• Tidak ada hasil yang ditemukan

Luak yang digunakan dalam penelitian ini adalah luak Jawa yang didapatkan dari pengepul hewan di pasar hewan Jatinegara. Selama minggu pertama sampai ketiga luak terus berada di pojok kandang dan merespon untuk menyerang saat diberi makan dan dibersihkan kandangnya dengan menabrak dan menggigit jeruji kandang, kondisi ini diduga luak sedang mengalami kondisi stres. Selama masa adaptasi dilakukan pengamatan visual dan didapatkan luak masih memiliki gigi yang berukuran kecil dan berbentuk runcing. Luak dewasa memiliki empat buah gigi premolar atas dan gigi molar atas, berdasarkan hal tersebut luak yang digunakan dalam penelitian masih berumur muda dibawah 12 bulan (Patou et al 2010, Borah & Deka 2011). Pada minggu keempat luak sudah tampak tidak stres dan sudah mengalami adaptasi ditunjukkan dengan pola tingkah laku luak tidak lagi berusaha menyerang saat diberi pakan dan nafsu makannya juga mulai membaik dengan sisa pakan yang sedikit.

Sampel darah diambil saat minggu pertama dan dilanjutkan pada minggu kelima, enam, dan tujuh saat luak sudah mengalami adaptasi dengan lingkungan yang baru. Hasil analisa leukosit dan jenis leukosit darah luak Jawa jantan dan betina disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata jumlah total dan jenis leukosit luak Jawa jantan & betina Parameter Jantan (N=4) Betina (N=4) Leukosit (x103/mm3) 3.33±0.86 2.83±0.70 Neutrofil (x103/mm3) 1.01±0.47 0.68±0.30 Eosinofil (x103/mm3) 0.16±0.18 0.04±0.05 Basofil (x103/mm3) 0.00±0.00 0.00±0.00 Limfosit (x103/mm3) 2.06±0.42 2.05±0.59 Monosit (x103/mm3) 0.09±0.06 0.06±0.06 Indeks Stres (N/L) 0.49±0.18 0.37±0.22 Leukosit

Pola fluktuasi jumlah leukosit luak Jawa jantan dan betina yang diambil selama 7 minggu yaitu pada minggu 1, 5, 6, & 7 disajikan pada Gambar 9. Pada pengambilan darah pertama didapatkan gambaran jumlah leukosit yang cukup tinggi dibandingkan pengambilan darah kedua, hal ini diduga karena luak berada dalam tingkat stres yang cukup tinggi akibat proses penangkapan dari alam liar, stres dapat menaikkan salah satu jenis leukosit yang akibatnya juga akan menaikkan jumlah total leukosit dalam tubuh luak. Tetapi pada pengambilan darah kedua jumlah leukosit mulai menurun, penghitungan secara statistik juga menunjukkan adanya perbedaan nyata antara pengambilan darah pertama dan kedua ini. Pada pengambilan darah ketiga didapatkan gambaran darah luak yang mulai naik secara perlahan hingga pengambilan darah keempat, keadaan ini diduga dapat menunjukkan jumlah yang sama pada kondisi normal luak Jawa pada umumnya.

Perbandingan keseluruhan rata-rata jumlah leukosit luak Jawa jantan dan betina berada dibawah rata-rata jumlah leukosit luak jantan dan betina Thailand,

11

yaitu sebanyak 3.33x103/mm3 pada luak Jawa jantan dan 2.83x103/mm3 pada luak Jawa betina, sedangkan pada luak Thailand jantan memiliki rata-rata 5.85x109/l dan 6.68x109/l pada luak betinanya. Hal ini dimungkinkan karena terdapat perbedaan umur pada luak yang diteliti, dimana luak Jawa yang digunakan masih berumur kurang dari 12 bulan.

Neutrofil

Neutrofil yang didapatkan pada pemeriksaan darah ulas luak tidak berbeda dengan neutrofil mamalia pada umumnya, gambar neutrofil luak dan mamalia disajikan pada Gambar 10. Pola fluktuasi differensiasi neutrofil pada luak Jawa juga didapatkan hasil yang tinggi pada pengambilan darah pertama, hal ini berkaitan dengan kondisi stres yang dialami luak karena penangkapan dari alam liar, kondisi stres dapat memicu sekresi kortisol yang akan menyebabkan kenaikan jumlah neutrofil dalam darah (Davis et al 2008). Pengambilan darah kedua jumlah neutrofil mengalami penurunan yang cukup signifikan dari pengambilan darah pertama, dikarenakan luak sudah mulai beradaptasi dengan keadaan kandang dan lingkungan yang baru. Gambar 11 menunjukkan jumlah neutrofil luak Jawa jantan dan betina. Rata-rata jumlah neutrofil luak Jawa jantan ditunjukkan pada Tabel 3 yaitu 1.01x103/mm3 dan betina yaitu 0.68x103/mm3 jumlah ini secara umum berada dibawah jumlah neutrofil luak jantan dan betina Thailand yaitu 3.21x109/l dan 2.46x109/l.

Gambar 9 Profil Leukosit Luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

12

Gambar 10 Neutrofil mamalia (ditunjuk anak panah) (sebelah kiri) (Sumber: Hiremath et al 2010) dan neutrofil pada preparat ulas darah luak Jawa (sebelah kanan) dengan perbesaran mikroskop 1000x

Basofil

Dalam pemeriksaan differensiasi leukosit pada luak Jawa tidak ditemukan adanya basofil, sedangkan pada luak Thailand ditemukan basofil hanya pada luak betina dan dalam jumlah yang sedikit yaitu 0.07x109/l. Menurut Jones & Allison (2007) Basofil hanya berada pada peredaran darah tepi dalam jumlah yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Dalam proses peradangan basofil merupakan faktor peradangan yang penting pada kejadian alergi, basofil masuk dari pembuluh darah menuju jaringan tempat peradangan tersebut terjadi (Ennis 2010; Ohnmacht & Voehringer 2009).

Eosinofil

Eosinofil pada darah luak Jawa memiliki morfologi yang sama dengan eosinofil mamalia pada umumnya, hal ini disajikan pada Gambar 12. pinghitungan differensiasi leukosit darah luak Jawa jantan dan betina didapatkan hasil yang tidak berbeda jauh, pada pengambilan darah pertama dan kedua terdapat penurunan jumlah eosinofil yang tidak signifikan, pada pengambilan darah ketiga kadar eosinofil mulai naik dan bahkan pada luak jantan pada

Gambar 11 Profil neutrofil luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

13

pengambilan darah keempat didapatkan jumlah eosinofil yang lebih banyak daripada pengambilan darah yang pertama. Hal ini disebabkan adanya infeksi parasit darah berupa Anaplasma sp., Theileria sp., dan Babesia sp. pada luak jantan yang berkaitan dengan fungsi eosinofil sebagai agen pertahanan terhadap infeksi parasit (Putri 2012). Penghitungan statistik pada kadar eosinofil ini juga tidak menunjukkan perbedaan nyata pada setiap pengambilan darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13. Secara umum jumlah eosinofil pada luak Jawa jantan yaitu 0.16x103/mm3 dan luak betina yaitu 0.04x103/mm3 masih berada dibawah jumlah eosinofil pada luak Thailand jantan yaitu 0.74x109/l dan luak betina Thailand yaitu 0.29x109/l.

Gambar 12 Eosinofil mamalia (ditunjuk anak panah) (sebelah kiri) (Sumber: Stock & Hoffman 2000) dan eosinofil pada preparat ulas darah luak Jawa(sebelah kanan) dengan perbesaran mikroskop 1000x

Limfosit

Gambaran limfosit luak Jawa memiliki bentuk yang sama dengan limfosit pada kucing (Gambar 14). Jumlah limfosit pada luak juga mengalami penurunan yang cukup signifikan pada pengambilan darah pertama dibandingkan pengambilan darah kedua, ini juga masih berkaitan dengan kondisi fisiologis luak yang mengalami stres karena proses penangkapan. Kondisi stres ini juga dapat dilihat dari penghitungan rasio perbandingan antara neutrofil dan limfosit (N/L) (Kannan et al 2000). Namun, pada pengambilan darah ketiga dan keempat jumlah limfosit luak mulai mengalami kenaikan hingga hampir menyamai jumlah limfosit

Gambar 13 Profil eosinofil luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

14

luak pada pengambilan darah pertama. Hal ini diduga karena luwak sudah tidak mengalami stres yang menyebabkan naiknya kadar kortisol dalam tubuh, menurut Davis et al (2008) kenaikan kadar kortisol dalam darah akan menekan mitosis sel limfosit. Dalam keadaan tidak stres kadar kortisol tubuh mengalami penurunan sehingga memungkinkan tidak ada hambatan dalam proses sintesa atau pematangan DNA dari sel-sel limfosit, maka jumlah sel limfosit akan mengalami kenaikan. Differensiasi limfosit disajikan pada Gambar 15. Jumlah limfosit luak Jawa jantan yaitu 2.06x103/mm3 dan betina yaitu 2.05x103/mm3 berada sedikit diatas kisaran limfosit luak Thailand jantan yaitu 1.98x109/l dan luak betina yaitu 1.79x109/l.

Gambar 14 Limfosit kucing/mamalia (ditunjuk anak panah) (sebelah kiri) (Sumber: Prihirunkit et al 2007) dan limfosit pada preparat ulas darah luak Jawa (sebelah kanan) dengan perbesaran mikroskop 1000x

Gambar 15 Profil limfosit luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

Monosit

Bentuk monosit pada pemeriksaan darah luak Jawa tidak memiliki perbedaan dengan monosit mamalia pada umumnya, hal ini disajikan pada Gambar 16. Jumlah monosit pada luak Jawa mengalami penurunan sejak pengambilan darah pertama hingga pengambilan darah keempat, namun penurunan ini tidak terjadi secara signifikan. Pada pengambilan darah ketiga terjadi kenaikan jumlah monosit luak sebelum menurun lagi pada pengambilan darah keempat. Peningkatan monosit dapat dikaitkan dengan fungsi monosit

15

sebagai sel prekursor untuk makrofag yang ringan. Fungsi makrofag adalah sebagai pertahanan utama pada jaringan dengan mekanisme fagositosisnya. Bila terdapat aktifitas yang meningkat dari fagositosis ini maka monosit akan menuju jaringan untuk membentuk makrofag. Penurunan pada pengambilan darah yang pertama sampai pengambilan darah keempat tidak berbeda nyata menurut perhitungan secara statitik. Gambar 17 adalah gambaran jumlah monosit selama 7 minggu. Kisaran jumlah monosit dari luak Jawa jantan yaitu 0.09x103/mm3 dan betina yaitu 0.06x103/mm3 juga berada dibawah dari jumlah monosit luak Thailand jantan yaitu 0.31x109/l dan luak betina Thailand yaitu 0.5x109/l.

Gambar 16 Monosit mamalia (ditunjuk anak panah) (sebelah kiri) (Sumber: Hiremath et al 2010) dan monosit pada preparat ulas darah luak Jawa (sebelah kanan) dengan perbesaran mikroskop 1000x

Gambar 17 Profil monosit luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

Indeks Stress

Perhitungan tingkat stres luak dilakukan dengan melihat rasio neutrofil dan limfositnya dengan perhitungan (N/L). Menurut Kannan et al (2000) hewan yang mengalami stres memiliki rasio N/L diatas 1.5. Luak mengalami tingkat stres yang cukup tinggi pada pengambilan darah pertama, namun nilai ini masih dibawah batas stres pada mamalia. Pada pengambilan darah yang kedua, ketiga, dan keempat didapatkan tingkat stres luak yang menurun yang diduga luak sudah

16

beradaptasi dengan kondisi kandang dan lingkungan yang baru. Indeks stres luak disajikan pada Gambar 18.

Berdasarkan gambaran sel darah merah luak Jawa ini telah dilaporkan bahwa luak adalah hewan dengan gambaran morfologi sel darah merah yang lebih mendekati kucing (Purnomo 2012). Pada penelitian gambaran sel darah putih luak Jawa jantan dan betina yang berjumlah (3.33±0.86)x103/mm3 dan (2.83±0.70)x103/mm3 juga didapatkan nilai yang mendekati kisaran normal leukosit kucing (Felis domesticus) yaitu 5.55x103/mm3(O’Brien et al 1998).

SIMPULAN dan SARAN Simpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

 Jumlah rata-rata leukosit luak Jawa jantan adalah (3.33±0.86)x103/mm3 dan luak betina (2.83±0.70)x103/mm3

 Jumlah rata-rata eosinofil luak Jawa jantan adalah (0.16±0.18)x103/mm3 dan luak betina (0.04±0.05)x103/mm3

 Jumlah rata-rata neutrofil luak Jawa jantan adalah (1.01±0.47)x103/mm3 dan luak betina (0.68±0.30)x103/mm3

 Jumlah rata-rata limfosit luak Jawa jantan adalah (2.06±0.42)x103/mm3 dan luak betina (2.05±0.59)x103/mm3

 Jumlah rata-rata monosit luak Jawa jantan adalah (0.09±0.06)x103/mm3 dan luak betina (0.06±0.06)x103/mm3

 Jumlah rata-rata indeks stres luak Jawa jantan adalah (0.49±0.18) dan luak betina (0.37±0.22)

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang differensiasi darah luak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) pada umur hewan yang berbeda supaya didapatkan hasil yang merata sebagai perbandingan.

Gambar 18 Indeks stres luak Jawa jantan dan luak Jawa betina selama 7 minggu. Keterangan: superskrip dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05)

17

Dokumen terkait