• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bobot Lahir

Bobot lahir adalah bobot saat dilahirkan atau bobot hasil penimbangan dalam kurun waktu 24 jam setelah dilahirkan (Hardjosubroto, 1994).

Tabel 4. Rataan Bobot Lahir Kelinci

Bobot Lahir N x ± sb

NZa x NZb 26 45,85 ± 8,91

La x Lb 30 47,70 ± 8,01

NZa x Lb 29 51,76 ±10,13

La x NZb 28 44,68 ±11,05

NZ = New Zealand White, L = Lokal, a = Jantan, b = Betina

Rataan bobot lahir kelinci NZa x NZb, La x Lb, NZa x Lb dan La x NZb yang didapat pada penelitian ini berturut-turut sebesar 45,85±8,91; 47,70±8,01; 51,76±10,13 dan 44,68±11,05. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Khalil et al. (1995), rataan bobot lahir kelinci NZ(buck) x NZ(doe), BR(buck) x BR(doe), NZ(buck) x BR(doe) dan BR(buck) x NZ(v) berturut sebesar 52±1,5; 49±1,9; 53±1,9 dan 53±2,1. Lebih tinggi dibandingkan hasil yang dilaporkan oleh Egena et al. (2012), pada kelinci CH(buck) x CH(dam), NZ(doe) x NZ(doe), CH(buck) x NZ(doe) dan NZ(buck) x CH(doe) berturut-turut sebesar 41,18±3,39; 40,65±5,30; 39,07±7,09 dan 39,61±3,45. Brahmantiyo dkk. (2009), mengemukakan bahwa jumlah anak yang tinggi menghasilkan bobot individu lebih rendah. Akan tetapi hasil pada penelitian ini berbanding terbalik dengan pendapat tersebut. Indikasi yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah

maternal (induk) disetiap ternak yang berbeda. Hal ini sesuai dengan peryataan Edey (1986), yang menyatakan bobot lahir dan pertumbuhan sebelum sapih masih

Bobot Sapih

Bobot sapih adalah bobot pada saat dipisahkan dari induknya. Bobot sapih merupakan indikator dari kemampuan induk untuk menghasilkan susu dan kemampuan anak untuk mendapatkan air susu dan tumbuh (Hardjosubroto, 1994). Tabel 5. Rataan Bobot Sapih Kelinci

Bobot Sapih N x ± sb NZa x NZb 26 473,15 ± 88,72 391,63 ± 71,54 514,17 ± 102,81 419,07 ± 151,41 La x Lb 30 NZa x Lb 29 La x NZb 28

NZ = New Zealand White, L = Lokal, a = Jantan, b = Betina

Rataan bobot sapih kelinci NZa x NZb, La x Lb, NZa x Lb dan La x NZb yang didapat pada penelitian ini berturut-turut sebesar 473,15±88,72; 391,63±71,54; 514,17±102,81 dan 419,07±151,41. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan Khalil et al. (1995), rataan bobot sapih kelinci NZ(buck) x NZ(doe), BR(buck) x BR(doe), NZ(buck) x BR(doe) dan BR(buck) x NZ(doe) berturut sebesar 404±10; 401±12; 418±13 dan 426±15. Perbedaan ini mungkin disebabkan karena terbatasnya kemampuan induk untuk mencukupi kebutuhan susu yang diperlukan anaknya selama periode menyusu. Besar litter size yang tinggi, sehingga anak tidak dapat menerima susu secara optimal sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan normal, sehingga pertumbuhan terganggu (Setyawan, 1982). Hal ini diperkuat dengan peryataan Bourdon (1997), yang menyatakan bobot sapih merupakan sifat yang dipengaruhi komponen genetik induk (maternal genetic effect) yaitu pengaruh gen yang mempengaruhi kondisi lingkungan pada induk yang pada akhirnya mempengaruhi performans individu, pengaruh maternal genetik anatara lain adalah produksi susu induk dan tingkah laku menyusui.

Efek Heterosis

Heterosis adalah rataan keunggulan keturunan dibandingkan dengan rataan kedua kelompok tetuanya sebagai akibat dari perbedaan frekuensi gen diantara tetuanya dan adanya efek dominan dan atau epistasis (Falconer dan Mackay, 1996). Menurut Xu dan Zhu (1999) dan Sutiyono dkk (2011), menyatakan heterosis terjadi akibat adanya interaksi dari pertemuan diantara gen-gen aditif maupun perpaduan aktivitas gen pada suatu lingkungan yang mendukung atau lingkungan yang cocok.

Tabel 6. Efek Heterosis

Variabel % Heterosis

NZa x Lb La x NZb

Bobot Lahir -4,09 -13,36

Bobot Sapih -8,26 -18,35

NZ = New Zealand White, L= Lokal, a = Jantan, b = Betina

Nilai dugaan efek heterosis bobot lahir dan bobot sapih NZa x Lb; bobot lahir dan bobot sapih La x NZb pada penelitian ini berturut-turut sebesar -4,09 dan -8,26 ; -13,36 dan -18,35. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan Khalil et al. (1995) heterosis bobot lahir dan sapih berturut-turut sebesar 2,5 dan 19,1 pada kelinci persilangan New Zealand White x Baladi Red. Persilangan kelinci New Zealand White x Californian menghasilkan efek heterosis berat hidup 35 hari dan 63 hari sebesar 36 dan 60 (Ouyed dan Brun, 2008). Efek heterosis suatu karakter dapat juga negatif, yang disebabkan oleh perpaduan gen yang menimbulkan suatu sifat menjadi lebih rendah dari rata-rata penampilan kedua tetuanya. Efek heterosis yang negatif pada persilangan antar spesies lebih tampak pada karakter reproduksi (Cassady et al., 2002; Sutiyono dkk, 2011).

Estimasi Nilai Heritabilitas

Heritabilitas adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bagian dari keragaman total suatu sifat yang diakibatkan oleh pengaruh genetik. Pengetahuan tentang besarnya heritabilitas penting dalam mengembangkan seleksi dan rencana perkawinan untuk memperbaiki ternak (Warwick et al., 1990). Heritabilitas merupakan rasio yang menunjukkan persentase keunggulan tetua yang rata-rata diwariskan kepada anaknya (Warwick et al., 1995).

Tabel 7. Nilai Dugaan Heritabilitas Bobot Lahir, Bobot Sapih dan Litter Size

Sifat Produksi Jumlah Pejantan (ekor) Jumlah Anak (ekor) Nilai Heritabilitas (h2) Bobot Lahir 4 113 0,26 Bobot Sapih 4 113 0,75 Litter Size 4 113 -0,46

Hasil analisis statistik menunjukkan nilai heritabilitas kelinci sifat bobot lahir sebesar 0,26 (tabel 7). Hal ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Khalil et al. (1986) dan Brahmantiyo dan Raharjo (2011), yang melaporkan dugaan heritabilitas bobot lahir sebesar 0,124 pada kelinci New Zealand White, 0,12 pada kelinci Bouscat dan 0,40 pada kelinci Giza White. Adanya perbedaan ini sesuai dengan pendapat Khalil et al. (1986) dan Brahmantiyo dan Raharjo (2011), bahwa adanya perbedaan nilai dugaan heritabilitas disebabkan oleh (a) metode analisis yang digunakan untuk menduga; (b) ekspresi genetik setiap bangsa di dalam populasi yang berbeda; (c) jumlah data yang digunakan; dan (d) faktor koreksi untuk sifat non-genetik yang dibuat pada setiap data.

Nilai heritabilitas sifat bobot sapih pada penelitian ini sebesar 0,75 (Tabel 7). Hal ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Brahmantiyo

dan Raharjo (2011), yang melaporkan dugaan nilai heritabilitas bobot sapih kelinci RR, SS dan RS berturut turut sebesar 0,93 ; 0,82 dan 0,98. Dugaan heritabilitas penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dugaan heritabilitas bobot sapih kelinci FZ-3 (Flemish Giant 37,5% dan Reza 62,5%) sebesar 0,36 (Lukefahr, 1996; Brahmantiyo dkk, 2013). Khalil et al. (1986) dan Brahmantiyo dan Raharjo (2011), melaporkan nilai dugaan heritabilitas bobot sapih umur 42 hari kelinci New Zealand White sebesar 0,14; kelinci Bouscat sebesar 0,29 dan kelinci Giza White sebesar 0,62. Nilai heritabilitas suatu sifat akan bervariasi antar populasi dan bangsa. Perbedaan variasi tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan faktor genetik (ragam genetik), perbedaan lingkungan (ragam lingkungan), metode dan jumlah cuplikan data yang digunakan (Falconer dan Mackay, 1989; Hamdan, 2010). Warwick et al. (1990), menyatakan bahwa diperlukan jumlah sampel minimal 500 sampel agar nilai heritabilitas yang diperoleh handal.

Nilai heritabilitas litter size pada penelitian ini sebesar -0,46 (Tabel 7). Nilai heritabilitas litter size mempunyai nilai minus meskipun secara teoritis nilai heritabilitas tidak lebih dari satu. Nilai heritabilitas negatif atau lebih dari satu secara biologis tidak mungkin. Hal tersebut dimungkinkan disebabkan oleh keseragaman yang disebabkan oleh lingkungan yang berbeda untuk keluarga kelompok yang berbeda, metode yang digunakan tidak tepat sehingga tidak dapat menunjukkan antara ragam genetik dan ragam lingkungan dengan selektif, kesalahan dalam pengambilan sampel (warwick et al., 1995).

Ripitabilitas merupakan dari ragam total suatu populasi yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan antara individu yang bersifat permanen (warwick et al., 1990). Menurut Sundasesan (1975), jika nilai ripitabilitasnya tinggi, maka ternak dapat dipertahankan atau dikeluarkan dari peternakan berdasarkan catatan pertama pengamatan, namun jika ripitabilitasnya rendah diperlukan pengamatan lebih dari satu kali pada karakter yang sama sebelum menentukan kehidupan produksi ternak yang bersangkutan.

Tabel 8. Nilai Dugaan Ripitabilitas Sifat Bobot Lahir, Bobot Sapih dan Litter Size

Sifat Produksi Jumlah Betina (ekor) Jumlah Anak (ekor) Nilai Ripitabilitas (r2) Bobot Lahir 16 113 0,17 Bobot Sapih 16 113 0,4 Litter Size 16 113 0,3

Ripitabilitas bobot lahir, bobot sapih dan litter size pada penelitian ini berturut-turut 0,17; 0,4 dan 0,3. Rastogi et al. (2000) dan Brahmantiyo dan Raharjo (2005), melaporkan penelitian terhadap kelinci yang dikembangbiakkan di lingkungan tropis lembab memperoleh nilai dugaan ripitabilitas sifat jumlah anak lahir, lahir hidup, jumlah anak umur 21 hari, 28 hari dan 84 hari berturut-turut sebesar 0,30; 0,32; 0,26; 0,25 dan 0,19. Bobot anak umur 21 hari, 28 hari dan 84 hari nilai dugaan ripitabilitasnya adalah 0,18; 0,19 dan 0,09. Pada penelitian yang menggunakan kelinci New Zealand White dan Chinchilla nilai dugaan ripitabilitas Jumlah sekelahiran, jumlah anak sekelahiran hidup dan bobot anak sekalahiran hidup berturut-turut sebesar 0,26; 0,17 dan 0,25 (Egena et al., 2012). Falconer dan Trudy (1996) dan Negara (2014), menyatakan bahwa nilai ripitabilitas juga tidak bersifat tetap, melainkan bervariasi antara 0,0 sampai 1,0 dan besarnya tergantung pada besarnya ragam genetik dan lingkungan.

Korelasi Genetik

Terdapat 3 pengertian korelasi, yaitu korelasi fenotipik (rp), korelasi genotipik (rg) dan korelasi lingkungan (re), maka pembahasan yang paling penting adalah korelasi genetik (Kurnianto, 2009). Karnaen (2008) menyatakan bahwa korelasi genetik adalah korelasi dari pengaruh aditif atau nilai pemuliaan sifat kuantitatif, sedangkan korelasi fenotipik merupakan korelasi total dari semua sifat yang dimiliki ternak. Faktor yang diwariskan tetua kepada keturunannya adalah faktor genetik, bukan faktor lingkungan. Korelasi genetik sangat penting jika dua sifat berkorelasi secara genetik, maka seleksi untuk suatu sifat akan menyebabkan perubahan pada sifat lain (Kurnianto, 2009).

Tabel 9. Korelasi Sifat Bobot Lahir Terhadap Bobot Sapih pada Kelinci

Sifat N Nilai Korelasi Genetik

Bobot Lahir – Bobot Sapih 113 0,52

Pada penelitian ini didapatkan nilai korelasi antara bobot lahir dengan bobot sapih sebesar 0,52. Hasil ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Lukefahr et al. (1996) dan Larzul et al. (2000), melaporkan korelasi genetik antara berat sapih umur 70 hari hanya sedang sebesar 0,58. Lasley (1978), menyatakan bahwa korelasi yang memiliki nilai positif sangat berguna dalam program perbaikan genetik melalui seleksi, dengan peningkatan produksi satu sifat melalui seleksi akan meningkatkan sifat lain yang berkorelasi.

Dokumen terkait