• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Diameter Batang (mm)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari diameter batang pada 5 MST, 6 MST, 7MST dan 8 MST dapat dilihat pada lampiran 8 s/d 15. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan yang diberikan berpengaruh nyata terhadap diameter batang 6 hingga 8 MST, MVA belum berbeda nyata pada semua peubah amatan diameter batang, sedangkan interaksi antara cekaman kekeringan dan MVA tidak berbeda nyata terhadap diameter batang.

Hasil uji beda rataan diameter batang pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dari 5 s/d 8 MST dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rataan diameter batang pada perlakuan MMA dan cekaman kekeringan

Diameter Batang Pada umur (MST)

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009 ….(mm)…. C1 (100% KL) 3.54 3.13 a 3.12 b 3.13 a C2 (80% KL) 3.3 2.92 b 3.08 b 3.29 a C3 (60% KL) 3.23 2.77 b 3.19 a 3.24 a C4 (40% KL) 3.18 2.46 c 2.66 c 2.91 b MVA M1 (Singa) 3.18 2.74 3.00 3.19 M2 (Gajah) 3.41 2.98 3.04 3.09 M3 (Macan) 3.35 2.74 3.00 3.14

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan belum berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada 5 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada cekaman kekeringan C1 (3,54 mm) dan terkecil terdapat pada C4 (3,18 mm), tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda, selanjutnya pada MVA juga belum berbeda nyata terhadap diameter batang 5 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada MVA M3 (3,35 mm) dan terkecil terdapat pada MVA M1 (3,18 mm) tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda.

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada 6 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada cekaman kekeringan C1 (3,13 mm) dan terkecil terdapat pada C4 (2,46 mm), selanjutnya MVA menunjukkan belum berbeda nyata terhadap diameter batang 6 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada MVA M2 (2.98 mm) dan terkecil terdapat pada MVA M1 dan M3 (2.74 mm) tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda.

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada 7 MST, dimana

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

diameter batang terbesar terdapat pada cekaman kekeringan C3 (3,19 mm) dan terkecil terdapat pada C4 (2,66 mm), selanjutnya MVA menunjukkan belum berbeda nyata terhadap diameter batang 7 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada MVA M2 (3.04 mm) dan terkecil terdapat pada MVA M1 dan M3 (3,00 mm) tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda.

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada 8 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada cekaman kekeringan C2 (3,29 mm) dan terkecil terdapat pada C4 (2,91 mm), selanjutnya MVA menunjukkan belum berbeda nyata terhadap diameter batang 8 MST, dimana diameter batang terbesar terdapat pada MVA M1 (3.19 mm) dan terkecil terdapat pada MVA M2 (3,09 mm) tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda.

Grafik pertumbuhan diameter batang dari umur 5 MST, 6 MST, 7MST dan 8 MST pada perlakuan cekaman kekeringan dapat dilihat pada gambar 1, sedangkan MVA dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan diameter batang (mm) pada cekaman kekeringan 3.54 3.13 3.12 3.13 3.3 2.92 3.08 3.29 3.23 2.77 3.19 3.24 3.18 2.46 2.66 2.91 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 5 6 7 8 Um ur Tanam an (hari) D iam et er B at an g ( m m ) C1 C2 C3 C4

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa 100% KL pertumbuhan tanaman mulai menurun sampai batas 80% KL pada 6 MST, selanjutnya 6MST pada 80% KL sampai pada 40% KL pertumbuhan tanaman memperlihatkan pertumbuhan yang meningkat perlahan-lahan sampai pada 8 MST, selanjutnya dapat diterangkan bahwa pada 5 MST perlakuan baru diberikan yang membuat tanaman belum beradaptasi dengan baik tetapi setelah beberapa minggu diberikan perlakuan tanaman mulai memperlihatkan adaptasi yang baik terhadap cekaman kekeringan.

Kadar Unsur Hara N, P, K (%)

Data hasil pengamatan kadar unsur hara N, P, K (%) dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Rataan kadar unsur hara N pada perlakuan MMA dan cekaman kekeringan

Cekaman MMA Rataan

M0 M1 M2 C1(100% KL) 4.03 3.88 4.44 4.12 C2 (80% KL) 4.81 4.52 4.89 4.74 C3 (60% KL) 4.73 4.42 4.65 4.60 C4 (40% KL) 4.50 4.13 5.12 4.58 Rataan 4.52 4.24 4.78

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar N tertinggi pada cekaman kekeringan C2=80% KL sebesar (4,74%) dan terendah pada cekaman kekeringan C1=100% KL sebesar (4,12 %). Dari tabel 2 selanjutnya dapat diterangkan bahwa dengan terjadinya penurunan suplai air mengakibatkan peningkatan pada konsentrasi N.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar N tertinggi terdapat pada MVA M3 sebesar (4.78%) dan terendah terdapat pada MVA M2 sebesar (4.24%), sedangkan pada perlakuan C4M3 menunjukkan kadar N tertinggi sebesar (5.12 %) sedangkan pada perlakuan C1M1menunjukkan kadar N terendah sebesar (4.03 %), hal ini dapat diterangkan bahwa kadar unsur N menunjukkan semakin meningkatnya cekaman kekeringan maka kadar N akan semakin meningkat

Tabel 3. Rataan kadar unsur hara P pada perlakuan MMA dan cekaman kekeringan

Cekaman MMA Rataan

M0 M1 M2 C1(100% KL) 0.20 0.24 0.19 0.21 C2 (80% KL) 0.19 0.24 0.21 0.21 C3 (60% KL) 0.23 0.24 0.22 0.23 C4 (40% KL) 0.19 0.20 0.20 0.20 Rataan 0.20 0.23 0.21

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa kadar P tertinggi pada cekaman kekeringan C3=60% KL sebesar (0.23%) dan terendah terdapat pada cekaman kekeringan C4=40% KL sebesar (0.20%), selanjutnya dapat diterangkan bahwa semakin meningkat cekaman kekeringan yang diberikan maka semakin menurun kadar unsur P pada tanaman.

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa kadar P tertinggi terdapat pada MVA M2

sebesar (0.23%) dan terendah terdapat pada MVA M1 sebesar (0.20%). Dari tabel 3 dapat diterangkan bahwa pada M1 memperlihatkan kadar unsur P daun yang

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

berMariasi dengan meningkatnya cekaman kekeringan, pada M2 memperlihatkan kadar P daun yang stabil hingga 60% KL dan menurun pada 40% KL dan pada M3 memperlihatkan kadar P daun yang berMariasi dengan meningkatnya cekaman kekeringan.

Tabel 4. Rataan kadar unsur hara K pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 1.25 1.28 1.87 1.47 C2 (80% KL) 1.10 1.29 1.53 1.31 C3 (60% KL) 1.38 1.56 1.18 1.37 C4 (40% KL) 0.88 0.58 0.97 0.81 Rataan 1.15 1.18 1.39

Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa kadar K tertinggi pada cekaman kekeringan C1=100% KL sebesar (1.47%) dan terendah terdapat pada cekaman kekeringan C4=40% KL sebesar (0.81%), selanjutnya dapat diterangkan bahwa semakin meningkat cekaman kekeringan yang diberikan maka semakin menurun kadar unsur K dalam tanaman.

Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa kadar K tertinggi terdapat pada MVA M3 sebesar (1.39%) dan terendah terdapat pada MVA M1 sebesar (1.15%), sedangkan pada perlakuan C1M3 menunjukkan kadar K tertinggi sebesar (1.87%) dan terendah terdapat pada C4M2 sebesar (0.58%) Dari tabel 4 selanjutnya dapat diterangkan bahwa pada M1 memperlihatkan kadar unsur K daun yang menurun dengan meningkatnya cekaman kekeringan, pada M2 memperlihatkan kadar K daun yang menurun dengan meningkatnya cekaman kekeringan, dan pada M3 memperlihatkan kadar K daun yang menurun tajam dengan meningkatnya

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

cekaman kekeringan dan dapat disimpulkan bahwa dengan meningkatnya cekaman kekeringan maka K daun akan semakin menurun.

Umur Berbunga (Hari)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari umur berbunga dapat dilihat pada lampiran 19 dan 20. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan, MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter umur berbunga.

Data umur berbunga pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Rataan umur berbunga (hari) pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 30.50 28.50 29.83 29.61 C2(80% KL) 30.67 31.50 32.50 31.56 C3(60% KL) 32.33 32.33 30.33 31.67 C4(40% KL) 35.33 32.00 36.17 34.50 Rataan 32.21 31.08 32.21

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan belum berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga, dimana umur berbunga tercepat pada perlakuan cekaman kekeringan C1 (29.61 hari), dan paling lama pada perlakuan cekaman kekeringan C4 (34.50 hari), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari tabel 5 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA yang diuji tidak menunjukkan perbedaan umur berbunga yang nyata, dimana MVA yang paling cepat berbunga terdapat pada MVA M2 (31.08 hari) dan paling lama berbunga terdapat pada MVA M1 dan M3 (32.21 hari), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Umur Panen (Hari)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari umur panen dapat dilihat pada lampiran 21 dan 22. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan, MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter umur panen.

Data umur panen pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel.

Tabel 6. Rataan umur panen (hari) pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 91.83 92.00 89.67 91.17 C2(80% KL) 92.00 92.00 92.00 92.00 C3(60% KL) 92.00 92.00 92.00 92.00 C4(40% KL) 92.00 92.00 92.00 92.00 Rataan 91.96 92.00 91.42

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan yang diberikan (C1=100% KL, C2=80% KL, C3=60% KL, C4=40% KL) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap parameter umur panen, yang paling cepat umur panennya (91,17 hari) pada perlakuan C1=100% KL.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari tabel 6 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter umur panen, dimana MVA yang paling cepat panen terdapat pada MVA M3 (91,42 hari) dan yang paling lama panen terdapat pada MVA M2

(92,00 hari), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda. Jumlah Ginofor (Buah)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari jumlah ginofor dapat dilihat pada lampiran 23 dan 24. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan, MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah ginofor.

Data jumlah ginofor pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rataan jumlah ginofor (buah) pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 14.67 18.50 12.17 15.11 C2(80% KL) 13.50 16.00 12.83 14.11 C3(60% KL) 11.83 14.17 9.00 11.67 C4(40% KL) 12.00 11.17 7.00 10.06 Rataan 13.00 14.96 10.25

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan yang diberikan belum berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah ginofor, dimana jumlah ginofor yang paling banyak terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C1 (15,11 buah) dan yang paling sedikit terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C4 (10,06 buah), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari tabel 7 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter jumlah ginofor, dimana jumlah ginofor yang paling banyak terdapat pada MVA M2 (14,96 buah) dan paling sedikit terdapat pada MVA M3

(10,25 buah), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda. Panjang Akar (cm)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari panjang akar dapat dilihat pada lampiran 25 dan 26. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter panjang akar, sedangkan MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter panjang akar.

Data panjang akar pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Rataan panjang akar (cm) pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 42.02 34.38 40.75 39.05 a C2(80% KL) 34.33 34.02 31.40 33.25 b C3(60% KL) 33.43 35.63 36.38 35.15 ab C4(40% KL) 33.80 32.78 33.90 33.49 b Rataan 35.90 34.20 35.61

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter panjang akar, dimana panjang akar terpanjang terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C1 (39,05 cm) dan terpendek terdapat pada cekaman kekeringan C2 (33,25 cm).

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Dari tabel 8 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter panjang akar, dimana panjang akar terpanjang terdapat pada MVA M1 (35.90 cm) dan terpendek terdapat pada MVA M2 (34.20 cm), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Grafik hubungan antara cekaman kekeringan dengan MVA terhadap panjang akar dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik Hubungan cekaman kekeringan dengan MVA terhadap panjang akar

Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa panjang akar menunjukkan grafik kuadratik yang nyata pada beberapa MVA yang diuji yang tidak memberikan pengaruh yang sama pada setiap MVA. Dari grafik dapat kita lihat bahwa panjang akar berkurang dengan semakin meningkatnya cekaman kekeringan, 40% KL dapat menurunkan panjang akar.

Y1 = 2.015x2 - 12.631x + 52.36 r = 0.9698 Y2 = -0.6225x2 + 2.7935x + 31.887 r = 0.499 Y3 = 1.7175x2 - 10.145x + 48.088 r = 0.5019 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 100 %KL 80% KL 60% KL 40% KL Cekaman Kekeringan P an jan g akar ( cm ) Poly. (V1) Poly. (V2) Poly. (V3)

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Luas Daun (cm2)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari luas daun dapat dilihat pada lampiran 27 dan 28. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter luas daun, sedangkan MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter luas daun.

Data luas daun pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Rataan luas daun (cm2) pada perlakuancekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 34.14 37.00 41.81 37.65 a C2(80% KL) 35.72 28.19 33.74 32.55 a C3(60% KL) 30.91 31.46 35.79 32.72 a C4(40% KL) 29.25 31.71 26.39 29.12 b Rataan 32.50 32.09 34.43

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter luas daun, dimana luas daun terbesar terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C1 (37.65 cm2) dan terkecil terdapat pada cekaman kekeringan C4 (29.12 cm2).

Dari tabel 9 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter luas daun, dimana luas daun terbesar terdapat pada MVA M3

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

(34.43 cm2) dan terkecil terdapat pada MVA M2 (32.09 cm2), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Grafik hubungan antara cekaman kekeringan dengan MVA terhadap luas daun dapat dilihat pada gambar 3.

-

Gambar 3. Grafik Hubungan cekaman kekeringan dengan MVA terhadap luas daun

Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa luas daun menunjukkan grafik hubungan linier yang nyata pada beberapa MVA yang diuji, yang tidak memberikan pengaruh yang sama pada setiap MVA. Cekaman kekeringan 40 % KL dapat menurunkan luas daun pada setiap MVA.

Bobot Kering Akar (g)

Y1 = -2.02x + 37.375 r = 0.7076 Y2 = -1.26x + 35.24 r = 0.1992 Y3 = -4.421x + 45.485 r = 0.8048 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 100 %KL 80% KL 60% KL 40% KL Cekaman Kekeringan L u a s d a u n ( c m 2 ) Linear (V1) Linear (V2) Linear (V3)

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari bobot kering akar dapat dilihat pada lampiran 29 dan 30. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering akar, sedangkan MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan Maritas tidak berbeda nyata terhadap parameter bobot kering akar.

Data bobot kering akar pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Rataan bobot kering akar (g) pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 2.30 2.22 2.43 2.32 a C2(80% KL) 1.75 1.97 2.72 2.14 a C3(60% KL) 2.27 3.27 2.80 2.78 a C4(40% KL) 1.08 1.80 1.67 1.52 b Rataan 1.85 2.31 2.40

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering akar, dimana bobot kering akar terbesar terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C3 (2.78 g) dan terkecil terdapat pada cekaman kekeringan C4 (1.52 g).

Dari tabel 10 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter bobot kering akar, dimana bobot kering akar terbesar terdapat

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

pada MVA M3 (2.40 g) dan terkecil terdapat pada MVA M1 (1.85 g), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Grafik hubungan antara cekaman kekeringan dengan MVAterhadap bobot kering akar dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Grafik Hubungan cekaman kekeringan dengan MVA terhadap bobot kering akar

Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa bobot kering akar menunjukkan grafik kuadratik yang nyata pada beberapa MVA yang diuji, yang tidak memberikan pengaruh yang sama pada setiap MVA. 40% KL dapat menurunkan bobot kering akar pada setiap MVA.

Bobot Kering Tajuk (g)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari bobot kering tajuk dapat dilihat pada lampiran 31 dan 32. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan dan MVA berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering tajuk, sedangkan interaksi antara cekaman kekeringan dan MVA tidak berbeda nyata terhadap parameter bobot kering tajuk

Y1 = -0.16x2 + 0.486x + 1.835 r = 0.6064 Y2 = -0.305x2 + 1.529x + 0.78 r = 0.2851 Y3 = -0.355x2 + 1.555x + 1.18 r = 0.9372 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 100 %KL 80% KL 60% KL 40% KL Cekaman Kekeringan B o b o t K e ri n g a k a r ( g ) Poly. (V1) Poly. (V2) Poly. (V3)

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Data bobot kering tajuk pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Rataan bobot kering tajuk pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA.

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 7.87 8.32 9.82 8.67 ab C2(80% KL) 6.83 6.38 8.65 7.29 c C3(60% KL) 7.58 9.77 11.13 9.49 a C4(40% KL) 4.70 5.53 6.20 5.48 d Rataan 6.75 b 7.50 b 8.95 a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering tajuk, dimana bobot kering tajuk terbesar terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C3 (9.49 g) dan terkecil terdapat pada cekaman kekeringan C4 (5.48 g).

Dari tabel 11 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA berbeda nyata terhadap parameter bobot kering tajuk, dimana bobot kering tajuk terbesar terdapat pada MVA M3 (8.95 g) dan terkecil terdapat pada MVA M1 (6.75 g).

Grafik hubungan antara cekaman kekeringan dengan MVA terhadap bobot kering tajuk dapat dilihat pada gambar 5.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Gambar 5. Grafik Hubungan cekaman kekeringan dengan MVA terhadap bobot kering tajuk

Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa bobot kering tajuk menunjukkan grafik hubungan kuadratik yang nyata pada beberapa MVA yang diuji, yang tidak membawa pengaruh yang sama pada setiap MVA, semakin meningkat cekaman kekeringan yang diberikan maka semakin menurun pula bobot kering tajuk , 40% KL menurunkan bobot kering tajuk pada setiap MVAnya.

Nisbah Bobot Kering Akar (g) terhadap Bobot Kering Tajuk (g)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari nisbah BK akar terhadap BK tajuk dapat dilihat pada lampiran 33 dan 34. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan, MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan MVA tidak berbeda nyata terhadap parameter nisbah BK akar terhadap BK tajuk.

Data nisbah BK akar terhadap BK tajuk pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 12.

Y1 = -0.46x2 + 1.424x + 6.635 r = 0.7612 Y2 = -0.575x2 + 2.377x + 5.87 r = 0.2338 Y3 = -0.94x2 + 3.862x + 6.345 r = 0.5353 0 2 4 6 8 10 12 100% KL 80% KL 60% KL 40% KL Cekaman Kekeringan B o b o t K e ri n g T a ju k ( g ) Poly. (V1) Poly. (V2) Poly. (V3)

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Tabel 12. Rataan nisbah BK akar terhadap BK tajuk pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA.

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 0.29 0.28 0.25 0.27 C2(80% KL) 0.27 0.31 0.30 0.29 C3(60% KL) 0.31 0.34 0.26 0.30 C4(40% KL) 0.22 0.23 0.40 0.28 Rataan 0.27 0.29 0.30

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan belum berpengaruh nyata terhadap parameter nisbah BK akar terhadap BK tajuk, dimana nisbah BK akar terhadap BK tajuk terbesar terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C3 ( 0.30 g) dan terkecil terdapat pada C1 (0.27 g), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Dari tabel 12 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter nisbah BK akar terhadap BK tajuk, dimana nisbah BK akar terhadap BK tajuk terbesar terdapat pada MVA M3 (0.30 g) dan terkecil terdapat pada MVA M1 ( 0.27 g), tetapi berdasarkan analisa statistik tidak berbeda.

Jumlah Cabang Produktif (Cabang)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari jumlah cabang produktif dapat dilihat pada lampiran 35 dan 36. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif, sedangkan MVA dan interaksi antara cekaman kekeringan dan MVA tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Data jumlah cabang produktif pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13. Rataan jumlah cabang produktif pada perlakuan cekaman kekeringan dan MVA.

Cekaman MVA Rataan

M1 M2 M3 C1(100% KL) 5.00 5.00 5.00 5.00 a C2(80% KL) 3.83 5.50 4.67 4.67 a C3(60% KL) 4.33 6.17 4.50 5.00 a C4(40% KL) 2.83 3.50 3.00 3.11 b Rataan 4.00 5.04 4.29

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif, dimana jumlah cabang produktif terbesar terdapat pada perlakuan cekaman kekeringan C1 dan C3

(5 cabang) dan terkecil terdapat pada cekaman kekeringan C4 (3.11 cabang)

Dari tabel 13 selanjutnya dapat dilihat bahwa MVA belum berbeda nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif, dimana jumlah cabang produktif terbesar terdapat pada MVA M2 (5.04 cabang) dan terkecil terdapat pada MVA M1 (4.00 cabang), tetapi berdasarkan analisis statistik tidak berbeda.

Grafik hubungan antara cekaman kekeringan dengan MVA terhadap jumlah cabang produktif dapat dilihat pada gambar 6.

Yudhi Bintaran : Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Thbroma cacaoL.) Terhadap Pemberian Bokasi Kulit Buah Kakao Dan Pupuk NPK, 2007.

USU Repository © 2009

Gambar 6. Grafik Hubungan cekaman kekeringan dengan MVA terhadap jumlah cabang produktif

Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa jumlah cabang produktif menunjukkan grafik hubungan kuadratik yang nyata pada beberapa MVA yang diuji, yang tidak memberikan pengaruh yang sama pada setiap MVA. Semakin menurun defisit air yang diberikan ke tanaman, semakin sedikit pula cabang yang dihasilkan, 40% KL menurunkan jumlah cabang produktif pada setiap MVAnya.

Jumlah Ginofor Hampa (Buah)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari jumlah ginofor hampa dapat dilihat pada lampiran 37 dan 38. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan

Dokumen terkait