Hasil
Gambaran Umun LokasiPenelitian
Kabupaten Bogor bagian Timur mempunyai luas wilayah 1400 km2 yang terbagi dalam sembilan kecamatan, salah satunya adalah Kecamatan Sukamakmur. Kecamatan Sukamakmur merupakan hasil dari pemekaran wilayah Kecamatan Jonggol. Luas kecamatan Sukamakmur adalah 236.1 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 62121 jiwa. Batas wilayah Kecamatan Sukamakmur, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Citeureup dan Babakan Mandang. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cipanas. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jonggol dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Megamendung. Kecamatan Sukamakmur mempunyai sepuluh Desa, dua diantaranya adalah Desa Sirnajaya dan Wargajaya yang dijadikan sebagai lokasi penelitian. Desa Sirnajaya dan Wargajaya merupakan dua dari sepuluh Desa yang mempunyai jumlah RTP (Rumah Tangga Pertanian) masih tinggi. Desa Sirnajaya mempunyai luas wilayah 15.3 km2 dengan jumlah penduduk sebagai petani sebanyak 2368 jiwa dan Desa Wargajaya mempunyai luas wilayah 14.6 km2 dengan jumlah penduduk petani sebanyak 2532 jiwa. Lahan pertanian yang
12
dimiliki masyarakat sebagian besar adalah lahan basah (sawah). Desa Sirnajaya memiliki luas lahan sawah 4.3 km2 sedangkan Desa Wargajaya memiliki luas lahan sawah 3.4 km2. Oleh kerena itu, hampir seluruh masyarakat memanfaatkan lahan sawah untuk bertani padi. Selain itu, masyarakat sekitar memanfaatkan lahan kering atau kebun untuk ditanami tanaman buah tahunan seperti manggis, duku, durian dan sebagainnya.
Kecamatan Sukamakmur mempunyai sepuluh GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) yang tersebar di masing-masing desa dan satu penyuluh pertanian. Desa Sirnajaya mempunyai satu GAPOKTAN dengan nama Mekarjaya. GAPOKTAN tersebut terdapat lima kelompok tani yang masing-masing kelompok mempunyai anggota antara 20-25 orang. Desa Wargajaya mempunyai satu GAPOKTAN yang terdiri dari enam kelompok tani yang masing-masing kelompok tani mempunyai anggota kelompok anatara 20-25 orang. Kelompok tani merupakan salah satu organisasi masyarakat sebagai wadah bagi para petani untuk bertukar pikiran, saling berbagi ilmu dan pengalaman bertani dengan petani lainnya.
Namun, keberadaan kelompok tani di dua Desa tersebut masih kurang termanfaatkan dengan baik. Ditunjukkan dari kegiatan seperti musyawarah bersama atau pertemuan-pertemuan antarpetani masih sangat jarang dilakukan, sehingga informasi terkait teknologi pertanian tidak sampai pada petani. Oleh karena itu, pengetahuan petani terkait pertanian saat ini juga belum berkembang. Pandangan petani terhadap pertanian masih sangat tradisional yang menganggap profesi petani hanyalah pekerjaan yang kasar dan rendahan. Tingkat pendidikan yang masih rendah membuat masyarakat kurang terbuka dengan hal-hal yang baru seperti rendahnya tingkat adopsi teknologi pertanian (penggunaan alat-alat modern, penggunaan benih atau varietas unggul serta pemanfaatan teknologi informasi)
Karakteristik petani
Karakeristik petani merupakan ciri-ciri yang ada dalam diri petani yang meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan dan besar keluarga. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa 67.4 persen responden berjenis kelamin laki-laki. Hal ini disebabkan karena pemegang kekuasaan atau pengambil keputusan utama dalam keluarga didominasi oleh suami. Rata-rata usia responden dalam penelitian ini adalah 43.55 tahun. Sebanyak 58.9 persen usia responden berada pada kategori paruh banya. Sumarwan (2004) membagi lima kategori kelompok usia yaitu dewasa awal (19-24 tahun), dewasa lanjut (25-35 tahun), paruhbaya (36-50 tahun), tua (51-65 tahun) dan lanjut usia (>65 tahun). (Tabel 2)
Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN 2005) membagi kategori besar keluarga menjadi tiga yaitu keluarga kecil (kurang dari empat orang anak), keluarga sedang (4-7 orang anak) dan keluarga besar (lebih dari tujuh orang anak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 52.5 persen responden mempunyai kurang dari empat orang anak. Hal ini terjadi karena separuh dari responden masih berada pda usia paruhbaya dan termasuk dalam kategori keluarga kecil dengan rata-rata besar keluarga yang dimiliki adalah lima orang anak (Tabel 2).
13 Tingkat pendidikan responden dalam penelitian ini dapat dikatakan masih tergolong rendah. Sebanyak 73.8 persen hanya lulusan SD (Sekolah Dasar) bahkan 22 persen tidak tamat SD. Hanya 3.5 persen tamatan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan 0.7 persen tamatan SMA (Sekolah Menengah Atas). Rata-rata pendidikan yang ditempuh responden adalah 5 tahun. Hal ini terjadi karena rendahnya persepsi masyarakat tentang pendidikan, mereka menganggap bahwa sekolah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu mereka lebih memilih dan meminta anaknya untuk membantu bekerja di sawah dan bekerja lainnya dibandingkan untuk sekolah. (Tabel 2)
Tabel 2 Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani
Variabel Jumlah (n) Persentase (%)
Jenis kelamin
Laki-laki 95 67.4
Perempuan 46 32.6
Usia
Dewasa awal (19-24 tahun) 0 0
Dewasa lanjut (25-35 tahun) 34 24.1
Paruhbaya (36-50 tahun) 76 53.9
Tua (51-65 tahun) 30 21.3
Lanjut usia (>65 tahun) 1 0.7
Besar keluarga
Kecil (<4 anak) 74 52.5
Sedang (4-7 orang anak) 62 44.0
Besar (>7 anak) 5 3.5 Pendidikan Tidak tamat SD 31 22.0 Tamat SD 104 73.8 Tamat SMP 5 3.5 Tamat SMA 1 0.7 Karakteristik Pertanian
Berdasarkan karakteristik pertanian, sebagian besar responden mempunyai pengalaman bertani yang lama. Tabel 3 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mempunyai pengalaman bertani lebih dari tujuh setengah tahun (94.3%) dengan rata-rata pengalaman bertani responden adalah 22.6 tahun. Kusmiati et al. (2007) membagi pengalaman bertani kealam tiga kategori, yaitu pemula (kurang dari empat tahun), sedang (4-7.5 tahun) dan lama (lebih dari 7.5 tahun). Pengalaman bertani tersebut didapatkan dari orangtua terdahulu, karena sebagian besar profesi petani yang saat ini ditekuni adalah pemberian atau proses transfer dari generasi sebelumnya. Sebanyak 89.4 persen luas lahan yang dimiliki petani berada dalam kategori sempit, hanya 10.6 persen responden mempunyai lahan yang luas. 2Menurut BPS (2014) luas lahan dibagi dalam dua kategori yaitu lahan sempit (< 0.86 ha) dan luas (> 0.86 ha). Rata-rata luas lahan yang dimiliki responden adalah 0.38 ha.
14
Tabel 3 Sebaran responden berdasarkan karakeristik pertanian
Variabel Jumlah (n) Persentase (%)
Pengalaman bertani (th)
Pemula (<4 th ) 5 3.5
Sedang (4-7.5 th) 3 2.1
Lama (>7.5 th) 133 94.3
Luas lahan (ha)
Sempit (< 0.86 ha) 126 89.4
Luas (> 0.86 ha) 15 10.6
Pendapatan pertanian (rp/bulan)
Dibawah rata-rata (< Rp738179.45) 94 66.7
Diatas rata-rata (> Rp738179.45) 47 33.3
Pendapatan pertanian merupakan penghasilan yang diperoleh dari hasil pertanian. Rata-rata pendapatan pertanian responden per bulan sebesar Rp73179.45. Sebanyak 66.7 persen pendapatan yang diperoleh petani berada diatas rata. Namun 33.3 persen pendapatan responden masih dibawah rata-rata (Tabel 3). Hal ini berkaitan dengan luas lahan yang dimiliki responden. Semakin luas lahan yang dimiliki maka semakin banyak produktivitas pertaniannya sehingga pendapatan yang diperoleh dari hasil pertanian juga semakin besar. Menurut Yusnita (2010) menyatakan bahwa luas lahan yang dimiliki petani berpengaruh terhadap produktivitas pertaniannya. Artinya semakin luas lahan yang dimiliki produktivitas pertaniannya semakin meningkat sehingga pendapatan yang didapatkan semakin meningkat.
Persepsi Sebagai Petani
Persepsi sebagai petani dalam penelitian ini merupakan cara pandang seseorang terhadap pertanian. Persepsi seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pendidikan. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan yang baik. Tabel 4 menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah responden masih mempunyai persepsi yang kurang baik terhadap pertanian (56%). Responden menganggap bahwa pekerjaan petani merupakan pekerjaan yang rendahan, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup, tingkat pendidikannya rendah. Namun terdapat 0.7 persen petani yang memiliki persepsi yang baik. Rata-rata capaian tingkat persepsi sebagai petani adalah 56.7. Sejalan dengan tingkat pendidikan responden yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD).
Tabel 4 Sebaran respponden berdasarkan tingkat persepsi sebagai petani
Variabel Jumlah (n) Persentase (%)
Kurang baik (<60) 79 56.0
Cukup baik (60-80) 61 43.3
Baik (>80) 1 0.7
15 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa responden laki-laki mempunyai persepsi terhadap pertanian lebih baik dibandingkan dengan perempuan. Sebanyak 52.6 persen responden laki-laki termasuk dalam kategori kurang baik sedangkan capaian kategori kurang baik pada responden perempuan sebanyak 63 persen. Hanya 1.1 persen responden laki-laki yang sudah mempunyai persepsi baik terhadap pertanian. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara persepsi pertanian pada laki-laki dan perempuan (p=0.344)
Tabel 5 Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dan tingkat persepsi sebagai petani
Persepsi Laki-laki Perempuan
n % n %
Kurang baik (skor) 50 52.6 29 63
Cukup baik (skor) 44 46,3 17 37
Baik (skor) 1 1.1 0 0
Total 95 100 46 100
Tabel 6 menunjukkan bahwa kecenderungan responden menjawab sangat tidak setuju pada item peryataan “penghasilan petani tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari” dan “bertani banyak gagal dibandingkan dengan berhasil”. Dalam penelitian ini, petani menyatakan bahwa keberhasilan panen padi tidak hanya ditentukan oleh faktor cuaca musim juga mempengaruhi seperti “musim wereng, tikus dan lainnya”. Selain itu kecenderungan responden menjawab netral yaitu pada pernyataan “bekerja di sektor pertanian lebih bergensgi dibandingkan dengan non pertanian”. Artinya bahwa bekerja di pertanian ataupun diluar pertanian tidak membuat petani minder atau sombong. Mereka menjelaaskan bahwa “saya bangga dengan profesi saya sebagai petaani, karena memeang pekerjaan saya hanya bertni, namun berbeda bagi yang pekerjaan petani hanya sebagai pekerjaan sambilan.
Kecenderungan responden menjawab setuju yaitu pada pernyataan “bertani bergantung musim”. Dalam hal ini, ketika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan maka parrra petani tidak dapat melakuka kegiatan bertani karena lahan yang kering begitu pula sebaliknya ketika musim penghujan yang berkepanjangan sawah mereka akan terendam air dengan debit yang cukup besar yang akan berdampak pada hasil panen. Selain itu, kecenderungan responden menjawab sangat setuju pada pernyataan “profesi petani yang membanggakan, fisik petani harus kuat dan bertani pekerjaan yang menyenangkan”. Artinya bahwa beberapa responden menikmati pekerjaan sebagai petani, meskipun menjadi petani harus memiliki kondisi fisik yang kuat, namun bagi mereka bertani merupakan kegiatan yang menyenangkan. Beberapa dari responden menyatkan bangga karena merek dapat memberikan kehidupan masyarakat luas dengan menyediakan beras sebagai bahan makanan pokok bgi msyaarakat Indonesia pada umumnya.
16
Tabel 6 Sebaran responden berdasarkan tingkat persetujuan persepsi sebagai petani
Persepsi sebagai petani STS TS N S SS
Petani merupakan pekerjaan yang rendahan 1 44 48 41 7
Penghasilan petani tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari
9 49 40 35 8
Tingkat pendidikan petani rendah 2 51 66 19 3
Petani profesi yang membanggakan 2 11 36 76 16
Petani hanya dilakukan oleh orangtua 4 39 33 56 9
Profesi petani hanya untuk laki-laki 1 23 30 70 17
Bertani merupakan sumber penghasilan utama 2 27 48 52 12
Waktu bekerja petani fleksibel 0 12 39 84 6
Fisik petani harus kuat 0 9 16 97 19
Menjadi petani tidak punya benyak waktu luang dengan orang lain
3 25 31 70 12
Bertani bergantung musim 4 7 20 99 13
Bertani pekerjaan yang menyenangkan 2 8 45 71 15
Bekerja di sektor pertanian lebih bergengsi dibandingkan dengan non pertanian
4 22 83 29 3
Bertani banyak gagal dibandingkan dengan berhasil 8 37 50 42 4
Tingkat pendidikan petani rendah 2 51 66 19 3
Petani profesi yang membanggakan 2 11 36 76 16
Petani hanya dilakukan oleh orangtua 4 39 33 56 9
Adopsi Teknologi Pertanian
Adopsi teknologi pertanian merupakan pemanfaatan teknologi yang meliputi alat-alat pertanian modern yang dapat memberikan peningkatan hasil pertanian (OECD 2014). Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mempunyai tingkat adopsi teknologi pertanian yang masih rendah (96.5%). Hal ini terjadi karena partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan masih rendah (Tabel 7). Menurut Saridewi dan Siregar (2010) menyatakan bahwa peran penyuluh sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan petani yang berkaitan dengan teknologi pertanian.
Tabel 7 Sebaran responden berdasarkan tingkat adopsi teknologi pertanian
Variabel Jumlah (n) Persentase (%)
Rendah (0-60) 136 96.5
Sedang (60.1-80) 5 3.5
Tinggi (80.1-100) 0 0
Total 141 100
Adopsi teknologi pertanian dibagi dalam dua dimensi yaitu peran penyuluhan dan pemanfaatan peralatan modern dan informasi. Berdasarkan capaian dimensi penyuluhan, sebanyak 83.8 persen partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan masih rendah. Para petani mengakui bahwa mereka jarang mengikuti kegiatan penyuluhan dengan alasan tidak pernah diundang dan malas.
17 Pengetahuan tentang bertani hanya didapatkan secara turun temurun dari generasi sebelumnya. Hanya 2.7 persen petani yang berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan. Selain itu, dilihat dari pemanfaatan peralatan pertanian dan informasi masih sangat rendah. Sebanyak 87.8 persen petani masih menggunakan peralatan yang sederhana untuk bertani. Peralatan tersebut adalah cangkul, caplak, sabit, kerbau. Hanya 0.7 persen yang sudah memanfaatkan teknologi pertanian seperti traktor, power tresser, benih unggul, penggunaan metode tanam jajar legowo. Hal ini terjadi karena persepsi petani terhadap pertanian dan pengatahun tentang teknologi pertanian yang dimiliki petani yang masih rendah sehingga sulit untuk menerima hal-hal yang baru (Tabel 8).
Tabel 8 Sebaran responden berdasakan partsipasi penyuluhan dan pemanfaatan teknologi pertanian
Dimensi Penyuluhan Pemanfaatan informasi
Capaian n % n %
Rendah 124 83.4 130 87.8
Sedang 13 8.8 10 6.8
Tinggi 1 0.7 1 0.7
Total 141 100 141 100
Tabel 9 menunjukkan bahwa proporsi terbesar tingkat adopsi teknologi pertanian responden laki-laki dan perempuan berada dalam kategori rendah. Artinya, petani laki-laki maupun petani perempuan belum mampu untuk memanfaatkan teknologi pertanian secara optimum. Hal ini dibuktikan dengan tingkat partisipasi petani laki-laki dan perempuan dalam kegiatan penyuluhan serta pemanfaatan teknologi pertanian yang masih rendah.
Tabel 9 Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dan tingkat adopsi teknologi pertanian Adopsi teknologi pertanian Laki-laki Perempuan n % n % Rendah (skor) 91 95.8 45 97.8 Sedang (skor) 4 4.2 1 2.2 Tinggi (skor) 0 0 0 0 Total 95 100 46 100
Minat Transfer Pertanian
Minat merupakan ketertarikan seseorang terhadap suatu objek (Winkel 2005). Minat transfer pertanian keluarga merupakan ketertarikan atau keinginan petani untuk mempertahankan pertanian keluarga agar tidak hilang dengan cara mewariskan pertanian keluargaya pada generasi selanjutya. Sebanyak 52.8 persen responden sudah berminat untuk mewariskan pertanian keluarga pada generasi selanjutnya, mulai dari cara bertani, penggunaan alat, pemilihan bibit unggul, pengunaan pupuk hingga aset pada generasi selanjutnya. Namun, sisanya (48.2%) masih belum berminat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi
18
selanjutnya. Minat responden laki-laki untuk mentransfer pertanian pada generasi selanjutnya lebih besar dibandingkan dengan responden perempuan. Sebanyak 58.9 persen responden laki-laki berminat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya, sedangkan responden perempuan yang berminat untuk mentransfer pertanian keluarga yaitu 37.0 persen (Tabel 10). Hal ini terjadi karena sebagian besar yang mempunyai peran dalam pengambilan keputusan akan mentransfer pertaniannya pada generasi selanjutnya atau tidak adalah laki-laki sebagai kepala keluarga.
Tabel 10 Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dan minat transfer pertanian keluarga Minat Transfer Pertanian Laki-laki Perempuan Jumlah (n) Pesentase (%) Jumlah (n) Pesentase (%) Tidak 39 41.1 29 63.0 Ya 56 58.9 17 37.0 Total 95 100 46 100
Persepsi sebagai petani akan menentukan minat petani untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya. Tabel 11 menunjukkan bahwa petani yang mempunyai persepsi sebagai petani kurang baik terhadap pertanian mempunyai kecenderungan tidak berminat untuk melakukan transfer pertanian keluarga dibandingkan dengan petani yang mempunyai persepsi sebagai petani pada kategori cukup baik. Sebanyak 53.4 persen petani yang berminat untuk mentransfer pertanian pada generasi selanjutnya mempunyai persepsi dalam kategori cukup baik dan sebanyak 1.4 persen mempunyai persepsi yang baik terhadap pertanian.
Tabel 11 Sebaran responden berdsarkan minat transfer pertanian dan tingkat persepsi sebagai petani
Persepsi Tidak minat Minat
n % n %
Kurang baik (0-60) 46 67.6 33 45.2
Cukup baik (60.1-80) 22 32.4 39 53.4
Baik (80.1-100) 0 0 1 1.4
Total 68 100 73 100
Adopsi teknologi pertanian merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan petani untuk mepertahankan pertanian keluarganya agar tidak hilang. Namun dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi yang dilakukan petani tidak menjadi tolak ukur dalam pengambilan keputusan petani untuk melakukan transfer pertanian pada generasi selanjutnya. Pada Tabel 12 menunjukkan bahwa petani yang berminat atau tidak berminat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya mempunyai tingkat adopsi yang rendah. Sebanyak 98.5 persen petani yang tidak berminat mempunyai tingkat adopsi yang rendah dan 1.5
19 persen mempunyai tingkat adopsi sedang. Sementara petani yang berminat mentranfer pertanian keluarga mempunyai tingkat adopsi teknologi pertanian rendah sebanyak 94.5 persen dan hanya 5.5 persen yang mempunyai tingkat adopsi tekologi sedang.
Tabel 12 Sebaran responden bedasarkan minat transfer pertanian dan tingkat adopsi teknologi pertanian
Adopsi teknologi pertanian
Tidak minat Minat
n % n %
Rendah (skor) 67 98.5 69 94.5
Sedang (skor) 1 1.5 4 5.5
Tinggi (skor) 0 0 0 0
Total 68 100 73 100
Responden yang berminat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya mempunyai kecenderungan untuk mewariskan atau mentranfer pertanian kepada anak pertama dan laki-laki (50.7%). Sisanya sebanyak 49.3 persen orangtua akan mentransfer pertanian keluarganya pada anak yang lainnya. Hal ini terjadi kerena kecenderungan masyarakat di desa menjadikan anak laki-laki pertamanya sebagai kepala keluarga menggantikan peran ayah dalam pengambilan keputusan keluarga setelah orangtuanya tidak lagi mampu untuk mengelola pertanian keluarga (Tabel 13).
Table 13 Sebaran reesponden berdasarkan urutan anak yang akan ditransfer petnian keluarga
Urutan anak yang akan ditransfer Jumlah
(n) Persentase (%) Ke anak 1 37 50.7 Ke anak lainnya 36 49.3 Total 73 100
Terdapat beberapa alasan orangtua tidak berminat untuk mentranfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya. Tabel 14 menunjukkan bahwa proporsi terbesar alasan orangtua tidak berminat untuk mentransfer pertanian keluarganya yaitu karena ingin anaknya bekerja di luar sektor pertanian (33.8%). Hal tersebut menunjukkan bahwa petani masih memiliki pandangan negatif terhadap profesi petani. mereka menganggap baahwa menjadi ppetani adaala pekerjaan yang melelahkan, kotor, rendahan dan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan proporsi terkecil yaitu karena tidak mempunyai anak laki-laki (7.4%). Hal ini diungkapkan petani karena mereka menganggap bahwa menjadi petani harus kuat dan perempun tidak mempunyi kondisi fisik sekuat laki-laki. Sebanyak 26.5 persen petani tidak berminat untuk mentranfer pertanian karena ragu-ragu anaknya mampu menjalankan pertanian keluarga dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan anak dalam pertanian. Tidak sedikit petani yang mengungkapkan jika anak mereka tidak pernah mengikutsertakan anak mereka dalam kegiatan bertani. Selain itu minat anak dalam bidang pertanian masih rendah (17.6%) dan pendapatan dari hasil bertani
20
tidak menentu menjadikan alasan petani tidak berminat untuk melakukan transfer pertanian keluarganya (14.7%)
Tabel 14 Sebaran responden berdasarkan alasan tidak berminat untuk mentransfer pertanian keluarga
Alasan petani tidak berminat Jumlah (n) Persentase (%)
Orangtua ingin anaknya bekerja di luar pertanian 23 33.8
Petani tidak dapat diharapkan 10 14.7
Tidak mempunyai anak laki-laki 5 7.4
Minat anak dalam pertanian rendah 12 17.6
Ragu-ragu anak dapat menjalankan pertanian keluarga 18 26.5
Total 68 100
Hubungan karakteristik petani, karakteristik pertanian dengan persepsi sebagai petani dan adopsi teknologi pertanian
Berdasarkan uji korelasi spearman menunjukkan bahwa usia responden berhubungan positif dengan adopsi teknologi pertanian. Artinya semakin tua usia semakin tinggi tingkat adopsi teknologi pertanian yang dilakukan petani. Begitu juga dengan pendidikan, luas lahan dan pendapatan pertanian mempunyai hubungan positif dengan persepsi dan adopsi teknologi pertanian. Artinya tingkat pendidikan yang baik akan membentuk persepsi sebagai petani yang baik pula sehingga kecenderungan untuk mengadopsi teknologi pertanian semakin baik. Semakin luas lahan yang dimiliki responden, semakin tinggi tingkat adopsi teknologi pertanian yang dilakukan. Pemanfaatan teknologi pertanian mampu memberikan nilai tambah bagi petani terutama dalam meningkatkan produktivitas pertanian keluarga namun tetap efisien dalam waktu bekerja.
Tabel 15 Nilai koefisien korelasi spearman antara rakteristik petani, karakteristik pertanian, persepsi sebagai petani dan adpsi teknoogi pertanian
Variabel Persepsi Adopsi teknologi pertanian
Karakteristik petani Usia 0.018 0.212* Pendidikan 0.208* 0.285** Besar keluarga -0.147 -0.024 Karakteristik pertanian Pengalaman bertani 0.009 0.043 Luas lahan 0.180* 0.329** Pendapatan pertanian 0.219** 0.430*
Keterangan *Nyata dengan p-value≤0.05. **Nyata dengan p-value≤0.01
Berdasarkan Tabel 15 menunjukkan bahwa besar keluarga dan pengalaman bertani tidak mempunyai hubungan dengan persepsi pertanian dan adopsi teknologi pertanian. Sebanyak 94.3 persen pengalaman bertani responden masuk dalam kategori lama (Tabel 3). Artinya, meskipun pengalaman bertani responden lama tidak merubah persepsi pertanian yang masih tradisional dan kurang terbuka dengan informasi terkait teknologi pertanian, sehingga kecenderungan petani untuk memanfaatkan teknologi pertanian masih rendah. Sementara itu, untuk
21 pendidikan, luas lahan, pendapatan pertanian mempunyai hubungan yang positif dengan persepsi sebagai petani dan adopsi teknologi pertanian (Tabel 15) Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan mempunyai persepsi sebagai yang baik dan pada akhirnya akan mempunyai kecenderungan untuk memanfaatkan teknologi pertanian lebih baik guna meningkatkan produktivitas pertanian .
Hubungan antara karakteristik petani, karakteristik pertanian, persepsi, adopsi teknologi pertanian dengan minat transfer pertanian keluarga
Jenis kelamin responden mempunyai hubungan dengan minat transfer pertanian (p=0.014). Sebanyak 76.7 persen dari total jumlah laki-laki berminat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya. Selain itu, pengalaman bertani, luas lahan, pendapatan pertanian, persepsi pertanian mempunyai hubungan positif dengan minat transfer pertanian keluarga. Namun, usia, pendidikan, besar keluarga dan adopsi teknologi pertanian tidak mempunyai hubungan dengan minat transfer pertanian keluarga.
Tabel 16 Nilai koefisien korelasi chi-square dengan karakteristik petani, karakteristk pertanian, persepsi sebagai petani dan adopsi teknologi pertanian
Variabel Minat transfer pertanian keluarga
Asymp. Sig 2-(sides) Karakteristik petani
Jenis kelamin 0.014*
Usia (tahun) 0.168
Pendidikkan (tahun) 0.587
Besar keluarga (orang) 0.215
Karakteristik pertanian
Pengalaman bertani (tahun) 0.048*
Luas lahan (meter) 0.021*
Pendapatan pertanian (rupiah) 0.006*
Persepsi 0.021*
Adopsi teknologi pertanian 0.198
Keterangan : Uji Chi-Square *Nyata dengan P-value=0.05. **Nyata dengan P-value=0.01
Pengaruh karakteristik petani, karakteristik pertanian, persepsi dan adopsi teknologi terghadap minat transfer pertanian keluarga
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat transfer pertanian dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik. Tabel 17 menunjukkan bahwa pendapatan pertanian berpengaruh positif terhadap minat transfer pertanian keluarga. Artinya, semakin besar pendapatan dari hasil usaha tani padi sawah memiliki peluang 1.000 kali lebih minat untuk mentransfer pertanian keluarga pada generasi selanjutnya dibandingkn dengan petani dengan penghasilan yang kecil. Selain itu, adopsi teknologi pertanian berpengaruh positif terhadap minat transfer pertanian. Artinya petani yang mempunyai tingkat adopsi teknologi pertanin yang tinggi
22
mempunyai peluang 1.065 kali lebih minat untuk mentransfer pertanian keluarga dibandingkan dengan petani yang mempunyai tingkat adopsi pertanian yang rendah.
Berdasarkan Tabel 17 menunjukkan bahwa model regresi mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi minat petani untuk mentransfer pertanian keluarga sebesar 25.6 persen dan sisanya 74.4 persen minat transfer pertanian dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Menurut Inwood (2013) menyatakan bahwa keberhasilan transfer pertanian keluarga dipengaruhi oleh karakteristik keluarga, nilai-nilai sosial dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
Tabel 17 Model analisis regresi logistik faktor yang mempengruhi minat trnsfere pertanian keluarga
Variabel Minat transfer pertanian
(1) minat (0) tidak minat
B Exp (B) Sig
Konstanta -4.127 0.016 0.038
Jenis kelamin (0=perempuan, 1=laki-laki)
0.516 1.678 0.260
Usia (tahun) -0.009 0.991 0.775
Pendidikan (tahun) -0.149 0.861 0.145
Besar keluarga (orang) 0.104 1.110 0.483
Pengalaman bertani (tahun) 0.031 1.032 0.241
Luas lahan (hektar) 0.000 1.000 0.797
Pendapatan pertanian (rupiah) 0.000 1.000 0.065*
Persepsi (skor indeks) 0.012 1.012 0.652
Adopsi teknologi pertanian (skor