Persebaran dan Kondisi Serangan P. manihoti di Lapangan
Hasil survei lapangan pada bulan Oktober 2014 menunjukkan bahwa kutu
P. manihoti ditemukan hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa (Gambar 4). Dari 35 titik lokasi survei, kutu putih P. manihoti dan gejala serangan dijumpai pada pertanaman singkong di 22 lokasi yang tersebar di Jawa Barat (10 lokasi), Jawa Tengah (7 lokasi), dan Jawa Timur (5 lokasi). Sementara itu, lokasi survei yang hanya menunjukan gejala bekas serangan kutu putih, berupa pemendekan buku dan distorsi batang dijumpai pada 13 lokasi lainnya.
Gambar 4 Persebaran kutu putih P. manihoti di Pulau Jawa
Keberadaan serangan P. manihoti pada tanaman singkong ditandai oleh adanya koloni kutu putih yang terdiri dari nimfa yang berwarna merah jambu serta imago dan ovisak yang berwarna putih seperti kapas, khususnya pada bagian pucuk tanaman singkong. Selain itu, tanaman yang terserang tampak daun-daun pucuknya mengeriting dan menggumpal (bunchy top), dan tidak berkembang normal. Bila pucuk tersebut dibuka, biasanya ditemukan kutu putih di dalamnya. Rataan banyaknya kutu putih per pucuk berkisar antara 4.82 ekor (Kabupaten Pasurunan) hingga 45.10 ekor (Kabupaten Rembang) (Tabel 1). Pertanaman yang sebelumnya pernah terserang oleh P. manihoti dapat dikenali oleh adanya bagian-bagian buku yang memendek atau adanya distorsi pada batang.
Tabel 1 Kerapatan populasi P. manihoti di lokasi survei di Pulau Jawa Lokasi Ketinggian lokasi
pengamatan (m dpl)
Titik lokasi yang diamati Rata rata (individu/tanaman) Pacitan 15 1 31.06 Pati 48 dan 58 2 30.82 Blora 180 1 33.00 Rembang 180 1 45.10 Pasuruan 693 1 4.82 Malang 513 1 22.50 Majalengka 755 1 41.20 Kuningan 189 1 15.82 Cianjur 530 1 43.90
Keterangan : sampel tanaman yang diamati 50 tanaman yang terbagi dalam 5 zona
Berdasarkan ketinggian tempat, hasil survei menunjukkan bahwa kutu putih
P. manihoti ditemukan pada pertanaman singkong pada rentang ketinggian 15 m dpl (Desa Kranjan, Kabupaten Pacitan) hingga 840 m dpl (Desa Semplak, Kabupaten Sukabumi). Tanaman singkong tersebut ada yang berupa tanaman pekarangan, tanaman pagar, tanaman perkebunan, tanaman sisipan atau tumpangsari di lahan hutan (Tabel 2; Lampiran 1).
Tabel 2 Karakteristik lahan singkong di lokasi survei di Pulau Jawa Wilayah pengamatan Jumlah titik pengamatan Peruntukan tanaman singkong Luas areal pertanaman (m2) Ketinggian (m dpl)
Jawa Barat 15 pada 8
kabupaten Tanaman pagar Tanaman pekarangan Lahan kebun Tumpangsari pada lahan hutan <500 500 – 2500 >2500 179 - 841
Jawa Tengah 8 pada 5
kabupaten Tanaman pagar Tanaman pekarangan Lahan kebun Tumpangsari pada lahan hutan <500 500 – 2500 >2500 21 - 324
Jawa Timur 10 pada 6
kabupaten Tanaman pagar Tanaman pekarangan Lahan kebun Tumpangsari pada lahan hutan <500 500 – 2500 >2500 15 - 693 DI Yogyakarta 2 pada 1 kabupaten Tanaman pekarangan Lahan kebun 500 - 2500 500 – 2500 227 - 246
Selain kutu putih P. manihoti, selama pengamatan lapangan sering pula dijumpai kutu putih lainnya pada tanaman singkong yaitu Paracoccus marginatus,
Ferrisia virgata dan Pseudococcus jackbeardsleyi. Kutu P. marginatus sangat umum dijumpai dan biasanya terdapat pada permukaan bawah daun, sedangkan F. virgata dan P. jackbeardsley biasanya menyerang tanaman yang tumbuh merana karena terserang P. manihoti. Hasil pengamatan Karyani (2015) dan Wardani 14
(2015) populasi P. manihoti ditemukan bercampur dengan P. marginatus dan F. virgata pada tanaman singkong.
Serangan P. manihoti yang tergolong sangat berat ditemukan pada pertanaman singkong yang luasnya sekitar 20 ha, di daerah Borobamban dan sekitar Bandara Abdurachman Saleh, Kecamatan Pakis, Malang (Gambar 5). Di tempat ini seluruh tanaman singkong tampak daunnya rontok dan sebagian tanaman mati dan mengering. Di daerah ini penanaman singkong dilakukan tidak serempak, yang ditunjukkan oleh umur tanaman yang tidak seragam. Pola tanam yang demikian diduga merupakan salah satu faktor yang menunjang peningkatan serangan P. manihoti pada musim kemarau. Selain itu, pertanaman singkong ini diusahakan di lahan tidur milik bandara sehingga kurang mendapat perawatan. Dilaporkan bahwa serangan kutu putih P. manihoti lebih berat pada tanaman yang tumbuh di lahan yang miskin hara dan kurang pupuk (Le Ru et al. 1991 dalam Schulthess et al. 1997).
(a) (b)
Gambar 5 Kondisi lahan singkong yang terserang P. manihoti di Kabupaten Malang: (a) gejala pemendekan batang singkong; (b) serangan berat menyebabkan tanaman mati dan mengering.
Di daerah Manyaran dan Karangmojo (Kabupaten Gunung Kidul) serta Jatisrono dan Ngadirejo (Kabupaten Wonogiri) tidak ditemukan pertanaman singkong, karena seluruh lahan dalam keadaan bera menunggu musim hujan tiba. Di beberapa sudut lahan tampak kumpulan batang singkong terikat di atas lahan atau tergantung pada pohon nangka atau randu, yang dipersiapkan sebagai stek/bibit untuk musim tanam berikutnya (Gambar 6). Pengamatan menunjukkan setiap tunas yang muncul dari batang-batang tersebut tampak berwarna putih karena penuh ditutupi oleh kutu P. manihoti. Diperkirakan kutu P. manihoti dapat menjadi hama penting di wilayah ini. Namun demikian, hasil wawancara dengan beberapa petani singkong menunjukkan bahwa keberadaan hama ini tidak terlalu dianggap penting dan menjadi masalah. Hal ini dikarenakan petani menanam singkong pada awal musim hujan. Dengan cara ini, pada saat hama ini meningkat populasinya pada musim kemarau, tanaman singkong sudah berumur 6-7 bulan sehingga lebih toleran terhadap serangan P. manihoti. Menurut Nwanze (1982) pengaruh serangan kutu putih terhadap hasil panen singkong tergantung umur 15
tanaman pada saat serangan terjadi. Wardani (2015) melaporkan bahwa kehilangan hasil lebih tinggi pada singkong yang pada saat masih muda terserang berat oleh kutu P. manihoti. Selain itu mudah ditemukannya musuh alami kutu putih singkong yang berkembang dengan baik seperti P. ramburi dan kumbang Coccinelidae di lokasi pertanaman singkong ini.
(a) (b) (c)
Gambar 6 Kondisi bibit singkong yang terserang P. manihoti di Kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul: (a) kumpulan batang tergantung pada pohon; (b) bibit singkong yang dipenuhi ovisak kutu putih singkong; (c) telur P. ramburi di sekitar ovisak kutu putih singkong
Daerah pengembangan singkong di Pulau Jawa lainnya adalah Kabupaten Pati (Gambar 7). Di daerah ini terdapat pengembangan pertanaman singkong seluas 50 hektar, yang direalisasikan melalui pembukaan lahan dan penyediaan bibit singkong. Secara keseluruhan untuk wilayah Kabupaten Pati pada tahun 2015 luas areal tanam singkong mencapai 18.259 ha dengan produktivitas 217.70 kuintal/ha dengan total produksi basah 397.50 ton (Jatengprov 2015). Serangan
P. manihoti di daerah ini tampak dari ditemukannya kutu putih dan pemendekan buku pada tanaman terserang. Pada beberapa kebun, insidensi serangan mencapai 100% dan sebagian tanaman yang terserang tampak mati mengering.
(a) (b) (c)
(a) (b) (c)
Gambar 7 Kondisi tanaman singkong yang terserang P. manihoti di Kabupaten Pati: (a) pertanaman singkong yang menunjukan gejala bunchytop; (b) gejala bunchytop; (c) ovisak kutu putih singkong pada pucuk tanaman singkong.
Pengamatan di daerah Cianjur, Sukabumi, Sumedang, Majalengka, Ciamis, Kuningan, Garut dan Bogor (Jawa Barat), Rembang, Blora (Jawa Tengah), Mojokerto, Pasuruan, Nganjuk, Tulungangung dan Pacitan (Jawa Timur) adanya serangan P. manihoti ditandai oleh gejala yang tampak pada tanaman singkong seperti bunchytop di bagian pucuk tanaman singkong serta pemendekan antar ruas pada bagian batang singkong. Gejala terberat tampak dengan adanya serangan 100% pada pertanaman singkong.
Hasil wawancara dengan beberapa petani menunjukkan bahwa faktor rendahnya pengetahuan petani dalam budidaya tanaman singkong dan kurangnya informasi dan penyuluhan menjadi masalah utama. Pola tanam tidak serempak, varietas yang tidak unggul, pengelolaan lahan dan pengendalian hama yang tidak pernah dilakukan menjadikan hasil panen kurang optimal.
Pelepasan Parasitoid A. lopezi
Parasitisasi di dalam Kurungan
Perlakuan pelepasan parasitoid A. lopezi berpengaruh nyata terhadap tingkat parasitisasi (F=129.7; db=2, 29; P<0.001). Pada perlakuan pelepasan 3 pasang A. lopezi rataan tingkat parasitisasi yaitu 25.20%, lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan pelepasan 1 pasang parasitoid (17.60%). Adanya parasitoid yang muncul (0.10%) dari perlakuan kontrol diduga karena adanya sejumlah kecil kutu putih yang terparasit pada saat perbanyakan massal di laboratorium (Gambar 8).
Banyaknya parasitoid yang dilepas per kurungan (pasang) Ti n gk at p aras it is as i (% ) 0 5 10 15 20 25 30 0 1 3
Gambar 8 Pengaruh banyaknya parasitoid yang dilepas terhadap tingkat parasitisasi di dalam kurungan
Pelepasan parasitoid berpengaruh terhadap tingkat kematian tanaman singkong oleh kutu putih. Pada kurungan tanpa parasitoid (kontrol), gejala kematian tanaman berlangsung lebih awal. Pada hari ke-25 terjadi kematian tanaman sebanyak 10% dan meningkat menjadi 20% pada hari ke-45 (Gambar 9). Pada hari ke-60 seluruh tanaman singkong (100%) menunjukkan gejala kematian. Kematian tanaman lebih rendah pada kurungan dengan pelepasan parasitoid. Pada kurungan dengan perlakuan 1 pasang A. lopezi kematian tanaman pada hari ke-60 adalah 50%, sedangkan pada perlakuan pelepasan 3 pasang A. lopezi 20%. Tampak pula bahwa pada perlakuan pelepasan parasitoid tidak terjadi kematian tanaman hingga hari ke-45. Tanaman yang mati tampak pucuknya mengering dan dipenuhi gumpalan kutu putih dan ovisak.
Hari setelah infestasi (hsi)
0 10 20 30 40 50 60 Ti n g k at k ema ti an ta n ama n (% ) 0 20 40 60 80 100 Kontrol (tanpa parasitoid) 1 pasang 3 pasang
Gambar 9 Pengaruh keberadaan parasitoid terhadap tingkat kematian tanaman singkong oleh kutu putih di dalam kurungan
a
b
c a 18
Dalam percobaan ini, walaupun diinokulasi parasitoid, kematian tanaman yang diakibatkan oleh kutu putih masih tetap terjadi. Hal ini karena inokulasi hanya berlangsung selama dua hari, setelah itu tanaman dipindahkan ke kurungan lain. Pada keadaan parasitoid dibiarkan hidup dan berkembang biak di dalam kurungan, kemungkinan tanaman yang mati sedikit atau bahkan tidak ada, terutama pada perlakuan 3 pasang parasitoid.
Kemampuan Kolonisasi dan Menetap
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa parasitoid yang dilepas berhasil memarasit kutu putih singkong di lapangan. Berdasarkan kutu putih yang dikumpulkan dua hari setelah pelepasan parasitoid, tampak bahwa jarak inang terhadap titik pelepasan berpengaruh nyata terhadap tingkat parasitisasi (F=6.77; db=4, 14; p=0.007). Tingkat parasitisasi tertinggi (25%) terjadi pada kutu putih yang berjarak 1 m dari titik pelepasan parasitoid. Tingkat parasitisasi menurun dengan makin jauhnya inang dari titik pelepasan seperti tampak pada jarak 20 m tingkat parasitisasi rata-rata 6.59% (Gambar 10).
Jarak dari titik pelepasan (m)
T ing ka t par as itis as i ( % ) 0 5 10 15 20 25 30 35 1 3 7 10 20 a a b b b
Gambar 10 Perbandingan tingkat parasitisasi pada berbagai jarak dari titik pelepasan parasitoid di pertanaman singkong
Bila pengambilan contoh kutu putih dilakukan pada selang waktu yang lebih lama sejak parasitoid dilepas, diperkirakan kutu putih yang terparasit dapat ditemukan pada jarak yang lebih jauh. Parasitoid A. lopezi dapat memencar secara aktif, terbawa melalui angin, atau terbawa melalui mumi yang menempel pada stek bibit. Di Afrika dilaporkan parasitoid A. lopezi mampu memencar dengan laju 50-100 km dalam satu musim kemarau (5-8 bulan) (Herren et al.
1987).
Hasil pengamatan terhadap kemampuan A. lopezi untuk mengkolonisasi dan keberhasilan menetap di lapangan yang dilakukan bulan kedua dan ketiga setelah pelepasan menunjukkan bahwa parasitoid A. lopezi berhasil berkembang biak di lapangan. Hal ini tampak dari rataan tingkat parasitisasi pada bulan kedua setelah pelepasan yang mencapai 37.67%. Parasitisasi ini dilakukan oleh keturunan (generasi-1) dari induk parasitoid yang dilepaskan. Hal ini mengingat siklus 19
hidup A. lopezi berlangsung sekitar tiga minggu (Adriani 2016). Pengamatan pada bulan ke-3 setelah pelepasan mendapatkan rataan tingkat parasitisasi sekitar 22.67%. Penurunan tingkat parasitisasi ini diduga berkaitan dengan mulai banyaknya turun hujan yang berpengaruh buruk terhadap kutu putih maupun parasitoid.
Pengamatan lapangan yang dilakukan pada awal Juni 2016, atau 9 bulan setelah pelepasan, mendapatkan imago parasitoid A. lopezi di sekitar koloni kutu putih P. manihoti. Hal ini merupakan indikasi bahwa parasitoid A. lopezi mampu menetap di lapangan melewati musim hujan, periode yang sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan parasitoid, karena inang yang tersedia di lapangan sangat rendah.
Implikasi untuk Pengendalian Hama Terpadu
Kutu putih singkong P. manihoti merupakan hama invasif baru yang menyerang pertanaman singkong di Indonesia. Belum adanya musuh alami yang efektif dan tersebarnya lokasi pertanaman singkong di Indonesia khususnya pulau Jawa memungkinkan P. manihoti ditemukan di daerah lainnya. Suherman (2014) menjelaskan bahwa adanya kemudahan budidaya dan kesesuian lahan untuk tanaman singkong didukung oleh masih luasnya lahan termasuk lahan kritis (miskin unsur hara) yang dapat dimanfaatkan untuk tumpang sari menjadikan tanaman singkong mudah ditemukan dan potensial untuk dikembangkan. Winotai
et al. (2010) melaporkan kemampuan menyebar P. manihoti cukup cepat yaitu mencapai 150 km/tahun, dengan demikian kemungkinan hama ini telah menyebar ke daerah-daerah lainnya di Indonesia sangat besar. Rauf & Wyckhuys (komunikasi pribadi) menjelaskan survei yang dilakukan di Lampung pada bulan Juni 2014 mendapatkan pertanaman singkong yang terserang berat P. manihoti. Le Ru et al. (1991) dalam Schulthess et al. (1997) melaporkan bahwa serangan kutu putih P. manihoti lebih berat pada tanaman singkong yang tumbuh di lahan kritis yang miskin hara dan kurang pupuk. Hal ini menunjukkan bahwa seiring potensi yang dimiliki oleh tanaman singkong untuk mudah tumbuh dan dibudidayakan di berbagai wilayah di Indonesia, maka perkembangan, persebaran dan serangan P. manihoti di lokasi tersebut sangatlah besar.
Hasil survei di pulau Jawa menunjukkan adanya insidensi serangan P. manihoti mendekati 100%. Hal ini mengindikasi populasi kutu putih singkong mulai banyak dan di khawatirkan akan terjadi outbreak dan terus menyebar ke seluruh Indonesia. Namun sampai saat ini petani belum secara optimal melakukan tindakan pengendalian terhadap hama ini, hal ini dikarenakan presepsi tanaman singkong yang masih dianggap tanaman sampingan/kelas dua, dan juga kurangnya informasi. Untuk itu adanya pengkajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi dan serangan hama kutu putih singkong serta teknik pengendalian yang mudah diaplikasikan perlu dilakukan untuk mendapatkan alternatif teknik pengendalian yang sesuai di wilayah Jawa dan sentra tanaman singkong lainnya.
Pengendalian hama terpadu pada tanaman singkong dapat menjadi pendekatan pengendalian terhadap hama P. manihoti. Pengendalian yang ramah lingkungan yang tetap menjaga keseimbangan ekosistem dengan cara mengelola 20
keberadaan musuh alami yang ada di pertanaman. Pemanfaatan musuh alami yang potensial mengendalikan P. manihoti diantaranya adalah pemanfaatan parasitoid A. lopezi. Introduksi A lopezi dari Thailand ke Indonesia sebagai upaya pengendalian P. manihoti karena ketiadaan musuh alami lokal yang efektif.
Adanya pengaruh introduksi musuh alami seperti A. lopezi pada suatu lokasi baru terlihat pada kemampuan parasitoid untuk memencar, memarasit dan berkoloni setelah pelepasan. Inang yang terparasit dan imago parasitoid disekitar inang mengindikasikan kemampuan A. lopezi dalam menemukan dan mengenali inangnya. Selain itu keberhasilan agens hayati disuatu lokasi ditunjukan oleh kemampuan parasitoid tersebut beradaptasi terhadap inang dan lingkungan inang seperti dalam hal pencarian, kesesuaian inang dan tingkat parasitisasi terhadap inang yang tinggi. A. lopezi sama halnya dengan parasitoid jenis lainnya memiliki perilaku pencarian yang sama terhadap inang. Menurut Godfray (1994) bahwa parasitoid akan melakukan beberapa tahap seperti pencarian habitat inang, penemuan inang, penerimaan inang, dan kesesuaian inang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan tingkat parasitisasi mencapai 25.20% pada pelepasan parasitoid 3 pasang yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya persen parasitisasi terhadap hama sasaran adalah besarnya parasitoid generasi berikutnya yang muncul dan foundress number atau jumlah betina penemu pada parasitoid generasi berikutnya (Hamilton 1967). Selain itu parasitoid A. lopezi merupakan musuh alami yang efisien karena selain memarasit, juga memperlihatkan perilaku pengisapan inang (host-feeding). Neuenschwander dan Sullivan (1987) melaporkan bahwa kematian kutu putih akibat pengisapan inang oleh A. lopezi
sekitar 2-3 kali lipat daripada akibat diparasit.
Hasil pengamatan terhadap kemampuan A. lopezi untuk mengkolonisasi dan keberhasilan menetap di pertanaman mencapai 37.67%. Kolonisasi A. lopezi yang dilepas setelah rentang musim berbeda menunjukan kemampuan menetap parasitoid di pertanaman. Hal ini menunjukkan bahwa parasitoid memiliki kebugaran dan kapasitas pencarian inang yang tinggi. Kebugaran yang tinggi pada imago parasitoid mampu meningkatkan lama hidup sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk memarasit banyak inang di pertanaman (Phillips 1998). Selain itu, kemampuan menetap dan menyebarnya parasitoid di pertanaman akan semakin tinggi bila adanya pakan tambahan atau pemberian nutrisi tambahan seperti madu di sekitar pertanaman. Baggen dan Gurr (1998) menjelaskan bahwa ketersediaan pakan dan inang sangat mempengaruhi proses pencarian imago parasitoid. Lebih lanjut Landis et al. (2000) menyatakan ketiadaan pakan untuk imago, dan kelangkaan inang alternatif menjadi faktor penghambat utama parasitoid untuk berkembang dan bertahan di lapangan. Parasitoid yang lapar lebih memilih mencari sumber makanan ketimbang inangnya (Takasu dan Lewis 1993; Lewis et al. 1998). Penyediaan sumber daya pendukung (pakan, inang,
shelter, refugia area, lingkungan mikro) berpengaruh positif terhadap lama hidup parasitoid (Nicholls dan Alfieri 2003) yang dilepaskan di pertanaman sehingga lebih efektif dalam mengendalikan hama sasaran. Introduksi parasitoid ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif teknik pengendalian kutu putih yang dapat dilakukan.
Cara budidaya singkong yang ditarapkan petani di Gunungkidul dan Wonogiri adalah tanpa menggunakan pestisida. Cara budidaya seperti ini dapat 21
mempengaruhi populasi kutu putih di lapangan karena tanpa penggunaan pestisida keberlangsungan musuh alami di alam tetap terjaga. Begitupun sebaliknya dengan adanya pemanfaatan musuh alami maka berkurangnya penggunaan pestisida (Neuenschwander et al. 2010). Praktek budidaya tanpa pestisida ini memperbesar peluang penggunaan musuh alami seperti A. lopezi sebagai pengendali hayati P. manihoti. Tanpa penggunaan pestisida memungkinkan musuh alami untuk menekan populasi kutu putih lebih efektif karena tidak terpengaruh oleh efek samping dari pestisida. Seperti diketahui dampak lanjutan dari adanya aplikasi pestisida adalah terganggunya kestabilan ekosistem dengan matinya musuh alami, peledakan hama, resistensi hama, resurgensi, pencemaran dan hancurnya habitat bagi banyak spesies justru menjadi permasalahan lain yang lebih besar. Budidaya tanpa pestisida ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif teknik pengendalian kutu putih yang dapat dilakukan.
Selain itu cara budidaya singkong di Gunungkidul dan Wonogiri menunjukan penggunaan dan cara penyimpanan bibit dengan hanya mengambil dari bagian tengah tanaman singkong sehat dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Litbang Kementan (2012) menjelaskan bahwa bibit sehat yang dapat digunakan adalah yang masih segar (paling lama 2 minggu setelah panen) dengan panjang 20-25 cm dengan diameter 2.5-3.0 cm. Penyimpanan bibit dilakukan dengan cara menyimpan batang singkong secara terbalik, digantung pada tanaman dan diletakan ditempat teduh. Aspek lainnya adalah pengaturan populasi tanaman singkong yang mempengaruhi tinggi rendahnya serangan hama seperti P. manihoti dan berdampak pada persebaran hama di pertanaman. Sebagai contoh pada cara budidaya tanaman singkong di Malang yang terlalu rapat pada hamparan luas dengan umur tanaman yang tidak seragam. Cara tanam yang rapat seperti ini menyebabkan tanaman satu dengan lainnya saling bersentuhan. Tanpa disadari kondisi ini menjadikan proses pemencaran P. manihoti semakin mudah dan cepat di satu lokasi. Litbang Kementan (2012) merekomendasikan pengaturan populasi tanaman singkong agar tumbuh optimal yaitu pada lahan subur berkisar 10.000-12.500 tanaman/ha yang ditanam dengan jarak 100 cm x 100 cm atau 125 cm x 80 cm sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimal. Budidaya dengan memperhatikan pengaturan populasi tanaman singkong dan bibit singkong sehat ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif teknik pengendalian kutu putih yang dapat dilakukan.
Mahalnya biaya pembelian pupuk sintetik di pasaran yang tidak sebanding dengan hasil produksi menjadikan penggunakan pupuk kandang sebagai alternatif pilihan petani dalam budidaya singkong di lokasi survei. Schulthess et al. (1997) menjelaskan bahwa pemberian pupuk kandang atau bahan lainnya dapat mengakibatkan penurunan populasi kutu putih karena meningkatnya kesuburan tanaman yang mengakibatkan gizi tanaman meningkat dan lebih toleran terhadap serangan hama. Selain itu juga akan meningkatkan reproduksi parasitoid dengan tingkat kesuburan tinggi. Pemupukan untuk tanah yang relatif subur pemakaian pupuk kandang dan anorganik yang diaplikasikan tiga kali saat tanaman berumur 10 hari, 3 bulan dan 5 bulan menjadikan tanaman singkong tumbuh optimal dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit (Litbang Kementan 2012). Pada lahan marginal, pemberian pupuk kandang > 10 ton/ha kemudian pupuk urea > 600 kg/ha dapat meningkatkan hasil dan toleran terhadap hama. Budidaya dengan pemanfaatan pupuk kandang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif teknik 22
pengendalian kutu putih yang dapat dilakukan.
Teknik budidaya dengan memperhatikan waktu tanam di Kabupaten Gunungkidul dan Wonogiri berdampak pada kelimpahan populasi kutu putih. Tanaman singkong yang ditanam pada awal musim hujan (Desember, Januari) menunjukan populasi dan serangan kutu putih hampir tidak ada, sehingga tanaman terbebas dari serangan kutu putih. Selain itu pada musim hujan hasil panennya lebih tinggi karena tanaman mendapat cukup air. Nurhayati dan Anwar (2012) melaporkan bahwa populasi kutu putih mengalami penurunan pada musim hujan, ini dibuktikan saat pengamatan pada kondisi lapangan dengan curah hujan ringan yang berkisar antara 140mm – 278.4mm sudah dapat menyebabkan berkurangnya populasi kutu putih. Lebih lanjut Wardani (2015) menjelaskan pada musim hujan populasi P. manihoti mengalami penurunan akibat terbawa secara mekanik oleh aliran air hujan yang berdampak pada matinya kutu putih sehingga populasi menjadi menurun. Mekanisme pencucian dengan aliran air dapat menjadi alternatif upaya pengendalian kutu putih di pertanaman yang dapat dilakukan petani.