Kondisi Umum Peternakan Domba di Desa Petir
Desa Petir terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 4.48 km2. Sebelah utara desa Petir berbatasan dengan desa Neglasari, sebelah selatan berbatasan dengan desa Sukajadi dan kecamatan Taman Sari, sebelah barat berbatasan dengan desa Purwasari dan kecamatan Ciampea, dan sebelah timur berbatasan dengan desa Sukadamai dan desa Sukawening. Desa Petir memiliki jumlah penduduk 12993 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 2900 jiwa/km2. Desa Petir terdiri dari 4 dusun, 9 rukun warga (RW) dan 43 rukun tetangga (RT) (BPS Kabupaten Bogor 2014).
Hasil studi yang telah dilakukan oleh Sudarman (2014) dengan responden berjumlah 96 orang peternak menunjukkan bahwa 98.96 % peternak domba di desa Petir menjadikan ternak sebagai usaha sampingan. Pekerjaan utamanya
9
adalah sebagai buruh tani dengan status kepemilikan ternak sejumlah 66.67 % peternak memiliki ternaknya sendiri, sedangkan sejumlah 33.33% peternak melakukan sistem gaduh. Rata-rata peternak di desa Petir memiliki ternak kurang dari 10 ekor untuk setiap orangnya. Hasil studi menunjukkan bahwa populasi ternak domba di desa Petir mencapai 83.7 ST (satuan ternak). Sebagian besar ternak domba didapatkan peternak dari tengkulak. Peternak juga mendapatkan ternak dengan membeli langsung ke Jonggol. Peternak mendapatkan pakan ternaknya dengan mengarit di sawah ataupun kebun yang rata-rata berjumlah 2-3 karung hari-1 (antara 56-86 kg). Frekuensi pemberian pakan pada peternakan domba di desa Petir adalah 2-3 kali sehari dan tanpa diberikan air minum. Pakan yang biasa diberikan adalah daun ubi jalar, daun jagung, rumput lapang (Paspalum conjugatum Berg., Eleusine indica(L.) Gaertn, Echinochola colona(L.) Link dan Paspalum sp), daun singkong yang sudah dilayukan selama dua hari dan daun nangka. Peternak tidak memberikan konsentrat sebagai pakan tambahan dikarenakan akan meningkatkan biaya pemeliharaan. Pemberian daun ubi jalar paling banyak dilakukan oleh peternak karena jumlahnya yang cukup banyak dan peternak lebih mudah dalam pengambilannya dibandingkan dengan mengarit rumput lapang. Pemberian pakan yang berbeda-beda setiap harinya pada peternakan domba di desa Petir dapat mempengaruhi produktivitas ternak.
Karakteristik peternakan domba yang telah didapatkan dari studi sebelumnya menunjukkan bahwa peternakan domba di desa Petir merupakan peternakan rakyat dengan ciri-ciri ternak sebagai usaha sambilan dengan skala kepemilikan kecil. Skala kepemilikan yang kecil mengakibatkan pengadaan faktor-faktor produksi dan penggunaan tenaga kerja tidak efisien. Pengadaan hijauan sebagai input utama pada peternakan domba di desa Petir tergantung pada musim yang mengakibatkan peternak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pakan di musim kemarau.
Performa Ternak Domba Konsumsi Nutrien Ransum
Konsumsi nutrien ransum penelitian disajikan pada Tabel 4. Perlakuan pakan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat palatabilitas antar ransum perlakuan seragam. Perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap konsumsi protein kasar (PK), serat kasar (SK) dan lemak kasar (LK), serta berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap konsumsi TDN (Total Digestible Nutrient). Perbedaan yang signifikan dalam konsumsi PK, SK, LK dan TDN disebabkan oleh perbedaan kandungan nutrien setiap ransum perlakuan (Tabel 2).
Rataan konsumsi bahan kering pada penelitian ini antara 3.18-3.38% bobot badan yang menunjukkan bahwa pemberian pakan sudah mencukupi kebutuhan domba untuk hidup pokok. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Kearl (1982) bahwa kebutuhan BK dan PK pakan untuk domba berumur 1 tahun dengan bobot badan 20-30 kg berturut-turut adalah 550-870 BK ekor-1 hari-1 dan 119-248 g PK ekor-1 hari-1 yang sudah sesuai dengan jumlah konsumsi bahan kering dan protein kasar dalam penelitian yaitu 784.12-834.86 g BK ekor-1 hari-1 dan 138.95-155.62 g PK ekor-1 hari-1.
Tabel 4. Performa domba dengan empat perlakuan pakan yang berbeda
Peubah
Perlakuan Nilai
p
T0 T1 T2 T3
Konsumsi (g ekor-1 hari-1)
BK 809.61 + 82.16 784.12 + 85.55 834.86 + 143.67 812.91 + 67.84 0.868 PK 143.46 + 14.56 138.95 + 15.16 138.97 + 23.91 155.62 + 12.99 0.123 SK 244.99 + 24.86 237.27 + 25.89 233.43 + 40.17 231.14 + 19.29 0.557 LK 16.19 + 1.64 15.68 + 1.71 20.62 + 3.55 18.32 + 1.53 0.025 BETN 314.29 + 31.89 304.39 + 33.21 347.90 + 59.87 328.11 + 27.38 0.388 TDN 459.22 + 46.60 444.76 + 48.52 494.36 + 85.07 494.24 + 41.24 0.324 Konsumsi (g kg-1 BB0.75 hari-1) BK 75.43 + 2.18 73.39 + 2.52 74.33 + 4.83 75.47 + 1.79 0.380 PK 13.37 + 0.39b 13.00 + 0.45b 12.37 + 0.80c 14.14 + 0.34a 0.001 SK 22.83 + 0.66a 22.21 + 0.76a 20.78 + 1.35b 21.00 + 0.51b 0.009 LK 1.51 + 0.04c 1.47 + 0.05c 1.84 + 0.12a 1.66 + 0.04b 0.001 BETN 29.28 + 0.85 28.49 + 0.98 30.97 + 2.01 29.81 + 0.72 0.253 TDN 42.79 + 1.24ab 41.63 + 1.43b 44.01 + 2.86a 44.90 + 1.09a 0.088 PBBH
30.18 + 11.22b 31.90 + 16.07b 63.33 + 25.73a 53.57 + 17.36ab
(g ekor-1 hari-1) 0.049 (%) 0.12 + 0.04b 0.13 + 0.07b 0.25 + 0.09a 0.21 + 0.06a 0.027 PBB (%) 9.57 + 2.89b 10.57 + 5.53b 20.31 + 7.36a 17.33 + 4.93a 0.023 Efisiensi (%) 3.68 + 1.06b 4.06 + 1.99b 7.51 + 2.44a 6.53 + 1.73a 0.018 Keterangan: T0 = 100% hijauan; T1 = 100% hijauan dicacah; T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat; T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong. Analisis statistik dilakukan pada konsumsi dengan satuan g kg-1 BB0.75 hari-1. Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05). Konsumsi berdasarkan hasil perhitungan.
BK = Bahan Kering; PK = Protein Kasar; SK = Serat Kasar; LK = Lemak Kasar; TDN = Total Digestible Nutrient; PBBH = Pertambahan Bobot Badan Harian
Gambar 2 menyajikan data rataan konsumsi hijauan berdasarkan rasionya, konsumsi protein kasar dan konsumsi serat kasar setiap minggu selama sepuluh minggu pemeliharaan. Konsumsi protein kasar memperlihatkan hasil yang berbanding terbalik dengan konsumsi serat kasar. Gambar 2 secara keseluruhan menunjukkan bahwa rasio hijauan yang diberikan pada domba mempengaruhi konsumsi protein dan serat kasarnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kandungan protein kasar dan serat kasar pada ketiga hijauan (daun ubi jalar, rumput lapang, daun jagung) yang digunakan.
11
Gambar 2. Rasio hijauan dan konsumsi nutrien domba setiap minggu
Pertambahan Bobot Badan dan Efisiensi Penggunaan Pakan
Nilai pertambahan bobot badan (PBB) disajikan pada Tabel 4. Perlakuan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap PBB domba. Perlakuan T0 tidak berbeda dengan T1 yang menunjukkan bahwa perlakuan pencacahan pada hijauan pakan penelitian tidak mempengaruhi PBB domba. Nilai PBB yang tidak berbeda antara perlakuan T0 dan T1 disebabkan daun ubi jalar memiliki tingkat palatabilitas yang tinggi yang mengakibatkan konsumsinya di kedua kelompok tidak berbeda nyata. Penyebab lain adalah ketika domba diberikan hijauan berupa rumput lapang 100% atau 80% yang sudah berukuran pendek, sehingga pengaruh pencacahan tidak terlihat. Perlakuan konsentrat (T2) mampu memberikan hasil PBBH paling tinggi dibandingkan perlakuan lain yang disebabkan konsentrat dalam penelitian ini mampu menyediakan sumber energi dengan nilai efisiensi penggunaan energi lebih tinggi yang diperlukan dalam proses pembentukan jaringan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sudarman et al. (2013) yang menjelaskan bahwa penambahan konsentrat pada domba yang diberi pakan basal rumput gajah dapat meningkatkan PBBH. Perlakuan T3 memberikan hasil PBBH yang lebih baik dibandingkan dengan T0 dan T1 dan sama dengan T2 yang menunjukkan bahwa pemberian silase daun singkong mampu meningkatkan PBBH domba dengan pakan basal hijauan. Hal ini disebabkan silase daun singkong memiliki kandungan nutrien (PK, BETN, TDN) yang lebih tinggi dibandingkan hijauan yang digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan T0 dan T1 menghasilkan PBBH yang lebih rendah dibandingkan T2 dan T3 yang menunjukkan bahwa kualitas ransum T2 dan T3 lebih baik dibandingkan T0 dan T1. Penelitian Sudarman et al. (2013) juga menunjukkan hasil PBBH yang lebih tinggi pada perlakuan dengan penggunaan konsentrat (60.03 g ekor-1) atau silase daun singkong (48.57 g ekor-1) dengan taraf 40% dibandingkan dengan penggunaan rumput gajah saja. Nilai PBBH yang dihasilkan dalam penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 0 200 400 600 800 1000 1200 K o ns um si ba ha n k er ing hija ua n ( g ra m )
Daun ubi Rumput Daun jagung
PBBH pada penelitian Sudarman et al. (2013) yang disebabkan oleh hijauan yang digunakan pada penelitian ini memiliki kandungan protein kasar (Tabel 2) yang lebih baik dibandingkan dengan rumput gajah.
Gambar 3. Bobot badan domba penelitian setiap minggu selama sepuluh minggu pemeliharaan dengan T0 = 100% hijauan, T1 = 100% hijauan dicacah, T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat dan T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong
Bobot badan domba penelitian setiap minggu disajikan pada Gambar 3. Penurunan bobot badan yang drastis terjadi pada minggu ke sembilan. Hal ini diduga terjadi karena pada minggu tersebut domba diberikan rumput lapang dengan rasio lebih tinggi dibandingkan daun ubi jalar. Telah diketahui bahwa kandungan protein rumput lapang (8.2%) berbeda jauh bila dibandingkan dengan protein daun ubi jalar (19.2%) (Sutardi 1981) yang akan menghasilkan nilai PBBH berbeda. Kandungan protein yang lebih tinggi pada daun ubi jalar mampu menghasilkan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput lapang. Rumput lapang juga memiliki tingkat palatabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan daun ubi jalar, sehingga dapat menurunkan konsumsi bahan kering yang kemudian dapat menurunkan bobot badan. Hasil tersebut didukung oleh Duldjaman (2004) yang menyatakan bahwa PBBH domba dengan pemberian 100% rumput lapang adalah sebesar 15 g ekor-1 hari-1, sementara domba penelitian ini menghasilkan PBBH lebih besar yaitu mencapai 30.18-31.90 g ekor-1 hari-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 20% konsentrat (T2) atau 20% silase daun singkong (T3) mampu menghasilkan PBBH yang normal dibandingkan dengan ransum hijauan saja (T0 dan T1). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Kearl (1982) bahwa domba dengan konsumsi BK 700-800 gram mampu menghasilkan PBBH 50-100 g ekor-1 hari-1, sedangkan T0 dan T1 menunjukkan PBBH yang masih di bawah standar.
Efisiensi penggunaan pakan pada penelitian disajikan pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap efisiensi penggunaan pakan (P<0.05). Perlakuan T2 dan T3 menghasilkan nilai efisiensi pakan yang
20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 25.00 26.00 27.00 28.00 29.00 30.00 B o bo t ba da n ( k g ) T0 T1 T2 T3
13
lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan T0 dan T1 yang disebabkan perlakuan T2 dan T3 mampu menghasilkan PBBH yang lebih tinggi dibandingkan T0 dan T1 dengan konsumsi bahan kering yang sama. Tingginya nilai efisiensi penggunaan pakan menunjukkan bahwa kualitas ransum T2 dan T3 lebih baik dibandingkan dengan ransum T0 dan T1. Efisiensi pakan yang dihasilkan pada perlakuan hijauan saja relatif sama dengan penelitian Sudarman et al. (2013) yaitu 3.67 yang menggunakan 100% rumput gajah sebagai pakan, sementara penggunaan konsentrat (T2) ataupun silase daun singkong (T3) mampu menghasilkan nilai efisiensi penggunaan pakan yang lebih tinggi pada penelitian tersebut.
Populasi Mikroba dan Karakteristik Fermentasi Rumen Domba Populasi Protozoa
Populasi protozoa domba penelitian ini disajikan pada Tabel 5. Perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap populasi protozoa. Tabel 5 menunjukkan bahwa populasi protozoa tertinggi terdapat pada rumen domba dengan perlakuan penggunaan konsentrat (T2). Ransum T2 terdiri dari 20% konsentrat, dimana konsentrat memiliki kandungan pati yang tinggi dibandingkan ketiga ransum lainnya. Dehority (2004) menjelaskan bahwa sebagian besar protozoa di dalam rumen mencerna pati, sehingga protozoa dapat berkembang dengan cepat dalam rumen domba yang diberi pakan konsentrat. Ramos et al.
(2009) mendukung hasil penelitian ini dengan menyatakan bahwa terjadi peningkatan jumlah protozoa dari 5.62 log sel ml-1 menjadi 5.87 log sel ml-1 seiring dengan peningkatan rasio konsentrat di dalam pakan domba. Ramos et al.
(2009) juga menyatakan bahwa protozoa pencerna pati lebih dominan jumlahnya di dalam rumen domba yaitu mencapai 90%, sehingga pengaruh pemberian konsentrat terhadap peningkatan populasi protozoa dapat terlihat meskipun hanya sebesar 20%.
Tabel 5. Populasi mikroba dan karakteristik fermentasi rumen domba dengan perlakuan pencacahan, penambahan konsentrat dan penambahan silase daun singkong
Peubah Perlakuan Nilai
P T0 T1 T2 T3
Total protozoa
(log sel ml-1) 5.84 + 0.11b 5.94 + 0.02b 6.15 + 0.15a 5.87 + 0.05b 0.005 Total Bakteri (log cfu ml-1) 8.48 + 0.18 8.75 + 0.58 8.43 + 0.31 8.84 + 0.42 0.404 VFA Total (mM) 79.90 + 9.87c 97.95 + 5.95ab 110.83 + 15.47a 87.64 + 13.31bc 0.008 NH3 (mM) 8.97 + 3.09b 10.04 + 4.86ab 6.24 + 1.97b 14.56 + 1.25a 0.023 Keterangan: T0 = 100% hijauan; T1 = 100% hijauan dicacah; T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat; T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong. Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05).
Populasi protozoa pada perlakuan T0, T1 dan T3 tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda dikarenakan jenis pakan yang diberikan sama yaitu hijauan berupa daun jagung, rumput lapang dan daun ubi jalar yang rendah kadar patinya. Populasi protozoa pada penelitian masih dalam kisaran normal yaitu 5.84-6.15 log sel ml-1 sesuai dengan Freer dan Dove (2002) yang menyatakan bahwa populasi protozoa dalam rumen ruminansia adalah 4-6 log sel ml-1. Populasi protozoa menurut Rodriguez et al. (2015) dalam rumen domba yang diberi pakan 100% hijauan berupa rumput gajah adalah 5.83 log sel ml-1 mendukung nilai populasi protozoa pada penelitian ini.
Populasi Bakteri Total
Hasil analisis statistik populasi bakteri pada rumen domba penelitian disajikan pada Tabel 5. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap populasi bakteri total yang disebabkan peningkatan populasi protozoa sebagai predator bagi bakteri belum mampu secara signifikan menurunkan populasi bakteri, namun total bakteri pada penelitian ini yaitu 8.43-8.84 log cfu ml-1 masih dalam kisaran normal. Hasil penelitian ini didukung oleh Ramos et al. (2009) yang menyatakan bahwa total bakteri rumen domba dengan pakan tinggi hijauan adalah 8 log cfu ml-1. Hasil penelitian lain yang dapat mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian Widiawati (2009) yang menyatakan bahwa populasi bakteri pada rumen domba dengan 100% hijauan sebagai pakan adalah 9 log cfu ml-1. Populasi bakteri total yang masih dalam kisaran normal menunjukkan bahwa perlakuan pakan yang diberikan tidak mengganggu ekosistem bakteri di dalam rumen, sehingga sintesis pakan dapat berjalan dengan baik.
Produksi VFA Total
Produksi VFA total menunjukkan mudah atau tidaknya pakan difermentasi di dalam rumen. Produksi VFA total pada rumen domba penelitian ini disajikan oleh Tabel 5. Perlakuan yang diberikan nyata mempengaruhi produksi VFA total (P<0.05). Perlakuan pencacahan (T1) menghasilkan produksi VFA total yang lebih tinggi dibandingkan dengan T0 yang menunjukkan bahwa perlakuan pencacahan dapat meningkatkan produksi VFA total. Hal ini diduga berkaitan dengan ukuran pakan pada T1 lebih kecil dibandingkan T0. Partikel pakan yang lebih kecil lebih mudah dicerna, sehingga pada waktu 4 jam setelah makan perlakuan T1 menghasilkan VFA total yang lebih tinggi dibandingkan T0. Bhandari et al. (2007) mendukung hasil penelitian ini dengan menyatakan bahwa pengurangan ukuran pakan pada alfalfa dapat meningkatkan produksi VFA total 4-5 jam setelah makan. Perlakuan konsentrat (T2) menghasilkan VFA total tertinggi yang disebabkan oleh penggunaan konsentrat yang kandungan patinya tinggi, sehingga lebih cepat dicerna dibandingkan hijauan (Freer dan Dove 2002). Hasil produksi VFA yang tinggi pada perlakuan T2 mampu menghasilkan PBBH yang tinngi. Hal ini mendukung hasil PBBH pada perlakuan T2 yang paling tinggi dibandingkan perlakuan lain. Rataan produksi VFA total penelitian ini antara 79.9-110.83 mM berada pada kisaran normal untuk menunjang pertumbuhan mikroba. Kisaran normal produksi VFA total cairan rumen domba menurut McDonald et al. (2010) adalah 70-113 mM tergantung pada jenis pakan yang diberikan.
15
Konsentrasi Amonia (NH3)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap konsentrasi amonia. Perlakuan T3 menghasilkan konsentrasi amonia paling tinggi (Tabel 5) yang disebabkan oleh kandungan protein ransum perlakuan T3 paling tinggi diantara perlakuan lainnya. Protein pakan di dalam rumen dihidrolisis menjadi asam amino yang diikuti oleh pembebasan amonia (McDonald et al. 2010), sehingga semakin tinggi protein pakan maka semakin tinggi konsentrasi amonia di dalam rumen. Amonia digunakan untuk sintesis protein mikroba, sehingga perlakuan T3 menghasilkan total bakteri yang paling tinggi. Perlakuan penggunaan konsentrat (T2) menghasilkan konsentrasi amonia paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang disebabkan oleh ransum T2 memiliki kandungan protein kasar paling rendah dibandingkan perlakuan lain. Perlakuan T2 yang menghasilkan konsentrasi amonia terendah ternyata mampu menghasilkan PBBH lebih tinggi disbanding T3. Hal ini mungkin disebabkan konsentrasi amonia yang dihasilkan T2 sudah mencapai kebutuhan minimum untuk aktifitas mikroba, namun T2 menghasilkan VFA total tertinggi yang dapat berperan untuk meningkatkan PBBH. Hal tersebut mungkin dapat menyimpulkan bahwa ketika kebutuhan amonia minmum sudah tercukupi, maka jumlah produksi VFA yang tinggi lebih berperan dalam PBBH. Perlakuan kontrol (T0) menghasilkan konsentrasi amonia lebih rendah dibandingkan perlakuan pencacahan (T1) yang diduga disebabkan oleh ukuran partikel pakan pada perlakuan T0 lebih besar. Ukuran partikel pakan yang lebih besar akan lebih sulit dicerna, sesuai dengan Zhao et al. (2009) yang menyatakan bahwa peningkatan ukuran partikel pakan mampu menurunkan konsentrasi amonia di dalam rumen. Konsentrasi amonia yang dihasilkan dalam penelitian ini cukup tinggi yaitu 6.24-14.56 mM, namun masih dalam kisaran normal. Hal ini sesuai dengan McDonald et al. (2010) yang menyatakan bahwa konsentrasi amonia yang optimal untuk aktifitas mikroba adalah 6-21 mM.
Metabolit Darah Domba Glukosa Darah
Konsentrasi glukosa darah domba penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi glukosa darah, namun perlakuan T2 dan T3 memberikan hasil konsentrasi glukosa darah lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh kandungan BETN sebagai fraksi karbohidrat pada ransum T2 dan T3 lebih tinggi dibandingkan perlakuan T0 dan T1. Glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang paling banyak terdapat dalam darah. Glukosa darah dapat menggambarkan konsumsi karbohidrat (Gropper et al. 2009). Konsentrasi glukosa darah sebelum dan sesudah perlakuan disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Glukosa darah domba sebelum dan setelah perlakuan pakan dengan T0 = 100% hijauan, T1 = 100% hijauan dicacah, T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat dan T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong
Gambar 4 menunjukkan perbedaan konsentrasi glukosa darah domba sebelum dan sesudah penelitian. Perlakuan T0 dan T3 mengalami penurunan konsentrasi glukosa darah, sementara T1 dan T2 mengalami peningkatan konsentrasi glukosa darah domba sebelum penelitian ke setelah penelitian. Hal ini diduga dipengaruhi oleh pakan sebelumnya dan kondisi fisiologis ternak setelah masa transportasi, namun konsentrasi glukosa darah yang dihasilkan pada penelitian masih dalam kisaran normal (58.28-61.99 mg dl-1). Hasil penelitian ini didukung oleh Sako et al. (2007) yang menyatakan bahwa konsentrasi glukosa darah domba lebih rendah dibandingkan dengan hewan non ruminansia yaitu 61.2 mg dl-1, sedangkan menurut Astuti et al. (2011) konsentrasi glukosa darah domba lokal dengan pakan berupa hijauan antara 37.5-59.49 mg dl-1.
Trigliserida Darah
Trigliserida darah setelah perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi trigliserida darah. Hal ini diduga disebabkan oleh kandungan lemak kasar antar perlakuan yang berbeda persentase jenis pakan sebesar 20% belum mampu terekspresi dalam darah. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi trigliserida yang lebih tinggi dari Sako et al. (2007) yang menyatakan bahwa konsentrasi trigliserida pada domba adalah 9.18 mg dl-1, namun konsentrasi trigliserida darah pada penelitian masih dalam kisaran normal. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Chaves et al. (2008) pada domba dengan pakan basal barley menghasilkan konsentrasi trigliserida yang lebih tinggi yaitu 13.4-39.5 mg dl-1. Konsentrasi trigliserida darah sebelum dan setelah perlakuan disajikan pada Gambar 5.
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 T0 T1 T2 T3 K o ns ent ra si g luk o sa ( m g dl -1) Perlakuan Konsentrasi Glukosa sebelum perlakuan Konsentrasi Glukosa setelah perlakuan
17
Gambar 5. Konsentrasi trigliserida darah domba sebelum dan setelah penelitian dengan T0 = 100% hijauan, T1 = 100% hijauan dicacah, T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat dan T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong
Gambar 5 menunjukkan terjadi penurunan konsentrasi trigliserida darah pada perlakuan T0, T2 dan T3, namun terjadi peningkatan konsenrasi trigliserida pada perlakuan T1 dari sebelum perlakuan ke setelah perlakuan. Hal ini diduga konsentrasi trigliserida darah domba pada penelitian ini dipengaruhi oleh pakan sebelumnya dan kondisi fisiologis ternak setelah masa transportasi. Konsentrasi trigliserida darah menggambarkan konsumsi lemak (Gropper et al. 2009) yang dapat dipengaruhi oleh pakan, selain itu konsentrasi trigliserida darah juga dipengaruhi oleh pembatasan konsumsi air (Casamassima et al. 2008).
Albumin Darah
Konsentrasi albumin darah domba setelah perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi albumin darah. Hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan jenis pakan antar perlakuan dalam penelitian ini sebesar 20% belum mampu terekspresi dalam darah, namun konsentrasi albumin darah domba penelitian ini masih dalam kisaran normal (3.65-3.93 g dl-1) dengan pemberian protein kasar 16.65-19.14%. Hasil ini sesuai dengan Casamassima et al. (2008) yang menyatakan bahwa konsentrasi albumin darah domba dengan pakan mengandung protein kasar 16.07% adalah 3.25-3.48 g dl-1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara fisiologis domba penelitian mendapatkan kecukupan protein ransum untuk semua perlakuan. Konsentrasi albumin darah menggambarkan konsumsi protein (Gropper et al. 2009). Konsentrasi albumin darah domba sebelum dan setelah perlakuan disajikan pada Gambar 6. 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 T0 T1 T2 T3 K o ns ent ra si t rig lis er ida ( m g dl -1) Perlakuan Konsentrasi Trigliserida sebelum perlakuan Konsentrasi Trigliserida setelah perlakuan
Gambar 6. Konsentrasi albumin darah domba sebelum dan setelah perlakuan dengan T0 = 100% hijauan, T1 = 100% hijauan dicacah, T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat dan T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong
Gambar 6 menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan konsentrasi albumin darah setelah perlakuan yang diduga disebabkan oleh protein pakan yang diberikan dalam penelitian ini lebih baik dibandingkan pakan sebelumnya. Konsentrasi albumin darah selain dipengaruhi oleh pakan juga dipengaruhi oleh kondisi fisiologis ternak dan pembatasan konsumsi air (Casamassima et al. 2008).
Income Over Feed Cost (IOFC)
Nilai ekonomi pemanfaatan pakan yang diberikan dalam penelitian ini dapat dihitung dengan Income Over Feed Cost (IOFC). Besarnya nilai penerimaan biaya (IOFC) yang diperoleh dari nilai pertambahan bobot badan disajikan pada Tabel 6. Perlakuan pemberian pakan hijauan saja (T0 dan T1) menghasilkan nilai IOFC yang lebih rendah dibandingkan perlakuan T2 dan T3. Perlakuan pencacahan menghasilkan nilai IOFC sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan T0. Hal ini berarti perlakuan pencacahan dengan biaya pengeluaran pakan yang sama dengan T0 mampu memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan T0. Pemberian 20% konsentrat menunjukkan nilai IOFC paling tinggi dibandingkan perlakuan lain. Hal ini disebabkan perlakuan penambahan konsentrat menghasilkan PBBH tertinggi, namun biaya pakan yang dikeluarkan pada perlakuan tersebut juga tinggi. Perlakuan penambahan silase daun singkong (T3) menghasilkan nilai IOFC sedikit lebih rendah dibandingkan perlakuan penambahan konsentrat, namun perlakuan T3 lebih ekonomis dalam biaya pengeluaran pakan. 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 T0 T1 T2 T3 K o ns ent ra si a lbu m in (g dl -1) Perlakuan Konsentrasi Albumin sebelum penelitian Konsentrasi Albumin setelah penelitian
19
Tabel 6. Nilai Income Over Feed Cost (IOFC) per ekor selama 10 minggu pemeliharaan
Uraian Perlakuan
T0 T1 T2 T3 A. Biaya Pakan:
Hijauan (Rp ekor-1 hari-1) 889 861 733 714 Konsentrat (Rp ekor-1 hari-1) 0 0 616 0 Silase daun singkong (Rp ekor-1 hari-1) 0 0 0 195 Total Biaya Pakan (Rp ekor-1 hari-1) 889 861 1349 910 B. Penerimaan:
PBBH (g ekor-1 hari-1) 30.18 31.9 63.33 53.57 Nilai PBBH (Rp ekor-1 hari-1) 1961 2073 4116 3482 C. IOFC (Rp ekor-1 hari-1) 1071 1211 2766 2571 D. IOFC selama 10 minggu pemeliharaan 74900 84770 193620 179970 Keterangan: T0 = 100% hijauan; T1 = 100% hijauan dicacah; T2 = 80% hijauan dicacah + 20% konsentrat; T3 = 80% hijauan dicacah + 20% silase daun singkong.