• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengamatan terhadap jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada pertanaman cabai berdasarkan perlakuan penggunaan mulsa organik dan anorganik dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 menunjukkan bahwa selama pengamatan jumlah serangga yang tertangkap dengan menggunakan perangkap jatuh (pitfall trap) terdiri dari 5 ordo dan 7 famili dengan jumlah populasi serangga sebesar 70 ekor. Serangga yang paling banyak tertangkap adalah ordo Hymenoptera dari famili Formicidae dengan jumlah 33 ekor sedangkan yang terendah ordo Orthoptera dari famili Gryllotalpidae dengan jumlah 1 ekor.

Dari Tabel 1 diketahui bahwa serangga yang paling banyak tertangkap pada setiap fase pertumbuhan cabai adalah ordo Hymenoptera dari famili Formicidae yang didominasi oleh spesies semut hitam. Hal ini disebabkan penggunaan mulsa organik dan anorganik dapat menciptakan iklim mikro yang sesuai dengan keberadaan semut dan mulsa organik dapat dijadikan sebagai sumber makanan sehingga mengundang kedatangan semut. Semut juga memiliki penyebaran yang luas, kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga keberadaannya dapat ditemukan di berbagai habitat. Menurut Borror et al. (1992) Formicidae yang lebih dikenal dengan semut, merupakan kelompok yang umum menyebar luas dan memiliki tingkat adaptasi yang tinggi sehingga dapat ditemukan di semua habitat. Banyaknya populasi semut juga didukung oleh cara hidup semut yang berkoloni dan tersusun atas kasta-kasta sehingga jumlahnya sangat banyak. Hidup secara berkoloni peluang individu dalam kelompok untuk mempertahankan hidup

Tabel 1. Jumlah Dan Jenis Serangga yang Tertangkap Ordo Famili

Perlakuan Pada fase pertumbuhan cabai

Total

Juvenil Produksi Penuaan

T0 T1 T2 T3 T4 T5 T0 T1 T2 T3 T4 T5 T0 T1 T2 T3 T4 T5

Orthoptera Gryllidae 1 2 2 1 1 1 1 - 2 - 1 - - 1 1 - 1 1 16

Gryllotalpidae - - - 1 - - - 1

Hemiptera Cydnidae 1 1 1 - - - 1 1 - 1 - - - 2 - - 8 Coleoptera Elateridae - - - 1 1 - - - 1 - - 3

Curculionidae - - - 1 - 1 - - - 2

Dermaptera Forficulidae - 1 - 2 - - 2 - - 3 - - - 8 Hymenoptera Formicidae 3 1 1 1 4 2 1 1 2 3 2 - 4 2 3 - 2 - 32

Total 5 5 4 5 5 3 5 2 4 8 4 2 4 3 4 3 3 1 70

Ket : *= Tanpa Mulsa **= Mulsa organik ***= Mulsa Anorganik

semakin meningkat. Wallwork (1976) mengatakan bahwa Formicidae dapat mencapai 70% dari populasi fauna tanah tropika, sehingga famili ini dapat dijumpai dalam jumlah yang banyak.

Berdasarkan hasil pengamatan pada pertanaman cabai diketahui bahwa jumlah serangga yang paling sedikit tertangkap adalah ordo Orthoptera dari famili Gryllotalpidae yaitu sebanyak 1 ekor. Rendahnya populasi famili Gryllotalpidae di areal pertanaman disebabkan karena habitatnya yang berada di dalam tanah dan sangat jarang keluar kecuali malam hari (serangga nokturnal). Hal ini sesuai dengan pernyataan Frank et al. (2007) yang menyatakan bahwa Gryllotalpidae (anjing tanah) adalah hewan yang agak jarang terlihat karena lebih suka bersembunyi dalam lubang dan aktif pada malam hari mencari makanan. Walker (1999) juga menjelaskan bahwa anjing tanah umumnya hidup pada tempat-tempat berair, daerah yang lembab, suhu lingkungan yang rendah dan pada musim kering anjing tanah sangat sukar ditemui.

Pada Tabel 1 berdasarkan fase pertumbuhan tanaman cabe menunjukkan bahwa serangga yang paling banyak tertangkap adalah pada fase juvenil yaitu 27 ekor dengan 5 famili dan yang paling rendah pada fase penuaan yaitu 18 ekor dengan 4 famili. Hal ini dikarenakan pada fase juvenil tandan kosong kelapa sawit yang dijadikan sebagai mulsa organik belum terdekomposisi sehingga dapat menjadi sumber makanan dan mendukung kondisi lingkungan yang sesuai dengan perkembangan serangga tanah sedangkan pada fase penuaan tandan kosong kelapa sawit yang digunakan sebagai mulsa organik hampir seluruhnya sudah terdekomposisi. Seperti yang dijelaskan oleh Sugyarto et al. (2007) bahwa bahan organik yang belum terdekomposisi dapat menyediakan sumber makanan dan perlindungan terhadap cahaya dalam waktu yang lebih lama.

Pada fase juvenil dari perlakuan menunjukkan bahwa pada perlakuan T1 (tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator) menunjukkan jumlah famili serangga yang paling banyak tertangkap dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebanyak 4 famili. Hal ini menunjukkan bahwa tandan kosong kelapa sawit merupakan bahan organik yang mengandung lignin dan selulosa. Lignin dan selulosa merupakan senyawa organik pada tanaman yang menghasilkann C-organik. Seperti yang dijelaskan Blanco Canqui dan Lai (2004) yang menyatakan bahwa lignin dan selulosa merupakan komponen organik utama yang menghasilkan C-organik, sehingga kadar kedua senyawa tersebut mempengaruhi kadar C-organik tanah. Selanjutnya Rasiah dan Kay (1999) juga menjelaskan bahwa bahan organik merupakan sumber energi bagi aktivitas mikroorgnisme tanah tertentu. Adanya bahan makan (sumber C) dalam bentuk organik maupun anorganik sangat menetukan tingkat populasi, keragaman dan aktivitas mikroorganisme.

Pada fase produksi menunjukan bahwa jumlah famili serangga yang paling banyak tertangkap terdapat pada perlakuan T3 (tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) yaitu sebanyak 8 ekor dengan 4 famili. Hal ini dikarenakan pada perlakauan T3 Trichoderma sp. sebagai aktivator pengomposan berperan dalam mendegradasi bahan organik sehingga mempercepat proses dekomposisi. Perlakauan T3 merupakan perlakuan dengan bahan organik yang telah matang sempurna sehingga meningkatkan C/N dan C-organik tanah. Menurut Nurrohman (2016) menyatakan bahwa korelasi antara kelimpahan serangga tanah dengan parameter C/N menunjukkan korelasi positif artinya adalah semakin tinggi nilai C/N semakin tinggi pula jumlah individu.

Selanjutnya Bartram dan Perkins (2003) mengatakan bahwa bahan organik tanah

dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah dan aktivitasnya di tanah karena bahan organik merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme.

Semakin tinggi kandungan organik tanah maka semakin beranekaragam fauna tanah yang terdapat pada suatu ekositem.

Pada fase penuaan menunjukkan bahwa jumlah famili serangga yang paling banyak tertangkap terdapat pada perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator), T2 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus), T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) dan T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) masing-masing terdiri dari 2 famili. Pada fase penuaan jumlah dan jenis serangga yang tertangkap lebih rendah dibandingkan pada fase juvenil dan produksi. Hal ini disebabkan karena bahan organik hampir seluruhnya terdekomposisi dan dimanfaatkan oleh serangga tanah sebagai sumber makanan, sehingga serangga tanah akan berpindah ke tempat yang masih tersedia sumber makanan dan mengakibatkan penurunan jumlah individu serta jenis serangga tanah. Sugiyarto (2003) menyatakan bahwa makrofauna tanah dapat merespon perubahan lingkungan dengan bermigrasi ke tempat lain.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa jenis serangga yang tertangkap pada penggunaan mulsa organik perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator) dan T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) terdapat perbedaan yang signifikan dengan penggunana mulsa anorganik perlakuan T5 (Mulsa perak) Dimana pada perlakuan T1 dan T3 terdapat serangga tanah famili Forficulidae yang berasal dari ordo Dermaptera sedangkan pada perlakuan T5 Tidak ada ditemukan. Hal ini

disebabkan karena serangga Forficulidae merupakan serangga yang aktif pada malam hari dan pada siang hari menghabiskan waktu dengan bersembunyi di bawah puing-puing daun dan di lokasi yang gelap. Dengan menggunakan mulsa organik mampu menyediakan kondisi lingkungan yang mendungkung pertumbuhan dan perkembangan Forficulidae salah satunya adalah kondisi lingkungan yang lembab sehingga sangat disukai serangga Forficulidae, selain itu bahan organik juga dapat dijadikan sebagai sumber makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Chant dan Mc Leod (1992) yang menyatakan bahwa Forficulidae aktif di malam hari, menghabiskan hari tersembunyi di bawah puing-puing daun, di celah-celah dan di lokasi gelap lainnya. Panggalo et al. (2014) juga mengatakan bahwa spesies Forticula auricularia atau biasa disebut juga dengan cocopet sangat suka pada tempat-tempat yang lembab, dan aktif pada malam hari.

Status Fungsi Serangga yang Tertangkap

Setiap spesies serangga mempunyai relung (cara hidup) dan fungsi yang berbeda dan berkaitan satu dengan yang lainnya. Selama spesies serangga tersebut melaksanakan fungsinya dan bekerjasama dengan baik maka keteraturan ekosistem akan tetap terjaga. Berikut ini dapat dilihat jenis serangga dan masing-masing fungsi serangga yang tertangkap pada Tabel 2.

Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan T2 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus), T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) dan T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) dan T5 (Mulsa perak) status fungsi serangga yang paling banyak ditemukan adalah sebagai hama. Hal ini dikarenakan pada perlakuan T2, T3, T4 adannya penambahan bahan organik yang mampu menyediakan kondisi lingkungan yang

sesuai bagi serangga. Selain itu, banyaknya hama juga disebabkan oleh lahan pertanaman hanya terdapat tanaman cabai atau lebih dikenal dengan pola tanam monokultur, pola tanam monokultur ini mempercepat perkembangan populasi hama pada areal pertanaman. Seperti yang dinyatakan oleh Staver et al. (2001) bahwa sistem penanaman monokultur lebih rentan terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman terutama serangga.

Tabel 2. Status Fungsi Serangga yang Tertangkap

Perlakuan Serangga

Ordo; Famili

Status fungsi

serangga Jumlah

T0 Hemiptera; Cydnidae Hama 2

Orthoptera; Gryllidae Hama 2

Hymenoptera; Formicidae

Orthoptera; Gryllidae Hama 3

Dermaptera; Forficulidae Predator 1

Hymenoptera; Formicidae Predator 4

T2 Hemiptera; Cydnidae Hama 1

Orthoptera; Gryllotalpidae Hama 1

Dermaptera; Forficulidae Predator 5

Hymenoptera; Formicidae

Berdasarkan hasil pengamatan pada semua perlakuan serangga yang berstatus sebagai hama yang paling sering muncul adalah ordo Orthoptera dari famili Gryllidae. Famili Gryllidae merupakan serangga yang aktif bergerak dan hidup pada permukaan ataupun dalam tanah, famili Gryllidae biasanya aktif pada malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dalam liang atau tumpukan-tumpukan bahan organik. Serangga ini paling banyak ditemukan pada perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator), T2 (mulsa tandan kosong

kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus), T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) dan T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) dibandingkan dengan perlakuan T5 (Mulsa perak). Dengan perlakuan T1, T2, T3, dan T4 menyebabakan kondisi lingkungan yang gelap dan lembab di sekitar pertanaman karena tumpukan bahan organik yang dijadikan sebagai mulsa. Hal ini didukung oleh pernyataan Gassen (1996); Santos et al. (2008) yang menyatakan bahwa famili Gryllidae aktif di malam hari dan hidup di lingkungan dengan vegetasi rendah atau tanaman dengan tutupan vegetasi langka. Pada siang hari, mereka tetap tersembunyi di bawah puing-puing dan di bawah tanah, di lingkungan yang lembab dan gelap.

Berdasarkan penggunaan mulsa organik dan anorganik status fungsi serangga sebagai predator terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan mulsa organik dan anorganik. Dimana pada penggunaan mulsa organik ditemukan predator dari famili Forficulidae sementara pada penggunaan mulsa anorganik tidak ada ditemukan predator Forficulidae. Hal ini disebabkan karena famili Forficulidae aktif pada malam hari dan sangat sensitif terhadap panas dan kekeringan. Dengan penggunaan mulsa anorganik akan menyebabkan suhu permukaan tanah naik dan pada saat penelitian musim kemarau sehingga di sekitar pertanaman dengan penggunaan mulsa anorganik menjadi lebih panas.

Douglas and Sanders (2001) yang menyatakan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak mampu meningkatkan suhu tanah 4 hingga 50 C, mengurangi pemadatan tanah, mengurangi penguapan dan efektif menekan pertumbuhan gulma.

Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga

Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada pertanaman cabai dengan penggunaan mulsa organik dan anorganik dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga

Ordo Famili Perlakuan Total Pi H' = -∑ Pi ln(Pi)

Tabel 3 menunjukkan nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada pertanaman cabai dengan penggunaan mulsa organik dan anorganik adalah

H’= 2,872. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga pada lingkungan lahan tersebut sedang karena H’ = 1-3 adalah kondisi lingkungan sedang. Aryoudi (2015) bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga sedang yaitu mengarah hampir baik dimana keberadaan hama dan musuh alami di lapangan hampir seimbang.

Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga tanah pada pertanaman sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang digunakan. Terutama pada perlakuan mulsa organik yang menggunakan aktivator, dimana penggunaan perlakuan yang menggunakan aktivator sangat erat kaitannya dengan C-organik tanah. Perlakuan dengan menggunakan aktivator akan mempercepat proses dekomposisi bahan organik yang digunakan sehingga akan meningkatkan C-organk tanah. Dengan meningkatnya kandungan C-organik tanah keanekaragaman serangga tanah juga akan meningkat karena bahan organik tanah yang digunakan dapat dimanfaatkan oleh serangga tanah sebagai sumber makanannya. Seperti yang dinyatakan oleh Suin (2012) bahwa bahan organik sangat menentukan kepadatan populasi organisme tanah salah satunya adalah fauna tanah dimana semakin tinggi kandungan organk tanah maka semakin beranekaragam fauna tanah yang terdapat pada suatu ekositem.

Pada perlakuan mulsa anorganik yaitu perlakuan mulsa hitam perak berbanding terbalik dengan perlakuan mulsa organik dan merupakan salah satu penyebab nila indeks keanekaragaman jenis serangga tanah berada dalam kategori sedang. Perlakuan mulsa hitam perak tidak disukai oleh serangga tanah karena tidak adanya bahan organik yang dapat dijadikan sebagi sumber makanan. Selain itu, penggunaan perlakuan mulsa hitam perak dapat mengakibatkan kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan perkembangan serangga salah satunya yaitu

menyebabkan suhu tanah dan di sekitar pertanaman naik. Hal ini didukung oleh pernyataan Douglas and Sanders (2001) yang menyatakan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak mampu meningkatkan suhu tanah 4 hingga 50 C, mengurangi pemadatan tanah, mengurangi penguapan dan efektif menekan pertumbuhan gulma. Selanjutnya Nadeem et al. (2012) menyatakan bahwa suhu mempengaruhi laju perkembangan serangga dan juga mempengaruhi populasi serangga.

Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga tanah pada pertanaman cabai termasuk dalam kategori sedang. Hal ini juga disebabkan oleh penggunaan mulsa organik yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit yang telah dikomposkan.

Penggunaan mulsa organik tandan kosong kelapa sawit tersebut ada mengeluarkan senyawa yang bersifat menolak serangga. Seperti yang dijelaskan oleh Hoel et al. (2007) yang menyatakan bahwa senyawa hasil fermentasi tandan kosong sawit (TKS) dan bungkil kelapa sawit (BKS) dapat juga digunakan sebagai repellent (penolak serangga) karena adanya asam organik yang terbentuk.

Asam organik ini diduga merupakan hidrokarbon berantai pendek yang bersifat volatil.

Status Hara C dan N tanah

Tabel 4. Hasil Analisis dan Kondisi fisik Kompos

Parameter Perlakuan

Warna Coklat Coklat kehitaman Coklat kehitaman Coklat Keterangan:

T1= Tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator

T2 = Tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus

T3 = Tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma T4 = Tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma + ragi

Kematangan suatu pengomposan dapat dilihat pada hasil analisis dan kondisi fisik kompos (Tabel 4 ). Pada perlakuan T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) menunjukkan tingkat kematangan yang lebih sempurna dibandingkan perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator), T2 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus) dan T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) Tingkat kematangan pengomposan pada perlakuan T3 dapat dilihat pada tabel 4 dimana C-organik 28.71%, N 1.55%, C/N 18.52, pH 7.74, tekstur remah dan warna coklat kehitaman (Lampiran 4). Hal ini sesuai dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang spesifikasi pengomposan yang telah matang antara lain C-organik <32%, N<2%, C/N 10-20, pH >6.5, tekstur remah dan warna kehitaman (SNI No. 19-7030-2004).

Setelah mulsa organik dan anorganik diaplikasikan ke lapangan, pada fase produksi dan penuaan dilakukan analisis tanah untuk melihat perbandingan unsur hara C dan N sebelum dan sesudah aplikasi mulsa organik dan anorganik. Hasil analisis tanah pada lahan penelitian sebelum dan sesudah aplikasi mulsa organik dan anorganik dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Tanah Sebelum dan Sesudah Aplikasi Mulsa Organik Dan Anorganik

Berdasarkan hasil analisis tanah yang telah dilakukan sebelum aplikasi mulsa (Tabel 5) didapatkan kandungan C-organik sebesar 2.30% yang

menunjukkan bahwa kandungan C-organik tanah sedang. Hal ini sesuai dengan PPT Bogor (1995) yang menyatakan bahwa kriteria peniliaian sifat kimia tanah dikategorikan sangat rendah jika nilai C <1, dikategorikan rendah jika nilai C 1-2%, dikategorikan sedang jika C 2-3%, dikategorikan tinggi jika C 3-5% dan dikategorikan sangat tinggi jika C>5%. Sehingga tanah ini perlu adanya penambahan bahan organik sebagai upaya dalam meningkatkan kesuburan dan produktivitas tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, meningkatkan kapasitas pertukaran ion, dan meningkatkan aktivitas biologi tanah.

Berdasarkan hasil analisis tanah (Tabel 5) setelah aplikasi mulsa organik dan anorganik untuk kandungan C-organik pada fase produksi yang tertinggi adalah perlakuan T2 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus) sebesar 3.91 dan yang terendah T5 (mulsa perak) sebesar 2.67%. Sedangkan pada fase penuaan kandungan C-organik tertinggi pada perlakuan T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) sebesar 6.12 dan terendah T5 (mulsa perak) sebesar 2.93%. Dari pengamatan tersebut terlihat adanya peningkatan C-organik.

Peningkatan C-organik tertinggi terdapat pada perlakuan T3 yaitu 6.12%, hal ini menunjukkan kriteria tanah yang tergolong subur karena nilai C-organik tanah yang tinggi. Eviati dan Sulaeman (2009) yang menyatakan kriteria peniliaian status hara adalah dikategorikan sangat rendah jika nilai C<1%, dikategorikan rendah jika nilai C 1-2%, dikategorikan sedang jika C 2-3%, dikategorikan tinggi jika C 3-5% dan dikategorikan sangat tinggi jika C>5%. Adanya penambahan bahan organik berbanding lurus dengan peningkatan C-organik tanah, dan penahan lengas tanah. Seperti yang dijelaskan oleh Utami dan Handayani (2003) menjelaskan bahwa dengan pemberian bahan organik dapat meningkatkan

kandungan C-organik tanah dan dengan peningkatan C-organik tanah juga dapat mempengaruhi sifat tanah menjadi lebih baik secara fisik, kimia dan biologi.

Berdasarkan hasil analisis tanah (Tabel 5) perlakuan terbaik dan peningkatan C-organik tertinggi adalah pada perlakuan T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) yaitu sebesar 2.33% sedangkan peningkatan terendah terdapat pada perlakuan T5 (Mulsa perak) sebesar 0.26. Peningkatan C-organik tertinggi terdapat pada perlakuan T3 karena pada perlakuan ini adanya penambahan bahan organik yang sudah matang sehingga mampu meningkatkan C-organik tanah sedangkan pada perlakuan T5

tidak adanya penambahan bahan organik sehingga C-organik pada perlakuan ini lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Stevenson (1992) yang menyatakan bahwa penambahn bahan organik atau kompos yang telah matang akan meningkatkan kandungan C-organik tanah. Peningkatan C-organik juga merupakan salah satu faktor penyebab jumlah dan jenis serangga yang tertangakap pada perlakuan T3 lebih banyak dibandingkan perlakuan lainnya (Tabel 1). Menurut Tian (1997) bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik

Berdasarkan hasil analisi setelah aplikasi mulsa organik dan anorganik, pH pada tanah mengalami peningkatan (Tabel 6) dari 4.4 menjadi 5.9, 6.1, 6.4, 6.3 dan 5 pada setiap perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator), T2 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus), T3

(mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur

Trichoderma sp.), T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B.

stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) dan T5 (mulsa perak).

Peningkatan pH tanah yang tertinggi terjadi pada perlakuan T3 dari 4.4 menjadi 6.4. Peningkatan ini disebabkan oleh tandan kosong (tankos) yang terdekomposisi menghasilkan anion-anion yang dapat meningkatkan pH tanah. Stevenson (1992) mengemukakan bahwa bahan organik mengandung anion-anion yang dapat mengikat ion-ion Al dan Fe dalam tanah dan membentuk senyawa kompleks yang sukar larut, akibatnya konsentrasi Al dan Fe menurun, dengan berkurangnya konsentrasi Al dan Fe maka hidrogen sebagai penyebab kemasaman tanah pun berkurang, akibatnya pH meningkat.

Berdasarkan hasil analisis tanah setelah aplikasi mulsa organik dan anorganik, N total pada fase produksi yang tertinggi adalah perlakuan T5 (mulsa perak) sebesar 0.24 dan terendah T3 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp.) dan T4 (mulsa tandan kosong kelapa sawit + bakteri B. stratosperichus + jamur Trichoderma sp. + ragi) yaitu sebesar 0.20. Sedangkan pada fase penuaan N tertinggi adalah perlakuan T1 (mulsa tandan kosong kelapa sawit tanpa aktivator) sebesar 0.58% dan terendah T5 (Mulsa perak) sebesar 0.27%. Dari pengamatan tersebut terlihat adanya peningkatan N total dari fase produksi ke fase penuaan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan mulsa organik yang berfungsi sebagai bahan organik dan sebagai sumber utama N pada tanah. Fliebach et al. (2007) mengemukakan bahwa penambahan bahan organik dalam tanah berupa pupuk kandang atau limbah panen dapat meningkatkan kandungan N dan C dalam tanah. Selanjutnya Benbi dan Richter (2002) juga menyatakan bahwa bahan organik yang terdekomposisi akan menghasilkan senyawa yang mengandung N, antaranya nitrat, nitrit dan nitrogen.

Menurut Usman et al. (2017) keanekaragaman akan tinggi apabila berada pada lingkungan optimum, misalnya tanah subur. Keanekaragaman cenderung akan rendah bila berada pada lingkungan yang ekstrim, misalnya tanah kurang subur. Nilai indeks keanekaragaman serangga tanah termasuk dalam kategori sedang (tabel 3) dan C-organik pada lokasi penelitian termasuk dalam kategori tinggi (Tabel 6). Hal ini terjadi karena pH tanah pada lahan pertanamn bersifat masam (Tabel 6) sehingga keberadaan serangga m enjadi terbatas. Seperti yang dinyatakan oleh Suin (2012) bahwa fauna tanah cenderung memilih kehidupannya di tanah ph netral. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan yang diperoleh oleh Elfarah (2017) bahwa pada kondisi lahan yang mempunyai pH tanah yang bersifat asam menyebabkan jumlah individu cenderung rendah.

Dokumen terkait