Kondisi lokasi perkebunan tanaman nanas di Subang ketinggiannya sekitar 600 m dpl. Tanaman nanas berada pada daerah lereng dan dataran dengan kondisi pertanaman banyak mendapatkan naungan di tepi pertanaman. Lahan ini terdapat gulma-gulma diantara tanaman nanas (Lampiran 1). Kultivar nanas yang ditanam adalah Smooth Cayenne yang tidak memiliki duri atau hanya terdapat sedikit duri.
Gejala Serangan PMWaV di Lapangan
Pengamatan penyakit layu nanas di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, dilakukan di petak perkebunan nanas rakyat. Tanaman nanas yang diamati adalah kultivar Smooth Cayenne. Pada petak yang diamati ditemukan gejala serangan PMWaV. Gejala yang terlihat berupa daun memerah, melengkung ke bawah dan layu kering mulai dari bagian ujung. Serangan PMWaV ini menyebabkan buah berukuran kecil dan lebih cepat masak. Gejala yang diamati menyebar hampir di setiap daun tanaman nanas yang sakit (Gambar 1).
A B
C D E
Gambar 1 Gejala layu pada tanaman (A) dan daun serta buah nanas yang berukuran kecil dan cepat matang sehingga mudah busuk (B, C) Gejala PMW Daun yang sakit (D) Daun yang sehat (E).
Widyanto (2005) mengatakan bahwa penyakit layu dapat menyerang tanaman nanas pada berbagai generasi dan stadia pertumbuhan tanaman. Luas serangan penyakit layu nanas ditemukan lebih tinggi pada pertanaman ratoon
crop dibandingkan pada pertanaman plant crop. Demikian juga pertanaman pada
fase generatif memperlihatkan luas serangan yang lebih tinggi dibandingkan pada fase vegetatif.
Penyakit layu nanas pada petak perkebunan nanas yang diamati ditemukan adanya kutu putih yang bersimbiosis dengan semut. Hu et al. (1997) mengatakan bahwa kutu putih berperan sebagai vektor virus yang menularkan penyakit layu nanas ini dari satu tanaman nanas ke tanaman nanas yang lain. Kutu putih ini selalu ada dan ditemukan pada tanaman yang sakit yang terinfeksi PMW (Gambar 2).
Gambar 2 Kutu putih selalu ada dan ditemukan pada tanaman yang terinfeksi PMW.
Identifikasi Kutu Putih
Imago kutu putih yang telah diawetkan dalam alkohol 80% dibuat preparat mikroskop dan diidentifikasi dengan menggunakan metode dan kunci identifikasi Williams dan Watson (1988). Imago kutu putih yang terdapat pada perkebunan tanaman nanas rakyat di Desa Bunihayu Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang adalah Dysmicoccus brevipes. Imago kutu putih ini integumennya berwarna merah jambu dengan tonjolan lilin yang menutupi tubuhnya sehingga terlihat berwarna putih (Gambar 3a).
Gambar 3b memperlihatkan imago betina yang sudah diawetkan dalam bentuk preparat mikroskop.
(a) (b)
Gambar 3 (a) Imago D. brevipes pada tanaman nanas (b) Preparat mikroskop D. brevipes (Panjang Tubuh = 1,70 mm; Lebar Tubuh = 1,01 mm). Kutu putih yang ditemukan dari hasil penelitian ini hanya satu spesies yaitu D. brevipes. Kutu putih ini merupakan vektor PMWaV yang merupakan serangga penting pada tanaman nanas. Asbani (2005) mengatakan bahwa di daerah pertanaman nanas Rancamaya, Bogor hanya ditemukan D. brevipes. Hal yang sama dilaporkan oleh Kalshoven (1981) bahwa di Indonesia khususnya pulau Jawa dilaporkan hanya ditemukan D. brevipes.
Tubuh kutu putih D. brevipes terdiri dari bagian-bagian: antena, mata, porus diskoidal, tungkai, porus translusen, porus trilokular, porus multilokular, vulva, tubular duct, serari, lobus anal, cincin anal, seta, dan ostiol Williams & Watson (1988). Beberapa karakter yang terdapat pada D. brevipes hasil pengamatan sama dengan yang dilaporkan oleh Miller & Miller (2002): yaitu pada tungkai D. brevipes terdapat porus translusen.
Pengamatan preparat kutu putih menggunakan mikroskop compound terlihat bahwa contoh kutu putih mempunyai antena yang terdiri dari 8 segmen (Gambar 4). Serari terdapat pada tepi tubuh lateral memiliki 17 pasang serari.
Ostiolnya berkembang baik ditunjukkan dengan (Gambar 5) dan pada permukaan ventral terdapat seta berbentuk normal. Porus trilokular terdapat pada bagian dorsal dan ventral tubuh D. brevipes. Poros multilokular terletak pada ventral tubuh, tepatnya berada di sekitar vulva (Gambar 6). Tubular Duct berada pada bagian dorsal dan ventral dari tubuh kutu putih. Pada lobus anal juga terdapat serari sehingga disebut dengan serari lobus anal. Cincin anal berada pada daerah posterior tubuh bagian dorsal. Pada permukaan ventral bagian posterior terdapat sepasang seta yang disebut seta apikal. Selain seta apikal terdapat juga seta tambahan, pada umumnya terdiri dari 6 seta tambahan.
Gambar 4 Antena yang terdiri dari 8 segmen.
Gambar 5 Ostiol D. brevipes yang berkembang baik.
Gambar 6 Porus multilokular D. brevipes di sekitar vulva abdomen segmen VIII. Kutu putih D. brevipes mempunyai beberapa ciri khas diantaranya yaitu: pada tungkai terdapat porus translusen dapat dilihat pada (Gambar 7), pada lobus anal serari hanya terdapat dua seta yang besar dapat dilihat pada (Gambar 8). Kutu putih ini mempunyai mata yang pada tepinya masing-masing memiliki porus diskoidal sebanyak dua atau tiga porus diskoidal. Posisi tepat porus diskoidal terdapat disekitar mata dapat dilihat pada (Gambar 9). Porus diskoidal disebut sebagai porus sederhana. Pada abdomen bagian dorsal segmen VIII terdapat seta yang berukuran lebih panjang dari seta-seta yang lainnya. Hal ini ditunjukkan pada (Gambar 10) yang membedakan dengan D. neobrevipes. Menurut Williams & Watson (1988) serta Miller & Miller (2002), seta dorsal pada segmen VIII yang terdapat pada D. brevipes mempunyai panjang 60 µm. Ukuran itu jauh lebih panjang dibandingkan dengan seta D. neobrevipes yang mempunyai panjang hanya 8-24 µm.
Vulva Porus
Gambar 7 Porus translusen pada tungkai D. brevipes.
Gambar 8 Dua seta pada lobus anal serari.
Seta Porus Translusen
Gambar 9 Antena, Mata, dan Porus diskoidal di sekitar mata.
Gambar 10 Seta abdomen bagian dorsal segmen VIII D. brevipes. Populasi Rata-rata Kutu Putih pada Bagian Tanaman Nanas
Penghitungan kutu putih yang dilakukan pada pertanaman nanas fase generatif diperoleh jumlah populasi rata-rata kutu putih dalam persentase ditunjukkan pada (Lampiran 2). Dari 30 tanaman yang diamati sebanyak 28 tanaman (93,33%) terserang. Hal ini menunjukkan bahwa serangan kutu putih di Bunihayu cukup tinggi. Berdasarkan pengamatan pada bagian-bagian tanaman yang terserang persentase kutu putih terbesar terdapat pada bagian pelepah daun, yaitu sebesar 53,3% diikuti pada bagian mahkota buah, buah, batang, dan tangkai buah masing-masing sebesar 23%; 15,6%; 4,5%; dan 3,6% (Gambar 11).
Antena Mata Seta Seta Porus diskoidal
Banyaknya populasi kutu putih pada bagian bawah tanaman seperti pelepah daun lebih disebabkan bagian tanaman tersebut merupakan tempat berlindung yang baik untuk kutu putih dari cahaya matahari, musuh alami, dan hujan, sehingga kutu putih dapat berlindung dan berkembang biak dengan baik pada bagian-bagian tanaman tersebut. Sartiami (2006) melaporkan bahwa kutu putih ini mampu menyerang pada semua bagian tanaman dengan frekuensi tinggi.
Pada pengamatan penghitungan kutu putih ini tidak ditemukan pada bagian akar, karena pada saat pengambilan contoh tanaman nanas yang sakit di daerah pengamatan tersebut awal musim kemarau. Tanah tempat tanaman nanas pada saat pengamatan sangat kering kemungkinan kutu putih tidak akan mampu hidup.
Banyaknya populasi kutu putih pada bagian pelepah daun disebabkan karena pada bagian tersebut tersembunyi dan terlindung. Banyaknya kutu putih pada bagian mahkota buah daripada pada bagian batang diduga disebabkan adanya ketertarikan pada nutrisi dan tempatnya tersembunyi serta terlindung. Buah yang dihasilkan kecil dan kerdil, sehingga jumlah kutu putih pada buah jumlahnya sedikit dibandingkan dengan jumlah kutu putih pada pelepah daun dan mahkota buah. Hal ini disebabkan juga karena pelepah daun dan mahkota buah merupakan tempat yang baik untuk kelangsungan hidupnya, yaitu terlindung dan tersembunyi dari berbagai faktor luar.
Jumlah individu dalam populasi kutu putih yang tumbuh pada tanaman nanas berkisar antara 0-261 ekor. Kutu putih yang ditemukan dengan stadia imago maupun nimfa menunjukkan bahwa kutu putih telah ada sejak awal penanaman.
53.3 23 15.6 4.5 3.6 0 0 10 20 30 40 50 60 Pelepah Daun Mahkota Buah
Buah Batang Tangkai
Buah Akar Bagian Tanaman R ata -r at a K u tu P u ti h (% )
Gambar 11 Populasi rata-rata kutu putih pada tanaman nanas.
Kelimpahan populasi kutu putih di Subang cenderung terjadi peningkatan. Kenaikan populasi disebabkan oleh penambahan kepadatan dalam tiap koloni, bukan oleh jumlah tanaman terinfestasi. Fakta ini didukung oleh data jumlah rata-rata kutu putih pada bagian tanaman nanas yang telah diteliti oleh Widyanto (2005) yang melaporkan bahwa persentase populasi rata-rata kutu putih pada bagian tanaman nanas fase generatif mencapai 45% sedangkan dalam penelitian ini terjadi peningkatan populasi rata-rata kutu putih yang mencapai 53,3%. Kenaikan ini dipicu oleh jumlah kutu putih di pelepah daun lebih banyak yang sesuai untuk perkembangan serangga dari kelompok kutu-kutuan.