Karakteristik Responden
Masyarakat Desa Gudang Garam yang menjadi peserta hutan kemasyarakatan berjumlah 26 (dua puluh enam) kepala keluarga. Seluruh masyarakat yang menjadi peserta hutan kemasyarakatan adalah suku Jawa dan memeluk agama Islam.
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No Usia (Tahun) Total 20-30 31-40 41-50 51-60 1 2 Responden Jumlah (%) 2 7,7 5 19,23 9 34,61 10 38,46 26 100.00 %
Tabel 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tingkat
pendidikan
Total Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP
1 2 Responden Jumlah (%) 5 19,23 19 73,07 2 7,7 26 100,00%
Tingkat pendidikan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap masyarakat peserta hutan kemasyarakatan, faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan. Faktor utama penyebab rendahnya tingkat pendidikan adalah minimnya tingkat kesadaran penduduk akan pendidikan
yang tinggi, hal ini diketahui dari masyarakat yang tingkat perekonomiannya mampu belum tentu mau menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, hal ini disebabkan karena kurangnya minat si anak untuk melanjutkan pendidikannya karena mereka sudah bisa mencari nafkah sendiri. Keengganan tersebut juga timbul karena disebabkan faktor lingkungan, dimana banyak anak-anak seusia mereka yang tidak melanjutkan pendidikan, sehingga minat mereka menjadi berkurang. Selain beberapa faktor tersebut, jauhnya sarana pendidikan yang ada menyebabkan mereka menjadi malas melanjutkan sekolah. Desa Gudang Garam hanya memiliki 1 SD, sehingga apabila mau melanjutkan ke tingkat SMP mereka harus ke kecamatan, sedangkan sarana transportasi dari desa sangat terbatas. Sistem budaya dan pola pikir masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap keinginan untuk bersekolah. Masyarakat yang dominan suku Jawa tidak begitu peduli dengan pendidikan dan selalu menerima hidup yang apa adanya. Beberapa hal tersebut menjadi faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan.
Pada awal pelaksanaannya, program hutan kemasyarakatan yang dilaksanakan di Desa Gudang Garam melibatkan banyak pihak. Pelaku-pelaku hutan kemasyarakatan tersebut dapat dibedakan ke dalam beberapa tingkatan, yang pertama adalah masyarakat sebagai petani, kedua para penyuluh kehutanan sebagai tenaga penyuluh, dan yang ketiga adalah pengawas yang bertugas mengawasi pelaksanaan hutan kemasyarakatan tersebut. Dengan adanya para penyuluh kehutanan, pendamping dan pengawas yang datang ke desa menimbulkan adanya interaksi dengan masyarakat. Interaksi tersebut dapat bersifat langsung di lapangan, dan dapat juga dengan penyuluhan di balai desa dan
pelatihan ke desa yang kegiatan hutan kemasyarakatannya sudah berhasil. Interaksi tersebut secara langsung membawa perubahan pola pikir masyarakat tentang hutan dan pengolahan lahan yang baik dan lestari.
Adanya para penyuluh dan pendamping yang datang dari Kabupaten, dan mempunyai tingat pendidikan yang tinggi juga mengubah pola pikir masyarakat peserta terhadap pentingnya pendidikan. Mereka semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan. Para orangtua menjadi memiliki keinginan untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dengan demikian anak mereka dapat menjadi berhasil seperti para penyuluh yang mereka jadikan sebagi contoh. Hal tersebut dapat dilihat pada saat ini, dimana para anak dari peserta hutan kemasyarakatan sudah hampir semua menyelesaikan pendidikan dari tingkat SMP, dan bahkan sudah ada yang menyelesaikan pendidikan dari tingkat sarjana dan menjadi tenaga honorer di sekolah yang ada di Kecamatan Bintang Bayu.
Berdasarkan tingkat pendidikan tersebut, masyarakat peserta hutan kemasyarakatan mayoritas bekerja sebagai petani, dan menjadikan kegiatan hutan kemasyarakatan sebagai mata pencaharian utama. Dari 26 orang peserta hutan kemasyarakatan terdapat 21 orang yang menjadikan kegiatan hutan kemasyarakatan sebagai mata pencaharian utama, dan 5 orang yang pekerjaan utamanya adalah sebagai buruh di PTPN III (3 orang), dan di Perkebunan Bandar Pinang (2 orang) dan menjadikan kegiatan program hutan kemasyarakatan sebagai pekerjaan sampingan.
Berdasarkan lama tinggal di Desa Gudang Garam, masyarakat peserta hutan kemasyarakatan secara keseluruhan sudah tinggal di Desa Gudang Garam
lebih dari 20 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peserta hutan kemasyarakatan yang baru, tetapi ada beberapa peserta yang sudah memberikan lahan miliknya kepada anak dari peserta.
Jika dilihat dari jumlah tanggungan, masyarakat peserta hutan kemasyarakatan memiliki tanggungan antara 0-5 orang. Jumlah tanggungan yang dimaksud adalah jumlah orang yang tinggal di rumah dari peserta tersebut yang masih menjadi tanggungan kepala keluarga. Rata-rata jumlah tanggungan yang dimiliki oleh masyarakat peserta hutan kemasyarakatan adalah 3 (tiga) orang. Ini menunjukkan bahwa bentuk keluarga yang ada di Desa Gudang Garam adalah keluarga kecil.
Kontribusi Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Terhadap Pendapatan Masyarakat Peserta hutan kemasyarakatan
Sumber-Sumber Pendapatan Rumahtangga Masyarakat Peserta Hutan Kemasyarakatan
Secara umum masyarakat peserta hutan kemasyarakatan menjadikan kegiatan hutan kemasyarakatan sebagai mata pencaharian utama dan sebagai sumber pendapatan yang paling besar, disamping lahan yang ada di hutan kemasyarakatan juga sudah ada yang mempunyai lahan perkebunan sendiri yang sudah menghasilkan seperti karet, coklat dan sawit. Sebagian dari masyarakat juga ada yang mempunyai pekerjaan sebagai buruh perkebunan, berdagang, dan sebagai penjahit. Tabel 6 menunjukkan sumber-sumber pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan selama 1 bulan
Tabel 6. Sumber-sumber pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan selama 1 bulan
No Sumber pendapatan Pendapatan total (Rp) Pendapatan rata-rata (Rp) 1 Bertani/ladang 57.420.000 2.208.461
2 Buruh 8.000.000 307.692
3 Berdagang 300.000 11.538 4 Menjahit 200.000 7.692 Total (Rp) 65.920.000 2.535.384
Sektor pertanian memberikan kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Pendapatan dari segi pertanian merupakan gabungan pendapatan yang diperoleh dari program
hutan kemasyarakatan dan dari usaha perkebunan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan yang sudah memiliki lahan sendiri.
Pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dari kegiatan hutan kemasyarakatan
Produk yang telah dihasilkan dari kegiatan hutan kemasyarakatan adalah dari karet (Hevea brasiliensis) dan sebagian dari coklat (Theobrema cacao). Tabel 7 menunjukkan pendapatan total dan pendapatan rata-rata yang diperoleh masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dari kegiatan hutan kemasyarakatan selama 1 bulan
Tabel 7. Pendapatan masyarakat peserta dari kegiatan hutan kemasyarakatan selama 1 bulan No Hutan kemasyarakatan Pendapatan total (Rp) Pendapatan rata-rata (Rp) 1 Karet Coklat 44.200.000 3.060.000 47.360.000 1.821.538
Pendapatan masyarakat dari kegiatan hutan kemasyarakatan sangat bervariasi tergantung pada luasan lahan hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat rata-rata memiliki lahan hutan kemasyarakatan seluas 2 Ha, namun ada juga masyarakat yang memiliki lahan seluas 4 Ha, tergantung kemampuan dari masyarakat itu sendiri dalam mengelola nya. Adapun produk yang dihasilkan dari kegiatan hutan kemasyarakatan adalah dalam bentuk getah karet. Masyarakat biasanya menjual getah karet dalam frekuensi 1 x dalam 1 minggu. Penghitungan besarnya pendapatan dari hutan kemasyarakatan dihitung dengan cara mengalikan berat getah karet yang dihasilkan dalam 1 bulan dengan harga karet yang berlaku di lokasi penelitian.(Rp 6.000/kg).
Besarnya pendapatan rata-rata dari hutan kemasyarakatan untuk keseluruhan responden adalah Rp 1.821.538 / bulan. Besarnya pendapatan yang disumbangkan dari program hutan kemasyarakatan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pendapatan total dari masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Masyarakat yang rata-rata nya dapat menghasilkan produksi getah sebesar 260 kg/bulan dapat dijadikan sebagai mata pencaharian yang utama dari masyarakat. Produksi yang dihasilkan dari hutan kemasyarakatan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari lahan hutan kemasyarakatan yang dimiliki. Apabila masyarakat rajin melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap tanaman karet, maka jumlah yang dihasilkan juga akan semakin banyak, hal ini dapat membuat perbedaan hasil yang diperoleh oleh masyarakat meskipun mempunyai luas lahan yang sama, sehingga dalam hal ini luas lahan bukan menjadi faktor utama dari hasil yang diperoleh oleh masyarakat.
Pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dari luar program hutan kemasyarakatan
Disamping dari kegiatan hutan kemasyarakatan, masyarakat juga mempunyai sumber pendapatan yang lain, yaitu dari perkebunan yang lahannya sudah menjadi milik sendiri atau di luar lahan hutan kemasyarakatan. Masyarakat peserta juga ada yang bekerja sebagai buruh perkebunan, berdagang dan menjahit. Tabel 8 menunjukkan pendapatan total dan pendapatan rata-rata masyarakat peserta hutan kemasyarakatan yang berasal dari luar kegiatan hutan kemasyarakatan.
Tabel 8. Pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dari luar kegiatan hutan kemasyarakatan selama 1 bulan
No Sumber pendapatan Total pendapatan (Rp) Pendapatan rata-rata (Rp) 1 Berladang/bertani 10.060.000 386.923
2 Buruh 8.000.000 307.692
3 Berdagang 300.000 11.538 4 Mejahit 200.000 7.692 Total (Rp) 18.560.000 713.845
Kegiatan pertanian memberikan sumbangan yang paling besar dalam pendapatan yang berasal dari luar hutan kemasyarakatan. Sektor pertanian disini merupakan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan yang sudah mempunyai lahan perkebunan sendiri, baik lahan warisan maupun lahan yang dibeli. Dari keseluruhan masyarakat peserta hanya 8 orang yang sudah memiliki lahan sendiri sehingga hasil yang disumbangkan masih lebih kecil dari hasil yang disumbangkan oleh kegiatan hutan kemasyarakatan.
Kontribusi pendapatan dari kegiatan hutan kemasyarakatan terhadap pendapatan total masyarakat peserta hutan kemasyarakatan
Hutan kemasyarakatan memberikan pengaruh yang besar dalam peningkatan pendapatan total dari masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Tabel 9 menunjukkan kontibusi yang diberikan kegiatan hutan kemasyarakatan terhadap pendapatan total masyarakat peserta hutan kemasyarakatan.
Tabel 9. Pendapatan total dan pendapatan rata-rata dari kegiatan hutan kemasyarakatan dan kontribusinya terhadap pendapatan total masyarakat peserta hutan kemasyarakatan selama 1 bulan
No Sumber pendapatan Pendapata n total (Rp) Pendapatan rata-rata (Rp) Kontribusi HKm terhadap pendapatan total (%) 1 Hutan kemasyarakatan 47.360.000 1.821.538 71,84 2 Luar hutan kemasyarakatan 18.560.000 713.845
Total 65.920.000 2.535.834
Kecenderungan yang dapat dilihat pada Tabel 9 adalah bahwa kegiatan hutan kemasyarakatan memberikan kontribusi yang sangat besar yakni sebesar 71,84% dari total pendapatan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Dalam hal ini hutan kemasyarakatan telah berhasil mewujudkan manfaat seperti yang diharapkan pada awal pembentukan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No. 622/Kpts-II/1995 tentang hutan kemasyarakatan yaitu :
1. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakata peserta 2. Membuka lapangan kerja dan kesempatan berusaha
3. Menumbuh kembangkan sikap dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap pelestarian sumber daya alam hutan
4. Meningkatkan daya dukung lahan
5. Terlestarinya sumber daya alam hutan dengan segala fungsinya
Dengan adanya program hutan kemasyarakatan di desa gudang garam, masyarakat yang tadinya tidak mempunyai penghasilan tetap menjadi mempunyai penghasilan, masyarakat yang tidak bisa membangun rumah dan menyekolahkan anak menjadi mempunyai modal untuk hal tersebut. Dalam hal pembukaan
lapangan kerja, hutan kemasyarakatan juga membawa pengaruh terhadap masyarakat, hutan kemasyarakatan menjadikan pemuda yang pengangguran dapat berpenghasilan dengan menjadi buruh bayaran dalam memanen hasil dari hutan kemasyarakatan. Hutan kemasyarakatan juga membawa pengaruh nyata terhadap rasa tanggung jawab masyarakat, mereka menjadi lebih mengerti arti hutan dan berusaha untuk selalu menjaga kelestarian hutan tersebut, hal ini terlihat di lahan hutan kemasyarakatan, masyarakat telah mempunyai kesadaran untuk menanam pohon hutan yang dapat menjaga hutan tetap lestari, masyarakat juga tidak melakukan penebangan pohon yang ada di sekitar hutan kemasyarakatan.
Dari beberapa hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwasanya program hutan kemasyarakatan yang dilaksanakan di Desa Gudang Garam telah berhasil, hal ini terlihat dari parameter keberhasilan hutan kemasyarakatan yang ditetapkan dalam SK Menhut No. 622/Kpts-II/1995.
Untuk melihat sejauh mana pendapatan yang diperoleh masyarakat peserta hutan kemasyarakan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat peserta hutan kemasyarakatan, berikut dihitung pengeluaran rata-rata masyarakat peserta yang dikeluarkan selama 1 bulan. Tabel 10 menunjukkan pengeluaran rata-rata yang dikeluarkan oleh masyarkat peserta dalam waktu 1 bulan
Tabel 10. Pengeluaran Rata-Rata Responden Selama 1 Bulan No Jenis pengeluaran Pengeluaran rata-rata
(Rp) Prosentase pengeluaran (%) 1 Beras 410.746 28,99 2 Non beras 641.731 45,28 3 Pendidikan 94.154 6,64 4 Lain-lain 270.384 19,09 Total 1.417.015 100,00
Besarnya pengeluaran yang dikeluarkan oleh masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti luas lahan yang dikelola, berapa orang anggota keluarga yang dibiayai dalam 1 rumah, pendidikan anak, dan lain-lain. Dari hasil wawancara dan analisis data diperoleh bahwa pengeluaran yang paling besar dikeluarkan responden untuk kebutuhan non beras, dan pengeluaran yang paling kecil adalah dalam bidang pendidikan. Kebutuhan non beras yang dimaksud disini adalah kebutuhan pokok selain beras, seperti minyak goreng, lauk, sayur-sayuran, dan lain-lain Besarnya kebutuhan non beras disebabkan tingginya harga kebutuhan pokok yang ada di lokasi penelitian, sedangkan kecil nya pengeluaran dalam bidang pendidikan karena anggota keluarga responden yang masih sekolah sudah jarang, para anak responden biasanya hanya menyelesaikan pendidikan tertinggi hanya pada tingkat SMU, sehingga pada saat penelitian mereka sudah banyak yang sudah menyelesaikan pendidikannya dan tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Dari keseluruhan responden hanya 1 orang yang sedang menyekolahkan anaknya di tingkat perguruan tinggi.
Pengeluaran lain-lain dari masyarakat dapat berupa pengeluaran masyarakat di luar kebutuhan pokok masyarakat, seperti biaya untuk perawatan lahan hutan kemasyarakatan, biaya untuk transportasi yang digunakan oleh masyarakat ke lokasi hutan kemasyarakatan dan ke tempat penjualan hasil. Secara keseluruhan biaya hidup yang harus dikeluarkan di desa ini tergolong besar karena sangat jauh dari perkotaan.
Secara umum pengeluaran terbesar para responden adalah untuk bahan makanan baik makanan beras dan makanan non beras, terlihat dari prosentase kedua jenis pengeluaran tersebut yaitu makanan non beras 45,28% dan makanan beras 28,99%. Hal ini dikarenakan masyarakat biasanya mempunyai jumlah anggota keluarga yang relatif besar sehingga membutuhkan kebutuhan yang besar, hal ini juga didasari karena anggota keluarga dari responden sangat jarang merantau ke luar desa, mereka hanya membantu para orang tua dalam mengelola lahan hutan kemasyarakatan setelah mereka menyelesaikan sekolah. Tabel 11 menunjukkan berapa besar persentase pengeluaran terhadap pendapatan :
Tabel 11. Prosentase Pengeluaran Rata-Rata Terhadap Pendapatan Rata-Rata Selama 1 Bulan Pendapatan rata-rata (Rp) Pengeluaran rata-rata (Rp) Prosentase pengeluaran terhadap pendapatan (%) 2.128.461 1.417.015 66,57
Secara keseluruhan persentase pengeluaran terhadap pendapatan adalah sebesar 66,57%. Hal ini menunjukkan bahwa total pendapatan lebih besar dari pada total pengeluaran konsumsi rumahtangga responden, dengan kata lain seluruh responden peserta hutan kemayarakatan mampu memenuhi kebutuhannya
dan bahkan masih terdapat sisa dari total pendapatan para responden setelah digunakan untuk memenuhi pengeluaran konsumsi rumahtangga.
Berdasarkan tingkat kesejahteraan rumahtangga masyarakat peserta hutan kemasyarakatan yang dinilai dari total pendapatan dalam satu bulan yang dihubungkan dengan garis kemiskinan, masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dapat dikatakan sejahtera karena masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan atau konsumsi beras per bulan bisa terpenuhi.
Kajian Sosial Program Hutan Kemasyarakatan
Adapun perubahan sosial yang akan dikaji dalam penelitian adalah perubahan sosial setelah dilaksanakannya program hutan kemasyarakatan. Perubahan sosial yang akan dikaji adalah persepsi masyarakat dengan adanya kegiatan hutan kemasyarkatan, pola hubungan dengan hutan, status penguasaan lahan/hutan, pola usaha tani dan jenis tanaman yang digunakan, pola hubungan keluarga peserta hutan kemasyarakatan, dan aspek kelembagaan program hutan kemasyarakatan.
1. Persepsi Masyarakat
Secara umum persepsi masyarakat peserta hutan kemasyarakatan terhadap program hutan kemasyarakatan tersebut dapat dikatakan baik, yang ditunjukkan dengan persepsi positif dari para responden terhadap pengembangan program hutan kemasyarakatan tersebut di desa mereka. Hal ini terjadi karena keberhasilan dari upaya pembinaan dan penyuluhan yang diberikan pada awal kegiatan hutan kemasyarakatan. Keberhasilan panen dari lahan yang dikelola oleh peserta juga membuat persepsi para peserta menjadi positif dengan adanya program ini.
Persepsi yang diberikan oleh masyarakat peserta hutan kemasyarakatan juga dipengaruhi oleh alasan mereka ikut ke dalam program hutan kemasyarakatan. Alasan masyarakat Desa Gudang Garam mengikuti program hutan kemasyarakatan bermacam-macam, diantaranya adalah tidak mempunyai lahan, sebagai pekerjaan sampingan yang dapat meningkatkan pendapatan, ikut-ikutan dengan masyarakat lain, dan ingin melestarikan hutan. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap masyarakat Desa Gudang Garam yang masih aktif mengusahakan lahannya.
Dari hasil wawancara didapat bahwa alasan yang paling dominan dari masyarakat peserta ikut dalam program hutan kemasyarakatan adalah karena tidak mempunyai lahan. Masyarakat sangat merasa terbantu dengan adanya program ini, kareana sebelum adanya program hutan kemasyarakatan mereka berprofesi sebagai buruh atau petani bayaran yang mengelola lahan milik orang lain. Dengan adanya program hutan kemasyarakatan,masyarakat tersebut langsung mengajukan permohonan agar dapat mengikuti program tersebut sehingga mereka dapat memiliki lahan sendiri tanpa harus mengeluarkan uang. Masyarakat dengan alasan demikian akan sungguh-sungguh mengelola lahan yang mereka miliki, karena mereka beranggapan program hutan kemasyarakatan dapat memperbaiki tingkat kesejahteraan mereka melalui peningkatan pendapatan. Sebagian lagi masyarakat mengikuti program hutan kemasyarakatan adalah hanya karena ikut-ikutan saja. Pada umumnya mereka hanya memiliki tanggungan 1-2 orang saja sehingga tanggung jawabnya terhadap keluarga masih kecil. Hal ini membuat mereka tidak begitu peduli dengan program ini karena mereka bisa memperoleh penghasilan dari sumber lain. Pada umumnya masyarakat dengan alasan ini memiliki persepsi
positif, namun tidak memberikan dukungan yang sepenuhnya terhadap pelaksanaan hutan kemasyarakatan itu sendiri.
Bagi masyarakat yang benar-benar memiliki persepsi positif terhadap pelaksanaan hutan kemayarakatan di Desa Gudang Garam akan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan hutan kemasyarakatan dengan ikut berpartisipasi mengelola lahan yang dimiliki dan memiliki antusias yang tinggi dalam mengikuti setiap kegiatan yang berhubungan dengan hutan kemasyarakatan. Persepsi yang positif ini akan mampengaruhi pola hubungan masyarakat dengan para penyuluh dan pendamping. Masyarakat juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap pengembangan hutan kemasyarakatan dari para penyuluh. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan para responden yang hampir semua pernah ikut pelatihan yang dlaksanakan oleh dinas kehutanan ataupun instansi lain tentang pengolahan yang baik dan pengembangan hutan kemasyarakatan.
2. Pola Hubungan Dengan Hutan
Masyarakat peserta hutan kemasyarakatan rata-rata sudah tinggal di Desa Gudang Garam lebih dari 20 tahun, sehingga mereka sudah mengetahui tentang keberadaan hutan sebelum adanya program hutan kemasyarakatan tersebut. Sebelum adanya program hutan kemasyarakatan lahan hutan tersebut dijadikan oleh masyarakat sebagai lahan ladang berpindah, baik oleh masyarakat Desa Gudang Garam maupun dari luar Desa Gudang Garam. Masyarakat tidak begitu memperdulikan dampak dari kegiatan ladang berpindah yang mereka lakukan sehingga mereka dengan sembarangan membuka ladang secara terus-menerus. Dari hal tersebut dapat dilihat dengan jelas hubungan masyarakat dengan hutan tidak ada, masyarakat hanya menganggap hutan sebagai lahan untuk
menghasilkan produk pertanian yang mereka produksi, tanpa memperhitungkan upaya pelestarian dari lahan hutan tersebut.
Dengan adanya program hutan kemasyarakatan, masyarakat menjadi lebih sadar tentang arti pentingnya hutan. Hal ini tidak lepas dari adanya penyuluhan yang dilaksanakan oleh para penyuluh dan pendamping yang mendampingi masyarakat peserta saat program ini dilaksanakan. Program hutan kemasyarakatan membuat akses masyarakat terhadap hutan menjadi terbuka, masyarakat menjadi semakin menghargai hutan. Program hutan kemasyarakatan dapat mengatasi berlanjutnya kegiatan ladang berpindah yang dulu dilaksanakan masyarakat dan mencegah terjadinya kerusakan hutan. Berubahnya pola hubungan masyarakat dengan hutan ini juga merubah pola pikir masyarakat terhadap hutan. Masyarakat menjadi merasa ikut memiliki hutan dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Hal ini dapat dilihat dengan ditanamnya beberapa jenis pohon hutan di lahan mereka yang tidak boleh ditebang, sehingga keberadaan hutan di daerah mereka menjadi lebih memberikan manfaat yang lebih bagi masyarakat, dengan besarnya nilai ekonomi yang diberikan dari program hutan kemasyarakatan, dan juga semakin terpeliharanya keberadaan hutan yang lestari.
3. Status Penguasaan Lahan/Hutan
Dengan adanya program hutan kemasyarakatan terdapat perubahan penguasaan lahan bagi masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Penguasaan lahan yang dimaksud disini adalah hak kepemilikan lahan yang dibebankan pada masyarakat peserta hutan kemasyarakatan. Masyarakat peserta hutan kemasyarakatan yang rata-rata tidak memiliki lahan sebelum adanya program hutan kemasyarakatan menjadi memiliki lahan areal hutan kemasyarakatan untuk
diolah menjadi lahan pertanian tanpa harus mengeluarkan biaya untuk memperoleh lahan tersebut, dan bagi masyarakat yang sudah memiliki lahan sebelum adanya program hutan kemasyarakatan membuat lahan mereka menjadi lebih luas. Adapun status penguasaan lahan oleh masyarakat peserta hutan kemasyarakatan dalam hal ini adalah merupakan lahan yang berasal dari pihak lain. Hal ini sesuai dengan Ali (2007) yang menyatakan bahwa penguasaan dan penggunaan lahan dapat dikategorikan dalam beberapa jenis, yaitu :
1. Lahan yang dikuasai : merupakan lahan milik sendiri ditambah lahan yang berasal dari pihak lain, baik yang berada di dalam maupun di luar kawasan hutan
2. Lahan yang dimiliki : lahan yang berasal dari lahan pemberian, lahan warisan, lahan hobah dan lahan yang dimiliki berdasarkan permohonan biasa, pembagian lahan transmigrasi dan hukum adat
3. Lahan yang berasal dari pihak lain : lahan hutan milik negara yang dikuasakan kepada masyarakat dengan tujuan untuk dikelola bersama Luas lahan yang diperoleh oleh masing-masing peserta bervariasi, mulai dari dua sampai empat hektar. Perbedaan luas lahan tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi hasil yang dihasilkan saat ini. Masyarakat yang memiliki lahan yang luas rata-rata dapat menghasilkan 260 kg karet per bulan nya disamping hasil sampingan lain, seperti coklat. Hal ini sesuai dengan BPS (2000) yang menyatakan bahwa faktor-faktor produksi seperti modal mempengaruhi jumlah pendapatan yang diterima.
Perubahan status penguasaan lahan hutan yang menyebabkan perubahan