hampir dua tahun tinggal di Negara lain yang berbeda bahasa dengan Negara asal, Nabilah termasuk lambat beradaptasi soal hal tersebut. Karena saat diwawancarai, Nabilah masih cukup kental berlogat Melayu bahkan kadang-kadang menggunakan istilah Melayu yang tidak dimengerti peneliti. Nabilah bahkan mengakui bahwa dirinya merasa enjoy selama tinggal di Medan.

Interaksi Nabilah cukup terbuka, dia berinteraksi dengan teman Malaysia (senegara) yang berbeda etnis seperti India dan Cina, dan yang pasti dengan teman satu etnis. Frekuensi komunikasi responden dengan teman Indonesianya juga cukup tinggi,

‘’Karena kami belajar di Indonesia, maka kami berinteraksi dengan orang

Dokumen terkait