Merujuk pada hasil penelitian Zuraidah dan Esy (2015), komoditas unggulan di Desajatiarjo dikelompokkan berdasarkan prioritas pengembangan agribisnisnya menjadi kelompok komoditas unggulan (prioritas I) dan komoditas potensial untuk diunggulkan (prioritas II).
Tabel 1. Potensi Agrowista berdasarkan Momoditas Unggulan Desa Jatiarjo
No Komoditas Unggulan
Prioritas I
Prioritas II
1 Pangan Jagung Ubi kayu, kacang
tanah, kacang merah, ubi jalar
2 Perkebunan Kopi Cengkeh
3 Buah-buahan Nangka Pisang, Alpukat dan
Jambu
4 Peternakan Sapi Kambing dan Ayam
Sumber: Zuraidah dan Esy, 2015
Dari Tabel 1, dapat dikatakan bahwa secara empirik komoditas unggulan Desa Jatiarjo sangat beragam, demikian pula bila dilihat sebarannya, hampir di setiap dusun mempunyai potensi pertanian yang beragam pula, dengan kata lain tidak satu desapun yang mengkhususkan diri pada satu komoditas saja (spesialisasi) dan tidak satu komoditas pun yang terkonsentrasi di suatu desa.
Wisatawan yang datang ke Taman Safari II Desa JatiarjoPrigen Pasuruan merupakan pasar utama bagi objek agrowisata, diharapkan dengan kunjungan wisatawan ke DTW yang ada dapat menarik minat mereka untuk mengunjungi objek agrowisata. Jumlah pengunjung Taman Safari Prigen tiap tahun terus mengalami peningkatan berkisar 10-15 persen per tahun dan di tahun 2015 jumlah pengunjung sebanyak 1.060.000 dan di tahun ini ditargetkan bisa menyentuh 1,2 juta pengunjung.
Dengan melihat potensi beragam komoditas unggulan, objek wisata yang beradadi DesaJatiarjo, serta jumlah wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya, merupakan faktor-faktor utama dalam pengembangan agrowisata.
Peta Rencana Lokasi Wisata
Setelah melakukan FGD pada aparat Desa Jatiarjo, penelitian mendapat penjelasan tentang lokasi pengembangan kawasan wisata.
119
Gambar 1
Peta Rencana Lokasi Wisata Desa Jatiarjo
Zona Agrowisata
Mengikuti konsep zonasi model area tujuan wisata. Zona ini merupakan ruang atraksi utama yang menampilkan objek-objek agrowisata. Zona ini kemudian dibagi lagi menjadi lima sub-zona berdasarkan objek yang ditawarkan. Sub-zona tersebut adalah sub-zona inti, sub-zona tanaman pangan, sub-zona perkebunan kopi,sub-zona tanaman buah, dan sub-zona peternakan.
Gambar 2
Pembagian Sub-Zona Atraksi
Yang dimaksud sub-zona inti adalah ruang atraksi dikembangkan pada lokasi Laboratorium Agribisnis Primatani Desa Jatiarjo dan berfungsi memberi pengenalan terhadap kawasan agrowisata secara keseluruhan (terpadu). Selain itu zona inti Aktivitas yang ada terbatas pada aktivitas pasif seperti menikmati pemandangan dan mengamati objek yang ada. Dari sub-zona inti inilah wisatawan diarahkan untuk mengunjungi zona atraksi yang lain, dimana wisatawan akan dapat melakukan aktivitas agrowisata aktif dan mendapatkan pengalaman yang lebih dengan ikut berpartisipasi pada rangkaian proses produksi dan pengolahanhasil pertanian. Karena letaknya di lokasi Laboratorium Primatani, maka sub-zona inti ini juga merupakan pusat pengenalan teknologi pertanian dalam kawasan.
Sub-zona Pengolahan pangan direncanakan untuk dikembangkan di Dusun Cowek. Dalam sub-zona ini wisatawan diajak untuk mengetahi tahapan proses dan tenologi yang digunakan dalam pengolahan baik tanaman buah, sayuran maupun produk peternakan. Selain itu pada sub-zona ini wisatawan dapat menikmati dan membeli hasil olahan produk pertanian dari keseluruhan kawasan sebagai buah tangan. Pada sub-zona ini terdapat pusat oleh-oleh dan juga restoran yang menyediakan menu dari hasil tanaman dan peternakan dalam kawasan agrowisata.
Sub-zona perkebunan kopi direncanakan untuk dikembangkan di Dusun Tegal Kidul. Pada zona ini aktivitas wisata yang dikembangkan berkaitan dengan agribisnis kopi.
120
Merupakan kegiatan pertanian yang diusahakan oleh masyarakat setempat dimana di dalamnya terdapat kebun tanaman kopi, pembibitan, serta ruang penyambutan dan pelayanan. Wisatawan dapat mengetahui proses pembibitan, pemeliharaan, pemanenan, dan mencicipi hasil sajian dari produk kopi yang ada.
Sub-zona tanaman buah direncanakan untuk dikembangkan di Dusun Cowek dan Tonggowa. Pada zona tanaman buah wisata yang dikembangkan adalah berkaitan dengan agribisnis buah, terutama untuk tanaman buah nangka dan pisang. Untuk itu di dalam zona ini dilakukan pembagian ruang yaitu ruang kebun buah, ruang budidaya, dan ruang pelayanan dan penyambutan. Wisatawan dapat ikut langsung dalam kegiatan budidaya, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, maupun pemanenan. Selain itu hasil dari sub-zona ini juga dapat langsung dinikmati dalam bentuk olahan segar.
Sub-zona peternakan direncanakan untuk dikembangkan di Dusun Tegal Kidul dan Cowek. Sub-zona peternakan dibentuk dengan menyatukan usaha peternakan masyarakat yang tadinya dalam skala rumahan menjadi kandang komunitas. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah pengelolaannya untuk wisata. Objek yang dapat dinikmati oleh wisatawan dintaranya adalah pola beternak dan budidayanya, serta cara pemeliharaan binatang ternak. Selain itu wisatawan juga dapat mengetahui cara pembuatan dan melihat instalasi biogas dan teknologi pendukungnya.
Arah Pengembangan Agrowisata di Desa Jatiarjo
Berdasarkan data komoditas unggulan yang terdapat di DesaJatiarjo, alternatif pola pengembangan agrowisata berdasarkan komoditas adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Agrowisata Berbasis Tanaman Pangan
Walaupun di DesaJatiarjo untuk tanaman jagung tidak dijadikan unggulan di Jawa Timur, tetapi Desa Jatiarjo memiliki jagung manis, yang memiliki ke-khasan.
Budidaya tanaman pangan bagi sebagian masyarakat bukan hanya merupakan suatusistem usaha saja, lebih dari itu budidaya tanaman pangan (terutama jagung) sudah menjadi kultur masyarakat setempat, oleh karena itu dengan setting lokasi yang alami (model perkampungan) akan menawarkan karakteristik spesifik yang berdaya saing dan bernilai jual dalam dimensi pariwisata. Nuansanya akan lebih menarik jika:
a) Disinergikan dengan sajian demplot proses pengembangan tanaman pangan yang dapat dipraktekan secara langsung oleh pengunjung. Termasuk cara pengolahan lahan dengan bajak tradisional bertenaga hewan, pengolahan tradisional dengan alat tradisional. Pengunjung juga dapat membeli pupuk dan pestisida organik yang dikemas menarik dan praktis;
b) Disinergikan dengan kolam pemancingan; c) Disinergikan dengan peternakan;
d) Disinergikan dengan rumah makan, saung keluarga, dan ruang pertemuan formal dan non formal; dan
e) Disinergikan dengan outlet produk-produk olahan dari jagung, serta produk kesenian dan kerajinan tangan DesaJatiarjo.
2. Pengembangan Agrowisata Berbasis Kopi
Desa jatiarjo merupakan penghasil kopi, arabika dan robusta. Pekebunan kopi biasanya dimiliki oleh para petani kecil dengan lahan terbatas dan dikelola secara tradisional. Jikalau perkebunan ini dapat dikembangkan secara modern dan mampu menawarkan kepada para wisatawan untuk mencoba kopi yang ditawarkan di agrowisata perkebunan kopi di Desa Jatiarjo menuju kawasan wisata Taman Safari II.
121
3. Pengembangan Agrowisata Berbasis Tanaman Buah-buahan (Nangka, Pisang, dan Jambu)
Buah Nangka, Pisang, dan jambu ini selain merupakan komoditas unggulan juga merupakan komoditas khas daerah. Komoditas buah-buahan yang potensial sangat banyak jenisnya dan merupakan sebagai bahan penolong bagi pemberi rasa pada makanan lain. Prinsip dan pendekatan yang layak dikedepankan dalam pengembangan agrowisata Nangka, Pisang, dan jambu adalah agribisnis (termasuk agroindustri), prinsip konsentrasi (corporate
and estate farming), prinsip klaster agribisnis dan prinsip kemitraan. Sebagai objek wisata,
daya tarik Nangka, Pisang, dan jambu dapat ditingkatkan dengan adanya fasilitas pendukung, seperti outlet produk olahan ketiga buah tersebut (Nangka, Pisang dan jambu), kebun petik, kebun pembibitan, lahan percontohan atau lahan demplot, pemandu wisata, sarana layanan publik (toilet, tempat ibadah, saung peristirahatan, sarana bermain anak-anak, wartel), warung dan jaminan keamanan.
4. Pengembangan Agrowisata Berbasis Peternakan
Dari hasil analisis komparatif dan kompetitif, maka didapati 3 jenis ternak yang dapat diunggulkan oleh Desa Jatiarjo, yaitu Sapi potong, dombadan Ayam. Bagi pengembangan agrowisata, Sapi yang potensial untuk dijadikan komoditas unggulan adalah sapi potong. Atraksi seni ketangkasan sapi yang diintegrasikan dengan berbagai subsistem agribisnis sapi dan dikemas dalam wujud agrowisata. Secara spasial, lokasi pengembangan agrowisata sapiperlu disinergikan dengan potensi objek wisata alam (ekowisata) yang sudah ada di Desa Jatiarjo.
Potensi Wisata Syariah di Desa Jatiarjo
Perkembangan Industri halal sejak milenium kedua kini tak lagi hanya menjadi konsumsi masyarakat Muslim saja, tetapi sudah menjadi isu global. Banyak negara maju di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, telah mengkonsentrasikan diri pada bidang wisata halal, khususnya produk pangan halal. Hukum halal pada makanan, dalam Islam tidak hanya sekedar doktrin agama, tetapi justru menjamin makanan tersebut sehat dan aman yang secara ilmiah masuk akal (scientifically sound).
Tantangan terbesar dalam pengelolaan wisata syariah adalah bagaimana menciptakan konsep wisata yang terorganisir dan termanajemen dengan baik dari hulu ke hilir. Belajar dari Malayia, disana wisata syariah memiliki ditjennya sendiri di pemerintahan yang dikenal dengan sebutan Islamic Tourism Center. Melalui lembaga ini Malaysia memposisikan diri sebagai leader dalam pengembangan wisata syariah dunia. Sedangkan Thailand yang telah memposisikan diri sebagai ―Kitchen of the World‖. Menangkap peluang industri halal dengan slogan yang berbunyi ―Halal Thailand to Kitchen of The world‖. Hal ini menjadikan Thailand sebagai salah satu pengekspor produk halal didunia. Di jepang punya lembaga bernama Halal Development Foundation Japan (HDFJ).
Di Indonesia kita belum bisa melihat lembaga yang secara khusus, mengembangkan konsep wisata syariah, terutama dari sisi promosi dan paket wisata syariah yang jelas. Melihat potensi indonesia diatas terlihat keunggulan komparatif dari sisi destinasi wisata dan budaya menjadi poin utama. Namun kurangnya informasi dan minimnya paket wisata yang menawarkan paket wisata yang komprehensif termasuk tentang maraknya industri halal di Indonesia, menjadi poin minus pengembangan wisata syariah.
Potensi Gaya Hidup Halal di Indonesia
Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif. Yang pertama perspektif agama, yaitu sebagai hukum makanan sehingga konsumen muslim mendapat hak untuk mengonsumsi makanan sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanya
122
perlindungan konsumen. Yang kedua adalah perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennya sebagian besar muslim, maka tentu saja dengan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value. Produk pangan yang kemasannya tercantum label halal akan meningkatkan daya tarik bagi konsumen muslim.
Sektor pangan merupakan salah satu bidang yang mendominasi perdagangan bebas. Iklim pangan global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas.Sebuah teori kunci untuk perdagangan yang harus dipahami adalah pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat, dan secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu. Terciptanya kedaulatan pangan dalam negeri akan mnjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global. Produk kita harus mampu bersaing dan dicintai rakyat Indonesia. Agar industri pangan halal di negara kita dapat tumbuh dan berkembang pesat sehingga mampu mengimbangi perdagangan produk halal global, maka perlu kerja keras mendorong bangkitnya industri pangan halal Indonesia, yaitu adanya jaminan produk halal bagi konsumen agar memberikan ketenangan bathin bagi konsumennya. Jaminan produk yang dipasarkan ditandai dengan adanya sertifikat halal untuk produk tersebut.Sertifikasi halal akan membuat produk industri makanan semakin diterima dan semakin dipercaya untuk dikonsumsi masyarakat, sehingga mampu menggerakkan sektor riil dan menumbuhkan perekonomian nasional. Dalam hal ini, sertifikasi halal mempunyai hubungan yang signifikan terhadap daya jual produk pangan.
KESIMPULAN
Desa Jatiarjo Sebagai daerah yang mempunyai potensi yang sangat besar di sektor pertanian, perlu dilakukan penanganan yang lebih serius terhadap kekayaan dan potensi tersebut. Penanganannya perlu diarahkan agar agrowisata menjadi objek wisata yang berwawasan lingkungan serta memperhatikan keunikan dan keunggulan lokal.
Adapun pengembangan Agrowisata yang dapat dikembangkan di Desa Jatairjo adalah: a) Pengembangan Agrowisata berbasis Pengolahan Pangan (Jagung); b) Pengembangan Agrowisata berbasis Kopi; c) Pengembangan Agrowisata berbasis Buah-buahan (Nangka, Pisang, dan Jambu; d) Pengembangan Agrowisata berbasis Peternakan (Sapi, Kambing, dan Ayam).
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, L.J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. remaja Rosdakarya. Nurisyah, S. 2001. Pengembangan Kawasan Wisata Agro (Agrotourism). Bulletin Taman dan
Lanskap Indonesia 2001; 4(2): 20-23.
Pitana, I Gde. 2002. ―Pengembangan Ekowisata di Bali‖. Makalah Disampaikan pada Seminar Ekowisata di Auditorium Universitas Udayana pada tanggal 29 Juni 2002. Sutjipta, I Nyoman. 2001. Agrowisata. Diktat Magister Manajemen Agribisnis. Bali:
Universitas Udayana.
Swarbrooke, John, 1996. Develpoment and Management of Visitor Attractions. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Subowo. 2002. Agrowisata Meningkatkan Pendapatan Petani.
http://database.deptan.go.id/agrowisata. Diakses tanggal 14 Agustus 2016.
Zuriadah dan Esy, 2015. Pengembangan Ekonomi Lokal Berdasarkan Sektor Pertanian dan Komoditas Unggulan Di Desa Jatiarjo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Laporan Penelitian Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
123
Zuraidah, Esy, Dkk. 2015. Tindak Lanjut Pemberdayaan Ekonomi Umat Dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat Melalui Pengolahan Potensi komoditas unggulan dan kearifan lokal Di Desa Jatiarjo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Laporan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
124
PELUANG PERTUMBUHAN, LEVERAGE DAN NILAI PERUSAHAAN