DIBERI PAKAN MENGANDUNG
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan marigold (Tabel 7) dalam pakan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum. Berdasarkan uji lanjut Duncan, perlakuan penambahan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM berbeda nyata lebih tinggi daripada perlakuan kontrol, 5% TDM, dan 5% TBM, hal ini menujukkan bahwa perlakuan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM konsumsi nyata lebih tinggi dengan rataan 118,59 g/ekor/hari. Hasil uji fitokimia (Tabel 4) menunjukkan bahwa campuran tepung daun dan tepung bunga mengandung senyawa fenol hidrokuinon dengan intensitas kuat (++). Fenol hidrokuinon merupakan sumber antioksidan alami (Widyawati et al., 2010). Antioksidan berperan sangat baik dalam meningkatkan konsumsi ransum, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kusnadi et al. (2005) bahwa antioksidan dapat meningkatkan konsumsi ransum dan meningkatkan pertambahan bobot badan pada kondisi cekaman. Adanya antioksidan yang terkandung pada penambahan 2,5% TDM + 2,5% TBM atau pada perlakuan campuran diduga merangsang ternak untuk tetap tenang terhadap kondisi heat stress yang ditimbulkan lingkungan maupun kondisi fisiologis dalam tubuh sehingga meningkatkan konsumsi ransum.
Tabel 7. Rataan Konsumsi Ransum, Provitamin A dan Kandungan Vitamin A di Hati
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi Ransum (g/ekor/hari)* 107,22±0,06b 106,86±0,23b 106,71±0,26b 118,59±0,54a Konsumsi Provitamin A (µg/ekor/hari) 12.044,02±6,35b 11.561,30±25,33c 11.425,48±27,52d 12.761,97±58,51a Vitamin A Hati ** (IU/100 gram) 108.955 108.456 143.805 127.078 Keterangan : R0 = Ransum kontrol; R1 = Ransum mengandung 5% tepung daun marigold
(TDM); R2 = Ransum mengandung 5% tepung bunga marigold (TBM); R3 = Ransum mengandung 2,5% TDM dan 2,5% TBM; * Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); **Hasil analisis vitamin A di Balai Besar Industri Agro, Bogor
19 Antioksidan terdiri atas berbagai sumber, Siagian (2002) menyatakan kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap oksidasi dibandingkan dengan satu jenis antioksidan saja, hal ini yang membedakan jumlah konsumsi ransum pada penambahan marigold 2,5% TDM dan 2,5% TBM lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi ransum pada penambahan 5% TBM yang keduanya mengandung fenol hidrokuinon pada tingkat yang sama secara kualitatif.
Konsumsi Provitamin A
Hasil analisis statistik (Tabel 7) menunjukkan bahwa penambahan marigold memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi provitamin A. Berdasarkan uji lanjut Duncan, perlakuan penambahan marigold pada campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol, 5% TDM dan 5% TBM. Konsumsi provitamin A dipengaruhi oleh kandungan provitamin A ransum dan konsumsi ransum. Rataan kandungan provitamin A ransum dalam penelitian ini adalah kontrol = 112,33 µg/g, 5% TDM = 108,19 µg/g, 5% TBM = 107,07 µg/g dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM = 107,62 µg/g, sedangkan konsumsi ransum paling tinggi dalam penelitian ini adalah perlakuan campuran marigold 2,5% TDM dan 2,5% TBM, hal ini yang mempengaruhi tingkat konsumsi provitamin A pada perlakuan campuran lebih tinggi dalam penelitian ini.
Kandungan Vitamin A pada Hati
Hasil analisis kandungan vitamin A pada hati menunjukkan bahwa secara deskriptif penambahan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM menghasilkan kandungan vitamin A pada hati lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, sedangkan penambahan 5% TDM menghasilkan kandungan vitamin A paling rendah. Kandungan vitamin A merupakan suatu retinol yang diubah dalam usus kemudian disimpan dalam hati (Frandson, 1992). Perlakuan 5% TDM menghasilkan kandungan vitamin A lebih rendah, hal ini disebabkan adanya pembengkakan pada limpa. Bobot limpa pada perlakuan 5% TDM lebih besar dibandingkan dengan bobot limpa pada perlakuan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM (Tabel 8). Limpa berperan dalam proses transportasi vitamin
20 A, saluran limpatik berperan dalam mentransportasikan ester retinil (vitamin A ester) yang bergabung dengan kilomikron lalu diserap saluran limpatik dan bergabung dengan darah yang kemudian akan ditransportasikan ke hati (Gropper et al., 2009). Pembengkakan pada limpa menyebabkan terganggunya proses penyerapan saluran limpatik, sehingga proses transportasi ester retinil ke hati mengalami penurunan. Pembengkakan limpa pada perlakuan 5% TDM menyebabkan jumlah kandungan vitamin A pada perlakuan ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM.
Persentase Bobot Organ Dalam Ayam Petelur
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan organ asesori. Saluran pencernaan merupakan organ yang berfungsi sebagai tempat proses metabolik di dalam tubuh. Rataan persentase bobot organ dalam (jantung, hati, empedu, rempela, limpa dan pankreas) dapat dilihat pada Tabel 8.
Persentase Bobot Jantung
Rataan persentase bobot jantung (Tabel 8) menujukkan analisis statitstik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot jantung. Bobot jantung pada ayam petelur umur 80 minggu yang diberi alfalfa sebesar 0,43% dari bobot hidupnya (Landers et al., 2008), sedangkan persentase bobot jantung dalam penelitian ini adalah 0,33%-0,38% dari bobot hidup. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya kelainan pada jantung seperti penurunan atau pembesaran bobot jantung yang melampaui bobot jantung normal. Jantung adalah organ otot yang memegang peranan penting didalam peredarah darah (Akoso, 1993). Perlakuan penambahan marigold dalam penelititan ini tidak memberikan pengaruh yang menimbulkan kelainan pada bobot jantung dan tidak menggangu kerja otot jantung dalam mengedarkan darah.
Persentase Bobot Hati
Rataan persentase bobot hati (Tabel 8) menunjukkan analisis statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase
21 bobot hati. Hati tersusun dari dua lobus. Salah satu fungsi hati adalah mensekresikan cairan empedu, menetralkan kondisi asam dari saluran usus dan mengawali pencernaan lemak dengan membentuk emulsi (Amrullah, 2004). Perlakuan penambahan marigold ke dalam pakan yang mengandung provitamin A tidak memberikan pengaruh yang nyata tehadap bobot hati.
Bobot hati pada penelitian ini sebesar 1,68%-1,75% dari bobot hidupnya, sedangkan bobot hati pada ayam petelur umur 80 minggu yang diberi tepung alfafa dalam pakan sebesar 1,44% dari bobot hidupnya (Landers et al., 2008). Pada penelitian ini tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik seperti perubahan warna hati, pembengkakkan atau pengecilan yang terjadi di hati. Fungsi vitamin A adalah memelihara organ pernafasan, pencernaan, pertumbuhan, memelihara membran mokus yang normal, reproduksi, pertumbuhan matriks tulang yang baik dan tekanan serebrospinal yang normal (Widodo, 2002). Hasil ini menunjukkan penambahan marigold tidak mempengaruhi persentase bobot hati sehingga tidak menyebabkan kelainan atau terganggunya metabolisme proses pencernaan di hati.
Persentase Bobot Empedu
Rataan persentase bobot empedu (Tabel 8) menunjukkan analisis statistik berbeda nyata (P<0,05). Data menunjukkan bahwa bobot empedu pada perlakuan 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol, sedangkan perlakuan 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak berbeda nyata terhadap masing- masing perlakuan. Besarnya persentase bobot empedu pada perlakuan 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM disebabkan jumlah cairan yang tersimpan di dalam empedu, sehingga mempengaruhi bobot empedu.
Pencernaan dan absorpsi karoten serta retinoid membutuhkan empedu dan enzim pankreas seperti halnya lemak. Sebagian dari karetonoid, terutama beta- karoten didalam sitoplasma sel mukosa usus halus dipecah menjadi retinol. Retinol di dalam mukosa usus halus bereaksi dengan asam lemak dan membentuk ester dan dengan bantuan cairan empedu menyebrangi sel-sel vili dinding halus untuk kemudian diangkut ke dalam peredaran darah (Azrimaidaliza, 2007). Komposisi cairan empedu adalah garam-garam empedu, pigmen empedu, kolesterol, lesitin, lemak dan beragam garam anorganik (Pilliang dan Djojosoebagio, 2002), hal ini
22 menunjukkan bahwa penambahan marigold dalam pakan meningkatkan bobot empedu karena banyaknya cairan yang dibutuhkan dalam penyerapan karoten untuk mencerna intake provitamin A. Empedu penting dalam proses penyerapan lemak pakan dan ekskresi limbah produk seperti kolesterol dan hasil sampingan degradasi hemoglobin (Suprijatna et al., 2005). Faktor lain yang menyebabkan bobot empedu lebih tinggi pada perlakuan penambahan marigold adalah jumlah lemak kasar pada ransum penambahan marigold lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, dapat dilihat pada Tabel 6. Lemak kasar membutuhkan empedu dalam proses penyerapannya, hal ini menunjukkan bahwa jumlah lemak kasar yang tinggi pada ransum penambahan marigold membutuhkan cairan empedu dalam proses penyerapannya. Penambahan marigold mempengaruhi penyerapan dan transportasi beta-karoten sehingga mempengaruhi kerja dan bobot empedu.
Persentase Bobot Rempela
Rataan persentase bobot rempela (Tabel 8) menunjukkan analisis statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot rempela. Rataan bobot persentase rempela dalam penelitian ini 1,12% - 1,73% dari bobot hidup. Penelitian Nurjanah (2007) menyatakan rataan persentase bobot rempela ayam kampung umur 11 minggu terendah 3,47% dan tertinggi 4,24% dari bobot hidupnya. Bobot rempela pada ayam petelur pullet yang dipelihara 120 hari dengan pakan cereal sebesar 23 g/kg BB (Frikha et al., 2011).
Ukuran rempela mudah berubah bergantung pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh unggas bersangkutan (Amrullah, 2004; Piersma et al., 1993). Penambahan marigold ke dalam pakan bukan merupakan makanan yang sulit dicerna sehingga tidak menyebabkan bobot rempela semakin besar, karena semakin kasar makanan maka semakin besar kerja rempela untuk menghaluskan makanan yang menyebabkan bobot rempela bertambah.
23 Tabel 8. Rataan Bobot dan Persentase Organ Dalam Ayam Petelur
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Bobot Hidup Akhir (g/ekor) 1699,33±116,34 1686,67±108,31 1677,33±39,12 1826±80,30 Jantung (g) 6,42±0,58 6,32±0,84 6,4±0,90 6,02±0,31 (%) 0,38±0,04 0,38±0,05 0,38±0,05 0,33±0,02 Hati (g) 25,60±3,34 28,33±4,01 28,51±1,84 30,72±4,12 (%) 1,75±0,19 1,68±0,18 1,70±0,12 1,68±0,21 Empedu (g) 1,01±0,07 2,12±0,82 1,97±0,39 2,19±0,34 (%) 0,06±0,01b 0,12±0,04a 0,12±0,02a 0,12±0,01a Rempela (g) 25,12±1,88 28,72±7,52 22,31±3,17 21,87±0,65 (%) 1,48±0,06 1,73±0,54 1,33±0,17 1,12±0,01 Limpa (g) 6,45±0,28 5,08±0,53 3,71±0,83 4,16±0,66 (%) 0,38±0,02a 0,30±0,05ab 0,22±0,05b 0,23±0,05b Pankreas (g) 3,25±0,64 3,40±0,66 3,03±0,53 3,33±1,16 (%) 0,19±0,03 0,20±0,03 0,18±0,04 0,18±0,06
Keterangan : R0 = Ransum kontrol; R1 = Ransum mengandung 5% tepung daun marigold (TDM); R2 = Ransum mengandung 5% tepung bunga marigold (TBM); R3 = Ransum mengandung 2,5% TDM dan 2,5% TBM; Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Persentase Bobot Limpa
Rataan persentase bobot limpa (Tabel 8) menunjukkan analisis statistik berbeda nyata (P<0,05). Bobot limpa pada perlakuan kontrol nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM, tetapi tidak berbeda nyata pada perlakuan 5% TDM. Limpa dan pankreas memproduksi insulin dan limfosit (Sukanta, 2001). Menurut Murtidjo (1992) limpa sebagai organ dalam tubuh ayam yang memiliki fungsi menghancurkan butir-butir
24 darah merah yang pecah dan rusak. Limfosit berfungsi sebagai pembentukan antibodi. Hasil pengamatan yang disajikan menunjukkan bobot limpa 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM memiliki bobot limpa lebih kecil. Hasil uji fitokimia (Tabel 4) pada tepung daun, tepung bunga dan campuran menunjukkan adanya zat antinutrisi tanin yang dapat menghambat kerja limpa. Widodo (2002) menyatakan bahwa antinutrisi selalu menimbulkan masalah yang selalu mengganggu target organ tubuh. Perbedaannya dengan perlakuan 5% TDM yang memiliki bobot limpa lebih besar adalah adanya kandungan senyawa aktif flavonoid (Tabel 4) yang sangat kuat pada daun yang berfungsi sebagai antioksidan sehingga dapat mengimbangi kerja zat antinutrisi untuk tetap menjaga kestabilan metabolisme limpa. Zuhra et al. (2008) menyatakan adanya senyawa flavonoid pada daun katuk yang memiliki kemampuan antioksidan. Flavonoid merupakan salah satu dari sekian banyak senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu tanaman, yang biasa dijumpai pada bagian daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga dan biji. Adanya kandungan senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk memelihara kekebalan tubuh (antibodi), maka bobot limpa pada perlakuan 5% TDM lebih besar dibandingkan dengan perlakuan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM. Limpa merupakan organ yang berperan penting dalam kekebalan, adanya senyawa flavonoid pada tepung daun maka senyawa ini berfungsi memelihara kekebalan dalam tubuh, selain flavonoid berdasarkan hasil uji fitokimia (Tabel 4) tepung daun mengandung senyawa steroid dengan intensitas sangat kuat. Adanya senyawa steroid yang merupakan senyawa asing, maka tidak dikenali oleh reseptor penerimanya, maka senyawa steroid akan dideteksi sebagai racun. Senyawa steroid yang dianggap sebagai senyawa asing ini akan membahayakan tubuh, sehingga limpa akan melakukan sistem perlawanan yang menyebabkan pembesaran atau pembengkakan. Berdasarkan senyawa fitokimia yang terkandung dalam tepung daun, maka bobot limpa pada 5% TDM lebih besar dibandingkan dengan 5% TBM dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM.
Persentase Bobot Pankreas
Rataan persentase bobot pankreas (Tabel 8) menunjukkan analisis statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase
25 bobot pankreas. Pankreas berfungsi sebagai kelenjar eksokrin yang mensekresikan cairan yang diperlukan bagi proses pencernaan di dalam usus halus, yaitu pancreatic juice (Suprijatna et al., 2005). Hatta et al. (2009) menyatakan kesederhanaan sifat anatomis dan fisiologis saluran pencernaan menyebabkan ayam banyak bergantung pada enzim yang dikeluarkan agar mudah diserap oleh tubuh, dan dalam penelitiannya bobot pankreas meningkat sangat nyata ketika pemberian pakan yang membutuhkan kecernaan tinggi. Bobot organ pankreas ayam petelur umur 80 minggu diberi alfafa sebesar 0,15% dari bobot hidupnya (Landers et al., 2008). Perlakuan penambahan marigold tidak mempengaruhi bobot pankreas karena pankreas tidak membutuhkan banyak enzim yang dikeluarkan pada saat proses pencernaan sehingga tidak menyebabkan bobot pankreas meningkat.
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan merupakan hal yang penting dalam proses absorbsi makanan. Hasil rataan persentase bobot dan panjang relatif saluran pencernaan (duodenum, jejenum, ilium, usus besar dan sekum) dapat dilihat pada Tabel 9.
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Duodenum
Rataan persentase bobot dan panjang relatif dodenum (Tabel 9) menunjukkan analisis statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot dan panjang relatif duodenum. Rataan bobot duodenum pada penambahan marigold sebesar 0,26%-0,38% dengan panjang relatif 1,65-1,76 cm/100g BB dari bobot hidupnya. Frikha et al. (2011), panjang relatif duodenum ayam pullet dengan pemeliharaan 120 hari dari umurnya yang diberi
cereal dalam pakan sebesar 18 cm/kg BB. Duodenum merupakan bagian usus halus pertama dalam absorbsi pencernaan. Panjang duodenum berbentuk kelokan, dan pada bagian ini terdapat pankreas yang menempel. Panjang relatif duodenum ini relatif pendek karena dipengaruhi oleh bobot hidup ayam yang besar.
26 Tabel 9. Rataan Persentase Bobot dan Panjang Relatif Saluran Pencernaan
Keterangan : R0 = Ransum kontrol; R1 = Ransum mengandung 5% tepung daun marigold (TDM); R2 = Ransum mengandung 5% tepung bunga marigold (TBM); R3 = Ransum mengandung 2,5% TDM dan 2,5% TBM
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Jejenum
Rataan persentase bobot dan panjang relatif jejenum (Tabel 9) menunjukkan analisis statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Bobot Hidup Akhir (g/ekor) 1699,33±116,34 1686,67±108,31 1677,33±39,12 1826±80,30 Duodenum Bobot (%) 0,34±0,03 0,26±0,19 0,38±0,02 0,35±0,01 Panjang Relatif (cm/100g BB) 1,67±0,03 1,76±0,05 1,70±0,20 1,65±0,23 Jejenum Bobot (%) 0,63±0,17 0,56±0,13 0,88±0,17 0,68±0,11 Panjang Relatif (cm/100g BB) 3,65±0,17 3,30±0,45 3,47±0,04 3,68±0,62 Ilium Bobot (%) 0,57±0,11 0,49±0,15 0,59±0,05 0,52±0,14 Panjang Relatif (cm/100g BB) 3,60±0,19 3,36±0,23 3,49±0,23 3,440±0,28 Sekum Bobot (%) 0,28±0,01 0,30±0,05 0,29±0,03 0,24±0,05 Panjang Relatif (cm/100g BB) 0,96±0,11 0,97±0,11 1,08±0,13 0,99±0,12 Usus Besar Bobot (%) 0,19±0,05 0,25±0,06 0,20±0,02 0,27±0,15 Panjang Relatif (cm/100g BB) 0,68±0,22 0,59±0,07 0,59±0,07 0,64±0,14
27 mempengaruhi persentase bobot dan panjang relatif jejenum. Frikha et al. (2011), panjang relatif jejenum ayam pullet dengan pemeliharaan 120 hari dari umurnya yang diberi cereal dalam pakan sebesar 45 cm/kg BB. Bobot usus halus ayam petelur umur 20 dan 47 minggu masing-masing sebesar 16 gram dan 23 gram (Marounek et al., 2008).
Jejenum merupakan bagian usus halus yang kedua (tengah) dalam penyerapan makanan. Bobot dan panjang relatif yang tidak berpengaruh ini menunjukkan bahwa penambahan marigold ke dalam pakan tidak menimbulkan gangguan pencernaan dan keabnormalitas jejenum dalam penyerapan nutrien.
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Ilium
Rataan persentase bobot dan panjang relatif ilium (Tabel 9) menunjukkan data statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot dan panjang relatif ilium. Penelitian Frikha et al. (2011) panjang relatif ilium ayam pullet dengan pemeliharaan 120 hari dari umurnya yang diberi
cereal dalam pakan sebesar 42 cm/kg BB. Usus halus merupakan bagian penting dalam pencernaan dan absorbsi nutrien. Penambahan marigold ke dalam pakan tidak memberikan pengaruh, karena gerakan peristaltik ilium dalam penyerapan nutrien bekerja secara normal, sehingga tidak menyebabkan pertambahan bobot dan panjang relatif ilium.
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Sekum
Rataan persentase bobot dan panjang relatif sekum (Tabel 9) menunjukkan data statistik tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot dan panjang relatif sekum. Sekum berfungsi sebagai penyerapan air dan tempat terjadinya proses fermentasi. Semakin banyak proses fermentasi maka akan semakin tebal dinding sekum. Arief (2000) dalam penelitiannya menyatakan bahwa panjang sekum tidak menjadi indikasi karena penambahan serat kasar kedalam pakan. Panjang seka pada ayam keadaan normal sekitar 6 inci atau 15 cm (Suprijatna et al., 2005), sedangkan panjang sekum dalam penambahan marigold 16- 18 cm. Bobot sekum pada ayam petelur umur 20 dan 47 minggu masing-masing
28 sebesar 3 gram dan 7 gram (Marounek et al., 2008). Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan marigold ke dalam pakan tidak menyebabkan banyaknya proses fermentasi dan tidak terjadi penambahan panjang pada sekum.
Persentase Bobot dan Panjang Relatif Usus Besar
Rataan persentase bobot dan panjang relatif usus besar (Tabel 9) menunjukkan data statistik tidak berbeda nyata. Usus besar berfungsi dalam menyalurkan sisa makanan dari usus halus ke kloaka dan meyerap kembali air asal urin untuk ikut mengatur kandungan serta keseimbangan air sel-sel tubuh (Amrullah, 2004). Rataan bobot dan panjang relatif usus besar (0,19%-0,27% dan 0,59-0,68 cm/100g BB) lebih kecil dibandingkan dengan rataan bobot dan panjang realtif duodenum (0,26%-0,38% dan 1,68-1,76 cm/100g BB), hal ini sesuai dengan pernyataan Klasing (1999) menyatakan bahwa rektum atau kolon memiliki ukuran dan diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan duodenum dan hanya 4% dari total panjang usus halus. Panjang usus besar pada ayam dewasa berkisar 8-10 cm (Amrullah, 2004; Suprijatna et al., 2005), sedangkan panjang usus besar penambahan marigold berkisar 9-11 cm. Pemberian 5% TDM, 5% TBM, dan campuran 2,5% TDM dan 2,5% TBM tidak mempengaruhi persentase bobot dan panjang relatif usus besar.
29
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penambahan campuran 2,5% tepung daun marigold (TDM) dan 2,5% tepung bunga marigold (TBM) ke dalam pakan meningkatkan konsumsi ransum dan konsumsi provitamin A. Perlakuan 5% tepung bunga marigold (TBM) dan campuran 2,5% tepung daun marigold (TDM) dan 2,5% tepung bunga marigold (TBM) menghasilkan kandungan vitamin A hati lebih tinggi. Perlakuan penambahan marigold dapat menghasilkan bobot empedu lebih tinggi dibandingkan kontrol dan pada perlakuan 5% tepung daun marigold (TDM) menghasilkan bobot empedu lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Saran
Perlu adanya peningkatan dosis pada marigold dalam pakan untuk mengetahui efek yang ditimbulkan dengan dosis pemberian yang lebih besar dari taraf penelitian ini dan perlu dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui pengaruh- pengaruh senyawa fitokimia yang terkandung pada marigold.
30
UCAPAN TERIMA KASIH