Hasil
Kondisi Perairan Danau Siombak
Pengujian kondisi perairan Danau Siombak perlu dilakukan sebagai data pendukung dalam pertumbuhan dan kelimpahan ikan bulan-bulan. Adapun parameter kualitas perairan yang diukur meliputi parameter fisika dan kimia di antaranya adalah suhu, kecerahan, kedalaman, salinitas, pH dan DO. Nilai rata-rata kualitas air di perairan Danau Siombak dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Nilai rata-rata kualitas air di perairan Danau Siombak
Parameter Stasiun
Hasil pengamatan kisaran nilai parameter kualitas air di atas menunjukkan suhu tertinggi terdapat di stasiun VII yaitu 31,9 ºC dan terendah di stasiun X yaitu 29,7 ºC. Kecerahan tertinggi terdapat di stasiun I yaitu 107,9 cm dan terendah di stasiun V yaitu 42,5 cm. Kedalaman tertinggi terdapat di stasiun VII yaitu 4,9 m dan terendah di stasiun V yaitu 0,9 m. Salinitas tertinggi terdapat di stasiun XI yaitu 6,9 ‰ dan terendah terdapat di stasiun X yaitu 4,9 ‰. pH tertinggi terdapat
di stasiun I yaitu 7,6 dan terendah di stasiun X yaitu 7,0. Sedangkan DO tertinggi terdapat di stasiun VII yaitu 5,7 mg/l dan terendah di stasiun X yaitu 2,6 mg/l.
Hasil Tangkapan Ikan Bulan-Bulan (Megalops cyprinoides)
Penagkapan ikan bulan-bulan di perairan Danau Siombak dilakukan dengan menggunakan jaring insang dengan mesh size sebesar 1 inch, panjang = 20 m, lebar = 2 m. Grafik hasil tangkapan ikan bulan-bulan dapat dilihat pada gambar 15 dan 16.
Gambar 15. Hasil penangkapan ikan bulan-bulan berdasarkan stasiun penelitian
Gambar 16. Hasil penangkapan ikan bulan-bulan berdasarkan bulan penelitian
Jumlah keseluruhan ikan bulan-bulan yang tertangkap selama penelitian berlangsung di perairan Danau Siombak Kota Medan adalah sebanyak 305 ekor.
Berdasarkan stasiun, jumlah tangkapan paling banyak didapatkan di Stasiun VI dengan jumlah 74 ekor, dan jumlah tangkapan paling sedikit terdapat pada Stasiun IX sebanyak 3 ekor. Sedangkan berdasarkan bulan penelitian, jumlah ikan yang paling banyak tertangkap adalah pada bulan November 2018 yaitu sebanyak 123 ekor dan hasil tangkapan terendah terdapat pada bulan Maret 2019 yaitu sebanyak 12 ekor. Selama penelitian, ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan jantan, yaitu sebanyak 296 ekor, sementara ikan betina hanya ditemukan sebanyak 9 ekor.
Aspek Pertumbuhan
Kelimpahan Ikan Bulan-Bulan
Kelimpahan ikan bulan-bulan dihitung berdasarkan stasiun dan berdasarkan bulan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai kelimpahan ikan bulan-bulan paling tinggi pada stasiun VI dengan nilai kelimpahan sebesar 1,85 ind/m2 dan kelimpahan terendah adalah pada stasiun IX yaitu sebesar 0,075 ind/m2. Berdasarkan bulan penelitian didapatkan bahwa nilai kelimpahan ikan bulan-bulan paling tinggi pada Bulan November 2018 dengan nilai kelimpahan sebesar 3,075 ind/m2, kelimpahan terendah adalah pada bulan Maret 2019 yaitu sebesar 0,3 ind/m2. Grafik kelimpahan ikan bulan-bulan berdasarkan stasiun dan bulan dapat dilihat pada gambar 17 dan 18 di bawah ini.
Gambar 17. Kelimpahan ikan bulan-bulan berdasarkan stasiun penelitian
Gambar 18. Kelimpahan ikan bulan-bulan berdasarkan bulan penelitian
Distribusi Frekuensi Panjang
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, jumlah ikan bulan-bulan yang paling banyak tertangkap di perairan Danau Siombak Kota Medan terdapat pada selang kelas 249-276 mm yaitu sebanyak 114 ekor dan hasil tangkapan yang paling sedikit ada pada selang kelas 137-164 mm dengan jumlah tangkapan sebanyak 1 ekor. Distribusi frekuensi panjang ikan bulan-bulan dilihat pada gambar 19, 20 dan 21 di bawah ini.
Gambar 19. Distribusi frekuensi panjang ikan bulan-bulan di perairan Danau Siombak
Gambar 20. Distribusi frekuensi panjang ikan bulan-bulan jantan
Gambar 21. Distribusi frekuensi panjang ikan bulan-bulan betina
Dari grafik di atas, dapat diketahui jumlah ikan bulan-bulan jantan yang paling banyak tertangkap yaitu pada selang kelas 249-276 mm sebanyak 114 ekor dan hasil tangkapan yang paling sedikit yaitu pada selang kelas 137-164 mm yaitu 1 ekor. Sedangkan pada ikan bulan-bulan betina yang paling banyak tertangkap yaitu pada selang kelas 190-219 dan 279-308 mm masing-masing sebanyak 4 ekor dan terendah adalah pada selang kelas 220-249 dan 250-278 dengan jumlah tangkapan 0 ekor.
Hubungan Panjang dan Berat
Dari hasil analisis hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada September 2018-Maret 2019 menghasilkan kurva panjang-berat dengan nilai determinasi (R2) adalah sebesar 0,830. Nilai determinasi (R2) ikan bulan-bulan jantan adalah sebesar 0,822 sedangkan ikan bulan-bulan betina memiliki nilai determinasi (R2) sebesar 0,978. Nilai hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan dapat dilihat pada gambar 22-31 di bawah ini.
Gambar 22. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan di perairan Danau Siombak
Gambar 23. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan jantan di perairan Danau Siombak
Gambar 24. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan betina di perairan Danau Siombak
Gambar 25. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan September
Gambar 26. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan Oktober
Gambar 27. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan November
Gambar 28. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan Desember
Gambar 29. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan Januari
Gambar 30. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan Februari
Gambar 31. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan pada bulan Maret
Kisaran nilai b (α=0,05) dinyatakan mendekati 3 dan setelah uji T (α=0,05) hasilnya alometrik negatif. Hasil uji T dapat diliat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hubungan panjang dan berat ikan bulan-bulan
Bulan September 2018 y = 0,00001x2,901 0,921 0,959 Alometrik negatif Oktober 2018 y = 0,00004x2,711 0,929 0,963 Alometrik negatif November 2018 y = 0,0001x2,526 0,767 0,875 Alometrik negatif Desember 2018 y = 0,00004x2,693 0,832 0,912 Alometrik negatif Januari 2019 y = 0,000005x3,081 0,961 0,980 Alometrik positif Februari 2019 y = 0,00004x2,698 0,823 0,907 Alometrik negatif Maret 2019 y = 0,00002x2,867 0,718 0,847 Alometrik negatif Keseluruhan y = 0,00005x2,659 0,830 0,911 Alometrik negatif
Faktor Kondisi Ikan Bulan-Bulan
Dari hasil analisis data selama penelitian, nilai faktor kondisi ikan bulan-bulan yang didapatkan dari masing-masing bulan-bulan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Nilai faktor kondisi ikan bulan-bulan
Bulan K Keterangan
Pembahasan
Kondisi Perairan Danau Siombak
Kondisi umum di perairan Danau Siombak selama penelitian berlangsung digambarkan melalui informasi beberapa nilai parameter kualitas air. Parameter fisika-kimia yang diukur selama penelitian terdiri dari suhu, kecerahan, kedalaman, salinitas, pH dan DO yang tersaji pada Tabel 2.
Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor pembatas dalam perairan dan berperan penting dalam proses metabolisme ikan bulan-bulan. Hasil penelitian mendapatkan suhu air tertinggi dijumpai pada stasiun VII (Tabel 2). Tingginya suhu air pada stasiun VII diduga disebabkan perbedaan letak lokasi stasiun.
Stasiun VII ini terletak di bagian paling tengah danau sehingga tidak ada tanaman maupun penghalang yang menghambat masuknya cahaya matahari ke perairan, sehingga intensitas cahaya matahari yang masuk ke kolom air juga sedikit lebih tinggi dibanding stasiun lainnya, yang berpengaruh terhadap kondisi suhu perairannya. Fitra (2008), menyatakan bahwa pola temperatur di suatu ekosistem danau akan mengalami fluktuasi secara vertikal sesuai dengan kedalaman lapisan air dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu dari sebelas stasiun di perairan Danau Siombak Kota Medan tidak jauh berbeda dan masih dalam batas toleransi yakni kisaran 30,2-31,9oC yang baik untuk mendukung kehidupan biota perairan. Saputra (2008) menyatakan bahwa suhu yang optimal untuk kehidupan organisme perairan berkisar 25–32oC. Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001, nilai suhu di perairan Danau Siombak termasuk ke dalam kelas dua yaitu air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, peternakan dan layak untuk digunakan sebagai kegiatan perikanan tambak karena masih mencakup batas tolerir.
Kecerahan
Kecerahan air pada tiap stasiun menunjukkan nilai yang berkisar antara 42,5 cm–120 cm (Lampiran 4.b). Kondisi ini menggambarkan perairan Danau Siombak relatif keruh. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 (2004) tentang baku mutu air laut untuk biota laut, yang menyatakan bahwa nilai baku mutu untuk kecerahan air laut adalah > 3 m.
Bila kecerahan air < 3 m maka perairan tersebut dapat dikategorikan keruh akibat beban organiknya, sesuai dengan Saraswati et al (2018) yang menyatakan bahwa kekeruhan yang cukup tinggi disebabkan oleh kandungan bahan organik oleh aliran air tawar maupun air laut.
Perairan Danau Siombak keruh karena aliran air yang masuk ke dalam perairan membawa zat-zat terlarut dari aliran sungai sehingga mengakibatkan tingginya kekeruhan di dalam perairan. Menurut Hamuna et al. (2018), rendahnya tingkat kecerahan disebabkan karena banyaknya suplai sedimen dan partikel yang terlarut, bahan organik dan anorganik melalui aliran run off dari daratan dan menyebabkan tingkat kekeruhan perairan yang tinggi.
Kedalaman
Kedalaman air tertinggi di perairan Danau Siombak terdapat pada stasiun VII yaitu 4,9 m dan terendah pada stasiun V yaitu 0,9 m. Stasiun VII memiliki kedalaman tertinggi karena stasiun tersebut berada di bagian paling tengah danau yang tidak dipengaruhi oleh aktivitas dari daratan seperti pendangkalan dan lain
sebagainya, sementara stasiun V menjadi bagian paling dangkal disebabkan stasiun ini merupakan daerah outlet tambak yang berada sangat dekat dengan pinggiran sehingga masih dipengaruhi oleh proses sedimentasi buangan limbah tambak.
Kedalaman tertinggi perairan terdapat pada bulan November 2018 (Lampiran 4.c). Hal ini dikarenakan Bulan November merupakan Musim penghujan yang mengakibatkan volume air danau meningkat sehingga menyebabkan kedalaman semakin tinggi. Rata-rata kedalaman terendah terdapat pada bulan Januari yang terjadi surut yang sangat rendah sehingga volume air danau menurun hingga terlihat sampai ke dasar perairan.
Salinitas
Nilai salinitas dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai salinitas
tertinggi terjadi di salah satu stasiun penelitian yaitu pada stasiun XI sebesar 6,9 ‰. Hal ini dikarenakan stasiun ini merupakan sungai yang berhubungan
langsung dengan perairan Laut Belawan, berada dekat dengan muara sehingga pengaruh pasang surut lebih besar di stasiun ini dibandingkan dengan 10 stasiun lainnya. Sementara salinitas terendah terdapat pada stasiun X karena stasiun ini merupakan daerah aliran sungai air tawar yang tidak langsung berhubungan dengan aliran maupun pasang surut air laut. Hal ini sesuai dengan Nybakken (1992), yang menyatakan bahwa salinitas dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau.
Rata-rata salinitas perairan yang terdapat di Danau Siombak pada setiap stasiun tidak jauh berbeda antar satu stasiun dengan stasiun lainnya yaitu berkisar antara 4,9-6,9 (Tabel 2), ini menunjukkan bahwa perairan Danau Siombak termasuk ke dalam perairan yang bersifat payau dan mendekati tawar. Sesuai dengan Nybakken (1992) yang menyatakan bahwa kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan air tawar 0,5-5‰.
Nilai salinitas pada perairan Danau Siombak berdasarkan bulan penelitian dapat diketahui bahwa salinitas tertinggi terdapat pada bulan Maret (Lampiran 4.d), hal ini terjadi karena pada bulan ini terjadi surut paling rendah yang mengakibatkan volume air danau menurun dan menyebabkan zat-zat terlarut seperti garam menjadi pekat di dalam perairan. Sedangkan salinitas terendah terdapat pada bulan November, di mana bulan ini merupakan musim penghujan yang mengakibatkan volume air danau meningkat dan kepekatan zat terlarut dalam air menurun. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kalangi et al. (2012) yang menyatakan bahwa sebaran horizontal salinitas dipengaruhi oleh pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan air sungai.
pH
Nilai pH yang didapatkan pada sebelas stasiun penelitian masing-masing dari stasiun I sampai XI yakni 7,6; 7,4; 7,4; 7,3; 7,3; 7,5; 7,4; 7,2; 7,1; 7,0; dan 7,1. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai pH di perairan Danau Siombak masih tergolong netral dan layak untuk kehidupan biota air secara umum karena masih mendekati 7. Menurut Fitra (2008) organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. pH yang ideal bagi kehidupan organisme
akuatik umumnya berkisar antara 7-8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik.
Kategori pH di perairan Danau Siombak di setiap stasiun tidak jauh berbeda, stasiun II, III, IV, V, VII, VIII, IX, X dan XI tergolong ke dalam perairan yang cukup subur yaitu dengan kisaran nilai 7,0-7,4, sedangkan untuk stasiun I dan VI masing-masing dengan nilai 7,6 dan 7,5 tergolong ke dalam perairan yang sangat subur. Stasiun I menjadi perairan yang paling subur karena lokasi yang berada tepat di dekat pemukiman menjadikan stasiun ini mendapatkan beban nutrien dari daratan lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Namun tidak ada perbedaan yang begitu signifikan antar semua stasiun yang ada. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mardiah (2014) yang mengemukakan bahwa pH 6,5–7,5 ppm dinyatakan sebagai perairan yang cukup subur, pH dengan kadar 7,5–8,5 ppm dikategorikan dalam perairan sangat subur untuk kehidupan organisme di perairan estuary.
Rata-rata pH terendah terdapat pada bulan November dengan nilai 6,85 (Lampiran 4.e) karena pada bulan ini kondisi cuaca adalah hujan sehingga terjadi kenaikan zat asam di perairan melalui air hujan yang masuk ke dalam perairan danau. Menurut Whardani et al. (2015), hujan secara alami bersifat asam (pH 5,6) karena karbondioksida (CO2) di udara dapat larut dalam air hujan dan menghasilkan senyawa yang bersifat asam.
Oksigen Terlarut (DO)
Dari pengukuran DO yang telah dilakukan, nilai DO tertinggi terdapat pada Stasiun VII dengan nilai 5,7 mg/l. Hal ini disebabkan karena Stasiun VII merupakan stasiun yang berada di bagian paling tengah dari danau dan langsung terpapar oleh sinar matahari langsung tanpa ada kanopi yang menutupi sehingga menyebabkan fitoplankton di perairan tersebut melakukan fotosintesis dengan baik dan menghasilkan oksigen terlarut di dalam air. Sedangkan nilai DO terendah selama penelitian terdapat pada Stasiun X dengan nilai 2,6 mg/l. Hal ini disebabkan stasiun ini merupakan bagian dari sungai yang memiliki tutupan mangrove dan juga cukup keruh sehingga sinar matahari yang masuk ke perairan rendah dan fotosintesis fitoplankton tidak berjalan dengan sempurna, sehingga DO yang dihasilkan rendah. Tingginya kecerahan mempengaruhi nilai DO di stasiun tersebut. Sastrawijaya (2000), kehidupan di air dapat bertahan jika oksigen terlarut
minimum sebanyak 5 mg/l.
Namun untuk lingkungan perikanan DO di Danau Siombak masih dalam batas toleransi dan diperbolehkan bagi lingkungan perikanan. Kecuali pada stasiun X yaitu dengan nilai yang rendah (2,6 mg/l), setiap stasiun penelitian lainnya didapatkan nilai masing-masing DO berada di atas 3 mg/l. Hal ini sesuai
dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2 (1988) tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan yang menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut yang diperbolehkan untuk badan air golongan C (perikanan) adalah lebih besar dari 3 mg/l.
Nilai rata-rata DO tertinggi terdapat pada bulan September dan Oktober 2018 (Lampiran 4.f) yaitu dengan nilai 5,87 dan terendah terdapat pada bulan November 2018 dengan nilai 1,57. Hal ini terjadi karena pada bulan September dan Oktober kondisi cuaca cerah sehingga cahaya matahari masuk ke dalam perairan dan menyebabkan biota air mampu melakukan fotosintesis dengan baik, sedangkan pada November terjadi hujan ketika dilakukan pengambilan sampel sehingga tidak ada cahaya matahari yang masuk ke perairan, selain itu metabolisme organisme perairan membutuhkan oksigen terlarut sehingga persediannya semakin menurun dan akhirnya juga menurunkan tingkat fotosintesis di perairan tersebut.
Hasil Tangkapan Ikan Bulan-Bulan (Megalops cyprinoides)
Penangkapan ikan bulan-bulan di Danau Siombak dilakukan selama 7 bulan dengan menggunakan alat tangkap jaring insang, alat tangkap ini digunakan karena jaring insang merupakan salah satu alat tangkap yang cocok untuk
menangkap ikan pelagis termasuk ikan bulan-bulan. Hal ini sesuai dengan Genisa (1999) yang menyatakan bahwa ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides)
hidup di perairan pantai, muara sungai, kadang-kadang masuk ke air tawar dan termasuk ikan pelagis. Penangkapan dengan jaring insang, trawl, purse seine, dipasarkan dalam bentuk segar, asin kering dan harga sedang.
Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa ikan bulan-bulan meski dalam skala kecil masih terdapat di perairan Danau Siombak Kota Medan dimana dalam penelitian tertangkap ikan bulan-bulan sebanyak 305 ekor yang terdiri dari 296 ekor ikan jantan dan 9 ekor ikan betina. Ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides) termasuk jenis ikan karnivora yang memakan ikan-ikan
kecil maupun crustacea yang terdapat di perairan. Hal ini sesuai dengan Kottelat et al. (1993) yang menyatakan bahwa ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides) merupakan jenis ikan yang hidup di perairan laut dan
payau. Pakan alaminya adalah ikan kecil, udang dan kepiting.
Jumlah ikan bulan-bulan yang tertangkap pada penelitian didominasi oleh ikan jantan maupun betina yang belum matang gonad, karena perairan Danau Siombak merupakan perairan payau yang dimanfaatkan oleh ikan untuk mencari makan dan pembesaran, sedangkan untuk pemijahan ikan ini berada di laut.
Karena itu ikan yang telah dewasa akan ditemukan di perairan laut. Hal ini sesuai dengan Genisa (1999) yang menyatakan bahwa ikan bulan-bulan dewasa umumnya ditemukan di laut, tapi ikan muda ditemukan di muara sungai, teluk dalam, hutan mangrove, dan rawa payau tergantung pada gelombang.
Dalam penelitian, ikan yang ditemukan didominasi oleh ikan jantan karena ikan bulan-bulan betina hidupnya lebih banyak di perairan laut untuk melakukan pemijahan, sedangkan musim pemijahan ikan bulan-bulan adalah berlaku sepanjang tahun dan dilakukan di daerah lepas pantai. Karena itu sangat jarang ditemukan ikan bulan-bulan betina di perairan tawar maupun payau. Hal ini sesuai dengan Bell-Cross et al. (1988) yang menyatakan bahwa ikan bulan-bulan
berkembang biak di lepas pantai sepanjang tahun, larva transparan menyerupai larva belut tetapi dengan ekor bercabang dua.
Hasil tangkapan ikan bulan-bulan tidak terlalu dipengaruhi oleh nilai pH di perairan Danau Siombak karena ikan bulan-bulan memiliki toleransi yang luas terhadap nilai pH, kisaran pH di perairan danau Siombak adalah 6,7-8,3 (berada dalam toleransi ikan bulan-bulan). Hal ini sesuai dengan Allen et al. (2002) yang menyatakan bahwa ikan bulan-bulan hidup dengan toleransi pH yang luas, yaitu 5,2-9,1.
Berdasarkan stasiun, jumlah tangkapan paling banyak didapatkan di Stasiun VI dengan jumlah 74 ekor, dan jumlah tangkapan paling sedikit terdapat pada Stasiun IX sebanyak 3 ekor. Hal ini dimungkinkan kondisi perairan pada lokasi dan waktu penelitian tersebut berada pada kondisi perairan optimal untuk jenis ikan tersebut. Hal ini sesuai dengan Fitra (2008) yang menyatakan bahwa organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah.
Jumlah tangkapan di stasiun I, II, IX, X dan XI rendah karena stasiun I merupakan stasiun yang terletak berada dekat dengan daerah pemukiman dan juga tempat penambatan kapal sehingga kondisi perairan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat seperti buangan MCK, tumpahan-tumpahan minyak kapal dan lain sebagainya. Stasiun II yang berdekatan dengan stasiun I juga masih dipengaruhi oleh aktivitas dari pemukiman masyarakat, stasiun IX, X, dan XI merupakan stasiun yang berada di daerah aliran sungai yang membawa muatan sampah dari TPA, pemukiman maupun limbah dari industri sehingga kualitas perairan kurang baik untuk kelangsungan biota, termasuk ikan bulan-bulan.
Jumlah tangkapan tinggi pada stasiun III, IV, V, VI, VII dan VIII. Hal ini terjadi karena stasiun III merupakan stasiun yang dikelilingi oleh mangrove sehingga terdapat biota seperti kepiting kecil yang merupakan makanan dari ikan bulan-bulan, stasiun IV walaupun merupakan daerah wisata namun aktivitas wisata lebih banyak dilakukan di daratan, aktivitas wisata di air hanya berupa boat, stasiun V merupakan daerah vegetasi mangrove serta outlet tambak sehingga potensi nutrien lebih banyak didapatkan di daerah ini, stasiun VI juga merupakan daerah mangrove, stasiun VII yang terletak di bagian paling tengah danau menyebabkan daerah ini menjadi daerah yang baik sebagai tempat ikan berkumpul, dan stasiun VIII yang merupakan inlet dan outlet danau menjadi daerah yang subur dengan sumber nutrien yang lebih banyak.
Tinggi rendanya DO dalam perairan tidak terlalu berpengaruh terhadap ikan bulan-bulan karena ikan ini merupakan ikan yang dapat mentolerir perairan yang memiliki DO rendah. Hal ini sesuai dengan Smith (1997) yang menyatakan bahwa modifikasi swimbladder memungkinkan ikan bulan-bulan untuk menghirup udara dan bertahan hidup di air yang miskin oksigen dengan menghirup udara ke dalam kantung udara seperti paru-paru.
Aspek Pertumbuhan
Kelimpahan Ikan Bulan-Bulan
Hasil dari penelitian yang dilakukan didapatkan nilai kelimpahan pada masing-masing stasiun penelitian, dimana nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun VI sebesar 1,85 ind/m2 dan terendah pada stasiun IX sebesar 0,075 ind/m2. Hal ini terjadi karena ekosistem di stasiun VI yang masih alami yaitu tersusun oleh ekosistem mangrove dan stasiun IX berada di daerah sungai yang terdapat
banyak sampah dan sumber pencemaran lain. Hal ini menjadikan kondisi perairan stasiun IX kurang layak untuk keberlangsungan hidup biota perairan dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kelimpahan ikan bulan-bulan.
Jumlah tangkapan ikan di Danau Siombak tergolong rendah, hal ini diakibatkan oleh kondisi lingkungan perairan yang kurang baik sehingga
Jumlah tangkapan ikan di Danau Siombak tergolong rendah, hal ini diakibatkan oleh kondisi lingkungan perairan yang kurang baik sehingga