Dari hasil pengujian sifat fisika dan kimia briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) meliputi kadar air, kerapatan, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat dan nilai kalor dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Hasil Perbandingan Mutu Briket Arang Tandan Kosong Kelapa Sawit Berdasarkan SNI. No Pengujian Tandan Kosong SNI 1 Kadar Air (%) 9.40 = 8 2 Kerapatan (gr/cm3) 0.52 - 3 Kadar Abu (%) 29.56 = 8 4 Karbon Terikat (%) 27.6 = 77
5 Zat Mudah Menguap (%) 42.83 = 15
6 Nilai Kalor (kal/gr) 4.681 = 5000
Tabel 4. Hasil Perbandingan Mutu Briket Arang Kernel Kelapa Sawit Berdasarkan SNI.
No Pengujian Kernel SNI
1 Kadar Air (%) 5.20 = 8
2 Kerapatan (gr/cm3) 0.64 -
3 Kadar Abu (%) 22.43 = 8
4 Karbon Terikat (%) 37.0 = 77
5 Zat Mudah Menguap (%) 40.56 = 15
B. Pembahasan
1. Kadar Air
Dari hasil perhitungan kadar air briket arang diperoleh nilai rata-rata 9.40% untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit dan 5.20% untuk Kernel Kelapa Sawit. Kadar air yang tinggi terdapat pada komposisi Arang Tandan Kosong Kelapa Sawit. Hal ini disebabkan kerapatan yang rendah sehingga mudah menyerap air. Kadar air yang tinggi akan menyebabkan menurunnya nilai kalor dan efisiensi pembakaran. Tingginya kadar air karena bahan baku tersebut memiliki jumlah pori-pori yang banyak dan mengandung komponen-komponen kimia seperti selulosa, lignin dan hemiselulosa (Pancapalaga. 2008),
. Untuk menurunkan kandungan kadar air dapat dilakukan perlakuan dengan cara menaikkan kekuatan tekan pada saat proses pencetakan dan dapat menambah waktu proses pengeringan lebih lama lagi dari waktu sebelumnya yang hanya 7 hari proses pengeringan.
2. Kerapatan
Dari hasil perhitungan kerapatan briket Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit diperoleh nilai rata-rata 0,52 gr/cm3 untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit dan 0,64 gr/cm3 untuk kernel Kelapa Sawit. maka dengan demikian hasil kerapatan briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit belum mencapai nilai standar yaitu 0,70 gr/cm3. Hal ini diduga karena kerapatan dipengaruhi oleh ukuran dan kehomogenan penyusun briket arang tersebut dan juga pengaruh tekanan yang kurang kuat pada saat proses pencetakan sehingga sampel kurang padat dan menyebabkan kerapatan menjadi rendah.
Kerapatan bisa diturunkan dengan cara pada saat proses pencetakan, penekanan lebih ditingkatkan untuk memperoleh sampel yang padat dan berkerapatan tinggi selain itu ukuran mesh juga mempengaruhi kerapatan karena butiran serbuk arang yang besar tidak mempunyai ikatan antar serat yang kuat. Maka dari itu sebaiknya proses pengayakan digunakan mesh dengan ukuran kecil.
3. Kadar Abu
Dari hasil pengamatan kadar abu briket Arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit diperoleh nilai rata-rata 29,56% untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit dan 22,43% Kernel Kelapa Sawit. Nilai kadar abu yang didapatkan dari tiga hasil ulangan masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan standar SNI yang nilainya 8%. Maka hasil yang diperoleh dari pengujian kadar abu briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit tidak mencapai standar, hal ini diduga karena campuran tanah liat yang terlalu tinggi dan proses pembakaran yang tidak sempurna.
Pada saat proses karbonisasi sebaiknya dilakukan dengan sempurna, dengan menambah waktu pembakaran hingga 12 jam dan api yang stabil pada saat proses pembakaran, hal ini bertujuan untuk mengurangi zat kimia yang terkandung sehingga kadar abu menjadi rendah. Dan untuk campuran tanah liat sebaiknya di beri 100gram supaya menghasilkan nilai kadar abu yang sesuai SNI.
4. Zat mudah menguap
Dari hasil pengamatan zat mudah menguap briket Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit diperoleh nilai rata-rata 42,83 % untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit dan 40,56 % untuk kernel Kelapa Sawit, hal ini belum mencapai
standar apabila dibandingkan dengan nilai yang terdapat pada standar SNI yaitu 15%.
Hal ini diduga pengaruh suhu dan lamanya proses pengolahan arang yang tidak sempurna, Untuk menurunkan zat mudah menguap yang terkandung caranya sama seperti menurunkan kadar abu yaitu proses karbonisasi sebaiknya dilakukan dengan sempurna, karbonisasi tidak sempurna dikarenakan waktu pembakaran yang kurang lama.
Hal ini bertujuan untuk menguapkan kadar zat mudah menguap sehingga didapatkan kadar zat mudah menguap yang rendah dan keadaan ini akan memberikan kualitas briket arang yang lebih baik.
5. Karbon Terikat
Dari hasil pengamatan nilai karbon Terikat briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit diperoleh nilai rata-rata 27,6% untuk Tandan kosong Kelapa Sawit dan 37,6% untuk Kernel Kelapa Sawit . Nilai karbon terikat briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit belum/tidak mencapai standar karena nilai karbon terikatnya rendah dibandingkan dengan standar SNI yang nilainya minimum 77%.
Hal ini terjadi karena semakin tinggi kadar abu maka semakin rendah karbon terikat yang terkandung didalam briket. Pengaruh dari rendahnya karbon terikat disebabkan komposisi campuran tanah liat yang banyak dan kandungan nilai kadar air yang tinggi.
6. Nilai Kalor
Nilai kalor sangat menentukan kualitas briket. Semakin tinggi nilai kalor, semakin baik kualitas briket yang dihasilkan. Nilai kalor yang diperoleh briket arang Tandan Kosong dan Kernel Kelapa Sawit dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata 4681 kal/gr untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit dan 5526
kal/gr untuk kernel Kelapa Sawit . Apabila nilai yang terdapat pada standar SNI yaitu minimum 5000 kall/gr, maka dengan demikian hasil nilai kalor briket arang kernel Kelapa Sawit sudah mencapai standar sedangkan untuk Tandan Kosong Kelapa Sawit belum mencapai nilai standar. Hal ini diduga karena nilai kalor erat sekali hubungannya dengan kadar karbon terikat briket arang, semakin tinggi karbon terikat, maka nilai kalornya semakin tinggi pula karena terjadi reaksi oksidasi yang menghasillkan kalor (panas).