Berdasarkan hasil perhitungan nilai SBE untuk desain taman rumah tinggal dari tiga kriteria hemat energi dengan empat perlakuan komposisi menunjukan kualitas estetika desain taman rumah tinggal berkisar antara -110 sampai 128. Desain taman rumah dengan kombinasi kriteria hemat energi tinggi dan komposisi empat (C3K4) memiliki nilai SBE paling tinggi yaitu 128, sedangkan kondisi awal desain pada kriteria hemat energi rendah (C1K1) memiliki nilai SBE terendah yaitu -110. Lanskap dengan nilai SBE tertinggi merepresentasikan lanskap yang paling disukai sedangkan lanskap dengan nilai SBE terendah menggambarkan lanskap yang tidak disukai (Daniel dan Boster, 1976; Gunawan, 2005; dan Kurniawaty, Gunawan dan Sarjokusumo, 2012). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Matriks hasil penilaian kualitas estetika
Komposisi Kriteria C 1 C 2 C 3 K 1 -110 -95 -15 K 2 -26 71 60 K 3 49 71 77 K 4 56 98 128
Keterangan : C1K1 : kriteria hemat energi rendah komposisi pertama; C1K2 : kriteria hemat energi rendah komposisi kedua; C1K3 : kriteria hemat energi rendah komposisi ketiga; C1K4 : kriteria hemat energi rendah komposisi keempat; C2K1 : kriteria hemat energi sedang komposisi pertama; C2K2 : kriteria hemat energi sedang komposisi kedua; C2K3 : kriteria hemat energi sedang komposisi ketiga; C2K4 : kriteria hemat energi sedang komposisi keempat; C3K1 : kriteria hemat energi tinggi komposisi pertama; C3K2 : kriteria hemat energi tinggi komposisi kedua; C3K3 : kriteria hemat energi tinggi komposisi ketiga; C3K4 : kriteria hemat energi tinggi komposisi keempat.
Seperti terlihat dalam matriks, berturut-turut kualitas estetika kombinasi dari kriteria hemat energi rendah hingga kriteria hemat energi tinggi dengan
komposisi kontrol hingga komposisi keempat secara garis besar mengalami peningkatan.
Nilai SBE dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu kualitas estetika rendah, kualitas estetika sedang, dan kualitas estetika tinggi seperti pada Tabel 4. Pengelompokan ini berdasarkan Daniel dan Boster (1976) dimana lanskap yang termasuk ke dalam kualitas estetika rendah memiliki nilai SBE < 20, lanskap termasuk kualitas estetika sedang jika memiliki nilai SBE antara -20 sampai 20, dan lanskap termasuk kualitas estetika tinggi memiliki nilai SBE > 20. Tingkat keindahan lanskap selanjutnya dapat terlihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Kualitas estetik (SBE) perlakuan komposisi dan kriteria hemat energi
Komposisi Kriteria
C 1 C 2 C 3
K 1 Rendah Rendah Sedang
K 2 Rendah Tinggi Tinggi
K 3 Tinggi Tinggi Tinggi
K 4 Tinggi Tinggi Tinggi
Melalui uji F dengan tingkat kepercayaan 95% terhadap ketiga kriteria didapati bahwa faktor kriteria berpengaruh signifikan terhadap respon (Lampiran 5). Hal ini menegaskan bahwa kriteria hemat energi mempengaruhi kualitas estetika. Lalu pada uji perbandingan berganda Duncan antara masing-masing kriteria hemat energi terdapat perbedaan yang signifikan (Lampiran 6). Hasil perhitungan juga menunjukan bahwa hasil pada masing-masing kriteria hemat energi dari kriteria hemat energi rendah hingga kriteria hemat energi tinggi secara umum mengalami peningkatan.
Uji F yang dilakukan pada keempat komposisi dengan tingkat keprcayaan 95% menunjukkan bahwa faktor komposisi berpengaruh signifikan terhadap
respon (Lampiran 5). Hal ini menjelaskan bahwa komposisi elemen-elemen taman dapat mempengaruhi kualitas estetika. Untuk uji perbandingan berganda Duncan antara komposisi kontrol (K1), komposisi 2 (K2), komposisi 3 (K3), dan komposisi 4 (K4) terdapat perbedaan yang signifikan (lampiran 7). Untuk hasil dari komposisi 1 (K1) sampai komposisi 4 (K4) berturut-turut mengalami peningkatan.
Hasil interaksi antara kriteria hemat energi dengan komposisi didapati hubungan yang signifikan dari uji F dengan tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 5). Artinya kriteria hemat energi dan komposisi saling mempengaruhi dalam menentukan kualitas estetika dalam sebuah desain.
Kualitas Estetika Kriteria Hemat Energi
Salah satu dampak nyata dari penerapan kriteria hemat energi adalah menciptakan iklim mikro yang nyaman. Iklim mikro yang baik dapat mengurangi penggunaan alat-alat elektronik seperti kipas angin dan air conditioner yang berpengaruh pada penghematan energi. Peningkatan kriteria diikuti oleh peningkatan hemat energi. Peningkatan kriteria ditandai oleh peningkatan variabel elemen-elemen pembentuk taman (Tabel 1). Semakin meningkat kriteria maka kualitas estetiknya semakin meningkat seperti terlihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Pengaruh kriteria hemat energi terhadap nilai SBE 102,25 146,25 172,5 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Rendah Sedang Tinggi
N
il
ai
SB
E
Kriteria hemat energi rendah merupakan taman dengan rata-rata kualitas estetika paling rendah dengan nilai rata-rata SBE sebesar 102. Menurut Kurniawaty, Gunawan dan Surjokusumo (2012) elemen taman yang terdapat pada kriteria ini terbatas pada elemen tanaman dan perkerasan. Elemen taman yang digunakan pada kriteria ini hanya pohon dan penutup tanah.
Gambar 7. Desain taman rumah dengan kriteria hemat energi rendah
Pohon berpengaruh positif terhadap tempratur udara, dimana pohon dapat memayungi area atau ruang dibawahnya dari sinar matahari langsung dan mengurangi derajat panas sehingga berpengaruh pada pendinginan udara disekitarnya. Pohon yang digunakan pada kriteria ini memiliki kerapatan tajuk tidak lebih dari 25%. Dengan kerapatan tajuk yang tergolong rendah, pohon tidak dapat memberi naungan maksimal pada taman dan menyebabkan kesan gersang yang dapat mempengaruhi kualitas estetika (Gambar 7).
Desain taman dengan kriteria hemat energi pada tingkat kedua (K2) memperlihatkan elemen pohon dengan ketinggian 5 m, hamparan rumput, dan pagar yang porous, serta adanya elemen air berupa kolam di depan teras. Kualitas estetik pada level ini lebih tinggi dibanding dengan kriteria pertama (K1). Hal ini disebabkan oleh kehadiran elemen air dan ukuran pohon yang lebih beragam. Selain itu pemilihan tajuk tanaman pada konsep hemat energi sedang lebih lebar
dari konsep hemat energi sebelumnya dengan kerapatan tajuk berkisar 50% menciptakan suasana teduh karena dapat menaungi hampir seluruh taman.
Gambar 8. Desain taman rumah dengan kriteria hemat energi sedang
Elemen air yang digunakan pada konsep hemat energi ini merupakan elemen air statis yang ditempatkan dekat dengan pintu atau ventilasi rumah sehingga uap dari air dapat mendinginkan bagian dalam rumah (Gambar 8). Perkerasan yang digunakan pada kriteria hemat energi ini adalah perkerasan dengan porositas sedang yaitu interblok 16-6 cm dengan kemampuan infiltrasi yang cukup besar. Pagar yang digunakan memiliki celah yang memungkinkan untuk pertukaran udara tetapi masih berbentuk masif. Elemen air dan pohon meningkatkan kualitas estetika lanskap (Gunawan, 2005; dan Meliawati, 2003).
Secara umum hasil rata-rata nilai SBE pada konsep hemat energi tinggi paling tinggi dibandingkan dengan konsep hemat energi lainnya. Elemen tanaman dalam konsep hemat energi ini sangat bervariasi dari strata tanaman rendah seperti penutup tanah hingga strata tanaman tinggi seperti pohon. Untuk mencapai hemat energi pada tingkat ini perlu dilakukan pemilihan pohon penaung yang tepat, pohon tersebut diharapkan mampu menaungi dinding dan sekitarnya dengan kerapatan tajuk lebih dari 75%.
Gambar 9. Desain taman rumah dengan kriteria hemat energi tinggi
Elemen perkerasan pada taman ini adalah grassblock yang memiliki porositas tinggi dan dapat sempurna menyerap air. Untuk pagar digunakan pagar tanaman dengan kombinasi modifikasi ketinggian level tanah yang ditutupi tanaman dan sansiviera (Sansiviera sp.) (Gambar 9). Penggunaan pagar tanaman yang berbentuk tidak masif lebih memudahkan sirkulasi angin di taman sehingga sesuai untuk digunakan dalam kriteria hemat energi tinggi. Untuk elemen air digunakan permainan air yang menambah kesejukan pada taman ini berupa model
single jet-spray. Air yang dinamis memiliki luas bidang permukaan yang lebih luas, sehingga panas yang diserap serta kadar evaporasinya akan lebih tinggi yag berpengaruh nyata terhadap penurunan suhu udara disekitarnya. Tidak hanya untuk stabilitator suhu, elemen air juga dapat berperan sebagai absorbsi bunyi akibat suara dari percikan yang dihasilkan.
Kualitas Estetika Komposisi
Gambar 10 memperlihatkan pengaruh komposisi terhadap kualitas estetika. Komposisi kontrol (K1) merupakan komposisi yang paling tidak disukai memiliki nilai SBE rata-rata paling rendah yaitu 36 dan komposisi empat (K4) merupakan komposisi yang paling disukai memiliki nilai SBE rata-rata paling tinggi yaitu 204. Komposisi terbentuk dari penyusunan komponen taman seperti tanaman, air, dan perkerasan. Komponen taman sendiri tersusun atas
elemen-elemen desain berupa garis, bentuk, warna, dan tekstur. Dengan kata lain kualitas estetika komposisi merupakan efek dari penyusunan elemen-elemen desain (Molnar dan Rutledge, 1992).
Gambar 10. Pengaruh komposisi terhadap nilai SBE
Komposisi pertama (K1) menampilkan kondisi awal dari taman dengan mengikuti kriteria standar dari masing-masing tingkat hemat energi. Keterbatasan elemen taman yang digunakan menjadikan taman berkesan kosong dan kurang menarik. Komposisi ini disebut juga sebagai komposisi kontrol karena digunakan sebagai pembanding dengan komposisi yang sudah dimodifikasi.
Komposisi yang mengaplikasikan unity dan harmony (K2) menghasilkan nilai SBE yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi awal yaitu 145. Penerapan prinsip ini umumnya diikuti oleh prinsip repitition. Bentukan yang terdapat dalam komposisi ini cenderung kaku dan formal. Desain komposisi yang menghasilkan kesan formal dan kurang variatif sehingga tidak terlalu diminati oleh pengguna (Reid, 1993).
Komposisi yang mengaplikasikan prinsip harmony dan interest (K3) menghasilkan kualitas estetik lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi pertama dan kedua dengan nilai rata-rata SBE sebesar 175. Prinsip harmony
membentuk komposisi dengan keseimbangan asimetris. Penggunaan prinsip
interest membentuk komposisi dengan pola tidak teratur atau diagonal yang 36,6 145 175,6 204 0 50 100 150 200 250 1 2 3 4 N il ai SB E Komposisi
menciptakan variasi sehingga menjadi lebih menarik. Aplikasi prinsip ini pada elemen-elemen taman berupa air, perkerasan dan vegetasi menciptakan kesan aktif dan memberi semangat (Molnar dan Rutledge, 1992).
Komposisi yang mengaplikasikan prinsip unity dan interest (K4) menghasilkan kualitas estetika tertinggi, yaitu nilai rata-rata SBE 204. Pola melengkung adalah pola yang digunakan pada komposisi ini. Penerapan pada taman baik dari elemen vegetasi, air, perkerasan atau gabungan dari beberapa elemen prinsip desain tersebut menciptakan sebuah irama atau rhytm (Gambar 10). Prinsip rhytm menciptakan kesan natural yang umumnya diminati oleh pengguna (Reid, 1993).
Kualitas Estetika Kombinasi
Hasil interaksi antara kriteria hemat energi dengan komposisi didapati hubungan yang signifikan dari uji F dengan taraf nyata 0,05. Artinya kriteria hemat energi dan komposisi saling mempengaruhi dalam menentukan kualitas estetika dalam sebuah desain. Kombinasi dengan kualitas estetika paling rendah adalah kriteria hemat energi rendah komposisi pertama (C1K1) dan kualitas estetika paling tinggi dihasilkan oleh kriteria hemat energi tinggi komposisi keempat (C3K4).
Kriteria Hemat Energi Rendah Komposisi Kedua (C1K2)
Elemen tanaman dalam taman ini berupa pohon dan penutup tanah dengan variasi warna yang disusun bergantian membentuk persegi terlihat pada Gambar 11. Keterbatasan variasi jenis dan tinggi tanaman mempengaruhi penilaian kualitas estetika (Maharta, 2004). Tajuk pohon hujan mas yang berukuran sekitar 2 m tidak dapat memberi pembatas ruang atas atau atap bagi taman secara maksimal. Hal ini menghasilkan ruang kosong pada tengah taman dan langsung terpusat pada pekerasan yang berbatasan dengan pagar. Area kosong di tengah taman menciptakan perasaan tidak nyaman sehingga kurang disukai (Molnar dan Rutledge, 1992). Pagar masif selain menghambat pertukaran udara, juga memberi kesan kaku yang diperkuat dengan pengaturan komposisi tanaman yang monoton.
Gambar 11. Kriteria hemat energi rendah komposisi kedua (C1K2)
Kriteria Hemat Energi Rendah Komposisi Ketiga (C1K3)
Penataan tanaman yang memperhatikan keseimbangansesuai dengan skala ruang yang tersedia menghasilkan kualitas estetika yang baik (Mahatar, 2004). Berbeda dengan kombinasi sebelumnya, kombinasi ini mengisi ruang kosong ditengah taman dengan elemen pohon, perkerasan dan penutup tanah. Penggabungan perkerasan dan tanaman mengurangi dominasi ketinggian pohon. Selain menjadi vocal point posisi perkerasan diletakkan dibawah naungan pohon menyebabkan perkerasan tidak cepat menyerap panas.
Gambar 12 menunjukan keseimbangan asimetris pada taman yang dihasilkan oleh penutup tanah. Keseimbangan asimetris lebih diminati karena variasi yang dihasilkan lebih menarik dibandingkan keseimbangan simetris yang berkesan monoton.
Kriteria Hemat Energi Rendah Komposisi Keempat (C1K4)
Terbatasnya jenis dan jumlah tanaman yang digunakan dalam kriteria hemat energi rendah menjadi salah satu kendala untuk menciptakan desain taman serta mempengaruhi kualitas estetika, terutama untuk kombinasi yang menggunakan kriteria hemat energi rendah. Namun kombinasi C1K4 mempunyai nilai SBE yang cukup tinggi. Variasi warna dan ketinggian tanaman menghilangkan kemonotonan dalam taman. Tegakan pohon ditengah taman menjadi pusat visual. Peletakkan perkerasan dengan bentuk masif tidak menciptakan suatu pergerakan sehingga bertolak belakang dengan kesan dinamis yang ditimbulkan oleh tanaman.
Prinsip unity diciptakan dari garis melingkar yang terdapat pada perkerasan dan pola tanaman (Gambar 13). Garis tersebut menghubungkan semua elemen dan ruang yang terdapat ditaman menjadi sebuah kesatuan. Garis melengkung pada taman juga menciptakan kesan yang menyenangkan (Molnar dan Rutledge, 1992).
Kriteria Hemat Energi Sedang Komposisi Kedua (C2K2)
Pola yang menggunakan prinsip repitition pada taman memberi kesan kuat dan menghasilkan nilai kualitas estetika yang cukup tinggi. Gambar 14 memperlihatkan penggunaan prinsip repitition pada elemen perkerasan. Vegetasi memperkuat prinsip unity untuk menghubungkan ruang-ruang pada taman. Pengaturan perkerasan membentuk sebuah persegi yang disusun teratur dengan ukuran dan jarak yang sama. Bentuk persegi ini secara tidak langsung menghasilkan taman dengan karakter garis-garis lurus. Variasi pagar yang berongga vertikal serasi dengan garis-garis lurus yang ditampilkan oleh taman ini. Selain berfungsi untuk membentuk ruang, peletakan perkerasan di tengah-tengah taman menjadikan perkerasan sebagai vocal point. Garis lurus merupakan elemen dominan dan kuat yang dapat mengarahkan pandangan tertuju pada objek (Molnar dan Rutledge, 1992).
Penyusunan semak bougenvil (Bougenville sp.) terkesan kurang rapi tapi cukup menarik karena dipadukan dengan penutup tanah berupa aglaonema (Aglaonema sp.). Pengembangan bentuk elemen air yang digabungkan dengan perkerasan tidak hanya menarik dari sudut estetika tetapi mempunyai fungsi sebagai jalur sirkulasi penghubung antara taman dan bangunan.
Kriteria Hemat Energi Sedang Komposisi Ketiga (C2K3)
Prinsip keseimbangan terlihat pada taman ini, terlihat dari penempatan perkerasan yang berhadapan. Permainan perkerasan yang menggunakan garis zig-zag menghasilkan kesan dinamis (Molnar dan Rutledge, 1992). Namun pola garis yang digunakan pada kombinasi ini dianggap sama dengan pola garis pada kombinasi sebelumya sehingga dihasilkan respon nilai SBE yang sama.
Gambar 15. Kriteria hemat energi sedang komposisi ketiga (C2K3)
Secara keseluruhan tidak terlihat prinsip unity dalam taman ini, tetapi didapatkan kesan harmony dari penempatan masing-masing elemen. Kombinasi elemen perkerasan dan elemen air menjadikan desain taman ini semakin menarik. Perkerasan yang digunakan dalam taman ini menggunakan perkerasan dengan kemampuan infiltrasi cukup besar, meskipun begitu penempatan perkerasan diusahakan mendapat sinar matahari karena tajuk pohon yang cukup rapat dapat menghambat kemampuan infiltrasi.
Kriteria Hemat Energi Sedang Komposisi Keempat (C2K4)
Pengorganisasian letak tanaman membentuk sebuah irama dari rendah hingga tinggi dengan penutup tanah yang berada pada area pintu masuk rumah hingga semak yang hampir menutupi pagar. Secara horizontal tanaman membentuk pola melengkung yang juga membentuk sebuah rhytm.
Gambar 16. Kriteria hemat energi sedang komposisi keempat (C2K4)
Perkerasan dibentuk mengikuti bentuk tanaman (Gambar 16) dalam hal ini membantu mengarahkan penggunanya. Letak perkerasan yang cukup dekat dengan elemen air dapat mencegah perkerasan menyerap panas berlebihan. Desain taman ini menghasilkan taman yang bersifat natural. Terlihat bentuk yang tidak lagi tegas dan kaku. Penanaman tanaman semak bougenvil secara bergerombol juga memberikan kesan natural dibanding dengan penanaman tanaman secara individual (VanderZanden dan Rodie, 2008). Nilai kualitas estetika taman ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan komposisi lain walaupun berada dalam kriteria hemat energi sedang. Pola garis lengkung memberi kesan dinamis dan dinilai lebih menarik dibandingkan dengan pola garis lurus.
Kriteria Hemat Energi Tinggi Komposisi Kedua (C3K2)
Kesan natural didapatkan dalam taman ini akibat dominasi tanaman. Kompleksitas dalam desain taman ini ditandai dengan penambahan jumlah tanaman yang semakin bervariasi mulai dari pohon, semak, hingga penutup tanah. Pengaturan tanaman yang berasal dari beberapa strata menghasilkan sebuah
harmony.
Perkerasan berfungsi sebagai penghubung elemen-elemen didalam taman baik elemen tanaman juga elemen air. Secara tidak langsung perkerasan
menghubungkan ruang-ruang yang ada didalam tapak sehingga membentuk suatu
unity. Bentuk persegi masih digunakan dalam desain taman kriteria tinggi dengan pertimbangan bahwa bentuk kotak yang berkesan formal merupakan salah satu simbol keteraturan yang berusaha ditonjolkan dalam komposisi ini.
Gambar 17. Kriteria hemat energi tinggi komposisi kedua (C3K2)
Pada Gambar 17 terlihat penggunaan elemen air dalam kriteria ini merupakan vocal point dalam taman dan diletakkan pada posisi pintu masuk taman. Elemen air ini semakin menarik dengan menghasilkan air mancur tipe
single-jet spray yang diletakkan pada sisi kiri dan kanan area masuk dan menciptakan keseimbangan.
Meskipun begitu nilai SBE komposisi ini lebih rendah dibandingkan nilai SBE komposisi lain yang menggunakan kriteria hemat energi sedang. Penambahan hanjuang yang memberi aksen warna tidak serta merta menaikkan kualitas estetika. Dalam hal ini nilai estetika tidak hanya bergantung pada jumlah atau luas tanaman, tetapi juga dipengaruhi oleh peletakan dan pembagian elemen mengikuti prinsip estetika (Ile, 2011).
Kriteria Hemat Energi Tinggi Komposisi Ketiga (C3K3)
Taman pada Gambar 18 terkesan tidak teratur karena penerapan prinsip
interest tanpa menerapkan prinsip unity sehingga antara satu elemen dengan elemen lainnya tidak mempunyai penghubung. Perkerasan yang terdapat di pojok
taman tidak terlihat karena terhalang oleh pohon dan tanaman sehingga stepping stones yang terdapat ditaman terlihat terputus. Akibatnya tercipta kesan kosong, tidak memberi arah, dan kurang menarik bagi responden. Sudut pandang dapat juga mempengaruhi kualitas estetika.
Elemen air menjadi vocal point pada taman ini. Selain menarik, peletakan elemen air didepan teras rumah diharapkan dapat menjadi stabilitator suhu. Pohon besar dan tanaman tinggi dapat membentuk ruang dan memberi privasi kepada pengguna, sehingga taman dengan dominasi tanaman tinggi cukup disukai (Maharta, 2004).
Gambar 18. Kriteria hemat energi tinggi komposisi ketiga (C3K3)
Kriteria Hemat Energi Tinggi Komposisi Keempat (C3K4)
Komposisi kriteria hemat energi tinggi komposisi keempat (C3K4) memiliki nilai SBE tertinggi, dengan kata lain paling dimintai oleh responden. Beberapa respon yang diberikan oleh responden adanya kesan teduh dan natural pada taman. Elemen air menjadi point of interest dengan penambahan permainan air berupa single-jet spray (Gambar 19). Penggunaan air beriak mendukung kesan dinamis yang dihasilkan oleh penerapan prinsip desain pada kombinasi ini.
Komposisi taman tampak cukup padat namun tetap terorganisasi dengan baik. Variasi tanaman yang digunakan membantu penerapan komposisi pada taman. Penyususunan letak tanaman tetap diusahakan untuk menimbulkan prinsip
ryhtm, akan tetapi penambahan tanaman hanjuang (Cordyline sp.) memberi suatu aksen bagi taman ini dari segi proporsi maupun warna. Posisi pohon tidak berada tepat disebelah bangunan, tetapi bayangan yang dihasilkan tetap dapat melembutkan bangunan. Bayangan menjadi penghubung antara elemen-elemen taman yang kemudian membentuk unity. Dampak ekologis dari hal tersebut dapat menurunkan suhu dalam rumah.
Gambar 19. Kriteria hemat energi tinggi komposisi keempat (C3K4)
Beberapa aplikasi prinsip estetika yang dikemukakan oleh VanderZanden dan Rodie (2008) antara lain menyatukan struktur bangunan dengan lanskap sekitarnya, menciptakan ruang, dan mengarahkan pengguna baik secara fisik dan visual diterapkan pada komposisi taman ini. Stepping stones dan bentuk penutup tanah membentuk irama yang mengarahkan pengguna pada perkerasan.
Elemen-elemen lanskap dapat mempengaruhi kualitas keindahan suatu lanskap (Meliawati, 2003). Dalam hal ini kualitas estetika bergantung pada berapa kompleks elemen yang digunakan dan peletakan dari elemen-elemen tersebut. Pada kriteria hemat energi rendah elemen yang digunakan cukup terbatas sehingga kualitas estetika yang dihasilkan rendah. Kriteria hemat energi tinggi memiliki elemen yang lebih beragam memiliki sehingga kualitas estetika cukup tinggi. Secara keseluruhan taman ini merupakan hasil kombinasi ideal dari kriteria hemat energi dan komposisi.