• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pertumbuhan Tanaman Padi terhadap Pemupukan

Hasil pengamatan respon pertumbuhan tanaman padi untuk tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah anakan umur 2-8 minggu setelah tanam (MST) tidak berbeda nyata antar semua perlakuan pupuk hayati terhadap kontrol (Lampiran 4). Hasil yang tidak berbeda nyata juga ditunjukkan bila dilakukan analisis hanya pada pemberian pupuk hayati pada media tanam yang dipupuk anorganik NPK 100% (H0K1, H1K1, H2K1 dan H3K1) (Gambar 2 dan Gambar 3). Hasil ini didukung hasil analisis kandungan unsur N, P dan K serta mikroba (Azotobacter

dan Pseudomonas) pada media tanam tanaman padi yang tidak berbeda nyata

antara sebelum dan setelah pertanaman, khsusnya pada unsur N (Lampiran 3).

Gambar 2 Kurva pertumbuhan padi pada umur 2-8 mst. (A) tinggi tanaman; (B) jumlah daun; (C) jumlah anakan. (H0K1) kompos tanpa PGPR + NPK 100%, (H1K1) PGPR + NPK 100%, (H2K1) endofit + NPK 100% dan (H3K1) PGPR + endofit + NPK 100%. 0 20 40 60 80 2 3 4 5 6 7 8 T in ggi t an am an ( cm ) Umur (mst) 0 50 100 2 3 4 5 6 7 8 Jum la h da un ( h el a i) Umur (mst) 0 10 20 30 2 3 4 5 6 7 8 Jum la h a n aka n (i n di vi du) Umur (mst) H0K1 H1K1 H2K1 H3K1 (A) (B) (C)

Gambar 3 Respon morfologis tanaman padi terhadap pemupukan pada umur 8 mst. (A) NPK 100% tanpa PGPR; (B) Cendawan endofit + NPK 100%; (C) PGPR + NPK 100%; dan (D) PGPR + Cendawan endofit + NPK 100%.

Perbandingan antara tanaman yang dipupuk NPK berbeda (100%, 75% dan 50%) pada pupuk hayati PGPR + cendawan endofit maupun pada pupuk hayati PGPR saja menunjukan perbedaan yang tidak nyata pada semua komponen pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah anakan (Lampiran 5). Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk NPK 50% dengan ditambahkan pupuk hayati PGPR + cendawan endofit ataupun pupuk hayati PGPR saja memiliki pengaruh yang sama dengan tanaman yang dipupuk dengan NPK 75% dan NPK 100%.

Perbandingan antara tanaman yang dipupuk NPK berbeda (100%, 75% dan 50%) dengan ditambahkan pupuk hayati cendawan endofit saja menunjukkan adanya perbedaan yang nyata lebih rendah pada komponen pertumbuhan. Perbedaan yang nyata lebih rendah untuk komponen tinggi tanaman terjadi pada umur 2 mst, 6 mst dan 7 mst. Komponen jumlah daun berbeda nyata lebih rendah terjadi pada umur 6 mst, 7 mst dan 8 mst, sedangkan komponen jumlah anakan perbedaan yang nyata lebih rendah terjadi pada pengamatan umur 5 mst, 6 mst, 7 mst dan 8 mst (Lampiran 6). Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk hayati cendawan endofit dikombinasikan dengan pupuk NPK dosis 75% dan 100% masih berpengaruh lebih baik dibandingkan dengan pupuk NPK 50%.

(A) (B) (C) (D)

Respon Produksi Tanaman Padi terhadap Pemupukan

Penambahan pupuk hayati pada media dengan NPK 100% (H1K1, H2K1 dan H3K1) selain tidak berbeda nyata terhadap kontrol (H0K1) untuk respon pertumbuhan, juga untuk komponen produksi (Tabel 1). Hal ini terkait dengan hasil analisis unsur N, P dan K pada media tanaman (Lampiran 3) dan serapan jaringan tanaman (Lampiran 7) yang juga menunjukan tidak berbeda nyata antar perlakuan H0K1, H1K1, H2K1 dan H3K1. Serapan N dan P antara perlakuan pada tanaman padi tidak berbeda nyata diduga karena aktivitas mikroorganisme yang kurang efektif pada media tanaman padi sawah yang berada pada kondisi anaerob karena tergenang. Puspitasari et al. (2012) menyebutkan bahwa PGPR

(Azospirillum, Azotobacter, Rhizobium dan Pseudomonas) termasuk kelompok

bakteri aerob, demikian halnya dengan cendawan endofit Aspergilus niger adalah cendawan aerob obligat hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang mengandung oksigen.

Penambahan pupuk hayati pada media dengan NPK 75% menunjukan kombinasi PGPR dengan cendawan endofit (H3K2) memiliki pengaruh yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan PGPR maupun endofit saja untuk komponen jumlah gabah isi walaupun tidak berbeda nyata (Tabel 1). Hal ini berarti bahwa penggunaan PGPR dikombinasikan cendawan endofit bersifat sinergis.

Hasil uji Kontras Orthogonal pada komponen produksi tanaman padi sawah menunjukan perbandingan antara pemberian pupuk NPK 50% dengan 100% dan 75% yang dikombinasikan dengan PGPR saja maupun cendawan endofit saja memberikan respon yang menurun nyata pada bobot gabah total (Lampiran 8). Bila PGPR dikombinasikan dengan cendawan endofit ternyata tidak terjadi perbedaan yang nyata untuk komponen bobot gabah total antara pemberian dosis NPK 50% terhadap NPK 100% dan 75%. Hal ini berarti bahwa pemberian pupuk NPK 50% sudah cukup baik untuk meningkatkan pertumbuhan generatif tanaman. Terjadinya penurunan pada pemberian NPK 50% terhadap NPK 100% dan 75% yang dikombinasikan dengan cendawan endofit atau PGPR saja menunjukan bahwa pemberian pupuk hayati ini tidak dapat mendukung pertumbuhan generatif tanaman, jika dilakukan pengurangan pupuk NPK. Kombinasi PGPR + cendawan

Tabel 1. Pengaruh berbagai perlakuan pemupukan pada komponen pertumbuhan, biomassa dan produksi tanaman padi sawah.

Perlakuan

Komponen pertumbuhan dan biomassa Komponen produksi

Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun (helai) Jumlah anakan (anak) Bobot kering akar (g) Berat kering tajuk (g) Panjang malai (cm) Jumlah malai (malai) Bobot gabah isi (g) Bobot per 100 butir (g) Jumlah gabah isi (biji) Jumlah gabah hampa (biji) H0K1 69.2 73.4 abc 18.8 abcd 12.1 27.1 ab 21.5 14.4 abc 8.9 ab 2.5 1260 abcd 82 H1K1 68.8 63.0 c 17.4 cd 12.7 18.9 b 21.1 12.0 bc 7.1 b 2.2 952 bcd 57 H1K2 68.3 66.2 bc 17.6 cd 8.8 18.1 b 20.3 11.6 c 6.2 b 2.5 856 cd 60 H1K3 64.2 66.6 bc 16.4 d 17.4 17.7 b 19.6 11.2 c 6.0 b 2.6 646 d 64 H2K1 69.1 84.6 ab 22.2 abc 21.9 32.2 ab 21.7 14.8 abc 9.3 ab 2.5 1357 abc 81 H2K2 70.4 91.2 a 23.8 a 17.6 42.1 a 21.4 14.8 abc 13.8 a 2.5 1107 abcd 100 H2K3 70.3 74.2 abc 18.4 bcd 13.4 22.6 b 21.2 16.4 ab 9.9 a 2.4 1431 abc 88 H3K1 70.2 68.2 bc 20.6 abcd 12.2 21.9 b 21.5 18.0 a 13.4 a 2.4 1597 ab 116 H3K2 72.6 91.2 a 23.4 ab 12.3 28.7 a 21.9 17.2 a 13.9 a 2.5 1681 a 89 H3K3 70.0 73.2 abc 19.0 abcd 17.5 22.5 b 21.5 14.4 abc 11.3 ab 2.6 1255 abcd 83

H0K1 (NPK 100% tanpa PGPR) sebagai kontrol, H1K1 (PGPR + NPK 100%), H1K2 (PGPR + NPK 75%), H1K3 (PGPR + NPK 50%), H2K1 (Cendawan endofit + NPK 100%), H2K2 (Cendawan endofit + NPK 75%), H2K3 (cendawan endofit + NPK 50%), H3K1 (PGPR + cendawan endofit + NPK 100%), H3K2 (PGPR+ cendawan endofit + NPK 75%), H3K3 (PGPR + cendawan endofit + NPK 50%). Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%.

endofit lebih baik daripada PGPR saja maupun cendawan endofit saja dalam upaya mereduksi NPK.

Respon Pertumbuhan Tanaman Jagung terhadap Pemupukan Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa pemberian pupuk hayati pada tanah PMK berpengaruh nyata dapat meningkatkan komponen pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan lingkar batang tanaman jagung (Tabel 2 dan Lampiran 9). Hasil Uji Kontras Orthogonal pada pertumbuhan tanaman jagung antara tanaman yang diberi kompos tanpa dipupuk hayati dengan tanaman yang dipupuk hayati pada NPK 100% dosis rekomendasi menunjukan pengaruh yang nyata pada komponen pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun pada sebagian waktu pengamatan (Lampiran 10). Pengaruh positif pemberian pupuk hayati pada tanaman jagung ini diduga terkait dengan kondisi aerob pada media tanaman jagung. Menurut Puspitasari et al. (2012), PGPR (Azospirillum,

Azotobacter, Rhizobium dan Pseudomonas) dalam pertumbuhannya memerlukan

oksigen. Demikian halnya dengan cendawan endofit (Aspergilus niger) dan CMA

(Glomus manihotis) termasuk cendawan aerob sehingga akan dapat tumbuh baik

pada lingkungan yang cukup oksigen. Pengaruh positif pemberian pupuk hayati masih mampu meningkatkan lagi komponen pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun secara nyata meskipun sudah diberi pupuk NPK 100% ditambah kompos tanpa PGPR. Pengaruh kombinasi PGPR + cendawan endofit + CMA pada dosis NPK 100%, 75% dan 50% pada komponen pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun jagung disajikan pada gambar 4.

Perbandingan antara tanaman yang dipupuk NPK berbeda pada pemberian pupuk hayati PGPR saja menunjukan perbedaan yang tidak nyata pada komponen jumlah daun dan tinggi tanaman (Lampiran 11). Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk NPK 50% dengan PGPR memberi pengaruh yang sama dengan NPK dosis 75% dan 100% pada komponen tinggi tanaman dan jumlah daun. Hal yang sama juga terjadi pada tanaman yang dipupuk NPK berbeda pada pupuk hayati PGPR + cendawan endofit + CMA maupun pupuk hayati PGPR + cendawan endofit menunjukan perbedaan yang tidak nyata untuk semua waktu pengamatan pada komponen tinggi tanaman. Hasil ini menunjukan bahwa aplikasi

Tabel 2 Pengaruh berbagai perlakuan pemupukan pada komponen pertumbuhan dan biomassa tanaman jagung

Perlakuan

Komponen pertumbuhan dan biomassa Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun (helai) Lingkar batang (cm) Bobot kering akar (g) Bobot kering tajuk (g) H0K1 122.6 c 12.0 bc 1.1 c 12.0 bc 52.7 b H1K1 158.4 abc 11.0 cd 1.7 abc 11.0 cd 98.4 ab H1K2 147.8 bc 11.2 cd 1.5 abc 11.2 cd 82.1 b H1K3 146.8 bc 10.0 cd 1.4 abc 10.0 d 92.1 ab H2K1 160.4 abc 11.0 cd 1.7 abc 11.0 cd 70.9 b H2K2 148.6 bc 10.6 cd 1.3 bc 10.6 cd 54.0 b H2K3 124.0 c 10.4 cd 1.2 bc 10.4 cd 56.3 b H3K1 148.6 bc 13.2 ab 1.7 abc 13.2 ab 104.6 ab H3K2 192.6 ab 13.8 a 2.0 a 13.8 ab 103.9 ab H3K3 199.6 a 14.0 a 1.8 ab 14.0 a 165.8 a H4K1 188.8 ab 13.8 a 1.8 ab 13. 8 ab 95.5 ab H4K2 185.8 ab 13.4 ab 1.8 ab 13.4 ab 121.4 ab H4K3 177.6 ab 13.0 ab 1.8 ab 13.0 ab 104.3 ab H0K1 (NPK 100% tanpa PGPR) sebagai kontrol, H1K1 (PGPR + NPK 100%), H1K2 (PGPR + NPK 75%), H1K3 (PGPR + NPK 50%), H2K1 (PGPR + cendawan endofit + NPK 100%), H2K2 (PGPR + cendawan endofit + NPK 75%), H2K3 (PGPR + cendawan endofit + NPK 50%) , H3K1 (PGPR + CMA + NPK 100%), H3K2 (PGPR + CMA + NPK 75%), H3K3 (PGPR + CMA + NPK 50%), H4K1 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 100%), H4K2 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 75%), H4K3 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 50%). Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan.

Gambar 4 Respon morfologis tanaman jagung terhadap pemupukan pada 4 mst. (A) kompos tanpa PGPR + NPK 100%; (B) PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 100%, (C) PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 75%, (D) PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 50%.

(D) (C)

(B)

1 : 20cm

pupuk NPK 50% yang dikombinasikan PGPR + cendawan endofit + CMA maupun PGPR + cendawan endofit telah mampu memberi pengaruh yang sama dengan pupuk NPK dosis 75% maupun 100% yang dikombinasikan pupuk hayati tersebut baik untuk komponen tinggi tanaman maupun jumlah daun.

Hasil ini menggambarkan bahwa aplikasi pupuk hayati pada media tanah PMK selain berpengaruh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada NPK 100% juga dapat bermanfaat untuk menurunkan penggunaan pupuk NPK sampai 50% dengan tanpa terjadi penurunan pertumbuhan tanaman.

Perbandingan antara tanaman yang dipupuk NPK berbeda pada PGPR + mikoriza menunjukan perbedaan yang nyata lebih tinggi untuk sebagian waktu pengamatan baik pada komponen tinggi tanaman maupun jumlah daun. Komponen tinggi tanaman memiliki perbedaan yang nyata pada umur 4 mst, 6 mst, 7 mst dan 8 mst. Jumlah daun memiliki perbedaan yang nyata lebih tinggi pada umur 3 mst, 5 mst dan 8 mst (Lampiran 10). Hal ini menujukan bahwa pemberian NPK 50% dengan PGPR + mikoriza memiliki pengaruh yang nyata lebih tinggi untuk komponen tinggi tanaman dan jumlah daun dibandingkan dengan pupuk NPK dengan dosis 75% dan 100%.

Respon Produksi Tanaman Jagung terhadap Pemupukan

Penambahan pupuk hayati pada kombinasi tertentu berpengaruh baik pada semua komponen produksi yang mencakup panjang tongkol, diameter tongkol, bobot per 100 biji dan bobot pipilan per tongkol (Tabel 3). Perlakuan PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 50% (H4K3) dan PGPR + CMA + NPK 75% (H3K2) berbeda nyata pada komponen panjang tongkol terhadap kontrol. Pupuk hayati PGPR ditambah endofit dan atau CMA dengan NPK 100% (H2K1, H3K1, H4K1), PGPR + cendawan endofit + NPK 50% (H2K3) dan PGPR + CMA + NPK 75% (H3K2) berbeda nyata pada komponen diameter tongkol terhadap kontrol. Perlakuan PGPR + cendawan endofit + NPK 100% (H2K1) dan PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 75% (H4K2) berbeda nyata pada komponen bobot per 100 biji terhadap kontrol. Perlakuan PGPR + cendawan endofit + NPK 50%, PGPR + CMA dengan NPK 75% dan PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 100% berbeda nyata dengan kontrol pada bobot pipilan per tongkol.

Tabel 3 Pengaruh berbagai perlakuan pemupukan pada komponen produksi tanaman jagung Perlakuan Komponen produksi Panjang tongkol (cm) Diameter tongkol (cm) Bobot per 100 biji (g) Bobot pipilan per tongkol (g) H0K1 9.0 b 3.0 c 11.1 b 24.5 b H1K1 8.5 b 3.8 c 13.2 ab 28.9 b H1K2 13.0 ab 3.3 bc 10.4 ab 28.6 b H1K3 14.0 ab 3.7 bc 11.7 ab 26.0 b H2K1 15.0 ab 4.3 ab 19.7 a 39.8 ab H2K2 13.3 ab 3.8 bc 15.6 ab 33.8 ab H2K3 14.0 ab 4.9 a 17.2 ab 64.0 a H3K1 12.4 ab 4.2 ab 19.2 ab 50.8 ab H3K2 15.5 a 4.3 ab 14.3 ab 61.8 a H3K3 14.8 ab 4.1 abc 17.3 ab 37.2 ab H4K1 11.4 ab 4.3 ab 13.9 ab 63.9 a H4K2 14.2 ab 3.9 abc 20.6 a 55.5 ab H4K3 16.1 a 3.9 abc 15.7 ab 51.1 ab

H0K1 (NPK 100% tanpa PGPR) sebagai kontrol, H1K1 (PGPR + NPK 100%), H1K2 (PGPR + NPK 75%), H1K3 (PGPR + NPK 50%), H2K1 (PGPR + cendawan endofit + NPK 100%), H2K2 (PGPR + cendawan endofit + NPK 75%), H2K3 (PGPR + cendawan endofit + NPK 50%) , H3K1 (PGPR + CMA + NPK 100%), H3K2 (PGPR + CMA + NPK 75%), H3K3 (PGPR + CMA + NPK 50%), H4K1 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 100%), H4K2 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 75%), H4K3 (PGPR+ cendawan endofit + CMA + NPK 50%). Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan.

Perlakuan pupuk hayati berpengaruh positif pada komponen bobot pipilan per tongkol pada perlakuan PGPR + cendawan endofit + NPK 50%, PGPR + CMA + NPK 75% dan PGPR + cendawan endofit + CMA + NPK 100% berbeda nyata terhadap kontrol. Hal ini diduga terkait dengan unsur K dan kandungan PGPR dan CMA yang terdapat dalam media tanam tanaman jagung (Lampiran 3). Hasil analisis media menunjukan bahwa perlakuan H4K1 memiliki kandungan K lebih tinggi dibandingkan kontrol H0K1. Kalium merupakan unsur berperan penting dalam peningkatan kandungan hidrat arang dalam tumbuhan dan translokasi gula, selain itu berperan dalam pengisian biji dan meningkatkan produksi (Tisdale & Nelson 1975).

Kandungan bakteri Pseudomonas (PGPR) dan CMA pada media setelah tanam terjadi peningkatan dibandingkan sebelum pertanaman (Lampiran 3).

melarutkan P dan K, serta mampu menghasilkan zat pengatur tumbuh berupa IAA (Ashrafuzzaman et al. 2009; Han & lee 2005). Cendawan endofit dan CMA berfungsi dalam perbaikan penyerapan hara khususnya unsur P dan K bagi tanaman dan perbaikan struktur tanah (Zareen et al. 2001; Saeed & Bhatti 2002; Calvet et al. 2004; Wu & Xia 2006; Bedini et al. 2009; Lioussanne et al. 2010). Hal ini sesuai dengan penelitian Bashri (2011), bahwa pertanaman tanaman jarak yang diberi perlakuan PGPR yang dikombinasikan dengan CMA pada media tanah PMK bekas penambangan emas mampu meningkatkan serapan hara P dan K. Setiyowati (2011) juga mengungkapkan bahwa penambahan PGPR pada media tanam dapat meningkatkan serapan N, P dan K pada tanaman jagung. Fenomena ini memperkuat dugaan bahwa kombinasi antara PGPR dan CMA serta PGPR, cendawan endofit dan CMA bersinergi meningkatkan beberapa komponen hasil pada tanaman jagung.

Hasil Uji Kontras Orthogonal pada komponen produksi tanaman jagung pada perlakuan PGPR, PGPR + cendawan endofit, PGPR + CMA, dan PGPR + cendawan endofit + CMA pada NPK 100%, NPK 75% dan NPK 50% menunjukan tidak berbeda nyata (Lampiran 12). Hal ini berarti bahwa aplikasi NPK 50% dengan PGPR, PGPR + cendawan endofit, PGPR + CMA maupun dengan PGPR + cendawan endofit + CMA dapat mengurangi NPK sampai 50% untuk menghasilkan komponen produksi yang setara dengan penggunaan pupuk NPK 100% dengan penambah pupuk hayati kombinasi tertentu, sedangkan penambahan pupuk hayati yang berbeda pada dosis NPK 100% menunjukan perbedaan yang nyata pada komponen diameter tongkol terhadap kontrol yang diberi kompos tanpa PGPR. Hal ini menunjukan bahwa penambahan pupuk hayati dengan kombinasi tertentu pada dosis NPK 100% mampu meningkatkan komponen diameter tongkol. Selain itu pemberian PGPR + cendawan endofit + CMA pada NPK yang berbeda (100%, 75% dan 50%) menunjukan perbedaan yang nyata pada komponen bobot pipilan per tongkol terhadap kontrol. Hal ini berarti bahwa pengurangan pupuk NPK sampai 50% dari dosis rekomendasi dengan ditambah pupuk hayati PGPR + cendawan endofit + CMA mampu meningkatkan bobot pipilan per tongkol.

Korelasi Antara Komponen Pertumbuhan dengan Komponen Produksi Tanaman Padi dan Jagung

Hasil analisis korelasi antara komponen pertumbuhan dengan komponen produksi tanaman padi menunjukan bahwa jumlah anakan berkorelasi positif cukup nyata terhadap jumlah malai, bobot gabah total dan jumlah gabah isi (Lampiran 13). Tinggi tanaman berkorelasi positif cukup nyata terhadap jumlah gabah isi dan berkorelasi positif sangat nyata pada panjang malai. Jumlah daun pun berkorelasi positif cukup nyata terhadap jumlah malai dan jumlah gabah isi (Lampiran 13). Hal ini berarti bahwa tanaman padi yang lebih tinggi serta mempunyai jumlah anakan dan jumlah daun yang lebih banyak berpotensi untuk membentuk jumlah malai dan jumlah gabah isi yang banyak. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Mezuan et al. (2002) bahwa bobot gabah total, panjang malai dan jumlah gabah dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif seperti jumlah daun dan jumlah anakan.

Hasil analisis korelasi antara komponen pertumbuhan dengan komponen produksi tanaman jagung menunjukan jumlah daun berkorelasi positif nyata terhadap semua komponen produksi tanaman jagung kecuali pada komponen bobot basah 100 biji dan bobot kering 100 biji menunjukan korelasi positif cukup nyata (Lampiran 14). Hal ini berarti bahwa jumlah daun yang banyak pada tanaman jagung, berpotensi untuk membentuk tongkol lebih panjang dan lebih besar, ukuran biji lebih besar, dan pada akhirnya akan menghasilkan bobot produksi biji jagung lebih tinggi. Jumlah daun tanaman merupakan suatu faktor yang menentukan jumlah energi matahari yang dapat diserap oleh daun dalam proses fotosintesis. Fotosintesis akan mempengaruhi besarnya fotosintat yang dihasilkan tanaman. Fotosintat tersebut sangat menentukan hasil biji karena sebagian fotosintat ditimbun dalam biji (Efendy & Suwardi 2010; Mayadewi 2007). Tinggi tanaman menunjukan tidak berkorelasi nyata terhadap komponen hasil pada tanaman jagung.

Dokumen terkait