Gambaran Umum Mayor
Mayor Ilmu Gizi merupakan salah satu mayor di Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Mayor ini memilki kompetensi dalam mengembangkan ilmu gizi manusia dan aplikasinya di keluarga serta masyarakat. Ilmu gizi yang dipelajari kemudian dikaitkan dengan pertanian pangan, gizi dan kesehatan dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Mahasiswa mempelajari seluruh aspek mengenai pangan gizi di masyarakat begitupula dengan Pedoman Gizi Seimbang.
Mayor Ilmu Komputer merupakan salah satu mayor di Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor. Mayor ini memiliki kompetensi dalam mengembangkan ilmu komputer dan aplikasinya untuk bidang informasi dan komunikasi (ICT) seperti penerapan komputer, bahasa pemrograman, sistem informasi, interaksi manusia dan komputer, komunikasi data dan jaringan komputer dan lain-lain. Ilmu Komputer IPB juga mendorong kolaborasi antar disiplin ilmu seperti ilmu pertanian dan biosains, namun tidak terdapat kurikulum yang membahas mengenai pangan, gizi dan kesehatan.
Karakteristik Individu
Contoh dalam penelitian ini terdiri dari 77 orang, yaitu 45 orang mahasiswa Mayor Ilmu Gizi (GM) dan 32 orang mahasiswa Mayor Ilmu Komputer (ILKOM). Karakteristik contoh dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, pendapatan dan alokasi untuk pangan. Sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu Karakteristik individu GM ILKOM n % n % Jenis kelamin Laki-laki 8 17.8 22 68.8 Perempuan 37 82.2 10 31.3 Total 45 100 32 100 Pendapatan < Rp 1 000 000 12 26.7 6 18.8 Rp 1 000 000 - Rp 1 199 999 10 22.2 8 25 Rp 1 200 000 – Rp 1 499 999 11 24.4 4 12.5 ≥ Rp 1 500 000 12 26.7 14 43.8 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 1 198 800 ± 361 583 1 357 813 ± 600 955
Tabel 2 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu (lanjutan) Karakteristik
individu
GM ILKOM
n % n %
Alokasi untuk pangan
< Rp 600 000 8 17.8 4 12.5 Rp 600 000 – Rp 699 999 15 33.3 10 31.3 Rp 700 000 – Rp 799 999 10 22.2 1 3.1 ≥ Rp 800 000 12 26.7 17 53.1 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 701 889 ± 242 364 775 000 ± 312 895
Sebanyak 17.8% (GM) dan 68.8% (ILKOM) contoh berjenis kelamin laki-laki serta 82.2% (GM) dan 31.3% (ILKOM) berjenis kelamin perempuan. Contoh GM memiliki pendapatan berkisar antara Rp 500 000 – Rp 2 000 000 per bulan sedangkan contoh ILKOM berkisar antara Rp 150 000 – Rp 3 100 000 per bulan. Pendapatan seseorang kemudian akan mempengaruhi keputusannya dalam memilih makanan. Pendapatan yang rendah membuat seseorang menjadikan harga sebagai faktor utama dalam memilih memilih makanan dibandingkan dengan kandungan zat gizi dan kualitasnya. Begitupula sebaliknya, pendapatan yang tinggi menjadikan seseorang lebih leluasa bagi seseorang memilih makanan sehat dengan kualitas baik tanpa mengkhawatirkan harga (Leung et al. 2012).
Pendapatan contoh kemudian dialokasikan untuk keperluan pangan dan non pangan. Contoh GM mengalokasikan pendapatannya untuk pangan berkisar antara Rp 150 000 – Rp 1 350 000 sedangkan untuk contoh ILKOM berkisar antara Rp 50 000 – Rp 2 000 000. Alokasi pangan yang tinggi mengindikasikan bahwa contoh tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhannya dalam hal pangan, seperti zat gizi. Menurut Purwaningsih et al. (2010), seseorang yang lebih banyak mengalokasikan pendapatannya untuk keperluan pangan dikatakan tahan pangan karena memiliki kemungkinan memenuhi kecukupan energinya.
Karakteristik Keluarga
Karakteristik keluarga contoh meliputi besar keluarga, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan orangtua dan cara memperoleh pangan. Sebagian besar contoh GM dan ILKOM termasuk ke dalam ukuran keluarga sedang (5-6 orang). Hardinsyah (2007) mengatakan bahwa besar keluarga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keragaman konsumsi pangan.
Pendidikan orangtua contoh GM dan ILKOM, baik ayah maupun ibu sebagian besar berpendidikan perguruan tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya yang kemudian mendorong adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Boles et al. 2014). Pekerjaan orangtua berperan dalam kehidupan sosial ekonomi keluarga yang selanjutnya berhubungan dengan pendapatan keluarga. Pendapatan keluarga merupakan penjumlahan dari pendapatan yang diperoleh ayah dan ibu. Sebagian
besar ayah contoh GM memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta, sedangkan contoh ILKOM sebagai pegawai swasta dan ibu tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Total pendapatan keluarga contoh GM berkisar antara Rp 400 000 – Rp 19 000 000 per bulan, sedangkan contoh ILKOM berada pada kisaran Rp 1 500 000 – 21 000 000 per bulan. Pendapatan keluarga akan mempengaruhi pemilihan dan preferensi makan keluarga. Keluarga dengan pendapatan yang tinggi dapat membeli bahan pangan yang sehat dan bergizi tanpa memperdulikan harga bahan pangan tersebut. Sebaliknya, keluarga memiliki pendapatan yang rendah cenderung memilih bahan pangan yang tidak tepat karena lebih mementingkan harga bahan pangan dibandingkan dengan kualitas gizinya (Dammann dan Smith 2009). Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga
Karakteristik keluarga GM ILKOM
n % n % Besar keluarga Kecil (< 4 orang) 19 42.2 12 37.5 Sedang (5-6 orang) 22 48.9 19 59.4 Besar (≥ 7 orang) 4 8.9 1 3.1 Total 45 100 32 100 Pendidikan ayah Tidak tamat SD 1 2.2 0 0.0 SD 2 4.4 1 3.1 SMP 4 8.9 2 6.3 SMA 18 40 10 31.3 Perguruan tinggi 20 44.4 19 59.4 Total 45 100 32 100 Pendidikan ibu Tidak tamat SD 0 0 0 0 SD 3 6.7 2 6.3 SMP 6 13.3 2 6.3 SMA 13 28.9 10 31.3 Perguruan tinggi 23 51.1 18 56.3 Total 45 100 32 100 Pekerjaan ayah Tidak bekerja 1 2.2 3 9.4 PNS/ABRI 11 24.4 4 12.5 Pegawai swasta 8 17.8 11 34.4 Buruh/petani 4 8.9 2 6.3 Wiraswasta 12 26.7 6 18.8 Jasa 2 4.4 1 3.1 Lainnya 7 15.6 5 15.6 Total 45 100 32 100 Pekerjaan ibu Tidak bekerja 19 42.2 14 43.8 PNS/ABRI 11 24.4 10 31.3
Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga (lanjutan)
Karakteristik keluarga GM ILKOM
n % n % Pekerjaan ibu Pegawai swasta 3 6.7 2 6.3 Buruh/petani 2 4.4 1 3.1 Wiraswasta 6 13.1 3 9.4 Jasa 0 0 0 0 Lainnya 4 8.9 2 6.3 Total 45 100 32 100
Total Pendapatan Orangtua
< Rp 2 500 000 12 26.7 6 18.8 Rp 2 500 000 – Rp 4 999 999 9 20 9 28.1 Rp 5 000 000 – Rp 8 999 999 11 24.4 12 37.5 ≥ Rp 9 000 000 13 28.9 5 15.6 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 6 460 000 ± 4 914 642 6 832 284 ± 5 415 056 Pendidikan Nonformal
Pendidikan gizi menggunakan berbagai macam strategi dalam membantu individu untuk memperoleh pengetahuan mengetahui gizi (Leak et al. 2014). Pendidikan gizi selain diperoleh dari pendidikan formal yang berbasis kurikulum, dapat juga diperoleh dari pendidikan nonformal seperti seminar tentang pangan, gizi dan kesehatan. Durasi seminar contoh GM berkisar antara 0 – 2520 menit, sedangkan contoh ILKOM berkisar antara 0 – 180 menit. Sebaran contoh berdasarkan durasi mengikuti seminar dan penyuluhan tentang pangan, gizi dan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan durasi mengikuti seminar dan penyuluhan tentang pangan, gizi dan kesehatan
Durasi (menit) GM ILKOM P
n % n % Tidak mengikuti 2 4.4 22 68.8 0.000a <180 menit 3 6.7 9 28.1 180 – 720 menit 22 48.9 1 3.1 >720 menit 18 40 0 0 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 772 ± 609 31.9 ± 57 aBerbeda nyata (p<0.05)
Berdasarkan uji beda Mann Whitney, terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05) antara durasi seminar kedua contoh. Perbedaan partisipasi contoh dalam mengikuti seminar dapat disebabkan faktor kesesuaian tema dengan jurusan yang
sedang diambil oleh contoh. Hardinsyah (2007) mengatakan bahwa pendidikan seseorang berkaitan dengan frekuensi akses informasi orang tersebut tentang pangan, gizi dan kesehatan. Contoh GM cenderung lebih sering mengikuti seminar tentang pangan, gizi dan keseharan karena ketertarikan mahasiswa mengikuti seminar atau penyuluhan tergantung pada minat masing-masing individu. Hal ini menunjukkan bahwa tersedianya kegiatan penyuluhan, sosialisasi atau seminar terkait gizi khususnya Pedoman Gizi Seimbang belum tentu dapat mempengaruhi pengetahuan gizi karena sangat bergantung pada minat dan keikutsertaan individu.
Akses Informasi tentang Pangan, Gizi dan Kesehatan
Terdapat banyak metode yang digunakan untuk memberikan informasi mengenai gizi kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang gizi. Metode lain selain pendidikan formal yang digunakan adalah dengan bantuan media informasi. Semakin berkembangnya media informasi dijadikan sebagai suatu alat yang potensial untuk menyebarkan informasi yang terkait dengan gizi dan kesehatan (Lohse 2013). Media informasi yang dijadikan variabel dalam penelitian ini antara lain buku, majalah/koran, TV, radio, internet, orangtua dan teman. Sebaran contoh berdasarkan penggunaan media untuk mengakses informasi mengenai pangan, gizi dan kesehatan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan penggunaan media untuk mengakses informasi mengenai pangan, gizi dan kesehatan
Media Jumlah contoh P GM ILKOM n % n % Buku 29 64.4 2 5.7 0.000a Majalah 6 13.3 2 5.7 0.319 TV 6 13.3 4 11.4 0.915 Radio 3 6.7 0 0.0 0.139 Internet 45 100.0 18 51.4 0.000a Orangtua 3 6.7 4 11.4 0.383 Teman 7 15.6 1 2.9 0.080 aBerbeda nyata (p<0.05)
Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa contoh GM dan ILKOM cenderung mengakses informasi terkait pangan, gizi dan kesehatan melalui media internet. Sedangkan media yang paling jarang diakses contoh baik GM dan ILKOM adalah radio. Berdasarkan uji beda Mann Whitney, jenis media yang memiliki perbedaan akses secara signifikan antar contoh adalah buku dan internet (p<0.05) sedangkan media lainnya tidak berbeda secara signifikan.(p>0.05). Contoh GM lebih banyak mengakses informasi tentang pangan, gizi dan kesehatan dibandingkan dengan contoh ILKOM. Hal ini dikarenakan tuntutan kurikulum yang
mengharuskan contoh GM mengetahui informasi tentang pangan, gizi dan kesehatan serta dipengaruhi pula oleh minat. Hardinsyah (2007) mengatakan bahwa pendidikan seseorang berkaitan dengan akses informasi orang tersebut tentang pangan, gizi dan kesehatan.
Data frekuensi akses media contoh tentang pangan, gizi dan kesehatan ini sesuai dengan penelitian Usher et al. (2014). Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sedikit sekali mahasiswa yang menggunakan radio dan koran atau majalah sebagai sumber informasi utama mereka. Mayoritas mahasiswa mengakses informasi menggunakan internet karena kemudahan akses, kelengkapan informasi dan kecepatan penyebaran informasi.
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan durasi penggunaan media untuk mengakses informasi mengenai pangan, gizi dan kesehatan
Media Rata-rata durasi akses informasi (menit) P
GM ILKOM Buku 433.3 12.5 0.000a Majalah 37.5 12.5 0.296 TV 48.3 32.5 0.866 Radio 23.3 0 0.139 Internet 233.4 25.6 0.000a Orangtua 18.3 42 0.378 Teman 81.4 30 0.076
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa media yang paling banyak diakses oleh contoh GM adalah buku dan internet dengan rata-rata durasi 433.3 menit dan 233.4 menit. Media yang paling banyak diakses contoh ILKOM adalah TV dan internet dengan rata-rata total frekuensi 32.5 menit dan 25.6 menit. Berdasarkan uji beda Mann Whitney didapatkan hasil bahwa durasi akses informasi yang berbeda nyata secara signifikan terdapat pada penggunaan media buku dan internet.
Perbedaan durasi contoh dalam mengakses informasi karena adanya perbedaan tujuan dalam memperoleh informasi. Contoh ILKOM cenderung mengakses informasi terkait gizi karena sebatas ingin tahu, sedangkan contoh GM cenderung menganalisis informasi tersebut kemudian dikaitkan dengan teori yang didapat sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Pendidikan contoh akan mempengaruhi akses terhadap media massa dan informasi terkait gizi (Hardinsyah 2007).
Pengaruh media dalam memberikan informasi terkait gizi dibuktikan dalam penelitian Freisling et al. (2009) menyebutkan bahwa perilaku contoh yang terpapar informasi melalui media buku lebih baik 70% dibandingkan yang tidak terpapar. Contoh yang terpapar informasi melalui internet memiliki perilaku 59% lebih baik. Majalah dan koran sebagai sumber informasi tentang pangan, gizi dan kesehatan juga memiliki hubungan yang positif dengan perilaku contoh.
Kebiasaan menonton TV juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang terutama kebiasaan makan. Individu yang lebih sering menonton TV pada masa kanak-kanak cenderung memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat saat beranjak
dewasa (Harris dan Bargh 2009). TV dan siaran radio memberikan pengaruh untuk dapat meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan seseorang (McKay et al.2006). Pengaruh orang terdekat seperti orangtua dan teman sebaya juga memiliki dampak positif terhadap perilaku seseorang terkait gizi dan kesehatan (Escamilla 2008).
Pengetahuan Gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang
Pengetahuan merupakan hasil tahu dari penginderaan seseorang terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan tersebut berasal dari panca indra yang dimiliki seseorang (mata, hidung, telinga dan sebagainya) (Notoatmodjo 2010). Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan. Pengetahuan gizi merupakan syarat untuk merubah sikap dan perilaku gizi karena pengetahuan gizi yang baik akan mendorong perubahan sikap dan praktek seseorang kearah yang lebih baik (Khomsan et al. 2009). Pengetahuan gizi pada penelitian ini mencakup 20 pertanyaan. Keseluruhan pertanyaan yang diajukan telah mencakup 10 pesan Pedoman Gizi Seimbang. Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi yang dijawab secara benar dapat dilihat pada Tabel 7 .
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi yang dijawab secara benar
No Pertanyaan GM ILKOM
n % n %
1 Pedoman gizi yang digunakan saat ini 40 88.9 13 37.1 2 Prinsip pedoman gizi seimbang 18 40 9 25.7
3 Makanan beragam 41 91.1 19 54.3
4 Makanan sumber energi 43 95.6 15 42.9
5 Persen energi dari karbohidrat 42 93.3 17 48.6
6 Karbohidrat pengganti nasi 45 100 19 54.3
7 Buah sumber vitamin C 34 75.6 7 20
8 Manfaat konsumsi buah dan sayur 36 80.0 18 51.4 9 Keadaan yang merusak vitamin C 45 100 32 91.4 10 Kandungan protein bahan pangan sumber
protein
28 62.2 20 57.1
11 Maksimal konsumsi gula 13 28.9 10 28.6
12 Makanan sumber natrium 28 62.2 17 48.6
13 Fungsi lemak dalam makanan 29 64.4 12 34.3
14 Akibat tidak sarapan 43 95.6 29 82.9
15 Fungsi air dalam tubuh 43 95.6 22 62.9
16 Label pangan 41 91.1 17 48.6
17 Cara mencuci tangan 45 100 31 88.6
18 Penyakit akibat tidak mencuci tangan 41 91.1 29 82.9
19 Durasi aktivitas fisik 36 80 12 34.3
Berdasarkan Tabel 7, mayoritas contoh GM cenderung dapat menjawab secara benar lebih banyak dibanding contoh ILKOM. Hal ini dikarenakan tingkat keterpaparan dan akses informasi contoh GM lebih tinggi dan ditunjukkan oleh pertanyaan terkait pedoman gizi yang digunakan saat ini, buah sumber vitamin C dan durasi aktivitas fisik. Pengetahuan memiliki 6 tingkatan, yakni tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (Notoatmodjo 2010). Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan jenis pertanyaan yang kompleks dan membutuhkan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, sedangkan contoh ILKOM cenderung memiliki pengetahuan gizi yang sebatas berada pada tahap mengetahui. Terdapat pula beberapa pertanyaan yang mampu dijawab oleh sebagian besar contoh GM dan ILKOM. Pertanyaan tersebut yaitu tentang keadaan yang merusak vitamin C, akibat tidak sarapan, cara mencuci tangan dan penyakit akibat tidak mencuci tangan. Hal ini dikarenakan pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hal mendasar yang telah diajarkan pada pola asuh keluarga sejak dini. Menurut Byrd-Berdbenner et al. (2010), anak-anak biasanya telah diikutsertakan dalam proses persiapan hingga pengolahan makanan bahkan saat usianya masih dini. Keikutsertaan anak-anak dikarenakan pada usia tersebut merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan pengetahuan. Robertson et al. (2013) juga menyebutkan bahwa mencuci tangan merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang telah sering disosialisasikan dan merupakan perilaku yang cukup mendasar.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diberi skor dan dijumlahkan. Skor masing-masing contoh kemudian di kelompokkan menjadi tiga kategori, yakni kurang, sedang dan baik (Khomsan 2000). Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang Kategori GM ILKOM P n % n % Kurang (<60%) 1 2.2 18 56.3 0.000a Sedang (60-80%) 27 60 14 43.8 Baik (>80%) 17 37.8 0 0 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 80.2 ± 9.5 56.7 ± 11.2 aBerbeda nyata (p<0.05)
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh GM memiliki pengetahuan gizi sedang, sedangkan contoh ILKOM sebagian besar memiliki pengetahuan gizi rendah. Berdasarkan uji beda Mann Whitney, terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan contoh GM dengan contoh ILKOM dengan rata-rata pengetahuan contoh GM lebih tinggi. Hal ini dikarenakan contoh GM lebih banyak terpapar informasi mengenai gizi dibandingkan contoh ILKOM dengan durasi akses yang lebih tinggi (Tabel 6). Contoh GM selain mengakses informasi melalui media massa, juga mendapatkan informasi melalui kuliah, praktikum dan kegiatan berbasis kurikulum lainnya.
Hasil tingkat pengetahuan gizi contoh sesuai dengan penelitian yang dilakukan Al-Isa dan Alfaddagh (2014). Pengetahuan gizi mahasiswa yang mengambil jurusan tentang pangan, gizi dan kesehatan memiliki pengetahuan gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak mengambil jurusan tersebut. Barzegari et al. (2011) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jurusan yang diambil dengan pengetahuan gizi nya.
Sikap Gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang
Sikap merupakan respon tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu atau reaksi emosional terhadap stimulus sosial. (Notoatmodjo 2010). Sikap gizi merupakan kecenderungan seseorang untuk menyetujui atau tidak menyetujui terhadap suatu pernyataan (statement) yang diajukan terkait dengan pangan dan gizi (Khomsan 2009).
Sikap gizi pada penelitian ini mencakup 20 pernyataan. Keseluruhan pernyataan yang diajukan telah mencakup 10 pesan Pedoman Gizi Seimbang. Jawaban contoh disesuaikan dengan sikap yang dimilikinya apakah setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Sebaran contoh berdasarkan sikap yang sesuai terkait Pedoman Gizi Seimbang dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan sikap yang sesuai terkait Pedoman Gizi Seimbang
No Pernyataan GM ILKOM
n % n %
1 Pedoman 4 sehat 5 sempurna 42 93.3 10 31.3 2 Makanan yang lengkap kandungan
gizinya
36 80.0 21 65.6 3 Makanan yang beraneka ragam 44 97.8 27 84.4 4 Makanan yang aman dan bergizi 35 77.8 17 53.1 5 Nasi untuk kebutuhan energi 41 91.1 18 56.3 6 Konsumsi suplemen vitamin C 44 97.8 28 87.5
7 Konsumsi sayur dan buah 41 91.1 21 65.6
8 Konsumsi lauk nabati dan hewani 42 93.3 16 50.0 9 Kandungan protein lauk hewani 32 71.1 28 87.5
10 Konsumsi gula 45 100 23 71.9
11 Konsumsi garam 43 95.6 26 81.3
12 Konsumsi lemak 42 93.3 7 21.9
13 Sarapan 41 91.1 20 62.5
14 Menu untuk sarapan 32 71.1 18 56.3
15 Konsumsi air putih 43 95.6 29 90.6
16 Membaca label pangan 45 100 28 87.5
17 Cara mencuci tangan 44 97.8 29 90.6
18 Aktivitas fisik untuk orang kurus 44 97.8 28 87.5 19 Jenis-jenis aktivitas fisik 44 97.8 31 96.9
Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa sikap sebagian besar contoh secara keseluruhan sudah sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang, walau memang terdapat beberapa pernyataan sikap yang belum sesuai khususnya pada contoh ILKOM. Contoh GM lebih banyak memiliki sikap yang sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang dibanding contoh ILKOM yang ditunjukkan oleh pernyataan sikap tentang pedoman 4 sehat 5 sempurna, dan konsumsi lemak. Banyaknya contoh ILKOM yang belum memiliki sikap yang sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang pada pernyataan tersebut berkaitan dengan pengetahuan gizinya. Berdasarkan Tabel 7, hanya terdapat 37.1% dan 34.3% contoh yang menjawab pertanyaan tentang pedoman gizi dan lemak dengan benar. Hal tersebut kemudian berdampak pada rendahnya sikap gizi contoh.
Terdapat pula sikap yang banyak dijawab sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang pada kedua contoh, seperti konsumsi air putih, cara mencuci tangan dan jenis-jenis aktivitas fisik. Pernyataan tersebut banyak disetujui oleh contoh berkaitan dengan tingginya pengetahuan contoh terkait topik tersebut (Tabel 7). Khomsan (2009) menyatakan bahwa pengetahuan gizi memiliki hubungan yang positif terhadap sikap gizi. Hal tersebut mengindikasikan contoh yang memiliki pengetahuan gizi yang baik cenderung memiliki sikap yang positif pula terkait hal-hal tersebut. Terdapat perbedaan untuk sikap terkait aktivitas fisik yang banyak disetujui oleh contoh namun tingkat pengetahuannya rendah karena pertanyaan tersebut memiliki konteks yang berbeda walaupun tentang aktivitas fisik.
Pernyataan-pernyataan mengenai sikap tersebut kemudian diberikan skor yang disesuaikan dengan jenis pernyataannya. Pernyataan yang bersikap positif memiliki nilai yang berbeda dengan pernyataan yang bersikap negatif. STS memiliki nilai 1, TS memiliki nilai 2, S memiliki nilai 3 dan SS memiliki nilai 4 untuk pernyataan bersikap positif. Begitupula sebaliknya STS memiliki nilai 4, TS memiliki nilai 3, S memiliki nilai 2 dan SS memiliki nilai 1 untuk pernyataan bersikap negatif. Sebaran contoh berdasarkan tingkat sikap gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan tingkat sikap gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang Kategori GM ILKOM P n % n % Kurang (<60%) 0 0 0 0 0.000a Sedang (60-80%) 20 44.4 31 96.9 Baik (>80%) 25 55.6 1 3.1 Total 45 100 32 100 Rata-rata ± sd 79.9 ± 6.6 69.1 ± 5 aBerbeda nyata (p<0.05)
Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh GM memiliki sikap gizi baik, sedangkan hampir seluruh contoh ILKOM memiliki sikap gizi yang tergolong sedang. Berdasarkan uji beda Mann Whitney terhadap kedua contoh, terdapat perbedaan yang signifikan (P<0.05) antara sikap gizi contoh GM dengan contoh ILKOM dengan rata-rata sikap contoh GM lebih tinggi. Perbedaan
yang signifikan tekait sikap gizi antara kedua contoh (P<0.05) dapat dikarenakan contoh GM memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai gizi dibandingkan dengan contoh ILKOM. Pengetahuan terkait gizi tersebut dapat berasal dari mata kuliah terkait pangan, gizi dan kesehatan yang diambil contoh GM namun tidak diambil contoh ILKOM.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Azizi et al. (2011). Sikap gizi dari mahasiswa yang mengambil jurusan tentang pangan, gizi dan kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil jurusan tidak berhubungan dengan pangan, gizi dan kesehatan. Hal ini dikarenakan sikap gizi yang baik dapat disebabkan frekuensi contoh mengikuti mata kuliah yang terkait gizi yang kemudian akan mempengaruhi pengetahuan gizinya.
Praktik Gizi terkait Pedoman Gizi Seimbang
Praktik gizi merupakan tindakan seseorang yang berhubungan dengan gizi, makanan dan kesehatan dan dicerminkan dalam kegiatan yang dilakukan sehari-hari (Mawaddah dan Hardinsyah 2008). Praktik seseorang terkait gizi dapat mempengaruhi kesehatan dan status gizinya, namun meningkatkan praktik gizi seseorang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan praktik gizi mungkin juga dipengaruhi oleh daya beli seseorang, seperti daya beli untuk pangan (Khomsan et al. 2009). Praktik gizi pada penelitian ini dilihat dari jawaban contoh terhadap pernyataan-pernyataan yang diberikan. Pernyataan terkait praktik gizi berjumlah 20 pernyataan dan telah disesuaikan dengan 10 pesan Pedoman Gizi Seimbang. Sebaran contoh berdasarkan praktik yang sesuai terkait Pedoman Gizi Seimbang dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan praktik yang sesuai terkait Pedoman Gizi Seimbang
No
Pernyataan GM ILKOM
n % n %
1 Mengonsumsi pangan beragam 14 31.1 8 25.0
2 Berdoa sebelum makan 44 97.8 26 81.3
3 Mengonsumsi makanan yg terjamin keamanannya
33 73.3 23 71.9 4 Mengonsumsi sayuran 3-4 porsi per hari 8 17.8 5 15.6 5 Mengonsumsi buah-buah 2-3 porsi per hari 5 11.1 2 6.3 6 Mengonsumsi lauk hewani dan nabati setiap
kali makan
16 35.6 12 37.5
7 Minum susu setiap hari 19 42.2 11 34.4
8 Mengonsumsi nasi setiap makan 21 46.7 7 21.9 9 Mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan
pokok
8 17.8 9 28.1
10 Mengonsumsi fast food 37 82.2 21 65.6
11 Menambahkan gula dan garam setiap makan 21 46.7 17 53.1
12 Mengonsumsi gorengan 16 35.6 12 37.5
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan praktik yang sesuai terkait Pedoman Gizi Seimbang (lanjutan)
No
Pernyataan GM ILKOM
n % n %
14 Konsumsi air putih minimal 8 gelas per hari 36 80 21 65.6 15 Selalu membaca label pangan 41 91.1 25 78.1 16 Membeli produk tanpa label pangan 42 93.3 27 84.4 17 Mencuci tangan dengan sabun setelah makan,
buang air dan memegang binatang
36 80 23 71.9 18 Menerapkan 5 langkah cuci tangan setiap
mencuci tangan
24 53.3 8 25
19 Melakukan aktivitas fisik 8 17.8 9 28.1
20 Menimbang BB secara teratur setiap minggu 8 17.8 5 15.6
Sebagian besar contoh masih belum memiliki praktik yang sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya praktik contoh dalam mengonsumsi pangan beragam, mengonsumsi sayur dan buah, mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan pokok, sarapan sebelum jam 9, melakukan aktivitas fisik dan menimbang BB secara teratur setiap minggu. Terdapat hal yang perlu diperhatikan dari praktik-praktik tersebut, yakni tidak ada kesesuaian praktik yang dilakukan contoh dengan pengetahuan gizinya (Tabel 7). Hal ini dikarenakan pengetahuan masih belum cukup untuk mempengaruhi praktik gizi ketika masih ada faktor pembatas. Faktor pembatas yang sangat mungkin terdapat pada contoh adalah keterbatasan waktu karena contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang memiliki kegiatan akademik yang cukup padat. Notoatmodjo (2010)