• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Kondisi Umum

Percobaan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2008 dengan curah hujan rata-rata 412.3 mm per bulan. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 21.3 hari per bulan. Suhu maksimum rata-rata per bulan adalah 27.9 °C dan suhu minimum rata-rata sebesar 23.8 °C (Tabel Lampiran 1)

Hasil analisis tanah yang dilakukan sebelum penanaman menunjukkan bahwa tanah dalam keadaan masam dengan pH 4.90 dan bertekstur liat. Kandungan C organik dalam tanah sebesar 1.68%. Hasil analisis tanah secara lengkap ditampilkan pada Tabel Lampiran 2.

Rata-rata daya tumbuh kacang tanah pada umur 1 MST adalah 75%. Penyulaman dilakukan pada umur 1 MST. Varietas Badak memiliki daya tumbuh paling rendah dibandingkan 7 varietas lainnya yaitu 65%. Pada umur 3 MST sebagian tanaman terserang penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan

Sclerotium rolfsii terutama pada petak ulangan 2. Penyakit kacang tanah lainnya

yang menyerang tanaman pada percobaan ini adalah witches broom, penyakit belang kacang tanah, karat, dan bercak daun Cercospora. Pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida yaitu Matador dan Dithane mulai umur 3 minggu setelah tanam (MST) sampai 5 MST, sedangkan mulai umur 6 MST sampai 10 MST digunakan pestisida Thiodan dan Benlox.

Beberapa gulma yang banyak ditemui di lahan yaitu Physalis angulata,

Phyllanthus niruri, Mimosa pudica, dan Amaranthus sp. Hama yang muncul di

lahan diantaranya adalah Leptoglossus australis, ulat dari famili Sphingidae,

Leptocorisa acuta, dan Valanga nigricornis.

Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam

Rekapitulasi hasil uji F menunjukkan perlakuan paclobutrazol berpengaruh nyata terhadap berat kering brangkasan dan Indeks Luas Daun (ILD) 8 MST, tinggi tanaman, dan jumlah polong terisi per tanaman.

Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam Peubah-peubah Pengamatan

Peubah P V P*V kk (V) kk (P) Berat Kering Brangkasan

6 MST tn * tn (15.3) (25.8) 8 MST ** tn tn 19.8 5.7 10 MST tn tn tn 27.4 4.7 Jumlah Daun 6 MST tn ** tn 16.9 11.9 8 MST tn ** tn 15.9 39.4 10 MST tn tn tn 29.4 6.6 Jumlah Cabang 8 MST tn ** tn 23.9 21.9 10 MST tn ** tn 24.1 14.1 Indeks Luas Daun

6 MST tn tn tn (13.6) (25.2) 8 MST ** tn tn 22.5 13.3 10 MST tn tn tn 27.9 4.2 Berat Kering Ginofor dan Polong

6 MST tn tn tn (18.1) (9.2) 8 MST tn tn tn (14.8) (21.9) 10 MST tn tn tn 26.8 13.3 Jumlah Ginofor dan Polong

6 MST tn tn tn 33.2 34.4 8 MST tn tn tn 27.7 14.9 10 MST tn tn tn 30.9 11.4 Jumlah Bunga tn ** tn 14.3 26 Tinggi Tanaman ** ** tn 17.7 28.4 Jumlah Polong Total/Tanaman tn ** tn 13.7 20.3 Jumlah Polong Isi/ Tanaman * tn tn 19.9 20.7 Jumlah Polong Cipo/Tanaman tn * tn 33.8 8.5 Prod. Polong Kering tn ** tn 16.1 17.5 Prod. Biji Kering tn * tn 19.1 21.4 Persentase Polong Isi tn tn tn 10.4 5.9 Indeks Panen tn * tn 10.1 10.8 Indeks Biji tn * tn 12.9 6.6

Keterangan: tn = tidak nyata, *= nyata pada taraf 5%, **= nyata pada taraf 1%, ( ) = hasil transformasi √(x+0.5)

Berat Kering Brangkasan

Berat kering brangkasan merupakan berat kering seluruh tanaman dikurangi berat kering ginofor dan polong. Pengaruh yang nyata dari perlakuan konsentrasi paclobutrazol terhadap berat kering brangkasan ditunjukkan pada umur 8 MST dengan nilai rata-rata tertinggi sebesar 22.72 gram untuk tanaman dengan perlakuan paclobutrazol 0 ppm. Sedangkan pengaruh varietas terhadap berat kering brangkasan ditunjukkan pada umur 6 MST. Berat kering brangkasan tertinggi didapatkan pada varietas Gajah yang berbeda nyata dengan varietas Badak.

Tabel 2. Rata-rata Berat Kering Brangkasan Kacang Tanah Dengan Perlakuan Konsentrasi Paclobutrazol

Konsentrasi

Paclobutrazol Berat Kering Brangkasan 6 MST 8 MST 10 MST

---ppm--- ---g/tanaman---

0 14.67 22.72a 24.38

100 12.57 18.24b 22.37 Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Tabel 3. Rata-rata Berat Kering Brangkasan Delapan Varietas Kacang Tanah

Varietas Berat Kering Brangkasan 6 MST 8 MST 10 MST ---g/tanaman--- Garuda 2 15.9ab 22.5 24.9 Jerapah 14.8ab 21.8 20.8 Gajah 16.9a 20.3 22.4 Kidang 14.8ab 23.2 27.8 Biawak 12.2ab 21.3 25.2 Sima 15.2ab 20.3 27.9 Kelinci 10.9ab 18.7 18.5 Badak 8.5b 15.8 19.6

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ/Tukey 5%

Jumlah Daun dan Cabang

Perlakuan konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan jumlah cabang. Interaksi antara paclobutrazol dan varietas yang digunakan juga tidak berpengaruh pada peubah tersebut. Namun varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan cabang per tanaman selama pertumbuhannya.

Varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 6 MST sampai 8 MST. Dari Tabel 3 diketahui bahwa varietas Garuda 2 memiliki jumlah daun tertinggi selama 6 dan 8 MST yaitu 50.92 dan 71.17 daun yang berbeda nyata dengan varietas Kelinci dan Badak.

Tabel 4. Rata-rata Jumlah Daun Delapan Varietas Kacang Tanah

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ/Tukey 5%

Varietas

Jumlah Daun Jumlah Cabang 6 MST 8 MST 10 MST 8 MST 10 MST

---daun/tanaman--- ---cabang/tanaman--- Garuda 2 50.92a 71.17a 66.42 10.33a 9.25ab

Jerapah 49.42ab 70.17a 65.33 9.67ab 7.17abc Gajah 45.50ab 60.08ab 54.67 9.00abc 7.92abc Kidang 43.58abc 59.92ab 67.17 10.00ab 8.33abc Biawak 41.17abc 64.67ab 74.25 9.00abc 10.25a

Sima 36.92abc 56.75ab 70.67 6.50bcd 6.33bc Kelinci 36.00c 51.33b 55.67 5.25d 5.58c Badak 32.42c 47.92b 65.33 5.33cd 5.42c

Varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang tanaman pada 8 sampai 10 MST. Pada umur 8 MST Garuda 2 memiliki jumlah cabang tertinggi yaitu 10.33 cabang sedangkan pada umur 10 MST varietas dengan jumlah cabang tertinggi yaitu 10.25 cabang adalah Biawak.

Indeks Luas Daun

Indeks Luas Daun (ILD) tertinggi terlihat pada tanaman kacang tanah dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm. Pengaruh yang nyata dari perlakuan konsentrasi paclobutrazol didapatkan pada saat tanaman berumur 8

MST dengan nilai 1.82 untuk tanaman dengan perlakuan paclobutrazol 0 ppm dan 1.49 untuk tanaman dengan perlakuan paclobutrazol 100 ppm.

Tabel 5. Indeks Luas Daun Kacang Tanah Dengan Perlakuan Konsentrasi Paclobutrazol

Indeks Luas Daun Konsentasi

Paclobutrazol 6 MST 8 MST 10 MST ---ppm---

0 1.45 1.82a 1.94 100 1.07 1.49b 1.84 Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Berat Kering Ginofor dan Polong

Konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata pada berat kering ginofor dan polong kacang tanah. Demikian juga dengan perlakuan varietas dan interaksi antara konsentrasi paclobutrazol dan varietas.

Jumlah Ginofor dan Polong

Konsentrasi paclobutrazol dan varietas tidak berpengaruh terhadap jumlah ginofor dan polong pada umur 6 – 10 MST. Interaksi antara keduanya juga tidak berpengaruh.

Jumlah Polong per Tanaman dan Persentase Polong Isi

Perlakuan paclobutrazol nyata mempengaruhi jumlah polong isi per tanaman tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah polong total dan polong cipo per tanaman. Jumlah polong terisi pada tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm lebih tinggi dibandingkan pada tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 100 ppm.

Meskipun perlakuan konsentrasi paclobutrazol berpengaruh nyata terhadap jumlah polong isi tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap persentase polong terisi.

(a) 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 0 2 4 6 8 10 12 Umur Tanaman (MST) IL D Badak Biawak Gajah Garuda 2 Jerapah Kelinci Kidang Sima (b) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 0 2 4 6 8 10 12 Umur Tanaman (MST) IL D Badak Biawak Gajah Garuda 2 Jerapah Kelinci Kidang Sima

Gambar 1. Indeks Luas Daun Delapan Varietas Kacang Tanah Dengan Konsentrasi Paclobutrazol 0 ppm (a) dan 100 ppm (b)

Tabel 6. Rata-rata Jumlah Polong dan Persentase Polong Isi Kacang Tanah Dengan Perlakuan Konsentrasi Paclobutrazol

Jumlah Polong Konsentrasi

Paclobutrazol Isi Cipo Total Persentase Polong Isi ---ppm--- ---polong/tanaman--- ---%---

0 17.95a 3.80 21.74 82.3 100 15.94b 4.20 20.15 78.6 Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah polong total dan jumlah polong cipo tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah polong isi. Jumlah polong total tertinggi saat panen dengan nilai 24.21 polong diperoleh dari varietas Jerapah. Varietas Jerapah memiliki jumlah polong total yang berbeda nyata dengan varietas Kidang. Jumlah polong cipo tertinggi didapatkan pada Garuda 2.

Tabel 7. Rata-rata Jumlah Polong dan Persentase Polong Isi Delapan Varietas Kacang Tanah

Varietas Jumlah Polong Isi Cipo Total

Persentase Polong Isi

---polong/tanaman--- ---%--- Garuda 2 17.25 6.02a 23.27ab 73.77 Jerapah 19.26 4.96ab 24.21a 77.67

Gajah 15.7 3.47ab 19.18ab 81.88 Kidang 15.21 3.45b 18.66b 81.18 Biawak 20.37 3.14b 23.51a 86.28 Sima 15.94 3.29b 19.23ab 82.75 Kelinci 16.37 3.89ab 20.26ab 80.01 Badak 15.46 3.79ab 19.24ab 80.00 Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Tinggi Tanaman dan Jumlah Bunga

Perlakuan konsentrasi paclobutrazol berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm lebih tinggi daripada tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 100 ppm.

Perbedaan tinggi tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol adalah sekitar 17.33%.

Tabel 8. Rata-rata Tinggi Tanaman Kacang Tanah Dengan Perlakuan Konsentrasi Paclobutrazol

Konsentrasi Paclobutrazol Tinggi Tanaman

---ppm--- ---Cm--- 0 53.21a 100 43.99b Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah bunga total. Varietas Kidang yang merupakan tanaman tertinggi berbeda nyata dengan varietas Garuda 2, Jerapah, Badak dan Biawak.

Tabel 9. Rata-rata Tinggi Tanaman, Jumlah Bunga dan Persentase Bunga Menjadi Polong Delapan Varietas Kacang Tanah

Varietas Tinggi Tanaman Jumlah Bunga

Persentase bunga menjadi polong ---Cm--- ----Bunga/tan--- ---%--- Garuda 2 40.36cd 118.3ab 19.9 Jerapah 36.48d 117.2ab 21.3 Gajah 53.30abc 100.3b 19.8 Kidang 63.0a 110.9b 17.8 Biawak 45.12bcd 129.5ab 18.3 Sima 58.27ab 146.4a 13.3

Kelinci 53.72abc 105.2b 19.4 Badak 38.57cd 117.8ab 16.8 Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada

uji BNJ/Tukey 5%

Varietas dengan jumlah bunga total tertinggi adalah Sima yang berbeda nyata dengan varietas Gajah, Kidang dan Kelinci.

Produktivitas Polong Kering dan Biji Kering

Konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas polong kering maupun biji kering. Interaksi antara konsentrasi paclobutrazol dan varietas juga tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas polong kering dan biji kering. Namun, varietas berpengaruh nyata terhadap produktivitas polong kering dan biji kering.

Produktivitas polong kering tertinggi diperoleh dari varietas Sima sebesar 3.22 ton/hektar yang berbeda nyata terhadap varietas Garuda 2 dan Jerapah. Varietas dengan produktivitas polong kering terendah adalah Garuda 2.

Produktivitas biji kering tertinggi juga didapatkan pada varietas Sima sebesar 2.13 ton/hektar. Besarnya produktivitas biji kering ini berbeda nyata dengan varietas Garuda 2 sebagai varietas dengan produktivitas biji kering terendah.

Tabel 10. Rata-rata Produktivitas Delapan Varietas Kacang Tanah Varietas Produktivitas Polong Kering Produktivitas Biji Kering

---ton/hektar--- Garuda 2 2.12c 1.36b

Jerapah 2.31bc 1.54ab

Gajah 2.58abc 1.75ab

Kidang 2.53abc 1.67ab

Biawak 2.63abc 1.82ab

Sima 3.22a 2.13a

Kelinci 3.00ab 2.09a

Badak 2.98ab 2.03a

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ/Tukey 5%

Indeks Biji dan Indeks Panen

Perlakuan konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata terhadap indeks panen dan indeks biji. Namun, varietas berpengaruh nyata terhadap indeks panen dan indeks biji kacang tanah. Varietas dengan indeks panen dan indeks biji tertinggi adalah Badak.

Tabel 11. Indeks Panen dan Indeks Biji Delapan Varietas Kacang Tanah Varietas Indeks Panen Indeks Biji

---%---

Garuda 2 33.91b 21.65b

Jerapah 35.61ab 23.71ab

Gajah 39.56ab 26.82ab

Kidang 35.25ab 23.27ab

Biawak 37.81ab 26.10ab

Sima 35.13ab 23.23ab

Kelinci 38.90ab 26.58ab

Badak 42.05a 28.53a

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ/Tukey 5%

Pembahasan Fase Pertumbuhan Kacang Tanah

Secara umum, hasil percobaan ini menunjukkan penggunaan konsentrasi paclobutrazol 100 ppm menekan pertumbuhan tajuk tanaman, terutama pada 2 minggu setelah aplikasi. Meskipun terdapat beberapa peubah dengan pengaruh nyata, nilainya tidak lebih tinggi dari peubah pembanding yang mendapat perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm. Dilihat dari berat kering serta jumlah ginofor dan polong sebagai organ sink, perlakuan paclobutrazol tidak meningkatkan pengisian polong kacang tanah. Diduga dengan kapasitas source yang tertekan, fotosintesis yang terjadi lebih rendah sehingga asimilat yang dihasilkan untuk pengisian polong juga tertekan.

Pertumbuhan tanaman merupakan hasil dari metabolisme sel-sel hidup yang dapat diukur sebagai pertambahan berat basah, berat kering, isi panjang, atau tinggi. Pertumbuhan pada tumbuhan dapat dibedakan dari arah letak pertumbuhannya. Akar akan menuju ke bawah di dalam tanah, sedangkan pucuk tumbuh ke atas dari permukaan tanah. Baik pucuk maupun sistem perakaran cenderung berada dalam keseimbangan (Trustinah, 1993).

Manifestasi pertumbuhan yang paling jelas adalah dari pertambahan tinggi tanaman, tetapi hal tersebut bukanlah yang utama dalam pertumbuhan tanaman. Sebagai bagian dari total akumulasi berat kering tanaman, daun memiliki fungsi penting dalam menerima cahaya dan menyerap karbondioksida dalam proses fotosintesis. Salah satu kriteria pengukuran daun yakni Leaf Area Index atau

disebut juga Indeks Luas Daun (Brown, 1972). Indeks luas daun menjadi penting karena menentukan ukuran pertambahan dalam kapasitas fotosintesis tanaman. Menurut Mc Cloud et al. (1980) potensi hasil yang tinggi mempunyai

hubungan yang erat dengan perkembangan tajuk yang cepat. Sebanyak 95% sinar matahari yang sampai ke bumi akan diterima oleh tanaman apabila tanaman mempunyai ILD melebihi nilai kritisnya yang berkisar antara 3 sampai 4. Pada percobaan ini pengaruh konsentrasi paclobutrazol terhadap ILD terlihat pada umur 8 MST dengan rata-rata 1.82 untuk perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm, sedangkan varietas yang memiliki ILD tertinggi pada umur 8 MST adalah varietas Kidang dengan nilai 1.92.

ILD kacang tanah mencapai nilai-nilai yang secara komparatif besar yaitu 5.5 – 7.0 dan luas daun yang besar biasanya dipertahankan sampai dekat sebelum kemasakan, kecuali ada serangan penyakit daun (Goldworthy dan Fisher, 1992). Pada percobaan ini tanaman mengalami serangan penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii mulai umur 3 MST. Meskipun dilakukan pengendalian dengan penyemprotan fungisida setiap minggu, serangan penyakit ini masih ditemukan hingga tanaman dipanen.

Berat kering brangkasan tertinggi pada umur 8 MST didapatkan pada varietas Kidang dengan nilai 23.23 gram. Namun varietas Kidang memiliki berat kering ginofor dan polong yang rendah yaitu 7.7 gram. Diduga hasil fotosintesis varietas Kidang lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan vegetatif. Berat kering brangkasan varietas Kidang pada umur 10 MST masih tergolong tinggi yaitu 27.8 gram. Pembagian hasil asimilasi biasanya diberikan ke daerah pemanfaatan terdekat dengan sumber ( Gardner et al., 1991).

Korelasi yang nyata ditunjukkan pada berat kering brangkasan dan ILD terhadap berat kering ginofor dan polong selama pertumbuhan tanaman kecuali umur 10 MST. Keeratan hubungan antara peubah-peubah tersebut ditunjukkan pada nilai r. Nilai r menunjukkan bagian keragaman dalam satu peubah yang dapat diperhitungkan sebagai fungsi linier peubah yang lainnya (Gomez dan Gomez, 1995). Korelasi antara berat kering brangkasan, ILD, berat kering ginofor dan polong dan berat kering biji ditampilkan pada Tabel Lampiran 5. Nilai r antara berat kering brangkasan dan berat kering ginofor dan polong pada umur 6

MST sebesar 0.74 [(100)(0.74)2 = 55%] sedangkan pada umur 8 MST sebesar 0.43 [(100)(0.43)2 = 19%]. Artinya pada umur 6 MST terdapat 55% keeratan hubungan atau keragaman dalam peubah berat kering ginofor dan polong yang dapat diterangkan oleh peubah berat kering brangkasan sedangkan pada 8 MST keeratan hubungannya adalah 19%.

Nilai r antara ILD dan berat kering ginofor dan polong pada umur 6 dan 8 MST adalah 0.49 [(100)(0.49)2 = 24%] artinya terdapat 24% keragaman dalam peubah berat kering ginofor dan polong yang dapat diterangkan oleh peubah ILD. Keeratan hubungan berat kering polong dengan ILD dan biji saat panen dengan ILD pada 10 MST sebesar 11% (r = 0.33) dan 8% (r = 0.29).

Korelasi antara berat kering brangkasan saat panen (BKB14) dan berat kering polong saat panen (BKG14) menunjukkan nilai r sebesar 0.65 [(100)(0.65)2 = 42%] sedangkan berat kering brangkasan dan berat kering biji memiliki nilai keeratan sebesar 37% [(100)(0.61)2 = 37%]. Berat kering biji saat panen memiliki keeratan hubungan dengan berat kering polong saat panen sebesar 94% dengan nilai r = 0.97 [(100)(0.97)2 = 94%]

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 6 dan 8 MST. Jumlah daun tertinggi terdapat pada varietas Garuda 2. Namun, varietas Garuda 2 memiliki jumlah polong dan ginofor yang tidak berbeda nyata dengan varietas lainnya sampai umur 10 MST.

Varietas juga berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang tanaman pada umur 8 – 10 MST. Jumlah cabang tertinggi pada umur 8 MST didapatkan pada varietas Garuda 2 sedangkan pada umur 10 MST didapatkan pada varietas Biawak. Hal ini mendukung pembahasan tentang jumlah daun yang disebutkan sebelumnya tentang varietas Garuda 2 yang memiliki jumlah daun tertinggi pada umur 6 – 8 MST dibandingkan varietas lainnya tetapi tidak menghasilkan jumlah ginofor dan polong yang berbeda dengan varietas lainnya. Diduga hasil asimilasi varietas Garuda 2 lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan cabang tanaman. Sepanjang masa pertumbuhan vegetatif, akar, daun, dan batang merupakan daerah-daerah pemanfaatan yang kompetitif dalam hal hasil asimilasi. Proporsi hasil asimilasi yang dibagikan ke ketiga organ ini dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitasnya (Gardner et al., 1991).

Tinggi tanaman nyata dipengaruhi oleh perlakuan konsentrasi paclobutrazol. Tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 100 ppm lebih pendek dibandingkan tanaman dengan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm. Paclobutrazol merupakan salah satu zat penghambat tumbuh yang bekerja dengan menghambat sintesis giberelin sehingga dapat menghambat pemanjangan batang dan menyebabkan pengkerdilan.(Salisbury dan Ross, 1995).

Jumlah total bunga selama pertumbuhan tanaman nyata dipengaruhi oleh varietas. Jumlah bunga tertinggi didapatkan pada varietas Sima yang secara statistik tidak berbeda nyata dengan varietas Jerapah. Namun dilihat dari jumlah polong total saat panen, varietas Jerapah memiliki jumlah polong total tertinggi dibandingkan tujuh varietas lainnya dan jumlah polong terisi varietas Jerapah lebih tinggi dari varietas Sima. Umur berbunga varietas Sima lebih panjang daripada varietas Jerapah. Hal ini menjelaskan jumlah polong varietas Sima yang lebih rendah dari jumlah polong varietas Jerapah walaupun tidak berbeda nyata secara statistik. Dari seluruh bunga yang dihasilkan tidak semuanya akan menjadi polong tua. Dari percobaan diketahui, persentase bunga yang menjadi polong berkisar 13 – 21%.

Komponen Hasil dan Hasil Kacang Tanah

Hasil panen biji merupakan produk dari sejumlah subfraksi yang disebut komponen hasil panen. Komponen hasil panen dipengaruhi oleh pengelolaan, genotipe, dan lingkungan yang sering kali dapat menerangkan sebab terjadinya pengurangan hasil panen (Gardner et al., 1991).

Dari percobaan ini diketahui bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah polong total per tanaman. Varietas Jerapah memiliki jumlah polong total tertinggi dibandingkan tujuh varietas lainnya. Meskipun demikian jumlah polong terisi tidak berbeda nyata dengan varietas lainnya. Jumlah polong terisi lebih dipengaruhi oleh perlakuan konsentrasi paclobutrazol. Jumlah polong terisi yang lebih tinggi didapatkan pada tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 0 ppm sebesar 20.18 polong sedangkan untuk tanaman dengan perlakuan konsentrasi paclobutrazol 100 ppm hanya 18.13 polong. Diduga konsentrasi paclobutrazol yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman

untuk dapat mengalihkan asimilat ke pertumbuhan reproduktif daripada pertumbuhan vegetatif. Selain itu, paclobutrazol yang diaplikasikan melalui daun hanya berpengaruh pada saat induksi bunga. Menurut Sanchez et al. (1988) pemberian paclobutrazol melalui daun memang lebih mudah, praktis, dan cepat tetapi jangka waktu pengaruhnya terhadap tanaman hanya sebentar, butuh beberapa kali penyemprotan untuk mempertahankan tingkat penghambatan yang dikehendaki.

Pengaruh varietas juga didapatkan pada indeks panen dan indeks biji. Varietas Badak memiliki indeks panen dan indeks biji tertinggi yaitu sebesar 42.05% dan 28.53% sedangkan varietas Garuda 2 memiliki indeks panen dan indeks biji terendah yaitu hanya 33.91% dan 21.65%. Diduga varietas Badak lebih banyak mengalokasikan asimilat untuk pembentukan polong daripada pertumbuhan organ vegetatif tanaman. Jika dibandingkan dengan varietas Sima, berat kering brangkasan varietas Badak lebih rendah. Oleh karena itu, meskipun varietas Badak memiliki indeks panen yang lebih tinggi dari varietas Sima produktivitasnya masih di bawah varietas Sima.

Produktivitas polong kering dan biji kering kacang tanah nyata dipengaruhi oleh perlakuan varietas. Kacang tanah dengan produktivitas polong kering dan biji kering tertinggi adalah Sima sedangkan produktivitas terendah didapatkan pada varietas Garuda 2. Secara statistik produktivitas varietas Garuda 2 tidak berbeda nyata dengan empat varietas lainnya yaitu Biawak, Gajah, Kidang dan Jerapah. Varietas Sima bukan merupakan varietas dengan jumlah polong total tertinggi tetapi memiliki produktivitas tertinggi. Diduga pembagian asimilat selama masa pertumbuhan tanaman untuk varietas Sima lebih ditujukan pada pengisian polong yang terbentuk dari bunga yang muncul lebih awal daripada pembentukan polong baru. Selain itu, varietas Sima merupakan varietas kacang tanah berbiji lebih dari dua dengan ukuran polong yang lebih besar sehingga memiliki berat kering yang lebih besar pula.

Korelasi antara jumlah polong total per tanaman dan produktivitas tidak menunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari jumlah polong total per tanaman terhadap produktivitas polong kering dan biji kering (Tabel Lampiran 3).

Dokumen terkait