• Tidak ada hasil yang ditemukan

Performa Ayam Petelur

Performa ayam petelur yang diamati antara lain adalah konsumsi pakan, konversi pakan, Hen Day, bobot telur. Berikut adalah tabel hasil performa ayam petelur yang diamati dan diukur.

Tabel 2. Performa Ayam Petelur

Peubah P1 P2 P3 P4 Konsumsi (g/ekor/hari) 111,81±3,74a 118,29±1,01b 112,80±1,27a 118,54±2,30b Konversi (g/g) 3, 34 ± 0,73 3,48 ± 0,77 3,36 ± 0,32 2,71 ± 0,25 Hen Day (%) 55,36 ±2,80a 60,19±5,02b 56,98± 0,61a 65,33±4,05b Bobot Telur (g/butir) 59,43 ± 1,52 58,88 ± 1,26 59,57 ± 2,72 59,57 ± 0,91

Keterangan : huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan adanya perbedaannyata (P<0,05).

Konsumsi

Berdasarkan penelitian diperoleh hasil P1 dan P3 yang tidak berbeda untuk peubah konsumsi pakan ayam petelur sebesar 111,81 ± 3,74 g dan 112,80 ± 1,27 g. Perlakuan P1 dan P3 ini berbeda dengan perlakuan P2 dan P4 berturut-turut sebesar 118,29 ± 1,01 g dan 118,54 ± 2,30 g. Perbedaan ini diduga karena adanya infeksi bakteri patogen Salmonella entritidis dan penambahan bakteri asam laktat Lactobacillus fermentum.

Perlakuan pertama (P1) menjadi perlakuan kontrol dan perlakuan ketiga (P3) adalah ayam petelur yang diinfeksi Salmonella enteritidis akan tetapi diberikan Lactobacillus fermentum sebagai pengobatan sebanyak satu kali. Infeksi bakteri salmonella dapat mengakibatkan gangguan saluran pencernaan pada hewan ataupun manusia (Serbeniuk, 2002) sehingga dapat menurunkan produktifitas ternak, akan tetapi penambahan probiotik (Lactobacillus fermentum) dapat menyeimbangkan mikroflora dalam saluran pencernaan yang mengakibatkan kesehatan ternak terjaga (Kusumawati, 2003), sehingga nilai rataan konsumsi pakan P1 dan P3 tidak berbeda.

20 Perlakuan kedua (P2) mengharuskan tubuhnya mengkonsumsi pakan lebih banyak dari P1 dikarenakan harus mencukupi kebutuhan hidupnya sekaligus membantu proses penyembuhan tubuh akibat infeksi Salmonella enteritidis. Mengkonsumsi pakan juga dapat menjaga imunitas tubuh sehingga tubuh yang terserang penyakit. Perlakuan keempat (P4) memiliki nilai yang tidak berbeda dengan P2, walaupun P4 diinfeksi Salmonella enteritidis akan tetapi diberikan juga penambahan probiotik sebanyak dua kali sehingga besarnya nilai konsumsi pakan lebih banyak dari perlakuan kontrol. Serotype Salmonella enteritidis biasanya tidak menimbulkan gejala klinis pada hewannya akan tetapi bakteri ini berkolonisasi dalam telur dan dapat menimbulkan penyakit pada manusia jika mengkonsumsinya (Keller, 1995), biasanya menjadi penyebab foodborne illness.

Penggunaan bakteri asam laktat sebagai probiotik karena dianggap mampu : (1) menghasilkan asam laktat yang dapat menurunkan pH, (2) dalam kondisi aerob memproduksi hidrogen peroksida dan (3) memproduksi komponen penghambat yang spesifik misalnya bakteriosin (Fuller, 1992), sehingga proses pencernaan pada ayam tidak terganggu secara signifikan dengan adanya penambahan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.). Manfaat ini diperoleh karena bakteri tersebut menghasilkan bakteriosin yang dapat mengurangi jumlah populasi mikroba dalam saluran pencernaan.

Konversi

Hasil dari pengamatan terhadap konversi pakan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan nilai P>0,05. Hal ini menunjukkan perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap konversi pakan ayam petelur. Masing-masing perlakuan P1, P2, P3, dan P4 memiliki nilai konversi pakan secara berturut-turut sebesar 3,34 ± 0,73, 3,48 ± 0,77, 3,36 ± 0,32, dan 2,71 ± 0,25.

Berdasarkan perhitungan statistik perlakuan P1 mengkonsumsi sejumlah pakan yang sama dengan P3, serta memiliki nilai konversi yang tidak berbeda dikarenakan jumlah berat telur yang dihasilkan juga relatif sama. Konversi ransum sendiri merupakan istilah perbandingan antara banyaknya total jumlah ransum yang dikonsumsi (gram) dengan produksi telur (gram) yang dihasilkan oleh satu ayam petelur, dan laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan yang terhambat dan konsumsi ransum yang menurun menjadi salah satu faktor tidak baiknya nilai

21 konversi ransum (Lee dan Craig, 1991). Laju perjalanan ransum pada P3 dimungkinkan tidak mengalami permasalahan karena adanya penambahan probiotik sebagai manipulator mikroflora dalam saluran pencernaan, hal ini disebabkan karena cara kerja probiotik adalah dengan cara (1) memelihara persaingan mikroflora baik dan negatif dalam usus. (2) melancarkan metabolisme dengan cara menaikkan aktivitas enzim pencernaan dan menurunkan aktivitas enzim mikroba dan produksi amoniak (Apata 2008; Kabir, 2009), sehingga nilai konversinya sama dengan perlakuan control (P1).

Perlakuan P2 dan P4 juga tidak berbeda dengan P1 serta P3. Jumlah konsumsi pakan P2 dan P4 memiliki rataan yang sama serta lebih banyak dari P1 dan P3, akan tetapi jumlah konsumsi ini juga diimbangi dengan jumlah berat telur yang dihasilkan (gram) sehingga menghasilkan nilai konversi pakan yang tidak berbeda. Terdapat beberapa telur yang diamati berwarna putih kapur dan bintik merah pada telur perlakuan P2. Perlakuan P4 memiliki nilai konversi yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya secara uji statistik, namun apabila diterapkan secara industri akan lebih efisien dibanding dengan perlakuan lainnya, hal ini sesuai dengan pernyataan Elwardhany (1998) menyatakan bahwa ternak yang mampu mengubah ransum lebih efisien ke dalam bentuk hasil produksi diklasifikasikan sebagai ternak yang baik untuk dipelihara, dan efisiensi pakan yang lebih baik dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan produksi. Salmonella enteritidis baik pada hewan atau manusia dapat mengakibatkan gangguan saluran pencernaan atau gastroenteritis dan penyakit yang diakibatkan oleh salmonella disebut dengan salmonellosis (Serbeniuk, 2002), dan bila diterapkan pada peternakan ayam petelur secara komersil akan menyebabkan kerugian.

Hen Day

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh nilai hen day secara berturut-turut untuk P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 55,36 ± 2,80, 60,19 ± 5,02, 56,98 ± 0,61, dan 65,33 ± 4,05. Perlakuan yang diberikan yaitu infeksi Salmonella enteritidis dan penambahan bakteri probiotik berpengaruh terhadap pengamatan hen day.

Produksi harian (hen day production) adalah salah satu produksi telur dalam suatu kelompok ayam petelur yang didasarkan atas persentase produksi telur dengan

22 jumlah ayam petelur selama pencatatan (Anggorodi, 1985). Scott et al. (1982) menyatakan, bahwa ras ayam tipe medium mulai bertelur pada umur 20-22 minggu dengan lama produksi sekitar 15 bulan. Selanjutnya ayam tipe ini mencapai puncak produksi pada umur sekitar 28-30 minggu dan mengalami penurunan dengan perlahan sampai tiba saatnya untuk diafkir. Menurut Wahju (1992), pada umur ayam 22 minggu produksi telur naik dengan tajam dan mencapai puncaknya pada umur 32-36 minggu.

Perlakuan pertama (P1) dan P3 memiliki nilai hen day yang sama, nilai hen day yang tidak berbeda ini disebabkan konsumsi dan konversi pakan yang tidak berbeda, hal ini sesuai dengan Adolfson et al. (2004) konsumsi pakan, konversi ransum, dan kualitas ransum menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi hen day. Perlakuan kedua (P2) dan perlakuan keempat (P4) memiliki nilai hen day yang tidak berbeda, akan tetapi keduanya berbeda dengan P1 dan P3. Hal ini dikarenakan pada P2 dan P4 mengkonsumsi pakan yang lebih banyak dari perlakuan P1 dan P3, namun memiliki konversi pakan yang tidak berbeda. Adanya perbedaan nilai hen day dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya diantaranya adalah kualitas ransum yang digunakan, strain ayam, dan cara pemeliharaan (Rasyaf, 2001). Hasil pengamatan menunjukkan, yang berbeda pada pengamatan adalah teknis pemeliharaan yaitu adanya penambahan bakteri probiotik dan infeksi Salmonella enteritidis. Hen day sendiri menjadi salah satu ukuran ekonomis profit dan non profit untuk ayam petelur.

Bobot Telur

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap bobot telur. Nilai rataan bobot telur secara berturut-turut P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 59,43 ± 1,52 g, 58,88 ± 1,26 g, 59,57 ± 2,72 g, dan 59,57 ± 0,91 g.

Ukuran telur dapat diartikan sebagai besar kecilnya telur yang dinyatakan dalam bobot. Standar Nasional Indonesia (1995) menyatak bahwa kriteria dan bobot telur ayam ras untuk telur konsumi adalah ekstra besar (lebih dari 60 g), besar (55-60 g), sedang (51-59 g), kecil (45-50 g), dan ekstra kecil (kurang dari 46 g). Menurut Rose (1997), telur ayam umumnya terdiri atas 64% albumen, 27% kuning telur dan 9% kerabang. Kandungan masing-masing komponen tersebut mempengaruhi bobot telur yang dihasilkan petelur. Bobot telur yang dihasilkan tidak jauh berbeda antara

23 perlakuan kontrol (P1, P2, P3, P4). Hal ini dikarenakan telur yang dihasilkan berasal dari jenis strain yang sama dan mengkonsumsi jenis pakan yang sama antara ayam petelur yang diinfeksi Salmonella enteritidis dengan yang diberi penambahan probiotik. Adanya infeksi Salmonella enteritidis ternyata tidak berpengaruh terhadap bobot telur yang dihasilkan sesuai pernyataan North dan Bell (1990) faktor-faktor yang mempengaruhi bobot telur adalah strain, umur pertama bertelur, temperatur lingkungan, ukuran pullet dalam suatu kelompok, ukuran ovum, intensitas bertelur, dan zat makanan dalam ransum juga mempengaruhi ukuran telur (Campbell et al., 2003).

Kualitas Telur yang Diamati

Kualitas telur yang diamati antara lain adalah Haugh unit, persentase berat putih telur, persentase berat yolk, dan persentase berat kerabang telur. Berikut adalah tabel hasil kualitas telur yang diamati dan diukur.

Tabel 3. Performa Ayam Petelur

Peubah P1 P2 P3 P4 Haugh Unit 96,40 ± 1,25 94,00 ± 43,0 94,59 ± 0,88 95,30 ± 2,67 Putih telur (%) 45,04 ± 1,89 46,22 ± 1,03 46,20 ± 0,79 45,07 ± 1,46 Yolk (%) 35,87 ± 2,23 36,63 ± 0,63 37,03 ± 0,52 37,36 ± 0,84 Kerabang (%) 19,09 ± 1,19 17,15 ± 0,92 16,77 ± 1,98 17,57 ± 2,13 Haugh Unit

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap bobot telur. Nilai rataan haugh unit secara berturut-turut untuk P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 96,40 ± 1,25, 94,00 ± 4,30, 94,59 ± 0,88, 95,30 ± 2,67.

Sirait (1986) menyatakan bahwa kekentalan putih telur yang semakin tinggi dapat ditandai dengan tingginya putih telur yang kental. Hal tersebut menunjukkan bahwa telur masih berada dalam kondisi segar, kondisi tersebut dapat diketahui dengan menentukan nilai haugh unit telur. Nilai haugh unit yang tinggi menunjukkan kualitas telur tersebut juga tinggi (Sudaryani, 2000). Nilai haugh unit lebih dari 72 dikategorikan sebagai telur kualitas AA, nilai haugh unit 60-72 sebagai

24 telur kualitas A, nilai haugh unit 31-60 sebagai telur kualitas B dan nilai haugh unit kurang dari 31 dikategorikan sebgai telur kualitas C (United State Departement of Agriculture, 1964). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap nilai haugh unit diketahui bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi nilai haugh unit.

Persentase Albumen

Hasil yang didapatkan untuk persentase putih telur (albumen) menyatakan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase putih telur. Nilai rataan bobot telur secara berturut-turut P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 45,04 ± 1,89%, 46,22 ± 1,03%, 46,20 ± 0,79%, 45,07 ± 1,46%.

Putih telur terdiri dari empat lapisan yaitu lapisan encer luar, lapisan kental luar, lapisan encer dalam dan khalazaferous (Nakai dan Modler, 2000). Bahan utama penyusun putih telur adalah protein dan air. Perbedaan kekentalan putih telur disebabkan oleh perbedaan kandungan airnya (Stadelmann dan Coterill, 1995). Kandungan air pada putih telur lebih banyak dibandingkan dengan bagian lainnya sehingga penyimpanan bagian inilah yang mudah rusak (Romanoff dan Romanoff 1963). Winarno dan Koswara (2002) juga menjelaskan bahwa putih telur (albumen) merupakan bagian telur yang berbentuk gel : Albumen dibagi menjadi tiga lapisan yang berbeda yaitu : lapisan tipis putih telur bagian luar (20%), lapisan putih telur bagian dalam (30%), dan lapisan tebal putih telur (50%). Putih telur tebal dekat kuning telur membentuk kalaza dengan struktur seperti kabel.

Perlakuan kontrol (tidak diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan bakteri asam laktat) dijadikan sebagai acuan dalam memperhitungkan bobot putih telur (albumen). Perlakuan kedua yang diinfeksi Salmonella enteritidis tanpa penambahan bakteri asam laktat memiliki bobot putih telur yang tidak jauh berbeda dengan perlakuan kontrol. Hal ini menandakan infeksi bakteri Salmonella enteritidis pada pengamatan yang dilakukan tidak mempengaruhi bobot putih telur yang dihasilkan ayam. Perlakuan ketiga, dengan infeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik satu kali dalam satu hari juga memiliki bobot putih telur (albumen) yang tidak jauh berbeda dengan bobot putih telur (albumen). Adanya penambahan bakteri probiotik (Lactobacillus sp.) juga tidak mempengaruhi bobot putih telur pada perlakuan ketiga. Sama halnya dengan perlakuan kedua dan ketiga, bobot putih telur yang diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik

25 sebanyak dua kali dalam satu hari dengan jumlah dosis yang sama, memiliki bobot yang tidak jauh berbeda dengan bobot putih telur perlakuan kontrol. Penambahan bakteri probiotik pada masing-masing perlakuan tidak mengurangi atau menambah bobot putih telur yang dihasilkan ayam setelah diinfeksi Salmonella enteritidis.

Persentase Yolk

Pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap persentase bobot kuning telur. Nilai rataan kuning telur secara berturut-turut P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 35,87 ± 2,23%, 36,63 ± 0,63%, 37,03 ± 0,52%, 37,36 ± 0,84%.

Kuning telur merupakan emulsi lemak dalam air yang mengandung 50% bahan kering (Belitz, 1987), kuning telur berbatasan dengan putih telur dan dilapisi oleh satu lapisan yang disebut membran vitelin. Umumnya kuning telur berbentuk bulat, berwarna kuning atau oranye yang terletak pada pusat telur dan bersifat elastis (Winarno dan Koswara, 2002). Warna kuning telur sebagian besar dipengaruhi oleh kandungan karotenoid yang berasal dari pakan (Charley, 1982). Kuning telur pada telur segar berbentuk utuh yang dikelilingi oleh membran vitelin yang kuat (Romanoff dan Romanoff, 1963).

Perlakuan kontrol (tidak diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan bakteri asam laktat) dijadikan sebagai acuan dalam memperhitungkan bobot kuning telur (yolk). Perlakuan kedua (P2) yang diinfeksi Salmonella enteritidis tanpa penambahan bakteri asam laktat memiliki bobot kuning telur yang tidak jauh berbeda dengan perlakuan kontrol. Hal ini menandakan adanya infeksi Salmonella enteritidis pada pengamatan yang dilakukan tidak mempengaruhi bobot kuning telur yang dihasilkan ayam. Perlakuan ketiga, dengan infeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik satu kali dalam satu hari juga memiliki bobot putih telur (albumen) yang tidak jauh berbeda dengan bobot kuning telur (yolk).

Adanya penambahan bakteri probiotik (Lactobacillus spp.) juga tidak mempengaruhi bobot kuning telur (yolk) pada perlakuan ketiga. Sama halnya dengan P2 dan P3, bobot kuning telur yang diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik sebanyak dua kali dalam satu hari dengan jumlah dosis yang sama, memiliki bobot yang tidak jauh berbeda dengan bobot kuning telur perlakuan kontrol. Infeksi Salmonella enteritidis secara tranovarial ini dapat terjadi melalui

26 kontak langsung pada kuning telur atau albumen selama proses pembentukan telur (oviposisi), yaitu selama perjalanan sel telur mulai dari ovarium sampai ke infundibulum dan oviduk, sebelum telur tertutup kerabang dan terlindungi antimikrobial albumen (Dugud dan North, 1991: Miyamoto et al., 1998), akan tetapi selama dilakukan penelitian penambahan bakteri probiotik terhadap infeksi Salmonella enteritidis tidak mempengaruhi perlakuan yang ada.

Salmonella entritidis sebenarnya dapat berkoloni di dalam telur dan tidak menandakan adanya gejala klinis pada ayam petelur yang sudah dewasa. Infeksi Salmonella entritidis dan penambahan bakteri probiotik pada masing-masing perlakuan tidak mengurangi atau menambah bobot kuning telur yang dihasilkan ayam.

Persentase Kerabang Telur

Pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap persentase bobot kerabang telur. Nilai rataan bobot kerabang telur secara berturut-turut untuk P1, P2, P3, dan P4 adalah sebesar 19,09 ± 1,19%, 17,15 ± 0,92%, 16,77 ± 1,98%, 17,57 ± 2,13%.

Kuit telur terdiri atas empat lapisan yaitu : (1) lapisan membran kulit telur, (2) lapisan mamilari, (3) lapisan bunga karang (spingiosa), dan (4) lapisan kutikula (Belitz dan Groch, 1999). Pada lapisan kulit telur banyak terdapat pori-pori yang berguna sebagai saluran pertukaran udara untuk memenuhi kebutuhan embrio di dalamnya. Kulit telur bersifat keras, dilapisi kutikula dengan permukaan halus serta terikat keras pada bagian luar lapisan membran (Winarno dan Koswara, 2002). Membran kulit telur terdiri atas dua lapisan, lapisan pertama adalah membran yang menempel pada kerabang telur dan membran yang kedua yang menyelimuti putih telur (Sikorski, 2001), sedangkan menurut Winarno dan Koswara (2002). Membran kulit telur mengandung enzim lipozim yang dipercaya bersifat bakteriosidal terhadap bakteri gram positif, tetapi membran telur tidak efektif untuk mencegah mikroba yang menghasilkan enzim proteolitik, karena protein lapisan tersebut akan mudah dihancurkan oleh enzim bakteri.

Perlakuan kontrol (tanpa infeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik) dijadikan sebagai acuan dalam memperhitungkan bobot kerabang. Perlakuan kedua, diinfeksi Salmonella enteritidis dan tanpa penambahan probiotik

27 memiliki nilai bobot kerabang yang tidak jauh berbeda dengan bobot kerabang perlakuan kontrol. Sama halnya dengan bobot kerabang pada perlakuan ketiga, yang diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan probiotik juga memiliki bobot kerabang yang tidak jauh berbeda dengan perlakuan kontrol. Perlakuan empat, yang diinfeksi Salmonella enteritidis dan penambahan bakteri probiotik (Lactobacillus spp.) juga memiliki nilai yang tidak jauh berbeda. Secara perhitungan statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan atau pengaruh perlakuan terhadap bobot kerabang, namun bila dilihat secara penampakan fisik pada kerabang terlihat adanya bercak merah dan putih/kapur pada permukaan kerabang telur perlakuan kedua dan pertama. Terdapat juga telur yang pecah di dalam kandang, hal ini kemungkinan disebabkan oleh ketebalan kerabang yang tipis sehingga rentan pecah. Amrullah (2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tebal kerabang adalah umur, suhu lingkungan, cekaman, penyakit-penyakit ungggas tertentu dan obat-obatan. Menurut Sarwono (1994) tebal kerabang telur dipengaruhi oleh faktor keturunan, pakan dan musim. Mineral dan fosfor berfungsi dalam pembentukan tulang dan kulit telur. Vitamin D dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan agar kalsium dan fosfor dapat bekerja secara efisien. Kekurangan mineral Ca, P dan vitamin D dapat menyebabkan kerabang yang tipis, mudah pecah dan produksi telur bisa berhenti (Sudaryani dan Santoso, 2001).

28

KESIMPULAN

Kesimpulan

Peubah performa produksi yang berbeda nyata adalah konsumsi dan hen day. P3 memiliki nilai konsumsi dan hen day yang tidak berbeda dengan P1(kontrol), hal ini disebakan karena setelah diinfeksi Salmonella enteritidis perlakuan tersebut diberi tambahan probiotik secara oral, sehingga membantu proses penyembuhan dan pengembalian kondisi yang pada akhirnya memiliki kondisi tubuh yang sama dengan P1. Pengaruh infeksi Salmonella enteritidis tedapat pada konsumsi perlakuan P2, ketika diinfeksi Salmonella enteritidis dan tidak diberi probiotik konsumsi pakannya meningkat. Hal ini disebabkan karena pada P2, mengharuskan tubuhnya mengkonsumsi pakan lebih banyak dari perlakuan kontrol untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang terserang Salmonella enteritidis. Perlakuan keempat (P4), memiliki nilai yang sama dengan P2 untuk peubah konsumsi pakan dan hen day. Performa yang lainnya seperti konversi dan berat telur tidak memiliki perbedaan nyata.

Peubah untuk kualitas telur yang diamati seperti haugh unit, persentase berat albumen, persentase berat kuning yolk, dan persentase berat kerabang telur tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Hal ini menandakan penambahan bakteri probiotik tidak berpengaruh terhadap infeksi Salmonella enteritidis pada peubah kualitas telur yang diamati.

29

Dokumen terkait