Keberadaan hama PBKo pada masing-masing desa di kabupaten Simalungun dianalisa berdasarkan persentase serangan hama PBKo. Data rata-rata persentase serangan PBKo disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 3. Persentase serangan hama PBKo di Kabupaten Simalungun Ketinggian tempat (m dpl) Pengamatan (%) Total
(%)
Dari Tabel diatas dapat diketahui bahwa persentase serangan hama PBKo tertinggi ditemukan di kecamatan Raya ( 1000-1100 m dpl) dengan persentase serangan 90,78 % sedangkan persentase serangan hama terendah ditemukan di Kecamatan Purba (>1400 m dpl) dengan persentase serangan 27,50 % dan rata-rata persentase serangan hama PBKo di Kabupaten Simalungun adalah 60,50 %.
Pada kecamatan Raya (1000 m dpl) memiliki persentase serangan sebesar 90,78. Persente serangan pada daerah raya sangat tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini disebabkan ketinggian daerah Raya yang terlalu rendah sehingga menyebabkan suhu tinggi. Ketinggian suatu tempat sangat mempengaruhi tingkat serangan PBKo.
Regresi Ketinggian Tempat dengan Persentase Serangan
Grafik yang menggambarkan hubungan antara ketinggian tempat dan persentase serangan hama PBKo (H. hampei Ferr.) dapat dilihat pada tabel berikut
Gambar 4. Grafik Hubungan Kertinggian tempat dengan Persentase Serangan Hama PBKo
Berdasarkan hasil analisis regresi diatas dapat diketahui bahwa ketinggian
suatu tempat berpengaruh nyata terhadap persentase serangan hama PBKo ( H. hampeii Ferr.) dengan nilai sig<0,05 (Ha diterima, H0
Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa koefisien regresi persentase serangan dengan ketinggian tempat sebesar 0,966 dengan interpretasi nilai R sangat kuat dengan nilai sig<0,05 ( Ha diterima, Ho ditolak). Hal ini menunjukkan bahwa ketinggian suatu tempat mempengaruhi tingkat serangan hama PBKo. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syahnen et al (2008) yang menyatakan bahwa ketinggian tempat tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat serangan hama PBKo. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa persentase serangan hama terendah ditemukan di lokasi dengan ketinggian tempat > 1400 m dpl dengan persentase serangan 27,50 %, sementara serangan hama tertinggi
ditolak) ( Lampiran 5) dengan koefisien regresi 0,966 artinya korelasi bersifat sangat kuat.
y = -0,159x + 259,1
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
Persentase Serangan (%)
Ketinggian Tempat ( mdpl)
ditemukan dilokasi dengan ketinggian tempat 1000-1100 m dpl dengan persentase serangan di 90,78% .
Ketinggian suatu tempat akan mempengaruhi suhu udara. Rata-rata penurunan suhu udara di Indonesia sekitar 0,50- 0,60
Perkembangan hama PBKo dipengaruhi oleh beberapa faktor abiotik, salah satunya adalah suhu. Wiryadiputra (2012) menyatakan bahwa daur hidup PBKo dari telur diletakkan sampai dengan menjadi dewasa berkisar antara 24 hari dan 49 hari, tergantung kondisi cuaca, terutama suhu. Semakin tinggi suatu tempat atau semakin rendah suhu maka daur hidupnya semakin panjang. Embriani dan Umiati (2012) menambahkan bahwa H. hampei Ferr. dapat hidup pada suhu 15-35
⁰C. Kondisi daur hidup PBKo yang semakin panjang mengakibatkan tingkat serangan semakin rendah dan sebaliknya daur hidup yang singkat menyebabkan tingkat serangan semakin tinggi.
C tiap kenaikan 100 meter (Handoko, 1995 dalam Andrian, 2014). Selain mempengaruhi suhu, ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kelembaban udara dan angin yang mempengaruhi penyebaran serangga (Capinera, 2012 dalam Syarkawi, 2015).
Korelasi Teknik Pengendalian Hama dan Sanitasi Terhadap Persentase Serangan Hama PBKo ( H. hampei Ferr.)
Korelasi antara pengendalian hama dan sanitasi terhadap persentase serangan hama di Kabupaten Simalungun dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Korelasi Teknik Pengendalian Hama dan Sanitasi Terhadap Persentase Serangan Hama PBKo ( H. hampei Ferr.)
No Korelasi Antar Variabel Nilai r
1 Pengendalian Hama (x1) dan Persentase Serangan (y) -0,568 2 Sanitasi (x2) dan Persentase Serangan (y) -0,571
Dari Tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi teknik pengendalian hama dan persentase serangan adalah -0,568 artinya korelasi bersifat sedang dan memiliki hubungan negatif tetapi tidak berpegaruh secara signifikan (sign > 0,05). Sedangkan nilai koefisien korelasi pengendalian hama dan sanitasi adalah -0,571 artinya korelasi bersifat sedang dan memiliki hubungan negatif tetapi tidak berpengaruh signifikan (sign > 0,05).
Tabel 4 menunjukkan bahwa teknik pengendalian hama dan persentase serangan berkorelasi sedang dan menunjukkan hubungan timbal balik. Teknik pengendalian hama yang semakin baik akan menurunkan tingkat persentase serangan. Pada Lampiran 4 dapat dilihat bahwa 60% petani tidak melakukan pengendalian terhadap hama PBKo, 30% melakukan pengendalian secara kultur teknis dan 10 % menerapkan PHT. Tingginya jumlah petani yang tidak melakukan tindakan pengendalian terhadap hama PBKo menyebabkan populasi hama semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kumbang betina bertelur dalam jumlah banyak seperti yang dikatakan oleh Vijayalakshmi et al (2013) kumbang betina dapat bertelur sebanyak 20-60 butir. Selain itu sayap kumbang betina lebih panjang dari kumbang jantan sehingga dapat berpindah dari satu buah ke buah lain untuk bertelur. Arief et al. ( 2011) menyatakan bahwa apabila hama ini tidak dikendalikan dapat menurunkan mutu kopi dan penurunan produksi hingga 20 – 30% bahkan gagal panen.
Berdasarkan hasil wawancara ( Lampiran 4) diketahui bahwa sebanyak 10% dari total petani menerapkan pengendalian hama secara terpadu, 30 % lainnya melakukan pengendalian secara kultur teknis. Pengendalian ini tidak berpengaruh nyata untuk menurunkan persentase serangan, hal ini dapat dilihat
dari rata-rata tingkat serangan hama di Kabupaten Simalungun mencapai 60,50%.
Marpaung (2014) menyatakan bahwa teknik pengendalian hama yang tidak seragam dapat menyebabkan perpindahan hama dari satu kebun ke kebun yang lainnya. Hal ini karena pengendalian tidak dilakukan secara serentak dan berkesinambungan. Oleh karena itu daerah yang tidak dikendalikan akan menjadi sumber penularan hama pada periode berikutnya. Ernawati dan Endang (2014) menambahkan bahwa ketersediaan buah yang terus menerus memungkinkan perkembangan PBKo secara berkesinambungan dari generasi ke generasi.
Korelasi Sanitasi dengan Persentase Serangan
Pada Tabel 4 diketahui bahwa sanitasi dan persentase serangan memiliki korelasi yang bersifat sedang dan menunjukkan hubungan timbal balik, artinya tinggi rendahnya persentase serangan hama PBKo dipengaruhi oleh tindakan sanitasi walaupun tidak berpengaruh secara signifikan (sign >0,05). Hasil wawancara dengan petani menunjukkan bahwa hanya 10 % petani melakukan sanitasi secara rutin sedangkan 90% lainnya tidak melakukan sanitasi secara rutin.
Tingginya jumlah petani yang tidak melakukan sanitasi secara rutin ini dapat menciptakan kondisi faktor abiotik yang sesuai untuk perkembangan hama seperti kelembaban yang tinggi karena jumlah vegetasi bertambah yang berasal dari tumbuhan liar. Selain itu beberapa gulma dapat menjadi tanaman inang hama PBKo, apabila tidak dikendalikan maka dapat menjadi faktor pendukung perkembangan hama. Menurut Ernawati dan Endang (2014) tanaman inang bagi hama PBKO diantaranya adalah Tephrosia sp., Centrosema sp., Oxicanthus sp.
Arief et al (2010) mengatakan bahwa sanitasi berfungsi untuk mengurangi
kelembaban, mengurangi serangan hama dan penyakit serta memudahkan perawatan tanaman.
Sebanyak 30% dari petani beranggapan bahwa tindakan sanitasi terutama pada buah yang terserang PBKo tidak berpengaruh nyata dalam mengurangi jumlah populasi PBKo sedangkan 60% petani lainnya tidak mengetahui pengaruh sanitasi kebun terhadap perkembangan PBKo. Sementara hasil penelitian Laila et al ( 2011) menunjukkan bahwa sanitasi buah terserang dipohon dan ditanah dapat mengurangi sumber infeksi hama sehingga dapat mengurangi populasi serangga.
Sinaga (2015) menambahkan bahwa dalam buah tua dan kering yang tertinggal setelah panen, dapat ditemukan lebih dari 100 H. hampei Ferr. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menyebar ke seluruh kebun.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani diketahui bahwa 20% petani lainnya melakukan pemangkasan secara rutin sedangkan 80 % petani melakukan pemangkasan tetapi tidak rutin. Tingginya jumlah petani yang melakukan pemangkasan tetapi tidak rutin menjadi salah satu faktor penyebab tingginya serangan hama (dapat dilihat pada Tabel 3). Prastowo et al (2010) menyatakan bahwa pemangkasan bertujuan untuk mengurangi sumber infeksi hama melalui pemangkasan cabang yang terserang hama. Laila et al ( 2011) menambahkan bahwa tindakan pemangkasan wiwilan dan cabang sakit akan mengurangi kondisi pertanaman yang terlalu gelap karena ada cabang tumpang tindih.
Pemangkasan cabang tersebut menciptakan suasana kebun yang tidak sesuai untuk perkembangan hama PBKo.