4.1Ga mbar an Umum Per usa haan
4.1.1. Gambaran Singkat Sur at Kabar J awa Pos
Surat kabar Jawa Pos pertama kali diterbitkan pada tanggal 1 Juli 1949 oleh perusahaan bersama PT. Jawa Pos Concern Ltd. Berlokasi di Jalan Kembang Jepun 166-169. Pendirinya adalah seorang WNI keturunan dengan kelahiran bangsa yang bernama The Chung Shen alias Soeseno Tedjo. Sebagai perintis berdirinya Jawa Pos, Soeseno Tedjo mulanya bekerja di kantor film Surabaya. Soeseno Tedjo bertugas untuk menghubungi surat kabar agar pemuatan iklan filmnya lancar dan dari situ, ia mengetahui bahwa memiliki surat kabar ternyata menguntungkan maka pada tanggal 1 Juli 1949 surat kabar dengan nama Jawa Pos didirikan. Surat kabar saat itu dikenal sebagai harian melayu Tionghoa dengan pimpinan redaksi pertama yang bernama Goh Tjing Hok. Selanjutnya sejak tahun 1951 pemimpin redaksiya adalah Thio Oen Sik. Keduanya dikenal sebagai orang-orang republiken yang tak pernah goyah. Pada saat itu The Chung Sen dikenal sebagai raja Koran karena memiliki tiga buah surat kabar yang diterbitkan dengan tiga bahasa yang berbeda. Surat kabar yang berbahasa Indonesia bernama Java Post, yang berbahasa Tionghoa bernama
Huo Chiau Shin Wan, sedangkan De Vrije Pers adalah terbitan bahasa Belanda. Pada tahun 1962 harian De Vrije pers dilarang terbit berkenaan dengan peristiwa Trikora untuk merebut Irian Jaya dari tangan Belanda. Sebagai gantinya diterbitkan surat kabar yang berbahasa Inggris dengan nama Indonesia Daily News pada tahun 1981 terpaksa berhenti karena minimnya iklan. Sedangkan meletusnya G 30 S/PKI pada tahun 1965 menyebabkan pelarangan terbit pada harian Huo Chau Shin Wan. Maka sejak tahun 1981 Jawa Pos yang tetap bertahan untuk terbit dengan oplah yang sangat minim dan memprihatinkan hanya 10.000 eksemplar.
Pada awal terbitnya Jawa Pos memiliki ciri utama terbit pada pagi hari dengan menampilkan berita-berita umum. Terbitan Jawa Pos pertama kali dicetak di percetakan Aqil di jalan Kiai Haji Mas Mansyur Surabaya dengan oplah 100 eksemplar. Semenjak 1 April 1954 Jawa Pos dicetak di percetakan Vrije pers di jalan Kaliasin 52 Surabaya, dan selanjutnya dari tahun ke tahun oplahnya mengalami peningkatan.
Tercatat pada tahun 1954-1957 dengan oplah sebesar 4000 eksemplar dan mulai tahun 1958-1964 oplahnya mencapai 10.000 eksemplar. Karena perubahan ejaan pada tahun 1958 Java Post berganti menjadi Djawa Pos dan mulai tahun 1961 berubah menjadi Jawa Pos. Pada periode 1971-1981 oplah tercatat pada 10.000 eksemplar, namun pada tahun 1982 terjadi penurunan
oplah ke 6.700 eksemplar dengan jumlah pendistribusian 2.000 eksemplar pada kota Surabaya dan sisanya pada kota lain. Penurunan terjadi karena sistem manajemen yang semakin kacau, tiadanya penerus yang mengelola usaha tersebut serta kemajuan teknologi percetakan yang tidak terkejar. The Chung Sen alias Soeseno Tedjo sebagai pemilik perusahaan menerima tawaran untuk menjual mayoritas dari sahamnya pada PT. Grafoto Pers (penerbit TEMPO) pada tanggal 1 April 1982. Pada tanggal itu juga Dahlan Iskan ditunjuk sebagai Pimpinan Utama dan Pimred oleh Dirut PT. Grafiti Pers Bapak Eric Samola, SH untuk membenahi kondisi PT. Java Post Concern Ltd. Hanya dengan waktu dua tahun oplah Jawa Pos mencapai 250.000 eksemplar, dan semenjak itulah perkembangan Jawa Pos semakin menakjubkan dan menjadi surat kabar terbesar yang terbit di Surabaya. Pada tahun 1999 oplahnya meningkat lagi menjadi 320.000 eksemplar.
Pada tanggal 2 Mei 1985 sesuai dengan kata Notaris Liem Shen Hwa, SH No. 8 pasal 4 menyatakan nama PT. Java Post Concern LTD diganti dengan nama PT. Jawa Pos dan sesuai dengan surat MENPEN No. 1/Per1/Menpen/84 mengenai SIUPP, khususnya pemilikan saham maka 20% dari saham harus dimiliki karyawan untuk menciptakan rasa saling memiliki.
Meskipun telah terjadi perubahan kepemilikan Jawa Pos tidak merubah secara esensial isi pemberitaannya yang menyajikan berita-berita
umum. Berita-berita umum ini meliputi peristiwa nasional yang menyangkut peristiwa ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya, pemeritah, olahraga, disamping pemberitaan peristiwa yang terjadi di daerah Jawa Timur dan Indonesia Timur.
Melejitnya oplah Jawa Pos ini, tidak lepas dari perjuangan dan kepopuleran Jawa Pos mengubah budaya masyarakat Surabaya pada khususnya dan pada masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Waktu itu budaya masyarakat membaca Koran adalah sore hari. Ketika Jawa Pos mempelopori terbit pagi, banyak warga menertawai “Koran kok, Pagi” banyak diantaranya menolak. Banyak agen dan loper yang tidak mau menjual Jawa Pos, bahkan di titipi saja agen dan loper menolak. Manajemen Jawa Pos lantas memutar otak kalau tidak ada loper Koran dan agen, lewat apa Koran ini dipasarkan? Akhirya ditemukan cara lain : istri-istri atau keluarga wartawan diminta menjadi agen atau loper Koran termasuk istri dari Dahlan Iskan sendiri, sebab kendala utama adalah di pemasaran. Kedua, menambah income keluarga wartawan waktu itu gaji wartawan masih kecil, dengan cara ini keluarga Jawa Pos akan menambah pendapatan. Ketiga, memberikan kebanggaan kepada keluarga karyawan Koran Jawa Pos atas usaha suamiya dan kelak dikemudian hari beberapa istri atau keluarga wartawan ini menjadi agen besar Koran Jawa Pos. Perjuangan dan kepeloporan ini ternyata membuahkan hasil termasuk perubahan mendasar
keredaksian. Warga Surabaya utamanya lebih memilih Koran Jawa Pos dan pada tahun 1985 oplah Jawa Pos telah menembus angka 250.000 eksemplar perharinya.
Jawa Pos sanggup mengalahkan tiras penerbitan-penerbitan lain yang telah berada di Surabaya sejak lama dan bahkan mendominasi pasar Surabaya seperti Surabaya Pos. Banyak strategi yang dilakukan Jawa Pos untuk mencapai kondisi seperti ini diantaranya dengan ingin menjadi surat kabar yang melakukan hal-hal baru pertama kalinya di Indonesia seperti terbit 24 halaman perhari, menjadi surat kabar pertama yang terbit di hari libur nasional serta muncul dengan ukuran kecil tanpa mengurangi isi ketika krisis moneter terjadi di Indonesia.
Salah satu hal yang benar-benar membuat kelompok Jawa Pos menjadi sebuah kelompok media yang sangat besar adalah dengan adanya JPNN (Jawa Pos News Networking), JPNN ini dibentuk sebagai salah satu sarana untuk menampung berita dari seluruh daerah di Indonesia dan untuk keperluan sumber berita berbagai media cetak yang berada dalam satu naungan dengan kelompok Jawa Pos. Hal ini menyebabkan berita di satu daerah di luar Surabaya tidak perlu dikerjakan layoutnya di Surabaya dan berita tersebut dapat dikerjakan di kota bersangkutan lalu hasilnya dikirimkan ke JPNN untuk diambil oleh redaksi yang ada di Surabaya. Saat ini dimana masanya media
online sedang berkembang, Jawa Pos juga tidak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi dengan memberikan fasilitas Jawa Pos yang bisa diakses melalui internet dengan alamat situs : www.jawapos.co.id.
Ketika dalam waktu singkat Jawa Pos mampu menembus oplah di atas 100.000 eksemplar yang semula dianggap sebagai mimpi akhirnya Jawa Pos “bermimpi” lagi dengan ambisi menembus oplah 1.000.000 eksemplar. Berbagai upaya dilakukan baik dari redaksi pemasaran maupun lainnya untuk menembus angka itu, ternyata sulit. Jawa Pos bertahan dengan oplah 400.000 eksemplar. Manajemen lantas memutar otak agar sumber daya dan yang dimiliki tetap optimal. Lantas muncullah ide ekspansi yakni membuat Koran-koran di daerah-daerah di Indonesia. Ide tersebut muncu dari Dahlan Iskan usai studi di Amerika. Di Negara maju, setiap kota mempunyai satu Koran dari kenyataan itu ia berasumsi bahwa di kota-kota besar di Indonesia bisa didirikan Koran di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang menghidupkan usaha Koran yang mau gulung tikar atau tinggal SIUPPnya saja. Ada yang kerjasama dan banyak diantaranya yang didirikan Jawa Pos.
Berhasil di satu kota dilakukan di kota lain gagal, di satu kota dicoba di kota lain dan April 2001 anak perusahaan Jawa Pos sudah mencapai 99 group. Koran-koran yang dahulu menjadi anak perusahaan Jawa Pos kini juga
mendirikan Koran-koran, majalah atau tabloid-tabloid yang menjadi cucu dari Jawa Pos.
Beberapa media dikelola oleh Jawa Pos di berbagai daerah di Indonesia diantaranya adalah Suara Indonesia yang telah berganti nama menjadi Radar Surabaya, Dharma nyata, Manuntung, Ackhya, Fajar, Riau Pos, Menado Pos, Suara Nusa, Memorandum, Karya Dharma, Bhirawa, Mercusuar, Cendrawasih Pos, Kompetisi, Komputek, Agrobis, Liberty, Mentari, Oposisi, Gugat, Posmo, Harian Rakyat Merdeka, Amanat, Demokrat, Harian Duta Masyarakat Baru. Media itu bisa berupa bantuan modal, baik berupa uang maupun mesin cetak ataupun sumber daya manusia.
Kini hampir di seluruh propinsi Indonesia terdapat Jawa Pos group terkecuali di Aceh dan NTT. Bisnisnya tidak hanya Koran namun juga percetakan, pabrik kertas, Real Estate, Hotel, bursa sampai travel agen. Ini semua berada di atas tangan Dahlan Iskan. Bagaimana mimpi oplah satu juta? Dahlan pun bilang “kita sudah mencapainya, kalau seluruh oplah Jawa Pos Group dikumpulkan”.
4.2. Penyajian Data dan Analisis Data
Berikut adalah data yang diperoleh penulis dari sample berita Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012 di Surat Kabar Jawa Pos Edisi September 2012 yang diukur dengan menggunakan kategorisasi Objektivitas Pemberitaan berikut:
4.2.1 Objektivitas Pember itaan
Objektivitas dalam penyajian berita merupakan salah satu nilai yang harus dipenuhi oleh jurnalis dalam rangka pemenuhan informasi serta penyampaian informasi yang benar kepada khalayak ataupun masyarakat. Teori ini didasari atas pandangan bahwa sebuah kebenaran di media massa tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak saja, namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain.
Inilah mengapa pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara fairness. Objektivitas yang juga sering disebut sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat.
Hanya belakangan ini, muncul suatu wacana yang memandang objektivitas sebagai teori yang dikuduskan oleh para praktisi jurnalis dan dikristalkan sehingga aplikasi dalam profesinya sudah sangat jarang ditemui lagi di media massa. Sesuatu yang ditulis oleh wartawan dan terbitkan oleh media yang memiliki prestige akan
lebih dipercaya oleh khalayak sebagai fakta sehingga memiliki kekuatan untuk menimbulkan opini public di masyarakat.
Keyakinan untuk menyajikan berita yang obyektive disampaikan juga oleh Denis McQuail seorang pakar komunikasi yang mengembangkan konsep objektivitas ini dari pola objektivitas pemberitaan milik Jurgen Wersthelsthal dengan membagi dimensi objektivitas kedalam Impartial dan factual. Wien Charllote, seorang dosen komunikasi dari Denmark juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap teori objektivitas ini.
Dalam disertasinya dinyatakan bahwa jurnalis saat ini hanya memandang objektivitas sebagai kepercayaan yang ada namun kurang berperan dalam tindakan praktis sebagai jurnalis dalam menulis berita. Tidak hanya pakar komunikasi dari luar saja yang memiliki ketertarikan terhadap objektivitas pemberitaan, Ashadi Siregar, Henry Subiakto dan Rachma Ida adalah beberapa diantara ahli komunikasi di Indonesia yang mengaangkat teori objektivitas pemberitaan sebagai alat ukur untuk memahami media surat kabar harian nasional yang ada di Indonesia.
Henry Subiakto melakukan analisis isi kuantitatf terhadap 8 surat kabar nasional bertiras 100.000 eksemplar dengan mengukurnya kedalam dimensi objektivitas pemberitaan yakni aktualitas, fairness dan validitas pemberitaan. Hasil temuan data menyimpulkan surat kabar Suara Pembaharuan, Kompas, Suara Merdeka, Media. Indonesia adalah media massa di Indonesia yang cenderung
obyektif dibandingkan media massa yang lain dalam hal keakurasian pemberitaan, validitas nara sumbernya dan ketidak berpihakan pada pihak manapun.
Walaupun tidak ada salah satu media yang benar-benar telah menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme obyektif, tapi paling tidak media tersebut dianggap mampu untuk memisahkan fakta daripada opini dan dinilai cenderung untuk tidak melakukan provokasi massa, dan sebagainya. Berangkat dari pertimbangan yang didasari pada pandangan/paradigma klasik dimana para jurnalis dalam menyajikan berita selalu mengacu pada fakta dan selalu bersifat obyektif dalam menyajikan liputan menjadi sebuah berita, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kategorisasi yang dibuat dan digunakan Rachma Ida. Dosen Komunikasi ini menggunakan prinsip objektivitas dalam meneliti berita politik di harian surat kabar nasional yang bertiras 100.000 eksemplar.
Penulis menggunakan media surat kabar Jawa Pos sebagai subyek penelitian berita, dengan berita Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012 Di surat kabar Jawa Pos September 2012.
Pemberitaan Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012 merupakan kasus yang sering menjadi bahan berita bagi suatu media. Kasus ini banyak mendapat perhatian publik karena bagaimana event olah raga multi cabang yang dijadwalkan setiap 4 tahun sekali dan menyedot dana lebih dari 4,6 Triliun Rupiah dari APBN dan APBD ini kesiapan venuenya carut marut padahal penyelenggaraan PON sudah di
depan mata. Dengan adanya hal tersebut kasus carut marut kesiapan venue PON XVIII Riau 2012 menjadi menarik dan seringkali menjadi berita utama dalam suatu pemberitaan di suatu media termasuk Jawa Pos.
Pemerintah melalui Wakil Presiden, Kementrian Pemuda dan olah raga (Kemenpora) dan juga yang bertanggung jawab dalam menjalankan pelaksanaan kegiatan Pon yaitu KONI membantah bahwa persiapan venue PON amburadul.
Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Juru Bicara Kepresidenan RI bahwa Presiden SBY yang baru pulang selepas mengikuti KTT APEC di Rusia akan tetap membuka pelaksanaan yang akan di fokuskan di Stadion Utama Riau, Pekanbaru sesuai dengan jadwal telah di tetapkan.
Pemberitaan ini menjadi kontroversial karena banyak pihak terutama para kontingen PON yang akan bertanding mengeluhkan venue yang akan digunakan dalam pertandingan. Keluhan tersebut diantaranya mengenai kondisi venue yang belum sepenuhnya jadi atau venue yang dirasa tidak sesuai dengan standart yang telah ditetapkan untuk mengadakan sudatu pertandingan.
Dari Melalui latar belakang ditas, penulis merasa perlu diadakannya sebuah penelitian yang dapat menggambarkan isi yang nampak dari pemberitaan-pemberitaan yang ada di media massa. Terlebih lagi, pemberitaan-pemberitaan Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012.
Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012, mengingat nilainya yang sangat signifikan dalam mempengaruhi opini publik. Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis dimensi-dimensi yang ada pada objektivitas pemberitaan yakni akurasi pemberitaan, fairness atau ketidak berpihakan dalam menyajikan sumber berita dalam sebuah pemberitaan dan validitas pemberitaan pada berita - berita Kasus Carut Marut Venue PON XVII Riau 2012 selama dua minggu yaitu pada tanggal 5, 11, 13, dan 14 September 2012.
Melalui dimensi akurasi didapatkan sub dimensi kesesuaian judul berita dengan isi berita. Dikatakan bahwa sebuah judul berita sesuai dengan isi beritanya bilamana dalam isi pemberitaan ditemukan kata-kata yang sama seperti judul ataupun kata-kata yang menerangkan dari judul berita.
Ada tidaknya pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa yang diberitakan yang dapat berupa angka maupun kata-kata yang menunjuk pada tanggal peristiwa. Penggunaan data pendukung yang dapat berbentuk daftar table, foto pendukung berita, ilustrasi gambar serta data-data lain dari sumber yang terkait dengan peristiwa yang diberitakan. Yang terakhir adalah ada tidaknya pencampuran antara fakta ada opini.
Melalui dimensi fairness atau ketidak berpihakan didapatkan sub dimensi sisi ketidakberpihakan yang dilihat dari jumlah sumber berita yang digunakan dan sisi ketidak berpihakan yang dilihat dari penggunaan luas kolom pemberitaan.
Melalui dimensi validitas didapatkan sub dimensi atribusi yakni kejelasan data dan identitas terhadap sumber berita yang digunakan sebagai sumber pemberitaan dan sub dimensi tingkat kompetensi sumber berita yang digunakan.
Berita 1
“Wisma Atlet PON Memprihatinkan”
Judul Berita
Akurasi Fairness validitas
Keseu aian isi dan judul berita Penca ntum an wakt u perist iwa Data pend ukun g Penca mpur an fakta dan opini Data sumber Luas kolom Atrib ut sumb er data Kompetensi sumber Wisma Atlet PON Mempriha tinkan s e s u ai Ti da k se su ai a d a T i d a k a d a a d a T id a k a d a a d a T id a k a d a sei mb ang Tid ak sei mb ang sei ma ng Tid ak sei mb ang j e l a s T id a k je la s war taw an Pel aku lan gsu ng Bkn Pelaku langsun g V V V V V V V V V
Berita 1 “Wisma Atlet PON Memprihatinkan” pada tanggal 5 September 2012. Akurasi pemberitaan yang ditampilkan hampir memenuhi syarat kategorisasi akurat. Ini ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya kesesuaian antara judul berita dengan isi berita.
Kesesuaian judul berita 1 “Wisma Atlet PON Memprihatinkan” Telah mengacu pada aspek relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita atau pada bagian isi terdapat penjelasan dari judul dengan inti yang sama, sebagai contoh
“Wisma Atlet PON Memprihatinkan”
Hingga kemarin, kondisi wisma atlet di kompleks Sports Center Rumbai sangat memprihatinkan.
Dalam berita 1 ini akurasi kategorisasi pencantuman waktu atau tanggal peristiwa kejadian tidak dicantumkan dalam berita sehingga tidak sesuai dengan kategorisasi akurasi.
Dalam berita ini terdapat foto venue atau, ada data pendukung berupa foto. Data pendukung suatu berita, yaitu seperti table, statistic, foto, ilustrasi gambar, buku, UU, dan lainnya.
Dalam berita ini ada pencampuran fakta dan opini yang dilakukan oleh wartawan, karena dalam berita terdapat kata-kata opinionative seperti : tampaknya, diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya, seolah, agaknya, diperkirakan, diramalkan, mengejutkan, kontroversi, manuver, sayangnya, dan kata-kata opinionative lainnya.
Tidak seimbang, yaitu bila masing-masing pihak yang diberitakan tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah sumber beritanya. Dalam berita ini seimbang karena, ada keterangan antara pemirantah sebagai penyelenggara dengan peltih atlet sebagai pihak yang merasakan langsung keadaan.
Tidak seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan. Dalam Berita ini penggunaan sisi luas kolom tidak seimbang, karena kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan. sumber
berita dari pemerintah mendapatkan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan keterangan dari pihak kontingan atlet.
Dalam berita ini sumber berita yang dipakai dalam pemberitaan terdapat kejelasan sumber berita, dicantumkan identitasnya seperti nama, pekerjaan, atau sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi. Contoh
Meski begitu, ketua umum (Ketum) KONI Pusat Tono Suratman menyatakan bahwa bangunan tersebut sudah bisa digunakan.
Beberapa fasilitas pendukung juga selesai dipasang. Diantaranya,AC dan air. Dengan begitu, para atlet sudah bisa beristirahat di tempat tersebut setelah menjalani latihan maupun pertandingan.
“Wisma atlet itu sudah jadi, tapi tidak sempurna Bagian luarnya hanya perlu pengaspalan. Meski begitu, sudah bisa digunakan. Saya kan ada di Riau, jadi tahu kondisinya,” ungkap TONO saat dihubungi Jawa Pos tadi malam.
Dalam berita ini Tono Suratman (Ketum KONI Pusat), Andi Mallarangeng (Menpora) dan Jawawi (Pelatih selam Sumsel) dinilai sebagai pelaku langsung. Karena beliau mengalami langsung peristiwa tersebut. pelaku langsung, karena peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara wartawan dengan sumber
berita yang mengalami peristiwa tersebut. Selain itu pada berita ini juga ada tambahan opini dari wartawan.
Dari hasil analisis berita 1 dapat penulis simpulkan bahwa berita ini objektif dengan catatan belum sesuai dengan kategorisasi teori objektifitas Rachma Ida. Seperti kategorisasi akurasi dimana pencantuman waktu dan tanggal peristiwa kejadian tidak dicantumkan berita, selain itu kategorisasi fairnes dalam berita ini juga tidak seimbang karena masing-masing pihak yang diberitakan tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita dan luas kolom dalam pemberitaannya.
Berita 2
“Selamat Datang PON Minimalis”
Judul Berita
Akurasi Fairness validitas
Keseu aian isi dan judul berita Penca ntuma n waktu peristi wa Data pendu kung Penca mpura n fakta dan opini Data sumber Luas kolom Atrib ut sumb er data Kompetensi sumber Selamat Datang PON Minimalis se s u ai Ti da k se su ai a d a T i d a k a d a a d a T id a k a d a a d a Ti d a k a d a sei mb ang Tid ak sei mba ng sei ma ng Tid ak sei mba ng j e l a s Ti d a k je la s war taw an Pel aku lan gsu ng Bkn Pelaku langsung V V V V V V V V V V
Berita 2 “Selamat Datang PON Minimalis” pada tanggal 11 September 2012. Akurasi pemberitaan yang ditampilkan hampir memenuhi syarat kategorisasi akurat. Ini ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya kesesuaian antara judul berita dengan isi berita.
Kesesuaian judul berita 2 “Selamat Datang PON Minimalis” telah mengacu pada aspek relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita atau pada bagian isi terdapat penjelasan dari judul dengan inti yang sama, sebagai contoh
Begitu juga venue-venue pertandingan. Dari 54 venue, hanya dua yang disebut cukup minimalis, yakni menembak dan futsal. “Minimalis, tapi fungsional.