Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa kerapatan mata parut pada silinder pemarut memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, persentase bahan yang tidak terparut. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Pengaruh kerapatan mata parut pada silinder terhadap parameter yang diamati
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 61.68 kg/jam sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan L3 sebesar 26.14 kg/jam.Sementara kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan L1 sebesar 51.08 kg/jam dan yang terendah terdapat pada perlakuan L3 sebesar 22.16 kg/jam.Untuk persentase bahan yang tidak terparut hasil tertinggi pada perlakuan L1 sebesar 13.83 % dan yang terendah yaitu pada L3 sebesar 12.32 %.
Kapasitas Olah
Dari hasil analisis sidik ragam Lampiran 4 dapat dilihat bahwa kerapatan mata parut pada silinder pemarut memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah. Hasil pengujian dengan menggunakan analisa Least
Significant Range (LSR) menunjukkan pengaruh kerapatan mata parut pada
silinder pemarut terhadap kapasitas olah untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.
Perlakuan Kapasitas olah (kg/jam)
Kapasitas hasil (kg/jam)
Persentase bahan yang tidak terparut
(%)
L1(6) 61.68 51.08 13.83
L2(9) 28.90 23.82 13.18
Tabel 2. Uji LSR pengujian kerapatan mata parut terhadap kapasitas olah (kg/jam)
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
0.05 0.01 0.05 0.01
- - - L3 26.14 b B
2 21.8770 33.1317 L2 28.90 b B
3 22.6358 34.8389 L1 61.68 a A
Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%.
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kapasitas olah tertinggi yang terdapat pada perlakuan L1, yaitu sebesar 61.68 kg/jam dan yang terendah pada perlakuan L3 yaitu sebesar 26.14 kg/jam.
Hubungan antara kerapatan mata parut dengan kapasitas olah dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Grafik hubungan kerapatan mata parut dengan kapasitas olah (kg/jam). ŷ = -5,923x + 92,21 r = -0,807 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 0 3 6 9 12 15 k a p a si ta s o la h (k g /j a m )
Dari gambar menunjukkan bahwa semakin renggang dan semakin tajam mata parut maka semakin besar kapasitas olah demikian juga sebaliknya. Semakin rapat jarak mata parut silinder maka kapasitas olah yang diperoleh semakin sedikit. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan jarak mata parut silinder, apabila jarak mata parut silinder rapat maka hasil parutannya banyak mengandung air dan pada saat penelitian air dari hasil parutan tersebut banyak terpercik ataupun menetes sehingga kapasitas olah yang dihasilkan lebih sedikit.
Kapasitas hasil
Dari hasil analisis sidik ragam Lampiran 5 dapat dilihat bahwa perlakuan kerapatan jumlah mata parut memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas hasil. Hasil pengujiian dengan menggunakan analisa Least Significant
Range (LSR) menunjukkan pengaruh kerapatan jumlah mata parut terhadap
kapasitas hasil untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.Uji LSR pengujian kerapatan mata parut terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - L3 22,16 b B
2 15,1744 22,9809 L2 23,82 b B
3 15,7007 24,1650 L1 51,08 a A
Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%.
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa kapasitas hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan L3 yaitu sebesar 51.08 kg/jam dan terendah pada perlakuan L1 yaitu sebesar 22.16 kg/jam. Perlakuan L3 memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan.
Hubungan antara kerapatan jumlah mata parut dengan kapasitas hasil dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Grafik hubungan kerapatan mata parut dengan kapasitas hasil (kg/jam). Gambar di atas menunjukkan bahwa semakin renggang atau semakin sedikit jumlah mata parut dalam luasan 1 cm2 maka akan semakin besar kapasitas hasil yang diperoleh demikian juga sebaliknya. Semakin banyak atau semakin rapat jumlah mata parut dalam luasan 1 cm2 maka akan semakin kecil kapasitas hasil yang diperoleh.
Persentase Bahan yang tidak Terparut
Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa kerapatan jumlah mata parut pada silinder memberi pengaruh tidak nyata terhadap persentase bahan yang tidak terparut sehingga pengujian least significant range (LSR) tidak dilanjutkan. Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat
ŷ= -4,82x + 75,73 r = -0,792 0 10 20 30 40 50 60 0 3 6 9 12 15 k ap as it as h as il (k g/ jam )
Dari analisis biaya (Lampiran 7), diperoleh biaya pemarutan sebesar Rp. 272,56/kg yang merupakan hasil perhitungan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Untuk biaya tetap sebesar Rp. 1. 578.870/tahun dan biaya tidak tetap sebesar Rp. 5138,45/jam.
Break Event Point
Manfaat perhitungan titik impas (break event point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.
Berdasarkan data yang diperoleh (Lampiran 8), alat ini akan mencapai nilai break event point pada L1 nilai 35.342,55 kg, hal ini berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah memarut sebanyak 35.342,55 kg dalam setahun. Pada L2 nilai 23.234,39 kg, hal ini berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah memarut sebanyak 23.234,39 kg dalam setahun. Dan pada L3 nilai 22.179,50 kg, hal ini berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah memarut sebanyak 22.179,50 kg dalam setahun.
Net Present Value
Dalam menginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu usaha maka net present value ini dapat dijadikan salah satu alternative dalam analisa
finansial. Dari percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian maka dapat
diketahui besarnya nilai NPV 16% dari alat ini adalah Rp. 6.504.548,24 dan NPV 20% dari alat ini adalah Rp. 5.495.356,43. Hal ini berarti usaha ini layak untuk