Karakteristik Personal Responden
Karakteristik personal responden yang diamati meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendapatan, pengalaman bertani, luas lahan garapan, status lahan garapan dan status dalam kelompok tani.
Umur
Umur seseorang berpengaruh dalam setiap aktivitas individu internal yang kuat kepada fungsi biologis dan psikologis individu (Setiawan, 2002). Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden menunjukkan bahwa struktur umur di lokasi penelitian sebagian besar berkisar antara 41-60 tahun. Dalam hubungan dengan produktivitas, mengacu pada umur produktif menurut Departemen Pertanian yaitu berumur antara 15-60 tahun, maka responden dalam penelitian ini umumnya tergolong produktif. Secara khusus, usia dewasa responden lebih nampak pada petani kooperator Jawa Barat (8,33%) dibanding dengan petani kooperator di Sulawesi Selatan hanya 2,08%. Responden petani kooperator usia paruh baya (41-60 tahun) terlihat lebih banyak ada di Sulawesi Selatan (18,75%) dibanding di Jawa Barat hanya 15,63%. Maka dilihat dari proporsisi umur produktif ini memungkinkan petani dapat menggarap lahan sawah pertanian dengan baik. Di samping itu petani juga mampu menyerap berbagai informasi dan inovasi teknologi yang diseminasikan dalam program Prima Tani. Hal ini senada yang diungkapkan oleh Mubyarto dalam Pudjiastuti (1992) bahwa kelompok usia muda produktif cenderung responsif atau tanggap terhadap suatu pembaharuan. Hal ini memungkinkan kelompok usia muda dapat berpartisipasi aktif dalam program dan dengan sendiri akan berakibat kepada sukses dan kelancaran dalam program tersebut. Pendapat tersebut didukung Rogers dan Shoemaker (1995) yang mengutip hasil penelitian Mort (1953), Allen (1956) dan Carlson (1965) berkesimpulan bahwa orang yang berumur lebih muda lebih mudah melakukan adopsi dibandingkan dengan orang berumur tua.
Usia responden yang tergolong tua (61-80) lebih banyak terlihat pada petani nonkooperator di Jawa Barat sebanyak 6,25% dan petani nonkooperator di Sulawesi Selatan sebanyak 7,29%. Dilihat dari usia petani nonkooperator yang berumur tua
menunjukkan mereka masih kuat bekerja tetapi cenderung menolak inovasi dibidang pertanian maupun teknologi yang diintroduksikan dalam usahataninya. Kondisi seperti ini seperti dianalisa Rakhmat (2005) bahwa semakin tua usia seseorang maka akan semakin lemah daya biologis, daya psikologis, tingkat kepekaan dan potensi-potensi diri lainnya. Secara fisik petani yang berusia tua masih kuasa dan produkstif melakukan aktivitas usahataninya, tetapi usia tua membatasi manajemen dan perilakunya terutama dalam mengakses sumber informasi yang produktif. Pendapat ini didukung Kartasapoetra (1991) bahwa di antara sekian banyak petani yang telah menerapkan teknologi baru terdapat pula sebagian kecil petani yang mengabaikan usaha-usaha penyuluhan bahkan mereka menolak mengikutinya. Kebanyakan mereka berusia lanjut berumur sekitar 50 tahun ke atas, biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit diberikan pengertian yang dapat mengubah cara berpikir.
Pendidikan Formal
Tingkat pendidikan menjadi cermin bagi penguasaan seseorang terhadap pengetahuan dan penerapannya di dalam hidup bermasyarakat. Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap penerimaan informasi, diseminasi teknologi dan inovasi.
Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian dan perubahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka proses penyesuaian terhadap perubahan di sekitarnya dapat di atasi. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden sebagian besar tamat SD. Bila melihat komposisi tingkat pendidikan tamat SD, jumlah petani kooperator di Jawa Barat sebanyak 13,54% sama jumlahnya dengan petani nonkooperator di Sulawesi Selatan. Jumlah ini lebih sedikit dibanding jumlah petani nonkooperator di Jawa Barat (12,50%) dan jumlah petani kooperator di Sulawesi Selatan (9,38%) (lihat Tabel 2).
Melihat komposisi tingkat pendidikan responden dapat dikemukakan bahwa rata-rata pendidikan responden hanya tamat SD. Kondisi ini berpengaruh terhadap adopsi teknologi pertanian yang dikenalkan lewat program Prima Tani. Ini terlihat dari banyaknya petani kooperator dan nonkooperator yang belum mampu memahami informasi mengenai teknologi introduksi yang diperkenalkan melalui program Prima Tani. Hasil wawancara dengan responden, sebagian besar awalnya mereka menduga
kedatangan program Prima Tani sebagai program pemerintah yang membagikan dana untuk usahatani. Fenomena ini hampir terlihat di beberapa lokasi Prima Tani bahwa kurangnya informasi tentang program Prima Tani menimbulkan perbedaan persepsi yang menyebabkan kendala bagi petani. Akibatnya informasi penting tentang teknologi introduksi dalam bidang pertanian penerapannya dalam usahatani banyak mengalami hambatan. Melihat tingkat pendidikan petani yang masih terbatas, diperlukan pembinaan petani yang lebih serius dan intensif. Di samping itu, para pengelola Prima Tani dan penyuluh perlu lebih memahami dan mencermati pesan komunikasi yang harus dikomunikasikan secara tepat kepada petani sehingga mereka cepat memahami dan mau mengadopsi program yang di bawa Prima Tani. Hal lain yang perlu mendapat perhatian pada pengelola dan penyuluh Prima Tani yaitu agar dapat memanfaatkan penggunaan media komunikasi yang tepat dan efisien untuk membantu petani memahami teknologi yang dibawanya. Fenomena ini telah dilukiskan sebelumnya oleh Slamet (1987) bahwa seseorang yang mempunyai jenjang pendidikan makin tinggi, umumnya cepat mengadopsi teknologi yang diterimanya. Dalam penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap tingkat penerimaan inovasi baik diperoleh langsung atau melalui media. Prayitnohadi (1987) menyatakan bahwa tingkat pendidikan petani mempengaruhi kecepatan dalam mengambil keputusan terhadap teknologi pertanian.
Tabel 2 Karakteristik responden
No Karakteristik responden Jawa Barat (%)
Sulawesi Selatan (%)
kooperator nonkop kooperator nonkop 1 Umur
a.Dewasa (<40 thn) 8,33 4,17 2,08 1,04
b.Paruhbaya (41-60 thn) 15,63 14,58 18,75 16,67
c.Tua (>60 thn) 1,04 6,25 4,17 7,29
c.Sekolah lanjutan 6,25 5,21 8,33 7,29
4. Pendidikan nonformal
a.Jarang (< 5 kali/ tahun) 14,58 19,79 15,63 20,84 b.Cukup sering (5-10 kali/tahun) 10,42 5,21 9,37 2,08 c.Sering (> 10 kali/tahun) 0,00 0,00 0,00 2,08 5. Pendapatan (Rp/ bulan)
a.Rendah (173.350-3.459.170) 25,00 25,00 16,66 22,92 b.Sedang (3.459.200-6.745.020) 0,00 0,00 4,17 2,08 c.Tinggi(6.745.050-10.030.800) 0,00 0,00 4,17 0,00 6. Pengalaman bertani
a.Cukup pengalaman (2-23 thn) 17,71 12,50 2,08 4,17 b.Pengalaman (24-45 thn) 7,29 10,42 19,79 16,66 c.Sangat pengalaman (46-68 thn) 0,00 2,08 3,13 4,17 7. Luas lahan garapan
a.Cukup luas (0,25-2,17 ha) 22,92 25,00 18,74 18,74
b.Luas (2,18-4,09 ha) 2,08 0,00 3,13 6,26
c.Sangat luas (4,10-6,0 ha) 0,00 0,00 3,13 0,00
8. Status lahan garapan
a.Pemilik 25,00 23,96 25,00 22,92
b.Penyewa penggarap 0,00 1,04 0,00 2,08
9. Status dalam kelompok
a.Ketua 4,17 2,08 8,33 2,08
b.Sekretaris/ bendahara 7,29 5,21 3,13 5,21
c.Anggota 13,54 17,71 13,54 17,71
Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah proses pembelajaran di luar sekolah formal seperti kursus, pelatihan, penataran maupun magang. Data hasil penelitian pada Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan nonformal responden
umumnya tergolong rendah. Hal ini terlihat dari jumlah kursus dan sejenisnya jarang diikuti oleh petani kooperator Jawa Barat (14,58%) dan petani kooperator di Sulawesi Selatan (15,63%). Responden yang mengikuti pendidikan nonformal cukup sering yaitu petani kooperator Jawa Barat (10,42%) dan petani kooperator Sulawesi Selatan (9,37%). Responden yang sering mengikuti pendidikan nonformal lebih dari 10 kali adalah petani nonkooperator di Sulawesi Selatan (2,08%.). Melihat keragaan pendidikan nonformal tersebut, responden jarang mengikuti pendidikan nonformal baik yang diadakan oleh BPTP atau setingkat Pemda seperti Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Dinas Peternakan maupun setingkat provinsi. Pendidikan nonformal yang diadakan oleh BPTP, dinas pertanian maupun lainnya diharapkan mampu mengimbangi kurangnya pendidikan formal yang dimiliki oleh petani. Dengan mengikuti pendidikan nonformal seperti kursus, pelatihan, magang maupun sosialisasi diharapkan petani mampu menyerap informasi yang diterimanya dan dapat menerapkannya ke dalam pola usahataninya. Dampak lain yang diharapkan dari penyelenggaraan pendidikan nonformal khususnya bagi petani kooperator adalah penyebaran informasi kepada anggota kelompoknya maupun petani dari luar kelompoknya. Soekartawi (1988) menyatakan bahwa pengalaman kursus yang dimiliki seseorang akan ikut mempengaruhi kecepatan dalam mengambil keputusan.
Begitu juga dari kursus atau pelatihan pertanian diperoleh penambahan pengetahuan, kecakapan dalam pengelolaan usahatani, keterampilan dalam melaksanakan tugas operasional, kreativitas dan percaya diri.
Pendapatan
Tingkat pendapatan rata-rata petani dihitung berdasarkan seluruh penghasilan dalam satu bulan yang bersumber dari pendapatan usahatani on-farm maupun off-farm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani di Jawa Barat adalah Rp 1.816.260/bulan. Nilai rata-rata pendapatan ini tergolong tinggi pada petani kooperator dan nonkooperator di Jawa Barat bila dilihat pendapatan petani di Jawa Barat sendiri yaitu antara Rp 543.000 – Rp 635.175/bulan (BPS Jawa Barat, 2007). Dari hasil penelitian pendapatan rata-rata petani kooperator dan nonkoooperator di Sulawesi Selatan adalah Rp 5.102.075/bulan dimana tergolong
tinggi bila dibandingkan dengan pendapatan petani di Sulawesi Selatan yaitu antara
Rp 1.875.350 – Rp 2.478.550/bulan (BPS Sulawesi Selatan, 2007). Terungkap dalam penelitian ini petani kooperator dan nonkooperator di Jawa Barat sebanyak 25,00%
berpendapatan rendah. Di Sulawesi Selatan, petani kooperator yang berpendapatan rendah (16,66%) dan petani nonkooperator sebanyak 22,92%. Dalam kategori pendapatan sedang, petani kooperator di Sulawesi Selatan (4,17%) dan petani nonkooperator sebanyak 2,08%.
Dari data Tabel 2 di atas, kecenderungan penghasilan petani di dua lokasi penelitian masih rendah terutama pendapatan rata-rata petani di Jawa Barat yang jumlahnya 25,00%. Kondisi ini dapat dipahami bahwa pendapatan petani di Jawa Barat lebih banyak menggantungkan hidupnya pada pertanian khususnya padi gogo dibandingkan dengan petani di Sulawesi Selatan yang menggantungkan hidupnya pada perkebunan dimana hasil panennya banyak diekspor ke luar negeri. Rendahnya pendapatan petani akan berpengaruh kepada rendahnya adopsi teknologi inovasi yang dibawa Prima Tani. Kurangnya adopsi teknologi inovatif yang diintroduksi Prima Tani berpengaruh terhadap peningkatan hasil produksi pada akhirnya berdampak kepada pendapatan usahatani petani. Asumsi di atas didukung Soekartawi (1988) menyatakan bahwa pendapatan usahatani yang tinggi seringkali berhubungan dengan tingkat adopsi inovasi pertanian. Adopsi inovasi menyebabkan pendapatan petani meningkat, kemudian petani kembali akan menanam modalnya untuk inovasi selanjutnya.
Responden yang pendapatannya tergolong tinggi antara Rp 6.745.030- Rp 10.030.800 oleh petani kooperator di Sulawesi Selatan sebanyak 4,17% yang lebih mendominasi jumlah dari kategori pendapatan lainnya. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program Prima Tani di beberapa lokasi penelitian pembinaannya masih perlu ditingkatkan disebabkan teknologi introduksi yang berdampak kepada peningkatan pengetahuan dan pendapatan petani belum terlihat secara nyata.
Keadaan ini diakui sebagian besar responden bahwa pembinaan dan pengenalan teknologi introduksi masih memerlukan waktu banyak dan terus menerus sehingga petani mampu mandiri dan kreatif.
Pengalaman Bertani
Pengalaman bertani adalah satuan tahun usahatani yang dilakukan oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan secara umum responden mempunyai pengalaman tani cukup bervariasi. Dimulai pada kategori cukup berpengalaman tani terlihat dari lamanya usahatani yang telah dilakukan oleh petani kooperator (17,71%) dan petani nonkooperator (12,50%) di Jawa Barat. Pada kategori ini, petani kooperator di Sulawesi Selatan (2,08%) lebih sedikit jumlahnya dengan petani nonkooperatornya (4,17%). Tetapi dalam kategori pengalaman tani antara 24-45 tahun, jumlah petani kooperator di Sulawesi Selatan lebih banyak (19,79%) dibanding petani nonkooperatornya (16,66%). Di Jawa Barat, pengalaman tani petani kooperator antara 24-45 tahun hanya 7,29% lebih sedikit dibanding jumlah petani nonkooperatornya (10,42%). Pada kategori berpengalaman tani antara 46-68 tahun, jumlah petani nonkooperator di Sulawesi Selatan (4,17%) lebih banyak dibanding jumlah petani kooperatornya (3,13%). Pada kategori ini, jumlah petani nonkooperator Jawa Barat hanya 2,08%.
Dari uraian tersebut, tingginya pengalaman berusahatani petani menggambarkan kinerja petani pada tingkatan yang kuat. Namun pengalaman bertani yang tinggi belum dapat dimaknai berkinerja kuat. Rogers (2003) menyatakan bahwa petani yang tergolong dalam kelompok laggard, sebagian besar adalah petani berusia tua dan berpengalaman tinggi dalam berusahatani. Pengalaman yang tinggi seringkali membuat mereka taklid dan apriori terhadap inovasi-inovasi baru yang diintroduksikan.
Di sisi lain, wawancara dengan petani di lapangan mengakui bahwa kurang lamanya program Prima Tani yang dilakukan, belum sepenuhnya dapat mendidik dan menciptakan petani untuk menjadi lebih mandiri, inovatif terhadap teknologi yang diintroduksikan walaupun pengalaman mereka cukup tinggi. Ini disebabkan budaya setempat yang masih melekat dalam masyarakat. Hal ini diakui pula ketika melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan BPTP Jawa Barat dan Sulawesi Selatan menyatakan bahwa ada kesulitan untuk mengubah kebiasaan petani dalam berusahatani, perilaku mereka yang spesifik dan cenderung tradisional. Analisa tersebut didukung Soejanto dalam Setiawan (2002) bahwa golongan orang-orang tua mempunyai pandangan yang didasarkan kepada tradisi kuat sehingga sukar
mengadakan perubahan yang nyata. Mereka yang berpengalaman tinggi juga sudah jenuh dengan berbagai program rekayasa sosial.
Luas Lahan Garapan
Luas lahan garapan menjadi faktor penentu produksi, produktivitas, pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani. Tingginya pertambahan penduduk berdampak pada konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan perumahan, akibatnya luas lahan pertanian makin berkurang. Oleh sebab itu, luas lahan garapan pertanian baik dimiliki sendiri, disewakan maupun bagi hasil menjadi semakin sempit. Penelitian menunjukkan bahwa luas lahan yang digarap oleh petani baik di Jawa Barat dan di Sulawesi Selatan pada umumnya tergolong cukup luas yaitu antara 0,25-2,17 ha. Pada kategori ini, secara umum luas lahan banyak dimiliki oleh petani kooperator (22,92%) atau 25,00% dimiliki oleh petani nonkooperator di Jawa Barat dan dimiliki sama banyaknya oleh petani kooperator maupun nonkooperator di Sulawesi Selatan (18,74%). Pada luas garapan antara 2,18-4,09 ha dimiliki petani kooperator Jawa Barat (2,08%) dimana jumlah ini lebih sedikit dibanding luas lahan yang dimiliki petani kooperator di Sulawesi Selatan (3,13%), tetapi banyak dimiliki oleh petani nonkooperator (6,25%) di Sulawesi Selatan. Responden yang mempunyai luas lahan 4,10-6,0 ha dimiliki oleh petani kooperator di Sulawesi Selatan (3,13%).
Fenomena ini dapat dipahami bahwa sebagian besar luas lahan garapan lebih banyak dimiliki oleh petani di Sulawesi Selatan karena sebagian besar mereka adalah petani kebun. Hal ini dikuatkan wawancara dengan petani kooperator bahwa mereka mempunyai luas lahan garapan banyak digunakan untuk menanam pohon tahunan seperti kakao yang menurut mereka menguntungkan. Keuntungan yang didapatkan dari hasil perkebunan akan diinvestasikan pada pembelian lahan baru, alat pertanian dan teknologi baru yang menguntungkan.
Luas lahan garapan juga dapat berpengaruh terhadap penggunaan teknologi baru atau inovasi. Senada pendapat tersebut, Hartoyo (1982) dari hasil penelitiannya bahwa petani yang mempunyai luas lahan garapan sempit kurang responsif untuk menggunakan teknologi baru atau inovasi. Hal ini disebabkan karena petani kurang memiliki keberanian dan keuletan serta kesanggupan untuk menghadapi resiko dalam menggunakan inovasi. Mengutip istilah Geertz dalam Setiawan (2002) tampak jelas
bahwa banyak petani dalam penelitian ini masuk kategori kinerja lemah. Secara faktual, ketimpangan struktur penguasaan lahan semakin tajam. Meskipun persentase rumah tangga tani yang menguasai lahan di atas satu hektar menurun, namun luas penguasaan lahannya cenderung tetap dan meluas.
Status Lahan Garapan
Berdasarkan Tabel 2 digambarkan umumnya status lahan garapan yang dimiliki oleh petani kooperator dan nonkooperator di Jawa Barat maupun di Sulawesi Selatan dimiliki oleh perorangan. Ini terlihat dari jumlah pemilik lahan garapan sebesar 25,00% dimiliki oleh petani kooperator di Jawa Barat dan di Sulawesi Selatan. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan luas lahan yang dimiliki oleh petani nonkooperator di Jawa Barat yaitu 23,96% dan 22,92% lahan dimiliki oleh petani nonkooperator di Sulawesi Selatan. Sebagian kecil status lahan garapan disewa dan digarap oleh petani nonkooperator di Jawa Barat (1,04%) dan oleh petani nonkooperator di Sulawesi Selatan sebanyak 2,08%.
Kondisi ini diakui petani ketika wawancara bahwa mereka umumnya secara ekonomi mampu membeli lahan garapan seperti sawah maupun kebun sebagai asset usahataninya. Ini berarti pemilikan dan penambahan luas lahan akan berpengaruh terhadap pola usahataninya.
Status dalam Kelompok
Kedudukan seseorang dalam kelompok merupakan perilaku di dalam dimensi tugas dan sosial pada proses interaksi kelompok. Kedudukan seseorang dalam kelompok juga terkait erat dengan pelaksanaan tugas dan kewajiban. Mengacu pada pengertian di atas, kedudukan atau keanggotaan dalam kelompok pada penelitian ini adalah jabatan yang dipegang atau yang diberikan kepada seseorang sebagai ketua, sekretaris/ bendahara dan anggota, juga hubungannya dengan hak-hak, tugas dan kewajiban anggota dalam kelompok.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa komposisi status petani dalam kelompok ternyata bervariasi. Dari jumlah responden, ternyata ada 4,17% petani kooperator Jawa Barat dan 8,33% petani kooperator Sulawesi Selatan berkedudukan sebagai ketua kelompok. Sebanyak 7,29% petani kooperator di Jawa Barat berkedudukan sebagai sekretaris/ bendahara dan 3,13% petani kooperator di Sulawesi Selatan berposisi sebagai sekretaris/ bendahara. Sisanya sebanyak 13,54%
masing-masing petani kooperator Jawa Barat dan petani kooperator Sulawesi Selatan berkedudukan sebagai anggota. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan jumlah petani nonkooperator Jawa Barat (17,71%) dan sebanyak 17,71% petani nonkooperator di Sulawesi Selatan yang berposisi sebagai anggota.
Keragaan keanggotaan tersebut menyimpulkan bahwa posisi dalam kelompok berbeda baik menurut jumlah maupun posisinya. Setiap kelompok mempunyai jumlah keanggotaan yang bervariasi dengan pembagian posisi yang agak berbeda dengan kelompok lainnya.
Gambaran umum di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok tani telah ada pembagian tugas dan wewenangnya. Pembagian tugas dan wewenang itu dilakukan untuk memberikan peranserta para anggota untuk aktif dalam membantu sesama anggota dan kelompok tani lainnya. Hal ini diungkap petani di Jawa Barat maupun di Sulawesi Selatan menyatakan adanya pembagian kerja dengan dibentuknya beberapa seksi tugas berguna untuk memudahkan pekerjaan kelompok tani di dalam membantu para anggotanya.
Menurut Berlo dalam Harun (1987) bahwa status keanggotaan seseorang dalam suatu organisasi baik sebagai pengurus atau anggota biasa berhubungan dengan persepsinya terhadap organisasinya. Seiring dengan uraian di atas, Azahari (1988) menyatakan bahwa lama berdirinya kelompok, lamanya petani menjadi anggota kelompok, kedudukan dan aktivitasnya dalam kelompok tani, cenderung berhubungan dengan tingkat partisipasi petani dalam pembangunan pertanian.
Pemanfaatan Media Komunikasi Prima Tani
Pemanfaatan media komunikasi Prima Tani adalah aktivitas petani dalam menggunakan dan mengikuti kegiatan promosi, sosialisasi dan informasi melalui gelar teknologi, media komunikasi Prima Tani dan klinik agribisnis. Gelar teknologi, media komunikasi Prima Tani dan klinik agribisnis diselenggarakan untuk tujuan:
1) memperkenalkan inovasi pertanian, 2) menjelaskan secara teknis bagaimana menerapkan teknologi tersebut, 3) menyediakan informasi dalam berbagai bentuk tercetak maupun elektronik yang mendukung kegiatan usahatani petani di wilayah binaan Prima Tani. Untuk mengetahui pendapat petani mengenai
komponen-komponen yang ada dalam media gelar teknologi, media komunikasi Prima Tani dan klinik agribisnis, maka dilakukan penelitian yang mendalam.
Gelar Teknologi
Gelar teknologi adalah kegiatan komunikasi atau diseminasi yang menampilkan teknologi hasil program Prima Tani yang di lihat secara visual. Gelar teknologi dalam program Prima Tani mempertunjukkan aspek visual dengan cara menampilkan contoh produk dan teknik-tekniknya kepada petani di lahan percontohan Prima Tani. Pendekatannya lebih bersifat persuasif dan diharapkan terjadi proses tanya-jawab dalam kegiatan tersebut. Gelar teknologi yang dilakukan di wilayah Garut dan Karawang, Jawa Barat; Pangkep dan Luwu, Sulawesi Selatan, bertujuan untuk memperkenalkan hasil atau produk-produk pertanian yang dihasilkan para petani di wilayah binaan Prima Tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden lebih responsif terhadap penyelenggaraan gelar teknologi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keuntungan usahatani dan bertambahnya pengetahuan mengenai teknologi pertanian yang di gelar pada acara tersebut. Adapun gambaran umum dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3 Rataan skor pemanfaatan media komunikasi Prima Tani No Pemanfaatan
media Prima Tani
Rataan Skor *)
Jawa Barat Sulawesi Selatan kooperator nonkooperator kooperator nonkooperator Keterangan: *) 1,00-1,66 = buruk; 1,67-2,33 = jarang/kurang; 2,34-3,00 = baik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media komunikasi Prima Tani di dua provinsi berbeda. Di Jawa Barat, petani kooperator dan nonkooperator kurang merespons kegiatan gelar teknologi yang diadakan dalam program Prima Tani. Ini terlihat pada petani kooperator di Jawa Barat yang memiliki rataan skor 2,27 dan petani nonkooperatornya memiliki rataan skor 2,06. Kondisi ini berbeda dialami oleh petani kooperator di Sulawesi Selatan dimana kegiatan gelar teknologi yang diadakan dalam program Prima Tani sangat direspons dibuktikan nilai rataan skor 2,62 tetapi masih belum di respons oleh petani nonkooperator di Sulawesi
Selatan (1,54) terhadap kegiatan gelar teknologi seperti varietas baru, teknologi budidaya baru, teknologi panen, pengolahan hasil panen maupun cara pemasaran. Di samping itu, keuntungan lainnya yang sering di terima petani kooperator Jawa Barat dalam mengikuti gelar teknologi yaitu pengenalan varietas baru teknologi lebih sering direspons, tetapi dalam pengenalan teknologi budidaya, teknologi panen, teknologi pengolahan hasil dan teknologi pemasaran masih jarang direspons oleh petani kooperatornya. Kondisi ini dialami sama oleh petani nonkooperator di Jawa Barat dimana setiap kegiatan gelar teknologi masih jarang direspons.
Dalam gelar teknologi di Sulawesi Selatan secara umum ada perbedaan dengan di Jawa Barat, dimana petani kooperator sangat merespons setiap kegiatan tersebut. Kegiatan gelar teknologi yang diadakan dalam program Prima Tani seperti pengenalan varietas baru (2,58), teknologi budidaya baru (2,63), teknologi panen (2,58), teknologi pengolahan hasil (2,71) dan teknologi pemasaran (2,58) direspons dengan baik oleh petani kooperator. Di lain pihak, kegiatan gelar teknologi oleh petani nonkooperator seperti pengenalan teknologi baru (1,54), teknologi panen (1,50), teknologi pengolahan hasil dan teknologi pemasaran (1,33) tidak direspons dengan baik. Kondisi tersebut dapat dipahami karena sebagian besar petani nonkooperator baik di Jawa Barat maupun di Sulawesi Selatan masih menggunakan alat-alat sederhana dan masih tradisional dalam mengolah hasil panen masih. Di samping itu, banyak ditemui kendala terutama dalam memasarkan hasil pertanian disebabkan belum adanya lembaga pemasaran khusus yang menampung hasil pertanian mereka. Para petani biasanya menjual langsung kepada pedagang, tengkulak atau ke pasar yang terdekat.
Media Komunikasi Prima Tani
Media komunikasi yang dimanfaatkan dalam kegiatan program Prima Tani lebih banyak metodenya dan bervariasi dalam media yang digunakan. Penyajian media komunikasi dalam program Prima Tani di lapangan diharapkan lebih efektif dan efisien untuk memberikan informasi penting bagi petani. Media komunikasi interpersonal perlu ditunjang dengan media cetak seperti poster, pamplet/ brosur atau
Media komunikasi yang dimanfaatkan dalam kegiatan program Prima Tani lebih banyak metodenya dan bervariasi dalam media yang digunakan. Penyajian media komunikasi dalam program Prima Tani di lapangan diharapkan lebih efektif dan efisien untuk memberikan informasi penting bagi petani. Media komunikasi interpersonal perlu ditunjang dengan media cetak seperti poster, pamplet/ brosur atau