• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 73-83)

Penelitian survei dan pengembangan model

HASIL DAN PEMBAHASAN

Langkah awal kegiatan yang dilakukan adalah menyusun instrumen pengukuran sikap merujuk dari kondisi siswa sebelum pembelajaran dan disesuaikan dengan sifat- sifat kewirausahaan, pendidikan karakter dan budaya bangsa, dan soft skills yang dibutuhkan siswa. Dari ketiga bagian tersebut kemudian di tentukan dan dipilih sesuai kebutuhan. Penyusunan angket penilaian sikap untuk instrument mengacu pada hal tersebut diatas.

Kegiatan pembelajaran dengan metode tri sakti ini lebih menekankan kepada sikap siswa dengan mengacu pada karakteristik yang ada pada entrepreneurship. Dalam pembelajaran ini guru mengamati perubahan prilaku pada siswa melalui tingkah laku selama kegiatan pembelajaran. Yang akan dilihat perubahan prilakunya adalah kemandirian siswa, percaya diri dan bertanggung jawab. Ketika hal tersebut merupakan ciri jiwa kewirausahaan / entrepreneurship.

Pengamatan dilakukan setiap saat pada proses pembelajaran. Setiap kondisi yang siswa yang mengalami perubahan maupun kesulitan dicatat, setiap pertanyaan siswa ditampung dan diberikan alternatif saran untuk mendorong dan memotivasi siswa agar lebih berkembang terutama dalam menanamkan sikap-sikap kewirausahaan. Selain itu pada tiap akhir pertemuan, guru menanyakan kepada siswa tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Segala kelebihan dan kekurangan dicatat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan pada pertemuan berikutnya.

64 1. Pertemuan 1 ( Membagikan angket dan sosialisasi metode tri sakti)

Pelaksanaan kegiatan ini dimulai pada awal semester 5 tahun pelajaran 2010/2011. Pada pertemuan ini siswa disosialisasikan metode tri sakti, dan guru membagikan angket untuk diisi siswa. Isi dari angket adalah untuk mengetahui keadaan siswa sebelum aplikasi metode ini sekaligus untuk mengetahui kesiapan belajar siswa dan latar belakang keluarga (angket terlampir). Dari angket tersebut diperoleh data tentang kondisi siswa sebagai berikut:

a. Siswa berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah, cenderung rendah diri dan pemalu, hal ini menimbulkan rasa tidak percaya diri ketika akan berhadapan dengan orang lain.

b. Jarak dari rumah ke sekolah jauh sehingga mengalami kesulitan jika hendak membawa model ke sekolah, sehingga membuat siswa sering tidak membawa model pada saat praktek,

c. Kurang bertanggung dengan tugas yang diberikan

d. Input siswa pada saat masuk dikelas X dengan NEM yang rendah dan cenderung dibawah rata-rata 7 sehingga siswa cenderung pasif dengan hasil prestasi belajar yang dibawah KKM

e. Dukungan orangtua terhadap fasilitas anak kurang terpenuhi seperti sarana pendukung belajar dirumah (buku pelajaran, modul, computer, printer, alat tulis, alat untuk praktek, dan sebagainya) mengakibatkan anak kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas dirumah, menunda pekerjaan, dan selalu terlambat dalam mengumpulkan tugas.

f. Materi pembelajaran yang diserap oleh siswa tidak maksimal sehingga membuat siswa kurang mampu menjawab pertanyaan secara lisan maupun tertulis. Hal ini menyebabkan siswa kurang percaya diri

g. Siswa sangat tergantung dengan teman yang mengakibatkan ketidak mandirian. Dari temuan tersebut diatas guru kembali menanyakan kepada siswa (kroscek) dengan pertanyaan secara lisan. Dan hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang telah ditulis siswa. Langkah selanjutnya adalah guru memotivasi siswa dengan memberikan gambaran peluang usaha dirumah yang juga bertujuan untuk menambah kemandirian siswa dalam belajar. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Kaitannya dengan mata pelajaran mengelola usaha ini siswa diwajibkan melakukan salon edukasi. Setiap kelompok diberi batasan waktu selama 2 minggu kedepan untuk survei salon yang ada disekitar tempat tinggal siswa. Dengan panduan dari guru siswa melaksanakan tugas tersebut.

65 salon, menyusun anggaran biaya, dan mempromosikan salon melalui berbagai media. Selain itu disampaikan juga kepada siswa diwajibkan pada akhir pembelajaran membuat laporan berupa tugas proyek. Sehingga tahapan perencanaannya dimulai dari pertemuan kedua ini. Salon edukasi dilaksanakan siswa setelah jam pembelajaran disekolah, waktunya menyesuaikan salon siswa melakukan Tanya jawab dan wawancara dengan pemilik salon, mengobservasi kegiatan dan jenis pelayanan yang ada disalon. Semua hasil wawancara tersebut dilaporkan kepada guru dan dipresentasikan didepan teman-teman sekelasnya. Dari pendapat yang disampaikan siswa bahwa disalon seorang pekerja dituntut untuk selalu kreatif, bersemangat dan berinovasi dalam upaya memajukan salonnya. Yang diharapkan dari kegiatan salon edukasi ini adalah dimana siswa menjadi termotivasi untuk membiasakan dirinya mandiri, dan percaya diri. Dengan demikian di sekolah pun siswa akan menyenangi kegiatan belajar mengajar.

3. Pertemuan ke 4 (sosialisasi metode demonstrasi)

Setelah siswa melaksanakan salon edukasi selanjutnya akan diterapkan metode demontrasi. Metode ini dilakukan untuk memperlancar atau menambah percaya diri siswa dalam praktek kejuruan. Demontrasi keterampilan ini di lakukan dengan teman sekelompoknya. Guru menjelaskan kepada siswa dan membuat kesepakatan praktek keterampilan apa saja yang akan dilakukan. Misalnya creambath, lulur, facial, dan sebagainya. Diharapkan dari kegiatan demontrasi ini siswa dapat mengaplikasikan di rumah dengan pelanggan.

4. Pertemuan ke 5 s.d 7 (Metode demonstrasi)

Kegiatan demontrasi ini diawali dengan siswa belajar bagaimana mengelola salon kecil disekolah. Jenis pelayanan yang telah disepakati akan dilaksanakan dengan teman. Dimulai dengan memilih kosmetik yang akan digunakan. Siswa diberikan target bahwa harus dapat melaksanakan praktek sesuai kesepakatan. Dibawah ini adalah gambar dari siswa sedang melaksanakan demontrasi praktik berbagai macam jenis perawatan wajah, rambut, badan, make-up, maupun nail art.

5. Pertemuan ke 8 (evaluasi dan penilaian) Pada tahap ini yang dilakukan adalah:

a. Penilaian Diri, Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana siswa diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik

66 penilaian ini digunakan untuk mengukur ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Lembar penilaian ini terdiri dari :

1) Penilaian ranah kognitif: siswa diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan melalui hasil kerjanya

2) Penilaian ranah afektif: siswa diminta melakukan penilaian terhadap penerapan metode salon edukasi dan metode demonstrasi

3) Penilaian ranah psikomotorik: siswa diminta untuk menilai kecapakan dalam presentasi, wawancara, dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Penilaian ini dilakukan untuk mengamati perubahan kondisi siswa selama melakukan pembelajaran dengan metode tri sakti ini. Adapun lembar observasi untuk siswa terlampir. Lembar penilaian ini diisi oleh guru dan siswa itu sendiri. Guru menyarankan kepada siswa untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya, karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran.

b. Penilaian praktek / unjuk kerja. Penilaian ini digunakan untuk menilai hasil praktek dari metode demonstrasi. Lembar penilaian terlampir.

6. Pertemuan ke 9 s.d 13 ( penyusunan project work dan penugasan praktek)

Pada 5 pertemuan selanjutnya siswa diberi penugasan praktek dirumah dengan pelanggan, diberikan target selama 5 minggu siswa diwajibkan mencari pelanggan disekitar minimal 15 orang dengan 6 macam jenis pelayanan. Siswa dapat melakukan bersama kelompoknya atau sendiri, setiap minggunya siswa melaporkan kemajuan yang diperoleh kepada guru melalui ketua kelompoknya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan percaya diri siswa dalam menghadapi pelanggan, memupuk rasa kerjasama dengan teman dalam kelompoknya, bertanggung jawab secara pribadi dalam menyelesaikan tugas proyeknya masing-masing.

Karena kegiatan ini diluar jam pembelajaran oleh karena itu siswa wajib memberitahukan kegiatan yang dilakukan kepada orang tua. Orang tua siswa disini berperan sebagai motivator sekaligus pengendali kegiatan siswa. Pada tatap muka disekolah dengan guru siswa melaporkan kegiatannya dan guru memandu siswa dalam penyusunan laporan project work.

7. Pertemuan ke 10 presentasi dan pelaporan

Kegiatan dalam pertemuan ini adalah presentasi dari masing-masing kelompok, yang disampaikan adalah ketercapaian tindakan dan draft laporan project work. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan konsultasi tentang laporan yang telah mereka susun. Data dalam laporan dilengkapi dengan jobsheet dan foto kegiatan. Karena melalui foto ini guru dapat mengetahui apakah siswa melakukan praktek yang

67 tahap penyelesaian dari laporan ini siswa diberikan waktu maksimal 3 minggu. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa siswa yang sudah selesai mengerjakan dapat mengumpulkan lebih awal.

8. Pertemuan ke 11 s.d 13 penyusunan dan revisi laporan

3 kali tatap muka diakhir semester digunakan sebagai revisi dan penyusunan laporan project work sekaligus menyelesaikan tugas yang lain dan melaksanakan remidi jika diperlukan.

Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung selama 4 semester, tetapi pada semester 5 dan 6 siswa sudah tidak melakukan salon edukasi. Kegiatan lebih banyak difokuskan pada keterampilan siswa untuk metode demonstrasi di sekolah dan praktek dengan model dirumah. Selanjutnya siswa juga menyusun kembali laporan project work di akhir semester 6.

Dari hasil pembelajaran diatas diperoleh hasil bahwa siswa mengalami perubahan prilaku, data diperoleh dari hasil wawancara guru dengan siswa dan hasil nilai yang diperoleh siswa. Setelah siswa dinyatakan lulus dan tamat guru bekerja dengan BKK yang ada disekolah memprogramkan untuk industri yang hendak merekrut tenaga kerja mengadakan wawancara di sekolah. Antusias siswa untuk bekerja setelah tamat lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Dan yang dinyatakan diterima juga lebih banyak bahkan siswa sudah siap bekerja sebelum menerima ijazah. Dari kegiatan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa industri lebih banyak memfokuskan pada siswa yang percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, disiplin, dan loyal. Untuk keterampilan / hard skill akan dilakukan training sesuai standart industri yang ada.

68 Gambar 2 siswa melakukan praktik merawat wajah dengan teknologi

Perbandingan penerapan metode pembelajaran yang dahulu dengan penerapan metode Tri Sakti, sebagai berikut dapat diamati kelebihan dan kekurangan dari metode ini.

Tabel 1

Perbandingan Metode Lama Dan Metode Tri Sakti

Metode Pembelajaran Sebelumnya (Metode ceramah, praktik, penugasan)

Metode Tri Sakti

(Metode Salon Tri Sakti, Demontrasi dan Project Work)

Metode Ceramah :

1. Siswa memperoleh informasi

langsung dari guru tanpa perlu repot ke salon untuk memperoleh

informasi

Metode Salon Edukasi :

1. Siswa mengalami pembelajaran diluar kelas melalui penugasan mandiri, wawancara, kunjungan ke salon dan observasi salon.

2. Siswa memperoleh pengalaman di industri tentang bagaimana bertahan dan menyiasati jika salon dalam kondisi ramai maupun sepi,

mengetahui bagaimana kemampuan manajerial salon, melakukan promosi salon, dan sebagainya

3. Siswa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan kelompok 4. Siswa merasa berkewajiban untuk

memajukan kelompknya dengan berusaha mencari pelanggan sebanyak-banyaknya

5. Siswa mencaritahu sendiri bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang wirausaha, bermental baja dalam menjalankan suatu usaha

69 dan Project Work)

Metode praktek :

Siswa melakukan praktek dengan teman sebaya dalam kelompoknya secara terus menerus

Metode Demontrasi :

Siswa melakukan demontrasi dengan teman sebaya dalam kelompoknya dan kemudian jika sudah terampil

dilanjutkan praktek dengan model/pelanggan sebenarnya

Metode Penugasan :

Siswa membuat jobsheet pada setiap praktek yang dilakukan, sistim

penilaiannya dengan kriteria unjuk kerja dilakukan oleh guru.

Project Work :

Siswa menyusun laporan kegiatan dimulai dari merencanakan,

melaksanakan, membuat laporan yang berisi tentang kegiatannya selama 1 semester.

Siswa menjadi aktif dan terampil tidak hanya dalam praktek kejuruan tetapi dalam mengelola teknologi dan informasi

Gambar 3 siswa melakukan praktik nail art

Pada setiap tahunnya kebutuhan industri salon kecantikan dan SPA selalu mampu menyerap semua lulusan tata kecantikan sebesar 100%. Mengapa bisa demikian karena jumlah tamatan dari program keahlian kecantikan hanya 2 kelas dengan rombel 30 siswa. Padahal kebutuhan untuk therapis pada 1 industri saja antara 10-30 orang. Hal inilah yang membuat alumni program keahlian tata kecantikan menjadi sangat dibutuhkan industri karena tenaga sebagai seorang terapis tidak dapat digantikan oleh mesin.

70 Dari hasil kegiatan salon edukasi yang dilakukan oleh siswa ditemukan siswa tamatan SMK Negeri 1 Sewon yang telah mandiri dan dapat membuka usaha sendiri di rumah. Di antaranya adalah Salon Adinda dan Az Zahra berikut gambar dibawah ini.

Gambar 4 Tampak depan Salon Az Zahra milik Tamatan SMK yang digunakan sebagai tempat salon edukasi

Gambar 5 Adinda Salon Milik Tamatan SMK N 1 Sewon

Dengan demikian, metode tri sakti sesuai dan efektif diterapkan pada mata pelajaran mengelola usaha dan jasa khususnya komptensi keahlian tata kecantikan. Siswa dapat dengan jelas mengetahui output/tamatam SMK selain siap bekerja juga dapat membuka usaha sendiri dan melanjtkan studi. Dengan banyaknya keterserapan siswa lulusan kecantikan di industri maka semakin memantapkan siswa bahwa masuk program keahlian kecantikan sangatlah tepat.

71 pelajaran mengelola usaha dan jasa terbukti dapat membentuk jiwa kewirausahaan (entrepreneurship building) siswa, hal ini nampak terlihat pada sikap dan prilaku selama pembelajaran berlangsung yaitu siswa menjadi mandiri tidak tergantung dengan teman, disiplin dalam mengerjakan tugas, percaya diri dalam berkomunikasi, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya. Perubahan prilaku siswa dapat dilihat pada saat KBM berlangsung, tugas yang diberikan dikerjakan dengan segera dan tepat waktu, tertib administrasi, siswa memperoleh pengalaman diindustri tentang cara mengelola salon, siswa aktif bertanya dan mencari tahu sendiri cara menjalankan usaha salon, siswa mampu mengelola teknologi dan informasi denan akurat. secara komprehensif peningkatan rerata nilai yang dicapai oleh siswa pada proses pembelajaran.Dengan terbentuknya entrepreneurship building pada siswa mampu mengantarkan siswa sukses diterima bekerja pada industri pengguna dan dapat menciptakan lapangan kerja sendiri secara mandiri maupun berkelompok.

Adapun saran yang diperuntukkan oleh siswa yaitu: menambah pengalaman pembelajaran yang diperoleh dari metode tri sakti ini dapat dimanfaatkan, dikembangkan, dimodifikasi untuk dapat digunakan sebagai bekal setelah tamat. Jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) membawa dampak positif pada diri siswa oleh karena itu wajib dipertahankan. Dapat menyebar luaskan ilmu dan pengalaman yang diperoleh tentang entrepreneurship building kepada masyarakat. Sedangkan untuk guru agar selalu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui metode pembelajaran yang aktif dan menarik. Berupaya selalu mengembangkan kegiatan belajar mengajar untuk menjadi guru yang professional. Mendampingi siswa dalam pembelajaran dengan arif dan mengantarkan siswa tamat hingga mampu mandiri dan bekerja di industry. Masukan bagi sekolah adalah menjadikan metode tri sakti ini sebagai salah satu teknik pembelajaran yang dapat dicobakan pada mata pelajaran sejenis, memfasilitasi dan memotivasi bagi siswa dan guru yang berprestasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ani Widayati. 2011. Makalah Diklat Penelitian Deskriptif. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Yogyakarta.

Aris Munandar. 2009. Makalah Seminar Model Pembelajaran Soft Skills Cooperative Learning-Teams Game Tournament (TGT), Yogyakarta.

Badan Kegiatan dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2010. Pedoman Sekolah Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa. Jakarta: BKPPK.

72 Buchari Alma. 2000. Kewirausahaan Panduan Perkuliahan Bandung: CV Alfabeta.

Depdiknas, 2008. Juknis Penilaian Hasil Belajar Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas

Diah Winarti. 2002. Bahan Penataran Pengelolaan Usaha Salon Kecantikan Kulit. Jakarta: Depdiknas Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan.

Hamzah B Uno. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Handout. 1986. Keterampilan Proses. Keguruan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan.

Handout. 2007. Model-Model Pembelajaran Efektif. Yogyakarta.

Marisi, Abdul, Kamil. 2009. Makalah Seminar Pengembangan Soft Skills dalam Pendidikan. Yogyakarta.

Miftahul Huda. 2013. Model-model pembelajaran isu-isu metodis dan paradigma, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharjono. 2011. Publikasi Ilmiah dalam Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru, Batu Malang, Cakrawala Indonesia.

Suharsimi Arikunto. 2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta: Aditya Media.

Syaefudin Sa’ud, Udin, Makmun Syamsudin, Abin. 2009. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatann Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

73

IMPLEMENTASI MODEL PENDIDIKAN WIRAUSAHA

BERBASIS HYPNOMETACREATIVEPRENEUR UNTUK MENGHASILKAN

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 73-83)