Kondisi Umum Penelitian
Penelitian ini dimulai dari persiapan pembuatan ekstrak, enkapsulasi ekstrak, perlakuan di kandang, pemotongan ternak, penimbangan bagian-bagian karkas dan analisa sampel darah, otot dan lemak. Selama perlakuan, kondisi lingkungan kandang cukup panas yaitu 32.67 – 33.33oC pada siang hari. Pada pagi hari suhu berkisar 24.33-25.67oC dan sore hari 29.33-30.00oC .
Ekstrak ELJ yang diberikan memiliki rasa yang pahit, sehingga mengurangi palatabilitas pakan, maka untuk mengatasinya dilakukan penambahan molases sebanyak satu sendok makan pada saat pencampuran ekstrak ELJ dengan pakan. Penambahan molases ini diberikan pada semua level pemberian ELJ, yaitu: 0, 50 dan 100 mg/kg BB. Namun demikian, ternak masih terlihat kurang suka dengan rasa pakan yang diberi ekstrak ELJ. Hal ini terlihat dari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan pakan yang dicampur ekstrak ELJ. Gambar 4 menunjukkan kondisi kandang dan domba saat pemeliharaan.
Gambar 4 Kondisi kandang dan domba penelitian
Kadar Testosteron Darah
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa rataan kadar testosteron darah domba sebelum dan sesudah pemberian ekstrak ELJ seperti pada Gambar 5. Berdasarkan sidik ragam, terlihat bahwa tidak terdapat interaksi pengaruh pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap kadar testosterone darah domba pada akhir perlakuan. Bila ditinjau dari level
pemberian ekstrak ELJ, kadar testosteron darah domba tidak dipengaruhi oleh perlakuan.
Bila dilihat dari jenis domba yang digunakan, kadar testosteron darah domba juga tidak dipengaruhi oleh jenis domba yang digunakan. DEG memiliki rataan kadar testosteron 34.22 ng/ml dan DET memiliki kadar testosteron darah 27.56 ng/ml pada akhir perlakuan ELJ.
Terdapat pola yang sama antara rataan kadar testosteron darah domba sebelum dan sesudah perlakuan (Gambar 5) walaupun rataan pada akhir perlakuan terlihat lebih tinggi, namun peningkatannya tidak berbeda nyata antara perlakuan 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan.
Gambar 5 Rataan kadar testosteron darah domba sebelum ( ) dan sesudah ( ) perlakuan ekstrak ELJ (ng/ml)
Tidak adanya pengaruh level pemberian ekstrak ELJ dan jenis domba disebabkan (a) dosis ekstrak ELJ yang diberikan tidak masuk secara langsung ke tubuh ternak, tapi masuk secara bertahap sesuai tingkat konsumsi pakan yang dicampur ekstrak ELJ dan (b) variasi testosteron yang tinggi antar individu domba, sehingga sulit menentukan kadar testosteron dengan tepat. Menurut Sanford (1974), sekresi testosteron pada domba terjadi secara acak tiap 2 sampai 4 jam dan sangat bervariasi pada setiap individu. Selain itu (c) dosis pemberian ekstrak ELJ juga masih rendah untuk ternak domba, karena selama ini penelitian ELJ kembanyakan menggunakan hewan percobaan seperti tikus atau mencit, sementara pada penelitian ini menggunakan ternak domba yang merupakan
31.67 24.33 22.67 38.33 30.33 24.00 0 10 20 30 40 0 50 100 T estos ter on (n g /m l)
ruminansia. Sistem pencernaan ruminansia melibatkan interaksi yang dinamis antara pakan, populasi mikroba dan sistem pencernaan (Martens 1993). Protein yang masuk ke dalam rumen akan mengalami proses degradasi oleh mikroba rumen menjadi dipeptida dan asam-asam amino, yang selanjutnya dirombak lagi sehingga menghasilkan amoniak (Tsuda et al. 1991).
Produktivitas Ternak Hidup
Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Berdasarkan analisis peragam dengan bobot awal sebagai faktor koreksi, maka diperoleh rataan PBB domba 66.93 g/ekor/hari. Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa tidak terdapat interaksi dari penggunaan ELJ dengan jenis domba yang digunakan. Bila ditinjau dari level penggunaan ekstrak ELJ ternyata penggunaan ekstrak ELJ tidak memberikan pengaruh terhadap PBB domba.
Berdasarkan faktor jenis domba yang digunakan, ternyata PBB dari DEG tidak berbeda dengan DET, dengan rataan PBB DEG adalah 67.45 g/ekor/hari dan DET adalah 66.41 g/ekor/hari. Tidak adanya pengaruh penggunaan ekstrak ELJ maupun jenis domba yang digunakan, disebabkan rataan konsumsi pakan yang tidak berbeda dari domba pada setiap perlakuan yang diberikan, sehingga rataan bobot domba pada akhir penelitian juga tidak berbeda baik dari level penggunaan ekstrak ELJ maupun dari jenis domba yang digunakan. Selain itu, level pemberian ekstrak ELJ yang belum mampu meningkatkan kadar testosteron darah domba juga menyebabkan tidak terdapatnya perbedaan dalam PBB domba.
Secara umum, rataan PBB harian domba pada penelitian ini adalah 66.93 g/ekor/hari yang dikategorikan sedang, hal ini dikaitkan dengan pendapat Farajallah et al. (2008), bahwa pertumbuhan domba lokal dikategorikan cepat bila pertambahan bobot badan di atas 100 g/hari, pertumbuhan sedang 60 samapai 100 g/hari dan rendah bila pertambahan bobot badannya kurang dari 59 g/hari. Bila dibandingkan hasil penelitian Budiharsana et al. (2005), PBB harian DET dengan pemberian konsentrat 2 dan 3% adalah 68 dan 87 g/ekor/hari, maka PBB harian DET pada penelitian ini lebih rendah. Menurut Tomaszewska et al. (1993) pertumbuhan domba jantan lokal dewasa yang diberikan limbah hasil pertanian berkisar 110-140 g/ekor/hari. Rendahnya PBB harian domba pada penelitian ini disebabkan kondisi ternak yang stres, baik disebabkan penanganan selama
pemeliharaan (penimbangan dan pengambilan darah) maupun kondisi lingkungan kandang dengan suhu yang mencapai 32.90C pada siang hari. Rataan PBB, konsumsi dan konversi pakan domba penelitian disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Rataan pertambahan bobot badan (PBB), konsumsi dan konversi pakan domba dengan penggunaan ekstrak ELJ
Perlakuan
Peubah PBB
(g/ekor/hari)
Konsumsi
(g/ekor/hari) Konversi Pakan
ELJ (mg/kgBB): 0 73.81 1242.41 18.22 50 62.78 1241.32 20.87 100 64.20 1195.66 20.31 Jenis Domba: DEG 67.45 1191.56 19.03 DET 66.41 1261.36 20.57 Pengaruh: ELJ (E) TN TN TN Jenis Domba (D) TN TN TN E x D TN TN TN SEM 22.36 105.48 5.37
Keterangan: DEG = domba ekor gemuk
DEK = domba ekor tipis
SEM = standard error means
TN = tidak berbeda nyata
Konsumsi Pakan
Rataan konsumsi pakan domba selama penelitian ditampilkan pada Tabel 7. Berdasarkan analisis peragam terlihat bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara level pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap tingkat konsumsi pakan. Bila ditinjau dari level ekstrak ELJ, ternyata juga tidak memberikan pengaruh terhadap konsumsi pakan. Rataan konsumsi pakan pada level pemberian dosis ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan berturut-turut adalah 1242.41, 1241.32dan 1195.66 g/ekor/hari.
Bila ditinjau dari jenis domba yang digunakan, rataan konsumsi pakan juga tidak dipengaruhi oleh jenis domba. Rataan konsumsi pakan DEG adalah 1191.56 g/ekor/hari dan konsumsi pakan DET adalah 1261.36 g/ekor/hari. Menurut hasil penelitian Budiarsana et al. (2005) tingkat konsumsi pakan DET dengan penggunaan hijauan jerami fermentasi pada level pemberian konsentrat 1, 2 dan 3% berturut-turut adalah 567, 739 dan 932 g/ekor/hari, maka terlihat bahwa rataan konsumsi pakan hasil penelitian ini lebih tinggi. Hal ini disebabkan bobot domba yang digunakan berbeda, yaitu pada penelitian Budiarsana et al. (2005) menggunakan domba dengan rataan bobot awal 16.20 kg, sementara pada penelitian ini menggunakan domba dengan rataan bobot awal 22.91 kg. Semakin tinggi bobot badan, maka ternak akan membutuhkan jumlah pakan yang banyak pula.
Rataan konsumsi pakan domba pada penelitian ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Lestari et al. (2005), yang mendapatkan konsumsi pakan domba dengan pemberian rumput gajah dan dedak padi berkisar 852.43 – 967.17 g/ekor/hari. Hal ini disebabkan perbedaan jenis pakan yang diberikan. Pada penelitian ini pakan yang diberikan adalah pakan berbentuk pelet dengan kadar air yang rendah (±15%), sedangkan pada penelitian Lestari et al. (2005) menggunakan rumput gajah yang memiliki kadar air di atas 70%, sehingga tingkat konsumsinya juga berbeda.
Konversi Pakan
Rataan total dari konversi pakan domba dengan penggunaan ekstrak ELJ adalah 19.80. Hasil analisis pada Tabel 7 menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi level dosis ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap konversi pakan. Bila dilihat dari level pemberian ekstrak ELJ, ternyata tidak terdapat pengaruh level pemberian ekstrak ELJ terhadap konversi pakan. Rataan konversi pakan domba berdasarkan level pemberian ekstrak ELJ berturut-turut adalah 18.22, 20.87 dan 20.31. Berdasarkan jenis domba yang digunakan konversi pakan juga tidak dipengaruhi oleh jenis domba yang digunakan. Rataan konversi pakan berdasarkan jenis domba adalah 19.03 untuk DEG dan 20.57 untuk DET.
Tidak terdapatnya pengaruh level pemberian ekstrak ELJ terhadap konversi pakan disebabkan pemberian ekstrak ELJ sampai dosis 100 mg/kg bobot badan
belum mampu meningkatkan kadar testosteron domba (Gambar 5). Berdasarkan hasil penelitian Rudiono (2006), pemberian testosterone propionate 0.77 mg/kg bobot hidup dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan pada kambing.
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Budiarsana et al. (2005), konversi pakan DET dengan penggunaan hijauan jerami fermentasi pada level pemberian konsentrat 1 dan 2% berturut-turut adalah 22.68 dan 26.30, bahwa rataan konversi pakan hasil penelitian ini lebih rendah dari hasil penelitian Budiarsana et al. (2005). Hal ini disebabkan perbedaan kualitas pakan dari kedua penelitian ini, yaitu pada penelitian Budiarsana et al. (2005) menggunakan pakan rumput gajah dan dedak padi, dengan kandungan nutrisinya lebih rendah dibandingkan pakan pada penelitian ini yang menggunakan pakan berbentuk pelet dengan protein kasar 17.00% dan energi 12.85 MJ (Tabel 6).
Bobot Potong
Rataan bobot potong domba pada panelitian ini adalah 29.77 kg. berdasarkan analisis peragam (Tabel 8) terlihat bahwa tidak terdapat interaksi antara level pemberian ELJ dengan jenis domba yang digunakan. Bila ditinjau dari level pemberian ekstrak ELJ, bobot potong domba tidak dipengaruhi oleh level pemberian ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan. Hal ini disebabkan penggunaan ekstrak ELJ sampai level 100 mg/kg bobot badan belum mampu meningkatkan testosteron domba (Gambar 5) sehingga tidak memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan menghasilkan bobot potong yang tidak berbeda pula. Testosteron mempunyai pengaruh menstimulasi sintesis protein dan mempromosikan pertumbuhan otot dan tulang serta menurunkan deposisi lemak (Soeparno 2005).
Bila dilihat dari faktor jenis domba yang digunakan, DEG memiliki rataan bobot potong 29.79 kg dan DET 29.75 kg. Berdasarkan analisis peragam (Tabel 8) tidak terdapat perbedaan antara kedua bobot potong DEG dan DET. Hal ini juga berhubungan dengan bobot awal, PBB dan tingkat konsumsi yang juga tidak berbeda dari kedua jenis domba tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian Herman (2001) bahwa rataan bobot potong DEG jantan dewasa mencapai 39.22 kg. Berdasarkan penelitian tersebut maka
bobot potong DEG pada penelitian ini adalah lebih rendah. Hal ini disebabkan domba yang digunakan pada penelitian ini adalah domba jantan muda (1-1.5 tahun), sehingga domba belum mencapai bobot potong yang maksimal.
Produktivitas Karkas Bobot Karkas Panas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot karkas panas domba secara keseluruhan adalah 13.56 kg. Tabel 8 menyajikan rataan bobot potong, bobot karkas panas, persentase karkas dan persentase lemak karkas domba penelitian.
Tabel 8 Rataan bobot potong, bobot karkas panas, persentase karkas dan persentase lemak karkas domba dengan penggunaan ekstrak ELJ
Perlakuan Bobot Peubah
Potong (kg) Karkas Panas (kg) Persentase Karkas Lemak Karkas (%) ELJ (mg/kgBB): 0 30.10 14.29 47.56b 19.54 50 29.79 13.47 45.00ab 22.76 100 29.43 12.92 44.04a 19.10 Jenis Domba: DEG 29.79 14.24b 47.82b 24.96b DET 29.75 12.88a 43.25a 15.97a Pengaruh: ELJ (E) TN TN * TN Jenis Domba (D) TN * * * E x D TN * * TN SEM 2.57 0.88 2.18 5.34
Keterangan: a,b,c atau * pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata
(P<0.05)
DEG = domba ekor gemuk DEK = domba ekor tipis
SEM = standard error means
Berdasarkan analisis peragam bobot karkas panas (Tabel 8) terlihat bahwa terdapat interaksi penggunaan ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap bobot karkas panas domba. Pada Gambar 6 diperlihatkan interaksi pemberian ekstrak ELJ dangan jenis domba yang digunakan terhadap bobot karkas panas.
Gambar 6 Interaksi pemberian ekstrak ELJ (mg/kg BB) dengan jenis domba
berbeda ( DEG dan DET ) terhadap bobot karkas panas (kg)
Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa DEG dan DET memiliki respon yang berbeda terhadap bobot karkas panas sebagai akibat pemberian beberapa level ekstrak ELJ. Penggunaan ekstrak ELJ sampai 50 mg/kgBB tidak memberikan pengaruh terhadap bobot karkas panas DEG. Namun bila level penggunaan ekstrak ELJ ditingkatkan sampai 100 mg/kgBB akan menyebabkan penurunan bobot karkas panas sebesar 14.39%. Hal ini disebabkan terjadinya kecendrungan penurunan konsumsi pakan, PBB dan bobot potong pada penggunaan ekstrak ELJ 100 mg/kgBB sebagai akibat rasa ekstrak ELJ yang pahit.
Rataan bobot karkas panas pada DET tidak berbeda pada level pemberian ekstrak ELJ 0 dan 100 mg/kgBB. Penurunan bobot karkas panas DET justru terjadi pada level pemberian ekstrak 50 mg/kgBB. Hal ini disebabkan kecendrungan penurunan PBB dan bobot potong DET.
Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa rataan bobot karkas panas DET lebih rendah dari DEG pada level pemberian ekstrak ELJ 0 mg/kgBB. Hal ini
14.94 SE 0.51c 15.07 SE 0.51c 12.71 SE 0.54ab 13.63 SE 0.51b 11.88 SE 0.53a 13.13 SE 0.51ab 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 0 50 100 B obot k ar k as pana s (k g )
disebabkan perbedaan faktor genetik dari kedua jenis domba ini. DEG memiliki persentase lemak karkas lebih tinggi dibandingkan DET (Tabel 8).
Bila ditinjau dari level pemberian ekstrak ELJ, ternyata bobot karkas panas domba tidak dipengaruhi oleh level ekstrak ELJ yang diberikan. Rataan bobot karkas panas domba berturut-turut adalah: 14.29, 13.47 dan 12.92 kg untuk level pemberian ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan. Rataan bobot karkas panas yang tidak berbeda pada level pemberian ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan domba disebabkan tidak adanya pengaruh pemberian ekstrak ELJ terhadap kadar testosteron domba. Hormon testosteron berperan dalam peningkatan sintesis protein otot dan menurunkan kandungan lemak tubuh (Soeparno 2005).
Berdasarkan jenis domba yang digunakan, didapatkan bahwa perbedaan jenis domba yang digunakan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap rataan bobot karkas panas domba. Rataan bobot karkas panas DEG (14.24 kg) lebih tinggi dari DET (12.88 kg). Perbedaan rataan bobot karkas panas ini disebabkan karena perbedaan perlemakan dari kedua jenis domba ini, yaitu DEG memiliki perlemakan lebih tinggi dibandingkan dengan DET, seperti ditunjukkan pada Tabel 8, bahwa persentase lemak karkas DEG lebih tinggi dibandingkan DET. Selain itu kondisi tubuh saat pemotongan juga mempengaruhi bobot karkas, walaupun tidak terdapat perbedaan pada bobot potong, tetapi DEG menghasilkan bobot karkas panas yang lebih tinggi dari DET. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat pemotongan DEG memiliki kondisi tubuh yang lebih gemuk dari DET.
Berdasarkan hasil penelitian Herman (2001) bobot karkas panas DEG jantan dewasa adalah 21.38 kg. Bila dibandingkan dengan penelitian ini maka bobot karkas panas DEG pada penelitian ini adalah lebih rendah. Hal ini disebabkan bobot potong pada kedua penelitian ini adalah berbeda. Pada penelitian Herman (2001) DEG dipotong pada bobot 38.29 kg yang merupakan akhir pertumbuhan dewasa, sementara pada penelitian ini DEG dipotong pada bobot 30.06 kg (Tabel 8) dan belum mengalami pertumbuhan yang maksimal karena umur domba yang digunakan adalah 1-1.5 tahun.
Persentase Karkas
Rataan persentase bobot karkas domba pada penelitian ini adalah 45.53%. Berdasarkan analisis peragam terlihat bahwa terdapat interaksi level pemberian
ekstrak ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap persentase karkas domba. Berdasarkan Gambar 7, terlihat bahwa DEG dan DET memiliki respon yang berbeda terhadap persentase karkas sebagai akibat pemberian beberapa level ekstrak ELJ. Penggunaan ekstrak ELJ sampai 50 mg/kgBB tidak memberikan pengaruh terhadap persentase karkas DEG. Namun bila level penggunaan ekstrak ELJ ditingkatkan sampai 100 mg/kgBB akan menyebabkan penurunan bobot karkas panas sebesar 10.95%. Hal ini sejalan dengan penurunan bobot karkas panas. Gambar 7 memperlihatkan interaksi pemberian ektrak ELJ dan jenis domba terhadap persentase karkas domba.
Gambar 7 Interaksi pemberian ekstrak ELJ (mg/kg BB) dengan jenis domba
berbeda ( DEG dan DET ) terhadap persentase karkas
Persentase karkas DET tidak berbeda pada level pemberian eksrak ELJ 0 dan 100 mg/kgBB, namun terjadi penurunan pada level pemberian ekstrak 50 mg/kgBB. Hal ini disebabkan penurunan bobot karkas panas sebagai akibat kecendrungan penurunan PBB dan bobot potong. Berdasarkan Gambar 7 terlihat bahwa rataan persentase karkas DET lebih rendah dari DEG pada level pemberian ekstrak ELJ 0 mg/kgBB. Hal ini disebabkan perbedaan faktor genetik dari kedua jenis domba ini. DEG memiliki persentase lemak karkas lebih tinggi dibandingkan DET (Tabel 8).
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Herman (2001), dimana DEG dewasa memiliki persentase karkas 55.90%, maka persentase karkas pada penelitian ini adalah rendah. Hal ini disebabkan bobot potong yang berbeda pada
49.70SE1.27c 49.50SE1.27c 44.26SE1.33ab 45.42SE1.27b 40.49SE1.32a 43.83SE1.27ab 30 35 40 45 50 55 0 50 100 K ar k as ( % )
kedua penelitian ini. Dengan peningkatan bobot potong dari 10.0-40.0 kg maka persentase karkas DEG meningkat dari 46.25% menjadi 55.49%.
Rataan persentase karkas DET pada penelitian ini adalah 43.25%. Angka ini lebih tinggi dengan yang disampaikan Lestari et al. (2005) bahwa persentase karkas DET yang diberi pakan rumput gajah dan dedak padi adalah 39.04%. Menurut Purbowati et al. (2005) persentase karkas domba lokal yang dipotong pada bobot 17.99 dan 30.1 kg adalah 44.29 dan 48.64%.
Persentase Lemak Karkas
Berdasarkan hasil analisis peragam (Tabel 8), diketahui bahwa tidak terdapat interaksi pengaruh pemberian ekstrak ELJ dan jenis domba terhadap persentase lemak karkas domba. Bila ditinjau dari faktor level ekstrak ELJ yang diberikan, rataan persentase lemak karkas domba juga tidak dipengaruhi oleh faktor ini. Rataan persentase lemak karkas berdasarkan level pemberian ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kgBB berturut-turut adalah 19.54, 22.76 dan 19.10%.
Persentase karkas domba secara nyata (P<0.05) dipengaruhi oleh jenis domba, yaitu DEG memiliki persentase lemak karkas lebih tinggi (24.96%) dibandingkan DET (15.97%). Hal ini disebabkan perbedaan faktor genetik, yaitu DEG memiliki kemampuan untuk deposit lemak yang lebih tinggi dibandingkan DET. Menurut Budiarsana et al. (2005), persentase lemak karkas DET yang dipotong pada bobot 22.5-28.1 kg adalah berkisar 13-15%. Hal yang hampir sama juga disampaikan Lestari et al. (2005), bahwa persentase lemak karkas domba lokal yang dipotong pada bobot 30.1 kg adalah 16.27%. Persentase lemak karkas DEG pada penelitian ini hampir sama dengan yang didapatkan Herman (2001), bahwa persentase lemak karkas DEG yang dipotong pada bobot 32.5 kg adalah 21.85%.
Bila dihubungkan dengan kadar lemak intramuskuler, tidak didapatkan perbedaan antara DEG dengan DET, maka tingginya persentase lemak karkas pada DEG bila dibandingkan DET disebabkan oleh tingginya bobot lemak subkutan dan intermuskularpada DEG. Menurut Aberle et al.(2001), komponen lemak karkas terdiri atas lemak subkutan, intermuskular, internal dan lemak intramuskular.
Bobot Lemak Pelvis, Ginjal dan Jantung (PGJ)
Berdasarkan analisis peragam didapatkan rataan lemak PGJ seperti terlihat pada Tabel 9, dengan rataan total 441.23 g.
Tabel 9 Rataan persentase lemak pelvis ginjal jantung (PGJ), lemak intramuskuler dan kolesterol otot longissimus dorsi (LD) domba dengan penggunaan ekstral ELJ
Perlakuan Peubah Lemak PGJ (g) Lemak Intramuskuler (%) Kolesterol (mg/100g) ELJ (mg/kgBB): 0 382.14 1.81 54.33 50 562.45 1.70 43.07 100 454.83 1.79 44.07 Jenis Domba: DEG 487.90 1.89 47.21 DET 445.05 1.64 47.10 Pengaruh: ELJ (E) TN TN TN Jenis Domba (D) TN TN TN E x D TN TN TN SEM 225.95 1.13 13.34
Keterangan: DEG = domba ekor gemuk
DEK = domba ekor tipis
SEM = standard error means
TN = tidak berbeda nyata
Terlihat bahwa tidak terdapat interaksi antara penggunaan ELJ dan jenis domba terhadap bobot lemak pelvis jantung dan ginjal (PGJ). Bila ditinjau dari level penggunaan ekstrak ELJ, lemak PGJ juga tidak dipengaruhi oleh faktor ini, yaitu terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara rataan lemak PGJ karkas domba dengan penggunaan ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kgBB. Hal ini disebabkan penggunaan ELJ sesuai dosis tersebut belum mampu meningkatan kadar testeroteron dalam tubuh domba. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar tertosteron darah domba (Gambar 5), sehingga
tidak mempengaruhi rataan bobot lemak PGJ. Menurut Rudiono (2006), peningkatan kadar testosteron dalam darah dapat menurunkan bobot lemak pelvis hati dan ginjal.
Tidak terdapatnya perbedaan lemak PGJ pada penelitian ini juga disebabkan domba yang digunakan belum pada fase pertumbuhan lemak yang maksimal disebabkan pada faktor umur yang relatif masih muda. Pertumbuhan lemak akan mencapai maksimal disaat ternak mencapai dewasa. Menurut Soeparno (2005) jaringan tubuh akan mengalami pertumbuhan maksimal berturut-turut adalah saraf, tulang, otot dan lemak.
Berdasarkan hasil penelitian Herman (2001) bobot lemak pelvis, lemak ginjal, persentase lemak pelvis dan persentase lemak ginjal DEG jantan dewasa dipotong pada bobot 38.29 kg berturut-turut adalah 81 g, 422 g, 2.22% dan 11.36%. Sementara pada penelitian ini bobot lemak pelvis, lemak ginjal, persentase lemak pelvis dan persentase lemak ginjal DEG berturut-turut adalah 117.78 g, 350.67 g; 0.80% dan 2.35%. Terlihat bahwa lemak ginjal, persentase lemak pelvis dan lemak ginjal pada penelian ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Herman (2001). Hal ini disebabkan bobot potong pada penelitian ini lebih rendah yaitu 29.77 kg, selain itu domba pada penelitian Herman (2001) dipotong pada pertumbuhan lemak maksimal, sehingga perlemakannya lebih banyak.
Profil Perlemakan Lemak intramuskuler
Berdasarkan hasil analisis peragam (Tabel 9) diketahui bahwa tidak terdapat interaksi pengaruh pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap kadar lemak intramuskuler. Bila ditinjau dari masing-masing faktor perlakuan, baik faktor ekstrak ELJ maupun jenis domba yang digunakan tidak memberikan pengaruh terhadap kadar lemak intramuskuler.
Berdasarkan jenis domba yang digunakan, kadar lemak intramuskuler juga tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis domba. Hal ini sejalan dengan pendapat Salvatori et al. (2003) bahwa faktor bangsa domba tidak mempengaruhi total lemak otot LD, yaitu rataannya berkisar 3.14 - 4.00%.
Lemak intramuskuler merupakan lemak intramuskular, yaitu lemak yang terdapat antara serabut otot. Lemak intramuskuler sangat menentukan score
marbling. Bila dihubungkan dengan score marbling, tidak adanya perbedaan
kadar lemak intramuskuler dari DEG dan DET, juga tergambar dari tidak adanya perbedaan antara score marbling dari kedua bangsa domba ini, yaitu dengan nilai rataan satu.
Kadar Kolesterol
Biosintesis kolesterol diawali dengan kondensasi tiga kelompok asetil yang