Bobot Segar Tajuk Mucuna bracteata (kg)
Dari data pengamatan bobot segar tajuk pada Lampiran 3 dan sidik ragam pada Lampiran 4 terlihat bahwa pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap bobot segar tajuk Mucuna bracteata. Data rataan bobot segar tajuk dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bobot segar tajuk Mucuna bracteata (kg) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan Bobot
Segar
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 1,91
Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 1,83 Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 1,86 B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 1,59
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan tertinggi bobot segar tajuk Mucuna bracteata terdapat pada perlakuan K (1,91 kg) dan terendah pada perlakuan B (1,59 kg). Mikroorganisme yang terkandung di dalam pupuk hayati tidak banyak berperan dalam peningkatan status air tanaman, walaupun jenis mikroorganisme tertentu (misalnya mikoriza) mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan.
Bobot Kering Tajuk Mucuna bracteata (kg)
Pengamatan bobot kering tajuk pada Lampiran 5 dan sidik ragam pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering tajuk Mucuna bracteata. Data rataan bobot kering tajuk dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Bobot kering tajuk Mucuna bracteata (kg) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan Bobot
Kering
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 0,71
Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,69
Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,69
B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,52
Rataan tertinggi bobot kering tajuk Mucuna bracteata terdapat pada perlakuan K (0,71 kg) dan terendah pada perlakuan B (0,52 kg). Pemberian N dalam jumlah yang lebih banyak dan status air tanaman yang lebih tinggi menyebabkan pertumbuhan tanaman berjalan dengan baik, sehingga asimilat (bobot kering) yang terbentuk lebih tinggi. Gardner, et al. (1991) menyatakan bahwa definisi pertumbuhan yang paling umum dipakai adalah pertambahan berat kering, berlangsungnya pertumbuhan itu terutama ditentukan oleh air dan N.
Kadar hara N, P dan K Mucuna bracteata (%)
Pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap kadar N dan P Mucuna bracteata dan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar K (data pengamatan kadar hara N, P dan K pada Lampiran 7, 11, 15 dan sidik ragam
pada Lampiran 8, 12, 16). Data rataan kadar N, P dan K dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kadar hara N, P dan K Mucuna bracteata (%) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan Kadar N Kadar P Kadar K
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 4,62 d 0,43 b 2,28 Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 4,74 c 0,44 a 2,58 Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha
+ NPK 337,5 kg/ha
5,02 a 0,40 c 2,38 B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 4,79 b 0,43 b 2,30
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
Kadar N Mucuna bracteata tertinggi akibat pemberian berbagai pupuk hayati terdapat pada perlakuan Rz, kemudian diikuti oleh perlakuan B, Rh, dan K, yakni berturut-turut sebesar 5,02; 4,79; 4,74; 4,62% (Tabel 4.). Kadar P tertinggi pada Rh, diikuti B, K, Rz, yakni berturut-turut sebesar 0,44; 0,43; 0,43; 0,40 % (Tabel 4.). Kadar K tertinggi pada Rh, diikuti Rz, B, K, yakni berturut-turut sebesar 2,58; 2,38; 2,30; 2,28% (Tabel 4.). Pada perlakuan Rz terkandung rhizobium dan mikoriza. Rhizobium merupakan bakteri yang dapat memfiksasi N bebas di udara melalui simbiosis dengan akar tanaman leguminosa sehingga kadar hara N di dalam tanah meningkat, sedangkan mikoriza merupakan asosiasi jamur dengan akar tanaman yang dapat memperluas bidang penyerapan hara oleh akar tanaman, dengan demikian asosiasi rhizobium dengan mikoriza akan meningkatkan penyerapan hara. Hal ini didukung oleh Nurhayati (2009) yang menyatakan bahwa salah satu mikroba penambat N simbiotik yakni Rhizobium sp. Bakteri ini hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (Leguminosae), serta Pujiyanto (2001) yang menyatakan bahwa Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur. Asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur mikoriza tersebut menyebabkan terbentuknya luas serapan yang lebih besar dan lebih mampu memasuki ruang pori yang lebih kecil sehingga meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara.
RhiPhosant nyata meningkatkan kadar hara P Mucuna bracteata, akan tetapi belum memberikan pengaruh yang nyata pada kadar hara K, meskipun demikian telah terjadi peningkatan kadar K akibat pemberian RhiPhosant. Hal ini diduga karena bakteri Aeromonas punctata yang terdapat di dalam RhiPhosant. Bakteri ini berperan melarutkan P dan K di dalam tanah sehingga meningkatkan
ketersediaan P dan K bagi tanaman, akibatnya kadar hara P dan K pada Mucuna bracteata juga ikut meningkat. Hal ini didukung oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (2009c) yang menyatakan bahwa RhiPhosant
mengandung bahan aktif berupa Aeromonas punctata (bakteri pelarut fosfat dan kalium) dengan populasi 108 koloni/g bahan pembawa.
Serapan hara N, P dan K Mucuna bracteata (g/tanaman)
Dari data pengamatan serapan hara N, P dan K pada Lampiran 9, 13, 17 dan sidik ragam pada Lampiran 10, 14, 18 terlihat bahwa pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap serapan N, P dan K Mucuna bracteata. Data rataan serapan N, P dan K dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Serapan hara N, P dan K Mucuna bracteata (g/tanaman) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pemberian berbagai pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap serapan N, P dan K Mucuna bracteata. Rataan
serapan N tertinggi pada Rh (33,78 g/tanaman) dan terendah pada B (24,88 g/tanaman). Rataan serapan P tertinggi pada K (3,07 g/tanaman) dan
terendah pada B (2,27 g/tanaman). Rataan serapan K tertinggi pada Rh (17,05 g/tanaman) dan terendah pada B (12,03 g/tanaman).
Perlakuan Serapan N Serapan P Serapan K K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 32,72 3,07 16,47 Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5
kg/ha 33,78 3,02 17,05
Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus
20kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 33,71 2,82 16,07 B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5
RhiPhosant nyata meningkatkan serapan hara N Mucuna bracteata, namun belum memberikan pengaruh yang nyata pada serapan hara K, meskipun demikian telah terjadi peningkatan serapan hara K akibat pemberian RhiPhosant. Hal ini diduga Bradyrhizobium japonicum yang terdapat di dalam RhiPhosant telah meningkatkan penyerapan hara N oleh Mucuna bracteata, sedangkan adanya Aeromonas punctata pada RhiPhosant diduga telah menjadikan K dalam bentuk
yang tersedia bagi tanaman sehingga meningkatkan serapan hara K pada Mucuna bracteata.
Serapan hara P terendah terdapat pada perlakuan B, yakni hanya sebesar 2,27 g/tanaman (Tabel 5). Hal ini diduga karena Bioteks tidak mengandung bahan aktif berupa bakteri pelarut P sehingga ketersediaan P bagi tanaman menjadi rendah, akibatnya serapan hara P pada Mucuna bracteata juga rendah.
Kadar klorofil Mucuna bracteata(mg/g jaringan)
Berdasarkan data pengamatan kadar klorofil Mucuna bracteata pada Lampiran 19 dan sidik ragam pada Lampiran 20 terlihat bahwa pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap kadar klorofil Mucuna bracteata.
Tabel 6. Kadar klorofil Mucuna bracteata(mg/g jaringan) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan Kadar
Klorofil
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 1,09 b
Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,93 b Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 1,16 b B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 1,30 a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
Rataan kadar klorofil tertinggi terdapat pada perlakuan B (1,30 mg/g jaringan) dan terendah pada Rh (0,93 mg/g jaringan). Unsur mikro Fe
dan Mg memiliki peran penting dalam pembentukan klorofil, namun sering terjerap pada partikel tanah sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Bahan organik dan asam humat yang terkandung di dalam Bioteks mampu melepaskan hara yang terjerap tadi sehingga menjadi tersedia bagi tanaman untuk pembentukan klorofil. Hal ini didukung oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (2009) yang menyatakan bahwa Bioteks juga mengandung bahan organik, bahan humat, kascing, fitohormon IAA dan serum.
Analisis Tanah 1. pH tanah
Pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap pH tanah Mucuna bracteata (data pengamatan pH tanah Mucuna bracteata pada Lampiran
21 dan sidik ragam pada Lampiran 22). Data rataan pH tanah Mucuna bracteata dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. pH tanah Mucuna bracteata pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan pH Tanah
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 6,00
Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 6,23 Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 6,06 B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 6,11
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
pH tanah Mucuna bracteata tertinggi terdapat pada perlakuan Rh, diikuti oleh perlakuan B, Rz, K, yakni berturut-turut sebesar 6,23; 6,11; 6,06; 6,00 (Tabel 7.) Kehadiran mikroorganisme tanah yang berasal dari pemberian pupuk hayati cenderung membantu ketersediaan hara tanah tetapi tidak banyak mempengaruhi kemasaman (pH) tanah.
2. Kadar hara tanah (%)
Dari data pengamatan kadar hara tanah pada Lampiran 23, 25, 27 dan sidik ragam pada Lampiran 24, 26, 28 terlihat bahwa pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap kadar P, C dan N tanah. Data hasil uji beda rataan kadar hara tanah dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Kadar hara tanah (%) pada pemberian berbagai pupuk hayati
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa rataan kadar P tertinggi pada Rh (0,05%) dan terendah pada K, Rz dan B (0,03%). Rataan kadar C tertinggi pada Rh (1,81%) dan terendah pada Rz (1,21%). Rataan kadar N tertinggi pada Rh (0,20%) dan terendah pada K, Rz dan B (0,17%). Keberadaan hara di dalam tanah banyak dipengaruhi oleh kehadiran mikroorganime yang terkandung dalam pupuk hayati. Oleh karena itu beberapa hara menjadi tersedia bagi tanaman berkat kehadiran mikroorganisme tersebut. Hal ini didukung oleh Hasibuan (2009) yang menyatakan bahwa pupuk hayati adalah miroorganisme hidup yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk inokulan atau bentuk lain untuk memfasilitasi atau menyediakan hara tertentu bagi tanaman, serta Pracaya (2009) yang menyatakan bahwa tanah pertanian yang baik dan produktif adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik dan jasad hidup (mikro dan makroorganisme tanah)
Perlakuan Kadar P Kadar C Kadar N K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 0,03 b 1,26 c 0,17 b Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,05 a 1,81 a 0,20 a Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha
+ NPK 337,5 kg/ha 0,03 b 1,21 d 0,17 b B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 0,03 b 1,37 b 0,17 b
yang berupa bakteri, cendawan, ganggang, protozoa, amoeba, semut, rayap dan cacing.
Kadar hara N, P dan K kelapa sawit (%)
Data pengamatan kadar N, P dan K kelapa sawit pada Lampiran 29, 31, 33 dan sidik ragam pada Lampiran 30, 32, 34 memperlihatkan bahwa pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap kadar N, P dan K kelapa sawit. Data hasil uji beda rataan kadar hara kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Kadar N, P dan K (%) kelapa sawit pada pemberian berbagai pupuk hayati
Perlakuan Kadar N Kadar P Kadar K
K = Kontrol (NPK 675 kg/ha) 2,78 0,33 1,43
Rh = RhiPhosant 4 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 2,80 0,34 1,43 Rz = RhiPhosant 4 kg/ha + Miza Plus 20kg/ha
+ NPK 337,5 kg/ha 3,02 0,33 1,51
B = Bioteks 213 kg/ha + NPK 337,5 kg/ha 2,76 0,31 1,32
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
Pemberian berbagai pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap kadar N, P dan K kelapa sawit. Rataan kadar N tertinggi pada Rz (3,02%) dan terendah pada B (2,76%). Rataan kadar P tertinggi pada Rh (0,34%) dan terendah pada B (0,31%). Rataan kadar K tertinggi pada Rz (1,51%) dan terendah pada B (1,32%). Perlakuan pupuk hayati Rhiphosant dan Miza Plus memiliki kemampuan lebih baik dalam peningkatan kadar hara N, P, K kelapa sawit dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk hayati (kontrol). Hal ini tidak terlepas dari kehadiran Bradyrhizobium japonicum dan Aeromonas punctata yang terkandung
dalam RhiPhosant, serta Acaulospora tuberculata (mikoriza arbuskula), Serratia marcescens, dan Pseudomonas sp. yang terkandung dalam Miza Plus
sehingga mampu menyediakan hara N, P , K tanaman. Nurhayati (2009) menyatakan bahwa banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp., Penicillium sp., Zerowilia lipolitika, dan Pseudomonas sp. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Hal ini juga didukung oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (2009c) yang menyatakan bahwa RhiPhosant mengandung Bradyrhizobium japonicum yang mampu menambat N bebas di udara dan Aeromonas punctata yang mampu melarutkan fosfat dan kalium. Madjid (2009) menyatakan bahwa Miza Plus mengandung Acaulospora tuberculata (mikoriza arbuskula) dan Serratia marcescens (pelarut fosfat) yang secara aktif menyediakan hara tanaman serta membantu meningkatkan status hara tanaman.