• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum Pertanaman Buah Naga di Kebun Sabisa Farm Topografi lahan Sabisa Farm secara umum datar dengan sedikit landai dan ketinggian sekitar 219 m diatas permukaan laut. Luas lahan kurang lebih 4 ha, tetapi hanya sekitar 1/2 ha yang ditanam buah naga. Secara umum buah naga ditanam secara monokultur dengan jarak tanam 3 x 3 m, tetapi beberapa ada yang ditanam secara tumpang sari dengan pepaya Kalina (IPB 9). Pada sekitar kebun buah naga, sebelah barat adalah jalan dan perumahan warga, sebelah utara adalah kebun warga yang ditanam beberapa jenis pohon (tanaman kehutanan) dan pisang, sebelah timur terdapat tanaman pepaya Kalina dan green house, dan sebelah selatan terdapat saung Agritama dan lahan Sabisa Farm.

Teknik budidaya buah naga di Sabisa Farm dilakukan secara konvensional. Pemeliharaan tanaman dilakukan oleh pengurus Sabisa (mahasiswa IPB) yang dibantu oleh pekerja kebun. Kegiatan pemeliharan yang dilakukan meliputi; pemotongan sulur liar yang dilakukan hampir setiap hari, penyiangan gulma baik secara manual yang dilakukan pada piringan tanaman buah naga, mekanik dengan menggunakan mesin pemotong rumput, dan kimiawi dengan herbisida round up di sekitar kebun, pemupukan dengan pupuk kandang kotoran sapi dengan dosis 20 kg/ tiang (4 tanaman) dan urea 100 g/ tiang (4 tanaman) setiap 4 bulan sekali. Selain buah naga, di Sabisa Farm juga terdapat green house dengan luasan kurang lebih 504 m2. Beberapa jenis sayuran ditanam secara hidroponik, seperti pakcoy, kailan, dan caisin.

Komponen makroklimat dalam penelitian yang dilakukan pada pertanaman buah naga di kebun Sabisa Farm selama 3 bulan, yaitu suhu udara rata-rata pada bulan Februari sampai April 2016 secara berturut-turut meningkat dari 25.7°C hingga 26.7°C. Berbeda dari suhu, kelembapan udara dan curah hujan rata-rata menurun secara berturut-turut dari 89% dan 29 mm pada Februari, turun menjadi 86% dan 28 mm pada Maret, dan turun kembali menjadi 85% dan 26 mm pada April (Tabel 1). Hubungan antara komponen makroklimat dengan kelimpahan Arthropoda yang diperoleh selama penelitian dibahas lebih lanjut pada subbab Kelimpahan Peran Arthropoda berdasarkan Metode Pengambilan Contoh.

Tabel 1 Rata-rata komponen makroklimat pada pertanaman buah naga (2016)a

Parameter Februari Maret April

Temperatur (°C) 25.7 26.4 26.7

Kelembapan (%) 89.0 86.0 85.0

Curah hujan (mm) 29.0 28.0 26.0

aSumber: BMKG (2016)

Arthropoda yang Ditemukan pada Pertanaman Buah Naga Pada pertanaman buah naga merah dan putih di Kebun Sabisa Farm selama pengamatan, Arthropoda yang ditemukan terdiri atas enam kelas yaitu Arachnida, Malacostraca, Diplopoda, Chilopoda, Collembola, dan Insecta. Kelas Arachnida

8

terdiri atas dua ordo, 10 famili, dan 649 ekor. Kelas Malacostraca hanya satu jenis ordo dan satu jenis famili sejumlah tujuh ekor. Pada kelas Diplopoda terdiri atas dua ordo, tiga famili, dan 10 ekor. Kelas Chilopoda juga hanya satu jenis ordo dan satu jenis famili sejumlah dua ekor. Kelas Collembola terdiri dari tiga ordo, tujuh famili, dan 406 ekor. Arthropoda yang paling banyak diperoleh kelimpahannya merupakan kelas Insecta. Kelas Insecta diperoleh 14 ordo, 118 famili, dan 19 859 ekor. Arthropoda memiliki peran dalam rantai makanan suatu ekosistem. Peran Arthropoda diantaranya yaitu sebagai predator, parasitoid, detritivor, herbivor, dan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan proporsi Arthropoda predator, parasitoid, detritivor, herbivor, dan lainnya secara berturut-turut adalah 59.5, 0.4, 5.4, 33.9, dan 0.8% (Tabel 2).

Tabel 2 Proporsi peran Arthropoda keseluruhan pada pertanaman buah naga

Peran Jumlah Famili

(jenis) Jumlah (ekor) Jumlah (%) Predator 31 12 460 59.5 Parasitoid 18 74 0.4 Detritivor 33 1 125 5.4 Herbivor 53 7 102 33.9 Lainnya 7 172 0.8 Total 142 20 933 100.0 Arthropoda Predator

Arthropoda predator adalah kelompok Arthropoda yang memangsa Arthropoda lain sebagai makanannya. Predator biasanya berukuran lebih besar dari mangsanya dan membutuhkan lebih dari satu mangsa untuk kelangsungan hidupnya dan sering bersifat lebih umum (Sembel 2010). Tabel 2 menunjukkan bahwa Arthropoda predator memiliki proporsi paling besar. Arthropoda predator yang diperoleh termasuk kelompok laba-laba dan serangga dengan jumlah melimpah yaitu 31 famili dan 12 460 ekor. Arthropoda predator yang paling banyak diperoleh pada pertanaman buah naga merah dan putih di Sabisa Farm adalah semut (Insecta: Hymenoptera: Formicidae) sebanyak 92%. Arthropoda lain yang dominan adalah kelompok laba-laba (Araneae), yaitu famili Araneidae (1.3%), Lyniphiidae (1.1%), Salticidae (1%), Lycosidae (0.9%).

Semut adalah serangga eusosial yang bersifat kosmopolit dan generalist dengan kisaran mangsa yang banyak. Ciri khas famili ini adalah antena berbentuk siku (geniculate) pada betina, tetapi pada jantan lurus atau filiform; jumlah segmen antena 1- 4, tergantung pada spesies dan kelamin; gaster terhubung ke propodeum oleh petiol dari segmen pertama atau kedua. Oseli biasanya tidak ada pada betina (Sembel 2010). Keberadaan semut ditemukan di seluruh tanaman contoh buah naga pada pengamatan langsung setiap minggunya. Hasil pitfall dan light trap juga banyak diperoleh semut yang terperangkap. Selain itu, semut juga sering masuk dalam jaring serangga pada pengamatan lapangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada keadaan lingkungan pertanaman buah naga merah dan putih di kebun Sabisa cocok untuk perkembangan semut. Dalam sejarah pengendalian hayati, semut telah digunakan sebagai agens hayati terhadap hama buah-buahan terutama jeruk di Cina. Masyarakat Cina Kuno diketahui telah

9

menggunakan semut rangrang, Oecophylla smaragdina (Hymenoptera:

Formicidae) sebagai predator untuk mengendalikan hama ulat dan kumbang penggerek yang menyerang pertanaman jeruk. Semut ini menggunakan benang pintalnya untuk menenun daun dan ranting menjadi sarang yang kuat. Pada malam hari semut-semut memasuki sarangnya dan di siang hari mereka meninggalkan sarang untuk berburu serangga hama yang menyerang pohon jeruk. Semut juga diberdayakan untuk mengendalikan berbagai hama pada tanaman kehutanan di Eropa. Semut dapat memangsa telur, larva, pupa, dan imago berbagai jenis hama tanaman baik yang aktif di tanah maupun di tajuk (Susilo 2007).

Perkembangan populasi semut pada pertanaman dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dipengaruhi oleh adanya hubungan simbiosis mutualisme antara semut dengan kutudaun dan kutu putih (Gambar 6). Gambar 5 menunjukkan bahwa ditemukan sekelompok semut yang berasosiasi dengan kutu daun pada bunga dan buah naga. Semut mendapatkan embun madu yang dihasilkan oleh kutudaun dan kutu putih dengan cara memukul-mukul abdomen kutu sehingga merangsang kutu untuk mengeluarkan embun madu. Sementara itu, kutu daun dan kutu putih juga mendapat keuntungan dari koloni semut, semut melindungi kutu dari musuh alaminya seperti predator dan parasitoid serta membantu penyebaran kutu dari satu tanaman ke tanaman lain. Hal tersebut sesuai dengan hasil pengamatan lapangan salah satu penelitian yang menunjukkan hubungan erat antara semut api (Solenopsis sp.) dengan kutu dompolan (Dysmicoccus brevipes) terutama pada fase pembungaan dan menjelang panen pada tanaman nanas (Hasibuan 2005).

Gambar 5 Simbiosis mutualisme antara semut (Hymenoptera: Formicidae) dengan kutu daun (Hemiptera: Aphididae). (a) bunga, (b) buah naga

Gambar 6 Hasil identifikasi Arthropoda yang bersimbiosis mutualisme. (a) kutudaun (Hemiptera: Aphididae), (b) kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae), (c) semut (Hymenoptera: Formicidae: Solenopsis)

a b c

10

Tabel 3 Kelimpahan Arthropoda predator pada pertanaman buah naga

Kelas Ordo Famili Jumlah (ekor)

Insecta Hymenoptera Sphecidae 24

Vespidae 26

Formicidae 11 464

Insecta Diptera Asilidae 2

Dolichopodidae 29

Sarcophagidae 5

Syrphidae 2

Insecta Hemiptera Reduviidae 13

Anthocoridae 1

Insecta Orthoptera Gryllidae 78

Tettigonidae 11

Insecta Ephemeroptera Baetidae 9

Insecta Thysanoptera Phlaeothripidae 4

Insecta Demaptera Anisolabididae 3

Insecta Mantodea Mantidae 13

Araneidae 164

Arachnida Araneae Corinnidae 13

Lyniphiidae 135 Lycosidae 116 Loxoscelidae 1 Salticidae 130 Oxyopidae 36 Tetragnatidae 26 Thomisidae 18

Insecta Odonata Libellulidae 6

Insecta Coleoptera Carabidae 2

Coccinellidae 88

Cicindelidae 2

Staphylinidae 35

Pselaphidae 3

Melyridae 1

Arthropoda yang paling banyak diperoleh kelimpahannya pada pertanaman buah naga yaitu famili Formicidae dengan jumlah 11 464 ekor (Tabel 3). Hasil identifikasi diperoleh 4 sub famili (Ponerinae, Formicinae, Dolichoderinae, dan Myrmicinae) dan 18 genus (Tabel 4). Hasil pitfall trap dan light trap, genus dari Formicidae yang paling banyak diperoleh, yaitu Odontoponera (422 ekor) dan Tapinoma (400 ekor). Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan langsung dan penggunaan jaring serangga masing-masing diperoleh (6 701 ekor) dan (37 ekor) semut dari genus Polycharis (Gambar 7). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ranny et al. (2015) yang

11

mendapatkan genus Odontoponera dan Tapinoma dari 12 genus famili Formicidae pada perkebunan buah naga di Sumatera Barat. Hasil penelitian Octavani (2012) mendapatkan semut dari genus Polycharis pada pertanaman buah naga di Yogyakarta.

Tabel 4 Kelimpahan famili Formicidae pada pertanaman buah naga

Subfamili Genus Jumlah (ekor)

PT PL1 PL2 PJ Total Ponerinae Diacamma 15 0 173 0 188 Leptogenys 4 0 0 0 4 Odontomachus 59 0 0 0 59 Odontoponera 422 0 0 0 422 Pachycondyla 5 1 0 0 6 Formicinae Anoplolepis 8 3 314 1 326 Camponotus 18 2 275 1 296 Nylanderia 1 11 0 0 12 Paratrechina 17 0 1 016 3 1 036 Polycharis 9 0 6 701 37 6 747 Dolichoderinae Dolichoderus 3 0 341 4 348 Myrmicinae Tapinoma 14 400 792 7 1 213 Crematogaster 0 20 0 0 20 Meranoplus 21 0 22 7 50 Monomorium 27 14 520 2 563 Tetramorium 8 1 151 2 162 Solenopsis 1 4 0 0 5 Lophomyrmex 7 0 0 0 7 Total (ekor) 639 456 10 305 64 11 464

PT: perangkap tanah, PL1: perangkap lampu, PL2: pengamatan langsung, PJ: penjaringan

Gambar 7 Hasil identifikasi famili Formicidae dari metode pengambilan contoh. (a) pitfall trap (Odontoponera), (b) light trap (Tapinoma), (c)

pengamatan langsung dan penjaringan (Polycharis) Arthropoda Parasitoid

Arthropoda parasitoid merupakan Arthropoda yang hidup didalam tubuh inang untuk memperoleh makanan. Parasitoid adalah serangga yang berukuran kecil atau sama besar dengan inang yang memarasit inang dan melanjutkan satu siklus hidup di dalam inang dan mematikan inang (Sembel 2010). Arthropoda parasitoid yang teridentifikasi termasuk kedalam kelas Insecta dengan dua ordo dan 18 famili. Sebanyak 17 famili termasuk kedalam ordo Hymenoptera (Tabel 5). Jumlah parasitoid yang teridentifikasi selama pengamatan, menunjukkan

12

bahwa 94% famili dari ordo Hymenoptera berperan sebagai parasitoid di kebun buah naga Sabisa Farm. Hal ini sesuai dengan Oktaviani (2015) yang menemukan 86% famili dari ordo Hymenoptera berperan sebagai parasitoid pada ekosistem pertanaman buah durian, pada kebun tersebut juga ditanam buah naga.

Gambar 8 Parasitoid Ordo Hymenoptera yang teridentifikasi pada pertanaman buah naga Sabisa Farm. (a) Braconidae, (b) Diapriidae, (c)

Chalcididae, (d) Torymidae

Gambar 8 menunjukkan beberapa gambar famili dari parasitoid yang diperoleh hasil identifikasi. Parasitoid yang paling banyak teridentifikasi adalah famili Braconidae dan Diapriidae (Tabel 5). Keberadaan parasitoid tersebut bermanfaat dalam mengendalikan hama secara alami di kebun Sabisa Farm, terutama famili Braconidae yang dapat memarasit larva-larva dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, dan Diptera. Hal ini sesuai dengan pustaka yang menunjukkan bahwa kebanyakan Braconidae adalah parasitoid primer dan berbentuk endoparasitoid pada larva-larva Lepidoptera dan kelompok holometabola lainnya, seperti Coleoptera dan Dipera. Anggota dari famili Braconidae tersebar luas di dunia dan memiliki sekitar 6000 spesies. Banyak spesies adalah parasitoid soliter dan gregarius, salah satu spesies brakonid yang telah dipergunakan sebagai agen pengendaliaan hayati adalah Opius spp. untuk mengendalikan lalat buah (Sembel 2010).

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa famili Diapriidae juga banyak diperoleh kelimpahannya dan memiliki peran yang bermanfaat dalam mengendalikan hama pada fase larva dari ordo Diptera. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Sukri dan Prayitno yang menemukan beberapa jenis parasitoid yang dari lalat buah di Pulau Lombok, salah satunya yaitu famili Diapriidae. Hasil penelitian Yaherwandi et al. (2007) yang memperoleh lima famili parasitoid yang memiliki kelimpahan relatif tertinggi (>10%) pada lanskap pertanian berbeda di daerah aliran sungai (DAS) Cianjur, Jawa Barat, salah satu dari famili tersebut yaitu Diapriidae. Famili Diapriidae umumnya merupakan

a

d c

13

parasit-parasit Diptera yang belum imago. Diapriidae memiliki empat subfamili, yaitu Ambositrinae, Ismarinae, Diapriinae, dan Belytinae. Subfamili Belytinae sangat umum terdapat di daerah-daerah hutan yang lembab, karena kebanyakan memarasit agas-agas jamur dan lalat-lalat lain yang berkembang biak di dalam jamur (Borror et al. 1996).

Tabel 5 Kelimpahan Arthropoda parasitoid pada pertanaman buah naga

Kelas Ordo Famili Jumlah (ekor)

Insecta Hymenoptera Braconidae 13

Ceraphronidae 3 Chalcididae 9 Chrysididae 2 Colletidae 1 Diapriidae 13 Encyrtidae 5 Figitidae 5 Ichneumonidae 2 Perilampidae 1 Platygasteridae 4 Pteromalidae 7 Rotoitidae 1 Torymidae 4 Eupelmidae 1 Eurytomidae 1 Mymaridae 1

Insecta Diptera Tachinidae 1

Arthropoda Detritivor

Arthropoda detritivor adalah kelompok Arthropoda yang memiliki peran merombak bahan organik, seperti bangkai hewan, tumbuhan mati, maupun sisa daun yang jatuh. Detritivor yang banyak diperoleh secara berturut-turut yaitu famili Chironomidae (Insecta: Diptera) (603 ekor), Isotomidae (245 ekor) dan Entomobryidae (84 ekor) (Collembola: Entomobryomorpha) (Gambar 9 dan Tabel 6). Tiga famili yang dominan sebagai detritivor tersebut, dua famili merupakan kelas Collembola. Collembola yang diperoleh adalah hasil dari pitfall trap. Secara umum Collembola hidup di dalam tanah atau habitat-habitat seperti reruntuhan daun, di bawah kulit kayu, pada kayu-kayu yang membusuk, dan pada jamur (Borror et al. 1996). Kondisi lingkungan pada pemasangan pitfall trap di lapangan umumnya sering turun hujan. Hal ini sesuai dengan Poerwitasari (2013) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kondisi kebun yang lembab dan cuaca yang sering hujan menguntungkan bagi keberadaan Collembola.

Famili yang paling banyak diperoleh kelimpahannya yaitu Chironomidae dengan jumlah 603 ekor. Famili Chironomidae yang diperoleh merupakan fase imago, baik hasil dari metode pitfall trap, light trap, pengamatan langsung, maupun penggunaan jaring serangga. Hasil ini sesuai dengan pustaka yang

14

menjelaskan bahwa Chironomidae/ agas-agas ini dapat ditemukan hampir di mana-mana. Ciri morfologinya yaitu seperti nyamuk, kecil (panjang 1-10 mm), tidak mempunyai sisik-sisik pada sayap, tungkai-tungkai depan biasanya lebih panjang, dan metanotum mempunyai satu jendolan atau lekuk (Borror et al. 1996). Beberapa ordo dan famili dari kelas Collembola diperoleh dari hasil metode pitfall trap. Hasil ini menunjukkan bahwa Collembola hidup pada bagian permukaan tanah yang banyak terakumulasi bahan-bahan organik sehingga keberadaan Collembola dapat mempercepat laju pemecahan bahan organik. Beberapa famili yang diperoleh yaitu famili Isotomidae, Entomobryidae, Onychiuridae, Neanuridae, Sminthuridae, dan Bourletiellidae (Tabel 6). Famili tersebut merupakan famili dari Collembola yang terdapat di Indonesia (Suin 1989).

Tabel 6 Kelimpahan Arthropoda detritivor pada pertanaman buah naga

Kelas Ordo Famili Jumlah (ekor)

Insecta Coleoptera Scarabaeidae 6

Phalacridae 1 Rhizophagidae 2 Salpingidae 2 Lathridiidae 1 Ciidae 1 Hydrophilidae 1

Insecta Diptera Calliphoridae 7

Chironomidae 603 Lauxaniidae 4 Muscidae 31 Stratiomyidae 6 Hybotidae 8 Sphaeroceridae 1 Opomyzidae 11 Phoridae 3 Scathopagidae 1

Insecta Blattodea Blattidae 4

Blatellidae 2

Insecta Gryllobattaria Grylloblattidae 1

Arachnida Acari Euphthiracaridae 4

Collembola Entomobryidae Isotomidae 245

Entomobryidae 84 Poduridae Hypogastruridae 39 Onychiuridae 2 Neanuridae 24 Symphypleona Sminthuridae 11 Bourletiellidae 1

15

Malacostrata Isopoda Trachelipodidae 7

Diplopoda Polydesmida Paradoxosomatidae 8

Polydesmida Polydesmidae 1

Diplopoda Julida Julidae 1

Chilopoda Scolopendromorpha Scolopendridae 2

Gambar 9 Arthropoda detritivor hasil identifikasi yang dominan kelimpahannya pada pertanaman buah naga. (a) Diptera: Chironomidae, (b) Collembola: Entomobryidae, (c) Collembola: Isotomidae

Arthropoda Herbivor

Arthropoda herbivor merupakan Arthropoda yang makanannya berupa tumbuhan, sehingga dapat disebut sebagai hama apabila aktivitas makannya dapat menurunkan nilai ekonomi tanaman sehingga merugikan. Arthropoda herbivor pada pertanaman buah naga merah dan putih di kebun Sabisa Farm memiliki proporsi paling banyak kedua setelah Arthropoda predator dengan jumlah 7 102 individu atau 33.9%. Total Arthropoda herbivor yang ditemukan sebanyak 53 famili yang sebagian besar masuk kedalam kelas insecta. Famili Arthropoda herbivor yang banyak diperoleh secara berturut-turut yaitu Aphididae (6 186 ekor), Acrididae (200 ekor), Alydidae (110 ekor), dan Pseudococcidae (101 ekor) (Tabel 7).

Keberadaan kutudaun, kutu putih, dan belalang (Gambar 10) dalam jumlah populasi yang besar pada suatu ekosistem dapat berpotensi menjadi hama yang dapat merusak. Kerusakan yang diakibatkannya dapat menyebabkan kerugian sehingga menurunkan nilai ekonomi komoditas. Pada pertanaman buah naga merah dan putih yang diamati, keberadaan kutudaun dan kutu putih mengakibatkan penurunan kualitas buah yang terserang baik secara kuantitas maupun kualitas buah, karena kutu tersebut melakukan aktivitas makan dengan menghisap cairan bunga atau buah sehingga dapat menyebabkan perubahan bentuk buah. Selain itu buah menjadi terlihat kotor karena terdapat kutu daun dan kutu putih yang menempel pada buah sehingga perlu dibersihkan. Hal ini sesuai dengan penelitian Octaviani (2012) yang menyebutkan bahwa hama yang ditemukan di pertanaman buah naga adalah kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae) spesies Pseudococcus jackbeardsleyi, Ferrisia virgata, dan Planococcus sp.; kutudaun (Hemiptera: Aphididae) spesies Aphis gossypii, Branchycaudus helichrysi, dan Toxoptera odinae; belalang (Orthoptera: Acrididae) spesies Valanga sp. dan Oxya sp.

16

Gambar 10 Arthropoda herbivor yang menjadi hama pada pertanaman buah naga.

(a) kutudaun (Hemiptera: Aphididae), (b) belalang (Orthoptera: Acrididae), (c) kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae)

Tabel 7 Kelimpahan Arthropoda herbivor pada pertanaman buah naga

Kelas Ordo Famili Jumlah (ekor)

Insecta Orthoptera Acrididae 200

Pyrgomorphidae 28

Tetrigidae 32

Insecta Coleoptera Anobiidae 1

Brentidae 6 Chrysomelidae 17 Curculionidae 6 Lyctidae 1 Meloidae 1 Nitidulidae 35 Scolytidae 10 Tenebrionidae 1

Insecta Hemiptera Aphididae 6 186

Alydidae 110 Aleyrodidae 2 Aphalaridae 1 Calophyidae 1 Cicadellidae 18 Coreidae 11 Flatidae 2 Largidae 1 Lygaeidae 11 Macroveliidae 1 Membracidae 3 Miridae 10 Pentatomidae 27 Plataspidae 2 Pseudococcidae 101 Tingidae 3 b b c

17

Insecta Thysanoptera Thripidae 9

Insecta Lepidoptera Hesperiidae 6

Lymantriidae 3 Noctuidae 2 Nymphalidae 17 Papilionidae 7 Psychidae 58 Pyralidae 3 Satyridae 1 Arctiidae 2

Insecta Blattodea Termitidae 2

Insecta Diptera Agromyzidae 1

Cecidomyiidae 42 Celyphidae 18 Chloropidae 17 Cryptochetidae 2 Delphacidae 17 Diastatidae 3 Drosophilidae 54 Lonchaeidae 1 Mycetophilidae 1 Periscelididae 2 Sciaridae 5 Odiniidae 1 Arthropoda Lainnya

Arthropoda lainnya merupakan Arthropoda yang tidak termasuk ke dalam peran predator, parasitoid, detritivor, maupun herbivor. Arthropoda lainnya yang diperoleh pada pertanaman buah naga selama pengamatan termasuk ke dalam kelas Insecta dengan tiga ordo; yaitu Hymenoptera (Apidae dan Agaonidae), Strepsiptera (Mengeidae), dan Diptera (Culicidae, Ceratopogonidae, Psychodidae, Tipulidae). Famili yang paling banyak diperoleh kelimpahannya yaitu Apidae (Tabel 7). Apidae (Gambar 11) merupakan kelompok lebah yang berperan sebagai polinator sehingga keberadaanya di kebun bermanfaat. Famili Apidae terdiri atas lebah-lebah besar kebun (bumbles bees), lebah madu, dan lebah-lebah lainnya (Borror et al. 1996). Hasil penelitian Kahono dan Erniwati (2014) mengenai keragaman dan kelimpahan lebah sosial (Apidae) pada bunga tanaman pertanian musiman di Dramaga, Bogor (dataran rendah) menemukan dua spesies lebah madu (Apis cerana dan A. dorsata) dan satu spesies lebah tidak bersengat (Trigona laeviceps). Hasil tersebut sesuai dengan pengamatan yang dilakukan, famili Apidae banyak diperoleh ketika banyak bunga buah naga yang mekar di kebun.

Famili yang banyak diperoleh kedua setelah Apidae, yaitu Tipulidae (Gambar 11). Famili ini diperoleh dari hasil pitfall trap, pengamatan langsung, dan penggunaan jaring serangga. Hasil tersebut menunjukkan keberadaan

18

Tipulidae cukup melimpah pada pertanaman buah naga. Oktaviani (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa Tipulidae (Insecta: Diptera) merupakan famili yang paling banyak ditemukan di pertanaman durian, sebesar 41% dari total Arthropoda lainnya. Tipulidae merupakan nyamuk hutan sehingga wajar apabila keberadaannya di perkebunan cukup melimpah.

Tabel 8 Kelimpahan Arthropoda lainnya pada pertanaman buah naga

Kelas Ordo Famili Jumlah (ekor)

Insecta Hymenoptera Apidae 82

Agaonidae 1

Insecta Diptera Culicidae 38

Ceratopogonidae 3

Psychodidae 4

Tipulidae 42

Insecta Strepsiptera Mengeidae 2

Gambar 11 Arthropoda lainnya yang banyak diperoleh pada pertanaman buah naga di kebun Sabisa Farm. (a dan b) (Hymenoptera: Apidae), (c) (Diptera: Tipulidae)

Proporsi Peran Arthropoda berdasarkan Metode Pengambilan Contoh Arthropoda yang diperoleh berdasarkan pengambilan sampel dengan empat metode, menunjukkan bahwa peran Arthropoda predator banyak diperoleh pada metode pitfall trap, light trap, dan pengamatan langsung (Gambar 12). Hal tersebut menandakan keberadaan predator cukup melimpah, baik pagi maupun malam hari pada pertanaman buah naga dan permukaan tanah di kebun Sabisa Farm. Keberadaan predator di kebun bermanfaat dalam mengendalikan hama secara alami. Berdasarkan hasil penggunaan jaring serangga, Arthropoda herbivor

c

19

mendominasi dibandingkan lainnya. Kelimpahan peran herbivor pada pertanaman buah naga dapat berpotensi menjadi hama yang dapat merusak komoditas, sehingga menimbulkan kerugian. Menurut Supriatna (2014), belalang merupakan Arthropoda dominan yang dapat dideteksi keberadaannya menggunakan jaring serangga. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa belalang merupakan salah satu kelompok herbivor yang didapatkan kelimpahannya dengan menggunakan jaring serangga.

Secara umum proporsi peran Arthropoda pada empat metode yang dilakukan menunjukkan bahwa dominasi kelimpahan peran predator diikuti dengan kelimpahan peran herbivor yang juga cukup melimpah. Proporsi populasi predator yang tinggi tersebut dapat dipengaruhi oleh ketersediaan mangsa sebagai sumber makanannya dan kondisi lingkungan yang mendukung kelangsungan hidupnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi populasi predator di lapangan antara lain, yaitu ketinggian tempat, iklim, teknik budi daya, penggunaan insektisida, ketersediaan mangsa, serta faktor regulasi biotik lainnya seperti parasitisasi, predasi, dan kompetisi (Taher 2006). Keberadaan herbivor merupakan salah satu faktor yang mendukung kelimpahan predator di suatu ekosistem. Herbivor merupakan mangsa bagi predator untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hidupnya. Dengan memahami faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kelimpahan dan sebaran populasi predator di alam, khususnya pada ekosistem pertanian merupakan upaya konservasi untuk meningkatkan pemanfaatannya sebagai agen pengendalian serangga hama.

Gambar 12 Proporsi peran Arthropoda berdasarkan metode pengambilan contoh. PT: pitfall trap, LT: light trap, PL: pengamatan langsung, PJ: penggunaan jaring serangga

Kelimpahan Peran Arthropoda selama Pengamatan di Lapangan Populasi Arthropoda yang diperoleh pada keempat metode yang dilakukan mengalami fluktuasi, baik peran predator, parasitoid, detritivor, herbivor, maupun lainnya (Gambar 2). Kelimpahan Arthropoda pada bulan Februari mengalami penurunan, lalu mengalami peningkatan pada bulan Maret, dan berfluktuasi pada bulan April. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu faktor lingkungan. Berdasarkan data BMKG (2016), curah hujan pada bulan Februari cenderung meningkat pada setiap pengamatan yang dilakukan, dari 16.8

Predator Herbivor Detritivor Parasitoid

0% 20% 40% 60% 80% 100% PT LT PL PJ Ju m la h A rth ropoda

20

mm hingga 29 mm dengan suhu rata-rata 25.7°C dan kelembapan rata-rata 89%, sehingga kelimpahan Arthropoda cenderung menurun. Kemudian pada bulan Maret kelimpahan Arthropoda meningkat seiring meningkatnya suhu udara dan menurunnya curah hujan serta kelembapan udara. Lalu, pada bulan April suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan cenderung berfluktuasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan Arthropoda predator berdasarkan hasil penelitian pada setiap minggu pengamatan menunjukkan populasi yang cukup tinggi dan stabil. Hal ini dapat disebabkan karena ketersediaan mangsa predator di lapangan cukup besar untuk mendukung perkembangannya, contoh mangsa predator yaitu dari kelompok Arthropoda herbivor. Keterangan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa populasi predator tinggi dapat didukung dengan kelimpahan mangsanya, yaitu herbivora ataupun mangsa alternatif seperti kelompok detritivor (Settle et al. 1996). Kelimpahan Arthropoda predator (musuh alami) hasil penelitian juga cenderung stabil pada perubahan kondisi lingkungan di lapangan. Semut merupakan salah satu Arthropoda predator yang diperoleh dari hasil penelitian dengan kelimpahan yang paling banyak dan cukup stabil pada setiap minggunya. Hal ini sesuai dengan Wang et al. (2000) yang menyatakan bahwa semut merupakan jenis serangga yang memiliki populasi cukup stabil sepanjang musim dan tahun. Jumlahnya yang banyak dan stabil membuat semut menjadi salah satu koloni serangga yang penting di ekosistem. Sementara kelimpahan Arthropoda herbivor (hama), contohnya kutu daun (Hemiptera: Aphididae) yang diperoleh

Dokumen terkait