• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil regresi yang telah dilakukan pada tabel 4.17, model persamaan yang terpilih adalah fixed effect model, sebagai berikut:

𝐿𝐽𝐼𝑖𝑑 = 𝛽0 + 𝛽1πΏπ‘ˆπ‘–π‘‘+ 𝛽2𝑇𝑃𝐴𝐾𝑖𝑑+ 𝛽3πΏπ‘Šπ‘ π‘–π‘‘+ 𝛽4𝐷𝑅𝑒𝑙𝑖𝑖𝑑 + πœ€π‘–π‘‘

𝐿𝐽𝐼𝑖𝑑 = 57.0188 βˆ’ 3.7891βˆ—πΏπ‘ˆπ‘–π‘‘βˆ’ 0.0489βˆ—π‘‡π‘ƒπ΄πΎπ‘–π‘‘+ 0.119βˆ—πΏπ‘Šπ‘ π‘–π‘‘+ 1.2439βˆ—π·π‘…π‘’π‘™π‘–π‘–π‘‘ Keterangan: tanda (*) menunjukkan variabel tersebut signifikan dengan Ξ±=5%.

Persamaan matematis dalam regresi panel dapat djelaskan dengan interpretasi ekonomi dan mengaitkan teori-teori ekonomi dengan hasil estimasi dari upah minimum kabupaten/kota, tingkat partisipasi angkatan kerja,

commit to user

ketersediaan air, dan relokasi industri di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2019, sabagai berikut:

1. Upah

Koefisien variabel upah dalam hasil persamaan regresi pada tabel 4.17 diketahui bernilai sebesar -3,7891 dengan probabilitas statistik sebesar 0,0000.

Hal ini berarti bahwa antara variabel upah (variabel independen) dan jumlah industri (variabel dependen) mempunyai arah hubungan yang negatif dan pengaruhnya signifikan. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa setiap kenaikan upah sebesar 1% maka secara signifikan akan mengakibatkan penurunan atau pengurangan jumlah industri di setiap kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah sebesar 3,7891% industri, dengan asumsi variabel lain konstan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wang et al (2019), bahwa upah berpengaruh signifikan negatif terhadap jumlah industri dan penelitian Huang et al (2011) bahwa industri padat karya akan berada di wilayah dengan upah yang relatif lebih rendah dibandingkan idustri teknologi tinggi. Sejalan dengan teori biaya produksi menyebutkan bahwa upah merupakan beban perusahaan sehingga apabila beban perusahaan melebihi kemampuan perusahaan itu sendiri maka perushaan akan mengalami gulung tikar atau memindahkan perusahaannya sehingga terjadi perubahan jumlah indurtri.

2. TPAK

Koefisien variabel tingkat partisipasi angkatan kerja dalam hasil persamaan regresi pada tabel 4.17 diketahui bernilai sebesar -0,0489 dengan

commit to user

probabilitas statistik sebesar 0,0000. Hal ini berarti bahwa antara variabel tingkat partisipasi angkatan kerja (variabel independen) dan jumlah industri (variabel dependen) mempunyai arah hubungan yang negatif dan pengaruhnya signifikan. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa setiap kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 1% maka secara signifikan akan mengakibatkan jumlah industri di setiap kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah akan menurun sebesar 0,0489%, dengan asumsi variabel lain konstan.

Hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata memiliki hasil yang berbeda dengan hipotesis dan penelitian sebelumnya. Penelitin sebelumnya dan hipotesis yang dibuat adalah tingkat partisipasi angkatan kerja berpengaruh positif terhadap jumlah industri. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan hasil yang sebaliknya yaitu memiliki hubungan yang negatif yaitu apabila jumlah dari tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat akan menurunkan jumlah industri. Hal tersebut dikarenakan daya tampung perusahaan dalam perekrutan tenaga kerja yang relatif lebih sedikit dengan pertimbangan upah yang dibayarkan. Selain itu, kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan kurang sesuai dengan klasifikasi yang diinginkan oleh perusahaan, dimana banyak tenaga kerja yang digantikan oleh mesin sehingga tenaga ahli lebih dibutuhkan dibandingkan tenaga kerja yang kurang memiliki keahlian tersebut dalam pengoprasian industri. Tenaga kerja yang diserap oleh industri memiliki hubungan negatif seperti penelitian terdahulu Yanuwardani dan Woyanti (2019). Didukung oleh teori Lewis yang menjelaskan tentang perpindahan tenaga kerja dikarenakan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi

commit to user

akan muncul perubahan struktural dari sektor tradisional ke sektor modern.

Lewis (1954) menuliskan bahwa penghasilan dalam sektor yang subsisten menjadikan upah dasar pada sektor modern, tapi dalam prakteknya upah sektor modern lebih tinggi daripada yang ditetapkan dan biasanya terjadi gap sebesar 30% atau lebih antara upah sektor modern dengan penghasilan di sektor subsisten. Gap tersebut adalah illusory karena tingginya biaya hidup di sektor modern (Wijayanti,2015).

3. Ketersediaan Air

Koefisien variabel ketersediaan air dalam hasil persamaan regresi pada tabel 4.17 diketahui bernilai sebesar 0,119 dengan probabilitas statistik sebesar 0,0000. Hal ini berarti bahwa antara variabel ketersediaan air (variabel independen) dan jumlah industri (variabel dependen) mempunyai arah hubungan yang positif dan pengaruhnya signifikan. Dapat dijelaskan bahwa setiap kenaikan debit ketersediaan air sebesar 1% maka secara signifikan akan mengakibatkan jumlah industri di setiap kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah akan meningkat sebesar 0.119%, dengan asumsi variabel lain konstan.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang sama yaitu ketersediaan air berpengaruh terhadap jumlah industri di suatu wilayah seperti pada penelitian Waluya (2016), bahwa ketersediaan air berpengaruh terhadap jumlah industri yang mana air di daerah Bandung mengalami pengurangan debet air dan menyebabkan industri mulai berkurang. Penelitian Sari dkk (2012) dan Jiang et al (2018), bahwa ketersediaan air yang banyak menarik perusahaan unuk mendirikan industrinya di wilayah tersebut sehingga letak

commit to user

sumber daya air yang melimpah memiliki jumlah industri yang banyak dikarenakan kebutuhan industri akan air sangat penting.

4. Relokasi Industri

Koefisien variabel relokasi industri dalam hasil persamaan regresi pada tabel 4.17 yang merupakan variabel dummy, diketahui bernilai positif sebesar 1,2439 dengan probabilitas statistik sebesar 0,0000. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan antara sebelum terjadinya relokasi dan sesudah relokasi.

diinterpretasikan dengan kategori yang menyatakan sesudah relokasi ditandai nilai 1, dan sebelum relokasi ditandai nilai 0, maka tanda positif pada koefisien regresi dummy dapat menjelaskan bahwa relokasi industri meningkatkan jumlah industri di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah.

Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan Chen et al (2018), bahwa relokasi industri memberikan pengaruhnya terhadap jumlah industri dimana relokasi yang terjadi karena berbagai hal menjadikan jumlah industri di wilayah tersebut mengalami perubahan karena seperti penjelasan pada relokasi industri tradisional bahwa relokasi terjadi antar daerah dengan tingkat perkembangan ekonomi yang berbeda untuk mengoptimalkansumber daya dan kebijakan pemerintahan yang menguntungkan.

Berdasarkan uraian hasil pembahasan penelitian, dapat disederhanakan dalam bentuk tabel 4.20 yang menjelaskan hubungan antar variabel dan pengaruhnya secara statistik, sebagai berikut:

commit to user

Tabel 4.21

Hubungan dan Pengaruh Antar Variabel

Variabel Jumlah Industri

Hubungan Pengaruh Statistik

Upah Negatif Signifikan

TPAK Negatif Signifikan

Ketersediaan Air Positif Signifikan Relokasi Industri Positif Signifikan Sumber: Hasil Pengolahan Eviews, tahun 2020

commit to user

Dokumen terkait