• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Pendahuluan

Tahapan dalam penelitian pendahuluan adalah analisis proksimat sampel dan ransum. Tujuan dilakukannya analisis proksimat sebelum perlakuan adalah untuk menentukan komposisi ransum yang diberikan kepada tikus percobaan.

Analisis Proksimat Sampel

Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi pada sampel. Hasil analisis proksimat ketiga sampel disajikan pada Tabel 3. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa kandungan protein, kedelai, abu, serat kasar dan air pada kedelai hampir sama dengan tempe. Perbedaan antara tempe dan kedelai terdapat pada kualitas kandungan zat gizi. Tempe memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kedelai, hal ini disebabkan adanya proses fermentasi yang mengubah komponen karbohidrat, protein dan lemak pada kedelai menjadi lebih sederhana (Nout 2005). Wang et al.

(2003) melaporkan bahwa fermentasi pada kedelai dapat meningkatkan

daya cerna karbohidrat karena adanya enzim α-galaktosidase yang

mendegradasi rafinosa, stakiosa dan beberapa oligosakarida. Tabel 3 Hasil analisis proksimat sampel (basis kering)

Parameter Kasein Tepung tempe Tepung kedelai rebus Kadar protein (%) 89.44 51.73 51.06 Kadar lemak (%) 0.30 25.36 25.26 Kadar abu (%) 0.59 1.80 2.62 Kadar serat kasar (%) 0.52 6.46 7.65 Kadar air (%) 9.88 4.34 5.49

Analisis Proksimat Ransum

Dengan diperolehnya hasil analisis proksimat sampel, kemudian dapat ditentukan formulasi bahan untuk ransum yang akan diberikan kepada tikus percobaan. Formulasi bahan yang digunakan untuk penyusunan ransum masing-masing kelompok tikus dapat dilihat pada Tabel 4. Pada ransum kelompok tikus yang diberi tepung kedelai rebus dan tepung tempe tidak ditambahkan CMC karena tepung tempe dan tepung kedelai rebus sudah mengandung jumlah serat yang cukup untuk kebutuhan harian tikus percobaan. Selanjutnya ketiga jenis ransum tersebut dianalisis untuk melihat homogenitas kandungan zat gizi ransum yang dibuat. Dilakukan analisis proksimat terhadap ransum yang telah diformulasi untuk setiap kelompok tikus. Untuk mengetahui kesesuaian kandungan zat gizi yang diberikan

16

dengan formulasi. Hasil analisis proksimat dari ketiga jenis ransum yang diberikan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 4 Komposisi bahan untuk pembuatan ransum basis 1000 g

Kelompok perlakuan Komponen penyusun (g) Sampel protein Minyak jagung Mineral mix Vitamin

mix CMC Air Pati jagung Kasein 10 % 112 80 49 10 9 39 701 Tepung tempe 10 % 193 31 46 10 - 42 678 Tepung kedelai rebus 10% 196 30 45 10 - 39 680

Hasil analisis proksimat ransum pada Tabel 5 menunjukkan kadar protein untuk setiap kelompok tikus sebesar 10 %. Terlihat pada tabel, ransum tepung kedelai rebus kurang dari 10 % namun tidak terlalu jauh. Hal ini sudah sesuai dengan yang diinginkan yaitu menyiapkan ransum dengan kadar protein yang sama untuk setiap kelompok tikus percobaan. Tabel 5 Hasil analisis proksimat ransum (basis basah)

Parameter Kasein 10 % Tepung tempe 10 % Tepung kedelai rebus 10 % Kadar protein (%) 10.62 10.56 9.38 Kadar lemak (%) 8.76 7.12 7.08 Kadar abu (%) 4.17 3.77 3.89 Kadar air (%) 13.69 13.76 11.98 Kadar karbohidrat (%) 62.76 64.79 67.67 Penelitian Utama

Kenaikan Berat Badan Tikus dan Konsumsi Ransum

Pada masa perlakuan, tikus diberi ransum dan minum setiap hari secara ad libitum dan dilakukan penimbangan berat badan setiap enam hari sekali. Jumlah konsumsi ransum dan kenaikan berat badan ketiga kelompok tikus percobaan selama 90 hari masa perlakuan disajikan pada Tabel 6. Konsumsi ransum setiap kelompok perlakuan berbeda-beda, disebabkan oleh perbedaan berat badan masing-masing tikus.

Tabel 6 menunjukkan jumlah konsumsi ransum terbesar terdapat pada kelompok tikus yang diberi pakan kasein 10 % . Hal ini dapat dikarenakan

kedelai dan tempe memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat mempertahankan glukosa darah stabil serta tikus menjadi tidak mudah lapar. Selain itu juga mengandung serat pangan yang cukup tinggi sehingga membuat lebih cepat kenyang. Semakin besar jumlah konsumsi ransum pada masa perlakuan seharusnya memberikan kenaikan berat badan yang semakin besar pula. Namun hasil yang diperoleh berbeda, terlihat pada Tabel 6 kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 % yang memiliki jumlah konsumsi ransum terbesar tidak mengalami kenaikan berat badan yang paling besar meskipun kadar protein ransum telah dibuat sama.

Tabel 6 Jumlah konsumsi ransum dan kenaikan berat badan selama ` percobaan Parameter selama percobaan Perlakuan Kasein 10 % Tepung tempe 10 % Tepung kedelai rebus 10 % Jumlah konsumsi ransum (g) 1983 ± 109 b 1813 ± 81 a 1797 ± 51 a Kenaikan berat badan (g) 239 ± 26 ab 271 ± 26 b 231 ± 20 a Feed Convertion Efficiency (%) 12.0 ± 1.0 a 15.0 ± 2.0 b 12.9 ± 1.0 a

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (p < 0.05).

Kenaikan berat badan yang tertinggi terdapat pada kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 %, hal ini disebabkan oleh kualitas protein pada tempe lebih baik dibandingkan pada tepung kedelai rebus dan tempe memiliki kualitas protein yang sama dengan kasein. Istilah “Gold

Standar” sering digunakan pada kedelai untuk membandingkan kualitas dari sumber yang berbeda (Cromwell 2013). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Suwarno (2013) mengenai keamanan tempe yang berasal dari kedelai hasil rekayasa genetika, melaporkan bahwa tempe sebagai sumber protein nabati memiliki kualitas protein yang sama baiknya dengan protein hewani (kasein). Terlihat pada Tabel 6 konsumsi tempe dapat meningkatkan berat badan yang lebih besar dibandingkan konsumsi susu (kasein) dan kedelai rebus. Hal ini membuktikan konsumsi tempe dengan kadar protein yang sama dapat meningkatkan berat badan lebih besar dibandingkan dengan mengonsumsi susu (kasein). Semakin tinggi nilai FCE maka semakin tinggi tingkat efisiensi penggunaan ransum demikian sebaliknya. Data Feed Convertion Efficiency (FCE) yang disajikan pada Tabel 6 menunjukkan efisiensi penggunaan ransum tepung tempe 10 % lebih tinggi dibandingkan kasein 10 % dan tepung kedelai rebus 10 %. Dari data FCE yang diperoleh menunjukkan bahwa konsumsi tempe dapat meningkatkan berat badan lebih efisien dibandingkan dengan mengkonsumsi kasein atau kedelai rebus dalam jumlah yang sama. Hal ini dapat mendukung konsumsi tempe sebagai pangan alternatif pengganti susu (kasein) untuk meningkatkan berat badan dengan konsumsi yang lebih efisien.

18

Gambar 1 Pertumbuhan berat badan tikus percobaan

Rasio Berat Organ dengan Berat Badan

Pertumbuhan berat organ berbanding lurus dengan pertumbuhan berat badan tikus. Data pada Tabel 7 menunjukkan berat relatif hati, testis dan ginjal tidak berbeda nyata (p>0.05) antar perlakuan.

Tabel 7 Berat relatif organ terhadap berat badan ketiga kelompok tikus

Kelompok perlakuan Berat relatif hati (%) Berat relatif testis (%) Berat relatif ginjal (%) Kasein 3 ± 0.2 a 0.9 ± 0.1a 0.5 ± 0 a Tepung tempe 10 % 3 ± 0.1 a 0.9 ± 0.1a 0.5 ± 0 a Tepung kedelai rebus 10 % 3 ± 0.2 a 0.9 ± 0.1a 0.5 ± 0.1 a Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p >0.05)

Hal ini disebabkan oleh asupan protein pada ketiga kelompok tikus yang tak berbeda satu sama lain. Protein yang tersusun dari asam amino sebagai unsur pembangun dalam tubuh (Stryer 2000). Analisis sidik ragam (ANOVA) dapat dilihat pada Lampiran 3.

Analisis Serum Darah

Analisis serum darah merupakan paramater yang sensitif untuk mengamati kesehatan tikus dan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada darah dari ketiga perlakuan (Zhu et al 2004). Analisis biokimia serum darah dapat dilihat pada Tabel 8.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 0 6 12 18 24 30 36 42 48 54 60 66 72 78 84 90 B o bo t T ik us ( g )

Perlakuan Hari ke-

Pertumbuhan Berat Badan Tikus

Tabel 8 Profil biokimia serum tikus setelah 90 hari percobaan

Parameter Kelompok perlakuan

Kasein 10 % Tepung tempe 10 % Tepung kedelai rebus 10 % Glukosa darah (mg/dL) Kolesterol (mg/dL) Trigliserida (mg/dL) HDL (mg/dL) LDL (mg/dL) Ureum (mg/dL) Kreatinin (mg/dL) Asam urat (mg/dL) SGOT (U/L) SGPT (U/L) Total Protein (g/dL) Albumin (g/dL) 241± 41.9 a 62.4 ± 8.7 a 55.8 ± 14.6 a 47.4 ± 6.5 a 34.6 ± 3.9 a 31.8 ± 4.9 a 0.8 ± 0.1 a 0.6 ± 0.3 a 101.8 ± 20.9 a 40.6 ± 6.3 a 6.6 ± 0.5 a 3.2 ± 0.3 a 216.2 ± 18.9 a 58.2 ± 7.9 a 51.4 ± 8.6 a 63± 5.7 b 33.6 ± 4.2 a 28.4 ± 3.4 a 0.8 ± 0.1 a 0.4 ± 0.2 a 84.2 ± 12.7 a 46 ± 9.2 ab 6.2 ± 0.2 a 3.2 ± 0.1a 202. 4 ± 11.7 a 57.4 ± 6.6 a 48.4 ± 5.8 a 54.8 ± 4.3 a 34.2 ± 5.8 a 42.6 ± 2.5 b 0.7 ± 0.1 a 0.4 ± 0.2 a 114 ± 39.2 a 55.6 ± 13.9 b 6.2 ± 0.2 a 3.2 ± 0.1 a Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05)

Kandungan karbohidrat yang tidak berbeda jauh (Tabel 5) menjadikan kadar glukosa darah ketiga kelompok tikus tidak berbeda. Carolina (2006) melaporkan konsumsi susu kedelai dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus. Kandungan tempe kedelai yang dapat menurunkan kadar glukosa darah adalah protein, isoflavon, serat dan indeks glikemik yang rendah pada tempe (Muchtadi 2010; Villegas et al. 2008). Hal ini didukung oleh Wijayakusuma (2003) yang menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi kacang kedelai dan olahannya secara intensif, dapat membesar pancreatic island sehingga produk insulin pun akan bertambah. Mengacu pada penelitian tersebut konsumsi tempe dan kedelai rebus baik bagi penderita diabetes mellitus dan dapat meningkatkan produksi insulin.

Terlihat dari hasil analisis proksimat ransum yang disajikan pada Tabel 5 bahwa kadar lemak ketiga jenis ransum tidak berbeda jauh yang mengakibatkan nilai kolesterol, LDL dan trigliserida ketiga kelompok tikus tidak berbeda nyata. Selain itu, kandungan serat yang terdapat pada tepung tempe dan tepung kedelai menjadikan kandungan kolesterol dalam darah tetap stabil. Hal ini didukung oleh Dawson (1999) yang menyatakan keseimbangan diet kolesterol yang terabsorpsi (eksogen) dan sintesis kolesterol (endogen) mempertahankan kolesterol darah dalam keadaan normal. Hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 4.

Hasil analisis kolesterol, LDL dan trigliserida pada Tabel 8 membuktikan bahwa konsumsi tempe dan kedelai rebus merupakan bahan pangan yang tidak meningkatkan kadar kolesterol, LDL dan trigliserida dalam darah. Hasil penelitian sebelumnya melaporkan bahwa kedelai dapat menurunkan kadar kolesterol total, triasilgliserol dan glukosa darah serta berperan sebagai antioksidan yang potensial (Anderson 1995; Lichtenstein 1998; Erdman 2000; Ridges et al. 2001). Hasil analisis HDL pada Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai HDL kelompok tikus tepung tempe 10 % berbeda nyata (p<0.05) lebih besar dibandingkan dengan kadar HDL kelompok tikus lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingginya kadar HDL dalam

20

darah mengurangi terjadinya pengendapan dan pembentukan plak dalam sistem peredaran darah. Berdasarkan hasil analisis HDL yang diperoleh, tempe dapat dijadikan pangan alternatif untuk meningkatkan HDL darah sehingga mengurangi terjadinya pengendapan lemak dalam sistem peredaran darah.

Kadar ureum kelompok tikus tepung kedelai rebus 10 % lebih tinggi dibandingkan kelompok tepung tempe 10 % dan kasein 10 %. Stockham dan Scoot (2008) menjelaskan bahwa kadar ureum yang tinggi di dalam darah mengindikasi adanya gangguan terhadap fungsi hati dan ginjal. Adanya gangguan hati dan ginjal dapat dilihat dari kondisi ginjal dan hati seperti terjadinya pembengkakan. Data pada Tabel 7 menunjukkan tidak adanya perbedaan berat ginjal dan hati pada ketiga kelompok tikus yang mengindikasi terjadinya pembengkakan. Meskipun kadar ureum kelompok tikus kedelai rebus 10 % lebih tinggi daripada kelompok tikus kasein 10 % namun tidak sampai menimbulkan kelainan pada hati dan ginjal.

Tabel 8 menunjukkan nilai SGOT, kreatinin dan asam urat ketiga kelompok tikus tidak berbeda nyata (p>0.05). Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) dapat dilihat pada Lampiran 4. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi tempe dan kedelai rebus tidak meningkatkan nilai asam urat dan ureum dalam darah. Selain itu, tidak menyebabkan risiko terjadinya hipertensi, aterosklerosis dan penyakit jantung koroner karena tingginya kadar asam urat. Berdasarkan penelitian yang sama dengan pemberian kadar tepung tempe 20 % dan kadar tepung kedelai rebus 20 % memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap nilai asam urat dengan menggunakan kasein sebagai standar (Lampiran 4). Hal ini membuktikan tepung tempe dan tepung kedelai rebus yang dikonsumsi dalam jumlah yang lebih besar tidak memberikan dampak yang buruk terhadap kadar asam urat dalam darah.

Kadar SGPT dalam darah untuk ketiga kelompok tikus percobaan disajikan pada Tabel 8. Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan kadar SGPT kelompok tikus yang diberi ransum tepung kedelai rebus 10 % berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan kelompok tikus yang diberi kasein 10 %. Namun tidak berbeda dengan kadar SGPT yang diperoleh dari kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 %. Tingginya kadar SGPT dalam darah menunjukkan kerja fungsi hati yang tinggi pula. Namun kerja fungsi hati yang tinggi pada kelompok tikus yang diberi ransum tepung kedelai rebus 10 % dan tepung tempe 10 % tidak menimbulkan pembengkakan pada hati. Hal ini dapat dibuktikan dengan berat relatif organ yang diperoleh dari ketiga kelompok tikus yang disajikan pada Tabel 7. Terlihat bahwa berat relatif hati pada ketiga kelompok tikus tidak berbeda nyata.

Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai protein total dan albumin ketiga kelompok tikus tidak berbeda nyata. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil analisis nilai protein total dan albumin yang tidak berbeda nyata mendukung penggunaan tempe dan kedelai rebus sebagai pangan alternatif pengganti susu. Dengan pemberian konsumsi tempe dan kedelai rebus dapat membantu kadar total protein dan albumin dalam tubuh kembali normal pada penderita malgizi. Hasil

penelitian Saryono et al (2006) melaporkan bahwa kadar albumin plasma pasien rawat inap cenderung rendah. Tempe dan kedelai dapat digunakan sebagai pangan alternatif bagi pasien rawat inap yang cenderung memiliki kadar albumin yang rendah agar kadar albumin plasma pasien rawat inap kembali normal. Pada penelitian ini, beberapa komponen biokimia serum kelompok tikus yang diberi tepung tempe 10 % dan tepung kedelai rebus 10% yang tidak berbeda nyata dengan kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 % . Hasil yang sejalan juga diperoleh pada penelitian lainnya yang melaporkan bahwa parameter dalam serum darah tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0.05) dengan pemberian ransum kasein dan kedelai non-transgenik. (Qi et al. 2012; Daleprane et al. 2009; Appenzeller

et al. 2008)

Analisis Hematologi

Analisis hematologi merupakan analisis darah yang digunakan untuk mengetahui hemoglobin, jumlah leukosit, hematokrit, eritrosit dan trombosit. Turner et al. (2008) menjelaskan bahwa tujuan analisis hematologi adalah mengamati kelainan hematologi seperti jumlah dan fungsi sel darah, membantu mendiagnosis penyakit infeksi serta mengetahui kelainan sistemik pada ginjal dan hati. Hasil analisis hemoglobin kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 %, tepung tempe 10 % dan tepung kedelai rebus 10 % dapat dilihat pada Tabel 9. Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ketiga jenis ransum tidak berpengaruh nyata (p>0.05) terhadap nilai hemoglobin (Lampiran 4). Hal ini menunjukkan konsumsi tepung tempe dan tepung kedelai memberikan asupan zat besi yang cukup untuk sintesis hemoglobin. Terbukti dengan normalnya nilai hemoglobin pada kedua kelompok tikus yang disajikan pada Tabel 9. Menurut Arrington (1972), nilai normal hemoglobin pada tikus percobaan adalah 12-17.5 g/dL.

Perlakuan pemberian ransum yang berbeda pada ketiga kelompok tikus memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (p>0.05) berdasarkan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil analisis leukosit ketiga kelompok tikus dapat dilihat pada Tabel 9. Nilai leukosit ketiga kelompok tikus yang berada pada kisaran normal menunjukkan konsumsi tepung tempe dan tepung kedelai rebus tidak memberikan kelainan pada leukosit. Nilai normal leukosit pada tikus sebesar 5 -25 mm3 (Arrington 1972). Terlihat pada Tabel 9 nilai trombosit kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 % berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan nilai trombosit yang terdapat pada kelompok tikus yang diberi ransum tepung kedelai rebus 10 %, namun tidak berbeda nyata dibandingkan kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 %. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) dapat dilihat pada Lampiran 4. Tingginya nilai trombosit yang diperoleh pada kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 % dapat mendukung penggunaan tempe sebagai pangan alternatif untuk meningkatkan nilai trombosit pada penderita demam berdarah.

Hasil analisis menunjukkan nilai hematokrit pada kelompok tikus yang diberi ransum tepung kedelai rebus 10 % berbeda nyata (p<0.05) lebih

22

rendah dibandingkan nilai hematokrit kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 %. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa nilai eritrosit kelompok tikus yang diberi kasein 10 % lebih tinggi dibandingkan tepung kedelai rebus 10 % namun tidak berbeda dengan kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 %. Hasil analisis eritrosit disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Nilai hematologi tikus percobaan

Parameter Kelompok Perlakuan Kasein 10 % Tepung tempe 10 % Tepung kedelai rebus 10 % Nilai acuan * Hemoglobin (g/dL) Leukosit (ribu/mm3) Trombosit (ribu/mm3) Hematokrit (%) Eritrosit (juta/mm3) 13.6 ± 0.7 a 7.4 ± 2.8 a 583.2 ± 41.9 ab 35.8 ± 0.3a 8.1 ± 0.5b 13.8 ± 0.3a 7.4 ± 0.5a 606.8 ± 22.9b 37.9 ± 1.2b 8.0 ± 0.2 ab 13.4 ± 0.3a 8.3 ± 1.8a 524 ± 63.6a 34.7 ± 1.7a 7.5 ± 0.4 a 12-17.5 5 - 25 - 39 - 52 7.2- 9.6

Keterangan : *Sumber : Arrington 1972

Nilai yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05).

Hasil analisis eritrosit ini mendukung penggunaan tempe sebagai bahan alternatif selain susu untuk dapat meningkatkan jumlah eritrosit darah pada penderita anemia. Dari hasil analisis eritrosit yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian konsumsi tepung tempe dan tepung kedelai rebus memberikan asupan zat besi yang cukup sehingga jumlah eritrosit berada dalam angka normal. Nilai eritrosit normal pada tikus percobaan sebesar 7.2 - 9.6 juta/mm3 darah (Arrington 1972). Dengan demikian konsumsi tempe dan kedelai rebus tidak menyebabkan terjadinya anemia akibat menurunnya jumlah eritrosit.

Analisis Kadar Malonaldehida Hati dan Ginjal

Kedelai merupakan bahan pangan alami yang mengandung antioksidan. Antioksidan pada tempe dan kedelai adalah isoflavon. Isoflavon mampu merangsang ekspresi Cu-Zn SOD yang dapat melindungi sel dari stres oksidatif. Hasil analisis kadar MDA pada organ hati dan ginjal disajikan pada Gambar 2. Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ransum yang berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata (p<0.05) terhadap nilai MDA organ hati maupun ginjal. Terlihat pada Gambar 2 nilai MDA hati maupun MDA ginjal kelompok tepung kedelai rebus 10 % lebih rendah dibandingkan dengan kasein 10 %.

Hal ini disebabkan tepung kedelai rebus mengandung antioksidan yaitu isoflavon. Sehingga kadar malonaldehida pada kelompok tikus yang diberi tepung kedelai rebus 10 % lebih rendah dibandingkan kelompok kasein 10%. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa antioksidan yang terdapat pada tempe dan kedelai rebus mampu mengurangi atau menghilangkan radikal bebas karena adanya isoflavon yang mencegah terjadinya peroksidasi lipid (Desminarti et al.2012, Sumi dan Yatagai 2006).

Gambar 2 Kadar MDA hati dan ginjal tikus percobaan

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada organ yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05)

Isoflavon yang terdapat pada kedelai rebus lebih tinggi dibandingkan isoflavon yang terdapat pada tempe dan dalam bentuk terikat dengan gugus glukosa atau disebut glikon. Bentuk isoflavon yang terdapat pada tempe sudah dalam bentuk bebas (aglikon) akibat adanya proses fermentasi sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh untuk digunakan sebagai antioksidan (Utari et al. 2010; Astuti 2008). Isoflavon kedelai rebus yang lebih tinggi menyebabkan kadar MDA kelompok tikus yang diberi ransum tepung kedelai rebus 10 % lebih rendah dibanding kadar MDA pada kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 % . Berbeda dengan kedelai rebus, kandungan isoflavon yang lebih rendah pada tempe mengakibatkan kadar MDA kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 % tidak berbeda nyata dengan kadar MDA kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 %.

Analisis Aktivitas Superoksida Dismutase Hati dan Ginjal

Hasil analisis SOD pada hati dan ginjal tikus percobaan disajikan pada Gambar 3. Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan pemberian ransum

19.6 ± 4.8 b 13.4 ± 1.2 b 15.3 ± 1.4 ab 10.6 ± 2.1 ab 9.9 ± 1.3a 8.0 ± 0.7 a 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0

MDA Hati MDA Ginjal

µmol/g

Kadar MDA Hati dan Ginjal

24

kasein 10 %, tepung tempe 10 % dan tepung kedelai rebus 10 % memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap nilai enzim SOD pada organ hati maupun ginjal (Lampiran 6).

Gambar 3. Nilai SOD hati dan ginjal tikus percobaan

Keterangan : Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada organ yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05).

Hal ini dapat disebabkan pada kedelai rebus dan tempe mengandung isoflavon yang membantu enzim SOD untuk mengatasi radikal bebas. (Utari

et al. 2010; Astuti 2008). Sehingga sampai pada akhir masa perlakuan kadar SOD yang terdapat dalam hati dan ginjal kelompok tikus yang diberi ransum tepung tempe 10 % dan tepung kedelai rebus 10 % tidak berbeda jauh dengan kelompok tikus yang diberi ransum kasein 10 %.

Dokumen terkait