Pengembangan Materi dan Media Pendidikan Gizi
Pengembangan materi pendidikan gizi dilakukan dengan menganalisis data awal (baseline data) terlebih dahulu. Baseline data diambil pada bulan Juli 2013, bertempat di SDN 01 Padjajaran, SDN 02 Batutulis, dan SDN 05 Pengadilan. Pengambilan baseline data ditujukan untuk mengetahui materi sarapan seperti apa yang sesuai diberikan kepada contoh (Rachmaniah et al 2013). Data pengetahuan gizi diketahui dengan memberikan pertanyaan tertutup dalam bentuk pilihan ganda kepada contoh. Pertanyaan mengenai sarapan yang diberikan berjumlah 15 soal, yang terdiri dari materi pengertian sarapan, waktu yang dianjurkan untuk sarapan, pentingnya sarapan, akibat jika tidak sarapan, kontribusi sarapan dalam pemenuhan kebutuhan energi dalam sehari, contoh menu sarapan, dan jenis makanan yang seharusnya terdapat dalam sarapan. Skor setiap jawaban benar adalah 1 dan skor untuk jawaban salah adalah 0. Total nilai untuk jawaban benar adalah 15, kemudian dibagi dengan 15 dan dikali dengan 100, sehingga total skor jawaban benar adalah 100.
Baseline data merupakan data hasil pemberian pertanyaan mengenai pengetahuan gizi, hal tersebut penting dilakukan untuk mengetahui baseline knowledge atau pengetahuan dasar mengenai gizi yang dimiliki oleh contoh, sehingga pada saat pembuatan dan pengembangan materi pendidikan, dapat diberikan materi pendidikan yang sesuai bagi contoh (Mc Neal et al 2009). Pada
baseline data, data yang diambil merupakan sebaran pertanyaan yang dijawab benar oleh contoh. Jumlah contoh yang terdapat pada saat dilakukannya pengambilan baseline data adalah 37 contoh untuk kelompok kontrol, 39 contoh untuk kelompok perlakuan poster, dan 40 contoh untuk kelompok perlakuan
leaflet dengan total jumlah contoh adalah 116. Contoh diberikan lima belas pertanyaan mengenai sarapan. Berikut disajikan sebaran jawaban benar contoh pada baseline data (Rachmaniah et al 2013) dalam Tabel 2.
Tabel 2 Baseline data sebaran contoh berdasarkan jawaban benar
No Pertanyaan Kelompok Poster Kelompok Kontrol Kelompok Leaflet Total N % N % N % N % 1 Pengertian sarapan 38 97.4 37 100 40 100 115 99.1 2 Waktu sarapan 30 76.9 22 59.5 33 82.5 85 73.2
3 Alasan mengapa perlu
sarapan 39 100 37 100 38 95.0 114 98.2
4 Akibat jika tidak
sarapan 38 97.4 36 97.3 39 97.5 113 97.4
5 Manfaat sarapan 38 97.4 37 100 40 100 115 99.1
6 Perbedaan anak yang
sarapan dan tidak 39 100 36 97.3 39 97.5 114 98.2
7 Tidak termasuk fungsi
sarapan 37 94.9 35 94.6 40 100 112 96.5 8 Alasan mengapa sarapan dapat mengurangi jajan berlebihan 35 89.7 36 97.3 40 100 111 95.6
14
Tabel 2 Baseline data sebaran contoh berdasarkan jawaban benar
No Pertanyaan Kelompok Poster Kelompok Kontrol Kelompok Leaflet Total N % N % N % 9 Alasan mengapa sarapan dapat mencegah dari kegemukan 39 100 35 94.6 39 97.5 113 97.4 10 Kontribusi sarapan dalam pemenuhan kebutuhan gizi 10 25.6 27 73.0 16 40.0 53 45.6
11 Jenis makanan yang ada
dalam menu sarapan 36 92.3 34 91.9 39 97.5 109 93.9
12 Contoh makanan
sarapan yang bergizi 36 92.3 33 89.2 36 90.0 105 90.5
13 Contoh yang bukan
makanan sarapan bergizi
35 89.7 37 100 38 95.0 110 94.9
14 Pengertian makanan
seimbang 39 100 36 97.3 40 100 115 99.1
15 Berapa banyak makan
dalam sehari untuk menjaga kesehatan tubuh
32 82.1 35 94.6 28 70.0 113 82.2
Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa pertanyaan dengan persentase contoh yang menjawab benar terendah adalah pertanyaan nomor 10, yaitu kontribusi sarapan terhadap pemenuhan kebutuhan zat gizi sehari (45.6%). Kelima belas pertanyaan tersebut kemudian dikaji ulang berdasarkan materi pendidikan gizi mengenai sarapan yang ingin diberikan.
Materi pendidikan gizi mengenai sarapan yang diberikan kepada contoh merupakan poin-poin penting dan utama mengenai sarapan. Menurut Contento (2007), pesan pangan dan gizi akan lebih mudah diterima oleh masyarakat umum jika terdapat dampak positif atau manfaat yang akan didapatkan oleh masyarakat jika menerapkan isi pesan tersebut, atau terdapat dampak negatif jika masyarakat tidak menerapkan isi pesan tersebut. Dengan demikian, pada media pendidikan gizi mengenai sarapan yang diberikan, terdapat materi mengenai manfaat sarapan dan akibat jika tidak sarapan. Selain itu, poin penting lainnya dari sarapan adalah pengertian sarapan, waktu yang dianjurkan untuk sarapan, jumlah energi dan protein yang terdapat dalam sarapan, jenis makanan dan contoh menu sarapan, serta jajanan pengganti sarapan (The American Dairy Association and Dairy Council 2009). Oleh karena terdapat beberapa pertanyaan pada baseline data yang terkesan rancu serta beberapa pertanyaan merupakan pengulangan pertanyaan sebelumnya, pertanyaan yang diberikan kepada contoh kemudian dikaji dan dibuat ulang yang disesuaikan dengan materi mengenai sarapan yang diberikan.
Berdasarkan hasil pengkajian ulang pada pembuatan pertanyaan, jumlah pertanyaan yang diberikan kepada contoh adalah 10 pertanyaan, dengan jenis pertanyaan meliputi, pengertian sarapan, waktu yang dianjurkan untuk sarapan, akibat tidak sarapan, manfaat sarapan, sarapan dapat mencegah kegemukan, jumlah energi dan protein dalam sarapan, contoh menu sarapan bergizi, pemahaman jenis menu sarapan bergizi, dan jenis jajanan pengganti sarapan. Pada
15 contoh. Berikut disajikan sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pada pre test
yang dijawab benar pada Tabel 3.
Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi pre test yang dijawab benar
No Jenis Pertanyaan Kelompok Poster
Kelompok Kontrol Kelompok Leaflet Total N % N % N % N % 1 Pengertian sarapan 36 97.3 36 100.0 38 100.0 110 99.1 2 Waktu sarapan 24 64.9 26 72.2 27 71.1 77 69.4
3 Akibat tidak sarapan 35 94.6 35 97.2 38 100.0 108 97.3
4 Manfaat sarapan 37 100.0 35 97.2 38 100.0 110 99.1
5 Sarapan mencegah
kegemukan 37 100.0 36 100.0 38 100.0 111 100.0
6 Jumlah energi dan
protein sarapan 14 37.8 21 58.3 23 60.5 58 52.3
7 Jenis makanan dalam
menu sarapan 30 81.1 36 100.0 37 97.4 103 92.8
8 Contoh menu sarapan
bergizi 33 89.2 32 88.9 34 89.5 99 89.2
9 Pemahaman jenis
menu sarapan bergizi 26 70.3 20 55.6 29 76.3 75 67.6
10 Jenis jajanan
pengganti sarapan 16 43.2 11 30.6 10 26.3 37 33.3
Berdasarkan Tabel 3, pada hasil pre test diketahui bahwa terdapat dua soal dengan persentase jawaban benar terendah, yaitu pertanyaan nomor 6 mengenai jumlah energi dan protein dalam sarapan (52.3%) dan pertanyaan nomor 10 mengenai jenis jajanan pengganti sarapan (33.3%). Pertanyaan nomor 6 merupakan jenis pertanyaan yang sama dengan pertanyaan nomor 10 pada
baseline data, yaitu kontribusi sarapan dalam pemenuhan kebutuhan zat gizi sehari, akan terapi digunakan bahasa yang lebih sederhana agar anak lebih mudah memahami pertanyaannya. Jika dibandingkan dengan baseline data, terdapat peningkatan persentase jawaban benar pada poin pertanyaan tersebut, yaitu dari 45.6% menjadi 52.3%, hal ini dapat terjadi karena bahasa pertanyaan yang digunakan pada pre test lebih sederhana daripada yang digunakan pada baseline, sehingga contoh lebih mudah memahami maksud pertanyaannya. Meskipun demikian, pertanyaan nomor 10 mengenai jenis jajanan pengganti sarapan merupakan pertanyaan dengan persentase jawaban terendah, hal ini dapat disebabkan karena contoh kurang mendapatkan paparan informasi mengenai jenis jajanan yang dapat menggantikan sarapan. Setelah diberikan pre test, kelompok perlakuan mendapatkan intervensi berupa pendidikan gizi mengenai sarapan melalui dua media yang berbedam yaitu poster dan leaflet. Dua hari setelah diberikan intervensi, kelompok perlakuan diberikan post test 1 untuk melihat apakah terjadi peningkatan atau penurunan pengetahuan gizi. Berikut disajikan sebaran contoh berdasarkan pertanyaan post test 1 yang dijawab benar pada Tabel 4.
16
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi post test 1 yang dijawab benar
No Jenis Pertanyaan Kelompok Poster
Kelompok
leaflet Total
N % N % N %
1 Pengertian sarapan 36 97.3 38 100.0 74 98.7
2 Waktu sarapan 30 81.1 33 86.8 63 84.0
3 Akibat tidak sarapan 37 100.0 38 100.0 75 100.0
4 Manfaat sarapan 37 100.0 38 100.0 75 100.0
5 Sarapan mencegah kegemukan 36 97.3 38 100.0 74 98.7
6
Jumlah energi dan protein
sarapan 30 81.1 33 86.8 63 84.0
7
Jenis makanan dalam menu
sarapan 33 89.2 36 94.7 69 92.0
8 Contoh menu sarapan bergizi 31 83.8 33 86.8 64 85.3
9
Pemahaman jenis menu
sarapan bergizi 24 64.9 27 71.1 51 68.0
10
Jenis jajanan pengganti
sarapan 24 64.9 14 36.8 38 50.7
Hasil pada Tabel 4 menunjukan bahwa terdapat peningkatan persentase contoh dengan jawaban benar, yaitu pada pertanyaan nomor 6 dari 52.3% (pre test) menjadi 84% (post test 1), serta pada pertanyaan nomor 10, persentase jawaban benar meningkat dari 33.3% menjadi 50.7%. Peningkatan persentase jawaban benar pada kedua nomor tersebut dapat disebabkan oleh terpaparnya contoh dengan informasi mengenai kedua hal tersebut melalui media yang diberikan sehingga terjadi penambahan pengetahuan pada contoh. Tiga hari setelah diberikan post test 1, ketiga kelompok perlakuan kemudian diberikan post test 2, berikut disajikan sebaran contoh berdasarkan pertanyaan post test 2 yang dijawab benar pada Tabel 5.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi post test 2 yang dijawab benar No Jenis Pertanyaan Kelompok Poster Kelompok Kontrol Kelompok Leaflet Total N % N % N % N % 1 Pengertian sarapan 36 97.3 36 100.0 38 100.0 110 99.1 2 Waktu sarapan 26 70.3 26 72.2 32 84.2 84 75.7
3 Akibat tidak sarapan 37 100.0 36 100.0 38 100.0 111 100.0
4 Manfaat sarapan 37 100.0 35 97.2 38 100.0 110 99.1
5 Sarapan mencegah
kegemukan 37 100.0 35 97.2 38 100.0 110 99.1
6 Jumlah energi dan
protein sarapan 28 75.7 21 58.3 27 71.1 76 68.5
7 Jenis makanan sarapan 33 89.2 33 91.7 37 97.4 103 92.8
8 Contoh menu sarapan 34 91.9 33 91.7 33 86.8 100 90.1
9 Menu sarapan bergizi 27 73.0 21 58.3 26 68.4 74 66.7
10 Jajanan pengganti
17 Hasil post test 2 pada Tabel 5 menunjukan bahwa terdapat penurunan persentase jawaban benar pada pertanyaan nomor 6 dan 10, yaitu untuk pertanyaan 6, dari 84% (post test 1) menjadi 68.5%, sedangkan pada pertanyaan nomor 10, yaitu dari 50.7% menjadi 48.6%. Penurunan persentase jawaban benar pada post test 2 dapat disebabkan oleh terdapatnya paparan informasi lain terhadap contoh sehingga memungkinkan penurunan memori contoh terhadap materi yang telah diberikan.
Secara keseluruhan, berdasarkan hasil pre test, post test 1, dan post test 2, didapatkan hasil bahwa pertanyaan yang mempunyai persentase terendah dijawab benar dari semua perlakuan yang diberikan adalah pertanyaan nomor 10. Pada pre test, persentase jawaban benar nomor 10 adalah 33.3% kemudian meningkat pada
post test 1 (50.7%) dan kembali menurun pada post test 2 (48.6%). Grafik sebaran contoh berdasarkan pertanyaan yang dijawab benar disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 Grafik sebaran contoh berdasarkan pertanyaan yang dijawab benar Berdasarkan Gambar 4, diketahui bahwa terdapat kenaikan pertanyaan yang dijawab benar oleh contoh antara pre test dengan post test 1. Hasil yang
18
serupa juga terjadi pada penelitian Egal dan Oldewage-Theron (2008) mengenai evaluasi program pendidikan gizi pada anak usia enam dan tujuh tahun di wilayah Vaal, sebaran contoh yang menjawab benar meningkat secara signifikan setelah pemberian pendidikan gizi. Meningkatnya sebaran contoh yang menjawab benar pada post test 1 dapat disebabkan oleh terpaparnya contoh dengan intervensi pendidikan gizi (Cort dan Sovyanhadi 2004).
Peningkatan persentase jawaban benar pada post test 1 dan menurun kembali pada post test 2 sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saloso (2010) dan Ikada (2007), pada kedua penelitian tersebut, pertanyaan yang meningkat persentase jawaban benarnya pada post test 1, kembali menurun pada
post test 2. Penurunan sebaran pertanyaan dijawab benar pada post test 2 dapat disebabkan oleh menurunnya daya ingat siswa akan materi sarapan setelah jangka waktu tertentu dan terpaparnya contoh dengan informasi lain. Oleh karena penurunan daya ingat dan seleksi informasi yang terjadi pada contoh, pendidikan gizi seharusnya diberikan secara berkelanjutan dan komprehensif (Motamedrezaei
et al 2013).
Menurut Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010), terdapat tiga domain atau ranah dalam perilaku, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif, dan psikomotor. Pengembangan materi dan media pendidikan gizi ini berfokus pada domain kognitif dari perilaku. Domain kognitif merupakan ranah penting dalam pembentukan perilaku seseorang, karena berdasarkan pengalaman dan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, perilaku yang didasarkan dari pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan. Domain kognitif atau pengetahuan artinya hasil tahu seseorang mengenai sebuah objek melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui indera penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga) (Notoatmodjo 2010).
Terdapat enam tahapan dalam domain kognitif, yaitu tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Tahu merupakan tahapan paling rendah dari tingkat pengetahuan. Tahu merupakan hasil mengingat kembali dari suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tingkat pengetahuan tahu dapat diukur melalui pertanyaan-pertanyaan tertentu, yaitu menyebutkan menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan (Notoatmodjo 2007). Pada soal yang diberikan kepada contoh, soal nomor 1 (pengertian sarapan), nomor 2 (waktu sarapan), dan nomor 6 (jumlah energi dan protein sarapan) merupakan jenis pertanyaan pada tingkatan tahu.
Tingkat pengetahuan yang kedua adalah memahami. Memahami artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar mengenai materi atau objek yang telah diketahuinya dan dapat menginterpretasikannya secara benar (Notoatmodjo 2007). Tingkat pengetahuan memahami dapat diukur melalui pertanyaan menjelaskan, menyebutkan contoh, dan menyimpulkan. Pada soal yang diberikan kepada contoh, pertanyaan nomor 3 (akibat jika tidak sarapan), nomor 4 (manfaat sarapan), dan nomor 5 (mengapa sarapan dapat mencegah kegemukan) merupakan pertanyaan pada tingkat pengetahuan memahami.
Tingkat pengetahuan selanjutnya adalah aplikasi. Aplikasi merupakan kemampuan seseorang untuk menggunakan materi yang telah dipelajarinya pada situasi yang berbeda (Notoatmodjo 2007). Pada soal yang diberikan kepada
19 contoh, pertanyaan nomor 7 (jenis makanan dalam menu sarapan) dan pertanyaan nomor 8 (contoh menu sarapan bergizi) merupakan jenis pertanyaan pada tingkatan aplikasi.
Tingkat pengetahuan yang keempat adalah analisis. Analisis merupakan kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi seseorang sudah berada dalam tahap analisis adalah jika orang tersebut sudah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan membuat bagan atau diagram terhadap objek tersebut (Notoatmodjo 2010). pada soal yang diberikan kepada contoh, pertanyaan nomor 9 (pemahaman dan analisis menu sarapan bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan) dan nomor 10 (jenis jajanan pengganti sarapan) merupakan jenis pertanyaan pada tingkatan analisis.
Tingkat pengetahuan yang kelima dan keenam adalah sintesis dan evaluasi. Sintesis artinya kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam satu hubungan yang logis dari komponen pengatahuan yang dimiliki atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada, misalnya sudah dapat membuat ringkasan atau kesimpulan dari informasi yang ada. Sedangkan evaluasi adalah kemampuan untuk justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya seseorang dapat menilai manfaat ikut suatu program tertentu (Notoatmodjo 2010).
Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa trend sebaran contoh yang menjawab pertanyaan benar meningkat dari pre test ke post test 1, kemudian menurun pada post test 2, terutama pada beberapa poin pertanyaan yang masih <80% sebaran contoh yang menjawab benar, yaitu pada pertanyaan nomor 2 (waktu sarapan), nomor 6 (jumlah energi dan protein sarapan), nomor 9 (pemahaman jenis menu sarapan bergizi), dan nomor 10 (jenis jajanan pengganti sarapan).
Pada pertanyaan tingkatan tahu, sebaran contoh yang menjawab benar pertanyaan nomor 2 pada pre test adalah 69.4%, kemudian meningkat pada post test 1 (84%), dan kembali menurun pada post test 2 (75.7%), sedangkan pada pertanyaan nomor 6, persentase contoh yang menjawab benar pada pre test adalah 52.3%, kemudian meningkat pada post test 1 (84%), dan kembali menurun pada
post test 2 (68.5%), hal tersebut dapat disebabkan karena jenis pertanyaan ini melibatkan angka-angka di dalamnya. Penelitian menunjukan bahwa pertanyaan dengan jawaban berupa angka tertentu persentase jawaban benarnya lebih rendah, karena orang cenderung bingung akan angka yang digunakan dan cenderung terbolak-balik angkanya (Cort dan Sovyanhadi 2004).
Persentase contoh yang menjawab benar terendah terdapat pada pertanyaan nomor 9 dan 10, yaitu pertanyaan pada tingkatan analisis. sebaran contoh yang menjawab benar pertanyaan nomor 9 pada pre test adalah 67.6%, kemudian meningkat pada post test 1 (68%), dan kembali menurun pada post test 2 (66.7%), sedangkan pada pertanyaan nomor 6, persentase contoh yang menjawab benar pada pre test adalah 33.3%, kemudian meningkat pada post test 1 (50.7%), dan kembali menurun pada post test 2 (48.6%). Sebaran contoh yang menjawab benar pada pre test, post test 1, dan post test 2 menurut domain kognitif disajikan di dalam Gambar 5.
20
Gambar 5 Sebaran contoh yang menjawab benar pada pre test, post test 1, dan post test 2 menurut domain kognitif
Berdasarkan Gambar 5, diketahui bahwa domain kognitif tingkat analisis merupakan jenis pertanyaan yang paling sedikit dijawab benar oleh contoh, baik dari pre test (50.5%), post test 1 (59.4%), dan post test 2 (57.7%). Menurut Piaget dalam Santrock (1998), perkembangan kognitif anak dapat dijelaskan melalui empat tahap, yaitu tahap sensorimotor (anak usia 0 – 2 tahun), pre operational (2
– 7 tahun), concrete operational (7 – 11 tahun) , dan formal operation (11 – 15 tahun). Contoh pada penelitian ini berada dalam rentang usia 10 – 12 tahun, dengan rata-rata usia contoh adalah 12 tahun, sehingga contoh berada dalam perkembangan kognitif formal operation. Formal operation merupakan tahapan saat anak dapat berfikir kebih abstrak dan logis, sudah mampu untuk mengklasifikasikan objek dan menjelaskannya. Seharusnya, pada usia tersebut anak sudah dapat melakukan analisis sederhana terhadap materi yang dipelajarinya, akan tetapi rendahnya sebaran contoh yang menjawab benar pertanyaan tingkatan analisis menunjukan bahwa perlu diadakannya evaluasi lebih lanjut mengenai bahasa yang digunakan dalam pertanyaan nomor tersebut (apakah sudah mudah dipahami atau sulit), selain itu evaluasi juga perlu dilakukan pada materi yang diberikan pada media, karena penurunan sebaran contoh yang menjawab benar juga terjadi pada kelompok intervensi.
Pengembangan media pendidikan gizi dilakukan melalu tiga tahap, yaitu analisis input, meliputi identifikasi sumberdaya yang tersedia, kebutuhan kesehatan sasaran didik, dan praktik pada masyarakat yang dapat meningkatkan status kesehatannya. Tahap yang kedua adalah analisis output, meliputi identifikasi mediator atau pendidik dan alat peraga potensial, identifikasi tujuan pendidikan, dan rancangan strategi pendidikan. Tahap ketiga adalah analisis
outcome atau dampak, yaitu dapat berupa perubahan pengetahuan (kognitif) atau perubahan perilaku (Contento 2007) serta analisis dan evaluasi dampak tersebut. Pada tahap analisis input, dilakukan identifikasi kebutuhan sasaran didik, yaitu dengan menentukan materi yang akan disampaikan. Penetapan materi dilakukan dengan membuat rancangan awal poster dan leaflet yang kemudian didiskusikan
21 bersama dalam focus group discussion (FGD) yang diadakan bersama dengan guru sekolah kelompok perlakuan dan kontrol. FGD dilakukan untuk mengetahui apakah materi dan bahasa yang digunakan di dalam media sudah sesuai, selain itu pada FGD tersebut disarankan untuk mengganti tokoh kartun terkenal yang digunakan pada rancangan awal dan membuat tokoh-tokoh baru.
Pada tahap kedua, yaitu analisis output, dilakukan identifikasi jenis alat peraga potensial yang akan digunakan, yaitu ditentukannya penggunaan poster dan leaflet sebagai alat peraga potensial. Selain itu ditentukan juga tujuan dari dilakukannya pendidikan gizi ini. Tujuan diberikannya pendidikan gizi dapat mencakup dua hal, yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek pendidikan gizi adalah adanya peningkatan pengetahuan gizi, sedangkan tujuan jangka panjang pendidikan gizi adalah terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang mengarah pada perbaikan status gizi (Muehlhoff dan Sherman 2007). Pada penelitian ini, tujuan diberikannya pendidikan gizi adalah terjadinya peningkatan pengetahuan gizi pada contoh.
Tahap ketiga, yaitu tahap analisis outcome, dampak yang diinginkan pada pemberian pendidikan gizi ini adalah terjadinya perubahan pengetahuan (kognitif), dilakukan pula analisis dan evaluasi dampak. Analisis dan evaluasi dampak dilakukan dengan membandingkan hasil yang diperoleh dengan tujuan pendidikan. Analisis dan evaluasi merupakan tahap penting dalam proses pendidikan gizi, pendidik dapat menyimpulkan apakah program pendidikan yang diberikan sudah sesuai dengan tujuan atau belum (Contento 2007).
Pengembangan materi penting untuk dilakukan dalam pemberian pendidikan gizi, materi yang diberikan kepada sasaran didik atau contoh harus sesuai, misalnya penggunaan bahasa pada materi, tahap perkembangan kognitif contoh, dan sebagainya. Materi yang disampaikan dalam sebuah media sama pentingnya dengan penggunaan media tersebut. Media pendidikan akan menjadi tidak berguna jika materi yang disampaikan tidak sesuai (Clark 1983).
Daya Terima Contoh Terhadap Media Visual Poster
Daya terima contoh dapat diartikan sebagai tingkat kesukaan contoh pada intervensi yang diberikan, atau dalam hal ini adalah media pendidikan gizi yang diberikan. Terdapat enam aspek yang digunakan dalam melihat daya terima contoh terhadap media visual poster, yaitu pemahaman materi, ukuran tulisan, menarik atau tidaknya gambar, komposisi warna, pesan gizi yang disampaikan, dan kesukaan terhadap poster secara keseluruhan. Digunakan skala likert empat poin pada pengukuran daya terima contoh, dengan kategori skor yang digunakan adalah tidak menyukai media untuk skor <40, kurang menyukai media untuk skor 40 – 60, cukup menyukai media untuk skor 60 – 80, dan sangat menyukai media untuk skor >80 (Saloso 2010).
Pemahaman materi pada media poster
Sebanyak 24 contoh (64.91%) menyatakan bahwa isi materi sarapan pada media poster sangat mudah dipahami. Sebanyak 13 contoh (35.1%) menyatakan bahwa isi materi yang terdapat dalam poster mudah dipahami serta tidak ada contoh yang menyatakan bahwa isi materi kurang mudah dipahami dan sulit
22
dipahami. Sebaran contoh berdasarkan pemahaman materi pada media poster disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan pemahaman materi pada media poster
Pemahaman Materi Media Poster Kelompok Perlakuan Media Poster
N %
Sangat Mudah Dipahami 24 64.9
Mudah Dipahami 13 35.1
Kurang Mudah Dipahami 0 0
Sulit Dipahami 0 0
Total 37 100
Berdasarkan Tabel 6, secara keseluruhan tidak ada contoh yang menyatakan tidak dapat memahami materi yang disajikan pada poster. Terdapat dua unsur utama yang harus diperhatikan dalam poster, yaitu gambar dan teks. Baik gambar maupun teks haruslah mudah dipahami dan tidak menimbulkan ambiguitas (Sleight 2009). Pada poster yang dirancang dalam penelitian ini, materi yang akan diberikan kepada contoh telah melalui proses diskusi dengan guru sekolah dasar kelompok eksperimen, sehingga sesuai dengan materi pembelajaran siswa pada usia tersebut. Selain itu, pada poster disajikan gambar atau ilustrasi yang mendukung pemaparan teks, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya dalam bentuk verbal atau kata-kata saja tanpa adanya gambaran (Sleight 2009), penggunaan gambar yang mendukung dapat menjadi salah satu faktor tingginya pemahaman materi contoh pada media poster.
Ukuran tulisan pada media poster
Sebanyak 35 contoh (94.6%) menyatakan bahwa tulisan yang terdapat pada media poster dapat terbaca dengan baik. Sebanyak 2 contoh (5.4%) menyatakan bahwa tulisan yang terdapat pada media poster terlalu besar serta tidak ada contoh yang menyatakan bahwa tulisan yang terdapat pada media poster ukurannya terlalu kecil dan tidak dapat terbaca. Sebaran contoh berdasarkan ukuran tulisan pada media poster disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan aspek ukuran tulisan pada media poster
Ukuran Tulisan pada Media Poster Kelompok Perlakuan Media Poster
N %
Tulisan Dapat Terbaca dengan Baik 35.0 94.6
Tulisan Terlalu Besar 2.0 5.4
Tulisan Terlalu Kecil 0.0 0.0
Tulisan Tidak Dapat Terbaca dengan Baik 0.0 0.0
Total 37.0 100.0
Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa hampir semua contoh menyatakan bahwa tulisan pada poster dapat terbaca dengan baik (94.6%), hal tersebut menunjukan bahwa ukuran tulisan yang digunakan dalam media poster sudah tepat dan dapat dibaca oleh contoh dengan baik. Salah satu unsur penting lainnya dalam poster adalah kesesuaian ukuran tulisan. Ukuran tulisan yang terlalu kecil
23 menyebabkan pesan menjadi sulit dibaca, sedangkan ukuran tulisan yang terlalu besar akan memberi kesan terlalu penuh dan menumpuk. Ukuran tulisan pada poster yang terlalu kecil maupun terlalu besar akan membuat contoh cenderung menjadi enggan untuk membaca pesan yang disampaikan (Moriarty 1991).