• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Risiko Sunan Kudus Farm

Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1997 memperburuk keadaan peternakan broiler yang menyebabkan penurunan produksi broiler di Kabupaten Bogor sebanyak 56,4% pada tahun 1998 (Tabel 2). Oleh karena itu pada tahun tersebut banyak usaha peternakan broiler menghentikan kegiatan produksinya termasuk kegiatan produksi di SKF.

Tabel 2. Produksi Broiler di Kabupaten Bogor (1996-2000)

Tahun Broiler (kg) Perkembangan/tahun (%)

1996 26.499.289 -

1997 25.720.298 -2,9

1998 11.212.538 -56,4

1999 13.994.310 24,8

2000 25.291.788 80,7

Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2000

Setelah krisis ekonomi mulai reda pada tahun 1999, akhir tahun 2003 dunia perunggasan ditimpa wabah flu burung yang menyebabkan kerugian bagi beberapa peternak broiler. Hikmah dari kejadian tersebut adalah semua jenis usaha termasuk peternakan harus lebih waspada terhadap kejadian akan datang yang dapat menimbulkan risiko kerugian. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diterapkan suatu manajemen risiko untuk mengelola agar usaha yang dijalankan terhindar dari kerugian. Manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi (Darmawi, 2005).

Dalam aktivitas usaha peternakan broiler dikenal dua kegiatan besar, yaitu kegiatan internal atau kegiatan produksi dan kegiatan eksternal atau pemasaran (Rasyaf, 2002). Oleh karena itu manajemen risiko yang akan dibahas pada usaha peternakan broier di SKF terbagi menjadi dua bagian yaitu manajemen risiko kegiatan produksi dan manajemen risiko pemasaran.

Manajemen Risiko Kegiatan Produksi 1. Perencanaan produksi.

Perencanaan produksi yang dilakukan biasanya perencanaan sebelum DOC masuk kandang, mengenai jumlah DOC masuk terutama pada saat menjelang hari raya keagamaan, tenaga kerja yang akan menjadi pekerja kandang, kebutuhan teknis perkandangan, dan perencanaan pencegahan penyakit (Lampiran 1).

2. Pengorganisasian

Khususnya pengorganisasian untuk para pekerja yang terlibat langsung dengan kegiatan produksi sehingga semua pekerja mempunyai peranan yang ditentukan secara jelas.

3. Pengarahan dalam pengelolaan

Pengarahan ini biasanya bersifat vertikal dari manajer produksi kepada supervisor, supervisor kepada kepala kandang dan kepala kandang kepada pegawai kandang.

4. Koordinasi dalam pengelolaan unit produksi

Koordinasi dalam pengelolaan, bertujuan untuk mensinkronkan unit-unit produksi, yaitu broiler sebagai unit utama produksi, pakan dan pencegaahan penyakit. seperti mengkoordinasikan kegiatan produksi dengan tindakan pencegahan penyakit.

Manajemen risiko dalam kegiatan berproduksi ini secara langsung ditangani oleh manajer produksi. Secara umum manajemen risiko yang dilaksanakan belum termasuk baik. Hal ini dilihat dari telah belum dijalankannya fungsi-fungsi manajemen diatas dengan baik. Selain itu indikator untuk menyatakan keberhasilan suatu kegiatan produksi adalah hasil produksi (Lampiran 2). Lampiran 2 memperlihatkan FCR (1,83) dan tingkat mortalitas (9,03%) di SKF berada diatas rata-rata (1,5 dan 5%), sehingga dapat dikatakan kegiatan produksi di SKF belum dijalankan dengan baik.

Manajemen Risiko Pemasaran

Manjemen risiko pemasaran termasuk baik karena SKF sudah memiliki seorang manajer untuk mengelola pemasaran, sudah mempunyai jalur pemasaran yang tetap dan mempunyai kemudahan untuk mendapatkan informasi pasar.

Hubungan dengan pembeli sudah dimengerti oleh SKF dengan cara memilih pembeli yang akan memberikan kontribusi yang menguntungkan bagi SKF seperti mempunyai track record pembayaran yang baik. Selain itu untuk menjamin perputaran uang SKF mengenakan sistem pembayaran dengan jangka waktu 3 sampai 7 hari setelah pengambilan broiler bagi pembeli langganan dan pembayaran cash untuk pembeli baru. Hal ini berdasarkan pengalaman usaha sejak tahun 1995.

Analisis Risiko

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen SKF dapat diketahui bahwa risiko usaha dalam beternak broiler adalah tinggi. Risiko dalam beternak broiler yang tinggi ini dirasakan dari fluktuasi keuntungan yang diperoleh dan kerugian yang harus ditanggung. Risiko tersebut terutama karena fluktuasi harga (input dan output) akibat fluktuasi permintaan dan penawaran di pasar dan fluktuasi hasil produksi.

Gambar 5 memperlihatkan bahwa selama satu tahun (April 2005 – Maret 2006) harga DOC sangat fluktuatif. Suatu waktu harga DOC bisa mencapai Rp 1.000,- dan waktu yang lain bisa mencapai Rp 3.000,-. Fluktuasi harga DOC sulit

untuk diprediksi oleh peternak, sehingga secara umum harga DOC ini lebih dipengaruhi oleh sisi penawaran dari perusahaan pembibitan karena perusahaan pembibitan yang ada di Indonesia terbatas atau bisa dikatakan struktur pasarnya bersifat oligopoli (Boediono, 1990).

0,00 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00 2.500,00 3.000,00 April Mei Jun i Juli Agus tus Septem ber Oktob er Novemb er Desemb er Janu ari Februa ri Mar et Harga DOC Gambar 5. Harga DOC yang Diterima SKF (April 2005 – Maret 2006) Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Harga pakan yang merupakan biaya terbesar dalam usaha broiler memperlihatkan nilai yang cenderung mengalami kenaikan (Gambar 6). Hal ini terutama disebabkan sebagian besar bahan baku pakan yang digunakan adalah bahan baku impor (Poultry Indonesia, 2005). Harga bahan baku impor selalu mengikuti nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Karena kondisi perekonomian yang belum stabil pada waktu tersebut, menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terus melemah sehingga berimplikasi pada meningkatnya harga pakan yang sebagian besar merupakan produk berbahan baku impor. Peningkatan harga pakan sangat terlihat pada bulan Oktober yang merupakan awal bulan Ramadhan karena permintaan daging ayam meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lipsey et al. (1995) bahwa peningkatan permintaan dari suatu komoditi akan menyebabkan harga komoditi tersebut meningkat dari titik equilibrium semula, cateris paribus.

2.400,00 2.450,00 2.500,00 2.550,00 2.600,00 2.650,00 2.700,00 2.750,00 2.800,00 April Mei Jun i Juli Agus tus Septemb er Oktobe r Novem ber Desem ber Janu ari Febr uari Maret Harga Pakan Gambar 6. Harga Pakan yang Diterima SKF (April 2005 – Maret 2006) Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Fluktuasi harga broiler dipengaruhi oleh sistem permintaan dan penawaran di pasar. Harga jual yang diterima SKF tidak sama untuk tiap bobot badan broiler (Gambar 7). SKF sering dihadapkan pada harga jual yang rendah tetapi biaya produksi yang tinggi sehingga dalam menghadapi hal tersebut SKF langsung menjual broiler untuk mengurangi penambahan biaya produksi. Struktur pasar dari broiler adalah pasar persaingan tidak sempurna dengan ciri-ciri pembeli dan penjual banyak,

pembeli dan penjual tidak ada hambatan untuk keluar masuk pasar dan harga adalah harga pasar tetapi pada struktur pasar ini ada beberapa perusahaan yang cukup besar yang mengusai pasar dibawah 60%. Peternak marginal adalah salah satu ciri dari tidak adanya hambatan bagi penjual untuk keluar masuk pasar. Mereka masuk saat permintaan ayam tinggi khususnya pada periode Lebaran dan keluar saat permintaan turun.

Berbeda dengan harga pakan dan DOC, harga broiler yang dijual SKF biasanya menggunakan patokan harga yang sudah ditetapkan oleh harga posko (harga broiler yang ditetapkan oleh para peternak mandiri untuk menjaga tingkat harga diantara mereka). Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyantono (2003) bahwa peternak mandiri membentuk kelompok diantara mereka, dengan berkelompok mereka bisa merancang jadwal pemasaran dan harga jual secara bersama-sama untuk memperkokoh posisi peternakan mandiri tersebut. Tetapi dalam prosesnya SKF dan pembeli tetap melakukan tawar menawar harga.

5.000,00 7.000,00 9.000,00 11.000,00 April Me i Juni Juli Agus tus Septem ber Oktob er Nov embe r Dese mberJanuari Februa ri Mar et 0,8 - 1 kg 1 - 1,2 kg 1,2 - 1,4 kg 1,4 - 1,6 kg 1,6 - 1,8 kg 1,8 - 2 kg

Gambar 7. Harga Broiler yang Dijual SKF (April 2005 – Maret 2006) Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Risiko hasil produksi yang harus ditanggung oleh SKF meliputi risiko akibat kondisi alam yang tidak pasti dan penyebaran penyakit yang sulit untuk diprediksi. Hasil produksi di SKF (April 2005 – Maret 2006) dapat dilihat pada Lampiran 2.

Adanya kondisi ketidakpastian dari harga DOC, harga pakan, harga broiler dan hasil produksi menyebabkan pendapatan bersih yang diterima SKF berfluktuasi. Pendapatan bersih yang diperoleh SKF selama 1 tahun dapat digunakan untuk mengetahui tingkat risiko yang dihadapi (Kadarsan, 1995). Mengingat bahwa pendapatan bersih ini dihitung dalam periode produksi, maka data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pendapatan bersih selama 12 periode, yaitu pendapatan bersih bulan April 2005 sampai bulan Maret 2006.

Pendapatan bersih adalah selisih antara penerimaan total perusahaan dengan pengeluaran (Kadarsan, 1995). Selanjutnya Kadarsan (1995) menjelaskan bahwa penerimaan tersebut bersumber dari hasil pemasaran atau penjualan hasil usaha sedangkan pengeluaran merupakan biaya total yang digunakan selama proses produksi.

Penerimaan SKF berasal dari penjualan broiler hidup. Sedangkan pengeluaran berasal dari biaya pembelian DOC dan biaya pembelian pakan ditambah 10% dari penjumlahan biaya pembelian DOC dan biaya pembelian pakan, berdasarkan asumsi bahwa hampir 90% pengeluaran dalam usaha peternakan broiler adalah biaya pembelian pakan dan pembelian DOC. Asumsi tersebut didukung oleh hasil penelitian Herawati (2001) pada perusahaan broiler CV Pekerja Keras pada periode produksi tahun 1999 – 2000 juga menunjukan bahwa komponen biaya pakan dan DOC merupakan biaya terbesar yaitu 62,55% untuk biaya pakan, dan 29,23% untuk biaya DOC, selanjutnya berturut-turut disusul oleh 4,06% biaya obat-obatan, 1,34% biaya tenaga kerja dan 0,33% biaya lain-lain. Sehingga hasil perhitungan pendapatan bersih usaha peternakan broiler dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pendapatan Bersih SKF (April 2005 – Maret 2006).

Periode Penerimaan (Rp) Biaya (Rp) Pendapatan bersih (Rp)

1 441.248.220 434.279.000 6.969.220 2 582.803.040 546.981.270 35.821.770 3 506.588.440 491.491.000 15.097.440 4 559.499.020 592.825.345 -33.326.325 5 550.283.540 553.957.440 -3.673.900 6 605.965.820 560.873.500 45.092.320 7 579.522.980 484.220.000 95.302.980 8 713.598.440 573.535.950 140.062.490 9 564.139.870 500.391.100 63.748.770 10 562.730.640 564.564.000 -1.833.360 11 520.500.300 463.545.580 56.954.720 12 544.922.110 524.169.580 20.752.530

Sumber : Sunan Kudus Farm, 2006

Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pendapatan bersih yang diterima SKF berfluktuasi. Pendapatan bersih terbesar diperoleh pada periode kedelapan (bulan Oktober - November). Periode tersebut merupakan awal bulan Ramadhan dan bulan Syawal ketika permintaan daging ayam tinggi yang berimplikasi kepada naiknya harga broiler. Sedangkan pendapatan terendah diperoleh pada periode keempat (bulan Juli - Agustus) yang diperkirakan pada bulan tersebut rumah tangga sebagai konsumen mengurangi pengeluaran untuk konsumsi daging ayam karena persentase pengeluaran untuk pangan berpindah kepada kebutuhan yang lain yaitu biaya pendidikan karena pada bulan Juli tersebut merupakan tahun ajaran baru bagi murid-murid sekolah. Kerugian ini berlanjut sampai periode kelima (bulan Agustus - September). Bulan Januari - Februari (periode ke-10) adalah periode yang diperkirakan akan memberikan keuntungan karena adanya Tahun Baru tetapi kenyataan yang didapatkan adalah kerugian. Hal ini disebabkan biaya produksi untuk periode ke-10 (bulan Januari 2006) meningkat, karena pada waktu tersebut perusahan pembibit melakukan pemangkasan produksi broiler hingga 10% sehingga sisi penawaran berkurang yang memicu harga DOC naik. Selain itu pada bulan Desember sudah tersebar isu tentang kenaikan harga

BBM yang kemungkinan besar akan direalisasikan pemerintah pada bulan Januari. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan multiple effect pada kenaikan harga input, transportasi dan lain-lain.

Nilai pendapatan bersih dapat digunakan untuk menganalisis risiko dengan pendekatan kuantitaif. Berdasarkan rumus-rumus yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, maka dapat diketahui nilai tengah, standar deviasi, koefisien variasi dan batas bawah pendapatan.

Nilai Tengah (E)

Berdasarkan rumus-rumus yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, hasil analisis menunjukan nilai tengah (E) yang diperoleh adalah Rp 36.747.387,92. Nilai tersebut merupakan rata-rata pendapatan bersih usaha peternakan selama 12 periode. Standar Deviasi (V)

Ukuran yang dapat digunakan untuk melihat besarnya risiko yang dihadapi SKF adalah dengan mengetahui besarnya ragam (variance) atau simpangan baku (standard deviation) dari pendapatan bersih per periode. Cara ini menjelaskan risiko dalam arti kemungkinan bersebarannya pengamatan sebenarnya di sekitar nilai tengah (E) (Kadarsan, 1995). Dari perhitungan standard deviation (V) yang dilakukan, secara statistik kemungkinan penyimpangan dari nilai tengah adalah Rp 47.629.868,52. Nilai tersebut menunjukan bahwa risiko yang harus dihadapi SKF adalah sebesar Rp 47.629.868,52, cateris paribus.

Koefisien Variasi (CV)

Koefisien variasi (CV) dapat digunakan untuk melihat risiko unit dari suatu kerugian dengan membagi nilai standar deviasi (V) dengan nilai tengahnya (E). Nilai inilah yang umumnya digunakan untuk mengetahui tingkat risiko dari suatu usaha. Nilai CV pada SKF ternyata sebesar 1,3. Berarti besarnya fluktuasi pendapatan bersih adalah 1,3 dari nilai pendapatan bersih rata-rata (E). Nilai CV yang lebih besar dari 0,5 tersebut menunjukan bahwa perusahaan mempunyai peluang merugi pada setiap periode dimasa yang akan datang, cateris paribus. Nilai tersebut menyiratkan besarnya risiko yang mungkin terjadi dari satu rupiah pendapatan bersih yang diharapkan. Semakin tinggi nilai koefisien variasi maka semakin tinggi risiko yang dialami oleh usaha tersebut.

Batas Bawah Hasil Tertinggi (L)

Ukuran lain yang dapat digunakan adalah dengan mengetahui batas bawah hasil (L) atau pendapatan bersih terendah yang diperoleh. Pendapatan bersih terendah yang diterima adalah sebesar Rp -58.512.349,12. Nilai ini menyiratkan bahwa SKF tidak akan merugi lebih besar dari nilai L tersebut.

Analisis Keputusan Berisiko

Berdasarkan pertanyaan yang diajukan kepada pihak manajemen SKF ternyata didapatkan permasalahan pengambilan keputusan, yaitu mengenai kemungkinan menambah populasi broiler atau tidak pada hari raya Lebaran. Berdasarkan perhitungan pendapatan bersih SKF diketahui pada hari raya Lebaran SKF mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pada periode lain. Hal ini menjadi pertimbangan SKF untuk menambah populasi broiler agar keuntungan yang akan didapatkan pada periode Lebaran selanjutnya bertambah besar.

Keuntungan besar yang didapatkan pada periode Lebaran sebelumnya belum tentu didapatkan pada periode Lebaran yang akan datang. Hal ini selaras dengan pernyataan Noor (2003) bahwa salah satu hambatan dalam usaha peternakan broiler adalah fluktuasi harga input dan output yang diperkirakan salah oleh peternak yang akan mempengaruhi pendapatan peternak.

Selain itu berdasarkan hasil perhitungan pendapatan diketahui bahwa kerugian terbesar terjadi pada periode keempat, pada saat tahun ajaran baru ketika permintaan akan broiler menurun. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa dibutuhkan suatu analisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan.

Salah satu analisis yang dapat digunakan dalam hal ini adalah analisis keputusan berisiko dengan menggunakan nilai harapan (expected value). Setiap keputusan yang berisiko menyangkut masalah tindakan, kejadian, peluang dan hasil (Anderson et al., 1977).

Alternatif Tindakan SKF

Alternatif tindakan yang akan diambil oleh SKF ada dua, yaitu menambah dan tidak menambah populasi broiler pada periode Lebaran akan datang (Gambar 8). Sedangkan untuk periode tahun ajaran baru berikutnya yaitu mengurangi atau tidak mengurangi populasi broiler (Gambar 9).

Menambah populasi Tidak menambah populasi Gambar 8. Alternatif Tindakan Periode Lebaran Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Mengurangi populasi Tidak mengurangi populasi

Gambar 9. Alternatif Tindakan Periode Tahun Ajaran Baru. Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Alternatif Kejadian

Ada 3 macam alternatif kejadian yang dapat diprediksi oleh SKF untuk periode Lebaran dan tahun ajaran baru, yaitu fluktuasi harga broiler dengan perkiraan harga broiler tersebut akan mahal, normal dan murah (Gambar 10).

Harga broiler mahal (Rp 10.000,-) Harga broiler normal (Rp 8.000,-)

Harga broiler murah (Rp 6.000,-) Gambar 10. Alternatif Kejadian

Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Peluang Kejadian ƒ Periode Lebaran

Gambar 11 menunjukan bahwa pihak SKF yakin (70%) harga broiler pada hari raya Lebaran (bulan Oktober 2006) akan tinggi atau mahal. Hal ini didasarkan kepada keyakinan bahwa beberapa hari sebelum hari Lebaran dan beberapa hari setelah Lebaran permintaan akan tinggi. Besarnya permintaan suatu produk akan memacu pada kenaikan harga produk tersebut (Lipsey et al., 1995). Tingkat keyakinan ini didapatkan melalui hasil wawancara dengan pihak manajemen SKF berdasarkan kuantifikasi ketidakpastian yang dinyatakan dalam bilangan 0 sampai 1 untuk menggambarkan tingkat kepercayaan atau keyakinan pihak manajemen SKF terhadap kejadian yang mungkin terjadi.

Harga broiler mahal (0,70) Harga broiler normal (0,20)

Harga broiler murah (0,10) Gambar 11. Peluang Kejadian Periode Lebaran Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006 ƒ Periode Tahun Ajaran Baru

Gambar 12 memperlihatkan bahwa harga broiler diperkirakan akan cenderung berada pada kondisi normal (40%). Hal ini karena diperkirakan permintaan tidak akan tinggi dan penurunan permintaan pun tidak terlalu tajam walaupun sebagian besar rumah tangga akan mengurangi konsumsinya.

Harga broiler mahal (0,30) Harga broiler normal (0,40)

Harga broiler murah (0,30) Gambar 12. Peluang Kejadian Periode Tahun Ajaran Baru Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

Hasil (Pay Off)

Perhitungan Hasil (pay off) dijelaskan pada Lampiran 3. Nilai pay off ini dapat digunakan untuk mengetahui expected value.

Diagram Keputusan

Setelah semua komponen keputusan berisiko diketahui maka nilai expected value dapat diketahui dengan bantuan diagram keputusan. Expected value didapatkan melalui penjumlahan dari perkalian antara pay off dengan probabilitas kejadian dalam satu tindakan seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya.

Diagram keputusan terdiri dari tindakan, kejadian, probabilitas kejadian dan hasil yang akan didapatkan untuk tiap-tiap kejadian. Gambar 13 adalah diagram keputusan untuk periode lebaran dan Gambar 14 adalah diagram keputusan untuk periode tahun ajaran baru.

ƒ Periode Lebaran

Tindakan Kejadian (probabilitas kejadian) Hasil (Rp) Harga Broiler Mahal (0,7) 200.581.200,- Harga Broiler Normal (0,2) 21.552.000,- Menambah populasi Harga Broiler Murah (0,1) -157.476.600,-

Tidak menambah populasi

Harga Broiler Mahal (0,7) 167.151.000,- Harga Broiler Normal (0,2) 17.960.000,- Harga Broiler Murah (0,1) -131.230.500,-

Gambar 13. Diagram Keputusan Periode Lebaran Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

EV menambah populasi = (Rp 200.581.200,- X 0,7) + (Rp 21.552.000,- X 0,2) + (Rp -157.476.600,- X 0,1)

= Rp 128.969.580,-

EV tidak menambah populasi = (Rp 167.151.000,- X 0,7) + (Rp 17.960.000,- X 0,2) + (Rp -131.230.500,- X 0,1)

ƒ Periode Tahun Ajaran Baru

Tindakan Kejadian (probabilitas kejadian) Hasil (Rp)

Harga Broiler Mahal (0,3) 133.720.800,- Harga Broiler Normal (0,4) 14.368.000,- Mengurangi populasi Harga Broiler Murah (0,3) -104.984.400,-

Tidak mengurangi populasi

Harga Broiler Mahal (0,3) 167.151.000,- Harga Broiler Normal (0,4) 17.960.000,- Harga Broiler Murah (0,3) -131.230.500,-

Gambar 14. Diagram Keputusan Periode Tahun Ajaran Baru Sumber: Sunan Kudus Farm, 2006

EV mengurangi populasi = (Rp 133.720.800,- X 0,3) + (Rp 14.368.000,- X 0,4) + (Rp -104.984.400,- X 0,3) = Rp 14.368.120,-

EV tidak mengurangi populasi = (Rp 167.151.000,- X 0,3) + (Rp 17.960.000,- X 0,4) + (Rp -131.230.500,- X 0,3)

= Rp 17.960.150,-

Analisis keputusan berisiko menunjukan bahwa pada periode Lebaran expected value menambah populasi (Rp 128.969.580,-) lebih besar daripada expected value tidak menambah populasi (Rp 107.474.650,-). Sedangkan pada periode tahun ajaran baru expected value mengurangi populasi (Rp 14.368.120,-) lebih kecil daripada expected value tidak mengurangi populasi (Rp 17.960.150,-). Berdasarkan hal ini maka SKF lebih baik menambah populasi broiler pada periode Lebaran selanjutnya dan tidak mengurangi populasi broiler pada periode tahun ajaran baru berikutnya.

Dokumen terkait