Kondisi Umum Penelitian
Pada awal penelitian, beberapa tanaman terserang hama kutu perisai. Serangan ini diatasi dengan cara manual yaitu membersihkan kutu dengan sikat. Jenis hama lain yang menyerang tanaman selama penelitian berlangsung antara lain hama belalang (Valanga nigricornis), ulat dari ordo Lepidoptera jenis Papilio demodocus, ulat pengorok daun (Phyllocnictis citrella), dan Kutu dompolan (Planococcus citri). Serangan hanya menyerang sebagian kecil dari seluruh tanaman yang digunakan. Selain itu, pada awal penelitian, banyak daun tertutup oleh lapisan debu yang tipis sehingga daun tampak kotor dan kusam. Hal ini diatasi dengan cara membersihkan lapisan debu tersebut dengan menyemprotkan air ke permukaan daun. Pada akhir penelitian, juga terdapat beberapa tanaman yang terserang penyakit embun jelaga (Capnodium citri).
Hama dan penyakit yang menyerang tanaman dikendalikan secara manual dan secara kimia. Hama belalang dikendalilkan dengan mematikan hama yang penyerang tanaman. Serangan hama tidak membahayakan karena pengendalian segera dilakukan saat tingkat serangan masih rendah. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan penyemprotan insektisida Decis untuk hama ulat dan kutu.
Penelitian merupakan penelitian lanjutan dari tahun sebelumnya sehingga pengamatan langsung dilakukan. Pada saat penelitian, terdapat satu tanaman yang mati karena terserang virus.
Jumlah Tunas Vegetatif
Jumlah tunas vegetatif tidak dipengaruhi secara nyata baik oleh batang atas maupun penggunaan interstock mulai dari awal hingga akhir penelitian (Tabel Lampiran 2). Pada akhir penelitian batang atas Nambangan memiliki jumlah tunas sebanyak 4.69 sedangkan batang atas Cikoneng memiliki jumlah tunas sebanyak 3.93 (Tabel 2).
Perlakuan interstock Troyer menghasilkan jumlah tunas yang paling banyak dan terus bertambah setiap minggunya. Pada 68 MSP tanaman yang disambung, interstock Troyer mempunyai jumlah tunas sebanyak 5.13 kemudian
tanaman dengan interstock Citrumelo menghasilkan tunas sebanyak 4.63 dan tanaman dengan interstock Flying Dragon menghasilkan jumlah tunas sebanyak 4.14. Tanaman dengan interstock Rangpur Lime mempunyai jumlah tunas paling sedikit yaitu sebanyak 3.38 (Tabel 2). Tidak terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut. Kombinasi batang atas dan interstock tidak berpengaruh nyata pada jumlah tunas vegetatif yang dihasilkan (Tabel 2).
Tabel 2. Jumlah Tunas Vegetatif Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan
Perlakuan Minggu Setelah Pemindahan (MSP)
55 57 59 62 65 68
Batang Atas
Nambangan (V1) 2.56 2.94 3.00 3.38 4.06 4.69
Cikoneng (V2) 1.93 2.47 2.73 3.00 3.67 3.93
Interstock
Flying Dragon (I1) 0.86 1.43 1.57 1.86 3.29 4.14
Troyer (I2) 3.50 3.75 3.88 4.25 4.50 5.13
Citrumelo (I3) 2.88 3.50 3.50 3.88 4.75 4.63
Rangpur Lime (I4) 1.63 2.00 2.38 2.63 2.88 3.38
Interaksi tn tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Panjang Tunas Vegetatif
Panjang tunas vegetatif dipengaruhi secara nyata oleh batang atas tetapi tidak dipengaruhi oleh penggunaan interstock (Tabel Lampiran 3). Tanaman dengan batang atas Cikoneng memiliki panjang tunas 12.16 cm yang lebih panjang dibandingkan tanaman dengan batang atas Nambangan yang memiliki panjang tunas 7.55 cm (Gambar 1).
Gambar 1. Panjang Tunas Vegetatif pada Batang Atas Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan Interstock
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 55 57 59 62 65 68 MSP pa nj a n g t u nas Nambangan (V1) Cikoneng (V2)
Panjang tunas tanaman yang disambung dengan interstock Flying Dragon adalah 7.85 cm, sementara tanaman dengan interstock Troyer, Citrumelo, dan Rangpur Lime berturut-turut memiliki panjang tunas 8.77 cm,12.08 cm, dan 10.16 cm. Interaksi diantara kedua faktor tersebut tidak terjadi (Tabel 3).
Tabel 3. Panjang Tunas Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan
Perlakuan Minggu Setelah Perlakuan (MSP)
55 57 59 62 65 68
Batang Atas
Nambangan (V1) 3.80 4.33 4.40b 5.29b 6.27b 7.55b
Cikoneng (V2) 5.47 6.99 8.18a 9.02a 10.79a 12.16a
Interstock
Flying Dragon (I1) 2.69 3.88 4.02 4.67 6.45 7.85
Troyer (I2) 4.82 4.96 5.41 5.86 6.77 8.77
Citrumelo (I3) 5.97 7.94 8.00 9.53 11.88 12.08
Rangpur Lime (I4) 4.71 5.47 7.22 8.02 8.48 10.16
Interaksi tn tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Diameter Batang Bawah
Diameter batang bawah pada tanaman jeruk besar berbatang atas Nambangan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman yang berbatang atas Cikoneng (Tabel Lampiran 4). Demikian pula dengan diameter batang bawah pada keempat interstock yang digunakan tidak berbeda nyata (Tabel 4).
Pada 68 MSP rata-rata diameter batang bawah tanaman berbatang atas Nambangan sebesar 1.51 cm sementara rata-rata diameter batang bawah tanaman berbatang atas Cikoneng sebesar 1.42 cm. Sedangkan rata-rata diameter batang bawah pada penggunaan interstock Flying Dragon adalah sebesar 1.50 cm dan pada interstock Rangpur Lime adalah sebesar 1.42 cm. Pada perlakuan, tidak terjadi interaksi antara batang atas dan interstock (Tabel 4).
Tabel 4. Rata-rata Diameter Batang Bawah Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan
Perlakuan Minggu Setelah Pemindahan (MSP)
55 59 62 65 68
Batang Atas …cm…
Nambangan (V1) 1.40 1.43 1.45 1.48 1.51
Cikoneng (V2) 1.33 1.36 1.37 1.40 1.42
Interstock
Flying Dragon (I1) 1.40 1.43 1.45 1.48 1.50
Troyer (I2) 1.38 1.40 1.42 1.45 1.46
Citrumelo (I3) 1.39 1.41 1.44 1.46 1.47
Rangpur Lime (I4) 1.31 1.34 1.36 1.39 1.42
Interaksi tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Diameter Interstock
Diameter interstock tanaman hanya dipengaruhi oleh jenis interstock yang digunakan (Tabel Lampiran 5). Pengaruh interstock mulai terlihat sangat nyata pada awal penelitian. Akan tetapi, diameter interstock tidak dipengaruhi oleh batang atas tanaman. Pada akhir penelitian diameter interstock pada batang atas Nambangan adalah 1.96 cm sedangkan pada batang atas Cikoneng sebesar 1.89 cm (Tabel 5).
Tabel 5. Rata-rata Diameter Interstock Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan
Perlakuan Minggu Setelah Pemindahan (MSP)
55 59 62 65 68
Batang Atas …cm…
Nambangan (V1) 1.84 1.88 1.90 1.94 1.96
Cikoneng (V2) 1.76 1.80 1.83 1.86 1.89
Interstock
Flying Dragon (I1) 1.88b 1.93b 1.95b 1.99b 2.02b
Troyer (I2) 1.64bc 1.68bc 1.70bc 1.74bc 1.77bc
Citrumelo (I3) 2.30a 2.34a 2.37a 2.41a 2.43a
Rangpur Lime (I4) 1.39c 1.43c 1.45c 1.48c 1.50c
Interaksi tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkantidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Selama penelitian berlangsung, tanaman dengan interstock Citrumelo memiliki diameter yang terbesar yaitu 2.43 cm, kemudian diikuti oleh tanaman dengan interstock Flying Dragon sebesar 2.02 cm. Sementara tanaman dengan interstock Troyer dan Rangpur Lime, tidak berbeda nyata dengan ukuran diameter berturut-turut adalah 1.77 cm dan 1.50 cm (Tabel 5). Pada perlakuan tidak terjadi interaksi antara kedua faktor tersebut.
Diameter Batang Atas
Diameter batang atas tanaman jeruk besar Nambangan tidak berbeda nyata dengan tanaman jeruk besar Cikoneng (Tabel Lampiran 6). Diameter batang atas juga tidak dipengaruhi oleh interstock yang digunakan. Pada minggu terakhir pengamatan tanaman dengan interstock Rangpur Lime memiliki ukuran diameter batang atas sebesar 1.73 cm, tanaman dengan interstock Troyer sebesar 1.69 cm, kemudian tanaman dengan interstock Citrumelo sebesar 1.66 cm dan tanaman dengan interstock Flying Dragon sebesar 1.47 cm. Interaksi antara batang atas dan interstock juga tidak terjadi (Tabel 6).
Tabel 6. Rata-rata Diameter Batang Atas Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan
Perlakuan Minggu Setelah Perlakuan (MSP)
55 59 62 65 68
Batang Atas …cm…
Nambangan (V1) 1.63 1.66 1.67 1.70 1.72 Cikoneng (V2) 1.47 1.50 1.52 1.54 1.57
Interstock
Flying Dragon (I1) 1.38 1.41 1.42 1.45 1.47 Troyer (I2) 1.58 1.62 1.64 1.67 1.69 Citrumelo (I3) 1.56 1.59 1.61 1.64 1.66 Rangpur Lime (I4) 1.66 1.69 1.70 1.72 1.73
Interaksi tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Total Tunas Generatif
Total tunas generatif tidak dipengaruhi secara nyata oleh batang atas maupun interstock (Tabel Lampiran 7). Total tunas generatif pada tanaman jeruk besar berbatang atas tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman yang
berbatang atas Cikoneng. Demikian halnya dengan total tunas generatif tanaman jeruk besar pada keempat interstock yang digunakan tidak berbeda nyata. Tidak terdapat interaksi antara kedua factor tersebut (Tabel 7).
Waktu Berbunga
Perlakuan interstock tidak memberikan pengaruh yang nyata pada waktu berbunga batang atas tanaman jeruk besar (Tabel Lampiran 8). Tanaman dengan batang atas Cikoneng memiliki waktu berbunga satu minggu lebih cepat dibanding tanaman dengan batang atas Nambangan (Tabel 7). Sementara urutan waktu berbunga tanaman dengan interstock adalah sebagai berikut: tanaman dengan interstock Citrumelo berbunga pada waktu 54 MSP, interstock Troyer pada 55 MSP, interstock Flying Dragon pada 57 MSP dan paling lama adalah tanaman dengan interstock Rangpur Lime yang berbunga pada 58-59 MSP. Pada perlakuan tidak terjadi interaksi antara kedua faktor tersebut (Tabel 7).
Tabel 7. Rata-rata Waktu Berbunga, Total Bunga Mekar, Total Buah dan Persentase Fruitset Jeruk Besar Nambangan dan Cikoneng pada Berbagai Perlakuan Perlakuan Total Tunas Generatif Waktu Berbunga (Minggu ke-) Total Bunga Mekar (Kuntum) Total Buah Fruitset(%) Batang Atas Nambangan (V1) 2.63 56.00 21.94 5.69 16.66 Cikoneng (V2) 1.27 55.25 10.67 2.27 9.74 Interstock Flying Dragon (I1) 1.00 57.00 10.86 2.71 8.05 Troyer (I2) 2.25 55.25 19.63 4.75 19.91 Citrumelo (I3) 2.50 54.00 23.25 3.88 14.33 Rangpur Lime (I4) 2.00 58.67 11.50 4.63 10.29 Interaksi tn tn tn tn tn
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan faktor yang sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Total Bunga Mekar
Peubah total bunga mekar tidak dipengaruhi secara nyata oleh batang atas, interstock maupun interaksi keduanya (Tabel Lampiran 8). Tanaman dengan batang atas Nambangan menghasilkan total bunga mekar sebanyak 21.94
sementara tanaman dengan batang atas Cikoneng total bunga mekar sebanyak 10.97 (Tabel 7). Pada tanaman dengan interstock Citrumelo menghasilkan total bunga mekar sebanyak 23.25. Sementara total bunga mekar yang dihasilkan oleh tanaman dengan interstock Flying Dragon adalah 10.86 (Tabel 7). Pada perlakuan tidak terjadi interaksi antara kedua faktor tersebut.
Pada penelitian, pengamatan peubah generatif dilakukan ketika telah muncul tunas generatif. Tunas generatif akan berkembang menjadi bunga dan kemudian mekar (Gambar 2a). Kelopak bunga akan gugur sehingga menyisakan fruitset yang selanjutnya akan berkembang menjadi buah (Gambar 2b).
Gambar 2. Bunga Mekar Tanaman Jeruk Besar pada Perlakuan Batang Atas Nambangan-Interstock Troyer (a). Fruitset Tanaman Jeruk Besar pada Perlakuan Batang Atas Nambangan-Interstock Troyer (b).
Total Buah dan Persentase Fruitset
Total buah dan persentase fruitset juga tidak memberikan pengaruh nyata pada batang atas jeruk besar (Tabel Lampiran 8). Pada tanaman dengan batang atas Nambangan rata-rata total buah adalah 5.69 buah dengan persentase fruitset sebesar 16.66%, sementara pada batang atas Cikoneng total buah yaitu 2.27 buah dengan persentase sebesar 9.74 %. Tanaman dengan interstock Flying Dragon memiliki rata-rata total buah sebanyak 2.71 dengan persentase fruitset sebesar 8.05 %. Tanaman dengan interstock Troyer memiliki total buah sebanyak 4.75 dengan persentase sebesar 19.91%. Pengaruh interaksi batang atas dan interstock tidak terjadi pada peubah total buah dan persentase fruitset (Tabel 7).
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan antara batang atas Nambangan dan batang atas Cikoneng. Meskipun sebagian besar hasil penelitian tidak berbeda nyata, namun secara umum hingga akhir penelitian dapat dikatakan bahwa batang atas Nambangan cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding batang atas Cikoneng. Batang atas Nambangan memiliki jumlah tunas vegetatif, diameter batang (batang bawah, interstock dan batang atas), total tunas generatif, total bunga mekar serta total buah dan persentasenya, yang nilai-nilainya cenderung lebih besar dibanding batang atas Cikoneng.
Pengaruh yang nyata pada penelitian ini ditunjukkan oleh peubah panjang tunas vegetatif. Batang atas Cikoneng memiliki panjang tunas vegetatif yang lebih panjang dibanding batang atas Nambangan meskipun jumlah tunas vegetatifnya lebih sedikit. Hal ini diduga karena batang atas Cikoneng secara umum memiliki pertumbuhan generatif yang lebih lambat daripada Nambangan sehingga pertumbuhan batang atas Cikoneng lebih didominasi oleh fase vegetatif. Menurut Harjadi (1989) jika fase vegetatif dari perkembangan tanaman dominan atas fase reproduktifnya, maka karbohidrat yang digunakan akan lebih banyak daripada yang disimpan sebagai cadangan untuk pembentukan bunga dan buah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari keempat jenis interstock yang digunakan, tanaman dengan interstock Citrumelo mempunyai ukuran diameter interstock yang lebih besar dibanding batang atas, batang bawah dan interstock lainnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sugianto (2005) yang menghasilkan diameter interstock Citrumelo yang paling besar dibandingkan ketiga interstock lainnya. Sama halnya juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Girardi dan Mourão Filho (2006) yang menghasilkan diameter batang ‘Swingle’ citrumelo yang lebih besar daripada diameter batang Volkameriana. Hal ini disebabkan oleh sifat Citrumelo yang vigor sehingga memiliki pertumbuhan yang lebih besar.
Selain itu interstock Flying Dragon juga memiliki kecenderungan untuk membentuk tanaman dengan diameter interstock yang lebih besar daripada batang
atas dan batang bawahnya. Adapun interstock Troyer dan Rangpur Lime cenderung untuk membentuk pertumbuhan diameter batang bawah, diameter interstock dan diameter batang atas yang hampir seragam.
Interstock ‘Sunki’ mandarin menyebabkan diameter batang bawah yang lebih kecil pada ‘Swingle’ citrumelo dibandingkan pada interstock ‘Pêra’ dan ‘Valencia’ sweet orange. Hal ini membuktikan bahwa interstock berpengaruh untuk menyebabkan perbedaan diameter batang (Girardi dan Mourão Filho, 2006). Gil-Izquierdo et al. dalam Girardi dan Mourão Filho (2006) mengemukakan bahwa di Itali, interstock digunakan untuk mengecilkan diameter batang yang akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan produksi buah. Oleh karena itu, interstock yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan diameter batang dan perbedaan pada pertumbuhan vegetatif tanaman.
Perbedaan ukuran diameter dari hasil penelitian ini diduga karena dipengaruhi oleh faktor genetik masing-masing. Pada penyambungan terjadi pembentukan sel-sel fungsional dengan kecepatan tumbuh yang berbeda sehingga mengakibatkan perbedaan perkembangan yang berbeda antara sel-sel jaringan batang atas dan batang bawah. Menurut Hartman et al. (1997) dan Ryugo (1988), batang bawah dapat mempengaruhi batang atas kemungkinan karena terganggunya aliran zat tumbuh di dalam tanaman dan terganggunya pola distribusi hasil fotosintesis sehingga menimbulkan perbedaan diameter pada batang. Menurut Ashari (2006), jenis batang bawah kerdil dapat memindahkan karakternya melalui produksi zat tumbuh (hormon) yang rendah, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman di atasnya.
Adanya perbedaan laju pertumbuhan diameter antara batang bawah, interstock, dan batang atas merupakan salah satu gejala awal ketidakcocokan. Hal ini harus diperhatikan secara lebih lanjut karena dapat berakibat pada terganggunya translokasi hara dan fotosintat. Akan tetapi, selama penelitian berlangsung belum terlihat gejala yang dapat dikategorikan sebagai gejala ketidakcocokan (inkompatibilitas). Menurut Hatmann et al. (1997) ketidakcocokan pada sambungan ditandai dengan gejala menguningnya daun, rontok, mati tunas, mati muda, terdapat perbedaan laju pertumbuhan antara batang atas dan batang bawah serta terjadi retak pada bagian penyambungan.
Pengaruh interstock yang dapat mengedalikan pertumbuhan batang atas merupakan sifat interstock yang penting dalam hal pengembangan budidaya jeruk besar. Hal ini disebabkan karena ukuran tanaman akan berhubungan langsung dengan kerapatan dan jumlah populasi tanaman di lapangan, sehingga tanaman yang pendek dan ramping lebih efisien dalam hal teknik budidaya seperti penyemprotan, pemangkasan, pemanenan, dan sebagainya.
Menurut Garner et al. (1976), salah satu alasan penggunaan interstock adalah untuk meningkatkan vigor tanaman dan memacu pertumbuhan generatif tanaman. Pada penelitian, pengaruh dari perlakuan interstock terhadap pertumbuhan generatif batang atas tanaman tidak menunjukkan hasil yang nyata. Hal ini diduga karena adanya perbedaan genetik dari batang atas tersebut. Ragam genetik terjadi sebagai akibat tanaman memiliki karakter genetik yang berbeda. Hal ini umumnya dapat terlihat bila varietas-varietas yang berbeda ditanam pada lingkungan yang sama (Makmur, 1992). Sementara Hartmann et al. (1997) mengemukakan bahwa hubungan antar interstock, batang bawah dan batang atas sangatlah kompleks dan berbeda secara genetik antara kombinasi yang satu dengan yang lain. Selain itu juga, menurut Faust (1989) tanaman yang disambung pada tahun kedua dan ketiga setelah penyambungan akan kembali kepada masa yang tidak mengalami pembungaan. Tanaman ini akan memperlihatkan masa vegetatif terlebih dahulu diantara fase juvenil dan dewasanya.
Secara umum meskipun tidak berbeda nyata, hasil penelitian menunjukkan bahwa batang atas Nambangan memiliki total tunas generatif, total bunga mekar serta total dan persentase fruitset yang cenderung lebih besar daripada Cikoneng. Meskipun tidak banyak terbentuk buah, total buah yang terbentuk dan persentase fruitset Nambangan cenderung lebih besar dibanding Cikoneng.
Tanaman yang disambung dengan interstock Citrumelo dan Troyer cenderung menghasilkan tunas generatif, waktu berbunga, bunga mekar, total buah dan presentase buah yang lebih besar dibanding Rangpur Lime dan Flying Dragon. Hal ini disebabkan karena sifat interstock tersebut yang vigor. Hasil penelitian Susanto et al. (2004) menunjukkan bahwa interstock Citrumelo dan Troyer mendorong pertumbuhan jeruk besar Cikoneng.
Sifat interstock Troyer yang dominan dalam mempengaruhi pertumbuhan generatif tanaman adalah menghasilkan total buah yang lebih banyak dibanding yang lain. Interstock Citrumelo menghasilkan total bunga mekar yang lebih banyak dibanding yang lain meskipun nilainya tidak berbeda nyata dengan interstock Troyer. Sementara tanaman dengan interstock Rangpur Lime cenderung memiliki pertumbuhan generatif yang standar. Akan tetapi, interstock Rangpur Lime memiliki waktu berbunga yang cenderung lebih lama. Tanaman dengan interstock Flying Dragon cenderung memiliki pertumbuhan generatif yang lambat terutama pada jumlah tunas generatif, total bunga mekar dan total buah.
Rendahnya buah yang dihasilkan tanaman dapat disebabkan oleh faktor kompetisi yang terjadi pada tanaman. Kompetisi antara organ yang sedang berkembang dapat menyebabkan gugurnya bunga yang secara langsung turut berpengaruh pada jumlah buah yang akan dihasilkan (Poerwanto, 2003a). Sementara gugur buah berhubungan dengan kompetisi antar buah yang sedang berkembang dengan pertumbuhan vegetatif yang terjadi secara simultan (Ryugo, 1988 ; Poerwanto, 2003b).
Pertumbuhan tanaman dengan interstock Flying Dragon cenderung lebih rendah untuk semua peubah yang diamati. Sementara pertumbuhan generatif tanaman dengan interstock Troyer cenderung hampir sama dengan Citrumelo karena interstock ini mempunyai sifat yang hampir sama dengan interstock Citrumelo dalam mendukung pertumbuhan batang atas. Akan tetapi, interstock Citrumelo cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi untuk semua peubah yang diamati.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh batang bawah terhadap produksi baik secara kualitas maupun kuantitas dari batang atas (Wutscher dan Dube, 1977; Fallahi dan Roedney, 1992; Yonemoto et al., 2004; Girardi dan Mourão Filho, 2006). Menurut Hartmann et al. (1997), batang atas yang vigor bila disambungkan dengan batang bawah yang lambat pertumbuhannya dapat merangsang pertumbuhan batang atas sehingga tumbuh lebih cepat. Sementara untuk pengaruhnya terhadap pembungaan, dikemukakan oleh Ashari (2006), bahwa kecepatan berbunga ditentukan oleh kekuatan tumbuh batang bawah. Tanaman batang atas akan berbunga lebih cepat bila disambung
dengan batang bawah yang lambat pertumbuhannya. Sebaliknya pembungannya akan tertunda bila disambung pada batang bawah yang cepat pertumbuhannya. Hartmann et al. (1997) menyatakan bahwa penyambungan dengan interstock selain untuk mengatasi inkompatibilitas, juga dimaksudkan untuk membentuk tanaman yang kerdil dan memiliki bearing pembungaan lebih awal. Pengaruh interstock ini berhubungan dengan terhambatnya translokasi hara dan asimilat sehingga dapat berpengaruh pada pembungaan tanaman. Selain itu, juga terdapat pengaruh interaksi antar bagian tanaman sambungan (grafting) yang mekanismenya dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu penyerapan dan penggunaan nutrisi, translokasi nutrisi dan air, dan perubahan zat tumbuh endogen.