• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Pertambahan Panjang Ikan Lele (Clarias sp.)

Data pengamatan pertambahan panjang ikan lele dapat dilihat pada Lampiran 3. Pada akhir percobaan yang dilakukan didapat hasil pertambahan panjang mutlak yaitu dari pertambahan panjang akhir dikurangi dengan panjang awal. Dari data pertambahan panjang rata-rata yang didapat dari setiap perlakuan terdapat pertambahan panjang tertinggi yaitu pada perlakuan P1 yaitu dari 13,1 cm pada hari pertama menjadi 20,5 cm pada hari ke 56, kemudian diikuti pada perlakuan P2 yaitu dari 13,2 cm pada hari pertama menjadi 18,7 cm pada hari ke 56 cm dan pertambahan panjang yang terendah yaitu terdapat pada perlakuan P3 yaitu dari 13,3 cm pada hari pertama menjadi 17,6 cm pada hari ke 56 cm. Data panjang rata – rata ikan lele pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata Pertambahan Panjang (cm) Ikan Lele selama 56 Hari Pemeliharaan

Perlakuan Rata-Rata Pertumbuhan Panjang per Hari (cm) Awal 7 14 21 28 35 42 49 56 Δp

P1 13,1 13,9 14,7 15,6 16,7 17,8 19 20,5 22,1 9,0

P2 13,2 13,7 14,3 15 15,8 16,7 17,7 18,7 19,9 6,7

P3 13,3 13,6 14 14,5 15 15,5 16,2 16,9 17,6 4,3

Pertambahan panjang tertinggi pada ikan lele selama 56 hari pemeliharaan terdapat pada P1 yaitu sebesar 9,0 cm dan diikuti pada perlakuan P2 sebesar 6,7 cm dan pertambahan panjang yang terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu sebesar 4,3 cm dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hasil Pertambahan Panjang (cm) Rata-rata Ikan Lele (Clarias sp.) dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 selama 56 Hari Pemeliharaan Data pengamatan pertambahan panjang rata – rata ikan lele dapat dilihat pada Lampiran 3. Ikan lele yang dipelihara selama 56 hari mengalami pertambahan panjang dimana pertambahan panjang yang tertinggi terdapat pada P1 yaitu sebesar 22,1 cm dari 13,1 cm menjadi 22,1 cm. Kemudian diikuti pada P2 sebesar 19,9 cm dari 13,2 cm menjadi 19,9 cm dan yang terendah yaitu pada P3 sebesar 17,6 cm dari 13,3 cm menjadi 17,6 cm. Laju pertambahan panjang ikan lele (Clarias sp.) dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hasil Laju Pertambahan Panjang (cm) Ikan Lele (Clarias sp.) Hari ke 1 sampai Hari ke-56

Analisis variansi (ANOVA) pertambahan panjang dapat dilihat pada Lampiran 4. Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) pada pertambahan panjang diperoleh nilai F hitung sebesar 789,238 dimana F hitung lebih besar dari F Tabel yang artinya antara perlakuan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan koefisien keragaman (KK) yang dihasilkan adalah 2,175%, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Pada uji lanjut BNT diketahui bahwa perlakuan berbeda sangat nyata terhadap pertumbuhan panjang ikan Lele (P>1%) pada masing-masing perlakuan. Analisis variansi (ANOVA) pertambahan panjang ikan lele dengan menggunakan SPSS yang dapat menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap peningkatan berat ikan lele dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Variansi (ANOVA) Terhadap Panjang (cm) Ikan Lele dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 selama 56 Hari Pemeliharaan

Perlakuan df Panjang Ikan Lele

H7 H21 H35 H49 H56

Pakan (P) 2 * ** ** ** **

P X Ikan 84 0,097ns 0,015** 0,020* 0,013** 0,021*

Total 86 86 71 69 69 69

** sangat berbeda nyata) P≤ , 5). * berbeda nyata) P≤ , ). ns (tidak berbeda nyata)

Hasil SPSS pertambahan panjang rata – rata ikan lele dapat dilihat pada Lampiran 5. Pada pertambahan panjang, didapatkan berpengaruh sangat nyata sehingga dilanjutkan uji BNT. Pada setiap perlakuan didapatkan notasi yang berbeda, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diikuti dengan huruf berbeda memiliki perbedaan yang signifikan yang dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil SPSS Panjang (cm) Rata-rata Ikan Lele dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 selama 56 Hari Pemeliharaan

Hari

Peningkatan Berat Ikan Lele (Clarias sp.)

Data pengamatan peningkatan berat ikan lele dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada akhir penelitian yang telah dilakukan didapat hasil peningkatan berat mutlak yaitu dari peningkatan berat akhir dikurangi dengan peningkatan berat awal. Dari data peningkatan berat rata-rata yang didapat dari setiap perlakuan terdapat peningkatan berat yang tertinggi pada P1 yaitu dari 14,51 gr pada hari pertama menjadi 42,83 gr, kemudian diikuti pada P2 yaitu dari 14,55 gr pada hari pertama menjadi 36,48 gr dan peningkatan berat yang terendah yaitu terdapat pada P3 yaitu dari 14,27 gr pada hari pertama menjadi 27,47 gr. Data berat rata – rata ikan lele pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rata-rata Peningkatan Berat (gr) Ikan Lele dari Hari ke-1 sampai Hari ke-56

Perlakuan Rata-Rata Pertumbuhan Berat per Hari (cm)

Awal 7 14 21 28 35 42 49 56 Δp

P1 14,51 16,74 18,98 22,38 26,57 29,74 34,36 38,61 42,83 28,32 P2 14,55 16,29 18,48 20,96 23,54 25,67 29,69 33,93 36,48 25,92 P3 14,27 15,86 17,25 17,99 19,22 20,77 23,2 25,95 27,47 13,20

Peningkatan berat tertinggi pada ikan lele selama 56 hari pemeliharaan terdapat pada P1 yaitu sebesar 28,32 gr dan diikuti pada perlakuan P2 sebesar 21,92 gr dan peningkatan berat yang terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu sebesar 13,20 gr dapat dilihat pada Gambar 5.

Ikan lele yang dipelihara selama 56 hari mengalami peningkatan berat dimana peningkatan berat yang tertinggi terdapat pada P1 yaitu dari 14,51 gr pada hari pertama menjadi 42,83 gr, kemudian diikuti pada P2 yaitu dari 14,55 gr pada hari pertama menjadi 36,48 gr dan peningkatan berat yang terendah yaitu terdapat pada P3 yaitu dari 14,27 gr pada hari pertama menjadi 27,47 gr. Laju peningkatan berat ikan lele (Clarias sp.) dapat dilihat pada gambar 6.

28,32 21,92 13,20 dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 Selama 56 Hari Pemeliharaan

Analisis variansi (ANOVA) peningkatan berat dapat dilihat pada Lampiran 7. Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) pada pertambahan panjang diperoleh nilai F hitung sebesar 226,786 dimana F hitung lebih besar dari F Tabel yang artinya antara perlakuan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan koefisien keragaman (KK) yang dihasilkan adalah 4,12%, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Pada uji lanjut BNT diketahui bahwa perlakuan berbeda sangat nyata terhadap pertumbuhan panjang ikan Lele (P>1%) pada masing-masing perlakuan. Analisis variansi (ANOVA) peningkatan berat ikan lele dengan menggunakan SPSS yang dapat menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap peningkatan berat ikan lele dapat dilihat pada Tabel 8.

Perlakuan df Panjang Ikan Lele

H7 H21 H35 H49 H56 dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 Selama 56 Hari Pemeliharaan

Hasil SPSS peningkatan berat rata – rata ikan lele dapat dilihat pada Lampiran 8. Pada peningkatan berat, didapatkan berpengaruh sangat nyata sehingga dilanjutkan uji BNT. Pada setiap perlakuan didapatkan notasi yang berbeda, hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diikuti dengan huruf berbeda memiliki perbedaan yang signifikan yang dapat dilihat pada Tabel 9.

Hari

Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Lele

Tingkat kelangsungan hidup ikan yang dipelihara dari tiap perlakuan P1, P2, dan P3 berkisar 70.00-86.70%. Nilai tertinggi kelangsungan hidup ikan lele di dapat pada perlakuan P1 (86.70%), kemudian diikuti perlakuan P2 (76.70%) dan yang terendah terdapat pada perlakuan P3 (70.00%) seperti pada Gambar 7. Data tingkat kelangsungan hidup ikan Lele pada masing – masing perlakuan dapat dilihat pada lampiran 9.

Tabel 9. Hasil Berat (gr) Rata-rata Ikan Lele dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 pada Hari ke-7 sampai Hari ke-56

Gambar 7. Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Ikan Lele (Clarias sp.) dengan Perlakuan P1, P2 dan P3 Selama 56 Hari Pemeliharaan

Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) pada kelangsungan hidup didapatkan F Hitung lebih kecil dibandingkan F Tabel yang berarti pada masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan Lele, maka tidak dilanjutkan pada analisis Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Data hasil analisis variansi (ANOVA) pada tingkat kelangsungan hidup ikan Lele pada masing – masing perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 10.

FCR (Feed Convertion Ratio)

Rasio pemberian pakan terhadap Ikan Lele sangat mempengaruhi pertumbuhan. Hasil perhitungan nilai rasio konversi pakan berkisar antara 1,03 - 1,84. Nilai FCR yang tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu sebesar 1,84 diikuti dengan perlakuan P2 yaitu sebesar 1,23 dan yang terendah pada perlakuan P1 yaitu sebesar 1,03 seperti terlihat pada Gambar 10. Perhitungan Rasio Konversi Pakan dapat dilihat pada Lampiran 11. Hal ini mempengaruhi tingkat pemanfaatan pakan yang kemudian akan mempengaruhi laju pertumbuhan. Hal ini

0

diduga karena ikan mencerna dan mengabsorbsi pakan secara sempurna dan efisien.

Gambar 8. Hasil Konversi Pakan (FCR) Selama 56 Hari Pemeliharaan Parameter Kualitas Air

Kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan Lele sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu, pH dan DO. Hasil pengamatan kualitas air ikan Lele diperoleh dengan suhu 26,1-290C, pH 6,1–7,4 dan DO yaitu 5 – 6,8 mg/l. Data kualitas air wadah pemeliharaan ikan Lele selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4 (Lampiran 12).

Tabel 10. Data Kualitas Air Wadah Pemeliharaan Ikan Lele Selama Penelitian

Kualitas Air P1 P2 P3 Kisaran Normal

Pembahasan

Pertambahan Panjang Ikan Lele

Pakan merupakan salah satu faktor yang berperandalam pertumbuhan ikan lele.Semakin tinggi kandungan nutrisi dalam pakan maka semakin bagus pertumbuhan ikan. Menurut Sukandi (2003) pakan merupakan komponen budidaya ikan yang sangat besar peranannya baik dilihat sebagai penentu pertumbuhan maupun dilihat dari segi ekonomi berupa baik tidaknya suatu pakan ditentukan oleh kandungan nutrisinya. Salah satu kebutuhan nutrisi yang penting untuk ikan adalah protein, kekurangan protein dalam pakan dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan.

Pertumbuhan panjang mutlak (L) ikan Lele menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan P1 sebesar 9,0 cm yaitu dari 13,1 cm pada hari pertama menjadi 20,5 cm pada hari ke 56, kemudian diikuti pada P2 sebesar 6,7 cm yaitu dari 13,2 cm pada hari pertama menjadi 18,7 cm pada hari ke 56 cm dan pertambahan panjang yang terendah yaitu terdapat pada P3 sebesar 4,3 cm yaitu dari 13,3 cm pada hari pertama menjadi 17,6 cm pada hari ke 56 cm. Dapat dilihat pada Lampiran 3. Dimana ikan Lele lebih menyukai pakan P1, sehingga pertambahan panjang yang tertinggi terdapat pada pakan P1 yang memiliki kandungan nutrisi dan disukai oleh ikan lele. Menurut Kartadisastra (1997) menyatakan bahwa faktor yang sangat penting untuk menentukan tingkat konsumsi pakan adalah pakan yang memiliki keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh kenampakan, bau, tekstur dan suhunya.

Mudjiman (2004), pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon dan lingkungan.

Tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk pertumbuhan.

Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan dan reproduksi. Pada pertumbuhan normal terjadi rangkaian perubahan pematangan yaitu pertumbuhan yang mengikutsertakan penambahan protein serta peningkatan panjang dan ukuran. Pertambahan panjang pada saat pengamatan hari ke 7 tidak mengalami pertambahan panjang yang cepat melainkan pertambahan panjang masih lambat pada masing – masing perlakuan, hal ini diduga ikan Lele masih beradaptasi terhadap lingkungan dan pakan yang telah diberikan. Pada hari ke 14 hingga hari ke 56 ikan Lele mengalami pertambahan panjang yang lebih cepat dibanding dengan hari yang ke 7 tetapi dapat dilihat bahwa pada hari ke 49 dan 56 ikan Lele mengalami pertambahan panjang yang cepat.

Hasil analisis variansi (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian bungkil inti sawit pada pakan komersial pada hari ke 7 memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan ikan lele (P<0,05), namun pada hari ke 14 hingga hari ke 56 pemberian bungkil inti sawit pada pakan komersial terhadap pertumbuhan ikan lele memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan Lele (P<0,01). Hasil uji lanjut menunjukkan perlakuan P1 memberikan respon yang lebih baik terhadap pertambahan panjang ikan lele dibandingkan pada perlakuan P2 dan P3.

Dari hasil variansi (ANOVA) pada pertambahan panjang didapatkan F hitung lebih besar dari F Tabel sehingga analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) karena berbeda sangat nyata dengan koefisien Keragaman (KK) yang dihasilkan 2,17%. Pada Uji Lanjut BNT (Lampiran 4) diketahui bahwa perlakuan berbeda sangat nyata terhadap peningkatan berat ikan

lele (P<0,01) pada masing – masing perlakuan. Hasil uji lanjut menunjukkan perlakuan P1 memberikan respon yang lebih baik terhadap peningkatan berat ikan lele dibandingkan pada perlakuan P2 dan P3.

Peningkatan Berat Ikan Lele

Peningkatan berat ikan Lele selama 56 pemeliharaan mengalami peningkatan berat yang tertinggi pada P1 sebesar 28,32 gr yaitu dari 14,51 gr pada hari pertama menjadi 42,83 gr, kemudian diikuti pada P2 sebesar 25,92 gr yaitu dari 14,55 gr pada hari pertama menjadi 36,48 gr dan peningkatan berat yang terendah yaitu terdapat pada P3 sebesar 13,20 gr yaitu dari 14,27 gr pada hari pertama menjadi 27,47 gr. Dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada perlakuan P1 mengalami peningkatan berat pada ikan Lele yang tertinggi dikarenakan jumlah penambahan bungkil inti sawit adalah yang terendah yaitu seberar 25%

dibandingkan dengan P2 (50%) dan P3 (75%). Dimana pada P1 pemberian bungkil inti sawit yang sedikit dan pakan komersial yang banyak sehingga ikan Lele menyukai pakan tersebut karena ikan lele merupakan ikan yang lebih menyukai pakan yang mengandung lebih banyak protein hewani dibandingkan dengan protein nabati. Hal ini sesuai dengan (Iqbal, 2011) yang menyatakan bahwa pakan tambahan yang baik untuk ikan lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat.

Pada perlakuan P3 merupakan tingkat pertumbuhan yang terendah yaitu sebesar 27,47 gr, dikarenakan penambahan bungkil inti sawit pada pakan komersial sebesar 75%. Hal ini terjadi dikarenakan bungkil inti sawit mengandung serat kasar yang tinggi, sehingga ikan Lele tidak menyukai pakan

tersebut dan dimana ikan lele juga tidak mampu dalam mencerna serat kasar tersebut. Hal ini sesuai dengan (Pamungkas, 2012) yang menyatakan bahwa ikan kurang mampu mencerna serat kasar karena dalam usus ikan tidak terdapat mikroba yang dapat memproduksi enzim selulase. Kadar serat kasar yang berbeda pada bahan penyusun pakan dapat mempengaruhi nilai energi yang tersedia dalam pakan karena korelasi negatif antara serat dalam pakan dengan energi yang tersedia dalam pakan. Semakin tinggi kandungan serat kasar pakan maka semakin rendah jumlah energi yang tersedia. Hal tersebt disebabkan serat kasar tidak mampu menyediakan energi yang dapat dimanfaatkan oleh ikan.

Menurut Iskandar dan Fitriadi (2017) Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan bukan nutrisi penting bagi ikan laut.

Serat kasar akan menimbulkan pengotoran dalam wadah kultur, akan tetapi tetap diperlukan untuk memudahkan pengeluaran feses. Jika terlalu banyak serat kasar (>10%) akan mengakibatkan daya cerna menurun, penyerapan menurun, meningkatnya sisa metabolisme, penurunan kualitas air kultur. Hasil analisa serat kasar pada bungkil inti sawit yaitu 14,7% dimana telah melewati kadar normal yaitu telah melebihi 10% sehingga serat kasar yang terdapat pada bungkil inti sawit tersebut sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ikan lele, yaitu dimana ikan lele mengalami tingkat pertumbuhan yang lambat.

Hasil analisis variansi (ANOVA) pada peningkatan berat didapatkan F Hitung lebih besar dari F Tabel yang menunjukkan bahwa pemberian pakan berupa bungkil inti sawit yang dicampur pada pakan komersial memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan berat ikan lele, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) karena berbeda sangat

nyata dengan koefisien Keragaman (KK) yang dihasilkan 4,128%. Pada Uji Lanjut BNT (Lampiran 7) diketahui bahwa perlakuan berbeda sangat nyata terhadap peningkatan berat ikan lele (P<0,01) pada masing – masing perlakuan.

Hasil uji lanjut menunjukkan perlakuan P1 memberikan respon yang lebih baik terhadap peningkatan berat ikan lele dibandingkan pada perlakuan P2 dan P3.

Kelangsungan Hidup Ikan Lele

Pada Gambar 7 nilai tertinggi kelangsungan hidup ikan lele di dapat pada perlakuan P1 (86,70%), kemudian diikuti perlakuan P2 (76,70%) dan yang terendah terdapat pada perlakuan P3 (70,00%). Hal ini menunjukkan angka kelulusan hidup ikan lele menunjukkan bahwa pemberian pakan berupa bungkil inti sawit dalam pakan komersial dapat diterima oleh ikan lele serta ikan telah beradaptasi dengan lingkungan dan makanan yang diberikan. Hal ini juga didukung oleh penanganan yang bagus selama penelitian, wadah peliharaan yang layak untuk kelangsungan hidup ikan lele, sehingga selama penelitian pada perlakuan P1 hanya empat ekor saja ikan yang mati, P2 tujuh ekor ikan yang mati dan pada P3 sembilan ekor ikan yang mati. Hal ini didukung oleh Radhiyufa (2011) yang menyatakan bahwakelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang mempengaruhi yaitu kompetitor, parasit, umur, predasi, kepadatan populasi, kemampuan adaptasi dari hewan dan penanganan manusia. Faktor abiotik yang berpengaruh antara lain yaitu sifat fisika dan sifat kimia dari suatu lingkungan perairan.

Kelangsungan hidup ikan lele yang terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu sebesar 70,00%. Hal ini dikarenakan pakan yang diberikan pada ikan lele tidak disukai oleh ikan karena pada perlakuan P3 memiliki kandungan pakan yang

lebih banyak mengandung protein nabati sehingga ikan lele tidak memakan pakan tersebut sehingga ikan lele mengalami kelaparan dan ikan yang memiliki tubuh lebih besar memangsa ikan yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya, karena ikan lele merupakan ikan yang bersifat kanibalisme yaitu memiliki sifat yang suka memakan jenisnya sendiri. Hal ini didukung oleh Iqbal (2011), yang menyatakan bahwa Lele bersifat kanibalisme, yaitu mempunyai sifat yang suka memakan jenisnya sendiri. Jika kurang, sifat kanibalisme akan timbul oleh karena perbedaan ukuran. Lele yang berukuran besar akan memangsa ikan lele yang berukuran lebih kecil.

Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) (Lamprian 10) pada kelangsungan hidup ikan lele didapatkan F Hitung lebih kecil dari F Tabel yang berarti pada masing – masinf perlakuan menunjukkan hasi yang tidak berpengaruh nyata, maka tidak perlu dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) karena pada masing – masing perlakuan menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan lele.

Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, namun larut dalam pelarut organik sebagai sumber energi terpenting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan (Watanabe, 1988 dalam Rostika, 1997). Pakan yang baik umumnya mengandung 4 – 18% lemak. Sedangkan menurut Suyanto (1994), kadar lemak yang optimal dalam menunjang pertumbuhan ikan adalah 2.57%.

Kadar lemak pada bungkil inti sawit berkisar yaitu 11,2%. , maka dapat dikatakan bahwa kandungan lemak pada bungkil inti sawit dalam kategori baik.

Abu total didefinisikan sebagai residu yang dihasilkan pada proses pembakaran bahan organik, berupa senyawa anorganik dalam bentuk oksida,

garam dan juga mineral. Abu total yang terkandung di dalam suatu produk dibatasi jumlahnya. . Kadar abu pada pakan mewakili kadar mineral pakan, kadar yang sesuai adalah 3-7 % (Winarno, 1997). Kadar abu pada bungkil inti sawit berkisar yaitu 4,5%. Ini menunjukan kadar abu yang cukup baik dalam memenuhi kebutuhan ikan.

FCR (Feed Convertion Ratio)

Konversi pakan merupakan perbandingan pakan yang habis dengan pertambahan bobot yang dihasilkan selama penelitian. Tinggi rendahnya konversi pakan merupakan gambaran efesiensi pemberian pakan yang digunakan dalam penelitian. Hasil penghitungan konversi pakan ikan lele selama penelitian pada tiap perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 11. Hal ini didukung oleh Monalisa dan Rochdianto (2005) menyatakan bahwa konversi pakan merupakan perhitungan seberapa banyak ikan mampu merubah pakan menjadi daging ikan (dalam 1 kg daging) dan konversi pakan tersebut sebagai acuan atau tolak ukur sampai sejauh mana efisiensi usaha pembesaran ikan tersebut. Nilai konversi pakan bertujuan untuk mengetahui berapa banyak pakan yang diberikan untuk mencapai berat ikan dalam 1 kg.

Rata – rata konversi pakan dapat dilihat gambar 8, nilai rata – rata konversi pakan yang terbaik terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 1,03 diikuti dengan P2 sebesar 1,23 dan yang paling rendah yaitu P3 sebesar 1,84. Pemberian bungkil inti sawit sebesar 25% kedalam pakan lebih baik terhadap konversi pakan yang menggunakan bungkil inti sawit sebesar 75%.

Jumlah konsumsi pakan sangat erat hubungannya dengan kandungan protein dan energi dalam pakan, semakin rendah nilai konversi pakan maka

semakin baik kualitas pakan tersebut. Hal ini sesuai dengan Budi (2006) dalam Sonata et al (2014) yang menyatakan bahwa konversi pakan erat hubungannya dengan pertumbuhan nilai konversi pakan. Dihitung untuk menentukan baik atau tidaknya kualitas pakan yang dihasilkan bagi pertumbuhan. Semakin rendah nilai konversi pakan maka semakin baik kualitas pakan tersebut dan pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh ikan untuk pertumbuhan.

Berdasarkan nilai konversi pakan pada masung – masing perlakuan didapatkan bahwa pakan pada perlakuan P1 merupakan pakan yang paling efisien karena memeiliki nilai konversi yang paling rendah dan pada perlakuan P3 merupakan pakan yang kurang efisien karena memiliki nilai konversi pakan yang paling tinggi. Hal ini sesuai dengan Hermawan et al (2014) menyatakan bahwa nilai FCR yang semakin kecil menunjukkan pakan yang dikonsumsi oleh ikan lebih efisien digunakan untuk pertumbuhan, sebaliknya nilai FCR yang semakin besar menunjukkan pakan yang dikonsumsi kuran efisien (pemanfaatan pertumbuhan rendah).

Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air merupakan salah satu parameter yang sangat berperan penting dalam melakukan kegiatan budidaya perairan. Air yang merupakan media dalam pemeliharaan harus mendukung kehidupan organisme perairan karena bila air yang dimasukkan dalam kolam tidak memenuhi kriteria kualitas air dalam budidaya perairan maka akan berdampak terhadap ketidakberhasilan dalam melakukan budidaya tersebut dimana ikan akan mati dalam waktu yang cepat. Iqbal (2011) menyatakan kualitas air merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan budidaya ikan lele. Penurunan kualitas

air dapat menyebabkan munculnya penyakit, menghambat pertumbuhan ikan, mengurangi konversi pakan dan dapat menyebabkan kematian.

Nilai – nilai parameter kualitas air selama penelitian pada masing – masing perlakuan yaitu suhu berkisar dengan 26,1 – 290C, pH berkisar 4,3 – 7,4 dan DO berkisar 5 – 6,8 mg/l. (Tabel 8). Suhu yang didapat dalam penelitian ini termasuk baik terhadap pertumbuhan ikan lele karena Sumpeno (2005) menyatakan bahawa suhu yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah 250C – 300C, di atas suhu tersebut nafsu makan lele akan berkurang. Selain itu, tingginya temperatur air akan menyebabkan meningkatnya aktivitas metabolisme dari organisme yang ada.

Hasil pengukuran pH yang diukur menggunakan pH meter selama penelitian didapat sebesar 4,3 – 7,4 ppm. Murhananto (2002) menyatakan bahwa pH yang baik untuk pertumbuhan ikan lele yaitu antara 6,5 sampai 9,0. pH kurang dari 5 sangat buruk bagi kehidupan ikan lele, karena dapat menyebabkan penggumpalan lendir pada insang dan dapat menyebabkan kematian.

Hasil pengukuran DO yang diukur menggunakan DO meter selama 56 hari pemeliharaan ikan, didapatkan nilai berkisar 5 – 6,8 mg/l. Sumpeno (2005) menyatakan pada umumnya ikan lele hidup normal pada kandungan oksigen terlarut 4 mg per liter, jika persediaan oksigen di bawah 20% dari kebutuhan

Hasil pengukuran DO yang diukur menggunakan DO meter selama 56 hari pemeliharaan ikan, didapatkan nilai berkisar 5 – 6,8 mg/l. Sumpeno (2005) menyatakan pada umumnya ikan lele hidup normal pada kandungan oksigen terlarut 4 mg per liter, jika persediaan oksigen di bawah 20% dari kebutuhan

Dokumen terkait