• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum dapat dihitung dengan pengurangan jumlah ransum yang diberikan dengan sisa dan ransum yang terbuang. Rataan konsumsi ransum dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.Rataan konsumsi ransum burung puyuh selama 6 minggu (g/ekor/minggu)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 R0 57,37 70,74 62,81 62,46 253,39 63,34 R1 61,82 86,01 73,64 55,12 276,60 69,15 R2 62,03 64,95 65,65 61,54 254,17 63,54 R3 87,68 62,26 82,76 73,01 305,72 76,43 R4 65,15 65,54 60,24 64,79 255,74 63,93 Total 334,07 349,53 345,11 316,92 1345,64 336,41 Rataan 66,81 69,90 69,02 63,38 269,12 67,28 Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan konsumsi ransum burung puyuh selama penelitian adalah 67,28 g/ekor/minggu. Konsumsi ransum terendah terdapat pada perlakuan R0 (ransum tanpa perlakuan) yaitu sebesar 63,34 g/ekor/minggu, sedangkan konsumsi ransum tertinggi terdapat pada perlakuan R3 (ransum dengan 0,375% probiotik starbio) yaitu sebesar 76,43 g/ekor/minggu.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Pertambahan bobot badan dapat dihitung setiap minggu berdasarkan bobot badan akhir dikurangi bobot badan sebelumnya dalam satuan gram/ekor/minggu. Rataan pertambahan bobot badan burung puyuh yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan pertambahan bobot badan burung puyuh selama 6 minggu (g/ekor/minggu)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 R0 20,16 21,75 20,25 21,83 84 21 R1 19,5 21,75 20,16 17,83 79,25 19,81 R2 23,66 20,91 21 23,5 89,08 22,27 R3 21,08 20,91 22,66 20,16 84,83 21,20 R4 20,58 21,91 20,16 20,91 83,57 20,89 Total 105 107,25 104,25 104,24 420,75 105,18 Rataan 21 21,45 20,85 20,84 84,15 21,03

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan burung puyuh selama penelitian adalah 21,03 g/ekor/minggu dengan kisaran 19,81 g/ekor/minggu sampai dengan 22,27 g/ekor/minggu. Pertambahan bobot badan terendah terdapat pada perlakuan R1 (ransum dengan 0,125% probiotik starbio) yaitu sebesar 19,81 g/ekor/minggu, sedangkan pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan R2 (ransum dengan 0,250% probiotik starbio) yaitu sebesar 22,27 g/ekor/minggu.

Konversi Ransum

Konversi ransum dihitung dengan membandingkan jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang didapat setiap minggunya. Rataan konversi ransum burung puyuh yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Tabel 7. Rataan konversi ransum burung puyuh selama 6 minggu

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 R0 4,22 5,46 4,27 4,59 18,54 4,63 R1 4,55 9,9 5,74 4,89 25,08 6,27 R2 2,81 3,38 3,8 2,94 12,93 3,23 R3 9,44 5,4 5,36 4,74 24,94 6,23 R4 3,72 3,63 3,81 3,79 14,95 3,73 Total 24,74 27,77 22,98 20,95 96,44 24,11 Rataan 4,948 5.5 4,59 4,19 19,28 4,82

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa rataan konversi ransum burung puyuh selama penelitian adalah 4,82, dengan kisaran 3,23 sampai dengan 6,27. Konversi ransum terendah terdapat pada perlakuan R2 (ransum dengan 0,250% probiotik starbio) yaitu sebesar 3,23, sedangkan konversi ransum tertinggi terdapat pada perlakuan R1 (ransum dengan 0,125% probiotik starbio) yaitu sebesar 6,27.

Mortalitas

Mortalitas burung puyuh dapat dihitung dengan membandingkan antara jumlah puyuh awal yang telah dikurangi dengan jumlah puyuh akhir, dibandingkan dengan jumlah puyuh awal dikali dengan 100%. Persentase mortalitas burung puyuh selama penelitian didapat sebesar 7,25%.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Pembahasan

Konsumsi Ransum

Untuk mengetahui pengaruh probiotik starbio dalam ransum burung puyuh terhadap konsumsi ransum burung puyuh, maka dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada Tabel 8.

Tabel 8. Analisis keragaman konsumsi ransum burung puyuh selama 6 minggu

SK DB JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 4 511,31 127,82 1,81tn 3,05 4,89 Galat 15 1056,64 70,44 Total 19 1567,95 KK = 12.47% Keterangan : * = Nyata ** = Sangat Nyatas tn = Tidak Nyata

Hasil analisis keragaman pada Tabel 8 menunjukkan bahwa F Hitung lebih kecil dari F Tabel pada taraf 0,05 yang berarti bahwa perlakuan R0, R1, R2, R3 dan R4 pada ransum burung puyuh memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap konsumsi ransum burung puyuh, walaupun konsumsi ransum burung puyuh yang diperoleh antara perlakuan sedikit berbeda yaitu pada R0 = 63.34 g/ekor/minggu, R1 = 69.15 g/ekor/minggu, R2 = 63.54 g/ekor/minggu, R3 = 76.43 g/ekor/minggu dan R4 = 63.93 g/ekor/minggu.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Pemberian probiotik Starbio pada ransum tidak berpengaruh pada konsumsi ransum. Hal ini disebabkan karena semua perlakuan diberi ransum yang kualitasnya sama yaitu isoprotein dan isoenergi. Namun pada setiap perlakuan terdapat perbedaan level penambahan starbio. Meskipun terdapat level pemberian starbio, cara pemberian starbio yang dicampur langsung ke dalam ransum tidak menyebabkan terjadinya perkembangbiakan awal mikroorganisma yang efektif. Hal inilah kemungkinan yang menyebabkan tidak terjadinya proses kecernaan yang efektif dari ransum bila dibandingkan dengan pemberian starbio melalui air minum. Diketahui bahwa mikroorganisma dalam keadaan dorman, sehingga akan lebih baik lagi bila mikroorganisma starbio dirangsang untuk berkembangbiak dengan cara dicampur dengan air. Seperti yang dinyatakan oleh Wahyu (1997), faktor utama yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah kandungan energi metabolisme dan burung puyuh akan berhenti makan apabila kebutuhan akan energi sudah terpenuhi walaupun tembolok belum penuh. Di samping itu, hal itu juga disebabkan karena unggas yang diberi pakan kontrol (dengan kadar serat kasar sebesar 3,58%) tidak mampu mencerna serat kasar karena unggas tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna serat kasar.

Seperti yang tercantum pada Tabel 4, dinyatakan bahwa konsumsi ransum burung puyuh terbesar terdapat pada perlakuan R3 (sebesar 76,43 g/ekor/minggu), sedangkan pada Tabel 6 tercantum bahwa pertambahan bobot badan burung puyuh terbesar terdapat pada perlakuan R2 (sebesar 22,27 g/ekor/minggu). Hal ini berarti pada perlakuan R2 terjadi efisiensi ransum, yang terlihat bahwa hanya dengan tingkat konsumsi ransum sebesar 63,54 g/ekor/minggu, mampu meningkatkan pertambahan bobot badan sebesar 22,27 g/ekor/minggu.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Cunningham dan Cox (1987), yang menyatakan bahwa probiotik berguna untuk memperbaiki pemanfaatan pakan. Peningkatan efisiensi proses pencernaan atau mendukung proses pencernaan sebelumnya dari substansi yang sulit dicerna. Contoh Ent. Faecium pada unggas meningkatkan kecernaan selulosa.

Seharusnya, pemberian probiotik starbio dapat meningkatkan konsumsi ransum pada ternak, akan tetapi dalam penelitian ini tidak berpengaruh positif terhadap konsumsi ransum ternak karena probiotik starbio diberikan ke dalam ransum yang mengakibatkan lebih sedikitnya bakteri yang terdapat pada probiotik yang masuk ke dalam tubuh ternak. Probiotik starbio merupakan probiotik anaerob, yang berarti bersifat dorman akan hidup jika bercampur dengan air, dan dalam keadaan basah tersebutlah mikroba-mikroba dalam probiotik akan berkembang biak, sehingga pada waktu masuk ke dalam tubuh ternak, mikroba sudah dalam jumlah yang banyak. Sedangkan probiotik yang dicampur langsung pada ransum akan dalam keadaan kering, sehingga mikroba pada probiotik akan berkembang biak setelah di dalam tubuh ternak dan masih dalam jumlah yang sedikit. Oleh karena itu, dengan sedikitnya mikroba yang terdapat di dalam tubuh ternak ini, maka proses pencernaan di dalam tubuh akan kurang, sehingga lebih sedikit zat nutrisi yang dapat diserap tubuh ternak.

Dari tabel 5 didapat bahwa rataan konsumsi ransum tertinggi pada umur 6 minggu sebesar 69,90 g/ekor/minggu. Berarti konsumsi ransum yang diperoleh setiap harinya adalah sebesar 9,98 g/ekor/hari. Berdasarkan pernyataan Gema Penyuluhan Pertanian (1984) pada tabel 4 diperoleh bahwa ransum yang diberikan pada umur 6 minggu pada burung puyuh sebesar 15 g/ekor/minggu. Dari hal

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah ransum yang diberikan dengan penambahan probiotik starbio lebih efisien dibandingkan dengan jumlah ransum yang diberikan pada burung puyuh pada umumnya, karena pada penambahan probiotik starbio, konsumsi ransumnya lebih sedikit dibandingkan dengan konsumsi ransum burung puyuh pada umumnya.

Pertambahan Bobot Badan

Untuk mengetahui pengaruh probiotik starbio dalam ransum burung puyuh terhadap pertambahan bobot badan burung puyuh, maka dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Analisis keragaman pertambahan bobot badan burung puyuh selama 6 minggu SK DB JK KT F Hit F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 4 12,29 3,07 2,06tn 3,05 4,89 Galat 15 22,30 1,48 Total 19 34,59 KK = 5.79% Keterangan : * = Nyata ** = Sangat Nyata tn = Tidak Nyata

Hasil analisis keragaman pada Tabel 9 menunjukkan bahwa F Hitung lebih kecil dari F Tabel pada taraf 0,05 yang berarti bahwa perlakuan R0, R1, R2, R3 dan R4 pada ransum burung puyuh memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pertambahan bobot badan burung puyuh, walaupun pertambahan bobot badan burung puyuh yang diperoleh antara perlakuan sedikit berbeda yaitu pada

R0 = 21 g/ekor/minggu, R1 = 19.81 g/ekor/minggu, R2 = 22.27 g/ekor/minggu, R3 = 21.20 g/ekor/minggu dan R4 = 20.89 g/ekor/minggu.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Meningkatnya berat badan akhir dan pertambahan berat badan ternak yang diberi Starbio pada ransum disebabkan karena Starbio sebagai probiotik mengandung bakteri proteolitik, selulolitik, lipolitik, lignolitik dan amilolitik serta nitrogen fiksasi non simbiosis yang berfungsi untuk memecah karbohidrat, yaitu

selulose, hemiselulose dan lignin memecah protein dan lemak (Lembah Hijau Indonesia, 1995).

Akibatnya, ternak yang diberi tambahan probiotik starbio mempunyai daya cerna yang lebih tinggi sehingga zat-zat pakan yang diserap juga lebih banyak dan juga berat badan akhir dan pertambahan berat badannya lebih tinggi daripada kontrol. Ini diperkuat oleh hasil penelitian Zainuddin dkk (1994) didapatkan bahwa penambahan probiotik Starbio 0,25 % pada pakan yang mengandung serat kasar < 6 % nyata dapat meningkatkan pertambahan berat badan ternak unggas.

Peningkatan dosis Starbio (pada R3 dan R4 tidak berpengaruh lebih baik terhadap pertambahan bobot badan burung puyuh. Hal ini disebabkan karena ransum yang diberikan mengandung serat kasar yang rendah (± 3 %), sehingga dengan dosis yang paling rendah (0,25 % probiotik starbio) sudah mampu mencerna zat-zat pakan yang dikonsumsi sehingga peningkatan dosis pemberian starbio lebih tinggi dari perlakuan R2 tidak akan berpengaruh positif terhadap pertambahan bobot badan burung puyuh.

Dari hasil penelitian didapat bahwa pertambahan bobot badan pada burung puyuh tidak meningkat karena mungkin tidak dapat dicernanya dengan baik pakan yang tersedia. Hal ini terjadi karena sedikitnya mikroba yang masuk ke dalam tubuh ternak, karena tidak bercampurnya dengan air.

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Wididana et al (1996) menyatakan bahwa penggunaan probiotik yang dicampurkan di dalam air minum akan memperbaiki komposisi mikroorganisme yang berada dalam perut ternak sehingga akan dapat meningkatkan pertumbuhan atau produksi ternak.

Dari tabel 6 didapat bahwa pada minggu ke 6, rataan pertambahan bobot badan terendah sebesar 20,84 g/ekor/minggu. Berarti, bobot badan burung puyuh dari minggu 1 sampai dengan minggu ke 6 didapat sebesar 125,04 g/ekor/minggu. Berdasarkan Listiyowati (2005) yang tertera pada tabel 3 dinyatakan bahwa pada tingkat EM sebesar 2770 kkal/kg dan Protein sebesar 30%, dinyatakan bahwa bobot burung puyuh pada umur 6 minggu sebesar 123,3 g/ekor/minggu. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa meskipun hasil yang diperoleh pada pertambahan bobot badan tidak nyata, tetapi berdasarkan Listiyowati (2005), pertambahan bobot badan burung puyuh dalam penelitian ini cukup baik, karena bobot badannya di atas rata-rata bobot badan burung puyuh pada umumnya.

Konversi Ransum

Untuk mengetahui pengaruh probiotik starbio dalam ransum burung puyuh terhadap konversi ransum burung puyuh, maka dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada Tabel 10.

Tabel 10. Analisis keragaman konversi ransum burung puyuh selama 6 minggu

SK DB JK KT F Hit F Tabel 0.05 0.01 Perlakuan 4 31,32 7,83 3,46* 3,05 4,89 Galat 15 33,90 2,26 Total 19 65,22 KK = 31.17% Keterangan : * = Nyata ** = Sangat Nyata

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

tn = Tidak Nyata

Hasil analisis keragaman pada Tabel 10 menunjukkan bahwa probiotik starbio dalam ransum burung puyuh memberikan pengaruh nyata terhadap konversi ransum burung puyuh.

Untuk melihat perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) seperti pada tabel 11.

Tabel 11. Uji BNT untuk konversi ransum burung puyuh

Perlakuan Rataan F 0.05 F 0.01 R0 4,63 ab AB R1 6,27 b B R2 3,23 a A R3 6,23 b AB R4 3,73 a AB

Dari uji BNT juga dapat dilihat bahwa pada taraf 0,05, R1 dan R3 berbeda nyata dengan R2 dan R4. Pada perlakuan R2 dan R4, angka konversi ransum lebih rendah dari pada perlakuan R1 dan R3.

Angka konversi ransum menunjukkan tingkat penggunaan ransum dimana jika angka konversi semakin kecil maka penggunaan ransum semakin efisien dan sebaliknya jika angka konversi besar maka penggunaan ransum tidak efisien (Campbell, 1984).

Anggorodi (1985) menyatakan bahwa angka konversi ransum dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : umur ternak, bangsa, kandungan gizi ransum, keadaan temperatur dan keadaan unggas.

Rekapitulasi Hasil Pemberian Probiotik Starbio pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Periode Pertumbuhan

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Tabel 12. Rekapitulasi hasil penelitian Perlakuan Konsumsi Ransum

(gram/ekor/minggu) PBB (gram/ekor/minggu) Konversi Ransum R0 63,34tn 21tn 4,63ab R1 69,15tn 19,81tn 6,27b R2 63,54tn 22,27tn 3,23a R3 76,43tn 21,2tn 6,23b R4 63,93tn 20,89tn 3,73a

Vicky Al-Wirya Putri : Pemberian Probiotik Starbio Pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Periode Pertumbuhan, 2010.

Dokumen terkait