• Tidak ada hasil yang ditemukan

5   PERFORMA RENANG IKAN (FISH SWIMMING PERFORMANCE)

5.6 Hasil dan Pembahasan

Program ACDSee dan WMP mampu membaca dan memutar video dengan masing-masing kecepatan 29 dan 30 frame perdetik. Window Media Player digunakan untuk menghitung tail beat. Sedangkan ACD See digunakan untuk mendigitasi video. Program ACDSee mempunyai fasilitas untuk memecah (mendefrag) video menjadi potongan frame yang berurutan. ACDSee mampu membaca 29 frame perdetik, oleh karenanya jarak pergerakan setiap frame adalah 1/29 detik, atau 0,034483 detik. Bila satu scene video direkam selama 1 detik dengan kecepatan 210/frame, maka bila di baca dengan ACDSee maka durasinya akan menjadi (1s x 210f/s) : 29 f/s = 7,241379 detik. Artinya 7,241379 kali lebih lama dari durasi sebenarnya, atau perbedaan gerak setiap frame hasil pembacaan

ACDSee setara dengan 0,004762 detik. 5.6.2 Kecepatan renang ikan

Kecepatan renang dan ukuran tubuh sangat penting dalam mendeterminasi tingkah laku pergerakannya (Drucker dan Jensen1996, diacu dalam Purbayanto,

2010). Untuk membandingkan kecepatan renang ikan yang berbeda ukuran maka

kecepatan renang dinyatakan dalam panjang tubuh detik (body length/second,

BL/det). Kecepatan dengan satuan demikian disebut kecepatan renang relatif.

Hubungan antara frekuensi tail beat dengan kecepatan relatif disajikan pada Gambar 41.

Hasil pemplotan data frekuensi dan kecepatan relatif mengelompok dan saling bersesuaian sehingga dapat ditarik garis regresi linier dengan persamaan V=13,25X -18,919. Fakta ini menjelaskan bahwa semakin tinggi kecepatan renangnya maka makin tinggi pula frekuensi tail beat.

Gambar 41 Hubungan antara frekuensi tail beat dengan kecepatan renang relatif ikan kerapu bebek

Jarak dan kecepatan renang ikan sangat tergantung kepada frekuensi (Hz) tail

beat. Tail beat pada ikan bisa dianalogikan sebagai langkah manusia. semakin cepat

frekuensi langkahnya semakin cepat pula gerak majunya. Demikian pula dengan frekuensi tail beat ikan. Makin cepat frekuensi tail beat-nya maka makin cepat pula gerak maju dari ikan. Merujuk pada skala axis pada gambar tersebut di atas, tampak bahwa sebetulnya laju renang ikan kerapu bebek relatif kecil (<60cm/detik). Hal ini menjelaskan semakin menambah penjelasan bahwa ikan kerapu bukanlah tipe ikan penjelajah (beruaya jauh) tetapi adalah ikan yang cenderung mempunyai daerah teritorial. Ikan kerapu dalam mendapatkan makanannya lebih cendrung dengan cara menunggu untuk menyergap mangsanya. Pada Gambar 42 disajikan perbedaan tail beat frekuensi ikan dengan ukuran BL yang berbeda. Melalui gambar tersebut dapat dilihat bahwa ikan dengan ukuran yang lebih kecil melakukan tail beat yang lebih banyak dari pada ikan yang lebih besar pada kecepatan renang yang sama (39 cm/s). Pada gambar yang sama tampak ikan berukuran 12,5 cm mempunyai frekuensi tail beat yang cenderung menurun. Diduga hal tersebut disebabkan karena kondisi fisiknya yang tidak sesehat ikan lainnya, sehingga individu tersebut lebih cepat lelah. Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan ketahanan renang ikan tersebut karena faktor keturunan/gen. Walaupun ikan uji termasuk dalam kelompok

umur yang sama, bisa saja berasal dari induk yang berbeda, mengingat ikan uji berasal dari hasil budidaya.

Gambar 42 Tail beat frequensi (Hz) ikan kerapu bebek ukuran BL 12,3 - 13 cm

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 43 Sebaran frekuensi tail beat ikan pada frekuensi berbeda

Gambar 43 (a, b, c dan d) disajikan grafik sebaran tail beat masing-masing individu ikan pada frekuensi motor yang berbeda. Tampak pada gambar bahwa

makin tinggi frekuensi motor maka makin tinggi pula frekuensi tail beat-nya, sebaliknya ketahanan renangnya juga semakin berkurang.

Hasil uji terhadap ketahanan renang (E) juvenile ikan kerapu bebek diperagakan dalam bentuk kurva pada Gambar 44 di bawah ini. Hubungan ketahanan renang (dalam detik)) dengan kecepatan renang relatif (U dalam BL/detik). Hubungan kedua variabel ini dapat dijelaskan dengan persamaan:

E= 4 x 106 x U-6.951 ……….…14)

Merujuk kepada Gambar 44 tersebut dapat diketahui bahwa makin tinggi kecepatan renang ikan maka makin rendah ketahanan renangnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin cepat ikan berenang maka semakin cepat pula energi ikan habis, sehingga ikan semakin cepat mengalami kelelahan.

Dengan memetakan waktu ketahanan renang (E dalam detik) dalam skala logaritma terhadap kecepatan renang relative (Vdalam BL/detik), sehingga hubungan ketahanan renang dan kecepatan renang relatif yang dapat dijelaskan dengan persamaan linier sebagai berikut :

logE=6,6319-6,9509logV ………15)

Dari persamaan tersebut dapat diperkirakan kecepatan prolong maksimum dicapai ikan pada kecepatan renang relatif sebesar 2,31 BL/detik (29,2cm/detik). Dengan memperkirakan durasi kecepatan renang lompatan ikan kerapu bebek tidak lebih dari 10 detik, maka kecepatan burst speed dicapai pada saat kecepatan renang sebesar 6,4 BL/detik (80,8 cm/detik)

Gambar 44 Hubungan kecepatan renang relatif (BL/detik) dengan waktu ketahanan renang (detik) ikan kerapu bebek

5.6.3 Pola renang

Indera penglihatan manusia memiliki keterbatasan dalam kemampuan menangkap bayangan benda yang bergerak cepat, hal ini menyebabkan keterbatasan manusia dalam memahami atau mempelajari pola gerak biota yang bergerak cepat. Pengamatan pola renang langsung secara visual dapat dilakukan pada kecepatan renang yang lambat, tetapi pada gerakan yang cepat sulit diketahui. Kemampuan menangkap bayangan pada mata manusia setara dengan kecepatan video camera standar yaitu 25 sd 30 frame/detik. Penggunaan teknologi kamera berkecepatan tinggi di perlukan dalam membantu mengatasi hambatan tersebut. Pada penelitian ini digunakan kamera digital yang mampu merekam video dengan kecepatan 210 frames/detik. Hasil fragmentasi dari scene film yang menunjukkan 1 periode tail

beat, didapatkan pola renang ikan kerapu bebek seperti disajikan berikut.

Gambar 46 Pola gerak ikan kerapu bebek termasuk subcarangiform (searah jarum jam mulai dari sudut kanan bawah).

Berdasarkan gambar-gambar yang didapatkan tersebut, maka pola renang dari ikan kerapu bebek yang diamati menurut Lindsey (1978) termasuk kelompok

Subcarangiform, dimana amplitudo gerak gelombangnya lebih kecil ke arah depan

dan hanya membesar pada bagian belakang, atau 1/3 bagian dari badan. Ujung hidung tidak bergerak lurus dengan arah pergerakan, tetapi bergerak oskilasi (oscilation) dengan amplitudo yang tidak terlalu besar, seperti terlihat pada gambar di atas. Pada gambar tersebut juga dapat dilihat bahwa pada saat melakukan renang dengan kecepatan yang rendah, ikan kerapu bebek selain menggunakan sirip ekor juga menggunakan sirip dadanya saat berenang.

Gambar 47 Pola gerak Burst speed ikan kerapu bebek (searah jarum jam mulai dari sudut kanan bawah).

Pada Gambar 47, disajikan pola gerak burst speed ikan kerapu bebek, yaitu gerak renang kilat/lompatan. Melalui gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada pola ini ikan hanya menggunakan satu kali kibasan sirip ekor dan selanjutnya meluncur. Tampak disini ikan tidak menggunakan sirip dadanya untuk berenang.

Gambar 48 Laju pergerakan ikan kerapu Bebek (BL = 13 cm) pada kecepatan renang 26

cm/detik (ukuran ikan non skala terhadap notasi).

Pada Gambar 48 disajikan pola gerak renang ikan dengan kecepatan renang 26 cm/detik. Tampak pada gambar bahwa setiap satu periode tail beat individu ikan ini mampu bergerak sejauh setengah panjang badannya (BL).

Dokumen terkait